Lingkungan St. Antonius Padua Melaksanakan Tugas Koor pada Perayaan Ekaristi Minggu

Lingkungan St. Antonius Padua mendapat kesempatan melaksanakan tugas koor pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, 5 Juli 2026. Berkat persiapan yang dilakukan melalui kurang lebih lima kali latihan bersama, seluruh rangkaian tugas koor dapat terlaksana dengan baik dan lancar.

Koor didukung oleh sekitar 25 orang umat Lingkungan St. Antonius Padua yang dengan penuh semangat mempersembahkan pelayanan melalui nyanyian liturgi. Kehadiran para anggota koor menjadi wujud kebersamaan dan semangat melayani dalam kehidupan menggereja.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Andrianus Maradiyo, Pr. Pada misa tersebut juga dilaksanakan pembaptisan bayi serta ritus percikan air suci yang menjadi ciri khas Perayaan Ekaristi pada Minggu pertama setiap bulan. Suasana liturgi berlangsung dengan khidmat, penuh sukacita, dan dihayati oleh seluruh umat yang hadir.

Semoga pelayanan yang telah diberikan semakin menumbuhkan semangat kebersamaan, mempererat persaudaraan antarumat, serta mendorong seluruh anggota Lingkungan St. Antonius Padua untuk terus ambil bagian dalam berbagai pelayanan di Gereja demi kemuliaan Tuhan.

Karya Seni Yang Menjadi Ungkapan Iman

Selamat datang di halaman karya seni Lelang Amal Paroki Administratif Maguwo.

Setiap karya yang dipamerkan di sini lahir dari perpaduan talenta, ketekunan, dan iman. Di balik setiap sapuan warna maupun setiap helai benang yang tersulam, tersimpan sebuah kisah, doa, dan permenungan yang mengajak kita semakin dekat kepada Tuhan.

Panitia Pengembangan dan Penataan Kawasan GMBA mengundang Anda untuk mengenal makna di balik setiap karya, menghayati pesan rohani yang ingin disampaikan, dan bila berkenan, mengambil bagian dalam lelang amal ini. Setiap penawaran yang Anda berikan bukan hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga ungkapan kasih yang turut mendukung penataan kawasan Gereja sebagai rumah bersama bagi umat Allah.

Semoga setiap karya yang Anda nikmati hari ini menghadirkan inspirasi, kedamaian, dan semakin menumbuhkan iman dalam perjalanan hidup kita.

Keheningan dalam Dekapan Kasih Bunda

  • Karya: Johannes de Britto (Bang Joe)
  • Medium: Lukisan kopi di atas kanvas
  • Ukuran: 58 × 79 cm
  • Harga Pembuka Lelang (OB): Rp25.000.000

Tidak banyak medium yang mampu menghadirkan kehangatan sekaligus kesederhanaan seperti kopi. Melalui sapuan gradasi warna cokelat monokromatik, Bang Joe menghadirkan sosok Bunda Maria yang teduh, penuh damai, dan larut dalam penyerahan diri kepada Allah.

Mata yang terpejam, raut wajah yang lembut, serta lingkaran cahaya di belakang kepala menghadirkan suasana kontemplatif yang mengajak setiap orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di hadapan karya ini, kita diajak memasuki keheningan doa bersama Bunda Maria, keheningan yang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam hati.

Keunikan karya ini terletak pada mediumnya. Ampas kopi, sesuatu yang sering dianggap sebagai sisa dan tidak lagi bernilai, justru diolah menjadi sebuah karya yang memancarkan keindahan. Hal ini menjadi lambang bahwa Tuhan mampu mengubah hal-hal yang sederhana menjadi sarana kemuliaan-Nya. Seperti hidup manusia, yang mungkin penuh kekurangan, namun di tangan Tuhan dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.

Tekstur lembut pada jubah Bunda Maria menyerupai gumpalan awan yang menaungi. Ia mengingatkan kita akan kasih seorang ibu yang selalu melindungi, menguatkan, dan menghadirkan ketenangan bagi anak-anaknya di tengah berbagai pergumulan hidup.

