Sambilegi, 30 Agustus 2026 — Semangat kebersamaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 kembali terasa meriah di Padukuhan Sambilegi. Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) turut mengambil bagian dalam Karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-81 Padukuhan Sambilegi yang berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, GMBA diwakili oleh ibu-ibu paroki dan Orang Muda Katolik (OMK) di bawah koordinasi Mbak Vera. Dengan penuh antusias dan semangat kebersamaan, para perwakilan GMBA bergabung bersama masyarakat untuk memeriahkan kegiatan karnaval.
Keikutsertaan GMBA dikoordinasikan oleh Tim HAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) di bawah naungan Kabid Kemasyarakatan. Keterlibatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran GMBA di tengah masyarakat sekaligus upaya untuk terus membangun hubungan yang harmonis, persaudaraan, dan kebersamaan dengan seluruh warga.
Tidak hanya berpartisipasi sebagai peserta, GMBA juga turut mendukung kelancaran kegiatan dengan menyediakan halaman parkir gereja sebagai titik awal perjalanan karnaval. Halaman gereja menjadi tempat berkumpul dan persiapan para peserta sebelum bersama-sama memulai perjalanan karnaval menyusuri wilayah Padukuhan Sambilegi.
Suasana penuh kegembiraan, semangat kemerdekaan, dan kebersamaan mewarnai kegiatan tersebut. Keikutsertaan GMBA menjadi kesempatan untuk semakin mempererat hubungan antara umat dan masyarakat sekitar serta menumbuhkan semangat gotong royong, toleransi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Melalui kegiatan ini, GMBA kembali menunjukkan bahwa gereja hadir tidak hanya dalam kehidupan menggereja, tetapi juga turut hadir, terlibat, dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 Merdeka, guyub, dan terus menjaga persaudaraan dalam keberagaman.
Maguwo, Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan kembali terasa meriah di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, para Ketua Wilayah berinisiatif menggelar pertandingan bulu tangkis dan tenis meja (pingpong) yang melibatkan seluruh lingkungan di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
Namun, kemeriahan acara ini ternyata tidak dimulai ketika pertandingan pertama berlangsung. Jauh sebelumnya, semangat kebersamaan sudah terlihat dari proses persiapannya.
Para Ketua Wilayah bersama umat bergotong royong membuat lapangan bulu tangkis, memodifikasi meja pingpong, hingga menyiapkan penerangan untuk lapangan bulu tangkis yang berada di halaman parkir gereja. Dengan keterbatasan yang ada, kreativitas dan semangat kebersamaan justru menghasilkan sarana pertandingan yang dapat digunakan bersama.
Semua Ikut, Semua Bergembira
Saat pertandingan dimulai, suasana GMBA pun berubah menjadi arena olahraga yang penuh semangat. Hampir seluruh lingkungan ikut ambil bagian. Laki-laki dan perempuan, yang muda maupun yang lebih senior, semuanya berbaur dalam pertandingan.
Di arena bulu tangkis maupun pingpong, semangat bertanding terlihat begitu kuat. Setiap tim berusaha memberikan permainan terbaiknya. Namun, yang paling menarik bukan hanya pertandingan di dalam arena.
Di luar lapangan, para suporter juga tidak kalah heboh.
Teriakan dukungan dari masing-masing lingkungan bersahutan. Gebukan botol air mineral menjadi irama sederhana yang mengiringi yel-yel dan teriakan para pendukung. Ketika tim jagoan mereka bertanding, suasana semakin ramai dan meriah.
Tak jarang, sorak-sorai para suporter justru menjadi tontonan tersendiri yang mengundang senyum dan gelak tawa umat yang hadir.
Yel-Yel Lingkungan, Bikin Suasana Makin Pecah!
Kemeriahan pertandingan semakin lengkap dengan adanya lomba yel-yel antarlingkungan.
Berbagai kreativitas dan gaya unik ditampilkan oleh masing-masing lingkungan. Ada yang tampil penuh semangat, ada yang tampil kompak, dan ada pula yang justru sukses membuat seluruh umat tertawa.
Lomba yel-yel menjadi bumbu yang membuat suasana semakin cair. Tidak ada lagi sekat antarlingkungan. Semua larut dalam kegembiraan dan menikmati kebersamaan sebagai satu keluarga besar GMBA.
Baik di arena badminton maupun pingpong, suasana tetap ramai. Pertandingan berlangsung dengan penuh semangat, tetapi tetap dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan.
Menang atau Kalah Bukan yang Utama
Di balik pertandingan dan persaingan di lapangan, ada satu hal yang jauh lebih penting: kebersamaan.
Menang atau kalah bukanlah inti dari kegiatan ini. Yang utama adalah bagaimana umat dari berbagai lingkungan dapat berkumpul, saling mengenal, tertawa bersama, dan semakin guyub serta bahagia sebagai satu komunitas.
Semangat inilah yang menjadi warna utama perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di GMBA. Kemerdekaan dirayakan bukan hanya dengan perlombaan, tetapi juga melalui semangat persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan.
Terima Kasih untuk Semua yang Terlibat
Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh lingkungan yang telah berpartisipasi dan ikut menyukseskan rangkaian kegiatan ini. Antusiasme dan keterlibatan seluruh umat menjadi kekuatan utama sehingga acara dapat berlangsung dengan meriah.
Apresiasi khusus juga disampaikan kepada para Ketua Wilayah Sang Timur, Don Bosco, De Britto, dan Loyola yang telah memprakarsai sekaligus menyelenggarakan kegiatan ini dengan penuh semangat dan kebersamaan.
Mulai dari mempersiapkan lapangan, memodifikasi sarana pingpong, menyediakan penerangan, hingga mengatur jalannya pertandingan, semuanya menjadi bukti nyata bahwa ketika umat bergerak bersama, keterbatasan bukanlah penghalang untuk menciptakan kegembiraan.
Panitia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat berbagai kekurangan. Setiap kekurangan menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran agar kegiatan serupa dapat terlaksana dengan lebih baik di masa mendatang.
Dan yang pasti…
Sampai jumpa di tahun depan!
Semoga HUT RI tahun depan, pertandingan badminton dan pingpong di GMBA dapat kembali hadir dengan suasana yang lebih ramai, lebih seru, lebih kompak, dan tentunya lebih guyup!
Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang menjadi juara.
Tetapi tentang bagaimana kita bisa berkumpul, tertawa, bergembira, dan menjadi satu keluarga besar GMBA.
Maguwo, 21 Agustus 2026 — Dalam semangat membangun komunikasi dan pelayanan umat yang semakin baik, Dewan Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo mengadakan rapat rutin bulanan pada Jumat, 21 Agustus 2026. Bertempat di Gazebo Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), rapat kali ini memiliki suasana yang sedikit berbeda karena turut melibatkan seluruh Ketua Wilayah.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., bersama jajaran Dewan Paroki Administratif dan para Ketua Wilayah. Keterlibatan para Ketua Wilayah menjadi kesempatan penting untuk menyatukan informasi, menyampaikan perkembangan pelayanan, sekaligus mendengarkan dinamika kehidupan umat di masing-masing wilayah.
Evaluasi Kegiatan dan Perkembangan Wilayah
Rapat diawali dengan penyampaian laporan kegiatan bulanan dari masing-masing bidang pelayanan. Setiap bidang memaparkan kegiatan yang telah dilaksanakan, perkembangan program, serta berbagai hal yang menjadi perhatian dalam pelaksanaan pelayanan umat.
Selanjutnya, para Ketua Wilayah menyampaikan laporan tiga bulanan wilayah masing-masing. Laporan tersebut menjadi ruang untuk melihat perkembangan kehidupan umat di tingkat wilayah, termasuk berbagai kegiatan dan dinamika yang terjadi selama beberapa bulan terakhir.
Melalui pemaparan tersebut, Dewan Paroki Administratif bersama para Ketua Wilayah dapat saling mengetahui perkembangan pelayanan dan kondisi umat secara lebih menyeluruh. Komunikasi seperti ini diharapkan dapat membantu setiap unsur pelayanan untuk saling mendukung dan menyelaraskan langkah.
Membahas Berbagai Hal untuk Keberlanjutan Pelayanan
Memasuki sesi lain-lain dan tanya jawab, suasana rapat menjadi semakin interaktif. Berbagai pertanyaan dan masukan disampaikan berkaitan dengan kehidupan dan perkembangan pelayanan di GMBA.
Salah satu pembahasan yang mendapat perhatian adalah kelanjutan kunjungan Tim Keuskupan Agung Semarang (KAS) terkait rencana pembelian lahan di belakang gereja. Perkembangan mengenai rencana tersebut menjadi bagian dari perhatian bersama, mengingat kebutuhan ruang dan pengembangan sarana pelayanan gereja ke depan.
Selain itu, dibahas pula mengenai keberlanjutan doa novena yang telah menjadi bagian dari kehidupan doa bersama umat.
Kemungkinan pelaksanaan Misa Sabtu sore juga menjadi salah satu topik yang dibicarakan dalam sesi tersebut sebagai bagian dari upaya melihat kebutuhan dan pelayanan liturgi bagi umat.
Berbagai masukan yang muncul menjadi bahan pembicaraan bersama dan menunjukkan adanya kepedulian seluruh unsur gereja terhadap perkembangan kehidupan umat di GMBA.
Mulai September, Misa Senin Pagi
Menjelang akhir pertemuan, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. menyampaikan informasi yang menggembirakan bagi umat. Mulai September 2026, Gereja Maria Bunda Allah akan melaksanakan Misa harian setiap hari Senin pukul 06.00 WIB.
Misa Senin pagi ini diharapkan dapat menjadi kesempatan bagi umat untuk mengawali pekan dengan Ekaristi, menyerahkan seluruh aktivitas, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan keluarga ke dalam penyertaan Tuhan.
Menyatukan Langkah, Menguatkan Pelayanan
Rapat rutin bulanan ini menunjukkan pentingnya komunikasi dan koordinasi dalam kehidupan sebuah komunitas gereja. Pertemuan antara Dewan Paroki Administratif dan para Ketua Wilayah menjadi ruang untuk saling mendengarkan, berbagi informasi, serta menyatukan langkah dalam menjalankan pelayanan.
Dengan komunikasi yang terus dibangun, diharapkan setiap bidang, wilayah, dan seluruh penggerak umat dapat berjalan dalam semangat kebersamaan dan saling mendukung.
Bersama melangkah, bersama melayani, dan bersama membangun Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang semakin hidup dalam iman, persaudaraan, dan pelayanan.
