Meneguhkan Langkah Pastoral Melalui Penentuan Baseline: FGD Ardas Paroki Administratif Maguwo


Dalam semangat membangun Gereja yang semakin partisipatif, berdaya guna, dan berbuah bagi umat, Paroki Administratif Maguwo menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Penentuan Baseline pada Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Harian Paroki Administratif Maguwo bersama para Ketua Lingkungan yang menjadi ujung tombak pelayanan dan kehidupan menggereja di tengah umat.

FGD ini merupakan salah satu program yang telah direncanakan dalam Agenda Dasar (Ardas) Paroki Administratif Maguwo sebagai tindak lanjut dari Ardas IX Keuskupan Agung Semarang. Melalui proses refleksi dan dialog bersama, seluruh peserta diajak untuk membaca realitas kehidupan umat secara lebih mendalam, mengenali kondisi aktual paroki, serta memetakan berbagai potensi dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan pastoral saat ini.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Tim Litbang Paroki Administratif Maguwo ini menjadi momentum penting untuk menyusun baseline atau titik awal yang objektif dan terukur. Baseline tersebut diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat dalam merumuskan arah kebijakan, prioritas pelayanan, serta program-program pastoral di masa mendatang agar semakin relevan dengan kebutuhan umat dan selaras dengan semangat Ardas Keuskupan Agung Semarang.

Melalui proses mendengarkan, berdialog, dan berefleksi bersama, seluruh peserta menunjukkan komitmen untuk terus membangun kehidupan menggereja yang hidup, dinamis, dan berakar pada semangat sinodal. Dengan mengenali kondisi nyata yang ada saat ini, Paroki Administratif Maguwo diharapkan semakin mampu melangkah dengan bijaksana dalam mewujudkan pelayanan yang menghadirkan kasih Kristus secara nyata di tengah masyarakat.

Semoga hasil penentuan baseline ini menjadi sarana untuk meneguhkan arah perjalanan pastoral Paroki Administratif Maguwo, sehingga setiap program dan langkah yang diambil sungguh menjadi jawaban atas panggilan perutusan Gereja dalam melayani umat dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Penerimaan Komuni Pertama Perdana di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo


Minggu, 7 Juni 2026 menjadi hari yang penuh sukacita dan rahmat bagi umat Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Dalam Perayaan Ekaristi yang khidmat, sebanyak 23 anak menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya, menjadikan momen ini sebagai Penerimaan Komuni Pertama perdana sejak Maguwo resmi menjadi Paroki Administratif.

Perjalanan menuju penerimaan Komuni Pertama bukanlah proses yang singkat. Selama kurang lebih sembilan bulan, para calon penerima Komuni Pertama telah mengikuti pembinaan iman secara berkelanjutan. Berbagai kegiatan mereka jalani dengan penuh semangat, mulai dari pendalaman materi katekese, kegiatan outing, rekoleksi bersama orang tua, ujian, peneguhan, hingga Sakramen Tobat sebagai persiapan batin untuk menyambut Tubuh Kristus dengan hati yang bersih dan siap.

Dari 25 anak yang telah dipersiapkan, 23 anak dapat hadir dan mengikuti perayaan ini dengan penuh sukacita. Dua peserta lainnya berhalangan hadir karena sakit. Meski demikian, seluruh umat turut mendoakan agar mereka segera pulih dan dapat menerima Komuni Pertama pada kesempatan berikutnya.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., yang dalam homilinya mengajak anak-anak untuk senantiasa memelihara persatuan dengan Kristus melalui Ekaristi. Komuni Pertama bukanlah akhir dari perjalanan pembinaan iman, melainkan awal dari kehidupan yang semakin dekat dengan Tuhan melalui perayaan Ekaristi dan kehidupan sehari-hari yang mencerminkan kasih Kristus.

Suasana haru dan bahagia tampak menghiasi wajah para penerima Komuni Pertama, orang tua, serta seluruh umat yang hadir. Kehadiran para orang tua menjadi tanda nyata dukungan keluarga sebagai Gereja domestik yang terus mendampingi pertumbuhan iman anak-anak. Para katekis yang selama berbulan-bulan mendampingi proses pembinaan juga turut bersukacita menyaksikan buah dari pelayanan yang telah mereka jalankan dengan penuh ketulusan.

Sukacita perayaan semakin terasa dengan keterlibatan adik-adik PIA Angelus ( Pendampingan Iman Anak ) yang mempersembahkan koor selama Perayaan Ekaristi berlangsung. Melalui lantunan pujian yang mereka bawakan, para anggota PIA turut mendukung dan mengiringi kakak-kakak penerima Komuni Pertama dalam momen istimewa perjumpaan mereka dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Kehadiran dan pelayanan mereka menjadi gambaran indah bagaimana pembinaan iman anak-anak di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo terus berjalan secara berkesinambungan.

