“Buah Kasih yang Dihimpun: Pengumpulan dan Penghitungan Kotak APP 2026”


Dalam terang sukacita Paskah, umat Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo diajak untuk mensyukuri buah-buah iman yang telah dihidupi selama masa prapaskah, khususnya melalui Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026.

Kotak APP yang selama masa prapaskah telah dibagikan kepada umat sebagai sarana latihan rohani—melalui pengorbanan, pengendalian diri, dan kepedulian—kini dihimpun kembali sebagai tanda nyata kasih yang telah diwujudkan. Apa yang telah disisihkan dengan setia menjadi persembahan bersama, yang akan dikelola demi pelayanan kasih Gereja.

Dalam semangat tanggung jawab dan transparansi, kotak APP dikumpulkan dalam keadaan utuh dan tidak dibuka di lingkungan. Seluruh proses penghitungan dilaksanakan secara bersama-sama di Gazebo Stasi, dikoordinasikan oleh Bendahara Stasi dan Tim PSE GMBA, serta melibatkan perwakilan pengurus lingkungan. Hasil penghitungan ini selanjutnya akan dilaporkan kepada Keuskupan sebagai bagian dari kesatuan Gereja dalam karya kasih yang lebih luas.

Dana yang terkumpul akan digunakan sesuai dengan arah dan ketentuan yang telah ditetapkan, guna mendukung berbagai karya pelayanan dan pemberdayaan, terutama bagi mereka yang membutuhkan.

Adapun jadwal pengumpulan dan penghitungan kotak APP 2026 adalah sebagai berikut:

  • Minggu, 12 April 2026: Wilayah Yohanes De Britto
  • Senin, 13 April 2026: Wilayah Yohanes Don Bosco
  • Selasa, 14 April 2026: Wilayah Sang Timur
  • Rabu, 15 April 2026: Wilayah Ignatius Loyola

Kegiatan dilaksanakan pukul 17.00–19.00 WIB.

Melalui proses ini, umat diajak untuk melihat bahwa setiap bentuk kecil pengorbanan yang dipersembahkan selama masa prapaskah tidak pernah sia-sia, melainkan menjadi benih kasih yang kini dihimpun dan diutus kembali untuk menghasilkan kebaikan bagi banyak orang.

Semoga semangat berbagi yang telah dihidupi terus berlanjut, menjadi bagian dari kesaksian iman kita di tengah dunia.

“Dari Hosana Menuju Alleluia: Perjalanan Iman Umat dalam Pekan Suci di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Pekan Suci adalah puncak tahun liturgi Gereja, sebuah ziarah iman yang mengantar umat masuk ke dalam Misteri Paskah, misteri sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus Kristus, Sang Penebus.

Perjalanan suci ini diawali dalam Minggu Palma, ketika Gereja mengenangkan perarakan Kristus memasuki Yerusalem. Umat menyambut-Nya dengan seruan “Hosana”, namun sekaligus diingatkan bahwa jalan yang ditempuh Sang Raja adalah jalan kerendahan dan pengorbanan.

Dalam Perayaan Kamis Putih, Gereja memasuki perjamuan kasih. Di sana, Kristus menganugerahkan Ekaristi sebagai kenangan akan diri-Nya, sekaligus memberikan teladan pelayanan melalui pembasuhan kaki. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah partisipasi iman dalam doa Yesus di Getsemani, saat Ia berjaga dalam ketaatan total kepada kehendak Bapa.

Memasuki Jumat Agung, Gereja hening dalam permenungan. Dalam ibadat Tujuh Sabda dan liturgi sengsara Tuhan, umat diajak memandang salib sebagai altar pengorbanan, tempat di mana kasih ilahi dinyatakan secara sempurna. Dalam keheningan yang mendalam, Gereja tidak merayakan Ekaristi, melainkan berlutut di hadapan misteri wafat Tuhan yang menyelamatkan.

Namun misteri tidak berhenti pada salib.

Dalam Vigili Paskah, Gereja berjaga dalam malam yang kudus. Dari kegelapan, cahaya dinyalakan; dari keheningan, pujian dilantunkan. Liturgi ini menjadi perayaan agung kemenangan Kristus atas maut, sebuah peralihan dari kegelapan menuju terang, dari kematian menuju kehidupan.

Dan akhirnya, dalam Hari Raya Paskah, Gereja bersukacita dalam kepenuhan iman. Seruan “Alleluia” kembali menggema, menandakan bahwa Kristus sungguh telah bangkit, membawa harapan baru bagi seluruh umat beriman.

Seluruh rangkaian liturgi ini bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan utuh dalam ekonomi keselamatan. Umat tidak hanya mengenang, tetapi diundang untuk ambil bagian secara nyata dalam misteri yang dirayakan, hidup bersama Kristus, wafat bersama-Nya, dan bangkit dalam kehidupan yang baru.

Di balik kekhidmatan perayaan yang dialami umat, terdapat pelayanan yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan. Sejak awal, melalui berbagai persiapan, latihan-latihan liturgi, hingga gladi bersih, seluruh petugas mengambil bagian dalam semangat pelayanan yang tulus. Setiap peran dijalankan bukan sekadar tugas, melainkan sebagai bentuk persembahan iman bagi kemuliaan Tuhan.

Untuk itu, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menyampaikan ucapan syukur dan terima kasih yang mendalam kepada seluruh Panitia Pekan Suci, yang dimotori oleh Paulus Wardhana ( ketua Panitia Pekan suci 2026 ), atas dedikasi, pengorbanan, dan kesetiaan dalam pelayanan. Segala jerih payah yang telah diberikan menjadi bagian dari karya liturgi yang hidup, menghadirkan keindahan dan kekhusyukan dalam setiap perayaan.

Akhirnya, ziarah dari Hosana menuju Alleluia menjadi cerminan perjalanan iman setiap umat. Dalam dinamika kehidupan, sukacita, penderitaan, dan harapan, umat dipanggil untuk tetap setia, percaya bahwa terang kebangkitan senantiasa mengalahkan kegelapan.

Sebab Kristus yang bangkit adalah sumber hidup, dan dalam Dia, setiap umat dipanggil untuk terus menjadi saksi, hidup dalam iman, teguh dalam harapan, dan setia dalam kasih.

“Dalam Semangat Berbagi: Pengundian Perdana Kupon Kemurahan Hati Umat GMBA”


Penggalangan Dana Pengembangan Kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sukacita Paskah yang masih terasa di tengah umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo kembali diwujudkan dalam semangat kebersamaan dan kepedulian. Melalui program Kupon Kemurahan Hati, umat diajak untuk ambil bagian dalam karya nyata Gereja, khususnya dalam mendukung pengembangan kawasan GMBA.

Pada kesempatan ini, dilaksanakan pengundian periode pertama sebagai bagian dari rangkaian penggalangan dana tersebut. Momen ini bukan sekadar undian, melainkan simbol dari semangat berbagi dan gotong royong yang hidup di tengah umat.

Pengundian dilakukan sebelum berkat penutup Misa Paskah pagi, dalam suasana yang penuh antusias namun tetap tertib dan khidmat. Seluruh umat yang hadir menjadi saksi, menghadirkan transparansi sekaligus kebersamaan dalam proses ini.

Pengambilan undian dilakukan langsung oleh Romo Andrianus Maradiyo, yang memimpin perayaan Ekaristi saat itu. Dengan penuh keterbukaan, kupon diambil di hadapan umat, menandai dimulainya periode pertama dari program ini.

Adapun hadiah utama pada periode pertama ini adalah sebuah TV Android 24 inch, yang secara khusus merupakan sumbangan dari umat. Hal ini menjadi tanda nyata bahwa setiap kontribusi, sekecil apapun, dapat menjadi berkat bagi sesama.

Kegiatan ini bukan semata-mata tentang hadiah, melainkan tentang partisipasi iman. Umat diajak untuk menyadari bahwa Gereja dibangun bukan hanya dari bangunan fisik, tetapi dari hati yang mau memberi, melayani, dan terlibat.

Melalui Kupon Kemurahan Hati, semangat Paskah, semangat memberi diri dan berbagi kasih, terus dihidupi dalam kehidupan nyata. Harapannya, karya pengembangan kawasan GMBA dapat berjalan dengan baik, menjadi ruang yang semakin hidup bagi pertumbuhan iman umat.

Dengan kebersamaan yang terjalin, setiap langkah kecil menjadi bagian dari karya besar. Dan dari hati yang tulus memberi, Gereja terus bertumbuh, bukan hanya dalam wujud bangunan, tetapi juga dalam iman dan kasih umatnya.

“Halleluya! Kristus Telah Bangkit: Sukacita Paskah yang Menghidupkan Iman Umat”


Minggu, 5 April 2026 – Misa Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sukacita itu akhirnya tiba. Setelah melalui perjalanan iman yang mendalam sepanjang Pekan Suci, dari sorak “Hosana”, keheningan salib, hingga malam penuh terang, umat kini bersatu dalam satu seruan kemenangan: Haleluya! Kristus telah bangkit!

Pada Minggu, 5 April 2026, umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo merayakan Misa Paskah dengan penuh sukacita. Perayaan ini dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo selaku Romo Vikep, yang mengajak umat untuk sungguh mengalami makna kebangkitan dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan suasana hari-hari sebelumnya, gereja kini dipenuhi terang, bunga-bunga menghiasi altar, dan nyanyian pujian menggema dengan penuh semangat. Tidak ada lagi keheningan duka, yang ada adalah kehidupan, harapan, dan kemenangan.

Kebangkitan Yesus Kristus bukan sekadar peristiwa yang dikenang, melainkan kenyataan iman yang terus hidup. Dari kubur yang kosong, lahirlah harapan baru: bahwa maut tidak berkuasa, bahwa kasih lebih kuat dari segala penderitaan, dan bahwa kehidupan selalu menemukan jalannya.

Dalam homili dan doa-doa yang dipanjatkan, umat diajak untuk tidak berhenti pada perayaan, tetapi melanjutkan semangat Paskah dalam kehidupan nyata. Menjadi saksi kebangkitan berarti membawa terang di tengah kegelapan, membawa harapan di tengah keputusasaan, dan menghadirkan kasih di tengah dunia yang seringkali terluka.

Misa Paskah ini menjadi penutup dari rangkaian Pekan Suci, namun sekaligus menjadi awal yang baru. Sebab iman tidak berhenti di altar, melainkan dihidupi dalam keseharian.

Perayaan berakhir dalam sukacita yang melimpah, namun pesan Paskah tetap tinggal: bahwa Kristus yang bangkit terus hidup, dan mengundang setiap umat untuk bangkit bersama-Nya, menjadi pribadi yang baru, penuh iman, harapan, dan kasih.

“Terang Kristus Menghalau Kegelapan: Vigili Paskah, Malam Kebangkitan yang Membaharui Iman”


Sabtu, 4 April 2026 – Vigili Paskah
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Malam itu, kegelapan bukan lagi sekadar suasana, ia menjadi simbol. Simbol dari dunia yang menantikan terang, dari hati yang merindukan harapan. Dalam keheningan malam, umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo untuk merayakan Vigili Paskah, puncak dari seluruh rangkaian Pekan Suci.

Perayaan yang dilaksanakan pada Sabtu, 4 April 2026 ini dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, yang mengajak umat memasuki misteri kebangkitan dengan hati yang terbuka dan penuh iman.

Sebelum perayaan dimulai, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menerima kunjungan singkat dari wakil Bupati Sleman, Bapak Danang Maharsa. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan sambutan singkat kepada umat, sebelum kemudian melanjutkan agenda lainnya. Kehadiran ini menjadi bentuk perhatian dan dukungan terhadap kehidupan umat beriman di tengah masyarakat.

Vigili Paskah diawali dalam suasana gelap. Dari luar gereja, cahaya kecil mulai dinyalakan, api baru yang kemudian menyalakan Lilin Paskah. Dari satu nyala, terang itu dibagikan kepada umat. Perlahan, gereja yang tadinya gelap dipenuhi cahaya lilin, menjadi tanda bahwa kegelapan tidak pernah mampu mengalahkan terang.

Dalam nyanyian pujian Exsultet, Gereja bersukacita atas karya keselamatan yang agung. Malam ini bukan malam biasa, ini adalah malam kemenangan, malam ketika maut dikalahkan dan kehidupan dimenangkan oleh Yesus Kristus.

Sukacita itu semakin lengkap dengan pelaksanaan sakramen baptis, di mana 9 orang menerima rahmat pembaptisan. Dalam momen ini, Gereja menyambut anggota baru yang dilahirkan kembali dalam Kristus, sebuah tanda nyata bahwa kehidupan baru terus bertumbuh dalam iman.

Liturgi Sabda mengajak umat menelusuri kembali sejarah keselamatan, dari penciptaan hingga janji keselamatan yang digenapi dalam kebangkitan Kristus. Setiap bacaan menjadi pengingat bahwa Tuhan selalu setia menyertai umat-Nya, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun.

Puncak sukacita semakin terasa ketika Alleluia kembali dikumandangkan, sebuah seruan yang lama “berdiam” selama masa prapaskah, kini bergema dengan penuh kemenangan. Hati umat pun seakan ikut bangkit, dipenuhi harapan baru.

Vigili Paskah bukan hanya perayaan liturgi, tetapi juga perayaan iman. Ia mengajak setiap orang untuk meninggalkan kegelapan lama dan berjalan dalam terang yang baru. Dalam terang Kristus yang bangkit, setiap luka menemukan harapan, setiap kegelapan menemukan arti.

Perayaan malam itu berakhir bukan dengan keheningan, melainkan dengan sukacita yang hidup. Sebab dari malam yang gelap, telah lahir terang yang tak akan pernah padam.

“Dalam Senyap yang Berkarya: Tim Tata Bunga Menyambut Terang Kebangkitan”


Persiapan Vigili Paskah Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Sabtu pagi, 4 april 2026

Menjelang Vigili Paskah, saat Gereja bersiap merayakan malam paling kudus dalam seluruh tahun liturgi, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Tidak tampil di altar, tidak terdengar dalam doa umat, namun kehadirannya begitu nyata, menghadirkan keindahan yang mengantar hati kepada Tuhan.

Mereka adalah tim tata bunga, yang dengan penuh ketekunan dan cinta mempersiapkan dekorasi gereja di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Di tengah kesibukan persiapan, satu per satu bunga ditata dengan cermat. Warna, bentuk, dan penempatan dipilih bukan sekadar untuk keindahan visual, melainkan untuk menghadirkan makna. Bunga-bunga yang semula sederhana, perlahan berubah menjadi rangkaian yang hidup, melambangkan sukacita, harapan, dan kehidupan baru dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Setiap sudut gereja disentuh dengan perhatian. Altar dihias dengan penuh hormat, menjadi pusat perayaan yang memancarkan kemuliaan. Jalan masuk, pilar, hingga area sekitar gereja pun dipersiapkan agar setiap umat yang datang dapat merasakan suasana yang berbeda, suasana yang mengangkat hati dari kegelapan menuju terang.

Dalam keheningan kerja mereka, tersimpan sebuah makna yang dalam: bahwa pelayanan tidak selalu harus terlihat. Ada keindahan dalam ketulusan, ada doa dalam setiap sentuhan, dan ada persembahan dalam setiap detail yang dikerjakan.

Tim tata bunga tidak hanya menata bunga, mereka sedang mempersiapkan ruang bagi perjumpaan. Ruang di mana umat akan merayakan kemenangan hidup atas maut, terang atas kegelapan, dan kasih yang tidak pernah berakhir.

Apa yang mereka lakukan adalah bagian dari liturgi itu sendiri, sebuah pelayanan yang memperindah perayaan, namun lebih dari itu, mengantar hati umat untuk semakin dekat kepada misteri yang dirayakan.

Dan ketika malam Vigili Paskah tiba, saat lilin-lilin dinyalakan dan Alleluia kembali bergema, keindahan yang telah dipersiapkan dalam diam itu pun berbicara—tanpa kata, namun penuh makna.

“Dalam Keheningan Salib: Ibadat Jumat Agung, Saat Kasih Disempurnakan dalam Pengorbanan”


Jumat Agung, 3 April 2026 – Pukul 15.00 WIB
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Jumat Agung selalu datang dengan suasana yang tidak biasa. Ia bukan sekadar hari peringatan, melainkan hari ketika Gereja berhenti sejenak, diam, dan memandang salib, tempat di mana kasih mencapai puncaknya.

Siang itu, sekitar pukul 12.00 WIB, langit masih tampak cerah. Matahari bersinar seperti hari-hari biasa, seolah dunia berjalan tanpa perubahan. Namun perlahan, waktu membawa suasana yang berbeda. Menjelang pukul 15.00 WIB, jam yang dikenang sebagai saat wafatnya Yesus Kristus, langit berubah. Awan mendung mulai menyelimuti, cahaya meredup, dan suasana menjadi lebih hening, seakan seluruh alam turut mengambil bagian dalam misteri agung ini.

Pada pukul 15.00 WIB, umat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung. Dalam keheningan yang khas, tanpa dentang lonceng dan tanpa nyanyian pembuka yang meriah, perayaan dimulai. Semua terasa lebih sederhana, namun justru di situlah letak kedalamannya.

Jumat Agung bukanlah perayaan Ekaristi, melainkan ibadat yang mengajak umat untuk merenungkan sengsara dan wafat Kristus. Pusat perhatian tertuju pada salib, lambang yang dahulu menjadi tanda kehinaan, kini menjadi tanda keselamatan.

Dalam liturgi yang berlangsung, umat diajak untuk mendengarkan Kisah Sengsara, mendoakan intensi dunia, serta memasuki momen penghormatan salib. Satu per satu umat datang mendekat, bukan hanya sebagai ritual, tetapi sebagai ungkapan iman: bahwa dari kayu salib itu, mengalir kasih yang tak terbatas.

Perubahan langit dari terang menjadi gelap seakan menjadi tanda yang menguatkan permenungan hari itu. Seperti alam yang ikut berduka, umat pun diajak untuk menyadari betapa besar pengorbanan yang telah diberikan. Dalam gelapnya langit, justru tersimpan terang harapan, bahwa kasih tidak pernah kalah oleh penderitaan.

Jumat Agung mengajarkan bahwa dalam diam, Tuhan berkarya. Dalam penderitaan, kasih dinyatakan. Dan dalam wafat, kehidupan justru dipulihkan.

Perayaan berakhir dalam suasana hening. Tidak ada penutup yang meriah, hanya keheningan yang dibawa pulang, sebuah undangan untuk terus merenungkan, bahwa dari salib itulah, keselamatan dunia dimulai.

“Tujuh Sabda dari Salib: Hening yang Berbicara, Kasih yang Tersampaikan”


Ibadat 7 Sabda – Jumat Agung Pagi, 3 April 2026
Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Pagi itu, suasana di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Tidak ada kemeriahan, tidak ada sorak puji, yang ada hanyalah keheningan yang dalam. Dalam hening itulah umat berkumpul, membuka hati untuk merenungkan tujuh sabda terakhir dari Yesus Kristus di kayu salib.

Ibadat Tujuh Sabda pada Jumat pagi, 3 April 2026, menjadi momen permenungan yang mengajak umat masuk lebih dalam ke dalam misteri penderitaan dan kasih. Setiap sabda yang diucapkan bukan sekadar kata-kata terakhir, melainkan ungkapan kasih yang paling jujur, lahir dari penderitaan, namun penuh pengampunan dan harapan.

Dari sabda pertama tentang pengampunan, hingga sabda terakhir penyerahan diri kepada Bapa, umat diajak untuk tidak hanya mendengar, tetapi juga merasakan. Dalam setiap jeda, dalam setiap keheningan, seakan Tuhan sendiri berbicara secara pribadi kepada hati yang mau membuka diri.

Ibadat ini tidak berlangsung dengan gegap gempita, melainkan dengan kesederhanaan yang justru menghadirkan kedalaman. Setiap refleksi membawa umat pada satu pertanyaan yang sama: sudahkah kita sungguh memahami kasih yang begitu besar ini?

Di kayu salib, Yesus tidak hanya menanggung penderitaan, tetapi juga menunjukkan arti cinta yang sejati, cinta yang tetap mengampuni di tengah luka, yang tetap berharap di tengah kegelapan, dan yang tetap menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.

Ibadat Tujuh Sabda ini menjadi ruang bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, untuk diam, dan untuk mendengarkan. Sebab dalam keheningan itulah, seringkali Tuhan berbicara paling jelas.

Perayaan mungkin sederhana, namun maknanya begitu mendalam. Dari salib, kasih itu terus mengalir, menyentuh, mengubah, dan mengundang setiap hati untuk kembali.

“Inilah Tubuh-Ku, Inilah Darah-Ku: Perayaan Kamis Putih sebagai Awal Misteri Kasih yang Terserahkan”


Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, Kamis 2 April 2026

Kamis Putih selalu hadir dengan suasana yang hening namun sarat makna. Ia bukan sekadar perayaan, melainkan pintu masuk menuju Misteri Paskah—saat Gereja mengenang kasih yang diwujudkan secara nyata oleh Yesus Kristus dalam Perjamuan Terakhir bersama para murid-Nya.

Pada hari inilah, Yesus menetapkan Ekaristi, menghadirkan diri-Nya dalam rupa roti dan anggur sebagai santapan keselamatan. Bukan hanya itu, Ia juga memberikan teladan kerendahan hati melalui tindakan membasuh kaki para murid, sebuah pesan yang melampaui kata-kata: bahwa kasih sejati selalu siap untuk melayani.

Perayaan Kamis Putih di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) tahun ini dilaksanakan pada pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan selaku Romo Paroki Kalasan. Sebanyak 1.233 umat hadir dan memenuhi gereja dalam suasana yang khidmat, membawa kerinduan untuk ambil bagian dalam perjamuan kasih Tuhan.

Sejak awal perayaan, nuansa liturgi terasa begitu mendalam. Setiap bagian ibadat mengajak umat untuk tidak hanya mengenang, tetapi juga mengalami kembali kasih yang diberikan tanpa syarat. Dalam keheningan doa dan nyanyian, umat diajak masuk dalam peristiwa agung: saat Tuhan menyerahkan diri-Nya sepenuhnya.

Kamis Putih bukan hanya tentang perjamuan, tetapi juga tentang penyerahan diri. Dalam Ekaristi, umat diajak untuk belajar memberi, seperti Kristus yang memberi diri-Nya. Dalam teladan pembasuhan kaki, umat diingatkan bahwa iman yang hidup selalu terwujud dalam pelayanan yang rendah hati.

Usai perayaan Ekaristi, umat tidak langsung beranjak pulang. Malam itu dilanjutkan dengan tuguran, sebuah saat berjaga bersama Tuhan dalam keheningan dan doa. Umat diajak untuk menemani Yesus dalam saat-saat terakhir-Nya sebelum sengsara, menghadirkan diri dalam kesetiaan yang sederhana namun mendalam.

Tuguran dilaksanakan secara bergiliran oleh wilayah-wilayah, dimulai dari Wilayah Sang Timur, dilanjutkan oleh Wilayah Don Bosco, kemudian Wilayah Ignatius Loyola, dan ditutup oleh Wilayah De Britto. Dalam suasana yang hening dan penuh doa, setiap wilayah mengambil bagian dalam menjaga keheningan malam, seolah menjadi murid-murid yang setia berjaga bersama Sang Guru.

Perayaan ini menjadi awal dari perjalanan iman yang lebih dalam, menuju Jumat Agung dan akhirnya Paskah. Sebuah perjalanan dari kasih yang diberikan, menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju kemenangan kehidupan.

Gema kasih itu tidak berhenti di dalam gereja. Ia diharapkan hidup dalam setiap tindakan, dalam setiap pelayanan, dan dalam setiap hati umat yang telah mengambil bagian dalam perjamuan suci ini.

“Perayaan Minggu Palma: Gerbang Suci Memasuki Misteri Sengsara Tuhan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo”


Minggu, 29 Maret 2026

Minggu Palma selalu punya nuansa yang berbeda. Ada sukacita, ada harapan, tapi juga mulai terasa bayang-bayang penderitaan. Hari ini, Gereja mengenang peristiwa saat Yesus Kristus memasuki Kota Yerusalem dan disambut meriah oleh orang banyak dengan lambaian daun palma—tanda kemenangan, namun juga awal dari jalan salib-Nya.

Perayaan Minggu Palma di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo tahun ini dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo. sekitar 1041 Umat mulai berkumpul sejak pagi hari di halaman belakang gereja, membawa daun palma di tangan—sederhana, namun penuh makna.

Perayaan diawali dengan upacara pemberkatan daun palma. Dalam suasana yang khidmat, daun-daun palma diberkati sebagai simbol kesediaan umat untuk menyambut Kristus dalam hidup mereka—bukan hanya dalam sorak sorai, tetapi juga dalam kesetiaan.

Setelah itu, dimulailah perarakan menuju gereja. Barisan berjalan dengan tertib: diawali oleh putra-putri altar, diikuti para prodiakon, dan kemudian romo sebagai gembala umat. Langkah demi langkah perarakan ini seakan mengajak setiap orang untuk ikut masuk dalam kisah iman—bukan sekadar mengenang, tetapi mengalami.

Perayaan Ekaristi pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan. Namun puncak refleksi hari ini hadir dalam pembacaan Kisah Sengsara (Pasio). Kisah ini dibawakan dengan penghayatan oleh Mas Satria, Mbak Bunga, Mas Aremba, dan Mas Cristian. Suasana gereja menjadi hening, seolah setiap kata yang diucapkan mengajak umat untuk berhenti sejenak, merenung, dan melihat kembali makna pengorbanan.

Minggu Palma bukan sekadar awal dari Pekan Suci. Ia adalah undangan—untuk berjalan bersama, dari sorak sorai menuju salib, dari kegembiraan menuju pengorbanan, dan pada akhirnya menuju harapan akan kebangkitan.