Maguwo, 22 Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan terasa begitu hidup di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, umat bersama-sama mengikuti senam sehat bernuansa merah putih dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak pagi, suasana di lingkungan GMBA sudah dipenuhi keceriaan. Nuansa merah putih tampak menghiasi kegiatan, sekaligus menjadi simbol semangat persatuan dan kebersamaan seluruh umat. Dengan penuh antusias, peserta mengikuti setiap gerakan senam yang dipandu bersama dalam suasana yang santai, sehat, dan penuh kegembiraan.
Kegiatan senam sehat tidak hanya menjadi sarana untuk menjaga kebugaran jasmani, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk berjumpa, bersosialisasi, dan mempererat persaudaraan. Tawa dan canda mewarnai kegiatan, menciptakan suasana yang akrab di antara umat dari berbagai lingkungan.
Semakin Meriah dengan Berbagai Lomba
Setelah senam sehat selesai, kemeriahan berlanjut dengan berbagai perlombaan khas perayaan kemerdekaan. Para peserta dengan penuh semangat mengikuti setiap perlombaan yang telah disiapkan.
Tidak hanya peserta lomba, umat yang hadir pun turut memberikan dukungan dan semangat. Sorak-sorai, tawa, dan tepuk tangan terdengar mengiringi jalannya perlombaan. Tidak ada sekat antara usia maupun lingkungan—semuanya larut dalam suasana kebersamaan.
Kegiatan ini menjadi gambaran sederhana bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sehat, gembira, dan mempererat persaudaraan.
Sehat, Gembira, dan Bersaudara
Melalui kegiatan senam sehat dan berbagai perlombaan ini, GMBA Maguwo tidak hanya mengajak umat untuk menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga membangun semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kegembiraan sebagai satu komunitas umat.
Antusiasme seluruh peserta menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Keceriaan yang terpancar sepanjang acara menunjukkan bahwa kebersamaan mampu menghadirkan sukacita sederhana yang mempererat hubungan antarumat.
Semangat merah putih pun tidak berhenti pada simbol dan perayaan. Ia diwujudkan melalui kebersamaan, kepedulian, persaudaraan, serta semangat untuk terus membangun kehidupan bersama.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! 🇮🇩
Sehat badannya, gembira hatinya, erat persaudaraannya.
Dari GMBA Maguwo, semangat kemerdekaan terus menyala dalam kebersamaan umat.
Maguwo, 21 Agustus 2026 — Semangat untuk semakin mengenal, mencintai, dan menghidupi Sabda Tuhan mulai digaungkan di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Bertempat di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), pada Jumat, 21 Agustus 2026, dilaksanakan Sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 sebagai persiapan umat menyambut pelaksanaan BKSN sepanjang bulan September mendatang.
Kegiatan ini diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari para pemandu lingkungan dari 17 lingkungan, Ketua Lingkungan (Kaling), prodiakon, serta suster. Kehadiran para peserta menjadi wujud nyata kesiapan para penggerak umat untuk bersama-sama menghidupkan semangat membaca, memahami, merenungkan, dan mewartakan Sabda Tuhan di tengah kehidupan umat.
Sosialisasi BKSN ini diselenggarakan oleh Bidang Pewarta, Tim Pelayanan Katekis dan Pemandu Lingkungan, bersama Tim Pelayanan Kerasulan Kitab Suci. Sinergi berbagai unsur pelayanan ini menunjukkan bahwa pewartaan Sabda Tuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu bidang, melainkan menjadi panggilan bersama seluruh umat.
Belajar, Bergembira, dan Berbagi
Kegiatan diawali dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan agar seluruh rangkaian persiapan BKSN dapat berjalan dengan baik dan membawa buah bagi kehidupan iman umat.
Selanjutnya, peserta mendapatkan materi sosialisasi BKSN sebagai bekal untuk mendampingi umat di lingkungan masing-masing selama bulan September. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak untuk memahami dan mempersiapkan pelaksanaan BKSN secara lebih konkret.
Suasana semakin cair ketika kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking dan doorprize. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk membangun keakraban, mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan kegembiraan dalam kebersamaan.
Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan menjadi ruang untuk memperjelas materi sekaligus berbagi pengalaman mengenai pendampingan umat di lingkungan masing-masing.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar semangat yang diperoleh dalam sosialisasi ini tidak berhenti di dalam ruang pertemuan, tetapi benar-benar diteruskan kepada umat di 17 lingkungan di wilayah Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
Menjadikan Sabda sebagai Jalan Hidup
BKSN bukan sekadar kegiatan yang berlangsung selama satu bulan. Lebih dari itu, BKSN menjadi momentum bagi umat untuk kembali mendekatkan diri kepada Kitab Suci dan menemukan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup sehari-hari.
Melalui para pemandu lingkungan, Kaling, prodiakon, suster, serta seluruh penggerak umat, diharapkan semangat mencintai Kitab Suci semakin tumbuh dan mengakar dalam kehidupan menggereja.
Bulan September akan menjadi bulan untuk semakin dekat dengan Sabda Tuhan: membaca, mendengarkan, merenungkan, dan akhirnya mewujudkannya dalam kehidupan nyata.
Dari Sabda, kita belajar. Dari Sabda, kita diteguhkan. Dan dari Sabda, kita diutus untuk menjadi berkat bagi sesama.