Setelah Perayaan Ekaristi selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan mistagogi yang dilaksanakan di dalam gereja. Melalui pendalaman ini, anak-anak diajak untuk semakin memahami makna sakramen yang baru saja mereka terima, sehingga pengalaman perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi dapat terus bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan mereka.

Setelah mengikuti mistagogi, para penerima Komuni Pertama juga langsung didaftarkan sebagai anggota Putra Putri Altar Maguwo. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen paroki untuk menghadirkan pembinaan iman yang berkelanjutan bagi anak-anak. Dengan bergabung sebagai misdinar, mereka diharapkan semakin dekat dengan kehidupan liturgi Gereja serta bertumbuh dalam semangat pelayanan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai murid-murid Kristus.

Momen ini menjadi tanda bahwa penerimaan Komuni Pertama bukanlah akhir dari perjalanan iman, melainkan awal dari keterlibatan yang lebih aktif dalam kehidupan Gereja. Melalui pendampingan keluarga, para katekis, dan komunitas paroki, anak-anak diajak untuk terus mengembangkan iman yang telah mereka terima serta mengambil bagian dalam karya pelayanan Gereja sesuai dengan panggilan mereka masing-masing.

Semoga rahmat yang diterima dalam Komuni Pertama ini semakin meneguhkan langkah anak-anak untuk mencintai Ekaristi, bertumbuh dalam iman, serta menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, sekolah, dan lingkungan tempat mereka berada.

“Akulah roti hidup yang turun dari surga. Barangsiapa makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yohanes 6:51)

Dari Stasi Menjadi Paroki Administratif: Tonggak Sejarah Baru bagi Umat Maria Bunda Allah Maguwo


2 Juni 2026 menjadi tanggal yang akan selalu dikenang dalam perjalanan iman umat Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Pada hari yang penuh rahmat ini, GMBA secara resmi ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Administratif Maria Bunda Allah, sebuah tonggak sejarah yang menjadi buah dari perjalanan panjang, kerja sama, doa, dan pelayanan seluruh umat.

Peresmian Paroki Administratif Maria Bunda Allah dilaksanakan dalam Misa Syukur yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Timur, didampingi oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. sebagai Pastor Paroki serta Romo Yohanes Ngatmo, Pr sebagai Vikaris Paroki.

Salah satu momen yang begitu menyentuh hati umat adalah parade bendera panji wilayah dan lingkungan yang mengawali rangkaian perayaan. Dengan penuh kebanggaan dan semangat persatuan, panji-panji dari seluruh wilayah dan lingkungan diarak memasuki gereja. Iring-iringan tersebut menjadi simbol kebersamaan umat yang selama ini berjalan bersama dalam membangun Gereja, sekaligus menjadi ungkapan syukur atas anugerah yang diterima oleh seluruh keluarga besar GMBA.

Dalam perayaan yang sama juga dilaksanakan pelantikan Dewan Pastoral Harian (DPH) Paroki Administratif Maria Bunda Allah yang dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara pelantikan sebagai tanda dimulainya pelayanan kepengurusan yang baru dalam status paroki administratif.

Namun, ada satu peristiwa yang menjadikan hari tersebut semakin istimewa. Tepat pada tanggal bersejarah ini, empat orang anak menerima Sakramen Baptis Kudus dan menjadi baptisan pertama dalam sejarah Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Momen penuh sukacita ini menjadi tanda kehidupan baru yang lahir bersamaan dengan babak baru perjalanan Gereja Maguwo. Sebuah simbol yang indah bahwa Gereja terus bertumbuh, melahirkan generasi-generasi baru yang akan menjadi bagian dari umat Allah.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, umat juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dewan Pastoral Harian Periode 2023–2025 yang telah mengabdikan diri dengan penuh dedikasi dalam mempersiapkan perjalanan menuju paroki administratif, yaitu:

  • Ketua: Yohanes Agung Prasetya Putra
  • Sekretaris I: Elisabeth Amy Andriani
  • Sekretaris II: Fransisca Sri Murtini
  • Bendahara I: Lusia Rini Sundari
  • Bendahara II: Theresia Nelly
  • Bendahara III: Theresia Sri Harnani

Serta para Ketua Bidang:

  • Joanna Fransisca Ita Rinawati (Liturgi dan Peribadatan)
  • Mikael Purwanto (Pewarta dan Evangelisasi)
  • Albertus Bagio Murdianto (Pelayanan Kemasyarakatan)
  • Albertus Arief Subyantoro (Paguyuban dan Persaudaraan)
  • Andreas Keso Muda (Penelitian dan Pengembangan)
  • Yanuarius Pargiyono (Rumah Tangga)

Terima kasih atas kerja keras, pengorbanan, dan ketekunan yang telah diberikan selama masa pelayanan sehingga proses peningkatan status Gereja Maguwo dapat berjalan dengan baik.


