Usai Perayaan Ekaristi pada Minggu pagi, para putra dan putri altar Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo berkumpul bersama di area belakang gereja untuk mengikuti pengarahan dan pembinaan bersama pendamping, Bapak Andre. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan berkelanjutan bagi para misdinar agar semakin memahami tanggung jawab mereka dalam pelayanan liturgi.
Dalam suasana penuh keakraban namun tetap serius, para putra putri altar diajak untuk semakin menumbuhkan disiplin, kekompakan, serta rasa tanggung jawab dalam menjalankan tugas pelayanan di altar. Sebagai pelayan liturgi, para misdinar diharapkan tidak hanya hadir untuk membantu jalannya misa, tetapi juga mampu menunjukkan sikap hormat, kesiapan, dan keteladanan di dalam gereja.
Pengarahan ini juga menjadi langkah persiapan menuju perkembangan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang ke depan akan memasuki tahap sebagai Paroki Administratif. Dengan bertumbuhnya kehidupan menggereja di GMBA, para putra putri altar diharapkan semakin siap mengambil bagian dalam pelayanan Gereja secara lebih dewasa dan bertanggung jawab.
Melalui pembinaan sederhana namun bermakna ini, diharapkan semangat pelayanan para misdinar terus bertumbuh, sehingga mereka dapat menjadi generasi muda Gereja yang setia melayani, mencintai liturgi, serta turut membangun kehidupan umat di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.
Bagi umat Katolik di seluruh dunia, bulan Mei bukan sekadar pergantian kalender. Gereja sejak lama menetapkan bulan ini sebagai Bulan Maria — waktu istimewa yang dipersembahkan untuk menghormati dan merenungkan peran Santa Perawan Maria dalam karya keselamatan Allah. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai ungkapan kasih dan penghormatan umat kepada Bunda Tuhan, yang dengan setia mendampingi perjalanan Gereja.
Di sepanjang bulan Mei, umat diajak untuk semakin dekat dengan Bunda Maria — bukan untuk menyembahnya, melainkan meneladani hidupnya yang penuh kerendahan hati, ketaatan, dan iman yang total kepada kehendak Allah. Maria menjadi teladan murid sejati, seorang ibu yang senantiasa mengarahkan hati umat kepada Putranya, Yesus Kristus.
Doa Rosario: Jalan Kontemplasi Bersama Maria
Salah satu bentuk devosi yang paling khas dalam Bulan Maria adalah Doa Rosario. Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diucapkan berulang, melainkan sebuah doa kontemplatif bersama Maria dalam merenungkan misteri kehidupan Kristus: mulai dari Sukacita Inkarnasi, Terang Pewartaan, Dukacita Sengsara, hingga Kemuliaan Kebangkitan-Nya. Setiap butir Rosario menjadi langkah iman yang menuntun umat pada keheningan hati dan persatuan yang semakin mendalam dengan Tuhan.
Para Paus dalam ajaran Gereja terus mengajak umat untuk tekun mendaraskan Rosario, terutama pada bulan Mei dan Oktober. Melalui doa sederhana namun mendalam ini, umat memohon damai bagi keluarga, Gereja, dan dunia. Rosario menjadi jembatan doa yang menghubungkan bumi dan surga, tempat umat bersandar dalam kasih keibuan Bunda Maria.
Pelayanan Tim Soundsystem: Menghidupkan Suasana Doa yang Khidmat
Dalam semangat Bulan Maria inilah, Tim Soundsystem Gereja Maria Bunda Allah Maguwo dengan penuh sukacita turut ambil bagian dalam pelayanan Doa Rosario bersama umat. Kehadiran mereka bukan semata-mata sebagai pendukung teknis, melainkan sebagai bagian dari persekutuan umat yang bersama-sama menghidupkan suasana doa yang khidmat dan penuh penghayatan.
Melalui pelayanan yang tulus, mereka membantu agar setiap doa, lagu pujian, dan renungan dapat terdengar dengan jelas, sehingga seluruh umat dapat berdoa dengan lebih nyaman dan khusyuk. Pelayanan ini menjadi wujud nyata bahwa setiap talenta dapat dipersembahkan demi kemuliaan Tuhan dan penghormatan kepada Bunda Maria. Di balik perangkat dan tata suara yang tertata, tersimpan semangat pelayanan yang sederhana namun bermakna: menghadirkan suasana liturgis yang membantu umat semakin dekat dengan Allah.