Selamat menyambut BKSN 2026. Semoga Sabda Tuhan semakin hidup dalam diri kita, keluarga, lingkungan, dan seluruh umat Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
MERAYAKAN HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Disampaikan pada HR Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Sabtu – Minggu, 15 – 16 Agustus 2026
“Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”
Saudari-saudara, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang terkasih, Berkah Dalem.
Pada 17 Agustus 2026, kita memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan penuh syukur, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dinikmati, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat. Mardika iku ora mung uwal saka penjajahan, nanging uga wani mbangun urip bebarengan kang luwih adil lan sejahtera. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.
Surat Gembala ini bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria menjadi tanda harapan: Allah mengangkat dan memuliakan manusia yang setia kepada-Nya. Bunda Maria mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk mementingkan diri sendiri, melainkan kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama. Bersama Bunda Maria, marilah kita membawa harapan itu ke dalam kehidupan berbangsa.
Saudari-saudara yang terkasih,
Kita bersyukur atas banyak kemajuan bangsa. Namun, berbagai persoalan masih kita hadapi. Kesenjangan ekonomi masih terasa, dan bahkan semakin terasakan akhir-akhir ini. Sebagian saudara kita masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman ruang dan masyarakat sipil, kekerasan, perdagangan manusia, dan berbagai ketidakadilan masih melukai kehidupan bersama.
Persaudaraan pun mudah retak karena perbedaan agama, etnis dan pilihan politik, sikap merasa kelompok sendiri paling benar, berita bohong, dan ujaran kebencian. Alam juga terluka: hutan berkurang dan hancur akibat penebangan secara tidak bertanggungjawab, sungai tercemar akibat limbah yang tidak diolah, sampah menumpuk hingga mengganggu kesehatan, dan penambangan yang tidak bertanggung jawab demi mengejar keuntungan ekonomi. Ini semua mengancam kehidupan masyarakat serta masa depan generasi mendatang.
Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan memang membawa banyak manfaat positif, tetapi juga rentan merendahkan martabat manusia. Dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, tertanggal 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia dan untuk kebaikan bersama. Teknologi tidak boleh menguasai, menggantikan, atau merendahkan manusia.
Di tengah berbagai persoalan itu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan kristiani bukanlah menunggu sambil berpangku tangan. Harapan menggerakkan kita untuk bertindak bersama. Terkait dengan hal ini, Nabi Yeremia berpesan, “Usahakanlah kesejahteraan kota … sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Karena itu, mencintai dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur merupakan bagian dari panggilan iman kita.
Saudari-saudara yang terkasih,
Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup Asia atau FABC, pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta, mengajak Gereja – ya kita semua – untuk melakukan pertobatan sinodal dengan “menjadi jembatan dan pembangun jembatan”. Ajakan ini sangat penting dan relevan bagi bangsa Indonesia dengan semua kemajemukannya. Kita tidak cukup hanya hidup berdampingan. Kita dipanggil untuk membangun perjumpaan satu dengan yang lain; saling mendengarkan, memahami, dan bekerja sama membangun peradaban kasih. Itulah sebabnya dibutuhkan jembatan-jembatan dialog yang menghubungkan satu sama lain.
Menjadi jembatan berarti menghubungkan mereka yang berbeda dan mempertemukan mereka yang berseberangan dan berseteru. Kita mesti memulai dengan komunikasi kasih: berbicara jujur tanpa melukai, mendengarkan tanpa prasangka, berani meminta maaf seraya mengakui kekurangan, dan tulus mengampuni tanpa syarat. Jika ada keretakan, kita berani mengambil langkah pertama menuju perdamaian, baik di dalam keluarga, lingkungan, paroki, komunitas, tempat kerja, ataupun masyarakat.
Inilah laku pertobatan: urip bebarengan iku kudu gelem ngrungokake, ngurmati, lan nyengkuyung siji lan sijine. Hidup bersama bertumbuh ketika kita saling mendengarkan, menghormati, dan meneguhkan.
Saudari-saudara yang terkasih,
Dalam semangat ARDAS IX, kita ingin menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Kebahagiaan kristiani tumbuh ketika kehadiran kita membuat sesama mengalami kasih, harapan, dan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, perayaan kemerdekaan ini mengundang kita menempuh empat langkah pertobatan bersama.
Pertama, marilah menjadi jembatan dan pembangun jembatan. Kita membangun dan mengembangkan komunikasi kasih yang saling menghormati dan mengikis perseteruan, permusuhan, atau konflik. Kita membangun dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian.
Kedua, marilah merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan. Kita dampingi keluarga miskin dan rentan. Kita dukung usaha kecil dan koperasi yang sesungguhnya dan sudah berkembang baik, serta membuka kesempatan kerja. Pada saat yang sama, kita mengembangkan laku lestari seperti mengurangi pemakaian plastik, memilah dan mengolah sampah menjadi berkah, menghemat dan menjaga sumber air, misalnya dengan membuat sumur resapan di sekitar rumah, serta menanam dan merawat pohon.
Keluarga, lingkungan, paroki, sekolah, rumah sakit, komunitas, dan lembaga Katolik mesti mempunyai langkah bersama yang jelas dan dapat dievaluasi. Kemajuan ekonomi kita upayakan bersama dengan tetap menjaga kelestarian alam, bukan dengan eksploitasi berlebihan yang merusak kehidupan.
