Line Dance St. Elisabeth

Tanggal 14 Juni 2026. Lingkungan St. Elisabeth turut memeriahkan Acara HUT Gereja Maria Bunda Allah dengan mempersembahkan Line Dance.

Dalam perayaan ini, selain memperingati HUT GMBA, kami juga bersuka cita karna GMBA sudah resmi menjadi Paroki Administratif. Setelah misa, seluruh umat diajak untuk berpesta Bakso dan Soto yang dipersembahkan oleh 14 lingkungan di Paroki Administratif GMBA. Sembari menikmati hidangan, umat juga disuguhi beberapa hiburan, salah satunya Line Dance persembahan dari Lingkungan St. Elisabeth ini.

Lingkungan Elisabeth sudah mempersiapkan 2x seminggu untuk berlatih bersama selama kurang lebih 2 bulan.

Kasih adalah yang Utama dari Kehidupan Orang Beriman

Pada tanggal 4 Juni, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan Rutin yang bertempat di Pendopo Mbah Cipto. Dalam sembahyangan kali ini, kami merenungkan Injil Markus 12:28–34. Dalam injil ini bercerita bagaimana seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.

Ahli Taurat itu memahami bahwa kasih kepada Allah dan sesama jauh lebih berharga daripada segala kurban dan persembahan. Melihat jawabannya, Yesus berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang menjalankan aturan atau mengikuti ibadah secara lahiriah. Iman yang sejati tampak dalam kasih yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengasihi Tuhan berarti menempatkanNya sebagai pusat hidup, setia berdoa, mendengarkan sabdaNya, dan melakukan kehendakNya. Mengasihi sesama berarti menghargai setiap orang, mau mengampuni, menolong yang membutuhkan, serta menjaga martabat setiap manusia.

Yang perlu kita renungkan bersama adalah,

  1. Apakah saya sungguh mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup saya?
  2. Apakah kasih saya kepada sesama terlihat dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar?
  3. Sudahkah saya menunjukkan kasih kepada ciptaan Tuhan dengan mengasihi sesama?

“Tuhan Yesus, ajarlah kami mengasihiMu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kami. Bukalah hati kami agar mampu mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan, serta peduli terhadap seluruh ciptaanMu. Semoga setiap perkataan, tindakan, dan keputusan kami menjadi wujud nyata kasih yang Engkau ajarkan. Amin.”

Pengumpulan Bahan Daur Ulang Lingkungan St. Elisabeth

Dalam rangka mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai wujud syukur atas ciptaan Tuhan, sekaligus membantu mengurangi sampah, Paroki memiliki program yang sudah lama berlangsung, yaitu mengadakan Pengumpulan Bahan Daur Ulang. Kegiatan ini juga dapat menjadi bagian dari aksi nyata dalam semangat menjaga lingkungan.

Kegiatan ini bertujuan:

  • Mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
  • Mengajak umat membiasakan memilah sampah dari rumah.
  • Menumbuhkan semangat menjaga kelestarian ciptaan Tuhan.
  • Menggalang dana sosial dari hasil penjualan bahan daur ulang.
  • Menumbuhkan rasa cinta lingkungan dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga.

Barang yang dikumpulkan berupa:

  • Botol plastik (PET)
  • Gelas plastik
  • Kardus
  • Kertas dan koran bekas
  • Kaleng minuman
  • Botol kaca
  • Minyak jelantah (dalam botol tertutup)
  • Tutup botol plastik

Biasanya di lingkungan St. Elisabeth pengumpulan BDU dilakukan tiap minggu keempat di hari yang telah disepakati bersama di rumah Keluarga Bapak Suradi, yang kemudian barang-barang dibersihkan, dipilah, dirapikan, disatukan dan dikumpulkan ke Gereja untuk ditimbang bersama.

Melalui langkah sederhana ini, kita bersama-sama mengurangi sampah, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghadirkan kasih Tuhan kepada sesama melalui pemanfaatan hasil daur ulang untuk karya sosial gereja.

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)

Mari bersama menjaga bumi, rumah kita bersama.

