Surat Gembala Uskup Agung Semarang Merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia


SURAT GEMBALA USKUP AGUNG SEMARANG

MERAYAKAN HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Disampaikan pada HR Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Sabtu – Minggu, 15 – 16 Agustus 2026

“Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”

Saudari-saudara, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang terkasih, Berkah Dalem.

Pada 17 Agustus 2026, kita memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan penuh syukur, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dinikmati, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat. Mardika iku ora mung uwal saka penjajahan, nanging uga wani mbangun urip bebarengan kang luwih adil lan sejahtera. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.

Surat Gembala ini bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria menjadi tanda harapan: Allah mengangkat dan memuliakan manusia yang setia kepada-Nya. Bunda Maria mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk mementingkan diri sendiri, melainkan kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama. Bersama Bunda Maria, marilah kita membawa harapan itu ke dalam kehidupan berbangsa.

Saudari-saudara yang terkasih,

Kita bersyukur atas banyak kemajuan bangsa. Namun, berbagai persoalan masih kita hadapi. Kesenjangan ekonomi masih terasa, dan bahkan semakin terasakan akhir-akhir ini. Sebagian saudara kita masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman ruang dan masyarakat sipil, kekerasan, perdagangan manusia, dan berbagai ketidakadilan masih melukai kehidupan bersama.

Persaudaraan pun mudah retak karena perbedaan agama, etnis dan pilihan politik, sikap merasa kelompok sendiri paling benar, berita bohong, dan ujaran kebencian. Alam juga terluka: hutan berkurang dan hancur akibat penebangan secara tidak bertanggungjawab, sungai tercemar akibat limbah yang tidak diolah, sampah menumpuk hingga mengganggu kesehatan, dan penambangan yang tidak bertanggung jawab demi mengejar keuntungan ekonomi. Ini semua mengancam kehidupan masyarakat serta masa depan generasi mendatang.

Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan memang membawa banyak manfaat positif, tetapi juga rentan merendahkan martabat manusia. Dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, tertanggal 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia dan untuk kebaikan bersama. Teknologi tidak boleh menguasai, menggantikan, atau merendahkan manusia.

Di tengah berbagai persoalan itu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan kristiani bukanlah menunggu sambil berpangku tangan. Harapan menggerakkan kita untuk bertindak bersama. Terkait dengan hal ini, Nabi Yeremia berpesan, “Usahakanlah kesejahteraan kota … sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Karena itu, mencintai dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur merupakan bagian dari panggilan iman kita.

Saudari-saudara yang terkasih,

Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup Asia atau FABC, pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta, mengajak Gereja – ya kita semua – untuk melakukan pertobatan sinodal dengan “menjadi jembatan dan pembangun jembatan”. Ajakan ini sangat penting dan relevan bagi bangsa Indonesia dengan semua kemajemukannya. Kita tidak cukup hanya hidup berdampingan. Kita dipanggil untuk membangun perjumpaan satu dengan yang lain; saling mendengarkan, memahami, dan bekerja sama membangun peradaban kasih. Itulah sebabnya dibutuhkan jembatan-jembatan dialog yang menghubungkan satu sama lain.

Menjadi jembatan berarti menghubungkan mereka yang berbeda dan mempertemukan mereka yang berseberangan dan berseteru. Kita mesti memulai dengan komunikasi kasih: berbicara jujur tanpa melukai, mendengarkan tanpa prasangka, berani meminta maaf seraya mengakui kekurangan, dan tulus mengampuni tanpa syarat. Jika ada keretakan, kita berani mengambil langkah pertama menuju perdamaian, baik di dalam keluarga, lingkungan, paroki, komunitas, tempat kerja, ataupun masyarakat.

Inilah laku pertobatan: urip bebarengan iku kudu gelem ngrungokake, ngurmati, lan nyengkuyung siji lan sijine. Hidup bersama bertumbuh ketika kita saling mendengarkan, menghormati, dan meneguhkan.