Ketiga, marilah menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia. Kita periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya; tidak membuat atau menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu, dan ujaran kebencian sebagaimana masih sering kita jumpai. Teknologi memang membantu kita mengambil keputusan, namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.
Keempat, kepada para pemimpin dan pemegang tanggung jawab publik, kita menaruh harapan agar berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat. Setiap kebijakan semoga lahir dari kesediaan mendengarkan suara dan kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah serta dijalankan dengan jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan, kesejahteraan bersama, dan kelestarian alam.
Saudari-saudara yang terkasih,
Marilah merayakan kemerdekaan bangsa ini dengan syukur dan tanggung jawab. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya peroleh dari bangsa kita”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi Indonesia”. Kiranya masingmasing dari kita dapat mempersembahkan satu langkah nyata: memulihkan hubungan yang retak, menolong keluarga yang kesulitan, merawat lingkungan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menyuarakan kebenaran dan keadilan demi kebaikan bersama.
Urip iku urup. Hidup kita hendaknya menjadi terang dan membawa manfaat bagi sesama. Semoga tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi titik pijak pertobatan bersama untuk membangun Indonesia yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur.
Semoga Tuhan Yang Mahapengasih memberkati bangsa dan negara kita. Semoga Santa Perawan Maria yang diangkat ke surga, Bunda segala bangsa dan tanda harapan bagi umat beriman, menyertai perjalanan Indonesia menuju kehidupan yang semakin sejahtera, adil, makmur, manusiawi, dan lestari. Berkah Dalem. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ! MERDEKA !
GEREJA MARIA BUNDA ALLAH MAGUWO — Perayaan Ekaristi adalah puncak dan sumber seluruh kehidupan Kristiani. Namun, acap kali ibadat mulia ini terancam menjadi sekadar rutinitas lahiriah tatkala setiap bahasa tubuh, tindakan simbolis, dan tata perayaan yang dihadirkan di panti imam tidak lagi diresapi teologi perjumpaannya.
Menjawab panggilan untuk membarui keanggunan ibadat suci tersebut, Paroki Maria Bunda Allah Maguwo mengumpulkan para pelayan altar dan utusan lingkungan dalam pembekalan bertajuk “Belajar Liturgi Bersama” pada Minggu, 26 Juli 2026. Pembekalan ini menghadirkan Romo Yohanes Subali, Pr sebagai narasumber teologis dan dipandu oleh Mas Danang Afriady sebagai MC sekaligus moderator. Acara dibuka dengan sambutan dari Ketua Bidang Liturgi Paroki Administratif Maguwo, ibu YV. Retno Wulandari, dilanjutkan dengan materi yang sangat padat dari romo Yohanes Subali, Pr.
I. Tubuh yang Berdoa: Bahasa Raga sebagai Ungkapan Iman
Dalam pencerahannya, Romo Yohanes Subali, Pr menegaskan bahwa persekutuan umat yang berkumpul itu sendiri merupakan simbol utama Gereja yang sedang berziarah menuju tanah terjanji. Allah hadir dan menyapa manusia tidak hanya melalui kata-kata, melainkan melalui sarana indrawi, apa yang didengar, dilihat, disentuh, dan dibaui.
Oleh sebab itu, tata gerak tubuh (body language) dalam liturgi bukanlah gerakan mekanis, melainkan ungkapan batin yang menjelma:
Berjalan dengan Bermartabat: Langkah kaki saat perarakan melambangkan peziarahan iman Umat Allah yang aktif dan penuh sukacita menyambut tawaran rahmat keselamatan.
Berdiri dan Duduk: Sikap berdiri mengungkapkan kesiapsediaan diri, penghormatan agung, dan kebangkitan bersama Kristus. Sementara sikap duduk mencerminkan keheningan hati yang siap mendengarkan Sabda serta merenungkan karya-Nya.
Berlutut, Membungkuk, dan Menebah Dada: Suatu gerakan kerendahan hati yang mendalam, menghormati kehadiran Allah yang Mahakudus seraya mengakui ketidaklayakan dan pertobatan diri di hadapan-Nya.
Gerakan Tangan yang Suci: Tangan terkatup menandakan doa yang terpusat dan penyerahan; tangan terentang melambangkan keterbukaan menerima rahmat; serta penumpangan tangan yang menyalurkan daya Roh Kudus dan berkat ilahi.
“Liturgi bukanlah sekadar pertunjukan tata cara ritual yang kaku, melainkan penyingkapan misteri keselamatan Allah di mana pancaindra manusia diangkat untuk mengecap keindahan surgawi.”
II. Sarana Alamiah dan Sakral: Menguduskan yang Tercipta
Liturgi Katolik merangkul seluruh ciptaan untuk menjadi tanda kurnia Allah. Benda-benda biasa dari alam dan buatan manusia diangkat serta dikuduskan menjadi sarana sakramental. Air pembaptisan yang memberi kehidupan, Roti dan Anggur murni yang mentransubstansiasi menjadi Tubuh dan Darah Kristus, serta Minyak Suci (OI, OC, SC) yang menguatkan, semuanya berbicara tentang rahmat Allah yang nyata dan menyentuh pengalaman insani.
Demikian pula halnya dengan peralatan dan bejana suci, seperti Piala, Patena, Sibori, Ampul, hingga Korporal dan Purifikatorium. Setiap detail tata letak bejana Ekaristi menuntut kecermatan dan keandalan para pelayan altar sebagai bentuk rasa hormat dan pemuliaan terhadap Sakramen Mahakudus.
III. Tata Ruang, Warna, dan Waktu: Keanggunan Rumah Allah
Lebih lanjut, Romo Subali mengurai teologi ruang ibadat yang berpusat pada Tiga Pilar Utama Panti Imam:
Altar — Sebagai pusat Perjamuan Kurban Kristus.
Mimbar — Sebagai tempat pemecahan Roti Sabda.
Kursi Imam — Sebagai pusat persekutuan umat yang dipimpin dalam nama Kristus.
Warna-warna liturgi, mulai dari Putih kemuliaan, Merah api martir dan Roh Kudus, Hijau pengharapan, Ungu pertobatan, hingga Jingga(Pink) sukacita Gaudete & Laetare, serta busana suci (Alba, Stola, dan Kasula) menjadi khazanah estetika iman yang menuntun batin umat menyelami ritme Tahun Liturgi yang berpuncak pada Misteri Paskah Kristus.
Tanya Jawab
Di samping materi yang diberikan, ada sesi tanya jawab yang disampaikan peserta kepada romo Subali. Pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan terutama yang terjadi di lingkungan-lingkungan maupun di gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Para peserta sangat antusias bertanya hingga tidak terasa waktu sudah menunjuk pukul 12.00 yang artinya acara harus segera berakhir.
Buah Refleksi dan Komitmen Bersama
Melalui dialog yang hangat dan interaktif bersama 65 orang, terdiri dari para prodiakon, tim pelayanan di bidang liturgi, dan perwakilan dari 17 lingkungan, pembekalan ini memperbarui komitmen bersama. Pelayanan liturgi bukanlah soal “kelancaran teknis” semata, melainkan buah dari penghayatan iman yang mendalam.
Semoga setiap perayaan Ekaristi di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo senantiasa memancarkan keagungan, keheningan yang suci, dan membawa seluruh umat semakin erat bersatu dengan Kristus.
Selamat datang di halaman karya seni Lelang Amal Paroki Administratif Maguwo.
Setiap karya yang dipamerkan di sini lahir dari perpaduan talenta, ketekunan, dan iman. Di balik setiap sapuan warna maupun setiap helai benang yang tersulam, tersimpan sebuah kisah, doa, dan permenungan yang mengajak kita semakin dekat kepada Tuhan.
Panitia Pengembangan dan Penataan Kawasan GMBA mengundang Anda untuk mengenal makna di balik setiap karya, menghayati pesan rohani yang ingin disampaikan, dan bila berkenan, mengambil bagian dalam lelang amal ini. Setiap penawaran yang Anda berikan bukan hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga ungkapan kasih yang turut mendukung penataan kawasan Gereja sebagai rumah bersama bagi umat Allah.
Semoga setiap karya yang Anda nikmati hari ini menghadirkan inspirasi, kedamaian, dan semakin menumbuhkan iman dalam perjalanan hidup kita.
Keheningan dalam Dekapan Kasih Bunda
Karya: Johannes de Britto (Bang Joe)
Medium: Lukisan kopi di atas kanvas
Ukuran: 58 × 79 cm
Harga Pembuka Lelang (OB): Rp25.000.000
Tidak banyak medium yang mampu menghadirkan kehangatan sekaligus kesederhanaan seperti kopi. Melalui sapuan gradasi warna cokelat monokromatik, Bang Joe menghadirkan sosok Bunda Maria yang teduh, penuh damai, dan larut dalam penyerahan diri kepada Allah.
Mata yang terpejam, raut wajah yang lembut, serta lingkaran cahaya di belakang kepala menghadirkan suasana kontemplatif yang mengajak setiap orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di hadapan karya ini, kita diajak memasuki keheningan doa bersama Bunda Maria, keheningan yang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam hati.
Keunikan karya ini terletak pada mediumnya. Ampas kopi, sesuatu yang sering dianggap sebagai sisa dan tidak lagi bernilai, justru diolah menjadi sebuah karya yang memancarkan keindahan. Hal ini menjadi lambang bahwa Tuhan mampu mengubah hal-hal yang sederhana menjadi sarana kemuliaan-Nya. Seperti hidup manusia, yang mungkin penuh kekurangan, namun di tangan Tuhan dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.
Tekstur lembut pada jubah Bunda Maria menyerupai gumpalan awan yang menaungi. Ia mengingatkan kita akan kasih seorang ibu yang selalu melindungi, menguatkan, dan menghadirkan ketenangan bagi anak-anaknya di tengah berbagai pergumulan hidup.
Melalui lelang amal ini, karya ini tidak hanya menjadi sebuah koleksi seni, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan iman umat. Setiap penawaran yang diberikan merupakan ungkapan syukur dan dukungan nyata bagi penataan dan pengembangan kawasan Gereja, agar semakin banyak orang dapat menemukan rumah untuk berdoa, bertumbuh, dan mengalami kasih Tuhan.
Semoga siapa pun yang kelak memiliki karya ini senantiasa menemukan kedamaian, pengharapan, dan penghiburan setiap kali memandang wajah Bunda Maria yang penuh kasih.
