Belajar Menemukan Kebahagiaan Sejati Bersama Yesus.

Pertemuan Pertama BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Padua Maguwo Mengajak Umat Mendengarkan Pengajaran Yesus

Maguwo, 10 September 2026 — Sebanyak 25 umat Lingkungan Santo Antonius Padua, Maguwo, berkumpul di rumah Bapak/Ibu Arief Subyantoro pada Kamis, 10 September 2026, untuk mengikuti pertemuan pertama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026. Dalam suasana akrab dan penuh sukacita, umat diajak mendalami tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Bahagia” melalui Injil Matius 5:1–12.

Pertemuan ini merupakan bagian pertama dari rangkaian BKSN 2026 yang mengusung tema nasional “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui rangkaian pendalaman tersebut, umat diajak semakin mengenal Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh kuasa serta membiarkan Sabda-Nya menerangi kehidupan sehari-hari.

Mengawali Pertemuan dengan Sukacita

Pertemuan diawali dengan menyanyikan lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia” bersama-sama. Lagu tersebut menjadi pembuka yang sesuai dengan tema pertemuan, sekaligus menciptakan suasana yang hangat dan penuh kegembiraan.

Selanjutnya, Bapak Mikael Purwanto memimpin pembukaan dengan tanda salib dan doa Ardas IX. Dalam pengantarnya, Bapak Purwanto menyampaikan gambaran umum mengenai BKSN 2026 serta tema pertemuan pertama.

Umat kemudian diajak melihat kembali makna kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan sering kali dikaitkan dengan kesehatan, kecukupan ekonomi, keberhasilan, keluarga, pekerjaan, maupun berbagai pencapaian. Namun, melalui pengajaran-Nya, Yesus menawarkan cara pandang yang lebih mendalam.

Kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dimiliki atau dicapai seseorang, tetapi berkaitan dengan sikap hati yang terbuka kepada Allah dan sesama. Setelah pengantar tersebut, umat bersama-sama mengucapkan doa pembuka untuk memohon agar hati dan budi dibuka sehingga mampu menerima dan merenungkan Sabda Tuhan.

Mendengarkan Yesus Sang Guru

Pendalaman dilanjutkan dengan pembacaan Injil Matius 5:1–12 oleh Bapak Andreas. Perikop yang dikenal sebagai Sabda-Sabda Bahagia tersebut mengisahkan Yesus yang naik ke atas bukit dan mengajar para murid serta orang banyak.

Apa yang disampaikan Yesus menghadirkan cara pandang yang berbeda dari ukuran kebahagiaan yang sering digunakan manusia. Mereka yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, serta mereka yang mengalami penganiayaan karena kebenaran disebut berbahagia.

Sabda tersebut tidak berarti bahwa penderitaan atau kesulitan merupakan sesuatu yang harus dicari. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati berakar pada relasi manusia dengan Allah, keterbukaan terhadap sesama, serta kesetiaan untuk hidup dalam kebenaran, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan.

Dengan demikian, Sabda Bahagia mengajak umat melihat bahwa kehidupan beriman bukan hanya tentang keadaan lahiriah, melainkan juga tentang sikap batin dan cara seseorang menjalani kehidupannya di hadapan Allah.

Video Membuka Ruang Refleksi

Untuk membantu umat menghubungkan Sabda Tuhan dengan pengalaman hidup sehari-hari, peserta kemudian diajak menyaksikan sebuah video inspiratif tentang hidup yang bahagia.

Video refleksi “Hidup yang Bahagia”

Setelah menyaksikan video tersebut, umat diajak merenungkan sebuah pertanyaan sederhana:

“Apa arti kebahagiaan bagi saya?”