Maguwoharjo — Dewan Pastoral Stasi (DPS) Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo menggelar rapat koordinasi rutin pada Jumat, 15 Mei 2026 di Sekretariat GMBA. Pertemuan yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus DPS, para Ketua Wilayah, serta Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.
Rapat berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan. Selain membahas agenda rutin pastoral bulanan, pertemuan ini juga menjadi momen penting dalam mempersiapkan berbagai hal menjelang perubahan status Stasi Gereja Maria Bunda Allah menjadi Paroki Administratif yang direncanakan pada bulan Juni mendatang.
Dalam sambutannya, Ketua Stasi GMBA, Yohanes Agung Prasetya menyampaikan harapan agar seluruh pengurus dan umat dapat terus menjaga semangat persatuan dan gotong royong dalam mendukung perkembangan Gereja. Beliau juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempersiapkan diri menyambut perubahan status tersebut dengan penuh tanggung jawab dan sukacita pelayanan.
Pada kesempatan itu, para pengurus stasi turut menyampaikan laporan kegiatan dan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi serta evaluasi pelayanan yang telah berjalan selama beberapa waktu terakhir. Berbagai program dan kegiatan pastoral yang telah dilaksanakan dibahas bersama guna meningkatkan pelayanan kepada umat di masing-masing wilayah.
Para Ketua Wilayah juga menyampaikan perkembangan dan kondisi wilayah masing-masing sebagai bagian dari koordinasi bersama yang disampaikan oleh Mas Heru selaku Sekretaris Stasi. Kehadiran Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr. memberikan pendampingan serta arahan pastoral bagi seluruh peserta rapat. Beliau mengajak seluruh umat untuk terus bertumbuh dalam iman, mempererat kebersamaan, dan aktif terlibat dalam kehidupan menggereja serta menyampaikan banyak masukan yang membangun.
Dengan adanya rencana peningkatan status menjadi Paroki Administratif, diharapkan Gereja Maria Bunda Allah dapat semakin berkembang dalam pelayanan pastoral serta semakin dekat dalam menjawab kebutuhan umat. Momentum ini menjadi tanda pertumbuhan dan perjalanan Gereja yang terus berkembang bersama seluruh umatnya.
Pada hari Kamis, 14 Mei 2026, bertepatan dengan perayaan Hari Kenaikan Tuhan Yesus, Dewan Pastoral Harian (DPH) Stasi Maguwo mengikuti kegiatan Sosialisasi dan Pendalaman Materi Baseline Kevikepan Yogyakarta Timur yang diselenggarakan di Gereja St Yohanes Rasul Pringwulung.
Kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya bersama untuk semakin memahami arah pelayanan pastoral Gereja di wilayah Kevikepan Yogyakarta Timur. Melalui materi baseline yang disampaikan, para peserta diajak untuk melihat situasi nyata umat, membaca tantangan zaman, serta merumuskan langkah pelayanan yang lebih relevan, partisipatif, dan menyentuh kebutuhan umat di tengah masyarakat.
Dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan, para peserta tidak hanya menerima pemaparan materi, tetapi juga berdiskusi dan berbagi pengalaman pelayanan dari wilayah masing-masing. Pertemuan ini menjadi ruang refleksi bersama agar pelayanan Gereja semakin hidup, terbuka, dan mampu menjawab kebutuhan umat secara nyata.
Keikutsertaan DPH Stasi Maguwo dalam kegiatan ini juga sejalan dengan semangat Nota Pastoral Keuskupan Agung Semarang serta arah Program Ardas yang mendorong Gereja untuk terus hadir di tengah umat, membangun solidaritas, memperkuat keterlibatan bersama, dan mengembangkan pelayanan yang berorientasi pada kesejahteraan bersama. Semangat sinodalitas dan berjalan bersama sebagai Gereja menjadi nilai yang terus dihidupi dalam setiap proses pelayanan pastoral.
