You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂
Nuansa Sukacita Iringi Tugas Parkir Lingkungan Santa Elisabeth di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo
Pada Minggu ini, 12 April 2026 Lingkungan Santa Elisabeth menerima tugas pelayanan parkir di Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo. Dengan penuh sukacita, seluruh umat lingkungan baik bapak-bapak, kaum muda, ibu-ibu, maupun adik-adik turut ambil bagian dalam tugas pelayanan ini.
Koordinator parkir lingkungan, Bapak Agus Widodo, dengan penuh semangat aktif mengingatkan dan mengoordinasikan petugas melalui grup WhatsApp lingkungan, sehingga seluruh anggota dapat mempersiapkan diri dengan baik. Sejak pagi hari, bapak-bapak dan kaum muda sudah hadir lebih awal di gereja untuk mulai menata posisi kendaraan, khususnya sepeda motor, agar tersusun rapi dan tertib. Setelah seluruh kendaraan tertata dengan baik, seluruh petugas kemudian mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penuh kekhusyukan.
Sementara itu, ibu-ibu dan adik-adik mendapatkan tugas untuk membantu pengumpulan uang parkir setelah perayaan Ekaristi selesai.
Usai perayaan, seluruh petugas kembali menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Mengenakan kaos kebanggaan lingkungan berwarna dusty rose dan putih, kami dengan semangat mengambil posisi di area halaman belakang Gereja untuk melayani umat yang akan meninggalkan lokasi.
Melalui pelayanan ini, kami semakin merasakan kebersamaan, semangat gotong royong, dan sukacita dalam melayani sesama sebagai bagian dari kehidupan menggereja.
Dalam rangka merayakan Vigili Paskah, Wilayah St. Ignatius Loyola mengadakan kegiatan ronda malam yang berlangsung pada Sabtu malam, setelah Misa Vigili Paskah. Acara dimulai pukul 22.00 hingga 01.00 WIB dan bertempat di halaman depan gereja, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh sukacita.
Kegiatan ini diikuti oleh lima lingkungan, yaitu St. Elisabeth, St. Gabriel, Santo Yohanes Pembaptis, St. Clara, dan St. Fransiskus Asisi. Partisipasi umat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, Orang Muda Katolik (OMK), hingga Bapak dan Ibu, menciptakan suasana kebersamaan yang akrab dan penuh semangat persaudaraan.
Rangkaian acara semakin semarak dengan sajian aneka hidangan yang disiapkan oleh Ibu-ibu Paguyuban Wilayah Ignatius Loyola. Salah satu menu yang menarik perhatian adalah nasi kucing versi jumbo yang dikenal dengan sebutan Sego Macan. Selain itu, tersedia pula berbagai camilan seperti tahu bacem, tahu isi, keripik singkong, dan karak. Minuman hangat seperti wedang jahe dan kopi turut melengkapi suasana malam yang sejuk.
Tidak hanya menikmati hidangan, umat juga memanfaatkan area photo booth untuk mengabadikan momen kebersamaan. Di berbagai sudut, terlihat umat yang saling berbincang, bercanda, dan berbagi cerita, menambah kehangatan suasana malam Vigili Paskah.
Kegiatan ronda malam ini berlangsung dengan tertib dan penuh sukacita. Kebersamaan yang terjalin menjadi wujud nyata semangat persaudaraan dalam kehidupan menggereja. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus mempererat relasi antarumat serta memperkuat iman dalam kehidupan sehari-hari.
Selamat merayakan Paskah. Semoga sukacita kebangkitan Kristus senantiasa membawa damai dan harapan bagi kita semua.
Sesuai dengan jadwal petugas liturgi dan non liturgi Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo, Lingkungan St. Gabriel mendapat kesempatan untuk melayani melalui tugas tata bunga dan kerja bakti pada Misa Minggu, 12 April 2026. Dengan penuh semangat, persiapan telah dilakukan bersama pada hari Sabtu, 11 April pukul 10.00.
Tim tata bunga lingkungan dengan penuh ketulusan menyiapkan dan menata bunga di altar, menghadirkan suasana yang indah dan khidmat. Sementara itu, tim kerja bakti dengan sukacita membersihkan gereja—baik bagian dalam, luar, maupun halaman—serta merawat tanaman yang ada.