“Dari rahim Paroki Maria Marganingsih Kalasan, lahirlah Paroki Administratif Maria Bunda Allah. Bukan sebagai perpisahan, melainkan sebagai tanda kedewasaan iman sebuah komunitas yang kini dipanggil untuk melangkah lebih mandiri dalam mewartakan kasih Kristus.”

Perayaan syukur ini juga semakin bermakna dengan kehadiran tamu-tamu istimewa dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan selaku paroki induk, khususnya jajaran Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kalasan yang turut hadir untuk berbagi sukacita bersama umat Maria Bunda Allah. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata persaudaraan dan kebersamaan yang selama ini terjalin erat antara Paroki Kalasan dan umat Maguwo.

Sebagai bagian dari keluarga besar Paroki Kalasan, umat Maguwo telah bertumbuh dan berkembang melalui pendampingan pastoral yang berkesinambungan. Oleh karena itu, momen peresmian Paroki Administratif Maria Bunda Allah bukan hanya menjadi sukacita bagi umat Maguwo, melainkan juga menjadi kebanggaan bersama bagi Paroki Kalasan yang telah ikut menaburkan benih pelayanan dan pendampingan selama perjalanan panjang tersebut.

Kehadiran DPP Kalasan pada perayaan bersejarah ini menjadi simbol estafet pelayanan Gereja yang terus berlanjut, sekaligus ungkapan dukungan dan harapan agar Paroki Administratif Maria Bunda Allah semakin berkembang sebagai komunitas umat yang hidup, mandiri, dan misioner.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. yang dengan setia mendampingi dan mengawal proses peningkatan status Gereja Maguwo sejak pelaksanaan visitasi pada bulan September 2025 hingga akhirnya secara resmi ditetapkan sebagai Paroki Administratif Maria Bunda Allah pada 2 Juni 2026. Pendampingan, perhatian, dan semangat yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan bersejarah ini.

Perubahan status dari stasi menjadi paroki administratif tentu bukan sekadar perubahan nama atau struktur organisasi. Lebih dari itu, perubahan ini merupakan panggilan bagi seluruh umat untuk semakin dewasa dalam iman, semakin aktif dalam pelayanan, dan semakin bertanggung jawab dalam kehidupan menggereja. Status baru ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat persekutuan, meningkatkan kualitas pelayanan pastoral, menumbuhkan kader-kader pelayan Gereja, serta menghadirkan Gereja yang semakin dekat dengan umat dan masyarakat.

Semoga Paroki Administratif Maria Bunda Allah terus bertumbuh menjadi komunitas yang hidup, mandiri, dan missioner; menjadi rumah yang menghadirkan kasih Kristus bagi siapa saja; serta senantiasa berjalan seiring dengan arah pastoral Keuskupan Agung Semarang dalam mewujudkan Gereja yang sinodal, partisipatif, dan peduli terhadap sesama serta seluruh ciptaan.

Selamat dan syukur atas lahirnya Paroki Administratif Maria Bunda Allah. Semoga Tuhan yang telah memulai karya baik ini senantiasa menyertai langkah seluruh umat dalam membangun Gereja-Nya.

Doa Bersama Warga Maguwoharjo di GMBA Maguwo Berlangsung Penuh Syukur dan Semangat Toleransi

Maguwoharjo, 30 Mei 2026 – Suasana penuh syukur, kebersamaan, dan semangat toleransi mewarnai kegiatan Doa Bersama Warga Maguwoharjo yang diselenggarakan di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo pada Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan ini menjadi ungkapan syukur atas peningkatan status Gereja Maria Bunda Allah Maguwo dari Stasi menjadi Paroki Administratif, sebuah tonggak penting dalam perjalanan pelayanan Gereja kepada umat dan masyarakat sekitar.

Acara dihadiri oleh pengurus Dewan Pastoral Stasi GMBA Maguwo, warga Maguwoharjo, Penjabat (Pj) Dukuh Maguwoharjo, perwakilan TNI dan Polri, serta para tokoh dan pemuka agama Islam. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan eratnya hubungan persaudaraan dan kerukunan yang telah terjalin di tengah kehidupan masyarakat Maguwoharjo.

Doa bersama berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Seluruh peserta diajak untuk bersyukur atas perkembangan yang telah dicapai GMBA Maguwo sekaligus memohon berkat agar Paroki Administratif Maria Bunda Allah dapat semakin berkembang dalam karya pelayanan, pewartaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Pj Dukuh Maguwoharjo menyampaikan ucapan selamat atas peningkatan status Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menjadi Paroki Administratif. Ia berharap kehadiran Gereja dapat terus memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial dan kemasyarakatan di wilayah Maguwoharjo.

“Kami mengucapkan selamat atas peningkatan status Gereja Maria Bunda Allah menjadi Paroki Administratif. Semoga Gereja semakin maju dan mampu mewujudkan panggilannya sebagai garam dan terang dunia, membawa kebaikan serta menjadi berkat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Momentum ini juga menjadi gambaran nyata kehidupan toleransi antarumat beragama yang tumbuh dan berkembang dengan baik di Maguwoharjo. Kehadiran tokoh agama Islam bersama unsur pemerintah, TNI, dan Polri dalam suasana penuh persaudaraan menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang harmonis.

Sebagai simbol rasa syukur atas anugerah yang diterima, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng. Tumpeng yang merupakan lambang syukur tersebut menjadi penanda harapan agar Paroki Administratif Maria Bunda Allah semakin berkembang dan mampu memberikan pelayanan yang semakin baik bagi umat serta masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan pembagian genduri kepada seluruh peserta yang hadir. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, para tamu saling berbincang, mempererat persaudaraan, serta merayakan sukacita bersama atas perkembangan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Melalui kegiatan doa bersama ini, Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, membangun persaudaraan lintas iman, memperkuat semangat toleransi, serta menjadi tanda kasih dan harapan bagi semua orang.

Menapak Jejak Para Perintis: Ziarah dan Doa Menyongsong Paroki Administratif GMBA Maguwo


DPS Maguwo bersama perwakilan unsur umat melaksanakan ziarah ke makam para pendiri dan perintis Gereja Maria Bunda Allah sebagai ungkapan syukur, penghormatan, dan permohonan restu menjelang peresmian GMBA menjadi Paroki Administratif pada 2 Juni 2026.

Sabtu pagi, 30 Mei 2026, Dewan Pengurus Stasi (DPS) Maguwo bersama perwakilan Prodiakon, Orang Muda Katolik (OMK), Remaja Bunda Maria (RBM), Pamdal, perwakilan ibu-ibu stasi, para Ketua Lingkungan (Kaling), dan Ketua Wilayah (Kawil) melaksanakan ziarah ke tiga makam tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah perjalanan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun GMBA sekaligus ungkapan syukur dan penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar bagi tumbuh dan berkembangnya komunitas umat Katolik di Maguwo. Ziarah ini juga menjadi momen untuk memohon restu dan doa para leluhur pendiri gereja menjelang peristiwa bersejarah, yakni pada tanggal 2 Juni 2026 Gereja Maria Bunda Allah Maguwo resmi menjadi Paroki Administratif.

Perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB dari Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Seakan turut mengiringi dan merestui perjalanan para peziarah, semesta menghadirkan cuaca yang begitu bersahabat. Langit tampak mendung namun tanpa hujan, udara terasa sejuk, dan angin berembus lembut sepanjang perjalanan. Suasana yang teduh tersebut menambah kekhusyukan dan kebersamaan dalam setiap perhentian ziarah.

Tujuan pertama adalah makam Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto beserta istri yang berada di wilayah Pokoh. Beliau merupakan sosok yang memiliki jasa besar dalam perjalanan awal berdirinya Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Dengan kemurahan hati dan kepedulian yang luar biasa, beliau berkenan menjual tanahnya dengan harga yang sangat terjangkau sehingga dapat digunakan untuk pembangunan gereja yang kini menjadi pusat kehidupan iman umat Katolik di Maguwo.

Di lokasi makam, rombongan disambut hangat oleh salah satu keturunan beliau, Ibu Munarti, yang juga aktif melayani sebagai katekis di GMBA. Kehadiran beliau menjadi pengingat bahwa semangat pelayanan yang diwariskan oleh keluarga besar Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto terus hidup dan berkembang hingga saat ini. Dalam suasana doa dan penghormatan, umat mengenang ketulusan serta pengorbanan beliau yang telah menjadi salah satu fondasi berdirinya Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju makam Bapak Paulus Yadi Wiyono di wilayah Modinan. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pembinaan dan pemberdayaan kaum muda dalam kehidupan menggereja. Dengan semangat dan dedikasinya, beliau mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan dan pengembangan Gereja.

Di makam ini, rombongan juga diterima dengan hangat oleh ahli waris dan keluarga besar Bapak Paulus Yadi Wiyono. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mengenang kembali perjuangan dan semangat beliau dalam membangun keterlibatan kaum muda sebagai generasi penerus Gereja. Warisan nilai yang beliau tinggalkan terus menjadi inspirasi bagi OMK dan generasi muda GMBA untuk terus berkarya, melayani, dan bertumbuh dalam iman.

Ziarah kemudian berlanjut ke tujuan terakhir, yaitu makam Bapak Yohanes Berchmans Kandari. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memprakarsai pembentukan paguyuban umat Katolik yang bermukim di wilayah Kelurahan Maguwoharjo. Berkat inisiatif dan semangat persaudaraan yang beliau bangun, umat Katolik yang tersebar di berbagai wilayah dapat dipersatukan dalam sebuah komunitas yang saling mendukung dan menguatkan dalam kehidupan beriman.

Di lokasi makam, rombongan disambut oleh ahli waris dan keluarga besar Bapak Yohanes Berchmans Kandari yang hingga saat ini masih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan di GMBA. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat pelayanan dan kebersamaan yang diwariskan oleh Bapak Yohanes Berchmans Kandari terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dari benih-benih persaudaraan yang beliau tanam, tumbuhlah komunitas umat yang semakin berkembang hingga akhirnya mengantarkan GMBA memasuki babak baru sebagai Paroki Administratif.

Melalui ziarah ini, umat diajak untuk mengenang dan meneladani tiga nilai luhur yang diwariskan para tokoh tersebut. Dari Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto, kita belajar tentang ketulusan dan pengorbanan demi perkembangan Gereja. Dari Bapak Paulus Yadi Wiyono, kita belajar tentang pentingnya membina generasi muda sebagai harapan masa depan Gereja. Sedangkan dari Bapak Yohanes Berchmans Kandari, kita belajar tentang semangat persatuan dan kebersamaan dalam membangun komunitas umat yang kokoh dan penuh kasih.

Semoga perjalanan ziarah ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh umat untuk melanjutkan semangat, karya, dan pengabdian yang telah mereka wariskan. Menjelang perubahan status menjadi Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo, kiranya seluruh umat semakin dipersatukan dalam iman, semakin bersemangat dalam pelayanan, serta semakin siap menjawab panggilan untuk menjadi Gereja yang hidup, bertumbuh, dan membawa berkat bagi sesama.

Semoga Tuhan senantiasa memberkati perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Dan semoga jasa, keteladanan, serta pengorbanan para pendiri dan perintis gereja ini senantiasa dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang dalam membangun Gereja yang semakin dewasa, mandiri, dan berakar kuat dalam kasih Kristus.

Rekoleksi Bersama Legio Mariae Presidium Bunda Penolong Abadi “Inilah Ibumu” di Gereja Maria Bunda Allah


Menemukan Kembali Semangat Pelayanan Melalui Rekoleksi Bersama Legio Mariae Presidium Bunda Penolong Abadi

Meninggalkan sejenak rutinitas harian untuk masuk dalam keheningan doa dan kebersamaan selalu menjadi momen yang mendamaikan jiwa. Hal inilah yang dialami oleh para anggota Legio Mariae Presidium Bunda Penolong Abadi dalam kegiatan Rekoleksi Bersama yang mengusung tema “Inilah Ibumu”, bertempat di Gereja Maria Bunda Allah.

Melalui bimbingan spiritual dari Romo Susanto Pr, seluruh peserta diajak untuk kembali menengok ke dalam hati, memperdalam iman, dan menyalakan kembali api semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.


Mendekatkan Diri kepada Yesus Bersama Bunda Maria

Tema “Inilah Ibumu” menjadi sebuah undangan spiritual yang mendalam bagi seluruh legioner. Seperti sabda Yesus dari atas kayu salib, kita diingatkan kembali akan peran keibuan Bunda Maria yang selalu siap menyertai perjalanan iman kita.

Dalam sesi rekoleksi, Romo Susanto Pr mengajak para peserta untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria (Per Mariam ad Jesum). Bunda Maria bukan hanya sekadar teladan, tetapi juga seorang Ibu yang senantiasa menuntun setiap langkah pelayanan kita agar selalu terarah pada kehendak Allah.


Momen Refleksi dalam Doa dan Kebersamaan

Di tengah suasana doa yang khusyuk dan balutan kebersamaan yang erat, kegiatan ini menjadi ruang refleksi yang begitu indah. Melalui untaian doa dan bimbingan yang diberikan, para peserta diajak untuk:

  • Mengevaluasi Diri: Merenungkan kembali kualitas pelayanan dan motivasi hati yang telah diberikan selama ini.
  • Meneguhkan Panggilan: Kembali menyadari dan memantapkan komitmen sebagai pribadi yang setia dalam pelayanan dan kasih, tanpa pamrih.
  • Saling Menguatkan: Mempererat tali persaudaraan antaranggota presidium agar semakin solid dalam menjalankan tugas-tugas kerasulan.

Suasana sakral namun penuh kehangatan ini berhasil membawa kesegaran baru bagi rohani setiap peserta yang hadir.


Bertumbuh dan Berbuah dalam Kehidupan Menggereja

Rekoleksi bukanlah akhir dari sebuah kegiatan, melainkan titik awal dari perutusan yang baru. Harapan besar terpancar dari penutupan rangkaian kegiatan rekoleksi ini.

Semoga melalui rekoleksi bersama Romo Susanto Pr ini, iman dan semangat pelayanan seluruh peserta Presidium Bunda Penolong Abadi semakin bertumbuh subur dan berbuah nyata dalam kehidupan menggereja. Mari kita bawa sukacita dan semangat “Fiat” (Aku ini hamba Tuhan) penyerahan diri Bunda Maria ke dalam keluarga, lingkungan, dan paroki kita.

Ave Maria!


More Photos and video :

https://drive.google.com/drive/folders/1FQ4_8mY4D3ViHvrZd4HRCgSsEjB2OcEX

Mencintai Bumi, Mencintai Kehidupan

Alam tidak berbicara melalui kata-kata. Peristiwa yang sering kita namakan sebagai “bencana” sesungguhnya adalah peringatan dari alam. Alam tidak membutuhkan manusia. Manusia yang membutuhkan alam. Namun, apakah kita sudah mendengarkan apa yang disampaikan alam?

Pesan yang mengentak dalam film pendek “Alam Berbicara” ini disajikan Sr. Marisa, CB kepada para peserta saat membuka sarasehan “Go Green and Clean” yang diselenggarakan Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Bidang Kemasyarakatan pada Minggu, 10 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Perilaku manusia yang mengekploitasi alam menyebabkan krisis ekologi. Merusak bumi, akan menghancurkan kehidupan manusia. Sebaliknya, mencintai bumi berarti mencintai kehidupan itu sendiri.

Sr. Marisa menyampaikan, melalui ensiklik Laudato Si, Fratelli Tuti, dan Laudate Deum, Paus Fransiskus mengajak kita melakukan pertobatan pastoral dan ekologis untuk mengatasi dehumanisasi dan krisis ekologi. Seruan Paus Fransiskus ini kemudian ditegaskan kembali oleh Paus Leo XIV yang mengutus umat Katolik untuk menjalankan Revolusi Kasih. Membangun jembatan dialog dan bergandengan tangan dengan semua orang, adalah keniscayaan untuk mengatasi kemiskinan, kekerasan, kerusakan lingkungan serta menumbuhkan budaya damai dan harapan.

Semangat “berjalan bersama” inilah yang diharapkan dapat muncul dari seluruh umat untuk mewujudkan paroki sebagai rumah bersama yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Di lingkup paroki, kita dapat melakukan pertobatan ekologis dengan langkah sederhana. Di antaranya dengan menghias altar secara ramah lingkungan.

Selama ini, tata rias altar di GMBA banyak menggunakan bunga potong yang ternyata tidak ramah lingkungan. Bunga potong hanya mampu bertahan 3-6 hari, setelah itu menjadi sampah. Oasis yang dipakai untuk menjaga kesegaran bunga juga sulit hancur dan merusak lingkungan.

Menggunakan tanaman dalam pot menjadi penerapan semangat Laudato Si dalam tata rias altar. Selain mengurangi sampah, tanaman dalam pot membawa lebih banyak oksigen di lingkungan gereja. Sebagian tanaman seperti pandan dan zodia bahkan bermanfaat mengusir hewan dan serangga pengganggu dari dalam ruangan.

Usai pemaparan materi, Sr. Marisa kemudian mengajak peserta sarasehan mempraktikkan tata rias altar yang ekologis. Sambil menunggu hasilnya, sebagian peserta diajak mempraktikkan memilah sampah sesuai jenisnya seperti sampah kertas, plastik, dan organik.

Bersama Sr. Marisa, para peserta juga mempraktikkan cara membuat biopori mini di pot tanaman sebagai wadah sampah organik. Sampah organik dalam biopori akan terurai menjadi kompos sehingga menyuburkan tanaman dalam pot.

“Selain itu, cairan dari sampah organik dapat melembapkan media tanam sehingga lebih hemat air untuk menyiram,” kata biarawati yang sejak tahun 2020 menjadi koordinator KPKC (Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan) suster CB Provinsi Indonesia ini.

Selepas sesi praktik, para peserta yang sebagian besar adalah para ibu anggota tim pelayanan tata altar mendiskusikan rencana tindak lanjut untuk mewujudkan semangat Laudato Si dalam tata hias altar GMBA. Dari hasil diskusi, para peserta merumuskan beberapa komitmen aksi nyata, mencakup donasi tanaman dalam pot dan pot dari ibu-ibu, penyediaan rak tanaman, penataan tanaman serta pengaturan perawatan tanaman per wilayah, serta menggunakan lebih banyak tanaman dalam pot untuk tata hias altar.

Dari sarasehan “Green and Clean” pada petang hingga malam itu, dialog tercipta, partisipasi diteguhkan, dan solidaritas digaungkan untuk bersama-sama meraih asa: menghadirkan paroki sebagai rumah bersama yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Jangan lagi menutup mata dan nurani, mari dengarkan apa yang disampaikan alam kepada kita.

Rosario Bersama dan Pendalaman BKL Lingkungan St. Fransiskus Asisi

Pada hari Selasa, 12 Mei 2026, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi mendapat kesempatan untuk doa Rosario di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kami memilih untuk berdoa di depan Patung Bunda Maria di bagian depan gereja. Suasana hening, sejuk dan temaram namun langit cerah membuat malam itu terasa hangat di hati. Diikuti oleh 32 umat lingkungan, doa Rosario ini menjadi bagian dari rangkaian doa bersama seluruh umat Gereja Maria Bunda Allah selama bulan Mei untuk memohon berkat Tuhan menjelang perubahan status Gereja Bunda Allah Maguwo dari stasi menjadi Paroki Administratif pada 2 Juni 2026 mendatang.

Sepanjang bulan Mei, setiap lingkungan mendapat giliran untuk berdoa Rosario di gereja. Selain itu, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi secara khusus juga mengadakan doa Rosario lingkungan dan pendalaman Bulan Katakese Liturgi (BKL) setiap hari Selasa dan Jumat. Momen ini menjadi kesempatan yang indah untuk berkumpul, berdoa bersama, dan menyerahkan segala harapan kepada Bunda Maria.

Pada malam itu, doa Rosario dipandu oleh Bapak Felix dan Ibu Monica. Umat mengikuti doa dengan khusyuk dan penuh penghayatan. Dalam setiap Salam Maria yang didaraskan, terselip doa dan harapan agar perjalanan Gereja Bunda Allah Maguwo menuju Paroki Administratif senantiasa disertai oleh Tuhan.

Setelah doa Rosario bersama, kegiatan dilanjutkan dengan Pendalaman Bulan Katekese Liturgi (BKL) yang dipandu oleh Ibu Monica.

Suasana sharing malam itu terasa hangat dan hidup. Umat cukup aktif dan responsif menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan untuk mengulik tema BKL. Beberapa umat berbagi pengalaman pribadi dan pandangan mereka terkait tema yang dibahas. Dari cerita-cerita sederhana itu, setiap peserta dapat melihat bahwa iman tidak hanya dipahami, tetapi juga dihidupi dalam keseharian.

Pertemuan malam itu menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam lingkungan tidak hanya dibangun melalui kegiatan besar, tetapi juga lewat doa dan percakapan sederhana yang dilakukan bersama.

Semoga doa-doa yang dipanjatkan sepanjang bulan Mei ini membawa berkat melimpah bagi umat Gereja Bunda Allah Maguwo, dan semakin mempersatukan kita dalam menyambut status baru sebagai Paroki Administratif.

DPH Stasi GMBA Maguwo Gelar Rapat Rutin Jelang Persiapan Menjadi Paroki Administratif

Maguwoharjo — Dewan Pastoral Stasi (DPS) Stasi Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo menggelar rapat koordinasi rutin pada Jumat, 15 Mei 2026 di Sekretariat GMBA. Pertemuan yang dimulai pukul 19.00 WIB tersebut dihadiri oleh jajaran pengurus DPS, para Ketua Wilayah, serta Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Rapat berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan dan semangat pelayanan. Selain membahas agenda rutin pastoral bulanan, pertemuan ini juga menjadi momen penting dalam mempersiapkan berbagai hal menjelang perubahan status Stasi Gereja Maria Bunda Allah menjadi Paroki Administratif yang direncanakan pada bulan Juni mendatang.

Dalam sambutannya, Ketua Stasi GMBA, Yohanes Agung Prasetya menyampaikan harapan agar seluruh pengurus dan umat dapat terus menjaga semangat persatuan dan gotong royong dalam mendukung perkembangan Gereja. Beliau juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mempersiapkan diri menyambut perubahan status tersebut dengan penuh tanggung jawab dan sukacita pelayanan.

Pada kesempatan itu, para pengurus stasi turut menyampaikan laporan kegiatan dan laporan keuangan sebagai bentuk transparansi serta evaluasi pelayanan yang telah berjalan selama beberapa waktu terakhir. Berbagai program dan kegiatan pastoral yang telah dilaksanakan dibahas bersama guna meningkatkan pelayanan kepada umat di masing-masing wilayah.

Para Ketua Wilayah juga menyampaikan perkembangan dan kondisi wilayah masing-masing sebagai bagian dari koordinasi bersama yang disampaikan oleh Mas Heru selaku Sekretaris Stasi. Kehadiran Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr. memberikan pendampingan serta arahan pastoral bagi seluruh peserta rapat. Beliau mengajak seluruh umat untuk terus bertumbuh dalam iman, mempererat kebersamaan, dan aktif terlibat dalam kehidupan menggereja serta menyampaikan banyak masukan yang membangun.

Dengan adanya rencana peningkatan status menjadi Paroki Administratif, diharapkan Gereja Maria Bunda Allah dapat semakin berkembang dalam pelayanan pastoral serta semakin dekat dalam menjawab kebutuhan umat. Momentum ini menjadi tanda pertumbuhan dan perjalanan Gereja yang terus berkembang bersama seluruh umatnya.

Touring Rohani Bapak-Bapak Lingkungan St. Fransiskus Asisi: Doa, Persaudaraan, dan Menanam Jejak Kebaikan.

Kamis pagi, 14 Mei 2026, basecamp utama Lingkungan Fransiskus Asisi Tasura sudah ramai sejak Misa Kenaikan Yesus selesai. Satu per satu bapak-bapak datang dengan motor masing-masing, siap untuk melakukan touring rohani ke Gua Maria Tuk Ing Katentreman, sebuah tempat doa yang tenang dan sejuk di wilayah Magelang.

Rombongan kali ini terdiri dari Pak Jondit, Pak Rus, Pak Cahyo, Pak Bono, Pak Tiyok, Pak Wawan, Pak Felix, Mas Galang, dan Pak Ari Lawu dari Lingkungan Clara yang ikut bergabung. Total ada delapan motor yang siap mengantar mereka menikmati perjalanan yang penuh cerita.

Sebelum berangkat, Pak Wawan memimpin doa singkat. Dengan perlindungan Tuhan dan semangat kebersamaan, tepat pukul 10.00 WIB rombongan mulai melaju melalui rute Jurang Jero. Jalanan yang membelah kebun salak menyuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Mereka berkendara santai, menikmati udara segar, sambil sesekali menyalip truk-truk pasir yang menjadi bagian khas dari jalur tersebut.

Seperti dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita kecil yang membuat pengalaman semakin berkesan. Sesaat sebelum melewati kawasan kebun salak, salah satu motor mengalami pecah ban. Untungnya, hanya sekitar seratus meter dari lokasi terdapat tukang tambal ban. Setelah berhenti beberapa saat dan ban kembali siap digunakan, perjalanan pun dilanjutkan dengan semangat yang tetap utuh.

Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan tiba di Gua Maria Tuk Ing Katentreman. Begitu turun dari motor, mereka langsung merasakan suasana yang teduh, hening, dan menenangkan. Pepohonan rindang dan gemericik sumber air di sekitar gua membuat tempat ini terasa seperti oase kecil yang sangat cocok untuk berdoa dan menenangkan hati.

Di sana, para bapak menyalakan lilin dan mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi. Dalam keheningan itu, setiap orang membawa intensi dan syukur masing-masing kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus.

Setelah berdoa, suasana santai pun berlanjut dengan obrolan ringan tentang rencana touring berikutnya. Dengan nada bercanda, perjalanan ini disebut sebagai “survey lapangan” untuk mencari tempat-tempat ziarah yang nantinya layak direkomendasikan kepada ibu-ibu dan keluarga. Tentu saja, sebelum memberikan rekomendasi, para bapak merasa perlu melakukan lebih banyak “survey” ke berbagai tempat.

Salah satu momen yang paling bermakna dalam perjalanan ini adalah ketika rombongan menanam bibit pohon kimeng yang sudah dibawa dari rumah. Setelah meminta izin kepada penjaga lokasi, bibit itu ditanam di area sekitar gua. Tanaman kimeng dipercaya membantu menjaga ketersediaan air di sekitarnya, sehingga penanaman ini menjadi simbol sederhana kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.

Sebelum pulang, rombongan mampir untuk makan siang di Warung Pepes Gapeswathi. Menu pepes dan rica enthog menjadi penyempurna perjalanan yang menyenangkan ini.

Perjalanan pulang ditempuh melalui jalur Tempel–Turi. Di tengah perjalanan, salah satu motor sempat kehabisan bensin dan harus didorong beberapa ratus meter menuju SPBU terdekat. Meski demikian, kejadian itu justru menambah warna dan cerita yang akan dikenang bersama.

Touring kali ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana: berangkat bersama, berdoa bersama, menghadapi kendala bersama, dan pulang dengan hati yang penuh sukacita. Lebih dari sekadar perjalanan, touring ini menunjukkan bahwa ke mana pun kita melangkah, selalu ada kesempatan untuk membawa doa, mempererat persaudaraan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama maupun bagi alam ciptaan Tuhan