Momentum Hari Kenaikan Tuhan Yesus semakin meneguhkan panggilan seluruh pelayan Gereja untuk terus melanjutkan karya pelayanan dengan penuh iman, harapan, dan kasih. Diharapkan, melalui kegiatan ini, DPH Stasi Maguwo semakin mampu menghadirkan pelayanan yang berdaya guna, membangun persekutuan, dan membawa semangat Gereja yang hidup di tengah umat dan masyarakat.
Pada hari Minggu, 3 Mei, suasana di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hidup dan penuh sukacita. Sesuai dengan jadwal liturgi, Lingkungan St. Gabriel mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai tim koor dalam misa pagi. Tugas ini tidak dijalankan secara instan, melainkan melalui proses persiapan yang matang dan penuh kebersamaan.
Di bawah koordinasi Seksi Koor lingkungan yang dipimpin oleh Ibu Intan, berbagai persiapan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Lagu-lagu liturgi dipilih dengan cermat, disesuaikan dengan tema perayaan, lalu dilatih secara intensif sebanyak enam kali pertemuan. Ibu Intan sendiri turun langsung melatih, membimbing dengan penuh kesabaran dan semangat, memastikan setiap anggota koor memahami dinamika dan makna dari setiap lagu yang akan dipersembahkan.
Yang istimewa, latihan koor ini melibatkan seluruh lapisan umat—mulai dari anak-anak PIA, remaja, OMK, hingga para orang tua. Kebersamaan lintas generasi ini menciptakan suasana latihan yang hangat dan penuh kekeluargaan. Meskipun beberapa kali latihan harus diwarnai oleh turunnya hujan, hal itu tidak menyurutkan semangat umat untuk hadir dan berlatih. Justru, di tengah keterbatasan itu, semangat pelayanan semakin terasa kuat dan tulus.
Tibalah hari yang dinanti. Sejak pukul 06.30 WIB, tim koor sudah hadir dan bersiap dengan penuh antusias. Dengan dresscode bernuansa putih dan biru muda, seluruh anggota koor tampil serasi dan rapi, mencerminkan kesederhanaan sekaligus kekhidmatan. Iringan musik dipercayakan kepada Bapak Henri Yulianto sebagai organis, yang dengan apik mengalun mengiringi setiap lagu.
Perayaan misa pun berlangsung dengan lancar dan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang telah dilatih dengan tekun dipersembahkan dengan harmonis dan menyentuh hati. OMK turut ambil bagian sebagai dirigen, yaitu Mandriva dan Valen, yang memimpin koor dengan penuh percaya diri. Dari kalangan remaja, Aurel dipercaya sebagai pemazmur dan membawakan mazmur dengan indah serta penuh penghayatan.
Keterlibatan seluruh umat—anak-anak, remaja, OMK, hingga orang tua—menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dalam pelayanan. Koor pagi itu tidak hanya sekadar menyanyikan lagu, tetapi juga menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan melalui talenta yang dimiliki.
Setelah misa selesai, kebahagiaan dan rasa syukur terpancar dari wajah setiap anggota koor. Momen kebersamaan tersebut ditutup dengan foto bersama, sebagai kenangan indah atas pelayanan yang telah dilaksanakan dengan penuh cinta dan dedikasi.
Hari itu menjadi pengingat bahwa dalam kebersamaan, ketekunan, dan semangat melayani, setiap hal sederhana dapat menjadi persembahan yang indah bagi Tuhan.
Semoga kebersamaan yang telah terjalin ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi pelayanan-pelayanan berikutnya. Apa yang telah dipersembahkan hari ini kiranya berkenan di hati Tuhan dan semakin meneguhkan iman serta persaudaraan seluruh umat. Dengan semangat yang sama, semoga setiap langkah kecil dalam pelayanan selalu menjadi wujud kasih yang nyata.
Umat Lingkungan Yohanes Pembaptis mendapat kesempatan untuk bertugas memimpin doa Rosario di gereja. Kegiatan ini dilaksanakan di area samping altar dalam suasana yang tenang dan penuh penghayatan.
