Koor Lingkungan St. Elisabeth : Persembahan Terbaik bagi Tuhan

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita.” (Mazmur 100:2)

Dalam persiapan tugas koor misa tanggal 31 Mei 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth melakukan persiapan atau latihan bersama berkali kali demi kelancaran tugas koor. Latihan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dan panti koor Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Dalam kehidupan menggereja, koor atau paduan suara memiliki peranan penting dalam membantu umat menghayati perayaan liturgi. Melalui nyanyian, umat diajak untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, latihan koor yang dilakukan oleh umat lingkungan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pelayanan dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum bertugas dalam perayaan Ekaristi atau ibadah lainnya. Setiap anggota koor meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempelajari lagu-lagu liturgi, menyelaraskan suara, memahami makna lagu, serta membangun kekompakan dalam pelayanan. Semua usaha tersebut dilakukan demi menghadirkan nyanyian yang indah dan membantu umat berdoa dengan lebih baik.

Dalam suasana kebersamaan, para anggota belajar saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, dan bekerja sama mencapai tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan. Semangat persaudaraan ini mencerminkan kehidupan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Latihan yang dilakukan secara rutin juga menunjukkan kesungguhan umat dalam melayani. Mereka menyadari bahwa pelayanan liturgi bukanlah tentang menampilkan kemampuan pribadi, melainkan tentang mempersembahkan talenta yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, setiap anggota koor berusaha memberikan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Melalui latihan yang tekun, nyanyian yang dibawakan saat perayaan menjadi lebih harmonis dan penuh penghayatan. Keharmonisan suara yang tercipta bukan hanya menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menjadi sarana pewartaan iman yang menggerakkan hati umat. Nyanyian yang dipersiapkan dengan baik dapat membantu umat merasakan kehadiran Tuhan dan semakin terlibat dalam perayaan liturgi.

Oleh karena itu, latihan koor lingkungan hendaknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman dan pelayanan. Setiap nada yang dilatih, setiap waktu yang dikorbankan, dan setiap usaha yang dilakukan merupakan persembahan yang berharga di hadapan Tuhan. Dengan semangat pelayanan yang tulus, umat lingkungan dapat terus menghadirkan pujian yang indah sebagai persembahan terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Latihan koor bukan hanya tentang belajar bernyanyi, tetapi tentang mempersiapkan hati untuk melayani. Melalui kebersamaan, disiplin, dan ketekunan dalam berlatih, umat lingkungan menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan. Semoga setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa yang hidup dan membawa semakin banyak orang untuk memuliakan Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sembahyangan Rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor Lingkungan St. Elisabeth

Pada 21 Mei 2026, pukul 19.00, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan sembahyangan rutin kamisan, Doa Rosario, Perkumpulan Paguyuban Ibu-Ibu, kemudian dilanjutkan dengan latihan koor. Kegiatan malam ini diikuti oleh 31 orang umat.

Pertemuan diawali dengan pembacaan buku BKL untuk hari ke 21 dan 22. BKL dipimpin oleh Mas Heru. Kemudian dilanjutkan dengan Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Suradi. Lalu lanjut dengan Pertemuan Ibu-Ibu yang diisi dengan pembacaan laporan keuangan, pengumuman, arisan, dan lotre. Selanjutnya pertemuan malam ini ditutup dengan Latihan Koor untuk tugas misa minggu terakhir bulan Mei yang dipimpin oleh Bu Padmi dan Bu Vera. Seperti biasa, semua berlangsung dengan meriah, dan lancar.

Instagram:

Sembayangan rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor….
https://www.instagram.com/reel/DYr7ZU2PMNm/?igsh=dzF1cmxmeXVxazZu

Lingkungan St. Elisabeth Doa Rosario bersama di Gereja

Tanggal 20 Mei 2026, pukul 19.00 Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan BKL dan Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah. Doa Rosario dipimpin oleh Bapak Suradi.

Doa bersama di Gereja ini sudah disepakati oleh seluruh umat di Stasi Maguwo dalam rangka penyambutan akan dibentuknya status baru Gereja Maria Bunda Allah, dari stasi menjadi Paroki Administratif pada tanggal 2 Juni 2026 nanti.

Dalam rangka penyambutan status baru ini, seluruh umat, baik dari tiap lingkungan maupun komunitas di stasi Maguwo berdoa Rosario di Gereja secara bergantian setiap harinya selama bulan Mei.

Meski cuaca agak mendung dan sebelumnya sempat sedikit hujan tapi semangat untuk berkumpul dan berdoa bersama tetap berkobar. Doa Rosario malam ini dilaksanakan di depan Patung Bunda Maria halaman depan gereja. Semoga kegiatan ini dapat berlangsung dengan lancar dan semangat untuk berkumpul dan berdoa tetap kuat untuk setiap lingkungan dan komunitas di Maguwo.

Instagram :

Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah …
https://www.instagram.com/reel/DYr6fPnvWpl/?igsh=MW1kNnM2cmR6dDl3dA==

Berdoa Rosario Menjadi Pengalaman Iman yang Menyejukkan

Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.

Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.

Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.

Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.

Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth: Kerendahan Hati untuk Melayani

Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.

Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.

Paskahan Lingkungan St. Elisabeth

23 April 2026, di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan Perayaan Paskahan Lingkungan Bersama. Paskahan dihadiri oleh hampir seluruh umat di Lingkungan St. Elisabeth, yaitu 38 umat. Diawali dengan sembahyangan yang dipimpin Mbak Vera.

Renungan dalam sembahyangan diambil dari Bacaan Injil Yohanes 6:44-51. Bacaan ini berisi tentang Yesus yang berkata bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya kalau tidak ditarik oleh Bapa. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga karena kasih dan panggilan Allah yang terlebih dahulu menyentuh hati kita. Tuhan selalu mencari dan mengundang setiap orang untuk datang lebih dekat kepada-Nya.

Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “roti hidup yang turun dari surga.” Roti adalah makanan yang memberi kekuatan dan kehidupan. Namun roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan jasmani, melainkan kehidupan kekal. Banyak orang mencari kebahagiaan dari harta, pujian, atau kesenangan dunia, tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia. Hanya Yesus yang mampu mengisi kekosongan hati dan memberi damai sejati.

Sebagai orang muda maupun keluarga Kristiani, kita sering merasa lelah menghadapi masalah, tugas, konflik, atau rasa kecewa. Dalam keadaan itu, Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dan menjadikan-Nya sumber kekuatan hidup. Ketika kita rajin berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Ekaristi, hati kita perlahan diperbarui oleh Tuhan.

Bacaan ini juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima Yesus harus menjadi “roti” bagi sesama. Artinya, kita dipanggil untuk membawa kasih, penghiburan, perhatian, dan bantuan bagi orang lain. Kehadiran kita seharusnya membawa kehidupan dan sukacita, bukan luka atau kebencian.

Semoga melalui sabda hari ini, kita semakin percaya kepada Yesus Sang Roti Hidup, dan menjadikan-Nya pusat dalam hidup kita setiap hari.

Setelah Sembahyangan selesai, acara Paskahan dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih bagi umat yang sebelumnya sempat sakit dan opname di Rumah Sakit, yaitu Pak Deddy, dan Mbah Cipto. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dan games yang menyenangkan lalu makan bersama. Acara Paskahan Lingkungan St. Elisabeth tahun ini berlangsung sangat sederhana namun sangat meriah karna banyak umat yang hadir dan bergembira bersama. Kami masing-masing bisa pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.

Mengalun dalam Kasih dan Rahmat-Nya, Kami Bersatu dalam Satu Suara: Persembahan Koor Lintas Generasi Lingkungan St. Gabriel dalam Misa Kudus Hari Tuhan

Pada hari Minggu, 3 Mei, suasana di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hidup dan penuh sukacita. Sesuai dengan jadwal liturgi, Lingkungan St. Gabriel mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai tim koor dalam misa pagi. Tugas ini tidak dijalankan secara instan, melainkan melalui proses persiapan yang matang dan penuh kebersamaan.

Di bawah koordinasi Seksi Koor lingkungan yang dipimpin oleh Ibu Intan, berbagai persiapan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Lagu-lagu liturgi dipilih dengan cermat, disesuaikan dengan tema perayaan, lalu dilatih secara intensif sebanyak enam kali pertemuan. Ibu Intan sendiri turun langsung melatih, membimbing dengan penuh kesabaran dan semangat, memastikan setiap anggota koor memahami dinamika dan makna dari setiap lagu yang akan dipersembahkan.

Yang istimewa, latihan koor ini melibatkan seluruh lapisan umat—mulai dari anak-anak PIA, remaja, OMK, hingga para orang tua. Kebersamaan lintas generasi ini menciptakan suasana latihan yang hangat dan penuh kekeluargaan. Meskipun beberapa kali latihan harus diwarnai oleh turunnya hujan, hal itu tidak menyurutkan semangat umat untuk hadir dan berlatih. Justru, di tengah keterbatasan itu, semangat pelayanan semakin terasa kuat dan tulus.

Tibalah hari yang dinanti. Sejak pukul 06.30 WIB, tim koor sudah hadir dan bersiap dengan penuh antusias. Dengan dresscode bernuansa putih dan biru muda, seluruh anggota koor tampil serasi dan rapi, mencerminkan kesederhanaan sekaligus kekhidmatan. Iringan musik dipercayakan kepada Bapak Henri Yulianto sebagai organis, yang dengan apik mengalun mengiringi setiap lagu.

Perayaan misa pun berlangsung dengan lancar dan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang telah dilatih dengan tekun dipersembahkan dengan harmonis dan menyentuh hati. OMK turut ambil bagian sebagai dirigen, yaitu Mandriva dan Valen, yang memimpin koor dengan penuh percaya diri. Dari kalangan remaja, Aurel dipercaya sebagai pemazmur dan membawakan mazmur dengan indah serta penuh penghayatan.

Keterlibatan seluruh umat—anak-anak, remaja, OMK, hingga orang tua—menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dalam pelayanan. Koor pagi itu tidak hanya sekadar menyanyikan lagu, tetapi juga menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan melalui talenta yang dimiliki.

Setelah misa selesai, kebahagiaan dan rasa syukur terpancar dari wajah setiap anggota koor. Momen kebersamaan tersebut ditutup dengan foto bersama, sebagai kenangan indah atas pelayanan yang telah dilaksanakan dengan penuh cinta dan dedikasi.

Hari itu menjadi pengingat bahwa dalam kebersamaan, ketekunan, dan semangat melayani, setiap hal sederhana dapat menjadi persembahan yang indah bagi Tuhan.

Semoga kebersamaan yang telah terjalin ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi pelayanan-pelayanan berikutnya. Apa yang telah dipersembahkan hari ini kiranya berkenan di hati Tuhan dan semakin meneguhkan iman serta persaudaraan seluruh umat. Dengan semangat yang sama, semoga setiap langkah kecil dalam pelayanan selalu menjadi wujud kasih yang nyata.

Petugas Liturgi yang Menginspirasi – BKL 2026

KATEKESE LITURGI – MEI 2026
“Petugas Liturgi yang Menginspirasi: Menjalankan Tugas dengan Kompetensi dan Kerendahan Hati”

Dalam perayaan Ekaristi, Gereja tidak hanya melibatkan imam, tetapi juga membuka ruang bagi keterlibatan umat melalui berbagai pelayanan liturgi khusus. Berdasarkan Pedoman Umum Missale Romawi (PUMR 98-107), tugas-tugas yang tidak secara khusus diperuntukkan bagi klerus dapat dipercayakan kepada kaum awam yang dipilih dan dipersiapkan dengan baik.
Pelayanan-pelayanan ini meliputi akolit, lektor, pemazmur, paduan suara, koster, komentator, dan berbagai bentuk pelayanan lainnya. Masing-masing memiliki peran yang khas dalam membantu umat untuk berpartisipasi secara aktif dan penuh dalam liturgi.

Akolit dilantik untuk melayani altar dan membantu imam serta diakon (PUMR 98). Lektor dilantik untuk mewartakan bacaan-bacaan dari Alkitab, kecuali Injil. Dapat juga ia membawakan ujud-ujud doa umat dan, kalau tidak ada pemazmur, ia dapat juga membawakan mazmur tangggapan (PUMR 99). Karena itu, seorang lektor harus sungguh-sungguh terampil dan disiapkan secara cermat (PUMR 101), memahami isi bacaan, dan mempersiapkan diri dengan baik, sehingga Sabda yang disampaikan dapat menyentuh hati umat. Demikian pula pemazmur, yang bertugas membawakan mazmur atau kidung-kidung dari Alkitab diantara bacaan-bacaan (PUMR 102). Paduan suara atau kor melaksanakan tugas liturgi tersendiri ditengah umat beriman (PUMR 103). Paduan suara menghidupkan doa melalui nyanyian. Koster, yang dengan cermat mengatur buku-buku liturgis,busana liturgis, dan hal-hal lain yang diperlukan untuk perayaan Misa (PUMR 105a). Komentator yang, kalau diperlukan, memberikan penjelasan dan petunjuk singkat kepada umat beriman, supaya mereka lebih siap merayakan Ekaristi dan memahaminya dengan lebih baik (PUMR 105b).

Semua tugas ini bukan sekadar “peran teknis”, tetapi merupakan pelayanan iman. Karena itu, setiap petugas liturgi dipanggil untuk memiliki dua sikap utama:

  1. Kompetensi: kemampuan, latihan, dan kesiapan yang sungguh-sungguh agar pelayanan dilakukan dengan baik, tertib, dan bermakna.
  2. Kerendahan hati: kesadaran bahwa pelayanan ini bukan untuk tampil atau mencari perhatian, melainkan untuk melayani Tuhan dan membantu umat berdoa.

Ketika kompetensi dan kerendahan hati berjalan bersama, pelayanan liturgi menjadi indah, khidmat, dan menginspirasi. Umat tidak hanya “melihat” petugas liturgi, tetapi sungguh dibantu untuk mengalami kehadiran Allah.

Dengan demikian, para petugas liturgi awam mengambil bagian nyata dalam perayaan Ekaristi sebagai tindakan seluruh Gereja. Mereka bukan sekadar pelengkap, tetapi rekan sekerja dalam karya keselamatan, yang melalui tugasnya membantu Sabda Allah didengar, doa dipanjatkan, dan misteri iman dirayakan dengan layak.

Akhirnya, pelayanan yang dijalankan dengan hati yang tulus akan membawa buah rohani: para pelayan liturgi menjadi bahagia dalam iman, karena mengalami kedekatan dengan Tuhan, dan sekaligus menginspirasi umat, karena melalui pelayanan mereka, banyak orang semakin diteguhkan dalam iman dan cinta akan Ekaristi.

Refleksi bagi kita pelayan liturgi:
Apakah pelayanan saya sudah membantu umat bertemu Tuhan, atau justru mencari perhatian?

Sembahyangan Penuh Makna dalam Nuansa Kartini dan Kebersamaan

Lingkungan St. Gabriel kembali menyelenggarakan kegiatan sembahyangan rutin yang dirangkaikan dengan pertemuan PWK pada hari Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di kediaman keluarga Bapak Paul dan dimulai pada pukul 19.00 WIB. Umat yang hadir berjumalh 35 orang, terdiri dari orangtua, remaja dan anak-anak.

Ada suasana yang sedikit berbeda dan lebih meriah pada pertemuan kali ini. Dalam rangka memperingati Hari Kartini, umat yang hadir mengenakan busana tradisional. Ibu-ibu dan anak-anak perempuan tampil anggun dengan kebaya, sementara bapak-bapak mengenakan surjan atau lurik. Nuansa budaya yang kental ini menambah kehangatan dan kebersamaan di antara umat, sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap semangat perjuangan Kartini.

Karena pertemuan ini juga bertepatan dengan agenda PWK, umat diimbau untuk hadir lebih awal. Hal ini dimanfaatkan untuk menyelesaikan berbagai kewajiban administrasi, seperti pembayaran iuran caos dahar romo, prolenan, GKH pendidikan, APBU, tabungan PIA, tabungan ziarah, serta arisan. Umat dengan penuh kesadaran menyelesaikan kewajibannya sebelum ibadat dimulai, sehingga saat sembahyangan berlangsung, suasana dapat lebih fokus dan khidmat.

Sembahyangan dipimpin oleh Ibu Nana, Ibu Fifin, dan Aurel. Ibadat berjalan dengan lancar, tertib, dan penuh kekhusyukan. Umat mengikuti setiap rangkaian doa dan nyanyian dengan baik, menciptakan suasana doa yang mendalam dan menyentuh hati.

Dalam permenungan Injil hari ini, yang diambil dari Yohanes 6:44–51, umat diajak untuk merenungkan makna kehidupan sejati yang berasal dari Allah. Yesus menegaskan bahwa hidup manusia akan mencapai kepenuhannya ketika ia datang kepada Allah dan tinggal dalam kasih-Nya. Sabda ini mengingatkan bahwa relasi dengan Allah bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan sumber kehidupan yang sesungguhnya.

Yesus juga menyampaikan bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya jika tidak ditarik oleh Bapa. Dari sini kita diajak untuk semakin menyadari bahwa iman yang kita miliki bukanlah semata-mata hasil usaha pribadi, melainkan tanggapan atas kasih Allah yang lebih dahulu hadir dalam hidup kita. Sering kali kita merasa bahwa kita yang mencari Allah, namun sesungguhnya Allah-lah yang terlebih dahulu mencari, memanggil, dan menuntun kita.

Kesadaran ini mengajak kita untuk tidak hanya berhenti pada iman sebagai pengakuan, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata sehari-hari. Iman yang hidup tampak dalam sikap kasih, kepedulian, dan kesetiaan kita dalam menjalani kehidupan. Selain itu, Yesus juga menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup yang turun dari surga. Melalui Ekaristi, umat diingatkan bahwa Kristus adalah sumber kekuatan yang memberi kita daya untuk terus berjalan dalam iman, harapan, dan kasih di tengah berbagai dinamika kehidupan.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian laporan dari masing-masing seksi serta beberapa pengumuman penting yang berkaitan dengan kegiatan lingkungan ke depan. Suasana kemudian beralih menjadi lebih santai dan penuh keakraban. Umat menikmati hidangan ringan dan minuman yang telah disediakan oleh tuan rumah, sambil saling bercengkerama dan berbagi cerita.

Kebersamaan semakin terasa hangat ketika umat saling berinteraksi tanpa sekat, mempererat relasi sebagai satu keluarga dalam lingkungan. Momen ini juga menjadi kesempatan untuk saling mengenal lebih dekat, terutama bagi umat yang mungkin jarang bertemu.

Tidak ketinggalan, sebagai bagian dari perayaan Hari Kartini, umat mengabadikan momen kebersamaan dengan berfoto bersama. Busana tradisional yang dikenakan menambah keindahan dokumentasi malam itu, sekaligus menjadi kenangan yang berkesan.

Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan baik dan penuh sukacita, hingga akhirnya ditutup pada pukul 20.30 WIB. Pertemuan ini tidak hanya menjadi sarana doa bersama, tetapi juga memperkuat rasa persaudaraan dan kebersamaan antarumat.

Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan iman yang telah dibangun dalam pertemuan ini dapat terus tumbuh dan menjadi berkat dalam kehidupan sehari-hari. Sampai jumpa kembali dalam sembahyangan dan pertemuan lingkungan berikutnya.

Misa Syukur Hari Minggu Kerahiman Ilahi

Minggu, 12 April 2026. Dalam suasana penuh rahmat dan sukacita, sebanyak 202 devosan dari Kevikepan Yogyakarta Timur berkumpul untuk merayakan Hari Minggu Kerahiman Ilahi. Perayaan ini menjadi momen istimewa untuk semakin menyelami kasih Allah yang tanpa batas, yang senantiasa terbuka bagi setiap hati yang bertobat dan percaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan penerimaan Sakramen Tobat, sebagai wujud kerendahan hati umat dalam memohon pengampunan dan pembaruan diri. Dalam keheningan pengakuan dosa, setiap pribadi diajak untuk kembali kepada Tuhan dengan hati yang tulus, membuka diri terhadap rahmat kerahiman-Nya.

Puncak perayaan dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm. Ignatius Fajar Kristianto, PR bersama Rm. FX Murdi Susanto, PR. Dalam homili yang mendalam, umat diingatkan bahwa kerahiman Allah bukan hanya untuk dirayakan, tetapi juga untuk dihidupi dan dibagikan kepada sesama.

Hari Minggu Kerahiman Ilahi menjadi kesempatan istimewa bagi umat untuk memperoleh indulgensi penuh, sebagaimana dijanjikan oleh Tuhan Yesus kepada Santa Faustina. Rahmat ini menjadi tanda nyata betapa besar kasih Allah yang ingin memulihkan dan menyelamatkan umat-Nya secara utuh.

Perayaan ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perutusan. Setiap devosan diutus untuk menjadi saluran kerahiman Allah di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat. Dengan semangat kasih, pengampunan, dan kepedulian, umat dipanggil untuk menghadirkan wajah Allah yang penuh belas kasih di dunia.

Mari kita terus hidup dalam semangat Kerahiman Ilahi: mengampuni tanpa batas, mengasihi tanpa syarat, dan melayani dengan tulus. Karena melalui kita, kasih Allah dapat semakin nyata dirasakan oleh sesama.