Semangat Bulan Rosario, Umat Lingkungan Santo Antonius Berkumpul dalam Doa dan Persaudaraan

MAGUWO – Dalam semangat Bulan Rosario yang diperingati oleh Gereja Katolik sepanjang Oktober, umat Lingkungan Santo Antonius, Gereja Maria Bunda Allah, Paroki Administratif Maguwo, mengadakan Sembahyangan Kamisan pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan yang berlangsung di kediaman keluarga Bapak dan Ibu Widjajanto ini dihadiri oleh 27 umat dan dipandu oleh Bapak Rusiawan.

Sembahyangan Kamisan kali ini menjadi kesempatan bagi umat untuk berkumpul dalam doa, khususnya melalui Doa Rosario sebagai bentuk penghormatan dan devosi kepada Bunda Maria. Dalam suasana sederhana, khidmat, dan penuh kekeluargaan, umat bersama-sama merenungkan peristiwa-peristiwa kehidupan Yesus Kristus melalui doa yang didaraskan dengan perantaraan Bunda Maria.

Bulan Oktober memiliki makna khusus dalam kehidupan Gereja Katolik karena didedikasikan sebagai Bulan Rosario. Melalui devosi ini, umat diajak untuk semakin dekat kepada Yesus Kristus dengan meneladani iman, ketaatan, dan kerendahan hati Bunda Maria. Doa Rosario bukan semata-mata rangkaian doa yang diucapkan secara berulang, melainkan juga menjadi kesempatan untuk merenungkan karya keselamatan Allah dalam kehidupan Kristus.

Dalam kegiatan tersebut, umat dari berbagai kelompok usia duduk bersama mengikuti rangkaian doa dengan penuh perhatian. Salib, lilin yang menyala, dan Kitab Suci yang diletakkan di depan pemandu doa turut menghadirkan suasana yang mendukung kekhusyukan dan permenungan. Kebersamaan ini memperlihatkan semangat umat untuk meluangkan waktu, meninggalkan sejenak kesibukan sehari-hari, dan hadir dalam persekutuan doa.

Selain menjadi sarana untuk memperdalam kehidupan rohani, Sembahyangan Kamisan juga memiliki peran penting dalam membangun persaudaraan antarumat. Melalui perjumpaan yang berlangsung secara langsung, umat dapat saling mengenal, memperkuat hubungan kekeluargaan, dan menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Kehadiran 27 umat dalam kegiatan ini menjadi salah satu wujud keterlibatan warga lingkungan dalam menghidupkan komunitas basis Gereja.

Devosi Rosario yang dilaksanakan bersama juga mengingatkan umat akan pentingnya doa dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dengan meneladani Bunda Maria yang senantiasa menyimpan dan merenungkan karya Allah di dalam hatinya, umat diajak untuk menjadikan doa sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Melalui Sembahyangan Kamisan di Bulan Rosario ini, umat Lingkungan Santo Antonius diharapkan semakin bertumbuh dalam iman, semakin erat dalam persaudaraan, serta semakin mampu menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari. Semangat doa bersama yang terpelihara di tengah lingkungan menjadi salah satu bentuk nyata Gereja yang hidup, bertumbuh, dan berjalan bersama dalam iman.

Kiranya melalui teladan dan doa Bunda Maria, seluruh umat Lingkungan Santo Antonius senantiasa diteguhkan untuk membangun keluarga yang penuh kasih, komunitas yang saling mendukung, dan kehidupan menggereja yang semakin berakar dalam Kristus.

Siap Melayani di Altar Tuhan, 15 Putra-Putri Altar GMBA Maguwo Resmi Dilantik


Maguwo – Minggu, 11 Oktober 2026. Semangat pelayanan dan sukacita mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu pagi di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dalam suasana penuh syukur, sebanyak 15 anggota Putra-Putri Altar Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo resmi dilantik dan diberkati oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr.

Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi langkah baru bagi ke-15 anggota untuk semakin terlibat dalam pelayanan Gereja. Dengan mengenakan busana liturgi dan mengambil bagian dalam tugas di altar, mereka diajak untuk melayani dengan hati yang tulus, penuh tanggung jawab, serta semakin dekat dengan Tuhan.

Menjadi Putra-Putri Altar tentu bukan hanya tentang membantu imam selama Perayaan Ekaristi. Ada banyak hal yang bisa dipelajari, mulai dari kedisiplinan, kerja sama, ketelitian, hingga keberanian untuk mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Dari altar, mereka belajar bahwa pelayanan sederhana pun memiliki makna besar ketika dilakukan dengan kasih dan kesungguhan.

Sebagai bagian dari Bidang Liturgi dan Peribadatan, Tim Pelayanan Putra-Putri Altar menjadi salah satu ruang bagi anak-anak dan kaum muda untuk bertumbuh dalam iman sekaligus belajar melayani sesama. Kehadiran mereka juga menjadi tanda bahwa semangat pelayanan Gereja terus tumbuh dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Selamat kepada 15 Putra-Putri Altar yang telah dilantik! Semoga semakin bersemangat dalam menjalankan tugas, semakin kompak dalam kebersamaan, dan selalu membawa sukacita dalam setiap pelayanan. Ingat, ya, pelayanan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di altar, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari altar, belajar melayani. Dalam pelayanan, bertumbuh dalam iman. Semoga langkah kecil yang dimulai hari ini menjadi perjalanan iman yang indah bagi Putra-Putri Altar GMBA Maguwo.

Selamat melayani, Putra-Putri Altar GMBA Maguwo. Tuhan memberkati setiap langkah dan pelayanan kalian………………..

Bersama dalam Doa, Mempererat Persaudaraan Umat

Semangat umat Lingkungan Yohanes Pembaptis dalam mengikuti doa Rosario bersama terus berlanjut. Pada Selasa, 6 Oktober 2026, umat kembali berkumpul untuk mendaraskan Rosario bersama di rumah Bapak Agung pada pukul 19.00 WIB.

Sebanyak 18 umat hadir dalam kegiatan tersebut, mulai dari Orang Muda Katolik (OMK) hingga umat lanjut usia. Kehadiran umat dari berbagai generasi menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dalam doa.

Dengan penuh antusiasme, umat mengikuti rangkaian doa Rosario bersama. Pertemuan sederhana ini tidak hanya menjadi kesempatan untuk berdoa, tetapi juga menjadi ruang bagi umat untuk saling menyapa, menguatkan, dan mempererat tali persaudaraan.

Melalui kegiatan Rosario yang terus dilaksanakan, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis bersama-sama menghidupi bulan Rosario dengan semangat iman dan kebersamaan. Semoga doa-doa yang dipanjatkan menjadi sumber kekuatan bagi seluruh umat dan membawa setiap keluarga semakin dekat kepada Tuhan.

Ketika Gereja Menyapa, Mendengarkan, dan Belajar Bersama


Satu Acara, Tiga Program: Ngobrol, Belajar, dan Melayani Bersama

Minggu sore, 4 Oktober 2026, sekitar 102 umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sore itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada tiga program yang “dikawinkan” menjadi satu acara. 😄

Ketiganya adalah:

  • Ardas ke-9 Butir 5 – Workshop Pelayanan yang Membahagiakan, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.
  • Program Pelayanan DPH Maguwo 2026 Butir 9 – Pertemuan dan silaturahmi dengan umat yang terlibat dalam kepengurusan RT/RW, pedukuhan, maupun organisasi kemasyarakatan.
  • Program Litbang Timpel Pengembangan SDM Butir 2 – Pelatihan program kemasyarakatan.

Jadi, daripada membuat tiga acara terpisah dengan tiga kali undangan, tiga kali persiapan, dan mungkin tiga kali konsumsi. 😄 Ketiganya disatukan dalam satu sore yang penuh obrolan, sharing, pembekalan, dan peneguhan.

Secara resmi memang workshop. Tetapi kalau melihat suasananya, sebenarnya acara ini lebih terasa seperti ruang untuk saling menyapa, mendengarkan, belajar, dan menguatkan.

Acara dipandu oleh Mas Danang dan Mbak Sari yang membuat suasana sejak awal terasa santai dan cair. Jadi, meskipun judulnya workshop, suasananya tidak seperti sedang ikut seminar yang harus duduk tegak sambil sibuk mencari pulpen.


Dari Sapaan, Lalu Jadi Cerita

Salah satu bagian yang paling menarik justru ketika umat mulai diajak bercerita.

Pak Agung, Waka 2, membuka ruang ngobrol dan sharing bersama umat yang aktif menjadi pengurus di masyarakat.

Di sinilah cerita mulai mengalir…………..Ada yang bercerita tentang mengurus warga, membangun komunikasi, menghadapi berbagai persoalan di lingkungan, sampai pengalaman menjadi umat Katolik yang hidup dan berkarya di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Katolik.

Ternyata menjadi pengurus RT atau RW itu tidak sesederhana yang terlihat. Ada rapatnya, ada warganya, ada masalahnya, ada grup WhatsApp-nya… dan mungkin yang terakhir itu justru paling menantang. Tetapi dari semua cerita tersebut terlihat satu hal: umat GMBA ternyata sudah banyak mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Dan bagi Gereja, kehadiran mereka tentu bukan sesuatu yang kecil.

Gereja Tidak Hanya Mendengar dari Dalam Gereja

Sharing sore itu juga menjadi kesempatan bagi Dewan untuk mendengarkan langsung kehidupan umat di luar lingkungan Gereja.

Apa yang mereka alami? Apa yang menjadi tantangan? Bagaimana mereka menjalankan tugas pelayanan di masyarakat?

Dan yang tidak kalah penting, bagaimana semangat iman tetap dibawa ketika harus berhadapan dengan berbagai macam karakter dan persoalan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat pertemuan menjadi lebih bermakna, karena terkadang Gereja tidak perlu buru-buru memberikan jawaban. Duduk bersama, mendengarkan, dan memahami cerita umat juga merupakan bentuk pelayanan.


Ketika Google, WhatsApp dan AI Ikut Nimbrung

Setelah puas ngobrol dan berbagi pengalaman, teknologi pun ikut “nimbrung”.

Pak Yohanes Suyanto, Kabid Litbang, memperkenalkan beberapa pemanfaatan Google dan fitur WhatsApp yang bisa membantu komunikasi dan pengelolaan informasi.

Tidak berhenti di situ, umat juga diajak berkenalan dengan Artificial Intelligence atau AI.

Pak Agung mengajak umat melihat AI bukan sekadar sesuatu yang sedang tren, tetapi sebagai teknologi yang bisa dimanfaatkan secara positif dan bertanggung jawab.

Memang masih tahap pengenalan. Jadi belum sampai level “besok pagi semua pekerjaan diserahkan ke AI”. Justru dari sini muncul kesadaran bahwa teknologi perlu dipelajari secara bertahap dan digunakan sesuai kebutuhan.

Teknologi Canggih, Tapi Jangan Kehilangan Kehadiran

Sesi terakhir bersama Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, menjadi peneguhan yang sangat penting.

Romo mengingatkan bahwa teknologi boleh semakin maju, AI boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai kemajuan tersebut membuat manusia kehilangan kehadiran dan relasinya dengan sesama.

Pesannya sederhana tetapi dalam:

“Kehadiran jangan sampai digantikan oleh kemajuan teknologi. Jangan sampai relasi rusak karena digantikan oleh kemajuan teknologi.”

Mungkin ini yang perlu kita ingat bersama, Kita bisa menggunakan AI untuk membantu membuat tulisan, Kita bisa menggunakan Google untuk mencari informasi, Kita bisa menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi, Tetapi untuk menyapa seseorang, mendengarkan cerita, menguatkan yang sedang kesulitan, dan hadir ketika seseorang membutuhkan, tetap tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan kita.

Pelayanan Itu Tidak Berhenti di Pintu Gereja

Pada akhirnya, sore itu bukan hanya tentang workshop, Bukan hanya tentang RT, RW, Google, WhatsApp atau AI, lebih dari itu, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa Gereja hadir melalui umatnya di tengah masyarakat.

Umat yang menjadi pengurus RT, RW, organisasi maupun berbagai kegiatan kemasyarakatan adalah wajah Gereja yang setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat.

Di sanalah semangat “membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan” menjadi nyata.

Dan mungkin pelayanan yang paling sederhana memang bukan sesuatu yang spektakuler. kadang cukup dengan hadir, mau mendengarkan, mau membantu, mau menyapa, dan ketika dibutuhkan, tidak buru-buru bilang, “Waduh, saya sibuk.”

Sore itu GMBA belajar satu hal lagi: Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pelayanan tetap membutuhkan hati, karena pada akhirnya, Gereja bukan hanya tentang tempat kita berkumpul.

Gereja adalah tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.

1 Tahun Senam Sehat GMBA: Sehat Bersama, Bahagia Bersama


Sabtu, 3 Oktober 2026 menjadi hari yang cukup spesial bagi keluarga besar Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Seperti biasa, sejak pukul 07.00 WIB, Tim Senam Sehat GMBA yang berada di bawah naungan Timpel PIUL kembali mengajak umat untuk bergerak bersama dalam kegiatan senam sehat yang dilaksanakan di halaman belakang GMBA.

Namun, senam pagi kali ini terasa sedikit berbeda. Bukan hanya sekadar berkeringat dan menggerakkan badan, hari ini juga menjadi momen untuk memperingati 1 tahun perjalanan Senam Sehat GMBA.

Selama satu tahun, kegiatan ini menjadi salah satu ruang sederhana bagi umat untuk berkumpul, berolahraga, bercanda, dan tentunya menjaga kesehatan bersama. Tidak perlu alat olahraga yang ribet, tidak perlu suasana yang terlalu serius, yang penting badan bergerak, hati senang, dan bisa ketemu teman-teman.

Setelah senam selesai, suasana dilanjutkan dengan syukuran sederhana berupa pemotongan tumpeng. Dalam doa bersama, seluruh peserta memanjatkan syukur atas perjalanan satu tahun yang telah dilalui, sekaligus berharap agar kegiatan Senam Sehat GMBA dapat terus berjalan dan menjadi sarana kebersamaan bagi umat.

Doanya sederhana, tetapi harapannya besar: semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, kebahagiaan, dan semangat untuk terus menjaga kebersamaan.

Dan tentu saja, acara belum lengkap kalau setelah olahraga tidak ada acara makan-makan. …….

Kali ini, peserta menikmati sarapan pagi dengan menu gudangan. Sayuran yang segar, lauk-pauk yang lengkap, sambal yang mantap, ditambah suasana makan bersama setelah olahraga membuat sarapan pagi terasa semakin nikmat. Kalau kata yang hadir, “Gudangannya sederhana, tapi nikmatnya luar biasa!”

Satu tahun mungkin bukan waktu yang panjang, tetapi dari satu tahun ini sudah banyak cerita, tawa, keringat, dan kebersamaan yang tercipta.

Selamat ulang tahun yang pertama untuk Senam Sehat GMBA….

Semoga tetap menjadi ruang untuk sehat bersama, bahagia bersama, dan bertumbuh bersama. Jangan lupa, minggu depan senam lagi… karena sehat itu bukan cuma cita-cita, tapi harus diusahakan.

Perwakilan Dewan Pastoral dan Tim Pelayanan GMBA Mengikuti Pra TEPAS Kevikepan Jogja Timur Secara Daring


Senin malam (28/9/2026), Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo kembali ramai. Bukan untuk senam, bukan juga untuk makan-makan, tetapi kali ini para perwakilan Dewan Pastoral Harian bersama Timpel PIA, PIOM, PIUL, PIOD, dan PIR berkumpul untuk mengikuti Pra Temu Pastoral (TEPAS) Kevikepan Yogyakarta Timur melalui Zoom.

Namanya memang daring, tapi kumpulnya tetap luring. Jadi, yang online adalah acaranya, sementara orangnya tetap duduk manis di Gazebo GMBA. Laptop dan layar menjadi “jendela” untuk mengikuti pertemuan bersama para peserta dari wilayah lain.

Pra TEPAS ini menjadi kesempatan untuk ngobrol dan melihat bersama bagaimana pelayanan Gereja ke depan bisa terus dikembangkan. Berbagai hal dibahas sebagai persiapan menuju Temu Pastoral Kevikepan Yogyakarta Timur.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah penguatan FIBB, khususnya untuk kalangan muda dan OMK. Maklum, kalau bicara anak muda sekarang, hampir semuanya tidak bisa jauh-jauh dari HP. Bangun tidur cari HP, mau tidur cari HP. Nah, daripada HP cuma dipakai scroll-scroll sampai lupa waktu, kenapa tidak sekalian dimanfaatkan untuk pewartaan?

Teknologi digital memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, Gereja juga perlu hadir di ruang digital dengan cara yang kreatif dan dekat dengan dunia anak muda. Pewartaan tidak harus selalu menunggu orang datang ke gereja. Bisa juga “jemput bola” lewat media digital, tentu dengan cara yang tetap membawa pesan iman dan tidak terasa menggurui.

Dari pembahasan Pra TEPAS ini, GMBA mendapatkan banyak bahan untuk dipikirkan bersama. Terutama bagaimana masing-masing Timpel bisa ikut mengambil bagian dalam mengembangkan pelayanan yang lebih kreatif, terbuka terhadap teknologi, dan tentunya tetap dekat dengan umat.

Jadi, malam itu bukan sekadar duduk, lihat layar, lalu pulang. Ada gagasan yang dibawa pulang, ada bahan untuk dipikirkan, dan semoga ada juga semangat baru untuk diwujudkan dalam pelayanan. Karena kalau Gereja mau terus hidup dan berkembang, yang harus di-update bukan cuma HP dan aplikasinya, tapi cara kita melayani dan mewartakan iman juga.

Dari Gazebo GMBA, kita belajar bahwa berjalan bersama itu bisa dilakukan di mana saja, bahkan sambil duduk di depan layar Zoom.

Gerakan Laudato Si’ GMBA: Panen Kompos dan Pilah Sampah Wujudkan Semangat Paroki Hijau


Minggu, 20 September 2026 — Semangat untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama kembali diwujudkan secara nyata di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap lingkungan dan keutuhan ciptaan, umat diajak untuk tidak hanya berbicara tentang kepedulian terhadap bumi, tetapi juga menghidupinya melalui tindakan sederhana dan nyata.

Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan sampah organik dan anorganik di lingkungan gereja. Kegiatan hari ini digerakkan oleh Pak Pargiyono, dengan dukungan Mas Bani selaku Kabid Rumah Tangga, bersama Tim Laudato Si’ GMBA yang terdiri dari Mas Bono, Pak Agus Hari, Pak Gandung, dan Bu Sri Hernani.

Panen Kompos Setelah Dua Tahun

Salah satu kegiatan utama hari ini adalah memanen kompos dari tumpukan sampah daun yang telah terkumpul dan mengalami proses penguraian selama kurang lebih dua tahun.

Daun-daun yang sebelumnya dipandang sebagai sampah, ternyata dapat kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. Setelah melalui proses alami, material organik tersebut menghasilkan kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman di lingkungan gereja.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua yang kita sebut sebagai “sampah” benar-benar tidak berguna. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik dapat kembali ke dalam siklus kehidupan dan memberikan manfaat bagi tanah serta tanaman.

Membersihkan dan Memilah Sampah

Selain memanen kompos, tim juga melakukan pengosongan tempat sampah yang berada di pojok depan gereja. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah berdasarkan jenisnya.

Sampah anorganik yang masih memiliki kemungkinan untuk dimanfaatkan atau didaur ulang dipisahkan, sementara sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang juga dipisahkan dan ditangani dengan lebih bertanggung jawab.

Proses pemilahan ini mungkin terlihat sederhana, namun justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah budaya peduli lingkungan dapat mulai tumbuh di tengah kehidupan menggereja.

Dengan Teknologi Sederhana, Semangat Besar

Dalam kegiatan ini, tim menggunakan dua alat pencacah daun serta alat pemisah kompos. Kehadiran peralatan tersebut membantu proses pengolahan sampah organik menjadi lebih efektif dan memudahkan tim dalam mengelola material yang selama ini terkumpul.

Pemanfaatan alat tersebut menunjukkan bahwa semangat Laudato Si’ dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi sederhana. Teknologi bukan sekadar untuk mempermudah pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menjaga dan merawat lingkungan.

Apa yang dilakukan hari ini merupakan salah satu bentuk nyata dari semangat yang saat ini terus digaungkan di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, yaitu Paroki Hijau.

Merawat Bumi, Merawat Rumah Bersama

Gerakan Laudato Si’ mengajak kita untuk melihat lingkungan bukan sebagai sesuatu yang berada di luar kehidupan kita, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama. Gereja pun memiliki panggilan untuk menjadi contoh dalam membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

Melalui kegiatan sederhana seperti mengolah daun menjadi kompos, memilah sampah, membersihkan lingkungan gereja, dan mengurangi sampah yang berakhir begitu saja, kita sedang belajar mengubah cara pandang: sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang perlu dikelola dengan bijaksana.

Lebih dari sekadar kegiatan kebersihan, apa yang dilakukan oleh Pak Pargiyono bersama Mas Bani dan Tim Laudato Si’ GMBA hari ini menjadi sebuah bentuk pelayanan terhadap alam dan sesama.

Harapan untuk Paroki Hijau

Semoga langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal dari gerakan yang semakin besar dan berkelanjutan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Semoga semakin banyak umat yang tergerak untuk mengurangi sampah, memilah sampah dari sumbernya, memanfaatkan kembali apa yang masih berguna, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan—baik di gereja maupun di rumah masing-masing.

Harapannya, semangat Laudato Si’ tidak berhenti pada kegiatan tertentu atau momentum tertentu saja, tetapi tumbuh menjadi budaya hidup umat.

Semoga lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo semakin hijau, bersih, asri, dan menjadi ruang yang nyaman bagi umat sekaligus menjadi kesaksian nyata bahwa Gereja hadir untuk merawat keutuhan ciptaan.

Dan semoga dari tempat sederhana ini, tumbuh kesadaran bersama bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman, dan menjaga rumah kita bersama adalah tanggung jawab kita semua.

Dari daun yang jatuh, lahir kompos.
Dari sampah yang dipilah, lahir kepedulian.
Dari langkah kecil bersama, tumbuh Paroki Hijau.

Laudato Si’ — Terpujilah Engkau, Tuhan, melalui seluruh ciptaan-Mu.

Belajar Menjadi Murid yang Inspiratif: Ketika Berbagi Menjadi Jalan Perutusan

Pertemuan Kedua BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Mengajak Umat untuk Berani Melayani Sesama

Maguwo, 17 September 2026 — Semangat kebersamaan dan kegembiraan kembali mewarnai Pertemuan Kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 Lingkungan Santo Antonius, yang dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026, di rumah Ibu Aniek. Sebanyak 32 umat hadir dan mengikuti pendalaman Kitab Suci dengan tema “Pengajaran Yesus: Menjadi Murid yang Inspiratif”, berdasarkan Injil Matius 10:1–15.

Jika pada pertemuan pertama umat diajak merenungkan pengajaran Yesus mengenai hidup yang bahagia, pada pertemuan kedua umat diajak melangkah lebih jauh: menjadi murid yang dipanggil dan diutus untuk melayani sesama.

Tema tersebut merupakan bagian dari rangkaian BKSN 2026 dengan tema besar “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui tema ini, umat diajak semakin mengenal Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh kuasa serta menghadirkan Kerajaan Allah melalui kasih dan pelayanan kepada sesama.

“Laskar Kristus” Membuka Pertemuan

Pertemuan diawali dengan lagu “Laskar Kristus” yang segera membangun suasana penuh semangat. Pilihan lagu tersebut terasa selaras dengan pesan pertemuan: menjadi murid Kristus bukan hanya berarti mendengarkan Sabda, tetapi juga berani bergerak dan menjalankan perutusan.

Ada hal menarik dalam pertemuan kali ini. Jika pertemuan pertama dipandu oleh beberapa umat, kali ini OMK Santo Antonius mengambil peran sebagai pemandu. Keterlibatan orang muda memberikan warna tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang untuk turut menghidupkan kehidupan menggereja dan pendalaman Kitab Suci di tengah komunitas.

Setelah lagu pembukaan, Mas Aremba memimpin pembukaan dengan tanda salib, dilanjutkan dengan Doa Ardas IX. Selanjutnya disampaikan pengantar mengenai tema pertemuan kedua dan kaitannya dengan Injil yang akan direnungkan bersama.

Pesan yang hendak dibawa cukup sederhana: setelah menerima dan mengalami kasih Allah, seorang murid tidak dipanggil untuk menyimpannya bagi diri sendiri. Ia dipanggil untuk keluar, hadir, dan melayani.

Yesus Memanggil dan Mengutus Para Murid

Pendalaman dilanjutkan dengan pembacaan Injil Matius 10:1–15 oleh OMK. Perikop ini merupakan bagian dari kisah pengutusan kedua belas murid. Yesus memanggil para murid, memberikan kuasa kepada mereka, dan mengutus mereka untuk mengambil bagian dalam karya pelayanan.

Dalam perikop tersebut, Yesus memberikan arahan mengenai perutusan, apa yang perlu dilakukan, apa yang tidak perlu dibawa, serta bagaimana para murid menghadapi penerimaan maupun penolakan.

Salah satu pesan Yesus yang menjadi perhatian dalam pendalaman adalah:

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Pesan ini mengingatkan bahwa kasih, pengampunan, rahmat, dan kebaikan yang diterima dari Tuhan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Semua itu dipanggil untuk diteruskan melalui kehidupan dan tindakan nyata kepada orang lain.

Karena itu, menjadi murid yang inspiratif tidak harus dimulai dari tindakan yang besar. Perutusan dapat dimulai dari kesediaan untuk mengambil langkah pertama dalam melayani sesama.

Secangkir Teh yang Mengajarkan Arti Kerja Sama

Setelah pendalaman Kitab Suci, OMK Santo Antonius mengajak peserta mengikuti sebuah permainan reflektif. Permainan tersebut sederhana, tetapi justru menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sekitar 25 peserta dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok memperoleh sebuah paket yang telah diundi. Namun, tidak ada satu pun paket yang berisi perlengkapan lengkap untuk membuat teh manis.

Ada kelompok yang mendapatkan gelas dan air panas. Kelompok lain memperoleh gula, sendok, dan gelas. Kelompok lainnya mendapatkan perlengkapan yang berbeda.

Tugas mereka sederhana: membuat minuman teh untuk seluruh anggota kelompok.

Namun, segera terlihat bahwa tidak ada kelompok yang dapat menyelesaikan tugas hanya dengan perlengkapan yang mereka miliki.

Untuk membuat teh manis, mereka membutuhkan sesuatu yang berada di kelompok lain.

Di sinilah permainan menjadi menarik.

Para peserta harus berkomunikasi, bernegosiasi, dan saling bertukar perlengkapan. Gelas, air panas, gula, sendok, dan berbagai kebutuhan lainnya harus dikumpulkan melalui kerja sama antarkelompok.

Tidak ada kelompok yang memiliki segala sesuatu. Hanya dengan berbagi dan bekerja sama, tugas tersebut dapat diselesaikan.

Pada akhirnya, batas antara “milik kelompok kami” dan “milik kelompok mereka” menjadi tidak lagi penting. Yang menjadi tujuan bersama adalah satu: semua anggota dapat menikmati secangkir teh manis.

Ketika Kekurangan Menjadi Jalan untuk Bersama

Permainan tersebut kemudian menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan dalam komunitas.

Tidak ada seorang pun yang memiliki segala sesuatu.

Ada yang memiliki waktu tetapi tidak memiliki kemampuan tertentu. Ada yang memiliki kemampuan tetapi membutuhkan dukungan orang lain. Ada yang memiliki sumber daya tetapi tidak memiliki kesempatan untuk menggunakannya. Bahkan, ada pula yang mungkin merasa tidak memiliki sesuatu yang istimewa, tetapi apa yang dimilikinya ternyata justru dibutuhkan oleh orang lain.

Karena itu, kehidupan menggereja tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kemampuan individu.

Kita saling membutuhkan.

Dalam konteks inilah pesan Yesus tentang perutusan menjadi semakin relevan. Para murid memang dipanggil dan diutus secara pribadi, tetapi pelayanan mereka tidak diarahkan pada individualisme. Mereka dipanggil untuk menghadirkan kasih dan Kerajaan Allah melalui pelayanan.

Permainan teh manis membuat pesan tersebut tidak berhenti sebagai teori. Para peserta mengalaminya secara langsung: untuk mendapatkan secangkir teh, mereka harus bersedia membuka apa yang mereka miliki dan berbagi dengan kelompok lain.

Dari Permainan Menuju Refleksi

Setelah permainan selesai, peserta diajak melihat kembali pengalaman yang baru saja mereka alami melalui beberapa pertanyaan refleksi.

Bagaimana perasaan ketika mengetahui bahwa paket yang diperoleh tidak lengkap? Apakah muncul keinginan untuk mempertahankan apa yang dimiliki? Kapan kelompok mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan kelompok lain? Bagaimana komunikasi dan pertukaran terjadi?

Dan pertanyaan yang kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan iman:

“Apa hubungan permainan tersebut dengan panggilan kita sebagai murid Kristus?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa peserta dari pengalaman bermain menuju refleksi iman.

Ketidaklengkapan paket menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan manusia. Kita tidak pernah benar-benar lengkap seorang diri. Dalam komunitas, perbedaan tidak selalu menjadi persoalan. Jika dikelola melalui kerja sama, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan.

