“Dalam Keheningan Salib: Ibadat Jumat Agung, Saat Kasih Disempurnakan dalam Pengorbanan”


Jumat Agung, 3 April 2026 – Pukul 15.00 WIB
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Jumat Agung selalu datang dengan suasana yang tidak biasa. Ia bukan sekadar hari peringatan, melainkan hari ketika Gereja berhenti sejenak, diam, dan memandang salib, tempat di mana kasih mencapai puncaknya.

Siang itu, sekitar pukul 12.00 WIB, langit masih tampak cerah. Matahari bersinar seperti hari-hari biasa, seolah dunia berjalan tanpa perubahan. Namun perlahan, waktu membawa suasana yang berbeda. Menjelang pukul 15.00 WIB, jam yang dikenang sebagai saat wafatnya Yesus Kristus, langit berubah. Awan mendung mulai menyelimuti, cahaya meredup, dan suasana menjadi lebih hening, seakan seluruh alam turut mengambil bagian dalam misteri agung ini.

Pada pukul 15.00 WIB, umat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung. Dalam keheningan yang khas, tanpa dentang lonceng dan tanpa nyanyian pembuka yang meriah, perayaan dimulai. Semua terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kedalamannya.

Jumat Agung bukanlah perayaan Ekaristi, melainkan ibadat yang mengajak umat untuk merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pusat perhatian tertuju pada salib, lambang yang dahulu menjadi tanda kehinaan, kini menjadi tanda keselamatan.

Dalam liturgi yang berlangsung, umat diajak untuk mendengarkan Kisah Sengsara, mendoakan intensi dunia, serta memasuki momen penghormatan salib. Satu per satu umat datang mendekat, bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai ungkapan iman: bahwa dari kayu salib itu, mengalir kasih yang tak terbatas.

Perubahan langit dari terang menjadi gelap seakan menjadi tanda yang menguatkan permenungan hari itu. Seperti alam yang ikut berduka, umat pun diajak untuk menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Dalam gelapnya langit, justru tersimpan terang harapan, bahwa kasih tidak pernah kalah oleh penderitaan.

Jumat Agung mengajarkan bahwa dalam diam, Tuhan berkarya. Dalam penderitaan, kasih dinyatakan. Dan dalam wafat, kehidupan justru dipulihkan.

Perayaan berakhir dalam suasana hening. Tidak ada penutup yang meriah, hanya keheningan yang dibawa pulang, sebuah undangan untuk terus merenungkan, bahwa dari salib itulah, keselamatan dunia dimulai.

Posted in Berita Terkini, Tajuk Utama.

One Comment

  1. Pingback: “Dari Hosana Menuju Alleluia: Perjalanan Iman Umat dalam Pekan Suci di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo” - Gereja Maria Bunda Allah - Stasi Maguwo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *