Pelatihan Kerasulan Awam(menjadi garam dan terang dunia)

Pelatihan Kerasulan Awam ini diselenggarakan pada Sabtu, 8 November 2025, bertempat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwoharjo. Acara ini ditujukan khusus bagi Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan yang akan mengemban tugas pelayanan selama periode 2026-2028.​Momentum ini krusial sebagai titik tolak spiritual dan strategis, di mana para pemimpin komunitas dibekali untuk mengimplementasikan visi Gereja di tingkat basis, berlandaskan seruan Injil Matius 5:13-16: “Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.”

​Sdr. Danang Afriadi berperan sebagai Fasilitator dan Moderator utama. Keahlian beliau dalam komunikasi publik dan pengembangan komunitas menjadi kunci dalam menjembatani materi teologis yang mendalam dengan diskusi praktis dan terarah. Danang Afriadi bertanggung jawab memastikan alur pelatihan berjalan efektif, interaktif, dan menghasilkan komitmen aksi yang jelas dari para peserta, Sdr. A.M. Bebet Dermawan adalah narasumber utama yang memberikan pondasi teologis dan strategis. Sebagai seorang awam yang matang dalam spiritualitas dan kepemimpinan pastoral, Bebet Dermawan dikenal mampu membongkar Makna Kerasulan Awam dan merumuskan Panjang Strategi pelayanan yang berakar pada iman Katolik serta relevan dengan tantangan pastoral.

​Sesi yang dibawakan oleh Sdr. A.M. Bebet Dermawan memfokuskan pada Makna Kerasulan Awam, sebagai dasar untuk mencegah pelayanan menjadi hambar atau tersembunyi.​Garam (Sal): Kualitas Internal dan Integritas.​Makna Teologis: Garam adalah lambang perjanjian, pemurnian, dan pelestarian. Ini menuntut para pemimpin awam memiliki integritas diri dan kedalaman spiritual yang otentik, yang mengalir dari Sakramen. Pelayanan yang sejati adalah kesaksian hidup yang berkualitas.​Implementasi: Garam ini harus terasa dalam transparansi pengelolaan dana lingkungan dan kejujuran dalam berinteraksi, menciptakan kepercayaan umat.​Terang (Lux): Keterlibatan dan Kesaksian Eksternal.​Makna Pastoral: Terang harus diletakkan di atas kaki dian. Ini adalah tuntutan untuk keterlibatan aktif di tengah masyarakat (sekolah, pekerjaan, sosial-politik) yang dapat menerangi kegelapan ketidakadilan atau keacuhan.​Implementasi: Menjadi Terang berarti berani bersuara untuk kebenaran dan keadilan, serta memimpin dengan teladan etis di ranah publik (RT/RW), sejalan dengan cita-cita Gereja yang MENGINSPIRASI.

​Pelatihan ini membekali para pemimpin Paroki Maria Bunda Allah Maguwoharjo dengan Makna teologis dan Panjang strategi yang diperlukan untuk mewujudkan Kerasulan Awam yang hidup dan berdampak. Dengan komitmen sinergi, para Ketua Wilayah, Ketua Lingkungan, dan Pengurus Lingkungan diutus untuk menjadi Garam dan Terang Dunia yang sesungguhnya.

Rekoleksi Keluarga Katolik

Di tengah tantangan zaman modern, keluarga Katolik dipanggil untuk tetap menjadi oasis kasih dan iman. Rekoleksi ini menjadi momen berharga untuk kembali menimba kekuatan rohani, memperdalam komunikasi, dan meneguhkan komitmen hidup berkeluarga dalam terang Kristus.

Oleh karena itu, perlu diperdalam secara berkala. Salah satu sarana adalah mengikuti rekoleksi atau seminar tentang keluarga Katolik.

Kami mengundang Bpk, Ibu, Sdr, Sdri untuk mengikuti Rekoleksi Keluarga Katolik dengan tema “Keluarga Katolik yang Tangguh, Bersukacita dalam Iman dan Kasih”

Bersama Rm. Yeremias Balapito Duan, MSF
Ketua Komisi Keluarga KAS 2013 – 2021

Minggu, 9 November 2025
Pukul 09.00 – 14.00 WIB
di Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo

Kontribusi:

Biaya Rp 25.000 / orang
Transfer ke rekening Bank Mandiri a/n Chatarina Suntiana
Nomor Rekening: 13700 – 6809 – 9999

(Max 31 Oktober 2025)

Registrasi & Kontak Person:

Dari Sampah Jadi Energi: Cerita Tim KCLH Maguwo di Workshop Laudato Si


Minggu, 21 September 2025, perwakilan Tim KCLH Stasi Maguwo ikut hadir di acara Peringatan 10 Tahun Ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus. Kegiatan ini digelar di Rumah Pengolahan Sampah Plastik Pirolisis, Cupuwatu II – Kalasan, sekaligus jadi bagian dari gerakan global Musim Penciptaan (1 September–4 Oktober). Acara berlangsung dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB, penuh dengan edukasi dan praktik nyata.

Topik utama yang dibahas adalah pengelolaan sampah plastik dengan teknologi pirolisis. Jadi, plastik yang biasanya cuma numpuk atau dibakar bisa diubah jadi energi: bensin, solar, minyak tanah, sampai briket. Pegiat lingkungan Fransisca Supriyani Wulandari menjelaskan, pirolisis jauh lebih ramah lingkungan ketimbang insinerator atau sekadar dibakar, karena pembakaran plastik justru bikin polusi makin parah. Hasil pirolisis ini juga tidak dijual, tapi dipakai untuk operasional dan edukasi masyarakat.

Beliau juga mengingatkan kalau krisis plastik makin serius karena kita masih terbiasa pakai plastik sekali pakai (sedotan, cup, kresek), dan belum disiplin memilah sampah. Sementara itu, Agustinus Irawan menyoroti krisis air bersih di Sleman. Berdasarkan penelitian 2022–2024, hampir semua mata air di Sleman tercemar bakteri E.coli. Penyebabnya mulai dari pupuk kandang yang tidak difermentasi sampai limbah cair rumah tangga yang masuk sungai. Ditambah lagi, tren minuman sekali pakai seperti es teh jumbo nyumbang banyak sampah plastik.

Dari sisi gereja, Kianto Atmodjo dari Tim Laudato Si Universitas Atma Jaya Yogyakarta mengenalkan konsep Paroki Hijau. Artinya, paroki-paroki didorong untuk lebih ramah lingkungan: mulai dari mengganti bunga potong dengan tanaman hidup, mengurangi plastik dalam liturgi dan kegiatan gereja, sampai mengelola sampah lewat bank sampah paroki. Menurutnya, ini bukan cuma soal kesadaran, tapi soal keterampilan dan kebiasaan hidup bertanggung jawab. Beberapa paroki yang sudah menerapkan bank sampah bahkan bisa mengumpulkan puluhan juta rupiah dari hasil pengelolaan.

Acara ditutup dengan semangat bahwa menjaga bumi adalah panggilan iman. Dari hal sederhana seperti mengurangi plastik, tidak membuang sampah sembarangan, sampai mendukung program paroki hijau. Semua itu jadi bentuk nyata kita ikut mewujudkan ajakan Laudato Si: merawat bumi sebagai rumah bersama.

dikutip dari :

Workshop Pirolisis Dorong Solusi Nyata Sampah Plastik dalam Peringatan 10 Tahun Laudato Si – Keuskupan Agung Semarang

“Dari Maguwo untuk Lansia: Orang Muda Hadir Membawa Harapan”


Pada hari Minggu, 21 September 2025, Kaum Muda Maguwo turut ambil bagian dalam kegiatan Tindak Lanjut Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diselenggarakan oleh Komisi Musyawarah Lansia (Kimusi Lansia) Kevikepan Yogyakarta Timur, bertempat di Aula Paroki Bintaran. Kegiatan ini mengusung tema: “Sahabat Lansia, Siap Melayani.”

Setiap paroki diundang dengan perwakilan dua orang muda dan satu anggota Tim PIUL. Namun khusus untuk Maguwo, diperkenankan hadir tiga orang muda: Mbak Dysi, Mas Reno, dan Mas Daniel, yang didampingi oleh dua Tim Pelayanan PIUL, yaitu Bp. Franz dan Bp. Sudiharto.

Setibanya di lokasi, para peserta langsung dikelompokkan sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Perwakilan Maguwo ditempatkan dalam Kelompok D Santa Maria, bersama dengan peserta dari Paroki Babadan, Kalasan, Macanan, dan Minomartani.

Acara dimulai tepat pukul 10.30 dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Hymne Yubelium, doa pembukaan, serta doa Yubelium. Dalam sambutannya, Bapak Bambang, selaku Wakil Ketua Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur, menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kepedulian terhadap para lansia. Beliau berharap OMK tidak hanya mendukung kegiatan PIUL, tetapi juga dapat menginisiasi pelayanan yang digerakkan oleh kaum muda sendiri.

Materi utama pertemuan disampaikan oleh Ibu Yulianti, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok.

  • Diskusi Tahap 1 membahas tentang pembentukan dua grup WA sebagai sarana komunikasi dan koordinasi. Untuk Kelompok St. Maria, diskusi dipandu oleh dr. Dysi.
  • Diskusi Tahap 2 berfokus pada penyusunan rencana kegiatan Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur. Di kelompok St. Maria, Mas Daniel bertindak sebagai pemandu, Mas Reno mencatat jalannya diskusi, dan Mbak Dysi menuangkan ide-ide dalam bentuk slogan dan ilustrasi.

Hasil diskusi kemudian dipresentasikan. Sebagai moderator, Bapak Bambang memberikan kesempatan kepada lima kelompok untuk menyampaikan gagasannya. Kelompok St. Maria turut ambil bagian, dengan presentasi disampaikan oleh Mas Daniel dan Mas Reno. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan para peserta mulai merasa lapar, semangat diskusi tetap terjaga hingga akhirnya hanya tiga kelompok yang memaparkan hasil secara penuh, sementara dua kelompok lainnya cukup menyampaikan inti pembahasan.

Pertemuan ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan pada pukul 13.30. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh semangat persaudaraan, menjadi tanda nyata bahwa kaum muda pun siap menjadi sahabat bagi para lansia dalam pelayanan Gereja.

Serunya Umat Maguwo Ikut Workshop TikTok for Business


Beberapa umat dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo punya pengalaman seru minggu ini. Mereka ikutan Workshop TikTok for Business 2025 yang digelar oleh Billa Creative bareng Rumah BUMN Yogyakarta. Suasananya santai tapi penuh ilmu, apalagi buat mereka yang pengin mengembangkan usaha dengan cara yang lebih kekinian.

Acara ini menghadirkan Deddy Susanto, Chief Operating Officer dari Billa Creative, yang berbagi banyak trik soal bikin konten TikTok. Bukan sekadar bikin video lucu-lucuan, tapi gimana caranya konten bisa jadi pintu rezeki, mengenalkan usaha, bahkan membangun brand yang kuat. Cara penyampaiannya enak, gampang dicerna, dan bikin peserta betah menyimak sampai akhir.

Umat Maguwo yang ikut merasa dapat insight baru. Mereka jadi sadar kalau TikTok bukan cuma aplikasi hiburan, tapi juga peluang besar untuk usaha. Dengan sedikit kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba, siapa pun bisa berkembang di dunia digital.


Belajar hal baru kayak gini bikin kita makin yakin bahwa talenta yang Tuhan kasih bisa dipakai di mana aja—termasuk di dunia digital. Bikin konten nggak melulu soal viral, tapi bisa juga jadi cara sederhana untuk berbagi kebaikan dan menghadirkan terang Kristus lewat kreativitas.

Kunjungan Kasih Timpel PIUL: Merangkai Doa, Persaudaraan, dan Kenangan Pelayanan


Dalam semangat persaudaraan seiman dan kepedulian terhadap para lansia, Timpel PIUL kembali melaksanakan karya pelayanan kasih melalui kunjungan ke rumah umat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari perhatian Gereja kepada mereka yang telah lebih dahulu menabur benih iman dan pengabdian di tengah komunitas.

Kunjungan pertama dilakukan ke kediaman Bapak YB Hardjito dan Ibu Fransiska Jumirah. Suasana akrab dan penuh kekeluargaan begitu terasa sejak awal perjumpaan. Setelah diawali dengan doa bersama, tim kemudian mendampingi Bapak Hardjito untuk pemeriksaan kesehatan oleh Bapak Y. Sudiharto. Pemeriksaan meliputi tensi darah, kadar gula, asam urat, dan kolesterol. Hasilnya pun dibicarakan dengan ringan dan penuh perhatian, menjadi sarana untuk saling menguatkan dalam menjaga kesehatan di usia lanjut.

Dalam percakapan hangat, tersingkaplah kembali kisah perjalanan pelayanan Bapak Hardjito. Beliau pernah menjadi Koordinator sekaligus Pelatih musik inkulturasi gamelan Jawa untuk liturgi. Dengan penuh semangat, beliau menceritakan kembali pengalamannya mengiringi puji-pujian Gereja dengan lantunan gamelan, sebuah warisan budaya sekaligus wujud iman yang indah. Meskipun kini usia telah sepuh dan sudah lama fakum, semangatnya tetap menyala ketika berbicara tentang gamelan liturgi. Pandangan matanya seakan kembali hidup, menandakan betapa besar cinta yang pernah beliau berikan untuk Gereja melalui seni musik.

Perjalanan pelayanan kasih dilanjutkan ke Lingkungan St. Gabriel, mengunjungi Bapak Jumadi. Beliau pun memiliki kisah yang serupa: dahulu aktif sebagai pemusik gamelan yang memegang gong, ikut serta menghidupi suasana liturgi dengan indahnya harmoni tradisi Jawa. Saat ini, meski harus berjuang dengan kondisi kesehatan akibat Parkinson, semangat imannya tetap kokoh. Beliau masih berusaha hadir di Gereja setiap kali ada kesempatan, menjadi teladan kesetiaan dan ketekunan dalam menghidupi iman di tengah keterbatasan.

Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pemeriksaan kesehatan fisik, melainkan juga menjadi ruang perjumpaan hati, di mana doa, cerita, kenangan, dan semangat pelayanan kembali dirangkai bersama. Melalui kisah para lansia, kita diajak merenungkan betapa iman dan pengabdian yang telah mereka taburkan merupakan harta berharga bagi Gereja.

Semoga karya pelayanan sederhana ini semakin meneguhkan bahwa Gereja adalah rumah yang saling menopang, tempat di mana setiap pribadi – muda maupun sepuh – dihargai dan dicintai. Kehadiran Timpel PIUL menjadi tanda bahwa kasih Kristus terus mengalir, menyapa, dan menguatkan semua umat-Nya.

Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kasih, karena atas rahmat dan penyelenggaraan-Nya, Timpel PIOD ( Pendamping Iman Orang Dewasa ) GMBA, dibawah Bidang Pewarta melaksanakan kegiatan Sarasehan Keluarga Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo dapat terselenggara dengan penuh sukacita dan kekeluargaan pada hari Sabtu, 26 Juli 2025, bertempat di Erista Garden, Pakem.

Acara ini mengambil tema yang sangat relevan dan menyentuh, yaitu: “Taman Eden di Rumah: Menciptakan Surga Kecil dalam Keluarga Katolik”. Sebuah tema yang tidak hanya memberi inspirasi, tetapi juga menjadi pengingat penting bagi seluruh umat, bahwa keluarga adalah ladang pertama dan utama dalam menanam, menumbuhkan, serta merawat cinta kasih Kristiani.

Sarasehan ini dihadiri oleh para keluarga dari berbagai lingkungan di Stasi Maguwo, dengan suasana yang hangat, penuh semangat, dan kebersamaan yang terasa sangat kental. Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang refleksi, tetapi juga menjadi sarana rekreasi rohani bersama keluarga tercinta, di tengah padatnya rutinitas dan tantangan zaman.

Kami merasa sangat diberkati karena pada kesempatan ini, hadir dua narasumber luar biasa yang memberikan pencerahan dan motivasi mendalam.

  1. Romo Dr. Ag. Tri Edi Warsono, Pr., seorang imam dan akademisi yang memberikan refleksi teologis yang sangat menyentuh tentang makna keluarga sebagai “Gambaran Taman Eden” masa kini—sebuah tempat di mana cinta Allah dinyatakan dan dihidupi secara nyata.
  2. Ibu F. Netty Kuswandari, S.Pd., M.Si., seorang pendidik sekaligus praktisi keluarga, yang membagikan banyak tips dan pengalaman praktis mengenai bagaimana menciptakan suasana rumah yang penuh kasih, komunikasi yang sehat, serta membina relasi yang harmonis antara suami, istri, dan anak-anak dalam terang iman Katolik.