Doa Rosario dipimpin oleh Bapak Bambang Sudjono bersama Bapak Agung Prasetyo, yang dengan khidmat membimbing umat dalam setiap peristiwa doa. Umat yang hadir terdiri dari berbagai kalangan usia, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia.
Selama doa berlangsung, umat mengikuti setiap bagian dengan penuh kekhusyukan. Rangkaian doa yang didaraskan bersama menjadi momen permenungan iman, sekaligus ungkapan devosi kepada Bunda Maria.
Kehadiran umat dari berbagai generasi menunjukkan semangat kebersamaan dalam kehidupan menggereja. Doa yang dipanjatkan bersama tidak hanya menjadi sarana mendekatkan diri kepada Tuhan, tetapi juga mempererat persaudaraan di antara umat.
Melalui kesempatan pelayanan ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis turut ambil bagian dalam menghidupkan kehidupan doa di gereja. Semoga semangat berdoa bersama ini terus tumbuh dan menjadi kekuatan iman bagi seluruh umat.
Ekaristi adalah jantung kehidupan Gereja, sumber kekuatan rohani, dan puncak seluruh perjalanan iman umat Kristiani. Dalam perayaan Ekaristi, Kristus hadir menyapa umat-Nya melalui Sabda dan Tubuh-Nya, menyatukan mereka sebagai satu tubuh, dan mengutus untuk menghadirkan kasih Allah di tengah dunia. Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Ekaristi adalah “sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani” (Lumen Gentium 11).
Keuskupan Agung Semarang melalui Bulan Katekese Liturgi 2026 mengajak umat untuk memperbarui penghayatan Ekaristi. Perayaan ini bukan sekadar kewajiban mingguan, melainkan perjumpaan yang mengubah hidup, menumbuhkan sukacita, memberi inspirasi, dan mendorong keterlibatan nyata dalam membangun kesejahteraan bersama.
Selama bulan Mei, umat diajak mengikuti katekese singkat, berbagi pengalaman iman, dan merefleksikan buah Ekaristi dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini dilanjutkan dengan pencatatan dan sintesis di tingkat paroki, sehingga pengalaman umat menjadi bahan refleksi pastoral untuk memperkaya liturgi.
Kegiatan ini berpuncak pada Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, yang dirayakan dengan Ekaristi, penerimaan Komuni Pertama, adorasi, dan rekoleksi bersama. Semua rangkaian bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa Ekaristi tidak berhenti di altar, tetapi berlanjut dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bermasyarakat.
Melalui kisah nyata umat—dari anak-anak hingga orang dewasa—ditunjukkan bahwa Ekaristi adalah sumber sukacita, kebahagiaan, inspirasi, dan kesejahteraan sejati. Dari altar, umat diutus membawa terang Kristus ke dunia, menghadirkan kasih, solidaritas, dan harapan baru bagi sesama.
Pada Jumat, 1 Mei 2026, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menjadi saksi terselenggaranya kegiatan pembekalan bagi Ketua Lingkungan dan Pengurus Lingkungan dalam lingkup Stasi Maria Bunda Allah Maguwo. Mengusung tema “Menjadi Pamong yang Bahagia dan Menginspirasi”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga momentum refleksi dan transformasi pelayanan.
Kegiatan dibuka oleh Romo Yuyun Yuniarto yang mengangkat konsep multi-tasking sebagai realitas keseharian para pamong: banyak peran, banyak tanggung jawab, dan kesibukan yang tak terelakkan. Namun, pertanyaan mendasar yang diajukan menggugah hati para peserta apakah semua itu membawa kebahagiaan, atau justru tekanan? Dalam permenungannya, ditegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya aktivitas, melainkan pada kedalaman relasi dengan Allah: hidup dalam ketergantungan penuh kepada-Nya, memiliki hati yang lembut, merindukan kebenaran, serta rela berkorban demi iman.
Lebih dari sekadar refleksi spiritual, pembekalan ini juga menegaskan kembali tugas utama kepamongprajaan. Para ketua dan pengurus lingkungan diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan iman umat sekaligus menjalin sinergi pelayanan dalam Gereja. Tak berhenti di altar, peran ini juga menjangkau kehidupan sosial kemasyarakatan—aktif dalam kegiatan RT, RW, hingga padukuhan, sebagai wujud nyata kehadiran Gereja di tengah dunia.