Demikian pula dalam kehidupan lingkungan. Ada yang aktif dalam liturgi, ada yang kuat dalam pelayanan sosial, ada yang mampu mengorganisasi kegiatan, ada yang pandai menghidupkan suasana, dan ada pula yang setia hadir serta mendukung dari belakang.

Semua memiliki peran.

Yang dibutuhkan bukan keseragaman, melainkan kesediaan untuk saling melengkapi.

Menjadi Murid yang Inspiratif Dimulai dari Hal Sederhana

Matius 10:1–15 berbicara mengenai perutusan para murid. Namun, perutusan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler.

Menjadi murid yang inspiratif dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana: menyapa orang yang membutuhkan perhatian, membantu tetangga, mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan, berbagi apa yang kita miliki, terlibat dalam kehidupan lingkungan, atau mengambil inisiatif ketika melihat sesuatu yang perlu dilakukan.

Perutusan juga memiliki tantangan. Para murid tidak dijanjikan bahwa setiap langkah pelayanan akan diterima dengan baik. Karena itu, menjadi murid yang inspiratif bukan berarti selalu berhasil atau selalu mendapatkan apresiasi.

Yang lebih penting adalah kesediaan untuk melangkah dan melayani.

Sebuah tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan kebaikan berikutnya.

OMK dan Semangat Regenerasi dalam Komunitas

Keterlibatan OMK Santo Antonius sebagai pemandu menjadi salah satu bagian menarik dalam pertemuan kedua BKSN ini.

Kehadiran generasi muda sebagai penggerak pendalaman Kitab Suci menunjukkan bahwa pewartaan Sabda Allah merupakan tanggung jawab seluruh umat. Orang muda bukan hanya penerima warisan iman, tetapi juga dapat menjadi pelaku dan penggerak kehidupan menggereja.

Pada saat yang sama, keterlibatan lintas generasi membuat komunitas menjadi semakin kaya. Pengalaman umat yang lebih senior bertemu dengan kreativitas dan energi orang muda. BKSN pun menjadi ruang untuk mendalami Kitab Suci sekaligus membangun kebersamaan antaranggota Gereja.

Menutup Pertemuan dalam Doa

Setelah seluruh rangkaian refleksi selesai, suasana kembali diarahkan pada keheningan dan doa. Para peserta mengikuti doa umat, dilanjutkan dengan doa penutup dan lagu “Happy Ya Ya Ya”.

Pertemuan kemudian diakhiri dengan berkat oleh prodiakon Ibu Aniek.

Secara keseluruhan, Pertemuan Kedua BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius berlangsung dengan penuh antusiasme dan interaksi yang hidup. Kehadiran 32 umat menunjukkan bahwa BKSN menjadi ruang bagi umat untuk berkumpul, mendengarkan Sabda Tuhan, sekaligus membangun persaudaraan.

Jika pada pertemuan pertama umat diajak bertanya tentang di mana menemukan kebahagiaan sejati, pertemuan kedua membawa pertanyaan tersebut selangkah lebih jauh:

“Setelah menerima kasih dan kebaikan Tuhan, apa yang akan kita lakukan untuk sesama?”

Secangkir teh dalam permainan malam itu mungkin sederhana. Namun, dari pengalaman tersebut umat belajar bahwa sesuatu yang tampaknya tidak lengkap dapat menjadi lengkap ketika ada kemauan untuk berbagi, bekerja sama, dan saling melengkapi.

Demikian pula panggilan menjadi murid Kristus. Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna atau memiliki segala sesuatu untuk mulai melayani. Perutusan dapat dimulai dari apa yang ada pada diri kita, dari lingkungan terdekat, dan dari satu langkah kecil yang berani kita ambil hari ini.

Seorang murid yang inspiratif tidak harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia dapat mulai dengan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang lain pun terdorong untuk melakukan kebaikan.

Dan mungkin, itulah “secangkir teh manis” yang sesungguhnya ingin disampaikan dalam pertemuan BKSN malam itu:

Kebaikan menjadi semakin berarti ketika dibagikan.

Berkah Dalem.

Semarak Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci antar lingkungan

Maguwo, 6 September 2026 — Kitab Suci tidak hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami, direnungkan, dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang terasa dalam kegiatan Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci antarlingkungan yang diselenggarakan oleh Gereja Paroki Adm Maguwo melalui Bidang Pewartaan, khususnya Tim Kerasulan Kitab Suci.
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya paroki untuk semakin menumbuhkan pengetahuan dan kecintaan umat terhadap Kitab Suci. Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan dan kebersamaan antar lingkungan, sekaligus sarana belajar iman yang dikemas dalam suasana edukatif, kompetitif, dan menyenangkan.
Menariknya, lomba dilaksanakan dengan memadukan media online dan kegiatan secara langsung. Perpaduan tersebut membuat suasana perlombaan semakin dinamis. Para peserta tidak hanya ditantang untuk mengingat dan memahami isi Kitab Suci, tetapi juga diajak menikmati proses belajar bersama dengan cara yang lebih kreatif dan kekinian.