Saudari-saudara yang terkasih,

Dalam semangat ARDAS IX, kita ingin menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Kebahagiaan kristiani tumbuh ketika kehadiran kita membuat sesama mengalami kasih, harapan, dan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, perayaan kemerdekaan ini mengundang kita menempuh empat langkah pertobatan bersama.

Pertama, marilah menjadi jembatan dan pembangun jembatan. Kita membangun dan mengembangkan komunikasi kasih yang saling menghormati dan mengikis perseteruan, permusuhan, atau konflik. Kita membangun dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian.

Kedua, marilah merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan. Kita dampingi keluarga miskin dan rentan. Kita dukung usaha kecil dan koperasi yang sesungguhnya dan sudah berkembang baik, serta membuka kesempatan kerja. Pada saat yang sama, kita mengembangkan laku lestari seperti mengurangi pemakaian plastik, memilah dan mengolah sampah menjadi berkah, menghemat dan menjaga sumber air, misalnya dengan membuat sumur resapan di sekitar rumah, serta menanam dan merawat pohon.

Keluarga, lingkungan, paroki, sekolah, rumah sakit, komunitas, dan lembaga Katolik mesti mempunyai langkah bersama yang jelas dan dapat dievaluasi. Kemajuan ekonomi kita upayakan bersama dengan tetap menjaga kelestarian alam, bukan dengan eksploitasi berlebihan yang merusak kehidupan.

Ketiga, marilah menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia. Kita periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya; tidak membuat atau menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu, dan ujaran kebencian sebagaimana masih sering kita jumpai. Teknologi memang membantu kita mengambil keputusan, namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.

Keempat, kepada para pemimpin dan pemegang tanggung jawab publik, kita menaruh harapan agar berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat. Setiap kebijakan semoga lahir dari kesediaan mendengarkan suara dan kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah serta dijalankan dengan jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan, kesejahteraan bersama, dan kelestarian alam.

Saudari-saudara yang terkasih,

Marilah merayakan kemerdekaan bangsa ini dengan syukur dan tanggung jawab. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya peroleh dari bangsa kita”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi Indonesia”. Kiranya masingmasing dari kita dapat mempersembahkan satu langkah nyata: memulihkan hubungan yang retak, menolong keluarga yang kesulitan, merawat lingkungan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menyuarakan kebenaran dan keadilan demi kebaikan bersama.

Urip iku urup. Hidup kita hendaknya menjadi terang dan membawa manfaat bagi sesama. Semoga tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi titik pijak pertobatan bersama untuk membangun Indonesia yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur.

Semoga Tuhan Yang Mahapengasih memberkati bangsa dan negara kita. Semoga Santa Perawan Maria yang diangkat ke surga, Bunda segala bangsa dan tanda harapan bagi umat beriman, menyertai perjalanan Indonesia menuju kehidupan yang semakin sejahtera, adil, makmur, manusiawi, dan lestari. Berkah Dalem. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ! MERDEKA !

Semarang, 8 Agustus 2026

† Mgr. Robertus Rubiyatmoko

Uskup Agung Semarang


sumber :

Semangat Melayani: Umat Lingkungan St. Gregorius Terlibat dalam Pelatihan Dirigen dan Jumat Bersih – 4,5 & 14 Agustus 2026

Keterlibatan Umat
Lingkungan St. Gregorius
Wilayah Sang Timur • Gereja Maria Bunda Allah Maguwo
Guyub • Rukun • Melayani dengan Sepenuh Hati

Lingkungan St. Gregorius, Wilayah Sang Timur, kembali menunjukkan semangat kebersamaan dan pelayanan melalui keterlibatan umat dalam berbagai kegiatan di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo.

Pada bulan Agustus 2026, keterlibatan umat diwujudkan melalui dua kegiatan, yaitu Pelatihan Dirigen yang melibatkan generasi muda dan Jumat Bersih bersama umat Wilayah Sang Timur.