Menariknya, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pelatihan praktis pengolahan sampah organik. Para peserta diajak untuk tidak hanya melayani dengan hati, tetapi juga menjadi teladan dalam aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan. Melalui praktik pembuatan kompos dari dedaunan, umat diajak membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.
Proses pelatihan dimulai dari pengenalan alat, seperti mesin pencacah dedaunan dan mesin pengayak kompos, serta bahan pendukung seperti EM4 dan molase. Peserta kemudian diajak memahami tahapan pembuatan kompos secara sederhana, mulai dari pengumpulan bahan, pencacahan, hingga proses pengayakan kompos yang telah difermentasi selama 2–3 bulan. Dalam praktiknya, peserta juga langsung mencoba mengoperasikan alat dan memahami pentingnya menjaga kelembapan serta suhu agar proses pengomposan berjalan optimal.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh ketua dan pengurus lingkungan se-Stasi Maria Bunda Allah Maguwo, dengan tujuan utama mendorong umat untuk tidak lagi membakar sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini membekali umat dengan keterampilan praktis dalam mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir para pamong yang tidak hanya setia dalam pelayanan, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat. Pamong yang bahagia, peduli, dan berdaya, yang menghadirkan Gereja tidak hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama.
Pagi ini pukul 07.00 WIB, suasana halaman belakang gereja GMBA tampak berbeda dari biasanya. Tim PIUL kembali menggelar kegiatan rutin senam sehat bagi umat Maguwo, namun kali ini hadir dengan nuansa yang lebih meriah dan penuh warna.
Dalam rangka memperingati Hari Kartini, seluruh peserta senam tampil unik dengan mengenakan berbagai busana daerah khas Nusantara. Mulai dari kebaya, batik, hingga pakaian adat dari berbagai wilayah Indonesia, menciptakan pemandangan yang semarak sekaligus membangkitkan rasa bangga akan kekayaan budaya bangsa.
Kegiatan senam berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan. Iringan musik yang energik dipadu dengan suasana kebudayaan menjadikan momen ini tidak hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mempererat persaudaraan antar umat.
Melalui kegiatan ini, tim PIUL tidak hanya mengajak umat untuk menjaga kesehatan fisik, tetapi juga menanamkan nilai-nilai perjuangan dan semangat emansipasi yang diwariskan oleh R.A. Kartini. Diharapkan, semangat tersebut dapat terus hidup dalam keseharian umat, baik dalam pelayanan maupun kehidupan bermasyarakat.
Kegiatan pagi ini pun menjadi bukti bahwa kebersamaan, kesehatan, dan pelestarian budaya dapat berjalan seiring dalam satu momen yang penuh makna.
Perwakilan Dewan Pastoral Stasi menghadiri kegiatan pelantikan dan serah terima jabatan Lurah Maguwoharjo yang dilaksanakan di Aula Kelurahan Maguwoharjo, Depok, Sleman. Kehadiran ini merupakan bentuk partisipasi aktif Gereja dalam mendukung tata kelola pemerintahan serta membangun sinergi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan setempat.
Dalam kegiatan tersebut, Dewan Pastoral Stasi diwakili oleh Ibu Fransiska Fitri dari Tim Pelayanan HAK dan Saudara Bonaventura Chandra yang mewakili prodiakon/rohaniawan dari Gereja Santa Maria Bunda Allah. Kehadiran kedua perwakilan tersebut sebagai saksi mencerminkan komitmen Gereja dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan pemerintah kelurahan.
Adapun pejabat Lurah Maguwoharjo yang baru dilantik adalah Bapak R. Hery Subagyo, yang juga merupakan umat dari Paroki Babadan. Diharapkan, dalam masa kepemimpinannya, beliau dapat menjalankan amanah dengan penuh integritas, tanggung jawab, serta mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Maguwoharjo secara menyeluruh.
Demikian partisipasi ini diharapkan semakin memperkuat kolaborasi antara Gereja dan pemerintah dalam mewujudkan kehidupan masyarakat yang rukun, adil, dan sejahtera.