Pertanyaan tersebut membuka ruang sharing yang hangat. Beberapa bapak dan ibu membagikan pengalaman mereka mengenai hal-hal yang membuat mereka merasakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sharing yang muncul, kebahagiaan ternyata tidak selalu berkaitan dengan kepemilikan materi atau pencapaian pribadi. Bagi sebagian umat, kebahagiaan justru muncul ketika mereka dapat berbagi, membantu, hadir, dan melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Sebaliknya, perasaan tidak bahagia dapat muncul ketika seseorang merasa tidak mampu berbuat sesuatu bagi sesamanya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa Sabda Bahagia dapat ditemukan dalam pengalaman konkret umat. Kasih, kepedulian, perhatian, dan kesediaan hadir bagi orang lain menjadi bagian nyata dari upaya menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Bahagia Tidak Sekadar Merasa Senang

Pendalaman bersama juga membawa umat pada pemahaman bahwa kebahagiaan dalam perspektif iman tidak selalu berarti kehidupan tanpa masalah.

Seseorang tetap dapat mengalami pergumulan, kehilangan, kelelahan, maupun penderitaan, tetapi tetap memiliki harapan ketika kehidupannya berakar pada Allah. Kebahagiaan tidak hanya terletak pada keadaan yang menyenangkan, tetapi juga pada keyakinan bahwa hidup memiliki makna dan arah dalam relasi dengan Tuhan.

Karena itu, pertemuan pertama BKSN ini tidak berhenti pada pertanyaan “Apa yang membuat saya bahagia?” Umat juga diajak membawa pertanyaan yang lebih reflektif:

“Apakah cara saya mencari kebahagiaan selama ini sudah sesuai dengan yang diajarkan Yesus?”

Pertanyaan tersebut menjadi kesempatan bagi setiap peserta untuk melihat kembali pilihan, sikap, dan cara menjalani kehidupan sehari-hari sebagai murid Kristus.

Sabda yang Dihidupi dalam Keseharian

BKSN bukan sekadar kegiatan membaca dan memahami teks Kitab Suci. Pendalaman Sabda Tuhan diharapkan membantu umat menemukan inspirasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Karena itu, sharing umat Lingkungan Santo Antonius Padua menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Sabda Tuhan tidak hanya dibicarakan sebagai teks, tetapi mulai dihubungkan dengan pengalaman konkret: kehidupan keluarga, relasi dengan tetangga, kehidupan lingkungan, pelayanan Gereja, pekerjaan, serta hubungan dengan masyarakat.

Melalui proses tersebut, umat diajak untuk semakin peka terhadap kebutuhan sesama, memiliki kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan, serta berani menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ditutup dalam Doa dan Syukur

Setelah sesi refleksi dan sharing, pertemuan dilanjutkan dengan doa umat. Dalam doa tersebut, umat membawa berbagai pengalaman, harapan, pergumulan, dan niat masing-masing ke hadapan Tuhan.

Pertemuan kemudian ditutup dengan doa penutup, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Alangkah Bahagianya”. Selanjutnya, berkat diberikan oleh prodiakon Bapak Y. Murdiyana.

Pertemuan pertama BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Padua Maguwo berlangsung dalam suasana hangat, akrab, dan penuh kebersamaan. Kehadiran 25 umat menunjukkan semangat komunitas untuk bersama-sama mendengarkan, merenungkan, dan menghidupi Sabda Tuhan.

Lebih dari sekadar agenda rutin lingkungan, pertemuan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk sejenak berhenti dari kesibukan, melihat kembali perjalanan hidup, dan menemukan kembali sumber kebahagiaan yang sejati.

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk melihat kehidupan dengan cara yang baru. Kebahagiaan tidak hanya ditemukan dalam apa yang dimiliki, tetapi juga dalam cara manusia hidup di hadapan Allah serta menghadirkan kasih bagi sesama.

Pertemuan pertama ini sekaligus menjadi awal perjalanan BKSN 2026 di Lingkungan Santo Antonius Padua Maguwo: mengenal Yesus, Guru yang Penuh Kuasa, mendengarkan ajaran-Nya, dan membiarkan Sabda-Nya semakin membentuk kehidupan umat.

Berkah Dalem.

Misa Lingkungan St. Elisabeth bersama Romo Dadang

Hari Selasa, 23 Juni 2026, Umat Lingkungan St Elisabeth melaksanakan Misa Lingkungan yang dipimpin oleh Romo Dadang. Misa dilaksanakan di rumah Bapak Agustinus daerah Kradenan. Umat yang hadir berjumlah 52 orang. Romo Dadang dibantu oleh Mas Candra, prodiakon dari Lingkungan Gabriel. Misa ini berlangsung meriah karna dihadiri banyak umat, dan seru karna setelah misa berakhir, acara disambung dengan bincang-bincang atau sharring bersama Romo. Sharring berisi tentang permasalahan yang dilalui umat maupun pengurus lingkungan dan bagaimana mengatasinya. Tidak lupa ada pemberian Tanda Kasih untuk Oline, anak yang menerimakan Komuni tahun ini.

Bapa Kami, Doa yang Mengubah hati

18 Juni 2026, Lingkungan Elisabeth melaksanakan Sembahyangan Rutin yang dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto, dengan Pemimpin Sembahyangan Dita. Sembahyangan kali ini bersamaan dengan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga umat yang hadir lebih banyak. umat yang hadir malam ini 35 orang.

Dalam Sembahyangan malam ini, kami mengambil bacaan harian dari Injil Matius 6:7-15. Dalam Injil ini berisi tentang Yesus yang mengajarkan kepada para murid bagaimana seharusnya mereka berdoa. Di sini, Yesus mengingatkan agar kita tidak berdoa hanya dengan banyak kata, seolah-olah Tuhan baru akan mendengarkan kalau kita berbicara panjang lebar. Ingatlah, Bapa mengetahui apa yang kita perlukan bahkan sebelum kita memintanya.

Kemudian Yesus memberikan doa yang sangat kita kenal: Doa Bapa Kami.

Menariknya, dalam doa ini Yesus tidak hanya mengajarkan kita untuk meminta kebutuhan pribadi. Kita diajak terlebih dahulu mengatakan:

“Dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu.”

Artinya, doa bukan hanya tentang “Tuhan, berikan aku apa yang aku inginkan.” Doa juga merupakan kesempatan untuk menyerahkan diri dan berkata, “Tuhan, jadilah kehendak-Mu dalam hidupku.”

Kita sering datang kepada Tuhan ketika menghadapi masalah: Ketika keluarga sedang mengalami kesulitan, ketika anak sakit, ketika pekerjaan tidak berjalan baik, ketika hubungan dengan orang lain sedang bermasalah. Semua boleh kita bawa dalam doa.

Namun melalui Bapa Kami, Yesus mengajarkan bahwa ada sesuatu yang lebih penting: bukan hanya meminta Tuhan mengubah keadaan kita, tetapi membiarkan Tuhan terlebih dahulu mengubah hati kita.

Bagian yang mungkin paling sulit adalah:

“Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami.”

Kita tentu ingin Tuhan mengampuni kesalahan kita. Tetapi Yesus juga mengajak kita belajar memberikan pengampunan kepada orang lain.

Mengampuni bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain tidak penting. Mengampuni juga tidak selalu berarti kita harus langsung melupakan apa yang terjadi. Mengampuni berarti kita memilih untuk tidak terus-menerus membiarkan luka, kemarahan, dan kebencian menguasai hati kita.

Kadang orang yang paling sulit kita ampuni justru adalah orang yang paling dekat dengan kita: pasangan, anak, saudara, teman, atau seseorang dalam komunitas kita sendiri.

Karena itu, Doa Bapa Kami bukan sekadar doa yang diucapkan dengan bibir. Doa ini adalah doa yang menantang kita untuk hidup sesuai dengan apa yang kita ucapkan.

Ketika kita berkata, “Jadilah kehendak-Mu,” kita belajar menerima bahwa tidak semua keinginan kita harus terjadi.

Ketika kita berkata, “Berilah kami rezeki pada hari ini,” kita belajar percaya bahwa Tuhan akan mencukupi kebutuhan kita.

Ketika kita berkata, “Ampunilah kami,” kita belajar rendah hati mengakui kesalahan.

Dan ketika kita berkata, “Seperti kami pun mengampuni,” kita dipanggil untuk membuka hati dan melepaskan kebencian.

Mungkin hari ini Tuhan tidak meminta kita melakukan sesuatu yang besar. Mungkin Tuhan hanya mengajak kita berdoa dengan lebih sungguh-sungguh, percaya lebih dalam, dan mengampuni sedikit demi sedikit.

Mari kita jadikan Bapa Kami bukan hanya doa yang kita hafalkan, tetapi cara hidup sebagai anak-anak Allah.

Sebab doa yang sejati bukan hanya membuat kita semakin dekat dengan Tuhan, tetapi juga membuat hati kita semakin mampu mengasihi, mengampuni, dan menghadirkan Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Misa Memule Satu Tahun Berpulangnya Antonius Agung Yudodarsono, Umat St. Antonius Bersekutu dalam Doa

Yogyakarta — Umat Lingkungan St. Antonius bersama umat dari beberapa lingkungan sekitar berkumpul dalam Misa Memule satu tahun berpulangnya saudara Antonius Agung Yudodarsono pada Sabtu, 5 September 2026. Misa dilaksanakan di rumah Bapak V. Sumarno dan dihadiri oleh umat dalam suasana khidmat, akrab, dan penuh kebersamaan.

Misa dimulai pada pukul 19.35 WIB dan dipimpin oleh Romo F.X. Murdi Susanto, Pr. Melalui perayaan Ekaristi, umat bersama-sama mendoakan Antonius Agung Yudodarsono serta menyerahkan keluarga dan seluruh umat yang hadir ke dalam penyelenggaraan kasih Tuhan.

Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk meneguhkan iman akan pengharapan Kristiani. Dalam iman, kehidupan manusia senantiasa berada dalam kasih Tuhan, sementara perpisahan dengan orang yang dikasihi mengingatkan umat akan panggilan untuk terus menjalani kehidupan dengan iman, kasih, dan pengharapan.

Kehadiran umat dari Lingkungan St. Antonius dan lingkungan-lingkungan sekitar menunjukkan semangat persaudaraan yang terus terpelihara dalam kehidupan menggereja. Kebersamaan dalam doa menjadi bentuk dukungan bagi keluarga sekaligus mempererat hubungan antarumat.

Misa berlangsung dengan khidmat dan berakhir pada pukul 20.35 WIB. Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pengumuman dari Paroki Administratif Maguwo yang ditujukan kepada umat Lingkungan St. Antonius.

Kegiatan malam itu menjadi pengingat bagi seluruh umat akan pentingnya hidup dalam iman dan persaudaraan. Melalui kebersamaan dalam Ekaristi dan doa, umat diajak untuk senantiasa mengandalkan kasih Tuhan serta menghadirkan kepedulian dan dukungan bagi sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga doa yang dipanjatkan dalam perayaan ini menjadi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan dan meneguhkan iman seluruh umat akan pengharapan akan kehidupan kekal dalam kasih Tuhan.

Lingkungan St. Antonius Padua Melaksanakan Tugas Among Tamu dan Penghitungan Kolekte

Yogyakarta, 2 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius Padua kembali mengambil bagian dalam pelayanan di Gereja melalui tugas among tamu dan penghitungan kolekte pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, 2 Agustus 2026.

Pelayanan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan oleh 14 orang petugas, yang terdiri dari 5 orang bapak, 8 orang ibu, dan 1 orang Orang Muda Katolik (OMK). Para petugas menjalankan tugas menyambut umat yang hadir, membantu menciptakan suasana ibadah yang tertib dan nyaman, serta melaksanakan penghitungan kolekte setelah Perayaan Ekaristi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Seluruh rangkaian tugas dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan penuh semangat pelayanan. Keterlibatan umat dari berbagai kelompok usia menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja.

Semoga pelayanan sederhana yang telah diberikan menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan serta semakin menumbuhkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan sukacita dalam melayani sesama di lingkungan Paroki.

“Layanilah seorang akan yang lain sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)

Line Dance St. Elisabeth

Tanggal 14 Juni 2026. Lingkungan St. Elisabeth turut memeriahkan Acara HUT Gereja Maria Bunda Allah dengan mempersembahkan Line Dance.

Dalam perayaan ini, selain memperingati HUT GMBA, kami juga bersuka cita karna GMBA sudah resmi menjadi Paroki Administratif. Setelah misa, seluruh umat diajak untuk berpesta Bakso dan Soto yang dipersembahkan oleh 14 lingkungan di Paroki Administratif GMBA. Sembari menikmati hidangan, umat juga disuguhi beberapa hiburan, salah satunya Line Dance persembahan dari Lingkungan St. Elisabeth ini.

Lingkungan Elisabeth sudah mempersiapkan 2x seminggu untuk berlatih bersama selama kurang lebih 2 bulan.

Kasih adalah yang Utama dari Kehidupan Orang Beriman

Pada tanggal 4 Juni, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan Rutin yang bertempat di Pendopo Mbah Cipto. Dalam sembahyangan kali ini, kami merenungkan Injil Markus 12:28–34. Dalam injil ini bercerita bagaimana seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.

Ahli Taurat itu memahami bahwa kasih kepada Allah dan sesama jauh lebih berharga daripada segala kurban dan persembahan. Melihat jawabannya, Yesus berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang menjalankan aturan atau mengikuti ibadah secara lahiriah. Iman yang sejati tampak dalam kasih yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengasihi Tuhan berarti menempatkanNya sebagai pusat hidup, setia berdoa, mendengarkan sabdaNya, dan melakukan kehendakNya. Mengasihi sesama berarti menghargai setiap orang, mau mengampuni, menolong yang membutuhkan, serta menjaga martabat setiap manusia.

Yang perlu kita renungkan bersama adalah,

  1. Apakah saya sungguh mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup saya?
  2. Apakah kasih saya kepada sesama terlihat dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar?
  3. Sudahkah saya menunjukkan kasih kepada ciptaan Tuhan dengan mengasihi sesama?

“Tuhan Yesus, ajarlah kami mengasihiMu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kami. Bukalah hati kami agar mampu mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan, serta peduli terhadap seluruh ciptaanMu. Semoga setiap perkataan, tindakan, dan keputusan kami menjadi wujud nyata kasih yang Engkau ajarkan. Amin.”

Pengumpulan Bahan Daur Ulang Lingkungan St. Elisabeth

Dalam rangka mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai wujud syukur atas ciptaan Tuhan, sekaligus membantu mengurangi sampah, Paroki memiliki program yang sudah lama berlangsung, yaitu mengadakan Pengumpulan Bahan Daur Ulang. Kegiatan ini juga dapat menjadi bagian dari aksi nyata dalam semangat menjaga lingkungan.

Kegiatan ini bertujuan:

  • Mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
  • Mengajak umat membiasakan memilah sampah dari rumah.
  • Menumbuhkan semangat menjaga kelestarian ciptaan Tuhan.
  • Menggalang dana sosial dari hasil penjualan bahan daur ulang.
  • Menumbuhkan rasa cinta lingkungan dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga.

Barang yang dikumpulkan berupa:

  • Botol plastik (PET)
  • Gelas plastik
  • Kardus
  • Kertas dan koran bekas
  • Kaleng minuman
  • Botol kaca
  • Minyak jelantah (dalam botol tertutup)
  • Tutup botol plastik

Biasanya di lingkungan St. Elisabeth pengumpulan BDU dilakukan tiap minggu keempat di hari yang telah disepakati bersama di rumah Keluarga Bapak Suradi, yang kemudian barang-barang dibersihkan, dipilah, dirapikan, disatukan dan dikumpulkan ke Gereja untuk ditimbang bersama.

Melalui langkah sederhana ini, kita bersama-sama mengurangi sampah, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghadirkan kasih Tuhan kepada sesama melalui pemanfaatan hasil daur ulang untuk karya sosial gereja.

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)

Mari bersama menjaga bumi, rumah kita bersama.

Umat Lingkungan St. Antonius Padua Bersatu dalam Ibadat Tirakatan dan Doa Rosario

Ibadat Tirakatan untuk mendoakan arwah Bapak Thomas Eddy Susarso, ayahanda dari Ibu Yosep (bapak mertua Bapak Yosep), dilaksanakan pada hari Senin, 27 Juli 2026, pukul 19.00 WIB di kediaman Bapak Yosep. Ibadat berlangsung dengan penuh khidmat dan dihadiri kurang lebih 50 orang yang terdiri atas keluarga, sanak saudara, serta umat Lingkungan St. Antonius Padua.

Ibadat dipimpin oleh Prodiakon Bapak Yohanes Murdiyana. Dalam suasana doa dan pengharapan akan kebangkitan, seluruh umat bersama-sama memanjatkan doa bagi keselamatan jiwa almarhum agar memperoleh kebahagiaan abadi di hadirat Tuhan. Melalui sabda Tuhan, doa umat, dan renungan singkat, umat diajak untuk semakin meneguhkan iman akan janji kehidupan kekal serta saling menguatkan dalam menghadapi duka.

Setelah ibadat tirakatan selesai, rangkaian doa dilanjutkan dengan Doa Rosario, yang dipersembahkan sebagai ungkapan kasih dan penghormatan kepada almarhum serta sebagai permohonan agar keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi kekuatan, penghiburan, dan damai sejahtera oleh Tuhan.

Semoga melalui kebersamaan dalam doa ini, keluarga yang berduka memperoleh ketabahan dan pengharapan, serta arwah Bapak Thomas Eddy Susarso dianugerahi istirahat kekal dalam damai kasih Tuhan. Semoga terang abadi senantiasa menyinarinya, dan semoga seluruh umat semakin diteguhkan untuk hidup dalam iman, harapan, dan kasih kepada sesama.

Kunjungan Kasih Lingkungan St. Antonius Padua untuk Keluarga Bapak Ignasius Indarto

Sebagai wujud kepedulian dan semangat persaudaraan dalam kehidupan menggereja, umat Lingkungan St. Antonius Padua mengadakan kunjungan kasih ke rumah keluarga Bapak Ignasius Indarto pada hari Selasa, 14 Juli 2026, pukul 16.30 WIB. Kunjungan ini dilaksanakan untuk memberikan dukungan, penghiburan, serta doa bagi Ibu Monika Rubi Susilawati yang sedang dalam masa pemulihan setelah mengalami sakit beberapa waktu lalu.

Sebelum berangkat menuju rumah keluarga Bapak Ignasius Indarto, umat terlebih dahulu berkumpul di rumah keluarga Bapak dan Ibu Rusiawan. Dari tempat tersebut, sekitar 15 orang umat bersama-sama menuju lokasi kunjungan sebagai ungkapan kebersamaan dan perhatian kepada sesama anggota lingkungan.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, umat bersama-sama mendoakan agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, penghiburan, serta rahmat kesembuhan kepada Ibu Monika Rubi Susilawati sehingga dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.

Melalui kunjungan kasih ini, diharapkan semangat saling peduli, berbagi perhatian, dan mendoakan satu sama lain terus tumbuh di tengah umat Lingkungan St. Antonius Padua. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, damai, dan berkat-Nya kepada keluarga Bapak Ignasius Indarto serta seluruh umat yang telah ambil bagian dalam kegiatan ini. Berkah Dalem.