Dari Satu Suara Menjadi Empat Suara

Minggu pagi, 12 Juli 2026, Lingkungan St. Fransiskus Asisi kembali mendapat tugas koor dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Puji Tuhan, tugas pagi itu dapat kami jalankan dengan baik. Kami bernyanyi dengan sepenuh hati. Mungkin masih ada nada yang belum tepat di sana-sini, mungkin juga belum sesempurna koor yang lain. Tetapi pagi itu kami mempersembahkan nyanyian kami dengan segenap hati sebagai doa bagi Tuhan.

Kalau melihat kami bernyanyi hari ini, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa perjalanan kami sampai di titik ini tidaklah singkat.

Sejak pemekaran lingkungan pada tahun 2022, Lingkungan St. Fransiskus Asisi dan Lingkungan St. Clara berjalan sendiri-sendiri. Terus terang, waktu itu kami sempat minder.

Bagaimana tidak? Hampir semua umat yang memang memiliki kemampuan menyanyi berada di Lingkungan Clara. Sementara kami di Asisi… ya, bisa menyanyi sekadarnya. Bahkan setiap kali mendapat jadwal koor, rasa tidak percaya diri selalu muncul.

Dulu, kami hanya berani menyanyi dengan satu suara. Yang penting lagu selesai, nada tidak terlalu meleset, dan tugas terlaksana.

Namun kami juga sadar, kalau tidak mulai belajar, kami tidak akan pernah berkembang.

Sedikit demi sedikit kami mulai rutin berlatih. Untungnya, kami dipertemukan dengan Mas Gathut yang dengan sabar membimbing kami. Latihan bersama Mas Gathut selalu menyenangkan. Kami tidak hanya diminta menghafal lagu, tetapi juga diajarkan bagaimana bernapas dengan benar, menjaga nada, membuka mulut dengan baik, hingga mengucapkan setiap kata dengan artikulasi yang jelas.

Bahkan, beberapa hari yang lalu Mas Gathut datang membawa… sendok! Lihat videonya disini.

Bukan untuk makan bersama, tetapi sebagai alat latihan agar kami berani membuka mulut lebih lebar saat bernyanyi. Awalnya tentu terasa lucu, tetapi ternyata latihan sederhana itu sangat membantu kami mengeluarkan suara dengan lebih baik.

Mas Gathut juga selalu mengingatkan bahwa saat bernyanyi di gereja, yang kita persembahkan bukan sekadar suara yang indah. Nyanyian adalah doa. Karena itu, setiap kata harus diucapkan dengan jelas dan setiap lagu dinyanyikan sepenuh hati.

Awal tahun ini menjadi langkah baru bagi kami. Dengan modal nekat, kami mulai mencoba bernyanyi empat suara. Memang belum semua lagu. Memang belum selalu rapi. Kadang masih saling mencari nada, kadang masih ada yang bingung harus masuk di bagian mana.

Tapi ternyata… kami bisa.

Hari ini kami kembali membuktikan kepada diri sendiri bahwa segala sesuatu memang butuh proses.

Bukan proses menjadi paduan suara terbaik, tetapi proses berani mencoba, mau belajar, mau mendengarkan, dan mau terus berlatih bersama, tapi justru di situlah letak sukacitanya.

Kami belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melayani. Dengan semangat, latihan, dan kebersamaan, Tuhan selalu membuka jalan untuk bertumbuh.

Mungkin kami belum sempurna. Namun hari ini kami bernyanyi jauh lebih percaya diri dibanding tiga tahun yang lalu. Dan bagi kami, itu sudah menjadi berkat yang sangat besar.

Terima kasih untuk Mas Gathut yang dengan sabar membimbing kami, dan terima kasih untuk seluruh umat Asisi yang selalu mau meluangkan waktu untuk berlatih. Semoga setiap nada yang kami nyanyikan selalu menjadi doa yang berkenan di hadapan Tuhan.

Karena ternyata, dengan segala keterbatasan kami… kami bisa.

Asisi! Bersama, bahagia, beriman!

Misa Yang Menguatkan, Kebersamaan Yang Menghangatkan.