Melalui lelang amal ini, karya ini tidak hanya menjadi sebuah koleksi seni, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan iman umat. Setiap penawaran yang diberikan merupakan ungkapan syukur dan dukungan nyata bagi penataan dan pengembangan kawasan Gereja, agar semakin banyak orang dapat menemukan rumah untuk berdoa, bertumbuh, dan mengalami kasih Tuhan.

Semoga siapa pun yang kelak memiliki karya ini senantiasa menemukan kedamaian, pengharapan, dan penghiburan setiap kali memandang wajah Bunda Maria yang penuh kasih.

Jesus of Nazareth

  • Karya: Annie Maria
  • Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
  • Ukuran: 54 × 78 cm
  • Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000

Karya sulaman kristik ini merupakan buah ketekunan, kesabaran, dan doa yang diwujudkan melalui ribuan persilangan benang. Sedikit demi sedikit, setiap tusukan benang membentuk wajah Yesus dari Nazaret yang mengenakan mahkota duri, sebuah gambaran akan kasih yang rela berkorban demi keselamatan umat manusia.

Tatapan Yesus yang mengarah ke atas menghadirkan kesan kepasrahan yang sempurna kepada kehendak Bapa. Di balik latar gelap yang melambangkan beratnya dosa dunia, cahaya pada wajah-Nya tetap memancarkan harapan, belas kasih, dan kemenangan kasih Allah atas penderitaan.

Teknik kristik sendiri memiliki makna rohani yang mendalam. Setiap persilangan benang adalah tindakan kecil yang dilakukan berulang kali dengan penuh kesetiaan. Seperti perjalanan iman, keindahan tidak lahir dalam sekejap, melainkan melalui kesabaran, ketekunan, dan kesediaan untuk terus melangkah, meskipun perlahan.

Perpaduan warna merah pada jubah Kristus dengan gradasi benang yang halus memberi kehidupan pada karya ini, menghadirkan sosok Sang Penebus yang tetap memandang umat-Nya dengan penuh cinta.

Melalui lelang amal ini, setiap penawaran bukan hanya bentuk penghargaan terhadap sebuah karya seni, tetapi juga menjadi persembahan kasih yang mendukung penataan dan pengembangan kawasan Gereja sebagai tempat umat berhimpun, beribadah, dan bertumbuh dalam iman.

Kiranya karya ini menjadi pengingat bahwa kasih Kristus selalu menyertai setiap langkah kehidupan.

Bunda Maria Penolong Senantiasa (Our Lady of Perpetual Help)

  • Karya: Annie Maria
  • Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
  • Ukuran: 51 × 82 cm
  • Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000

Dalam tradisi Gereja, Bunda Maria dikenal sebagai Penolong Senantiasa, ibu yang tidak pernah berhenti mendampingi dan mendoakan anak-anaknya. Melalui ribuan persilangan benang yang disusun dengan penuh ketelitian, Annie Maria menghadirkan sosok Bunda Maria dalam sikap doa yang tenang dan penuh pengharapan.

Perpaduan warna biru kehijauan pada jubah melambangkan kemanusiaan, sementara nuansa keemasan menggambarkan rahmat Allah yang menaungi hidupnya. Lingkaran cahaya di belakang kepala menegaskan panggilannya sebagai Bunda Sang Juruselamat, sedangkan kedua tangan yang terkatup mengajak setiap orang untuk percaya akan kuasa doa dan penyertaan Tuhan.

Karya ini berpusat pada semangat Fiat kesediaan Bunda Maria untuk menjawab, “Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Ketaatan yang lahir dari iman itulah yang menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam menghadapi suka maupun duka kehidupan.

Setiap helai benang yang disulam dengan sabar menjadi lambang doa-doa kecil yang dipersembahkan hari demi hari. Mungkin tidak selalu terlihat, namun pada akhirnya membentuk sebuah kesaksian iman yang utuh dan indah.

Dengan mengikuti lelang amal ini, Anda tidak hanya membawa pulang sebuah karya seni bernilai tinggi, tetapi juga turut mengambil bagian dalam penataan dan pengembangan kawasan Gereja, tempat di mana iman terus dipelihara dan harapan terus dihidupkan.