Belajar Kitab Suci, Bertumbuh Bersama
Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci memiliki sejumlah tujuan penting. Selain meningkatkan pengetahuan umat mengenai Kitab Suci, kegiatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan umat terhadap Sabda Tuhan.
Keterlibatan remaja, Orang Muda Katolik (OMK), dan orang tua juga menjadi bagian penting dari kegiatan ini. Kehadiran lintas generasi dalam satu tim membuka kesempatan bagi orang tua dan generasi muda untuk saling belajar, bekerja sama, serta membangun kebersamaan melalui pendalaman Kitab Suci.
Tidak berhenti pada hari perlombaan, kegiatan ini diharapkan dapat membawa semangat tersebut kebiasaan bersama, lebih jauh, kegiatan ini menjadi sarana pewartaan, pembelajaran iman, dan penguatan kebersamaan umat.


14 Lingkungan Berpartisipasi
Dari 17 lingkungan di Paroki Adm Maguwo ada 14 lingkungan ambil bagian dalam kegiatan ini. Masing-masing lingkungan mengirimkan satu tim yang terdiri atas satu orang dewasa dan dua orang PIR atau PIOM.
Komposisi tersebut memberikan warna tersendiri bagi perlombaan. Dalam satu tim, pengalaman orang dewasa berpadu dengan semangat dan energi generasi muda. Mereka bersama-sama berusaha menjawab pertanyaan, berdiskusi, mengingat kembali pengetahuan Kitab Suci, dan tentu saja memberikan dukungan satu sama lain.
Suasana kompetisi pun menjadi semakin menarik karena setiap tim membawa semangat untuk memberikan yang terbaik bagi lingkungannya.


Apresiasi bagi Para Juara
Setelah melalui rangkaian perlombaan dengan penuh semangat, diperoleh hasil sebagai berikut: Juara I: Lingkungan Theresia, Juara II: Lingkungan Asisi, Juara III: Lingkungan Elisabeth.
Prestasi tersebut menjadi bentuk apresiasi atas semangat, kerja sama, dan usaha yang telah ditunjukkan oleh masing-masing tim. Namun, sesungguhnya setiap peserta adalah bagian dari kemenangan bersama, karena keberanian untuk belajar dan mendalami Kitab Suci merupakan langkah penting dalam perjalanan iman.
Kegiatan Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci menjadi pengingat bahwa mendalami Kitab Suci dapat dilakukan dengan berbagai cara. Belajar tentang Sabda Tuhan tidak harus selalu berlangsung dalam suasana yang formal. Melalui kreativitas, permainan, kompetisi yang sehat, dan kebersamaan lintas generasi, Kitab Suci dapat semakin dekat dengan kehidupan umat.
Semoga Lomba Cerdas Cermat Kitab Suci ini menjadi langkah kecil yang membawa buah besar: semakin banyak umat mencintai Kitab Suci, semakin rajin membacanya, dan semakin mampu mewujudkan Sabda Tuhan dalam tindakan nyata.

Dokumentasi Kegiatan : download disini

GMBA Semarakkan Karnaval HUT RI ke-81 Padukuhan Sambilegi


Sambilegi, 30 Agustus 2026 — Semangat kebersamaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 kembali terasa meriah di Padukuhan Sambilegi. Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) turut mengambil bagian dalam Karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-81 Padukuhan Sambilegi yang berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, GMBA diwakili oleh ibu-ibu paroki dan Orang Muda Katolik (OMK) di bawah koordinasi Mbak Vera. Dengan penuh antusias dan semangat kebersamaan, para perwakilan GMBA bergabung bersama masyarakat untuk memeriahkan kegiatan karnaval.

Keikutsertaan GMBA dikoordinasikan oleh Tim HAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) di bawah naungan Kabid Kemasyarakatan. Keterlibatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran GMBA di tengah masyarakat sekaligus upaya untuk terus membangun hubungan yang harmonis, persaudaraan, dan kebersamaan dengan seluruh warga.

Tidak hanya berpartisipasi sebagai peserta, GMBA juga turut mendukung kelancaran kegiatan dengan menyediakan halaman parkir gereja sebagai titik awal perjalanan karnaval. Halaman gereja menjadi tempat berkumpul dan persiapan para peserta sebelum bersama-sama memulai perjalanan karnaval menyusuri wilayah Padukuhan Sambilegi.

Suasana penuh kegembiraan, semangat kemerdekaan, dan kebersamaan mewarnai kegiatan tersebut. Keikutsertaan GMBA menjadi kesempatan untuk semakin mempererat hubungan antara umat dan masyarakat sekitar serta menumbuhkan semangat gotong royong, toleransi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman.

Melalui kegiatan ini, GMBA kembali menunjukkan bahwa gereja hadir tidak hanya dalam kehidupan menggereja, tetapi juga turut hadir, terlibat, dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
Merdeka, guyub, dan terus menjaga persaudaraan dalam keberagaman.