Melalui Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama Pastor Paroki, umat diajak untuk kembali percaya bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup, bahkan di tengah badai. Kebersamaan yang berlanjut dalam ramah tamah malam itu menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan bertumbuh dalam iman.

Bersama, Bahagia, Beriman

Selasa malam, 30 Juni 2026, menjadi salah satu malam yang hangat bagi kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 62 umat hadir dalam Misa Lingkungan yang dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Malam itu kami berkumpul di Joglo Prasetyan, atau yang lebih akrab kami sebut Joglo Asisi, di kediaman Bapak Paulus Prasetya. Rasanya memang sudah seperti rumah kedua. Banyak kegiatan lingkungan dilaksanakan di sana, jadi setiap kali berkumpul di Joglo Asisi, rasanya selalu ada suasana yang berbeda.

Bahkan sebelum misa dimulai, suasana sudah terasa hidup. Ada yang sibuk mengatur kursi, ada yang menyiapkan konsumsi, ada yang mengecek sound system, sementara tim koor latihan sebentar bersama organis muda lingkungan, Mbak Ganes dan Mbak Lauda. Di sisi lain, tentu ada juga yang asyik mengobrol. Begitulah Asisi. Selalu ada yang dikerjakan, tapi selalu ada juga waktu untuk saling menyapa.

Dalam homilinya, Romo mengajak kami merenungkan Injil Matius 8:23–27 tentang Yesus yang meredakan angin ribut.

Di tengah homilinya, Romo bertanya,

“Dalam Perayaan Ekaristi, berapa kali Romo mengucapkan ‘Tuhan bersamamu’?”

Kami mulai menghitung dipandu Romo dan mendapatkan jawabannya, 4 kali.

Lalu Romo melanjutkan lagi,

“Kalau sedang punya masalah atau sedang gundah, biasanya mengadu ke siapa?”

Jawabannya langsung bermacam-macam.

“Status WA, Romo!”

Belum selesai tertawa, ada lagi yang menjawab,

“ChatGPT!” tawa umat kembali pecah

“Yo, ChatGPT” kata Romo sambil tertawa

Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, Romo mengingatkan kami bahwa sering kali kita mencari jawaban ke mana-mana, padahal Tuhan selalu hadir lebih dulu. Kalimat “Tuhan bersamamu” yang kita dengar saat misa ternyata bukan hanya bagian dari liturgi. Itu adalah pengingat bahwa dalam keadaan apa pun, bahkan saat hidup sedang seperti diterpa badai, Tuhan tetap menyertai kita.

Setelah misa selesai, kami tidak langsung pulang.

Seperti biasa, sesi foto bersama wajib hukumnya. Setelah itu kami juga membuat video yel-yel Lingkungan Asisi dan video pendek untuk konten Instagram.

Harapannya sederhana. Kalau malam itu kami pulang dengan hati yang penuh sukacita, semoga sukacita yang sama juga bisa dirasakan oleh umat lain yang melihatnya melalui media sosial.

Lalu terdengarlah yel-yel yang sudah begitu akrab di telinga kami.

“Asisi! Bersama, bahagia, beriman!”

Malam itu rasanya tiga kata itu bukan sekadar yel-yel.

Kami benar-benar bersama, mulai dari mempersiapkan misa, melayani, berdoa, sampai membereskan semuanya bersama-sama.

Kami juga bahagia. Bahagia karena bisa bertemu, bercanda, tertawa, dan menikmati malam tanpa harus terburu-buru pulang.

Dan tentu saja kami pulang dengan iman yang kembali dikuatkan. Jadi rasanya, malam itu yel-yel Asisi benar-benar hidup.

Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah bersama Romo.

Sambil menikmati ronde panas, nasi kucing, sate ayam, tahu bacem, kerupuk, dan camilan sederhana lainnya, sesi tanya jawab dimulai.

Pertanyaannya macam-macam.

Ada yang penasaran makanan favorit Romo.

Ada ibu-ibu yang sekalian memberi kode soal menu caos dhahar.

Ada yang bertanya bagaimana Romo akhirnya memutuskan menjadi seorang Imam. Jawabannya pun membawa kami mendengar kembali cerita perjalanan panggilan beliau sejak muda.

Ibu-ibu lansia juga tidak mau melewatkan kesempatan. Ada yang bertanya tentang Sakramen Minyak Suci. Ada juga yang bertanya, kalau malam sudah capek dan tidak kuat duduk, apakah boleh berdoa sambil tiduran.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin mewakili bapak-bapak.

“Romo, olahraga apa kok tetap bugar?”

Romo menjawab sambil tersenyum, treadmill minimal 30 menit, ditambah squat dan plank setiap hari.

Belum selesai.

Ada lagi yang bertanya,

“Romo, rahasianya apa kok glowing terus?”

Jawaban Romo singkat.

“Karena rutin misa pagi!”

Lalu Romo juga bercerita bahwa yang bertanya tentang “keglowingan” Romo tidak hanya umat Asisi saja, ternyata Romo sering ditanya pertanyaan yang sama.

Malam itu gelak tawa kembali memenuhi Joglo Asisi.

Obrolan kemudian beralih ke topik yang lebih serius. Ada yang bertanya tentang tantangan kaum muda saat ini.

Menurut Romo, salah satunya adalah budaya FOMO. Anak muda sekarang sering ingin semuanya serba cepat. AI memang sangat membantu, tetapi kalau semua diserahkan pada teknologi, lama-lama kita bisa kehilangan kebiasaan berpikir dan menikmati proses. Romo mengajak kami, terutama kaum muda, untuk tetap mau belajar, bertumbuh, dan tidak takut menjalani proses.

Setelah umat puas bertanya, gantian Romo yang bertanya kepada kami. Beliau ingin mendengar bagaimana komitmen Lingkungan Asisi dalam mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah. Romo menekankan bahwa komitmen harus berdasarkan kesepakatan dan tidak memberatkan umat. Selain itu, Romo juga menjelaskan secara singkat mengenai APBU dan kolekte, sehingga kami semakin memahami bagaimana Gereja dikelola bersama-sama.

Tanpa terasa, es krim sebagai hidangan penutup sudah habis dan jam sudah semakin malam.

Acara ditutup dan kami pun berpamitan.

Pulang malam itu rasanya berbeda.

Perut kenyang.

Hati hangat dan penuh.

Dan iman terasa sedikit lebih kuat daripada saat kami datang.

Mungkin memang itu arti kebersamaan yang sesungguhnya.

Bukan hanya berkumpul, tetapi pulang membawa sesuatu.

Dan malam itu, kami semua pulang membawa berkat Tuhan.

Asisi! Bersama, bahagia, beriman!

Untuk mengikuti kegiatan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi Maguwo, follow Instagram kami @cerita.asisi.gmba dengan klik link disini.

Remaja St. Gabriel Ambil Bagian dalam Pelayanan Misa Minggu

Pada Minggu, 21 Juni, Lingkungan St. Gabriel mendapat tugas pelayanan counter dan jaga teks pada Misa Minggu di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Pelayanan ini dikoordinasikan oleh Bapak Candra, dengan melibatkan para remaja lingkungan sebagai bentuk pembinaan dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja.

Remaja yang bertugas adalah Aurel, Qaaley, Santa, Darius, dan Natra. Sejak pukul 06.00 WIB, seluruh petugas telah hadir dan bersiap di pos masing-masing. Mereka ditempatkan di bagian depan, belakang, serta lorong gereja untuk menghitung jumlah umat yang hadir menggunakan alat counter, sekaligus membantu menjaga teks misa.

Puji Tuhan, seluruh rangkaian tugas dapat dilaksanakan dengan baik, tertib, dan lancar. Semangat, tanggung jawab, serta kekompakan yang ditunjukkan oleh para remaja menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam pelayanan Gereja.

Semoga keterlibatan ini semakin menumbuhkan semangat melayani, mempererat kebersamaan, serta menjadi inspirasi bagi remaja lainnya untuk terus aktif ambil bagian dalam kehidupan menggereja.

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya.” (1 Timotius 4:12) 🙏🏻✨

Tiktok https://vt.tiktok.com/ZSC1VmY3G/

Instagramhttps://www.instagram.com/reel/DZ2QoB0TGYJ/?igsh=NHp0bDFtdmRrdHZo

Rapat Pengurus Lingkungan St. Gabriel: Menyatukan Langkah, Membangun Pelayanan

Pada Rabu, 17 Juni 2026, Pengurus Lingkungan St. Gabriel mengadakan rapat rutin yang bertempat di rumah Bapak Paul. Rapat dimulai pukul 19.20 WIB dan dihadiri oleh 15 orang pengurus.

Suasana rapat berlangsung hangat, penuh semangat kebersamaan, dan diwarnai dengan diskusi yang aktif. Setiap pengurus saling bertukar pikiran, menyampaikan usulan, serta mencari solusi terbaik agar setiap program dan kegiatan lingkungan dapat terlaksana dengan baik, tertib, dan lancar.

Adapun agenda yang dibahas meliputi:

Mekanisme partisipasi umat dalam pendanaan pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo, khususnya terkait teknis dan tata cara umat Lingkungan St. Gabriel untuk turut ambil bagian dalam memberikan sumbangan.

Program kerja dan berbagai informasi lingkungan, sebagai upaya memperkuat pelayanan serta menjaga komunikasi dan kebersamaan antarumat.

Persiapan Misa Lingkungan yang akan dilaksanakan pada 14 Juli 2026, termasuk pembagian tugas dan berbagai hal yang perlu dipersiapkan agar perayaan Ekaristi dapat berlangsung dengan khidmat dan penuh sukacita.

Melalui rapat ini, diharapkan terjalin koordinasi yang semakin baik antar pengurus sehingga setiap keputusan yang diambil dapat menjadi langkah nyata dalam meningkatkan pelayanan, mempererat persaudaraan, serta mendukung kemajuan Lingkungan St. Gabriel.

“Bersama melayani, bersama membangun, dan bersama mewujudkan lingkungan yang semakin hidup dalam iman, harapan, dan kasih.”

tiktok https://vt.tiktok.com/ZSQW4h6Dw/

instagram https://www.instagram.com/reel/DZuX1XzT_i9/?igsh=bGRxOTlzMGtsanI5

Koor Lingkungan St. Elisabeth : Persembahan Terbaik bagi Tuhan

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita.” (Mazmur 100:2)

Dalam persiapan tugas koor misa tanggal 31 Mei 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth melakukan persiapan atau latihan bersama berkali kali demi kelancaran tugas koor. Latihan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dan panti koor Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Dalam kehidupan menggereja, koor atau paduan suara memiliki peranan penting dalam membantu umat menghayati perayaan liturgi. Melalui nyanyian, umat diajak untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, latihan koor yang dilakukan oleh umat lingkungan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pelayanan dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum bertugas dalam perayaan Ekaristi atau ibadah lainnya. Setiap anggota koor meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempelajari lagu-lagu liturgi, menyelaraskan suara, memahami makna lagu, serta membangun kekompakan dalam pelayanan. Semua usaha tersebut dilakukan demi menghadirkan nyanyian yang indah dan membantu umat berdoa dengan lebih baik.

Dalam suasana kebersamaan, para anggota belajar saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, dan bekerja sama mencapai tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan. Semangat persaudaraan ini mencerminkan kehidupan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Latihan yang dilakukan secara rutin juga menunjukkan kesungguhan umat dalam melayani. Mereka menyadari bahwa pelayanan liturgi bukanlah tentang menampilkan kemampuan pribadi, melainkan tentang mempersembahkan talenta yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, setiap anggota koor berusaha memberikan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Melalui latihan yang tekun, nyanyian yang dibawakan saat perayaan menjadi lebih harmonis dan penuh penghayatan. Keharmonisan suara yang tercipta bukan hanya menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menjadi sarana pewartaan iman yang menggerakkan hati umat. Nyanyian yang dipersiapkan dengan baik dapat membantu umat merasakan kehadiran Tuhan dan semakin terlibat dalam perayaan liturgi.

Oleh karena itu, latihan koor lingkungan hendaknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman dan pelayanan. Setiap nada yang dilatih, setiap waktu yang dikorbankan, dan setiap usaha yang dilakukan merupakan persembahan yang berharga di hadapan Tuhan. Dengan semangat pelayanan yang tulus, umat lingkungan dapat terus menghadirkan pujian yang indah sebagai persembahan terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Latihan koor bukan hanya tentang belajar bernyanyi, tetapi tentang mempersiapkan hati untuk melayani. Melalui kebersamaan, disiplin, dan ketekunan dalam berlatih, umat lingkungan menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan. Semoga setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa yang hidup dan membawa semakin banyak orang untuk memuliakan Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sembahyangan Rutin, BKL, Doa Rosario, dan Latihan Koor St. Elisabeth

Tanggal 28 Mei 2026, Lingkungan St. Elisabeth kembali berkumpul untuk mengikuti Sembahyangan Rutin, Pembacaan buku BKL, lalu Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Deddy, kemudian dilanjutkan dengan Latihan Koor untuk mengisi tugas koor pada misa hari Minggu, tanggal 31 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Sembahyangan yang dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dengan 23 umat yang hadir berlangsung dengan khidmat, namun tetap guyub.

Melayani dengan Sukacita: Tugas Among Tamu dan Kolekte Lingkungan St. Gabriel

Pada Minggu pagi, 31 Mei, umat Lingkungan St. Gabriel mendapat kesempatan untuk melayani sebagai petugas among tamu dan kolekte dalam Misa Mingguan di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Beberapa hari sebelumnya, para petugas yang terdiri dari remaja, OMK, dan ibu-ibu telah ditunjuk serta dipersiapkan untuk menjalankan tugas pelayanan tersebut. Dengan mengenakan busana bernuansa putih sebagai dress code, para petugas hadir dengan semangat dan sukacita untuk ambil bagian dalam pelayanan liturgi.

Sejak pukul 06.00 WIB, para petugas telah berkumpul dan bersiap di area gereja. Setelah mengenakan samir among tamu, seluruh petugas mengikuti briefing singkat untuk mendapatkan arahan mengenai tugas serta penempatan masing-masing. Dalam suasana penuh kebersamaan, koordinasi dilakukan agar pelayanan dapat berjalan tertib, lancar, dan memberikan kenyamanan bagi seluruh umat yang hadir.

Saat umat mulai berdatangan, petugas among tamu dengan ramah menyambut kedatangan mereka serta membantu mencarikan tempat duduk yang tersedia. Perhatian khusus diberikan kepada umat lanjut usia dengan mengarahkan mereka ke bangku-bangku bagian depan agar lebih nyaman mengikuti perayaan Ekaristi. Selain itu, petugas juga mengimbau umat untuk terlebih dahulu memenuhi bangku-bangku di dalam gereja sehingga ruang ibadah dapat dimanfaatkan secara optimal dan suasana perayaan tetap tertib.

Memasuki liturgi persembahan hingga setelah komuni, petugas kolekte menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Kantong-kantong kolekte diedarkan kepada umat dan setelah selesai dikumpulkan kembali untuk dimasukkan ke dalam dua wadah kontainer yang telah disiapkan. Seluruh proses dilakukan dengan cermat dan terkoordinasi sehingga berlangsung dengan baik tanpa mengganggu jalannya perayaan.

Usai misa, tugas pelayanan belum berakhir. Para petugas kolekte melanjutkan tanggung jawab dengan menghitung jumlah kantong kolekte yang terkumpul. Setelah proses pendataan selesai, seluruh hasil kolekte kemudian diserahkan kepada bendahara stasi sesuai prosedur yang berlaku.

Pelayanan pada hari itu menjadi wujud nyata keterlibatan umat Lingkungan St. Gabriel dalam kehidupan menggereja. Melalui kerja sama yang baik antara remaja, OMK, dan para ibu, seluruh rangkaian tugas dapat terlaksana dengan lancar. Semangat melayani dengan tulus, disiplin, dan penuh sukacita menjadi cerminan kebersamaan serta komitmen umat dalam mendukung kelancaran perayaan Ekaristi. Semoga pengalaman pelayanan ini semakin mempererat persaudaraan dan menumbuhkan semangat untuk terus ambil bagian dalam karya pelayanan Gereja.