Jesus of Nazareth
Karya: Annie Maria
Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
Ukuran: 54 × 78 cm
Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000
Karya sulaman kristik ini merupakan buah ketekunan, kesabaran, dan doa yang diwujudkan melalui ribuan persilangan benang. Sedikit demi sedikit, setiap tusukan benang membentuk wajah Yesus dari Nazaret yang mengenakan mahkota duri, sebuah gambaran akan kasih yang rela berkorban demi keselamatan umat manusia.
Tatapan Yesus yang mengarah ke atas menghadirkan kesan kepasrahan yang sempurna kepada kehendak Bapa. Di balik latar gelap yang melambangkan beratnya dosa dunia, cahaya pada wajah-Nya tetap memancarkan harapan, belas kasih, dan kemenangan kasih Allah atas penderitaan.
Teknik kristik sendiri memiliki makna rohani yang mendalam. Setiap persilangan benang adalah tindakan kecil yang dilakukan berulang kali dengan penuh kesetiaan. Seperti perjalanan iman, keindahan tidak lahir dalam sekejap, melainkan melalui kesabaran, ketekunan, dan kesediaan untuk terus melangkah, meskipun perlahan.
Perpaduan warna merah pada jubah Kristus dengan gradasi benang yang halus memberi kehidupan pada karya ini, menghadirkan sosok Sang Penebus yang tetap memandang umat-Nya dengan penuh cinta.
Melalui lelang amal ini, setiap penawaran bukan hanya bentuk penghargaan terhadap sebuah karya seni, tetapi juga menjadi persembahan kasih yang mendukung penataan dan pengembangan kawasan Gereja sebagai tempat umat berhimpun, beribadah, dan bertumbuh dalam iman.
Kiranya karya ini menjadi pengingat bahwa kasih Kristus selalu menyertai setiap langkah kehidupan.
Bunda Maria Penolong Senantiasa(Our Lady of Perpetual Help)
Karya: Annie Maria
Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
Ukuran: 51 × 82 cm
Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000
Dalam tradisi Gereja, Bunda Maria dikenal sebagai Penolong Senantiasa, ibu yang tidak pernah berhenti mendampingi dan mendoakan anak-anaknya. Melalui ribuan persilangan benang yang disusun dengan penuh ketelitian, Annie Maria menghadirkan sosok Bunda Maria dalam sikap doa yang tenang dan penuh pengharapan.
Perpaduan warna biru kehijauan pada jubah melambangkan kemanusiaan, sementara nuansa keemasan menggambarkan rahmat Allah yang menaungi hidupnya. Lingkaran cahaya di belakang kepala menegaskan panggilannya sebagai Bunda Sang Juruselamat, sedangkan kedua tangan yang terkatup mengajak setiap orang untuk percaya akan kuasa doa dan penyertaan Tuhan.
Karya ini berpusat pada semangat Fiat kesediaan Bunda Maria untuk menjawab, “Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Ketaatan yang lahir dari iman itulah yang menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam menghadapi suka maupun duka kehidupan.
Setiap helai benang yang disulam dengan sabar menjadi lambang doa-doa kecil yang dipersembahkan hari demi hari. Mungkin tidak selalu terlihat, namun pada akhirnya membentuk sebuah kesaksian iman yang utuh dan indah.
Dengan mengikuti lelang amal ini, Anda tidak hanya membawa pulang sebuah karya seni bernilai tinggi, tetapi juga turut mengambil bagian dalam penataan dan pengembangan kawasan Gereja, tempat di mana iman terus dipelihara dan harapan terus dihidupkan.
Semoga kehadiran karya ini senantiasa mengingatkan setiap keluarga akan kasih keibuan Bunda Maria yang selalu menyertai, menghibur, dan membawa setiap doa kepada Putra-Nya.
Maguwo – Suasana Perayaan Ekaristi Minggu pagi di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Paroki Administratif Maguwo pada Minggu (28/6/2026) terasa istimewa. Selain mengikuti Misa Kudus yang dipimpin oleh Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., umat juga disuguhkan sebuah persembahan seni melalui live painting oleh pelukis kopi ternama, Johannes de Britto.
Dengan penuh ketekunan, Johannes de Britto melukiskan Bunda Maria menggunakan media kopi yang menjadi ciri khas karya-karyanya. Selama proses melukis berlangsung, perhatian umat beberapa kali tertuju pada kanvas yang perlahan menampilkan sosok Bunda Maria. Banyak umat tampak antusias menyaksikan setiap goresan kuas yang dikerjakan secara langsung di tengah perayaan Ekaristi.
Kehadiran live painting ini memberikan pengalaman yang unik. Seni dan liturgi berpadu secara harmonis, menghadirkan suasana reflektif tanpa mengurangi kekhusyukan Misa. Umat tidak hanya mengikuti perayaan Ekaristi, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah karya seni religius lahir sebagai ungkapan iman dan persembahan bagi Tuhan.