Semoga kehadiran karya ini senantiasa mengingatkan setiap keluarga akan kasih keibuan Bunda Maria yang selalu menyertai, menghibur, dan membawa setiap doa kepada Putra-Nya.

Remaja St. Gabriel Ambil Bagian dalam Pelayanan Misa Minggu

Pada Minggu, 21 Juni, Lingkungan St. Gabriel mendapat tugas pelayanan counter dan jaga teks pada Misa Minggu di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Pelayanan ini dikoordinasikan oleh Bapak Candra, dengan melibatkan para remaja lingkungan sebagai bentuk pembinaan dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja.

Remaja yang bertugas adalah Aurel, Qaaley, Santa, Darius, dan Natra. Sejak pukul 06.00 WIB, seluruh petugas telah hadir dan bersiap di pos masing-masing. Mereka ditempatkan di bagian depan, belakang, serta lorong gereja untuk menghitung jumlah umat yang hadir menggunakan alat counter, sekaligus membantu menjaga teks misa.

Puji Tuhan, seluruh rangkaian tugas dapat dilaksanakan dengan baik, tertib, dan lancar. Semangat, tanggung jawab, serta kekompakan yang ditunjukkan oleh para remaja menjadi bukti bahwa generasi muda memiliki peran penting dalam pelayanan Gereja.

Semoga keterlibatan ini semakin menumbuhkan semangat melayani, mempererat kebersamaan, serta menjadi inspirasi bagi remaja lainnya untuk terus aktif ambil bagian dalam kehidupan menggereja.

“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya.” (1 Timotius 4:12) 🙏🏻✨

Tiktok https://vt.tiktok.com/ZSC1VmY3G/

Instagramhttps://www.instagram.com/reel/DZ2QoB0TGYJ/?igsh=NHp0bDFtdmRrdHZo

Pesta Umat GMBA 2026: Merayakan Syukur, Meneguhkan Kebersamaan, Mewariskan Iman


Suasana sukacita dan rasa syukur memenuhi halaman belakang Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo pada Minggu, 14 Juni 2026. Setelah perayaan Ekaristi, umat Paroki Administratif Maguwo berkumpul dalam Pesta Umat sebagai puncak rangkaian peringatan hari ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Perayaan ini menjadi penutup dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari ziarah ke makam para leluhur pendiri gereja, kenduren bersama warga sekitar gereja sebagai wujud persaudaraan dan kebersamaan, hingga pelantikan Dewan Pastoral Paroki Administratif Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan Gereja serta komitmen umat untuk terus melanjutkan karya pelayanan di masa mendatang.

Pesta Umat diawali dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Timur. Tumpeng yang telah dipotong kemudian diserahkan kepada Bapak Agung selaku Wakil Ketua II Dewan Pastoral Paroki Administratif Maguwo. Selanjutnya, tumpeng tersebut diteruskan kepada pengurus Remaja Bunda Maria (RBM) sebagai perwakilan generasi muda. Prosesi ini menjadi simbol yang sarat makna, menggambarkan kesinambungan pelayanan dan regenerasi dalam kehidupan Gereja, di mana warisan iman dan semangat pelayanan terus diteruskan kepada generasi penerus.

Semangat kebersamaan juga tampak melalui keterlibatan seluruh lingkungan di Paroki Administratif Maguwo. Dengan penuh semangat dan gotong royong, setiap lingkungan berpartisipasi dalam menyediakan hidangan soto dan bakso yang dinikmati bersama oleh seluruh umat. Makan bersama menjadi lambang persaudaraan yang mempererat ikatan sebagai satu keluarga besar umat Allah.

Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan yang menghibur sekaligus mempererat kebersamaan umat. Drumband dari TK Indriyasana Maguwo membuka kemeriahan dengan penampilan yang penuh semangat. Tim Senam GMBA menampilkan line dance yang enerjik, disusul penampilan line dance dari Lingkungan Santa Elisabet. Umat juga dihibur dengan penampilan solo keyboard dari Lauda, yang menambah semarak suasana.