🎵 Pelatihan Dirigen
📅 4 & 5 Agustus 2026

Semangat Remaja dalam Pelayanan Liturgi

Pada tanggal 4 dan 5 Agustus 2026, Lingkungan St. Gregorius turut ambil bagian dalam kegiatan Pelatihan Dirigen yang diselenggarakan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Lingkungan St. Gregorius diwakili oleh dua remaja, yaitu Gio dan Hellen. Keikutsertaan mereka menjadi wujud nyata semangat generasi muda untuk belajar, mengembangkan talenta, serta mengambil bagian dalam pelayanan liturgi dan kehidupan menggereja.

Melalui pelatihan ini, para peserta mendapatkan pembekalan mengenai teknik dasar menjadi dirigen, penghayatan lagu liturgi, serta cara memimpin umat dalam bernyanyi dengan baik dan benar.

Pelatihan Dirigen Lingkungan St. Gregorius
Keterlibatan remaja Lingkungan St. Gregorius dalam Pelatihan Dirigen di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Kehadiran Gio dan Hellen dalam kegiatan ini diharapkan menjadi langkah positif dalam mendorong semakin banyak generasi muda untuk berani terlibat aktif dalam pelayanan Gereja.

Setiap talenta dan setiap langkah kecil pelayanan adalah persembahan kasih untuk kemuliaan Tuhan dan kebaikan bersama.

— Semangat Pelayanan Umat —
🌿 Jumat Bersih
📅 14 Agustus 2026

Bergotong Royong Merawat Rumah Tuhan

Semangat pelayanan juga diwujudkan melalui kegiatan Jumat Bersih yang dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Kegiatan ini dilaksanakan bersama umat Wilayah Sang Timur sebagai bentuk kepedulian dan gotong royong dalam menjaga kebersihan serta kenyamanan lingkungan Gereja.

Lingkungan St. Gregorius turut ambil bagian dengan mengutus Mas Henri, Bu Agnes, Bu Evi, dan Bu Gambit untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Jumat Bersih bersama Wilayah Sang Timur
Kebersamaan umat Wilayah Sang Timur dalam kegiatan Jumat Bersih di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Jumat Bersih bukan sekadar kegiatan membersihkan lingkungan secara fisik. Kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat persaudaraan antarumat dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap Gereja sebagai rumah bersama.

🤝 ✝️ ❤️

Guyub, Rukun, dan Melayani

Dari generasi muda hingga umat dewasa, setiap orang memiliki kesempatan untuk mempersembahkan waktu, tenaga, dan talenta bagi pelayanan Gereja.

Dua kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa keterlibatan umat Lingkungan St. Gregorius hadir dalam berbagai bentuk dan lintas generasi. Gio dan Hellen mewakili semangat kaum muda dalam mengembangkan talenta untuk pelayanan liturgi, sementara Mas Henri, Bu Agnes, Bu Evi, dan Bu Gambit turut mengambil bagian dalam pelayanan bersama melalui kegiatan Jumat Bersih.

Semoga semangat kebersamaan dan pelayanan ini terus tumbuh di tengah umat Lingkungan St. Gregorius, sehingga semakin banyak umat terdorong untuk mengambil bagian dalam berbagai kegiatan dan pelayanan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

GREGORIAN
Lingkungan St. Gregorius
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor

Bersama Olah Sampah Plastik Jadi Barang Unik

Sampah plastik sangat sulit terurai. Masa penguraiannya berkisar antara 10-450 tahun. Bahkan, styrofoam sama sekali tidak dapat terurai.

Plastik yang hancur diterpa sinar matahari akhirnya menjadi partikel yang sangat halus. Mikroplastik ini dapat terserap tubuh manusia melalui hewan yang memakannya, bahkan dari oksigen yang kita hirup. Dampaknya bersifat merusak sistem tubuh dalam jangka panjang.

Apa yang bisa kita lakukan?

Mengurangi konsumsi plastik dan menghindari penggunaan plastik akan sangat membantu menurunkan jumlah sampah plastik. Namun, kehidupan modern telah sangat bergantung pada plastik. Mengolah plastik yang sulit didaur ulang menjadi barang bermanfaat bahkan bernilai ekonomi adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk merawat bumi.

Ecobrick, “Bata” dari Sampah Plastik

Semangat ini yang digaungkan dalam pelatihan ecobrick pada Sabtu, 8 Agustus 2026 di Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA). Tim Pelayanan PSE Bidang Kemasyarakatan GMBA mengundang Sanggar Pawuhan untuk berbagi cara membuat ecobrick kepada umat.

Secara sederhana, ecobrick adalah “bata” ramah lingkungan dari sampah plastik yang dipadatkan ke dalam botol air mineral bekas. Plastik seperti kresek, kemasan makanan dan deterjen, hingga sedotan dan styrofoam dipotong kecil-kecil supaya mudah dipadatkan ke dalam botol. Stik kayu atau bambu panjang bisa dipakai untuk membantu proses pemadatan.

“Bagian bawah botol diisi dengan plastik yang lunak dulu seperti kresek, lalu isi dengan plastik yang lebih keras seperti kemasan deterjen. Berselang seling supaya mudah dipadatkan. Memadatkannya dari pinggiran botol,” jelas Yuliana Rini dari Sanggar Pawuhan.

Botol yang sudah terisi harus mencapai berat standar (100-600 gram, tergantung ukuran botol) sehingga bisa menjadi ecobrick. Ecobrick kemudian bisa direkatkan dengan lem silikon untuk disusun menjadi berbagai barang, mulai dari dingklik, meja, lemari, pot tanaman, hingga pagar.

Olah Sampah Plastik Menuju Paroki Hijau

Para peserta yang hadir dengan antusias mengikuti penjelasan Bu Rini dan para fasilitator. Melalui pelatihan ini mereka memperoleh wawasan baru, ada cara lain mengolah plastik sisa konsumsi selain dibuang begitu saja atau dibakar. Ecobrick juga bisa menjadi solusi mengolah plastik yang tidak diterima pemulung atau bank sampah, biasa disebut sampah residu.

“Luar biasa ya, satu botol air mineral kecil seperti ini bisa jadi wadah 200 gram plastik residu,” komentar Bu Yos, salah satu peserta siang itu.

Di pengujung pelatihan, para peserta berkomitmen untuk meneruskan membuat ecobrick di rumah masing-masing. Semuanya berharap bisa melakukan gerakan bersama membangun satu penanda landmark “I Love GMBA” dari ecobrick sebagai langkah mewujudkan GMBA sebagai paroki hijau.

Ecobrick adalah satu solusi untuk mengatasi persoalan sampah plastik, baik di rumah, lingkungan, maupun gereja. Melakukannya bersama akan menjadikannya terasa lebih ringan.

“Dengarkanlah Dia”: Umat Lingkungan St. Antonius Diajak Menghidupi Sabda Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari

Yogyakarta, 6 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius mengadakan Pertemuan Lingkungan pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di rumah Bapak Bernardus Herjunanto. Pertemuan yang dihadiri sekitar 25 umat ini dipandu oleh Bapak Agustinus Djumingan dengan mengangkat tema “Dengarkanlah Dia: Dari Gunung Kemuliaan Menuju Kehidupan Sehari-hari”, yang diambil dari Injil Matius 17:1–9 tentang peristiwa Transfigurasi Tuhan.

Pertemuan diawali dengan menyanyikan lagu pembukaan “Ajaib Tuhan”, dilanjutkan dengan doa pembuka dan pembacaan Injil Matius 17:1–9. Setelah itu, Bapak Djumingan menyampaikan pendalaman Kitab Suci yang mengajak umat memahami makna peristiwa Transfigurasi sebagai peneguhan bahwa Yesus adalah Putra Allah yang diutus untuk membawa keselamatan bagi dunia.

Dalam renungannya disampaikan bahwa ketika Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung, mereka menyaksikan kemuliaan-Nya yang dinyatakan melalui wajah yang bercahaya, pakaian yang putih berkilau, serta kehadiran Musa dan Elia. Di tengah peristiwa tersebut terdengar suara Allah Bapa yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Sabda inilah yang menjadi pesan utama bagi setiap orang beriman untuk senantiasa menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.

Bapak Djumingan juga mengajak umat merenungkan sikap Petrus yang ingin tetap tinggal di puncak gunung karena terpesona oleh pengalaman rohani yang dialaminya. Namun Yesus mengajak para murid turun kembali untuk menghadapi kehidupan nyata, termasuk jalan salib yang akan ditempuh-Nya. Hal ini mengingatkan bahwa pengalaman iman dalam Ekaristi, doa, maupun berbagai kegiatan rohani bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari, baik di tengah keluarga, tempat kerja, sekolah, maupun masyarakat.

Kehadiran Musa dan Elia dijelaskan sebagai lambang Taurat dan para nabi yang seluruhnya menemukan penggenapannya dalam diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, umat diajak untuk terus mendengarkan sabda Kristus di tengah berbagai “suara” dunia yang sering kali memengaruhi kehidupan. Mendengarkan Kristus berarti tidak hanya mengetahui firman-Nya, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata melalui kasih, pengampunan, kejujuran, pelayanan, dan semangat membawa damai.

Suasana pendalaman Kitab Suci semakin hidup ketika Bapak Djumingan mengajukan beberapa pertanyaan kepada umat sebagai bahan refleksi bersama. Umat pun aktif berpartisipasi dengan menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Di antaranya, Bapak V. Sumarno dan Ibu Agatha Ayiek Sih Sayekti mengajukan pertanyaan yang memperkaya diskusi.

Salah satu pertanyaan yang menarik disampaikan oleh Bapak FX. Larno, yaitu mengenai isi pembicaraan antara Yesus, Musa, dan Elia di atas gunung. Dijelaskan bahwa Injil Matius memang tidak menyebutkan secara eksplisit isi percakapan tersebut. Namun, berdasarkan Injil Lukas (Luk. 9:31), pembicaraan mereka berkaitan dengan “kepergian” Yesus yang akan digenapi di Yerusalem, yakni sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya sebagai puncak karya keselamatan Allah bagi umat manusia. Penjelasan ini semakin memperkaya pemahaman umat akan makna peristiwa Transfigurasi.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan doa umat, doa Bapa Kami, doa penutup, dan berkat yang diberikan oleh prodiakon. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan menyanyikan lagu “Yesus Tuhan, Terimalah Diri Kami”sebagai ungkapan syukur dan komitmen umat untuk terus menghidupi sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan St. Antonius diharapkan semakin terdorong untuk tidak hanya mengalami sukacita dalam kehidupan rohani, tetapi juga menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat dengan senantiasa mendengarkan serta melaksanakan sabda-Nya.

“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
(Matius 17:5)

Lingkungan St. Antonius Padua Mengadakan Ibadat Peringatan Tujuh Hari Berpulangnya Bapak Thomas Eddy Susarso

Yogyakarta, 1 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius Padua mengadakan Ibadat Peringatan Tujuh Hari Berpulangnya Bapak Thomas Eddy Susarso, ayahanda dari Ibu Maria Titis Indrayani, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di kediaman keluarga. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 35 umat dari keluarga, kerabat, serta warga lingkungan.

Ibadat dipimpin oleh Ibu Lucia Bernadeta Andayani Budi Lestari selaku prodiakon. Dalam suasana doa yang khusyuk, umat bersama-sama mendoakan almarhum agar memperoleh kedamaian abadi di hadirat Tuhan serta memohon penghiburan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Petugas liturgi yang terlibat dalam ibadat ini antara lain Mbak Cecilia Kiara Indrayanto sebagai pembaca Kitab Suci, Ibu Natalia Purwanti sebagai pembaca doa umat, serta Bapak FX. Dwi Istiya Rusiawan yang memimpin lagu-lagu selama ibadat sehingga seluruh umat dapat berpartisipasi dengan baik dalam perayaan doa.

Setelah doa umat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Cristiana Maria Sudjinarti. Umat mengikuti doa dengan penuh penghayatan sebagai ungkapan iman akan harapan kebangkitan dan kehidupan kekal yang dijanjikan Kristus kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Melalui ibadat peringatan tujuh hari ini, umat Lingkungan St. Antonius Padua kembali menunjukkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kasih persaudaraan dengan mendampingi keluarga yang sedang berduka melalui doa dan kehadiran.

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4)

Lingkungan St. Antonius Padua Melaksanakan Tugas Among Tamu dan Penghitungan Kolekte

Yogyakarta, 2 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius Padua kembali mengambil bagian dalam pelayanan di Gereja melalui tugas among tamu dan penghitungan kolekte pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, 2 Agustus 2026.

Pelayanan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan oleh 14 orang petugas, yang terdiri dari 5 orang bapak, 8 orang ibu, dan 1 orang Orang Muda Katolik (OMK). Para petugas menjalankan tugas menyambut umat yang hadir, membantu menciptakan suasana ibadah yang tertib dan nyaman, serta melaksanakan penghitungan kolekte setelah Perayaan Ekaristi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Seluruh rangkaian tugas dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan penuh semangat pelayanan. Keterlibatan umat dari berbagai kelompok usia menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja.

Semoga pelayanan sederhana yang telah diberikan menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan serta semakin menumbuhkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan sukacita dalam melayani sesama di lingkungan Paroki.

“Layanilah seorang akan yang lain sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)

Lingkungan St. Gregorius Bersatu Dalam Doa Sengsara Yesus, Rosario Koronka, dan Novena 3 Salam Maria – 6 Agustus 2026

Doa Sengsara Yesus, Rosario Koronka &
Novena 3 Salam Maria

Lingkungan St. Gregorius
Paroki Administratif Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas kesempatan yang kembali diberikan kepada umat Lingkungan St. Gregorius untuk berkumpul dalam suasana penuh iman melalui Doa Sengsara Yesus, Rosario Koronka, serta Novena 3 Salam Maria yang dipersembahkan secara khusus untuk Pengembangan & Penataan Kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kebersamaan ini menjadi wujud nyata bahwa doa merupakan kekuatan yang mempersatukan umat dalam kasih Kristus serta menjadi sumber harapan bagi perjalanan Gereja.

  • 📅 Hari/Tanggal : Kamis, 6 Agustus 2026
  • 🕖 Waktu : 19.00 WIB
  • 🏠 Tempat : Rumah Mas Rendy

Dalam doa Sengsara Yesus, umat diajak merenungkan kasih Allah yang begitu besar melalui pengorbanan Putra-Nya demi keselamatan dunia. Melalui Rosario Koronka, setiap butir doa menjadi ungkapan iman, pengharapan, serta penyerahan diri kepada belas kasih Tuhan. Seluruh umat juga memanjatkan doa bagi keluarga, lingkungan, paroki, para imam, para pelayan Gereja, serta seluruh masyarakat agar senantiasa memperoleh damai dan penyertaan Tuhan.

Sebagai penutup, seluruh umat bersama-sama mendaraskan Novena 3 Salam Maria yang dipersembahkan secara khusus untuk mendukung proses Pengembangan dan Penataan Kawasan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Melalui doa bersama ini, umat memohon penyertaan Tuhan dan perlindungan Bunda Maria agar setiap rencana, pembangunan, serta pelayanan Gereja dapat berjalan dengan baik, menjadi berkat bagi generasi sekarang maupun yang akan datang.

📖 Sabda Tuhan

“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

— Injil Matius 18:20 —

🙏 Mari Terus Bertumbuh dalam Doa

Sabda Tuhan mengingatkan bahwa setiap pertemuan doa bukan sekadar sebuah kegiatan rutin, melainkan kesempatan untuk mengalami sendiri kehadiran Kristus di tengah umat-Nya. Melalui semangat kebersamaan, umat Lingkungan St. Gregorius diajak untuk terus membangun kehidupan doa dalam keluarga dan lingkungan, saling menguatkan dalam iman, serta mendukung seluruh karya pelayanan dan pembangunan Gereja demi semakin besarnya kemuliaan Tuhan.


📖

Buku Doa Sengsara Yesus & Rosario Koronka

Lingkungan St. Gregorius

“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.”
Mazmur 119:105



✠ 🎵 ✠

🎶 Lagu Lingkungan St. Gregorius 🎶

❦ ✠ ❦
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor

Tugas Koor Umat Lingkungan St. Gregorius : Mengiringi Perayaan Ekaristi Minggu Pagi di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo – 2 Agustus 2026

Maguwo, 2 Agustus 2026 – Dengan penuh rasa syukur dan semangat pelayanan, umat Lingkungan St. Gregorius melaksanakan tugas koor dalam Perayaan Ekaristi Minggu Pagi pada Minggu, 2 Agustus 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perayaan Ekaristi Minggu pagi di GMBA dilaksanakan pada pukul 07.00 WIB.

Pelayanan koor ini merupakan buah dari serangkaian latihan yang telah dilaksanakan secara rutin selama beberapa pekan sebelumnya. Melalui latihan yang penuh semangat dan kebersamaan, setiap umat yang terlibat dalam koor mempersiapkan diri agar dapat mempersembahkan nyanyian terbaik sebagai ungkapan iman dan pujian kepada Tuhan.

Dalam liturgi Gereja, koor memiliki peran penting untuk membantu seluruh umat berpartisipasi aktif dalam perayaan Ekaristi. Nyanyian-nyanyian liturgi yang dibawakan tidak hanya memperindah perayaan, tetapi juga mengajak umat semakin menghayati misteri iman dan memusatkan hati kepada Tuhan.

Pelayanan yang diberikan oleh umat Lingkungan St. Gregorius menjadi wujud nyata semangat kebersamaan dan kerelaan untuk melayani. Setiap anggota koor hadir dengan hati yang tulus, mempersembahkan talenta yang dimiliki demi kemuliaan nama Tuhan dan demi membangun kehidupan menggereja yang semakin hidup.

Semangat pelayanan ini juga diteguhkan oleh Sabda Tuhan:

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”
(Kolose 3:16)

Semoga pelayanan koor yang telah dilaksanakan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan Tuhan serta semakin menumbuhkan semangat umat Lingkungan St. Gregorius untuk terus melayani dengan sukacita, rendah hati, dan penuh kasih. Kiranya melalui pelayanan yang sederhana ini, semakin banyak umat yang terdorong untuk ambil bagian dalam berbagai pelayanan di Gereja, sehingga seluruh umat dapat bersama-sama memuliakan Tuhan dalam satu iman, satu hati, dan satu suara.


🎵 Dokumentasi Tugas Koor Lingkungan St. Gregorius


“Bernyanyilah bagi Tuhan sebagai orang-orang yang bersyukur dalam hatimu.”
— Kolose 3:16

✠ 🎵 ✠

🎶 Lagu Lingkungan St. Gregorius 🎶

❦ ✠ ❦


🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor

Latihan Koor Umat Lingkungan St. Gregorius : Berlatih & Berkumpul dalam Nyanyian Pujian Bagi Kristus – 1 Agustus 2026

✦ ✧ ✦

Latihan Koor Umat Lingkungan St. Gregorius

“Berlatih & Berkumpul dalam Nyanyian Pujian Bagi Kristus”

🎶 Sabtu, 1 Agustus 2026 | Pukul 19.00 WIB 🎶

Kadisoka, 1 Agustus 2026 – Dalam semangat kebersamaan dan pelayanan, umat Lingkungan St. Gregorius mengadakan kegiatan Latihan Koor sebagai persiapan pelayanan dalam Perayaan Ekaristi.

📅 Hari/Tanggal: Sabtu, 1 Agustus 2026

Pukul: 19.00 WIB

Seluruh umat yang terlibat dalam koor Lingkungan St. Gregorius mengikuti latihan dengan penuh semangat dan sukacita. Berbagai lagu liturgi yang akan dibawakan saat misa dipersiapkan dengan sungguh-sungguh agar dapat mendukung umat dalam berdoa dan memuliakan Tuhan melalui nyanyian.

Pelayanan koor bukan sekadar menyanyikan lagu-lagu liturgi, tetapi juga merupakan wujud doa yang dipersembahkan kepada Tuhan. Seperti ungkapan:

“Qui Cantat Bis Orat”

Siapa yang bernyanyi, ia berdoa dua kali.

Oleh karena itu, setiap latihan menjadi sarana untuk mempersiapkan diri dalam tugas pelayanan Koor pada Perayaan Ekaristi. Melalui latihan yang telah dilaksanakan ini, koor Lingkungan St. Gregorius berharap dapat mempersembahkan pelayanan terbaik sehingga seluruh umat yang hadir semakin terbantu untuk menghayati liturgi dan mengalami sukacita dalam perjumpaan dengan Tuhan.

Mari terus mendukung dan mendoakan setiap pelayanan di Lingkungan St. Gregorius, agar semakin bertumbuh dalam iman, persaudaraan, dan semangat melayani Gereja.

📖

Kolose 3:16

“Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat saling mengajar dan menegur, sambil menyanyikan mazmur, puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.”

✦ ✧ ✦

✠ 🎵 ✠

🎶 Lagu Lingkungan St. Gregorius 🎶

❦ ✠ ❦

Kegiatan Lingkungan St. Gregorius


🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor


Latihan Koor Umat Lingkungan St. Gregorius : Berdoa Melalui Nyanyian untuk Kemuliaan Tuhan – Rabu 29 Juli 2026


Latihan Koor Lingkungan St. Gregorius

Latihan Koor Lingkungan St. Gregorius

Persiapan Pelayanan Misa Minggu Pagi
2 Agustus 2026
📅 Hari/Tanggal : Rabu, 29 Juli 2026
🕖 Pukul : 19.00 WIB

Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan kegiatan Latihan Koor sebagai persiapan pelayanan dalam Misa Minggu Pagi, 2 Agustus 2026.

Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi seluruh umat yang terlibat dalam koor untuk semakin mempersiapkan diri, bukan hanya dalam menyatukan suara saat bernyanyi, tetapi juga membangun kebersamaan serta memperdalam semangat pelayanan kepada Tuhan.

Setiap lagu yang dilatih merupakan ungkapan iman dan doa. Melalui latihan yang tekun, kita diajak untuk mempersembahkan talenta terbaik sebagai bentuk syukur dan cinta kepada Tuhan. Persiapan yang dilakukan bersama diharapkan mampu menghadirkan nyanyian yang indah, serta membantu seluruh umat semakin khusyuk dalam mengikuti Perayaan Ekaristi.

“Qui Cantat Bis Orat” “Barangsiapa bernyanyi, ia berdoa dua kali.”
— Santo Agustinus

Semoga setiap lagu rohani yang kita nyanyikan tidak hanya terdengar indah di telinga, tetapi juga menjadi doa yang tulus dari hati. Mari melalui latihan koor ini umat Lingkungan St. Gregorius semakin menyatukan suara, hati, dan iman, sehingga pelayanan koor pada Misa Minggu nanti dapat menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan dan menguatkan iman seluruh umat.

“Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa.”Roma 12:12
🎵 Dokumentasi Latihan Koor 🎵
Nyanyian adalah doa yang indah. Mari memuji Tuhan dengan satu hati, satu suara, dan satu iman.

✠ 🎵 ✠

🎶 Lagu Lingkungan St. Gregorius 🎶

❦ ✠ ❦

Kegiatan Lingkungan St. Gregorius



🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor