Karya Seni Yang Menjadi Ungkapan Iman

Selamat datang di halaman karya seni Lelang Amal Paroki Administratif Maguwo.

Setiap karya yang dipamerkan di sini lahir dari perpaduan talenta, ketekunan, dan iman. Di balik setiap sapuan warna maupun setiap helai benang yang tersulam, tersimpan sebuah kisah, doa, dan permenungan yang mengajak kita semakin dekat kepada Tuhan.

Panitia Pengembangan dan Penataan Kawasan GMBA mengundang Anda untuk mengenal makna di balik setiap karya, menghayati pesan rohani yang ingin disampaikan, dan bila berkenan, mengambil bagian dalam lelang amal ini. Setiap penawaran yang Anda berikan bukan hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga ungkapan kasih yang turut mendukung penataan kawasan Gereja sebagai rumah bersama bagi umat Allah.

Semoga setiap karya yang Anda nikmati hari ini menghadirkan inspirasi, kedamaian, dan semakin menumbuhkan iman dalam perjalanan hidup kita.

Keheningan dalam Dekapan Kasih Bunda

  • Karya: Johannes de Britto (Bang Joe)
  • Medium: Lukisan kopi di atas kanvas
  • Ukuran: 58 × 79 cm
  • Harga Pembuka Lelang (OB): Rp25.000.000

Tidak banyak medium yang mampu menghadirkan kehangatan sekaligus kesederhanaan seperti kopi. Melalui sapuan gradasi warna cokelat monokromatik, Bang Joe menghadirkan sosok Bunda Maria yang teduh, penuh damai, dan larut dalam penyerahan diri kepada Allah.

Mata yang terpejam, raut wajah yang lembut, serta lingkaran cahaya di belakang kepala menghadirkan suasana kontemplatif yang mengajak setiap orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di hadapan karya ini, kita diajak memasuki keheningan doa bersama Bunda Maria, keheningan yang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam hati.

Keunikan karya ini terletak pada mediumnya. Ampas kopi, sesuatu yang sering dianggap sebagai sisa dan tidak lagi bernilai, justru diolah menjadi sebuah karya yang memancarkan keindahan. Hal ini menjadi lambang bahwa Tuhan mampu mengubah hal-hal yang sederhana menjadi sarana kemuliaan-Nya. Seperti hidup manusia, yang mungkin penuh kekurangan, namun di tangan Tuhan dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.

Tekstur lembut pada jubah Bunda Maria menyerupai gumpalan awan yang menaungi. Ia mengingatkan kita akan kasih seorang ibu yang selalu melindungi, menguatkan, dan menghadirkan ketenangan bagi anak-anaknya di tengah berbagai pergumulan hidup.

Melalui lelang amal ini, karya ini tidak hanya menjadi sebuah koleksi seni, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan iman umat. Setiap penawaran yang diberikan merupakan ungkapan syukur dan dukungan nyata bagi penataan dan pengembangan kawasan Gereja, agar semakin banyak orang dapat menemukan rumah untuk berdoa, bertumbuh, dan mengalami kasih Tuhan.

Semoga siapa pun yang kelak memiliki karya ini senantiasa menemukan kedamaian, pengharapan, dan penghiburan setiap kali memandang wajah Bunda Maria yang penuh kasih.

Jesus of Nazareth

  • Karya: Annie Maria
  • Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
  • Ukuran: 54 × 78 cm
  • Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000

Karya sulaman kristik ini merupakan buah ketekunan, kesabaran, dan doa yang diwujudkan melalui ribuan persilangan benang. Sedikit demi sedikit, setiap tusukan benang membentuk wajah Yesus dari Nazaret yang mengenakan mahkota duri, sebuah gambaran akan kasih yang rela berkorban demi keselamatan umat manusia.

Tatapan Yesus yang mengarah ke atas menghadirkan kesan kepasrahan yang sempurna kepada kehendak Bapa. Di balik latar gelap yang melambangkan beratnya dosa dunia, cahaya pada wajah-Nya tetap memancarkan harapan, belas kasih, dan kemenangan kasih Allah atas penderitaan.

Teknik kristik sendiri memiliki makna rohani yang mendalam. Setiap persilangan benang adalah tindakan kecil yang dilakukan berulang kali dengan penuh kesetiaan. Seperti perjalanan iman, keindahan tidak lahir dalam sekejap, melainkan melalui kesabaran, ketekunan, dan kesediaan untuk terus melangkah, meskipun perlahan.

Perpaduan warna merah pada jubah Kristus dengan gradasi benang yang halus memberi kehidupan pada karya ini, menghadirkan sosok Sang Penebus yang tetap memandang umat-Nya dengan penuh cinta.

Melalui lelang amal ini, setiap penawaran bukan hanya bentuk penghargaan terhadap sebuah karya seni, tetapi juga menjadi persembahan kasih yang mendukung penataan dan pengembangan kawasan Gereja sebagai tempat umat berhimpun, beribadah, dan bertumbuh dalam iman.

Kiranya karya ini menjadi pengingat bahwa kasih Kristus selalu menyertai setiap langkah kehidupan.

Bunda Maria Penolong Senantiasa (Our Lady of Perpetual Help)

  • Karya: Annie Maria
  • Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
  • Ukuran: 51 × 82 cm
  • Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000

Dalam tradisi Gereja, Bunda Maria dikenal sebagai Penolong Senantiasa, ibu yang tidak pernah berhenti mendampingi dan mendoakan anak-anaknya. Melalui ribuan persilangan benang yang disusun dengan penuh ketelitian, Annie Maria menghadirkan sosok Bunda Maria dalam sikap doa yang tenang dan penuh pengharapan.

Perpaduan warna biru kehijauan pada jubah melambangkan kemanusiaan, sementara nuansa keemasan menggambarkan rahmat Allah yang menaungi hidupnya. Lingkaran cahaya di belakang kepala menegaskan panggilannya sebagai Bunda Sang Juruselamat, sedangkan kedua tangan yang terkatup mengajak setiap orang untuk percaya akan kuasa doa dan penyertaan Tuhan.

Karya ini berpusat pada semangat Fiat kesediaan Bunda Maria untuk menjawab, “Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Ketaatan yang lahir dari iman itulah yang menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam menghadapi suka maupun duka kehidupan.

Setiap helai benang yang disulam dengan sabar menjadi lambang doa-doa kecil yang dipersembahkan hari demi hari. Mungkin tidak selalu terlihat, namun pada akhirnya membentuk sebuah kesaksian iman yang utuh dan indah.

Dengan mengikuti lelang amal ini, Anda tidak hanya membawa pulang sebuah karya seni bernilai tinggi, tetapi juga turut mengambil bagian dalam penataan dan pengembangan kawasan Gereja, tempat di mana iman terus dipelihara dan harapan terus dihidupkan.

Semoga kehadiran karya ini senantiasa mengingatkan setiap keluarga akan kasih keibuan Bunda Maria yang selalu menyertai, menghibur, dan membawa setiap doa kepada Putra-Nya.

Misa Yang Menguatkan, Kebersamaan Yang Menghangatkan.

Melalui Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama Pastor Paroki, umat diajak untuk kembali percaya bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup, bahkan di tengah badai. Kebersamaan yang berlanjut dalam ramah tamah malam itu menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan bertumbuh dalam iman.

Bersama, Bahagia, Beriman

Selasa malam, 30 Juni 2026, menjadi salah satu malam yang hangat bagi kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 62 umat hadir dalam Misa Lingkungan yang dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Malam itu kami berkumpul di Joglo Prasetyan, atau yang lebih akrab kami sebut Joglo Asisi, di kediaman Bapak Paulus Prasetya. Rasanya memang sudah seperti rumah kedua. Banyak kegiatan lingkungan dilaksanakan di sana, jadi setiap kali berkumpul di Joglo Asisi, rasanya selalu ada suasana yang berbeda.

Bahkan sebelum misa dimulai, suasana sudah terasa hidup. Ada yang sibuk mengatur kursi, ada yang menyiapkan konsumsi, ada yang mengecek sound system, sementara tim koor latihan sebentar bersama organis muda lingkungan, Mbak Ganes dan Mbak Lauda. Di sisi lain, tentu ada juga yang asyik mengobrol. Begitulah Asisi. Selalu ada yang dikerjakan, tapi selalu ada juga waktu untuk saling menyapa.

Dalam homilinya, Romo mengajak kami merenungkan Injil Matius 8:23–27 tentang Yesus yang meredakan angin ribut.

Di tengah homilinya, Romo bertanya,

“Dalam Perayaan Ekaristi, berapa kali Romo mengucapkan ‘Tuhan bersamamu’?”

Kami mulai menghitung dipandu Romo dan mendapatkan jawabannya, 4 kali.

Lalu Romo melanjutkan lagi,

“Kalau sedang punya masalah atau sedang gundah, biasanya mengadu ke siapa?”

Jawabannya langsung bermacam-macam.

“Status WA, Romo!”

Belum selesai tertawa, ada lagi yang menjawab,

“ChatGPT!” tawa umat kembali pecah

“Yo, ChatGPT” kata Romo sambil tertawa

Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, Romo mengingatkan kami bahwa sering kali kita mencari jawaban ke mana-mana, padahal Tuhan selalu hadir lebih dulu. Kalimat “Tuhan bersamamu” yang kita dengar saat misa ternyata bukan hanya bagian dari liturgi. Itu adalah pengingat bahwa dalam keadaan apa pun, bahkan saat hidup sedang seperti diterpa badai, Tuhan tetap menyertai kita.

Setelah misa selesai, kami tidak langsung pulang.

Seperti biasa, sesi foto bersama wajib hukumnya. Setelah itu kami juga membuat video yel-yel Lingkungan Asisi dan video pendek untuk konten Instagram.

Harapannya sederhana. Kalau malam itu kami pulang dengan hati yang penuh sukacita, semoga sukacita yang sama juga bisa dirasakan oleh umat lain yang melihatnya melalui media sosial.

Lalu terdengarlah yel-yel yang sudah begitu akrab di telinga kami.

“Asisi! Bersama, bahagia, beriman!”

Malam itu rasanya tiga kata itu bukan sekadar yel-yel.

Kami benar-benar bersama, mulai dari mempersiapkan misa, melayani, berdoa, sampai membereskan semuanya bersama-sama.

Kami juga bahagia. Bahagia karena bisa bertemu, bercanda, tertawa, dan menikmati malam tanpa harus terburu-buru pulang.

Dan tentu saja kami pulang dengan iman yang kembali dikuatkan. Jadi rasanya, malam itu yel-yel Asisi benar-benar hidup.

Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah bersama Romo.

Sambil menikmati ronde panas, nasi kucing, sate ayam, tahu bacem, kerupuk, dan camilan sederhana lainnya, sesi tanya jawab dimulai.

Pertanyaannya macam-macam.

Ada yang penasaran makanan favorit Romo.

Ada ibu-ibu yang sekalian memberi kode soal menu caos dhahar.

Ada yang bertanya bagaimana Romo akhirnya memutuskan menjadi seorang Imam. Jawabannya pun membawa kami mendengar kembali cerita perjalanan panggilan beliau sejak muda.

Ibu-ibu lansia juga tidak mau melewatkan kesempatan. Ada yang bertanya tentang Sakramen Minyak Suci. Ada juga yang bertanya, kalau malam sudah capek dan tidak kuat duduk, apakah boleh berdoa sambil tiduran.

Lalu muncul pertanyaan yang mungkin mewakili bapak-bapak.

“Romo, olahraga apa kok tetap bugar?”

Romo menjawab sambil tersenyum, treadmill minimal 30 menit, ditambah squat dan plank setiap hari.

Belum selesai.

Ada lagi yang bertanya,

“Romo, rahasianya apa kok glowing terus?”

Jawaban Romo singkat.

“Karena rutin misa pagi!”

Lalu Romo juga bercerita bahwa yang bertanya tentang “keglowingan” Romo tidak hanya umat Asisi saja, ternyata Romo sering ditanya pertanyaan yang sama.

Malam itu gelak tawa kembali memenuhi Joglo Asisi.

Obrolan kemudian beralih ke topik yang lebih serius. Ada yang bertanya tentang tantangan kaum muda saat ini.

Menurut Romo, salah satunya adalah budaya FOMO. Anak muda sekarang sering ingin semuanya serba cepat. AI memang sangat membantu, tetapi kalau semua diserahkan pada teknologi, lama-lama kita bisa kehilangan kebiasaan berpikir dan menikmati proses. Romo mengajak kami, terutama kaum muda, untuk tetap mau belajar, bertumbuh, dan tidak takut menjalani proses.

Setelah umat puas bertanya, gantian Romo yang bertanya kepada kami. Beliau ingin mendengar bagaimana komitmen Lingkungan Asisi dalam mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah. Romo menekankan bahwa komitmen harus berdasarkan kesepakatan dan tidak memberatkan umat. Selain itu, Romo juga menjelaskan secara singkat mengenai APBU dan kolekte, sehingga kami semakin memahami bagaimana Gereja dikelola bersama-sama.

Tanpa terasa, es krim sebagai hidangan penutup sudah habis dan jam sudah semakin malam.

Acara ditutup dan kami pun berpamitan.

Pulang malam itu rasanya berbeda.

Perut kenyang.

Hati hangat dan penuh.

Dan iman terasa sedikit lebih kuat daripada saat kami datang.

Mungkin memang itu arti kebersamaan yang sesungguhnya.

Bukan hanya berkumpul, tetapi pulang membawa sesuatu.

Dan malam itu, kami semua pulang membawa berkat Tuhan.

Asisi! Bersama, bahagia, beriman!

Untuk mengikuti kegiatan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi Maguwo, follow Instagram kami @cerita.asisi.gmba dengan klik link disini.

Antusiasme Umat Warnai Live Painting Johannes de Britto dalam Misa di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Maguwo – Suasana Perayaan Ekaristi Minggu pagi di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Paroki Administratif Maguwo pada Minggu (28/6/2026) terasa istimewa. Selain mengikuti Misa Kudus yang dipimpin oleh Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr., umat juga disuguhkan sebuah persembahan seni melalui live painting oleh pelukis kopi ternama, Johannes de Britto.

Dengan penuh ketekunan, Johannes de Britto melukiskan Bunda Maria menggunakan media kopi yang menjadi ciri khas karya-karyanya. Selama proses melukis berlangsung, perhatian umat beberapa kali tertuju pada kanvas yang perlahan menampilkan sosok Bunda Maria. Banyak umat tampak antusias menyaksikan setiap goresan kuas yang dikerjakan secara langsung di tengah perayaan Ekaristi.

Kehadiran live painting ini memberikan pengalaman yang unik. Seni dan liturgi berpadu secara harmonis, menghadirkan suasana reflektif tanpa mengurangi kekhusyukan Misa. Umat tidak hanya mengikuti perayaan Ekaristi, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah karya seni religius lahir sebagai ungkapan iman dan persembahan bagi Tuhan.

Yang menarik, lukisan Bunda Maria hasil live painting tersebut tidak disimpan oleh pelukis, melainkan dilelang kepada masyarakat umum. Seluruh hasil lelang kemudian dialokasikan sebagai dana donasi untuk mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui cara ini, karya seni tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi sarana nyata untuk mendukung pembangunan dan pelayanan Gereja.Inisiatif tersebut mendapat sambutan yang hangat dari umat. Banyak yang mengapresiasi kepedulian Johannes de Britto yang mempersembahkan talenta seninya bagi karya pastoral Gereja. Antusiasme umat terlihat sepanjang kegiatan, baik saat menyaksikan proses melukis maupun ketika mengetahui bahwa hasil karya tersebut akan dilelang demi mendukung pengembangan kawasan gereja.

Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa setiap talenta dapat dipersembahkan untuk kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan sesama. Seperti yang tertulis dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” Semangat itulah yang tercermin dalam setiap sapuan kuas Johannes de Britto, menjadikan lukisan Bunda Maria bukan sekadar sebuah karya seni, melainkan sebuah karya kasih yang menghadirkan manfaat bagi Gereja dan seluruh umat.

Catatan Kecil dari Pelatihan Bendahara Paroki

Dua hari yang rasanya cepat sekali.

Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2026 lalu, kami, para bendahara dan karyawan administrasi keuangan dari berbagai paroki di Kevikepan Jogja Timur mengikuti Pelatihan Bendahara dan Karyawan Administrasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang di PPSM (Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan).

Pesertanya cukup banyak. Ada perwakilan dari 19 paroki, 2 paroki administratif, dan 2 stasi dari Kevikepan Jogja Timur. Dari Paroki Administratif Maguwo sendiri, keempat bendahara ikut hadir. Kesempatan yang baik karena jarang rasanya bisa belajar bersama dalam formasi yang lengkap seperti ini.

Materi yang diberikan cukup padat. Ada delapan materi yang harus diselesaikan dalam dua hari. Mulai dari pemahaman tugas masing-masing bendahara, Akuntansi Paroki dan KAP (Keuangan Akuntansi Paroki), tata cara pencatatan keuangan, aset dan inventarisasi aset, perpajakan, sampai penyusunan RAB (Rancana Anggaran & Beban), RAPAT (Rencana Anggaran & Pengadaan Aset Tetap), dan proposal.

Jujur saja, beberapa materi membuat kepala sedikit berasap. Tetapi untungnya para narasumber Ekonomat Keuskupan Agung Semarang menyampaikan dengan sabar dan cukup membumi. Banyak pertanyaan yang muncul, banyak diskusi terjadi. kadang serius, kadang diselingi tawa. Dari situlah terasa bahwa hampir semua peserta memiliki pergumulan yang mirip dalam pelayanan sehari-hari.

Yang biasanya disukai dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, tetapi juga kesempatan bertemu dengan orang-orang yang menjalani pelayanan yang sama. Ada rasa bahwa kami tidak berjalan sendirian. Banyak hal yang ternyata bisa dipelajari dari pengalaman paroki lain.

Hari pertama bahkan berakhir hampir pukul 10 malam. Saat sesi terakhir malam itu selesai, hampir semua peserta langsung tersenyum lega.

Yang menyenangkan dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, kami juga menikmati obrolan-obrolan kecil saat jeda kopi, saat makan, atau ketika saling bertanya bagaimana praktik administrasi di paroki masing-masing. Ternyata banyak tantangan yang mirip-mirip. Ada yang bergumul dengan inventaris aset, ada yang masih belajar memahami KAP, ada juga yang berbagi cara agar administrasi bisa lebih rapi tanpa membuat pelayanan menjadi kewalahan.

PPSM sendiri selalu punya suasana yang khas. Tenang. Tidak banyak kebisingan. Di dekat kapel terdengar suara air mengalir yang membuat suasana semakin damai.

Kapelnya tidak besar, tetapi heningnya terasa. Kadang kita datang membawa banyak pikiran, banyak pekerjaan yang menunggu, banyak angka yang harus dibereskan. Tetapi di tempat itu rasanya Tuhan hanya meminta kita duduk sebentar dan beristirahat.

Sabtu pagi, 20 Juni 2026, kami mengikuti misa yang dipimpin Romo Ekonomat. Bacaan Injil diambil dari Matius 6:24-34 tentang jangan khawatir akan hidupmu.

Tentu saja itu terasa sangat “pas” dengan pelatihan kami akhir minggu kemarin. Bahkan Romo menyampaikan di homilinya, bacaan hari itu seperti Tuhan berbicara langsung kepada para Bendahara dan karyawan administrasi Paroki.

Dua hari kami berbicara tentang anggaran, laporan keuangan, aset, inventaris, dan berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Lalu Injil pagi itu mengingatkan bahwa hidup bukan pertama-tama soal semua itu.

Bukan berarti keuangan tidak penting. Justru karena penting maka harus dikelola dengan baik. Tetapi di atas semua angka dan laporan itu, tetap ada Tuhan yang memelihara Gereja-Nya.

Pelatihan ditutup dengan peneguhan dari Romo Ekonomat. Dari banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang masih teringat sampai perjalanan pulang.

“If you lose your wealth, you have lost nothing; if you lose your health, you have lost something; but if you lose your character, you have lost everything.”

Sebagai bendahara, kalimat itu terasa sangat dekat. Karena pada akhirnya yang paling dijaga bukan hanya uang atau laporan keuangan, melainkan kepercayaan.

Pelatihan selesai pukul 13.00 dan ditutup dengan makan siang bersama. Setelah itu kami kembali ke paroki masing-masing dengan catatan yang lebih penuh daripada saat datang.

Semoga apa yang dipelajari selama dua hari ini tidak berhenti di buku catatan atau file presentasi saja, tetapi sungguh membantu pelayanan kami sehari-hari.

Karena menjadi bendahara paroki bukan sekadar mengurus angka.

Di balik setiap angka, ada kepercayaan umat yang harus dijaga.

Dari Jejak Para Perintis hingga Sukacita Umat: Rangkaian Syukur Ulang Tahun GMBA dan Lahirnya Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo


“Segala sesuatu ada waktunya, dan setiap peristiwa di bawah langit ada masanya.” (Pkh 3:1)

Perjalanan iman sebuah komunitas tidak pernah dibangun dalam semalam. Ia bertumbuh dari doa-doa yang dipanjatkan dengan setia, pengorbanan yang diberikan dengan tulus, serta semangat pelayanan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Demikian pula perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang pada tahun 2026 memasuki babak baru sejarahnya sebagai Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.

Sebagai ungkapan syukur atas rahmat Tuhan yang melimpah sekaligus mengenang perjalanan panjang umat, rangkaian perayaan ulang tahun GMBA diselenggarakan melalui berbagai kegiatan yang sarat makna, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Gereja.


Menapak Jejak Para Perintis

Rangkaian perayaan diawali pada Sabtu, 30 Mei 2026 pagi, dengan ziarah dan doa di makam para leluhur serta perintis Gereja Maguwo. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan ke tempat peristirahatan terakhir mereka, melainkan sebuah ungkapan hormat dan terima kasih kepada para pendahulu yang telah menanam benih-benih iman di tanah Maguwo.

Di hadapan pusara para perintis, umat diajak untuk mengenang bahwa Gereja yang kini berdiri dan berkembang merupakan buah dari perjuangan, kesetiaan, dan pengorbanan banyak orang. Dalam suasana hening dan penuh doa, umat memohon agar semangat para pendahulu terus hidup dan menjadi inspirasi dalam membangun Gereja di masa kini.


Memohon Restu dan Menjalin Persaudaraan

Masih pada hari yang sama, suasana syukur berlanjut melalui kegiatan kenduren bersama warga sekitar gereja. Acara ini menjadi wujud nyata semangat kebersamaan dan persaudaraan yang telah lama terjalin antara Gereja dan masyarakat Maguwoharjo.

Dalam suasana sederhana namun hangat, umat bersama warga berkumpul untuk berdoa dan bersyukur. Pada kesempatan tersebut, Gereja juga memohon doa restu dari masyarakat atas penetapan status baru GMBA sebagai Paroki Administratif.

Kehadiran berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa perjalanan Gereja tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitar. Semangat toleransi, gotong royong, dan saling menghargai yang selama ini terbangun menjadi fondasi penting dalam kehidupan bersama sebagai sesama warga masyarakat.


Menerima Tugas Perutusan yang Baru

Puncak historis rangkaian perayaan terjadi pada Selasa, 2 Juni 2026 pukul 19.00 WIB melalui pelantikan Dewan Pastoral Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur.

Pelantikan ini menjadi penanda dimulainya pelayanan pastoral dalam status yang baru. Para pengurus yang dilantik menerima tugas perutusan untuk melayani umat, membangun persekutuan, serta menghadirkan Gereja yang semakin hidup dan relevan di tengah masyarakat.

Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa perubahan status dari stasi menjadi paroki administratif bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam mewartakan Injil dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.


Bersukacita sebagai Satu Keluarga Allah

Rangkaian perayaan ditutup dengan Pesta Umat yang diselenggarakan di halaman belakang gereja setelah Misa Minggu, 14 Juni 2026. Dalam suasana penuh sukacita dan kekeluargaan, umat dari berbagai lingkungan berkumpul untuk merayakan syukur bersama.

Acara semakin meriah dengan pemotongan tumpeng oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur sebagai simbol rasa syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kebersamaan yang terjalin dalam pesta umat menjadi gambaran nyata Gereja sebagai keluarga Allah yang hidup, bertumbuh, dan saling menguatkan.

Tawa, canda, dan keakraban yang hadir sepanjang acara menjadi tanda bahwa iman tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam persaudaraan yang hangat di tengah umat.

Melangkah Bersama Menuju Masa Depan

Keempat kegiatan tersebut membentuk satu rangkaian yang utuh: mengenang para perintis, menjalin persaudaraan dengan masyarakat, meneguhkan pelayanan pastoral, dan merayakan sukacita sebagai satu keluarga umat Allah.

Perjalanan menuju Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo mengajarkan bahwa Gereja bertumbuh bukan hanya karena bangunan yang berdiri megah, melainkan karena umat yang terus setia berjalan bersama Tuhan. Dengan berlandaskan warisan iman para pendahulu, didukung semangat kebersamaan umat, serta terbuka pada karya Roh Kudus, Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo kini melangkah dengan penuh harapan menuju masa depan.

Semoga segala rahmat yang telah diterima menjadi sumber kekuatan untuk terus menghadirkan Gereja yang hidup, missioner, dan menjadi berkat bagi sesama.

Meneguhkan Langkah Pastoral Melalui Penentuan Baseline: FGD Ardas Paroki Administratif Maguwo


Dalam semangat membangun Gereja yang semakin partisipatif, berdaya guna, dan berbuah bagi umat, Paroki Administratif Maguwo menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) Penentuan Baseline pada Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Kegiatan ini dihadiri oleh seluruh anggota Dewan Harian Paroki Administratif Maguwo bersama para Ketua Lingkungan yang menjadi ujung tombak pelayanan dan kehidupan menggereja di tengah umat.

FGD ini merupakan salah satu program yang telah direncanakan dalam Agenda Dasar (Ardas) Paroki Administratif Maguwo sebagai tindak lanjut dari Ardas IX Keuskupan Agung Semarang. Melalui proses refleksi dan dialog bersama, seluruh peserta diajak untuk membaca realitas kehidupan umat secara lebih mendalam, mengenali kondisi aktual paroki, serta memetakan berbagai potensi dan tantangan yang dihadapi dalam perjalanan pastoral saat ini.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Tim Litbang Paroki Administratif Maguwo ini menjadi momentum penting untuk menyusun baseline atau titik awal yang objektif dan terukur. Baseline tersebut diharapkan dapat menjadi landasan yang kuat dalam merumuskan arah kebijakan, prioritas pelayanan, serta program-program pastoral di masa mendatang agar semakin relevan dengan kebutuhan umat dan selaras dengan semangat Ardas Keuskupan Agung Semarang.

Melalui proses mendengarkan, berdialog, dan berefleksi bersama, seluruh peserta menunjukkan komitmen untuk terus membangun kehidupan menggereja yang hidup, dinamis, dan berakar pada semangat sinodal. Dengan mengenali kondisi nyata yang ada saat ini, Paroki Administratif Maguwo diharapkan semakin mampu melangkah dengan bijaksana dalam mewujudkan pelayanan yang menghadirkan kasih Kristus secara nyata di tengah masyarakat.

Semoga hasil penentuan baseline ini menjadi sarana untuk meneguhkan arah perjalanan pastoral Paroki Administratif Maguwo, sehingga setiap program dan langkah yang diambil sungguh menjadi jawaban atas panggilan perutusan Gereja dalam melayani umat dan menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia.

Penerimaan Komuni Pertama Perdana di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo


Minggu, 7 Juni 2026 menjadi hari yang penuh sukacita dan rahmat bagi umat Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Dalam Perayaan Ekaristi yang khidmat, sebanyak 23 anak menerima Sakramen Ekaristi untuk pertama kalinya, menjadikan momen ini sebagai Penerimaan Komuni Pertama perdana sejak Maguwo resmi menjadi Paroki Administratif.

Perjalanan menuju penerimaan Komuni Pertama bukanlah proses yang singkat. Selama kurang lebih sembilan bulan, para calon penerima Komuni Pertama telah mengikuti pembinaan iman secara berkelanjutan. Berbagai kegiatan mereka jalani dengan penuh semangat, mulai dari pendalaman materi katekese, kegiatan outing, rekoleksi bersama orang tua, ujian, peneguhan, hingga Sakramen Tobat sebagai persiapan batin untuk menyambut Tubuh Kristus dengan hati yang bersih dan siap.

Dari 25 anak yang telah dipersiapkan, 23 anak dapat hadir dan mengikuti perayaan ini dengan penuh sukacita. Dua peserta lainnya berhalangan hadir karena sakit. Meski demikian, seluruh umat turut mendoakan agar mereka segera pulih dan dapat menerima Komuni Pertama pada kesempatan berikutnya.

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., yang dalam homilinya mengajak anak-anak untuk senantiasa memelihara persatuan dengan Kristus melalui Ekaristi. Komuni Pertama bukanlah akhir dari perjalanan pembinaan iman, melainkan awal dari kehidupan yang semakin dekat dengan Tuhan melalui perayaan Ekaristi dan kehidupan sehari-hari yang mencerminkan kasih Kristus.

Suasana haru dan bahagia tampak menghiasi wajah para penerima Komuni Pertama, orang tua, serta seluruh umat yang hadir. Kehadiran para orang tua menjadi tanda nyata dukungan keluarga sebagai Gereja domestik yang terus mendampingi pertumbuhan iman anak-anak. Para katekis yang selama berbulan-bulan mendampingi proses pembinaan juga turut bersukacita menyaksikan buah dari pelayanan yang telah mereka jalankan dengan penuh ketulusan.

Sukacita perayaan semakin terasa dengan keterlibatan adik-adik PIA Angelus ( Pendampingan Iman Anak ) yang mempersembahkan koor selama Perayaan Ekaristi berlangsung. Melalui lantunan pujian yang mereka bawakan, para anggota PIA turut mendukung dan mengiringi kakak-kakak penerima Komuni Pertama dalam momen istimewa perjumpaan mereka dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Kehadiran dan pelayanan mereka menjadi gambaran indah bagaimana pembinaan iman anak-anak di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo terus berjalan secara berkesinambungan.

Setelah Perayaan Ekaristi selesai, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan mistagogi yang dilaksanakan di dalam gereja. Melalui pendalaman ini, anak-anak diajak untuk semakin memahami makna sakramen yang baru saja mereka terima, sehingga pengalaman perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi dapat terus bertumbuh dan berbuah dalam kehidupan mereka.

Setelah mengikuti mistagogi, para penerima Komuni Pertama juga langsung didaftarkan sebagai anggota Putra Putri Altar Maguwo. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen paroki untuk menghadirkan pembinaan iman yang berkelanjutan bagi anak-anak. Dengan bergabung sebagai misdinar, mereka diharapkan semakin dekat dengan kehidupan liturgi Gereja serta bertumbuh dalam semangat pelayanan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai murid-murid Kristus.

Momen ini menjadi tanda bahwa penerimaan Komuni Pertama bukanlah akhir dari perjalanan iman, melainkan awal dari keterlibatan yang lebih aktif dalam kehidupan Gereja. Melalui pendampingan keluarga, para katekis, dan komunitas paroki, anak-anak diajak untuk terus mengembangkan iman yang telah mereka terima serta mengambil bagian dalam karya pelayanan Gereja sesuai dengan panggilan mereka masing-masing.

Semoga rahmat yang diterima dalam Komuni Pertama ini semakin meneguhkan langkah anak-anak untuk mencintai Ekaristi, bertumbuh dalam iman, serta menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, sekolah, dan lingkungan tempat mereka berada.

“Akulah roti hidup yang turun dari surga. Barangsiapa makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yohanes 6:51)

Dari Stasi Menjadi Paroki Administratif: Tonggak Sejarah Baru bagi Umat Maria Bunda Allah Maguwo


2 Juni 2026 menjadi tanggal yang akan selalu dikenang dalam perjalanan iman umat Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Pada hari yang penuh rahmat ini, GMBA secara resmi ditingkatkan statusnya menjadi Paroki Administratif Maria Bunda Allah, sebuah tonggak sejarah yang menjadi buah dari perjalanan panjang, kerja sama, doa, dan pelayanan seluruh umat.

Peresmian Paroki Administratif Maria Bunda Allah dilaksanakan dalam Misa Syukur yang berlangsung khidmat dan penuh sukacita di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Timur, didampingi oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. sebagai Pastor Paroki serta Romo Yohanes Ngatmo, Pr sebagai Vikaris Paroki.

Salah satu momen yang begitu menyentuh hati umat adalah parade bendera panji wilayah dan lingkungan yang mengawali rangkaian perayaan. Dengan penuh kebanggaan dan semangat persatuan, panji-panji dari seluruh wilayah dan lingkungan diarak memasuki gereja. Iring-iringan tersebut menjadi simbol kebersamaan umat yang selama ini berjalan bersama dalam membangun Gereja, sekaligus menjadi ungkapan syukur atas anugerah yang diterima oleh seluruh keluarga besar GMBA.

Dalam perayaan yang sama juga dilaksanakan pelantikan Dewan Pastoral Harian (DPH) Paroki Administratif Maria Bunda Allah yang dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara pelantikan sebagai tanda dimulainya pelayanan kepengurusan yang baru dalam status paroki administratif.

Namun, ada satu peristiwa yang menjadikan hari tersebut semakin istimewa. Tepat pada tanggal bersejarah ini, empat orang anak menerima Sakramen Baptis Kudus dan menjadi baptisan pertama dalam sejarah Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Momen penuh sukacita ini menjadi tanda kehidupan baru yang lahir bersamaan dengan babak baru perjalanan Gereja Maguwo. Sebuah simbol yang indah bahwa Gereja terus bertumbuh, melahirkan generasi-generasi baru yang akan menjadi bagian dari umat Allah.

Pada kesempatan yang berbahagia ini, umat juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dewan Pastoral Harian Periode 2023–2025 yang telah mengabdikan diri dengan penuh dedikasi dalam mempersiapkan perjalanan menuju paroki administratif, yaitu:

  • Ketua: Yohanes Agung Prasetya Putra
  • Sekretaris I: Elisabeth Amy Andriani
  • Sekretaris II: Fransisca Sri Murtini
  • Bendahara I: Lusia Rini Sundari
  • Bendahara II: Theresia Nelly
  • Bendahara III: Theresia Sri Harnani

Serta para Ketua Bidang:

  • Joanna Fransisca Ita Rinawati (Liturgi dan Peribadatan)
  • Mikael Purwanto (Pewarta dan Evangelisasi)
  • Albertus Bagio Murdianto (Pelayanan Kemasyarakatan)
  • Albertus Arief Subyantoro (Paguyuban dan Persaudaraan)
  • Andreas Keso Muda (Penelitian dan Pengembangan)
  • Yanuarius Pargiyono (Rumah Tangga)

Terima kasih atas kerja keras, pengorbanan, dan ketekunan yang telah diberikan selama masa pelayanan sehingga proses peningkatan status Gereja Maguwo dapat berjalan dengan baik.


“Dari rahim Paroki Maria Marganingsih Kalasan, lahirlah Paroki Administratif Maria Bunda Allah. Bukan sebagai perpisahan, melainkan sebagai tanda kedewasaan iman sebuah komunitas yang kini dipanggil untuk melangkah lebih mandiri dalam mewartakan kasih Kristus.”

Perayaan syukur ini juga semakin bermakna dengan kehadiran tamu-tamu istimewa dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan selaku paroki induk, khususnya jajaran Dewan Pastoral Paroki (DPP) Kalasan yang turut hadir untuk berbagi sukacita bersama umat Maria Bunda Allah. Kehadiran mereka menjadi tanda nyata persaudaraan dan kebersamaan yang selama ini terjalin erat antara Paroki Kalasan dan umat Maguwo.

Sebagai bagian dari keluarga besar Paroki Kalasan, umat Maguwo telah bertumbuh dan berkembang melalui pendampingan pastoral yang berkesinambungan. Oleh karena itu, momen peresmian Paroki Administratif Maria Bunda Allah bukan hanya menjadi sukacita bagi umat Maguwo, melainkan juga menjadi kebanggaan bersama bagi Paroki Kalasan yang telah ikut menaburkan benih pelayanan dan pendampingan selama perjalanan panjang tersebut.

Kehadiran DPP Kalasan pada perayaan bersejarah ini menjadi simbol estafet pelayanan Gereja yang terus berlanjut, sekaligus ungkapan dukungan dan harapan agar Paroki Administratif Maria Bunda Allah semakin berkembang sebagai komunitas umat yang hidup, mandiri, dan misioner.

Ucapan terima kasih secara khusus juga disampaikan kepada Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. yang dengan setia mendampingi dan mengawal proses peningkatan status Gereja Maguwo sejak pelaksanaan visitasi pada bulan September 2025 hingga akhirnya secara resmi ditetapkan sebagai Paroki Administratif Maria Bunda Allah pada 2 Juni 2026. Pendampingan, perhatian, dan semangat yang diberikan menjadi bagian penting dalam perjalanan bersejarah ini.

Perubahan status dari stasi menjadi paroki administratif tentu bukan sekadar perubahan nama atau struktur organisasi. Lebih dari itu, perubahan ini merupakan panggilan bagi seluruh umat untuk semakin dewasa dalam iman, semakin aktif dalam pelayanan, dan semakin bertanggung jawab dalam kehidupan menggereja. Status baru ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat semangat persekutuan, meningkatkan kualitas pelayanan pastoral, menumbuhkan kader-kader pelayan Gereja, serta menghadirkan Gereja yang semakin dekat dengan umat dan masyarakat.

Semoga Paroki Administratif Maria Bunda Allah terus bertumbuh menjadi komunitas yang hidup, mandiri, dan missioner; menjadi rumah yang menghadirkan kasih Kristus bagi siapa saja; serta senantiasa berjalan seiring dengan arah pastoral Keuskupan Agung Semarang dalam mewujudkan Gereja yang sinodal, partisipatif, dan peduli terhadap sesama serta seluruh ciptaan.

Selamat dan syukur atas lahirnya Paroki Administratif Maria Bunda Allah. Semoga Tuhan yang telah memulai karya baik ini senantiasa menyertai langkah seluruh umat dalam membangun Gereja-Nya.

Doa Bersama Warga Maguwoharjo di GMBA Maguwo Berlangsung Penuh Syukur dan Semangat Toleransi

Maguwoharjo, 30 Mei 2026 – Suasana penuh syukur, kebersamaan, dan semangat toleransi mewarnai kegiatan Doa Bersama Warga Maguwoharjo yang diselenggarakan di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo pada Sabtu (30/5/2026).

Kegiatan ini menjadi ungkapan syukur atas peningkatan status Gereja Maria Bunda Allah Maguwo dari Stasi menjadi Paroki Administratif, sebuah tonggak penting dalam perjalanan pelayanan Gereja kepada umat dan masyarakat sekitar.

Acara dihadiri oleh pengurus Dewan Pastoral Stasi GMBA Maguwo, warga Maguwoharjo, Penjabat (Pj) Dukuh Maguwoharjo, perwakilan TNI dan Polri, serta para tokoh dan pemuka agama Islam. Kehadiran berbagai unsur masyarakat tersebut menunjukkan eratnya hubungan persaudaraan dan kerukunan yang telah terjalin di tengah kehidupan masyarakat Maguwoharjo.

Doa bersama berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Seluruh peserta diajak untuk bersyukur atas perkembangan yang telah dicapai GMBA Maguwo sekaligus memohon berkat agar Paroki Administratif Maria Bunda Allah dapat semakin berkembang dalam karya pelayanan, pewartaan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam sambutannya, Pj Dukuh Maguwoharjo menyampaikan ucapan selamat atas peningkatan status Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menjadi Paroki Administratif. Ia berharap kehadiran Gereja dapat terus memberikan kontribusi positif bagi kehidupan sosial dan kemasyarakatan di wilayah Maguwoharjo.

“Kami mengucapkan selamat atas peningkatan status Gereja Maria Bunda Allah menjadi Paroki Administratif. Semoga Gereja semakin maju dan mampu mewujudkan panggilannya sebagai garam dan terang dunia, membawa kebaikan serta menjadi berkat bagi masyarakat,” ungkapnya.

Momentum ini juga menjadi gambaran nyata kehidupan toleransi antarumat beragama yang tumbuh dan berkembang dengan baik di Maguwoharjo. Kehadiran tokoh agama Islam bersama unsur pemerintah, TNI, dan Polri dalam suasana penuh persaudaraan menunjukkan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan untuk membangun masyarakat yang harmonis.

Sebagai simbol rasa syukur atas anugerah yang diterima, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng. Tumpeng yang merupakan lambang syukur tersebut menjadi penanda harapan agar Paroki Administratif Maria Bunda Allah semakin berkembang dan mampu memberikan pelayanan yang semakin baik bagi umat serta masyarakat luas.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan ramah tamah dan pembagian genduri kepada seluruh peserta yang hadir. Dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan, para tamu saling berbincang, mempererat persaudaraan, serta merayakan sukacita bersama atas perkembangan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Melalui kegiatan doa bersama ini, Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo menegaskan komitmennya untuk terus hadir di tengah masyarakat, membangun persaudaraan lintas iman, memperkuat semangat toleransi, serta menjadi tanda kasih dan harapan bagi semua orang.

Menapak Jejak Para Perintis: Ziarah dan Doa Menyongsong Paroki Administratif GMBA Maguwo


DPS Maguwo bersama perwakilan unsur umat melaksanakan ziarah ke makam para pendiri dan perintis Gereja Maria Bunda Allah sebagai ungkapan syukur, penghormatan, dan permohonan restu menjelang peresmian GMBA menjadi Paroki Administratif pada 2 Juni 2026.

Sabtu pagi, 30 Mei 2026, Dewan Pengurus Stasi (DPS) Maguwo bersama perwakilan Prodiakon, Orang Muda Katolik (OMK), Remaja Bunda Maria (RBM), Pamdal, perwakilan ibu-ibu stasi, para Ketua Lingkungan (Kaling), dan Ketua Wilayah (Kawil) melaksanakan ziarah ke tiga makam tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah perjalanan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun GMBA sekaligus ungkapan syukur dan penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar bagi tumbuh dan berkembangnya komunitas umat Katolik di Maguwo. Ziarah ini juga menjadi momen untuk memohon restu dan doa para leluhur pendiri gereja menjelang peristiwa bersejarah, yakni pada tanggal 2 Juni 2026 Gereja Maria Bunda Allah Maguwo resmi menjadi Paroki Administratif.

Perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB dari Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Seakan turut mengiringi dan merestui perjalanan para peziarah, semesta menghadirkan cuaca yang begitu bersahabat. Langit tampak mendung namun tanpa hujan, udara terasa sejuk, dan angin berembus lembut sepanjang perjalanan. Suasana yang teduh tersebut menambah kekhusyukan dan kebersamaan dalam setiap perhentian ziarah.

Tujuan pertama adalah makam Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto beserta istri yang berada di wilayah Pokoh. Beliau merupakan sosok yang memiliki jasa besar dalam perjalanan awal berdirinya Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Dengan kemurahan hati dan kepedulian yang luar biasa, beliau berkenan menjual tanahnya dengan harga yang sangat terjangkau sehingga dapat digunakan untuk pembangunan gereja yang kini menjadi pusat kehidupan iman umat Katolik di Maguwo.

Di lokasi makam, rombongan disambut hangat oleh salah satu keturunan beliau, Ibu Munarti, yang juga aktif melayani sebagai katekis di GMBA. Kehadiran beliau menjadi pengingat bahwa semangat pelayanan yang diwariskan oleh keluarga besar Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto terus hidup dan berkembang hingga saat ini. Dalam suasana doa dan penghormatan, umat mengenang ketulusan serta pengorbanan beliau yang telah menjadi salah satu fondasi berdirinya Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju makam Bapak Paulus Yadi Wiyono di wilayah Modinan. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pembinaan dan pemberdayaan kaum muda dalam kehidupan menggereja. Dengan semangat dan dedikasinya, beliau mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan dan pengembangan Gereja.

Di makam ini, rombongan juga diterima dengan hangat oleh ahli waris dan keluarga besar Bapak Paulus Yadi Wiyono. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mengenang kembali perjuangan dan semangat beliau dalam membangun keterlibatan kaum muda sebagai generasi penerus Gereja. Warisan nilai yang beliau tinggalkan terus menjadi inspirasi bagi OMK dan generasi muda GMBA untuk terus berkarya, melayani, dan bertumbuh dalam iman.

Ziarah kemudian berlanjut ke tujuan terakhir, yaitu makam Bapak Yohanes Berchmans Kandari. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memprakarsai pembentukan paguyuban umat Katolik yang bermukim di wilayah Kelurahan Maguwoharjo. Berkat inisiatif dan semangat persaudaraan yang beliau bangun, umat Katolik yang tersebar di berbagai wilayah dapat dipersatukan dalam sebuah komunitas yang saling mendukung dan menguatkan dalam kehidupan beriman.

Di lokasi makam, rombongan disambut oleh ahli waris dan keluarga besar Bapak Yohanes Berchmans Kandari yang hingga saat ini masih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan di GMBA. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat pelayanan dan kebersamaan yang diwariskan oleh Bapak Yohanes Berchmans Kandari terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dari benih-benih persaudaraan yang beliau tanam, tumbuhlah komunitas umat yang semakin berkembang hingga akhirnya mengantarkan GMBA memasuki babak baru sebagai Paroki Administratif.

Melalui ziarah ini, umat diajak untuk mengenang dan meneladani tiga nilai luhur yang diwariskan para tokoh tersebut. Dari Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto, kita belajar tentang ketulusan dan pengorbanan demi perkembangan Gereja. Dari Bapak Paulus Yadi Wiyono, kita belajar tentang pentingnya membina generasi muda sebagai harapan masa depan Gereja. Sedangkan dari Bapak Yohanes Berchmans Kandari, kita belajar tentang semangat persatuan dan kebersamaan dalam membangun komunitas umat yang kokoh dan penuh kasih.

Semoga perjalanan ziarah ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh umat untuk melanjutkan semangat, karya, dan pengabdian yang telah mereka wariskan. Menjelang perubahan status menjadi Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo, kiranya seluruh umat semakin dipersatukan dalam iman, semakin bersemangat dalam pelayanan, serta semakin siap menjawab panggilan untuk menjadi Gereja yang hidup, bertumbuh, dan membawa berkat bagi sesama.

Semoga Tuhan senantiasa memberkati perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Dan semoga jasa, keteladanan, serta pengorbanan para pendiri dan perintis gereja ini senantiasa dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang dalam membangun Gereja yang semakin dewasa, mandiri, dan berakar kuat dalam kasih Kristus.