Kegiatan ini dibalut dengan berbagai sesi interaktif seperti diskusi kelompok, tanya jawab, sharing pengalaman antar keluarga, serta games ringan yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Semua itu mempererat rasa persaudaraan dan meneguhkan kembali komitmen umat untuk menjadikan keluarga sebagai “Gereja Mini” yang hidup, berkembang, dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Tak lupa, keindahan alam Erista Garden yang sejuk dan menenangkan menjadi pelengkap sempurna bagi acara ini. Alam yang terbuka mengajak setiap peserta untuk kembali merefleksikan keindahan ciptaan Tuhan, serta mengingatkan bahwa keharmonisan dalam keluarga pun adalah bagian dari kehendak Allah untuk menciptakan dunia yang lebih baik, dimulai dari rumah.

Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada para narasumber, seluruh panitia, para peserta, serta semua pihak yang telah mendukung kelancaran kegiatan ini. Semoga sarasehan ini membawa buah yang nyata dalam kehidupan keluarga-keluarga Katolik, dan menjadi benih bagi tumbuhnya keluarga-keluarga kudus yang diberkati dan menjadi berkat.

Stasi Santa Maria Bunda Allah – Maguwo
“Bersama Keluarga, Membangun Surga Kecil di Dunia”


Kunjungi Instagram komsos GMBA:https://www.instagram.com/reel/DMXPNS7Rt4y

KWT Mentari Belajar Membuat Ecoprint

Bukti kebesaran Tuhan terpatri pada ecoprint. Dedaunan ciptaanNya dapat menghasilkan motif indah pada selembar kain. Setiap jenis tanaman bisa memunculkan warna yang berbeda. Sungguh luar biasa!

Keunikan pembuatan motif kain dengan bahan-bahan alami ini menarik minat ibu-ibu KWT (Kelompok Wanita Tani) Mentari untuk mempelajarinya. Alhasil, KWT Mentari kemudian mengundang Ibu Sih Sujati untuk berbagi ilmu kepada para ibu.

Sebanyak 15 anggota KWT Mentari mengikuti pelatihan pembuatan ecoprint dengan teknik pengukusan bersama Ibu Sih Sujati. Pelatihan ini berlangsung pada hari Minggu, 13 Juli 2025 di Gazebo GMBA.

Olah kreativitas

Sebelum sesi praktik, Ibu Jati — sapaan akrab Ibu Sih Sujati, menjelaskan sejumlah prinsip dasar. Di antaranya, motif akan lebih mudah tercipta menggunakan daun dengan kandungan tanin tinggi.

“Misalnya daun lanang, daun jati, daun talok atau kersen, daun jarak dan daun eucalyptus. Yang banyak di sekitar kita misalnya daun kelor dan kenikir,” jelas Bu Jati.

Selain daun, bunga, akar, dan batang tanaman bertanin juga bisa dipakai menciptakan motif. Kreativitas kita akan menghasilkan motif yang berbeda-beda.

Pemrosesan kain

Adapun kain yang cocok untuk ecoprint adalah yang terbuat dari serat alami seperti katun, rayon, dan sutra. Kain harus melalui proses scouring, yaitu dibersihkan dari kotoran dengan merendamnya dalam larutan TRO (Turkish Red Oil).

Setelah scouring, kain diproses mordanting. Proses ini antara lain bertujuan mempermudah main menyerap zat warna tumbuhan. Selain itu, mordanting juga berfungsi menguatkan warna alami agar tidak mudah luntur.

Bahan-bahan mordant merupakan bahan ramah lingkungan seperti cuka, tawas, tunjung, soda kue dan soda ash. Kain direndam dalam larutan mordant sekitar 15 menit dan dikucek-kucek, kemudian diperas dan dijemur hingga kering. Setelah itu cuci kain dengan air kapur dan siap digunakan untuk mencetak motif.

Pemberdayaan perempuan

Ibu-ibu KWT Mentari mengikuti pelatihan dengan antusias. Menata daun, menginjak-injak daun di kain untuk mencetak motif, hingga menunggu hasil motif yang tercipta menjadi rangkaian aktivitas yang mengasyikkan. Selama menunggu kain dikukus, Bu Jati juga memberikan pelatihan membuat bros sederhana pada para peserta.

Pelatihan ecoprint kali ini merupakan salah satu kegiatan KWT Mentari yang bertujuan meningkatkan kapasitas para anggota. Secara rutin, KWT Mentari menyelenggarakan berbagai pelatihan mulai dari membuat olahan makanan hingga urban farming.

Peserta pelatihan-pelatihan tersebut tak hanya anggota, tapi juga masyarakat sekitar seperti ibu-ibu Padukuhan Karangploso. Selaras dengan tujuan awal pendiriannya saat masih bernama IKM Mentari, KWT Mentari berharap dapat berkontribusi pada pemberdayaan perempuan dan masyarakat.

Nah, seperti apa keseruan ibu-ibu KWT Mentari belajar membuat ecoprint? Simak di video berikut ini! Dan jangan lupa follow Instagram KWT Mentari @kwtmentari yaa 😀

Bonus video: Fashion Show ala KWT Mentari! ><

kunjungi Instagram komsos GMBA : https://www.instagram.com/p/DMH8WksR5LZ/?igsh=MXR1djk3MTNkajFtNg==

Yustina Munarti: “More than words, She proclaims life “

“More than words, she proclaims life.”Her name may not often be heard from the pulpit or in the media, but to many children and parishioners in her community, she is deeply significant. Yustina Munarti, a humble 73-year-old woman, has made her life a true offering to God—through quiet yet profound work: her ministry as a catechist.

Her journey of faith began in 1968, when she wholeheartedly received the Sacrament of Baptism and embraced the Catholic faith. From that moment, seeds of love for God and others began to grow within her, slowly but surely taking root in every step of her life.

In March 1980, at the young age of 27, she experienced a stirring in her heart. She witnessed a reality that deeply moved her: children in her neighborhood wandering aimlessly, without spiritual guidance, without anyone to accompany them in faith. It was a scene that many might consider ordinary—but not Yustina. To her, it was God speaking through the restlessness in her heart.

Encouraged by her own child, she decided to step into the Lord’s vineyard and become a catechist. She didn’t just want to teach—she wanted to accompany, to live the faith, and to proclaim God’s love in its most tangible form: presence.

Being a catechist has never been an easy path. Challenges and hardships came and went. Not every child was easy to reach, not every parent was supportive, and not every environment was encouraging. But for Yustina, these were not stumbling blocks—they were stepping stones to rely more fully on God. She learned that every soul touched by Christ’s love—even just one—is a great victory in her ministry.

Her joy cannot be measured in words. She feels her life has been enriched through simple yet meaningful experiences: seeing the children she once guided grow into people of faith, with some even continuing in her footsteps of service.

The days continue to pass, yet her spirit never fades. At the age of 73, Yustina remains present—with her smile, her laughter, and her burning passion. She is a living testament that ministry is not about age, but about love—love that asks for nothing in return, only to give, give, and keep giving.

“I will offer this life in the Lord’s vineyard,” she declares firmly. And it’s more than just words—that’s exactly what she has lived for decades, through her faithfulness, sincerity, and humility. She has not only taught the faith through words, but lived it with her whole being.Because for her, proclaiming the Gospel is not merely about teaching. It is a way of life.


Yustina Munarti: “Lebih dari kata, Ia mewartakan hidup”

“Lebih dari kata, ia mewartakan hidup.”Nama itu mungkin tak sering terdengar dari mimbar atau media, namun bagi banyak anak dan umat di komunitasnya, sosoknya begitu berarti. Yustina Munarti, seorang perempuan sederhana berusia 73 tahun, telah menjadikan hidupnya persembahan sejati bagi Tuhan—melalui karya sunyi, namun mendalam: pelayanan sebagai katekis.

Perjalanan imannya dimulai pada tahun 1968, saat ia dengan sepenuh hati menerima Sakramen Baptis dan memeluk iman Katolik. Dari situ, benih kasih kepada Tuhan dan sesama mulai tumbuh dalam dirinya, perlahan tapi pasti mengakar kuat dalam setiap langkah hidupnya.

Pada Maret 1980, di usia yang masih muda—27 tahun—sebuah panggilan batin mengetuk hatinya. Ia melihat kenyataan yang menyentuh nuraninya: anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya berkeliaran tanpa tujuan, tanpa pendamping rohani, tanpa bimbingan iman. Suatu pemandangan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa, namun tidak bagi Yustina. Di sanalah ia merasa bahwa Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan hatinya.

Dengan dorongan dari anaknya sendiri, ia memutuskan melangkah ke ladang Tuhan, menjadi seorang katekis. Ia bukan hanya ingin mengajar, tetapi lebih dari itu—ia ingin mendampingi, menghidupi iman, dan mewartakan kasih Allah dalam bentuk paling nyata: kehadiran.

Menjadi katekis bukanlah jalan yang selalu mudah. Duka dan tantangan silih berganti. Tidak semua anak mudah disentuh hatinya, tidak semua orang tua peduli, dan tidak semua lingkungan mendukung. Namun bagi Ibu Yustina, semua itu bukan batu sandungan, melainkan batu loncatan untuk semakin mengandalkan Tuhan. Ia belajar bahwa setiap jiwa yang disentuh oleh kasih Kristus—meski hanya satu—adalah kemenangan besar dalam pelayanan.

Sukacitanya pun tak dapat diukur dengan kata. Ia merasa hidupnya diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna: melihat anak-anak yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bahkan ada yang meneruskan jejak pelayanannya.

Hari-hari pun terus berlalu, namun semangatnya tak pernah padam. Di usianya yang ke-73, Ibu Yustina tetap hadir dengan senyum, tawa, dan semangat yang membara. Ia adalah gambaran nyata bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal cinta—cinta yang tak pernah menuntut balasan, hanya memberi, memberi, dan terus memberi.

Saya akan mempersembahkan hidup ini di ladang Tuhan,” tuturnya dengan mantap. Dan bukan hanya perkataan belaka—itulah yang selama puluhan tahun telah ia wujudkan, lewat kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Ia bukan hanya mengajarkan iman dengan kata-kata, tetapi menghidupinya dengan seluruh dirinya.Karena baginya, mewartakan Injil bukan semata soal pengajaran. Itu adalah cara hidup.

Semangat Toleransi: Umat Katolik Lingkungan St. Yohanes Pembaptis Maguwo Turut Menjaga Keamanan Idul Adha

Jumat, 6 Juni 2025 — Hari ini, suasana di sekitar wilayah Stasi Maguwo terasa begitu hidup. Bukan hanya karena keramaian perayaan Idul Adha yang dirayakan penuh khidmat oleh saudara-saudari Muslim, tetapi juga karena hadirnya semangat kebersamaan yang menghangatkan hati siapa pun yang melihatnya.

Sejak pagi hari, umat Katolik dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menjaga kelancaran dan keamanan perayaan Idul Adha yang diselenggarakan di beberapa titik sekitar wilayah Maguwo. Kehadiran para bapak dari Lingkungan Yohanaes Pembabtis ( YP ) menjadi pemandangan yang menarik sekaligus membanggakan……… Dengan rompi merah khas mereka, para bapak ini berdiri sigap di berbagai titik jalan dan area sekitar lokasi salat Id dan penyembelihan hewan kurban.

Bukan sekadar hadir, mereka benar-benar terlibat. Mengatur lalu lintas, mengarahkan warga, membantu menjaga ketertiban, bahkan turut menyapa dengan ramah setiap orang yang melintas. Tak sedikit dari mereka yang harus berdiri berjam-jam di bawah sinar matahari pagi yang hangat, dan semua dilakukan dengan hati yang tulus dan wajah yang tetap tersenyum.

Sementara itu, para ibu dari lingkungan pun tak tinggal diam. Di balik layar, mereka mengambil peran yang tak kalah penting. Sejak pagi, para ibu ini menyiapkan konsumsi untuk para petugas dan relawan — mulai dari air minum, teh hangat, hingga makanan ringan — semua disiapkan dengan penuh kasih. Dukungan mereka menjadi penguat dan penyemangat tersendiri bagi para bapak yang bertugas di lapangan.

Apa yang terjadi hari ini adalah cermin dari semangat toleransi dan persaudaraan yang tumbuh subur di tengah masyarakat Maguwo. Tidak ada sekat agama, tidak ada perbedaan yang membatasi. Yang ada adalah niat yang sama: menjaga kedamaian, saling membantu, dan merayakan kemanusiaan bersama.

Lingkungan St. Yohanes Pembaptis sekali lagi menunjukkan bahwa iman bukan hanya soal doa dan ibadah di dalam gereja, tetapi juga tentang bagaimana kita hadir untuk sesama tanpa memandang latar belakang, tanpa syarat, dan tanpa pamrih. Inilah wajah Gereja yang hidup dan nyata di tengah masyarakat.

Terima kasih untuk para bapak lingkungan YP dengan rompi merahnya, dan untuk para ibu yang telah memberikan dukungan penuh. Semoga semangat seperti ini terus tumbuh, mengakar, dan menjadi teladan bagi generasi berikutnya.