Yang membahagiakan, seluruh umat Lingkungan St. Gabriel turut ambil bagian. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak hadir, saling membantu, berbagi tugas, dan bekerja bersama dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Kegiatan ini bukan sekadar persiapan, tetapi juga menjadi ungkapan kasih dan pelayanan kita kepada gereja. Semoga semangat kebersamaan ini terus hidup dan menguatkan kita semua.
Sembayangan rutin Lingkungan Santo Gabriel yang dilaksanakan dua kali dalam sebulan kembali diadakan pada Kamis, 9 April, bertempat di rumah keluarga Bapak Sidiq. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dipimpin oleh Bapak Candra, Bapak Manik, serta Saudara Darius. Sebanyak 32 umat hadir, terdiri dari orang tua, remaja, hingga anak-anak, yang bersama-sama mengikuti ibadat dengan penuh kebersamaan.
Bacaan Injil malam itu diambil dari Lukas 24:35–48 dengan tema: “Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga.” Dalam renungan disampaikan bahwa Yesus yang bangkit hadir secara nyata, bukan sekadar gambaran atau pemikiran semata. Ia hadir dengan tubuh-Nya, bahkan membawa luka-luka sebagai tanda kasih-Nya yang nyata bagi manusia. Dari sini kita diingatkan bahwa luka dan penderitaan hidup kita pun dapat menjadi bagian dari karya kasih Tuhan. Yesus juga membuka pikiran para murid untuk memahami Kitab Suci, mengajak kita semua untuk semakin mendalami Sabda Allah sebagai dasar iman. Iman yang bertumbuh bukan hanya dari perasaan, tetapi dari pengenalan yang semakin dalam akan firman Tuhan.
Dalam sesi sharing, beberapa umat dengan tulus membagikan pengalaman iman mereka, yang semakin menguatkan dan menghidupkan suasana kebersamaan malam itu. Di akhir bacaan, kita kembali diingatkan akan panggilan sebagai saksi Kristus yang bangkit, yang diutus untuk membawa damai, pengampunan, dan harapan di tengah kehidupan sehari-hari.
Sembayangan berlangsung dengan lancar dan khidmat. Setelah ibadat, umat melanjutkan kebersamaan dalam suasana santai, menikmati hidangan yang telah disiapkan oleh tuan rumah sambil bercengkerama dan mempererat tali persaudaraan. Ketua lingkungan juga menyampaikan beberapa pengumuman penting dan pemberian jaminan hidup (jadup) dari stasi untuk Bapak Sidiq.
Acara ditutup pada pukul 20.30 WIB. Bapak Ketua Lingkungan mewakili seluruh umat menyampaikan terima kasih kepada keluarga Bapak Sidiq atas kebaikan dan keramahtamahannya dalam menerima seluruh umat.
Jumat, 27 Maret – Pukul 13.00 Kegiatan belajar bersama menganyam daun palma dan janur dalam rangka persiapan perayaan Misa Minggu Palma, bertempat di gazebo Gereja GMBA. Jumlah peserta dari Lingkungan St. Gabriel: 4 umat.Minggu, 29 Maret – Pukul 07.00 Tugas koor pada Misa Minggu Palma bersama Wilayah Ignatius Loyola di Gereja GMBA. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 6 umat.Kamis, 2 April – Pukul 08.00 Tugas tata bunga untuk Misa Kamis Putih bersama Wilayah Ignatius Loyola di Gereja GMBA. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 5 umat.Kamis, 2 April – Pukul 17.00 Tugas counter umat pada Misa Kamis Putih bersama Wilayah Ignatius Loyola di Gereja GMBA. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 2 umat.Kamis, 2 April – Pukul 19.00 Tugas rasul pada Misa Kamis Putih di Gereja GMBA. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 1 umat.Kamis, 2 April – Pukul 21.00 Tugas menemani Romo setelah Misa Kamis Putih bersama Wilayah Ignatius Loyola. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 1 umat.Kamis, 2 April – Pukul 23.00 Tuguran Sakramen Mahakudus bersama Wilayah Ignatius Loyola di Gereja GMBA. Jumlah peserta dari Lingkungan St. Gabriel: 8 umat.Jumat, 3 April – Pukul 14.00 Tugas among tamu dan penghitungan kolekte pada Misa Jumat Agung bersama Wilayah Ignatius Loyola di Gereja GMBA. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 4 umat.Sabtu, 4 April – Pukul 17.00 Tugas among tamu pada Misa Sabtu Vigili bersama gabungan 4 wilayah di Gereja GMBA. Jumlah petugas dari Lingkungan St. Gabriel: 1 umat.Sabtu, 4 April – Pukul 22.00 Ronda malam bersama Wilayah Ignatius Loyola di Gereja GMBA. Jumlah peserta dari Lingkungan St. Gabriel: 14 umat.
Semangat kebersamaan dan kreativitas ditunjukkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) Lingkungan Yohanes Pembaptis dalam mempersiapkan parcel Paskah bagi umat.
Dalam proses persiapan, para OMK bekerja sama mulai dari menghias telur Paskah, menata makanan, hingga membungkus parcel dengan rapi. Setiap tahapan dilakukan dengan penuh ketelitian dan semangat, mencerminkan kesungguhan mereka dalam memberikan yang terbaik.
Suasana kebersamaan begitu terasa selama kegiatan berlangsung. Tawa, canda, dan kerja sama yang solid menjadi bagian dari proses, menjadikan kegiatan ini tidak hanya sebagai persiapan parcel, tetapi juga sebagai momen mempererat persaudaraan antaranggota OMK.
Setelah seluruh parcel selesai dipersiapkan, keesokan harinya para OMK melanjutkan pelayanan dengan mendistribusikan parcel kepada umat yang telah memesan. Antusiasme umat terlihat dari banyaknya pesanan yang masuk, bahkan tidak hanya dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, tetapi juga dari lingkungan-lingkungan lain.
Hal ini menjadi tanda bahwa usaha dan pelayanan yang dilakukan OMK mendapat respon yang sangat baik dari umat. Melalui kegiatan ini, OMK tidak hanya belajar tentang kerja sama dan tanggung jawab, tetapi juga menghadirkan sukacita Paskah melalui karya sederhana yang penuh makna.
Semoga semangat pelayanan dan kreativitas ini terus tumbuh dalam diri OMK Lingkungan Yohanes Pembaptis, serta menjadi berkat bagi semakin banyak umat.
Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Ibadat Memule 1000 hari mengenang berpulangnya Ibu Yasenta Surajiati dalam suasana yang khidmat dan penuh doa.
Ibadat dipimpin oleh prodiakon, Bapak Naryo, yang dengan penuh penghayatan membimbing umat dalam rangkaian doa dan permenungan. Umat yang hadir cukup banyak, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan rasa kebersamaan dan kepedulian dalam mendampingi keluarga yang berduka.
Selain umat dari Lingkungan Yohanes Pembaptis, ibadat ini juga dihadiri oleh beberapa umat dari lingkungan lain yang turut hadir untuk memberikan dukungan dan doa. Kehadiran mereka semakin menegaskan eratnya persaudaraan dalam kehidupan menggereja.
Selama ibadat berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh khusyuk. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi ungkapan harapan agar almarhumah Ibu Yasenta Surajiati memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan, serta keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan penghiburan.
Ibadat memule 1000 hari ini tidak hanya menjadi momen mengenang, tetapi juga kesempatan bagi umat untuk memperdalam iman akan kehidupan kekal serta mempererat tali persaudaraan di tengah komunitas.
Semoga melalui doa bersama ini, kasih Tuhan senantiasa menyertai keluarga dan seluruh umat yang hadir.
Pada tanggal 26 Maret 2026, umat Lingkungan Elisabeth mengadakan pertemuan APP kelima di Pendopo Mbah Cipto. pertemuan APP yang terakhir ini dihadiri 27 orang. Petugas pemimpin ibadat APP kali ini mengemas renungan dengan apik. Umat diajak menyaksikan cerita melalui proyektor. Sebuah kisah tentang seorang tukang ojek yang bisu tuli namun tetap menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Pada suatu hari, dia mengalami musibah, barang yang akan dia antar dicuri oleh sekelompok anak. Saat pencuri itu tertangkap dan orang-orang akan menghakimi pencuri tersebut, si bisu tuli ini justru menolong. Saat mengetahui si pencuri kelaparan, dia mengajaknya makan, dan memaafkan. Dari sini kita bisa memetik nilai moral, bahwa cinta kasih dapat berlaku untuk dan oleh siapa saja. Entah dia dalam keadaan yang kekurangan sekalipun, masih bisa berbagi kasih. Bahkan seorang penjahat sekalipun, berhak mendapatkan kasih.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat berbagai bentuk penderitaan di sekitar kita, kemiskinan, kesepian, ketidakadilan, dan berbagai kesulitan lainnya. Namun, tidak jarang kita memilih untuk diam atau menunda untuk bertindak, entah karena merasa tidak mampu, takut, atau menganggap itu bukan tanggung jawab kita. Pertemuan APP ke-5 ini mengajak kita untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Lukas 9:1-6.
Dalam bacaan tersebut, Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya dan mengutus mereka untuk pergi memberitakan Kerajaan Allah serta menyembuhkan orang sakit. Menariknya, Yesus tidak membekali mereka dengan banyak hal secara materi. Ia bahkan melarang mereka membawa bekal berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, melainkan keberanian untuk melangkah dan kepercayaan kepada Tuhan.
Sering kali kita berpikir bahwa untuk menolong orang lain, kita harus memiliki banyak hal terlebih dahulu. Uang yang cukup, waktu yang longgar, atau kemampuan yang luar biasa. Padahal, Tuhan hanya meminta kita untuk memulai dari apa yang kita punya. Langkah kecil yang kita ambil dengan tulus dapat membawa dampak besar bagi orang lain.
Mengambil langkah pertama memang tidak selalu mudah. Ada rasa ragu, takut ditolak, atau khawatir tidak bisa membantu secara maksimal. Namun, melalui kisah ini, kita diajak untuk percaya bahwa Tuhan menyertai setiap usaha baik kita. Ketika kita berani melangkah, Tuhan bekerja melalui kita.
Menolong sesama tidak harus selalu dalam bentuk besar. Hal sederhana seperti mendengarkan, memberi perhatian, membantu teman yang kesulitan, atau berbagi dengan yang membutuhkan sudah menjadi wujud nyata kasih. Yang terpenting adalah hati yang peduli dan kemauan untuk bertindak.
Melalui pertemuan ini, kita diajak untuk tidak lagi menunda. Mari mulai dari langkah kecil, dari lingkungan terdekat kita, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Ketika kita berani mengambil langkah pertama, kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan kasih dan harapan bagi sesama.
Mari kita berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu. Karena dalam setiap tindakan kasih, Tuhan hadir dan bekerja melalui kita.
Lingkungan St. Gabriel mengadakan sembahyangan rutin pada Kamis, 26 Maret, bertempat di rumah keluarga Bapak Robby Handoko. Kegiatan ini dihadiri oleh 22 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua.
Sembahyangan kali ini bertepatan dengan kegiatan PWK, sehingga umat hadir lebih awal untuk melaksanakan pembayaran iuran wajib, antara lain iuran APBU, Prolenan, GKH Pendidikan, Dahar Romo, dan arisan. Para petugas telah bersiap dan melayani proses pembayaran dengan tertib hingga seluruh kewajiban umat terselesaikan.
Setelah seluruh proses administrasi selesai, sembahyangan pun dimulai dan dipimpin oleh Ibu Ika, Ibu Intan, serta Ibu Ana. Bacaan Injil pada malam itu diambil dari Yohanes 8:51–59. Dalam renungan, umat diajak untuk merefleksikan “batu-batu” yang mungkin masih digenggam dalam hati, yakni sikap menghakimi atau menolak ketika kehendak Tuhan tidak sejalan dengan logika dan keinginan manusia. Umat diingatkan bahwa sering kali manusia lebih memilih rasa aman dalam aturan yang kaku daripada kebebasan dalam kasih yang menuntut pertobatan dan perubahan hidup.
Melalui permenungan ini, umat diajak untuk semakin percaya kepada Yesus dengan berani melepaskan keterikatan pada hal-hal duniawi yang fana, serta berpegang teguh pada firman-Nya yang membawa kehidupan. Ditekankan pula bahwa mengenal Yesus bukan sekadar sebagai tokoh sejarah, melainkan sebagai Tuhan yang hidup, yang menyelamatkan manusia dari maut terdalam, yaitu keterpisahan kekal dari kasih Allah.
Setelah sembahyangan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan laporan dari masing-masing seksi serta penyampaian pengumuman penting oleh ketua lingkungan, khususnya terkait tugas-tugas lingkungan dalam persiapan Pekan Suci Paskah. Acara kemudian ditutup dengan kebersamaan menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan.
Demikian rangkaian kegiatan sembahyangan rutin Lingkungan St. Gabriel yang telah berlangsung dengan lancar dan penuh makna. Semoga melalui kebersamaan ini, iman umat semakin diteguhkan dan semangat pelayanan serta persaudaraan terus bertumbuh dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan memberkati.
Pada hari Kamis, 19 Maret, Lingkungan St. Gabriel mengadakan Pertemuan APP ke-5 yang bertempat di rumah keluarga Bapak Jumadi. Pertemuan dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 25 umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, dan orang tua. Kegiatan ini dipimpin oleh Bapak Paul, Bapak Junedi, dan Bapak Robby.
Tema Pertemuan APP ke-5 adalah “Mengambil Langkah Pertama dalam Menolong Sesama.” Dalam pertemuan ini, umat diajak untuk menyadari panggilan masing-masing agar menjadi bagian dari masyarakat yang proaktif dalam mengusahakan kesejahteraan bersama. Kunci untuk mewujudkan panggilan tersebut adalah kepekaan dalam memahami kebutuhan sesama serta keberanian untuk memulai tindakan nyata.
Sebagai murid Kristus, umat dipanggil untuk mewartakan kabar sukacita. Dalam Injil Lukas bab 4 digambarkan bahwa kabar sukacita atau tahun rahmat Tuhan merupakan kabar baik bagi orang miskin, pembebasan bagi orang tawanan, penglihatan bagi orang buta, serta pembebasan bagi mereka yang tertindas. Hal ini tidak hanya berhenti sebagai wacana, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam pertemuan ini juga disinggung kembali mengenai tim pengelola dana sosial paroki. Tim ini diberi tugas oleh pastor paroki untuk menyalurkan dana sosial, serta apabila diperlukan, mengajukan proposal bantuan ke lembaga Gereja yang lebih tinggi. Secara umum, pengajuan dana sosial dapat dilakukan oleh perorangan atau kelompok dengan sepengetahuan ketua lingkungan, kemudian diajukan kepada tim pengelola. Berdasarkan proposal yang diterima, tim akan melakukan verifikasi untuk menentukan kelayakan bantuan tersebut.
Bacaan Kitab Suci pada malam itu diambil dari Injil Lukas 9:1-6 tentang Yesus yang mengutus kedua belas murid. Dalam permenungan, disampaikan tiga tahap perutusan para murid, yaitu: (1) dipanggil menjadi murid Kristus yang siap ambil bagian dalam misi-Nya; (2) diberi kuasa melalui sakramen-sakramen untuk melaksanakan tugas perutusan; dan (3) diutus untuk mewartakan Kerajaan Allah dengan segala konsekuensinya.
Selain itu, umat diajak untuk memanfaatkan sumber daya yang dimiliki Gereja dalam mewartakan kabar sukacita melalui berbagai bidang, antara lain:
Bidang kesejahteraan (sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan),
Bidang keberimanan dan motivasi,
Bidang pemberdayaan (seperti pertanian, peternakan, UMKM, dan keterampilan),
Bidang kemanusiaan darurat (bencana alam, kecelakaan, dan lain-lain).
Umat juga diingatkan bahwa sebagai pribadi yang telah diutus dan diberi kuasa, setiap orang dipanggil untuk berani “mengambil langkah pertama” ketika melihat sesama yang membutuhkan.
Dalam sesi sharing, pemandu menjelaskan tata cara pengisian blangko pengajuan dana APP kepada panitia APP kevikepan yang dapat diakses pada lampiran buku panduan bagian akhir. Setelah sesi sharing selesai, kegiatan dilanjutkan dengan doa rosario sebagai intensi dari tuan rumah yang berulang tahun pada bulan tersebut.
Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah serta penyampaian pengumuman penting oleh ketua lingkungan. Seluruh rangkaian kegiatan berakhir pada pukul 20.30 WIB.