Yang menarik, lukisan Bunda Maria hasil live painting tersebut tidak disimpan oleh pelukis, melainkan dilelang kepada masyarakat umum. Seluruh hasil lelang kemudian dialokasikan sebagai dana donasi untuk mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui cara ini, karya seni tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi sarana nyata untuk mendukung pembangunan dan pelayanan Gereja.Inisiatif tersebut mendapat sambutan yang hangat dari umat. Banyak yang mengapresiasi kepedulian Johannes de Britto yang mempersembahkan talenta seninya bagi karya pastoral Gereja. Antusiasme umat terlihat sepanjang kegiatan, baik saat menyaksikan proses melukis maupun ketika mengetahui bahwa hasil karya tersebut akan dilelang demi mendukung pengembangan kawasan gereja.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap talenta dapat dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama. Seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Semangat itulah yang tercermin dalam setiap sapuan kuas Johannes de Britto, menjadikan lukisan Bunda Maria bukan sekadar sebuah karya seni, melainkan sebuah karya kasih yang menghadirkan manfaat bagi Gereja dan seluruh umat.
Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2026 lalu, kami, para bendahara dan karyawan administrasi keuangan dari berbagai paroki di Kevikepan Jogja Timur mengikuti Pelatihan Bendahara dan Karyawan Administrasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang di PPSM (Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan).
Pesertanya cukup banyak. Ada perwakilan dari 19 paroki, 2 paroki administratif, dan 2 stasi dari Kevikepan Jogja Timur. Dari Paroki Administratif Maguwo sendiri, keempat bendahara ikut hadir. Kesempatan yang baik karena jarang rasanya bisa belajar bersama dalam formasi yang lengkap seperti ini.
Materi yang diberikan cukup padat. Ada delapan materi yang harus diselesaikan dalam dua hari. Mulai dari pemahaman tugas masing-masing bendahara, Akuntansi Paroki dan KAP (Keuangan Akuntansi Paroki), tata cara pencatatan keuangan, aset dan inventarisasi aset, perpajakan, sampai penyusunan RAB (Rancana Anggaran & Beban), RAPAT (Rencana Anggaran & Pengadaan Aset Tetap), dan proposal.
Jujur saja, beberapa materi membuat kepala sedikit berasap. Tetapi untungnya para narasumber Ekonomat Keuskupan Agung Semarang menyampaikan dengan sabar dan cukup membumi. Banyak pertanyaan yang muncul, banyak diskusi terjadi. kadang serius, kadang diselingi tawa. Dari situlah terasa bahwa hampir semua peserta memiliki pergumulan yang mirip dalam pelayanan sehari-hari.
Yang biasanya disukai dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, tetapi juga kesempatan bertemu dengan orang-orang yang menjalani pelayanan yang sama. Ada rasa bahwa kami tidak berjalan sendirian. Banyak hal yang ternyata bisa dipelajari dari pengalaman paroki lain.
Hari pertama bahkan berakhir hampir pukul 10 malam. Saat sesi terakhir malam itu selesai, hampir semua peserta langsung tersenyum lega.
Yang menyenangkan dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, kami juga menikmati obrolan-obrolan kecil saat jeda kopi, saat makan, atau ketika saling bertanya bagaimana praktik administrasi di paroki masing-masing. Ternyata banyak tantangan yang mirip-mirip. Ada yang bergumul dengan inventaris aset, ada yang masih belajar memahami KAP, ada juga yang berbagi cara agar administrasi bisa lebih rapi tanpa membuat pelayanan menjadi kewalahan.
PPSM sendiri selalu punya suasana yang khas. Tenang. Tidak banyak kebisingan. Di dekat kapel terdengar suara air mengalir yang membuat suasana semakin damai.
Kapelnya tidak besar, tetapi heningnya terasa. Kadang kita datang membawa banyak pikiran, banyak pekerjaan yang menunggu, banyak angka yang harus dibereskan. Tetapi di tempat itu rasanya Tuhan hanya meminta kita duduk sebentar dan beristirahat.
Sabtu pagi, 20 Juni 2026, kami mengikuti misa yang dipimpin Romo Ekonomat. Bacaan Injil diambil dari Matius 6:24-34 tentang jangan khawatir akan hidupmu.
Tentu saja itu terasa sangat “pas” dengan pelatihan kami akhir minggu kemarin. Bahkan Romo menyampaikan di homilinya, bacaan hari itu seperti Tuhan berbicara langsung kepada para Bendahara dan karyawan administrasi Paroki.
Dua hari kami berbicara tentang anggaran, laporan keuangan, aset, inventaris, dan berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Lalu Injil pagi itu mengingatkan bahwa hidup bukan pertama-tama soal semua itu.
Bukan berarti keuangan tidak penting. Justru karena penting maka harus dikelola dengan baik. Tetapi di atas semua angka dan laporan itu, tetap ada Tuhan yang memelihara Gereja-Nya.
Pelatihan ditutup dengan peneguhan dari Romo Ekonomat. Dari banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang masih teringat sampai perjalanan pulang.
“If you lose your wealth, you have lost nothing; if you lose your health, you have lost something; but if you lose your character, you have lost everything.”
Sebagai bendahara, kalimat itu terasa sangat dekat. Karena pada akhirnya yang paling dijaga bukan hanya uang atau laporan keuangan, melainkan kepercayaan.
Pelatihan selesai pukul 13.00 dan ditutup dengan makan siang bersama. Setelah itu kami kembali ke paroki masing-masing dengan catatan yang lebih penuh daripada saat datang.
Semoga apa yang dipelajari selama dua hari ini tidak berhenti di buku catatan atau file presentasi saja, tetapi sungguh membantu pelayanan kami sehari-hari.
Karena menjadi bendahara paroki bukan sekadar mengurus angka.
Di balik setiap angka, ada kepercayaan umat yang harus dijaga.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo