Pesta Umat GMBA 2026: Merayakan Syukur, Meneguhkan Kebersamaan, Mewariskan Iman


Suasana sukacita dan rasa syukur memenuhi halaman belakang Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo pada Minggu, 14 Juni 2026. Setelah perayaan Ekaristi, umat Paroki Administratif Maguwo berkumpul dalam Pesta Umat sebagai puncak rangkaian peringatan hari ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Perayaan ini menjadi penutup dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari ziarah ke makam para leluhur pendiri gereja, kenduren bersama warga sekitar gereja sebagai wujud persaudaraan dan kebersamaan, hingga pelantikan Dewan Pastoral Paroki Administratif Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan Gereja serta komitmen umat untuk terus melanjutkan karya pelayanan di masa mendatang.

Pesta Umat diawali dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Timur. Tumpeng yang telah dipotong kemudian diserahkan kepada Bapak Agung selaku Wakil Ketua II Dewan Pastoral Paroki Administratif Maguwo. Selanjutnya, tumpeng tersebut diteruskan kepada pengurus Remaja Bunda Maria (RBM) sebagai perwakilan generasi muda. Prosesi ini menjadi simbol yang sarat makna, menggambarkan kesinambungan pelayanan dan regenerasi dalam kehidupan Gereja, di mana warisan iman dan semangat pelayanan terus diteruskan kepada generasi penerus.

Semangat kebersamaan juga tampak melalui keterlibatan seluruh lingkungan di Paroki Administratif Maguwo. Dengan penuh semangat dan gotong royong, setiap lingkungan berpartisipasi dalam menyediakan hidangan soto dan bakso yang dinikmati bersama oleh seluruh umat. Makan bersama menjadi lambang persaudaraan yang mempererat ikatan sebagai satu keluarga besar umat Allah.

Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan yang menghibur sekaligus mempererat kebersamaan umat. Drumband dari TK Indriyasana Maguwo membuka kemeriahan dengan penampilan yang penuh semangat. Tim Senam GMBA menampilkan line dance yang enerjik, disusul penampilan line dance dari Lingkungan Santa Elisabet. Umat juga dihibur dengan penampilan solo keyboard dari Lauda, yang menambah semarak suasana.

Puncak kemeriahan terjadi ketika seluruh umat diajak bergabung dalam flashmob bersama yang dimotori oleh ibu-ibu Tim Senam GMBA. Dengan penuh sukacita, umat dari berbagai usia larut dalam gerakan dan kegembiraan yang mencerminkan semangat persaudaraan serta kebersamaan yang hidup di tengah komunitas Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Di sela-sela acara, panitia juga membagikan berbagai doorprize yang semakin menambah antusiasme dan keceriaan umat. Sorak sorai dan tawa kebahagiaan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan, menjadikan pesta umat sebagai momen yang tidak hanya meriah, tetapi juga mempererat rasa memiliki terhadap Gereja dan komunitas paroki.

Melalui perayaan ini, umat Santa Maria Bunda Allah Maguwo diajak untuk senantiasa bersyukur atas penyertaan Tuhan yang telah membimbing perjalanan Gereja hingga saat ini. Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan regenerasi yang terwujud dalam perayaan ini terus tumbuh dan menjadi kekuatan bagi Paroki Administratif Maguwo dalam melaksanakan perutusannya di tengah Gereja dan masyarakat.

Koor Lingkungan St. Elisabeth : Persembahan Terbaik bagi Tuhan

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita.” (Mazmur 100:2)

Dalam persiapan tugas koor misa tanggal 31 Mei 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth melakukan persiapan atau latihan bersama berkali kali demi kelancaran tugas koor. Latihan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dan panti koor Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Dalam kehidupan menggereja, koor atau paduan suara memiliki peranan penting dalam membantu umat menghayati perayaan liturgi. Melalui nyanyian, umat diajak untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, latihan koor yang dilakukan oleh umat lingkungan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pelayanan dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum bertugas dalam perayaan Ekaristi atau ibadah lainnya. Setiap anggota koor meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempelajari lagu-lagu liturgi, menyelaraskan suara, memahami makna lagu, serta membangun kekompakan dalam pelayanan. Semua usaha tersebut dilakukan demi menghadirkan nyanyian yang indah dan membantu umat berdoa dengan lebih baik.

Dalam suasana kebersamaan, para anggota belajar saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, dan bekerja sama mencapai tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan. Semangat persaudaraan ini mencerminkan kehidupan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Latihan yang dilakukan secara rutin juga menunjukkan kesungguhan umat dalam melayani. Mereka menyadari bahwa pelayanan liturgi bukanlah tentang menampilkan kemampuan pribadi, melainkan tentang mempersembahkan talenta yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, setiap anggota koor berusaha memberikan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Melalui latihan yang tekun, nyanyian yang dibawakan saat perayaan menjadi lebih harmonis dan penuh penghayatan. Keharmonisan suara yang tercipta bukan hanya menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menjadi sarana pewartaan iman yang menggerakkan hati umat. Nyanyian yang dipersiapkan dengan baik dapat membantu umat merasakan kehadiran Tuhan dan semakin terlibat dalam perayaan liturgi.

Oleh karena itu, latihan koor lingkungan hendaknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman dan pelayanan. Setiap nada yang dilatih, setiap waktu yang dikorbankan, dan setiap usaha yang dilakukan merupakan persembahan yang berharga di hadapan Tuhan. Dengan semangat pelayanan yang tulus, umat lingkungan dapat terus menghadirkan pujian yang indah sebagai persembahan terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Latihan koor bukan hanya tentang belajar bernyanyi, tetapi tentang mempersiapkan hati untuk melayani. Melalui kebersamaan, disiplin, dan ketekunan dalam berlatih, umat lingkungan menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan. Semoga setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa yang hidup dan membawa semakin banyak orang untuk memuliakan Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sembahyangan Rutin, BKL, Doa Rosario, dan Latihan Koor St. Elisabeth

Tanggal 28 Mei 2026, Lingkungan St. Elisabeth kembali berkumpul untuk mengikuti Sembahyangan Rutin, Pembacaan buku BKL, lalu Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Deddy, kemudian dilanjutkan dengan Latihan Koor untuk mengisi tugas koor pada misa hari Minggu, tanggal 31 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Sembahyangan yang dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dengan 23 umat yang hadir berlangsung dengan khidmat, namun tetap guyub.

Perayaan Ulang Tahun ke-31 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – Tema : Guyub dalam Kasih & Bertumbuh Dalam Iman

Perayaan Ulang Tahun ke-31 Lingkungan St. Gregorius
Guyub dalam Kasih dan Bertumbuh dalam Iman

Tanggal 25 Mei 2026 menjadi momen istimewa bagi seluruh umat Lingkungan St. Gregorius, karena pada hari tersebut lingkungan tercinta genap berusia 31 tahun. Sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama perjalanan iman dan pelayanan yang telah dilalui, umat Lingkungan St. Gregorius mengadakan perayaan syukur bersama pada tanggal 30 Mei 2026 di rumah Bapak Gambit.

Mengusung tema “Guyub dalam Kasih dan Bertumbuh dalam Iman”, perayaan berlangsung dalam suasana hangat, penuh sukacita, dan semangat persaudaraan. Sejak sore hari, umat bergotong royong mempersiapkan segala kebutuhan acara. Kebersamaan dan semangat melayani tampak dalam setiap tugas yang dikerjakan bersama.

Acara diawali dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Tri Mulyono selaku prodiakon. Melalui doa, pujian, dan sabda Tuhan, seluruh umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius serta bersyukur atas kasih dan penyertaan Tuhan yang selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan umat.

Setelah ibadat, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas 31 tahun perjalanan lingkungan. Momen ini menjadi pengingat akan banyaknya berkat, pengalaman iman, dan kebersamaan yang telah terjalin dari generasi ke generasi.

Suasana semakin meriah dengan kegiatan kebersamaan berupa permainan tebak lirik lagu rohani yang diikuti oleh anak-anak, kaum muda, orang tua, hingga para lansia. Gelak tawa, nyanyian, dan semangat kebersamaan memenuhi seluruh rangkaian acara.

Umat juga mengikuti estafet doa, secara bergantian menyampaikan doa dan harapan bagi Lingkungan St. Gregorius, keluarga-keluarga yang ada di dalamnya, serta bagi Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang pada tanggal 2 Juni 2026 memasuki babak baru sebagai Paroki Administratif.

Perayaan ditutup dengan makan bersama menggunakan konsep potluck, di mana setiap keluarga membawa hidangan untuk dinikmati bersama. Kehangatan percakapan, kebersamaan dalam berbagi, dan sukacita yang terpancar dari setiap umat menjadi gambaran nyata semangat guyub yang terus hidup dalam Lingkungan St. Gregorius.

Melalui perayaan ulang tahun ke-31 ini, seluruh umat diajak untuk terus mempererat persaudaraan, memperdalam iman, serta semakin aktif mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dan pelayanan kepada sesama.

Selamat Ulang Tahun ke-31 Lingkungan St. Gregorius. Semoga senantiasa guyub dalam kasih, bertumbuh dalam iman, dan menjadi berkat bagi Gereja serta masyarakat.

Sembahyangan Rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor Lingkungan St. Elisabeth

Pada 21 Mei 2026, pukul 19.00, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan sembahyangan rutin kamisan, Doa Rosario, Perkumpulan Paguyuban Ibu-Ibu, kemudian dilanjutkan dengan latihan koor. Kegiatan malam ini diikuti oleh 31 orang umat.

Pertemuan diawali dengan pembacaan buku BKL untuk hari ke 21 dan 22. BKL dipimpin oleh Mas Heru. Kemudian dilanjutkan dengan Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Suradi. Lalu lanjut dengan Pertemuan Ibu-Ibu yang diisi dengan pembacaan laporan keuangan, pengumuman, arisan, dan lotre. Selanjutnya pertemuan malam ini ditutup dengan Latihan Koor untuk tugas misa minggu terakhir bulan Mei yang dipimpin oleh Bu Padmi dan Bu Vera. Seperti biasa, semua berlangsung dengan meriah, dan lancar.

Instagram:

Sembayangan rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor….
https://www.instagram.com/reel/DYr7ZU2PMNm/?igsh=dzF1cmxmeXVxazZu

Usia Boleh Bertambah, Semangat Jangan Berkurang

Seminar kesehatan lansia oleh bidang Guyub Rukun (bersama timpel PIUL) pada Minggu pagi, 10 Mei 2026, semakin memperdalam pengetahuan para lansia agar tetap dalam kondisi prima meski usia semakin senja.

Aktifitas harian menjadi salah satu kunci kebahagiaan bagi lansia karenanya, kesehatan perlu dijaga agar tetap bisa aktif berkegiatan.

Menurut pemaparan dr. GM Silvia Utomo, MSc, SpMK, FISQua. Semakin menua, tubuh manusia akan mengalami perubahan secara fisik dan fungsi sensorik seperti kulit yang menipis dan keriput, rambut yang memutih, kemampuan penglihatan yang menurun, pendengaran menjadi kurang sensitif atau bahkan menjadi terlalu sensitif sehingga mudah merasa berisik.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan seperti mengurangi konsumsi garam atau natrium karena dapat mengikat cairan sehingga volume darah pada pembuluh ikut meningkat, hal ini dapat menyebabkan hipertensi.

Rutin berjalan kaki juga dapat memperlancar peredaran darah karena ketika berjalan, otot pada betis membantu memompa pembuluh sehingga peredaran darah semakin lancar.

Otot paru-paru pada usia lanjut juga akan melemah. Terkait hal itu ada penelitian bahwa kekuatan genggaman dapat mendukung kekuatan otot dada yang membantu pernafasan karenanya melatih genggaman bagi lansia sangat bermanfaat. Selain itu, menghindari polusi juga sangat membantu kesehatan pernafasan karenanya hindari membakar sampah. Sampah daun sebaiknya dijadikan kompos dan sampah plastik sebaiknya didaur ulang.

Pencernaan pada usia lanjut juga mengalami penurunan, mulai dari nafsu makan yang menurun dan kemampuan mengunyah yang berkurang. Turunnya nafsu makan biasanya karena semakin menua lidah manusia akan semakin menipis sehingga sensor perasa akan lebih terbuka, hal ini dapat menyebabkan dua hal antara menjadi lebih sensitif sehingga mudah merasa keasinan pada saat makan atau menjadi kurang sensitif sehingga sering merasa hambar saat makan.

IKHLAS adalah kunci menghadapi penuaan. IKHLAS terdiri dari Input atau asupan makanan, Kualitas tidur yang baik, Hidrasi untuk menjaga cairan tubuh, Latih otak dan otot, Aerasi atau pernafasan mendalam untuk asupan oksigen dan menenangkan pikiran, dan yang terakhir adalah Senyum untuk menghindari stress.

Akhir kata, semua orang akan menua. Namun, perlu upaya untuk menjadi tua dengan sehat dan bahagia.

Pertemuan Lingkungan Antonius hari Kamis, 7 Mei 2026

Pertemuan Lingkungan Antonius hari Kamis, 7 Mei 2026 pukul 19.15 wib di rumah bapak Larno dipimpin oleh bapak Arief, dihadiri kurang lebih 23 umat.
Pertemuan diawali dengan doa pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan dan pembahasan materi Bulan Katekese Liturgi hari ke 1-7 dilanjutkan doa rosario, doa umat dan doa penutup.


Ada 2 pertanyaan dalam pembahasan materi BKL dan dijawab masing-masing oleh 1 orang umat.
1.⁠ ⁠Apa pengalaman atau perasaan yg muncul ketika kita mengikuti ekaristi?
Mas Satria : saat kuliah dari semester 4 setiap pagi ikut perayaan ekaristi, hal ini menimbulkan perasaan “gela” ketika tidak bisa ikut ekaristi hari Minggu karena terbiasa. Setelah mengikuti ekaristi perasaan menjadi lebih rileks, bahagia dan bisa menjadi berkat bagi orang lain. Istilahnya seminggu sekali kita ngecharge iman kita.


2.⁠ ⁠Bagaimana saya membawa semangat ekaristi dalam kehidupan sehari-hari?
Bu Murdiyana : selalu merindukan ekaristi terutama misa harian. Dalam kehidupan sehari-hari memupuk iman dengan berdoa dan bersyukur dalam semua kondisi.

Jumat Bersih Ala Wilayah Loyola: Lingkungan Santa Elisabeth Turut Guyub Merawat Gereja, Hangat Mempererat Persaudaraan

Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan terasa begitu hangat dalam kegiatan Jumat Bersih yang diselenggarakan Wilayah Ignatius Loyola pada Jumat, 8 Mei 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perwakilan umat dari 5 lingkungan di Wilayah Ignatius Loyola hadir dan bergotong royong menciptakan suasana Gereja yang bersih, nyaman, dan asri untuk seluruh umat.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Lingkungan Santa Clara, Santo Fransiskus Asisi, Santo Gabriel, Santo Yohanes Pembaptis, serta Santa Elisabeth. Kehadiran para umat semakin menambah semarak suasana guyub yang menjadi ciri khas kebersamaan Wilayah Ignatius Loyola. Dari Lingkungan Santa Elisabeth, hadir Pak Dedy, Pak Gusadi, Pak Suradi, Mbak Dita, Mas Heru, dan Mbak Vera yang dengan penuh semangat turut ambil bagian dalam kerja bakti tersebut.

Sejak kegiatan dimulai, setiap umat langsung mengambil peran masing-masing. Ada yang menyapu halaman, mengelap area dalam Gereja, membersihkan sudut-sudut ruangan, hingga merapikan lingkungan sekitar Gereja. Semua dilakukan dengan sukacita, mencerminkan semangat pelayanan, dan kebersamaan yang hidup di tengah umat.

Tidak hanya berfokus pada kebersihan, kegiatan Jumat Bersih kali ini juga diwarnai aksi peduli lingkungan. Dipimpin Ketua Wilayah, Mas Bono, beberapa bapak dan kaum muda berinisiatif mengolah sampah daun menjadi kompos. Daun-daun kering dikumpulkan lalu dicacah menggunakan mesin sebagai langkah awal pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian umat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus pemanfaatan sampah organik secara bijak dan bermanfaat.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, suasana keakraban semakin terasa saat umat berkumpul menikmati hidangan ringan bersama di halaman belakang Gereja. Canda dan obrolan hangat mengiringi santapan sederhana seperti combro, kletikan, tahu krispi, dan donat yang menambah erat rasa persaudaraan antarumat.

Melalui kegiatan Jumat Bersih ini, Wilayah Ignatius Loyola tidak hanya membersihkan lingkungan gereja, tetapi juga menumbuhkan semangat guyub, pelayanan, dan kepedulian bersama. Semoga kebersamaan yang terjalin semakin mempererat rasa gayeng dan akrab dalam kehidupan menggereja sehari-hari.

Berdoa Rosario Menjadi Pengalaman Iman yang Menyejukkan

Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.

Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.

Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.

Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.

Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth: Kerendahan Hati untuk Melayani

Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.

Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.