Puncak kemeriahan terjadi ketika seluruh umat diajak bergabung dalam flashmob bersama yang dimotori oleh ibu-ibu Tim Senam GMBA. Dengan penuh sukacita, umat dari berbagai usia larut dalam gerakan dan kegembiraan yang mencerminkan semangat persaudaraan serta kebersamaan yang hidup di tengah komunitas Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Di sela-sela acara, panitia juga membagikan berbagai doorprize yang semakin menambah antusiasme dan keceriaan umat. Sorak sorai dan tawa kebahagiaan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan, menjadikan pesta umat sebagai momen yang tidak hanya meriah, tetapi juga mempererat rasa memiliki terhadap Gereja dan komunitas paroki.

Melalui perayaan ini, umat Santa Maria Bunda Allah Maguwo diajak untuk senantiasa bersyukur atas penyertaan Tuhan yang telah membimbing perjalanan Gereja hingga saat ini. Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan regenerasi yang terwujud dalam perayaan ini terus tumbuh dan menjadi kekuatan bagi Paroki Administratif Maguwo dalam melaksanakan perutusannya di tengah Gereja dan masyarakat.

Koor Lingkungan St. Elisabeth : Persembahan Terbaik bagi Tuhan

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita.” (Mazmur 100:2)

Dalam persiapan tugas koor misa tanggal 31 Mei 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth melakukan persiapan atau latihan bersama berkali kali demi kelancaran tugas koor. Latihan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dan panti koor Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Dalam kehidupan menggereja, koor atau paduan suara memiliki peranan penting dalam membantu umat menghayati perayaan liturgi. Melalui nyanyian, umat diajak untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, latihan koor yang dilakukan oleh umat lingkungan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pelayanan dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum bertugas dalam perayaan Ekaristi atau ibadah lainnya. Setiap anggota koor meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempelajari lagu-lagu liturgi, menyelaraskan suara, memahami makna lagu, serta membangun kekompakan dalam pelayanan. Semua usaha tersebut dilakukan demi menghadirkan nyanyian yang indah dan membantu umat berdoa dengan lebih baik.

Dalam suasana kebersamaan, para anggota belajar saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, dan bekerja sama mencapai tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan. Semangat persaudaraan ini mencerminkan kehidupan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Latihan yang dilakukan secara rutin juga menunjukkan kesungguhan umat dalam melayani. Mereka menyadari bahwa pelayanan liturgi bukanlah tentang menampilkan kemampuan pribadi, melainkan tentang mempersembahkan talenta yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, setiap anggota koor berusaha memberikan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Melalui latihan yang tekun, nyanyian yang dibawakan saat perayaan menjadi lebih harmonis dan penuh penghayatan. Keharmonisan suara yang tercipta bukan hanya menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menjadi sarana pewartaan iman yang menggerakkan hati umat. Nyanyian yang dipersiapkan dengan baik dapat membantu umat merasakan kehadiran Tuhan dan semakin terlibat dalam perayaan liturgi.

Oleh karena itu, latihan koor lingkungan hendaknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman dan pelayanan. Setiap nada yang dilatih, setiap waktu yang dikorbankan, dan setiap usaha yang dilakukan merupakan persembahan yang berharga di hadapan Tuhan. Dengan semangat pelayanan yang tulus, umat lingkungan dapat terus menghadirkan pujian yang indah sebagai persembahan terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Latihan koor bukan hanya tentang belajar bernyanyi, tetapi tentang mempersiapkan hati untuk melayani. Melalui kebersamaan, disiplin, dan ketekunan dalam berlatih, umat lingkungan menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan. Semoga setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa yang hidup dan membawa semakin banyak orang untuk memuliakan Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sembahyangan Rutin, BKL, Doa Rosario, dan Latihan Koor St. Elisabeth

Tanggal 28 Mei 2026, Lingkungan St. Elisabeth kembali berkumpul untuk mengikuti Sembahyangan Rutin, Pembacaan buku BKL, lalu Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Deddy, kemudian dilanjutkan dengan Latihan Koor untuk mengisi tugas koor pada misa hari Minggu, tanggal 31 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Sembahyangan yang dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dengan 23 umat yang hadir berlangsung dengan khidmat, namun tetap guyub.

Perayaan Ulang Tahun ke-31 Lingkungan St. Gregorius Kadisoka – Tema : Guyub dalam Kasih & Bertumbuh Dalam Iman

Perayaan Ulang Tahun ke-31 Lingkungan St. Gregorius
Guyub dalam Kasih dan Bertumbuh dalam Iman

Tanggal 25 Mei 2026 menjadi momen istimewa bagi seluruh umat Lingkungan St. Gregorius, karena pada hari tersebut lingkungan tercinta genap berusia 31 tahun. Sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama perjalanan iman dan pelayanan yang telah dilalui, umat Lingkungan St. Gregorius mengadakan perayaan syukur bersama pada tanggal 30 Mei 2026 di rumah Bapak Gambit.

Mengusung tema “Guyub dalam Kasih dan Bertumbuh dalam Iman”, perayaan berlangsung dalam suasana hangat, penuh sukacita, dan semangat persaudaraan. Sejak sore hari, umat bergotong royong mempersiapkan segala kebutuhan acara. Kebersamaan dan semangat melayani tampak dalam setiap tugas yang dikerjakan bersama.

Acara diawali dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Tri Mulyono selaku prodiakon. Melalui doa, pujian, dan sabda Tuhan, seluruh umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius serta bersyukur atas kasih dan penyertaan Tuhan yang selalu hadir dalam setiap langkah kehidupan umat.

Setelah ibadat, acara dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas 31 tahun perjalanan lingkungan. Momen ini menjadi pengingat akan banyaknya berkat, pengalaman iman, dan kebersamaan yang telah terjalin dari generasi ke generasi.

Suasana semakin meriah dengan kegiatan kebersamaan berupa permainan tebak lirik lagu rohani yang diikuti oleh anak-anak, kaum muda, orang tua, hingga para lansia. Gelak tawa, nyanyian, dan semangat kebersamaan memenuhi seluruh rangkaian acara.

Umat juga mengikuti estafet doa, secara bergantian menyampaikan doa dan harapan bagi Lingkungan St. Gregorius, keluarga-keluarga yang ada di dalamnya, serta bagi Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang pada tanggal 2 Juni 2026 memasuki babak baru sebagai Paroki Administratif.

Perayaan ditutup dengan makan bersama menggunakan konsep potluck, di mana setiap keluarga membawa hidangan untuk dinikmati bersama. Kehangatan percakapan, kebersamaan dalam berbagi, dan sukacita yang terpancar dari setiap umat menjadi gambaran nyata semangat guyub yang terus hidup dalam Lingkungan St. Gregorius.

Melalui perayaan ulang tahun ke-31 ini, seluruh umat diajak untuk terus mempererat persaudaraan, memperdalam iman, serta semakin aktif mengambil bagian dalam kehidupan menggereja dan pelayanan kepada sesama.

Selamat Ulang Tahun ke-31 Lingkungan St. Gregorius. Semoga senantiasa guyub dalam kasih, bertumbuh dalam iman, dan menjadi berkat bagi Gereja serta masyarakat.

Sembahyangan Rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor Lingkungan St. Elisabeth

Pada 21 Mei 2026, pukul 19.00, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan sembahyangan rutin kamisan, Doa Rosario, Perkumpulan Paguyuban Ibu-Ibu, kemudian dilanjutkan dengan latihan koor. Kegiatan malam ini diikuti oleh 31 orang umat.

Pertemuan diawali dengan pembacaan buku BKL untuk hari ke 21 dan 22. BKL dipimpin oleh Mas Heru. Kemudian dilanjutkan dengan Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Suradi. Lalu lanjut dengan Pertemuan Ibu-Ibu yang diisi dengan pembacaan laporan keuangan, pengumuman, arisan, dan lotre. Selanjutnya pertemuan malam ini ditutup dengan Latihan Koor untuk tugas misa minggu terakhir bulan Mei yang dipimpin oleh Bu Padmi dan Bu Vera. Seperti biasa, semua berlangsung dengan meriah, dan lancar.

Instagram:

Sembayangan rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor….
https://www.instagram.com/reel/DYr7ZU2PMNm/?igsh=dzF1cmxmeXVxazZu

Usia Boleh Bertambah, Semangat Jangan Berkurang

Seminar kesehatan lansia oleh bidang Guyub Rukun (bersama timpel PIUL) pada Minggu pagi, 10 Mei 2026, semakin memperdalam pengetahuan para lansia agar tetap dalam kondisi prima meski usia semakin senja.

Aktifitas harian menjadi salah satu kunci kebahagiaan bagi lansia karenanya, kesehatan perlu dijaga agar tetap bisa aktif berkegiatan.

Menurut pemaparan dr. GM Silvia Utomo, MSc, SpMK, FISQua. Semakin menua, tubuh manusia akan mengalami perubahan secara fisik dan fungsi sensorik seperti kulit yang menipis dan keriput, rambut yang memutih, kemampuan penglihatan yang menurun, pendengaran menjadi kurang sensitif atau bahkan menjadi terlalu sensitif sehingga mudah merasa berisik.

Banyak hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesehatan seperti mengurangi konsumsi garam atau natrium karena dapat mengikat cairan sehingga volume darah pada pembuluh ikut meningkat, hal ini dapat menyebabkan hipertensi.

Rutin berjalan kaki juga dapat memperlancar peredaran darah karena ketika berjalan, otot pada betis membantu memompa pembuluh sehingga peredaran darah semakin lancar.

Otot paru-paru pada usia lanjut juga akan melemah. Terkait hal itu ada penelitian bahwa kekuatan genggaman dapat mendukung kekuatan otot dada yang membantu pernafasan karenanya melatih genggaman bagi lansia sangat bermanfaat. Selain itu, menghindari polusi juga sangat membantu kesehatan pernafasan karenanya hindari membakar sampah. Sampah daun sebaiknya dijadikan kompos dan sampah plastik sebaiknya didaur ulang.

Pencernaan pada usia lanjut juga mengalami penurunan, mulai dari nafsu makan yang menurun dan kemampuan mengunyah yang berkurang. Turunnya nafsu makan biasanya karena semakin menua lidah manusia akan semakin menipis sehingga sensor perasa akan lebih terbuka, hal ini dapat menyebabkan dua hal antara menjadi lebih sensitif sehingga mudah merasa keasinan pada saat makan atau menjadi kurang sensitif sehingga sering merasa hambar saat makan.

IKHLAS adalah kunci menghadapi penuaan. IKHLAS terdiri dari Input atau asupan makanan, Kualitas tidur yang baik, Hidrasi untuk menjaga cairan tubuh, Latih otak dan otot, Aerasi atau pernafasan mendalam untuk asupan oksigen dan menenangkan pikiran, dan yang terakhir adalah Senyum untuk menghindari stress.

Akhir kata, semua orang akan menua. Namun, perlu upaya untuk menjadi tua dengan sehat dan bahagia.

Pertemuan Lingkungan Antonius hari Kamis, 7 Mei 2026

Pertemuan Lingkungan Antonius hari Kamis, 7 Mei 2026 pukul 19.15 wib di rumah bapak Larno dipimpin oleh bapak Arief, dihadiri kurang lebih 23 umat.
Pertemuan diawali dengan doa pembukaan, dilanjutkan dengan pembacaan dan pembahasan materi Bulan Katekese Liturgi hari ke 1-7 dilanjutkan doa rosario, doa umat dan doa penutup.


Ada 2 pertanyaan dalam pembahasan materi BKL dan dijawab masing-masing oleh 1 orang umat.
1.⁠ ⁠Apa pengalaman atau perasaan yg muncul ketika kita mengikuti ekaristi?
Mas Satria : saat kuliah dari semester 4 setiap pagi ikut perayaan ekaristi, hal ini menimbulkan perasaan “gela” ketika tidak bisa ikut ekaristi hari Minggu karena terbiasa. Setelah mengikuti ekaristi perasaan menjadi lebih rileks, bahagia dan bisa menjadi berkat bagi orang lain. Istilahnya seminggu sekali kita ngecharge iman kita.


2.⁠ ⁠Bagaimana saya membawa semangat ekaristi dalam kehidupan sehari-hari?
Bu Murdiyana : selalu merindukan ekaristi terutama misa harian. Dalam kehidupan sehari-hari memupuk iman dengan berdoa dan bersyukur dalam semua kondisi.