Jumat Bersih Ala Wilayah Loyola: Lingkungan Santa Elisabeth Turut Guyub Merawat Gereja, Hangat Mempererat Persaudaraan

Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan terasa begitu hangat dalam kegiatan Jumat Bersih yang diselenggarakan Wilayah Ignatius Loyola pada Jumat, 8 Mei 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perwakilan umat dari 5 lingkungan di Wilayah Ignatius Loyola hadir dan bergotong royong menciptakan suasana Gereja yang bersih, nyaman, dan asri untuk seluruh umat.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Lingkungan Santa Clara, Santo Fransiskus Asisi, Santo Gabriel, Santo Yohanes Pembaptis, serta Santa Elisabeth. Kehadiran para umat semakin menambah semarak suasana guyub yang menjadi ciri khas kebersamaan Wilayah Ignatius Loyola. Dari Lingkungan Santa Elisabeth, hadir Pak Dedy, Pak Gusadi, Pak Suradi, Mbak Dita, Mas Heru, dan Mbak Vera yang dengan penuh semangat turut ambil bagian dalam kerja bakti tersebut.

Sejak kegiatan dimulai, setiap umat langsung mengambil peran masing-masing. Ada yang menyapu halaman, mengelap area dalam Gereja, membersihkan sudut-sudut ruangan, hingga merapikan lingkungan sekitar Gereja. Semua dilakukan dengan sukacita, mencerminkan semangat pelayanan, dan kebersamaan yang hidup di tengah umat.

Tidak hanya berfokus pada kebersihan, kegiatan Jumat Bersih kali ini juga diwarnai aksi peduli lingkungan. Dipimpin Ketua Wilayah, Mas Bono, beberapa bapak dan kaum muda berinisiatif mengolah sampah daun menjadi kompos. Daun-daun kering dikumpulkan lalu dicacah menggunakan mesin sebagai langkah awal pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian umat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus pemanfaatan sampah organik secara bijak dan bermanfaat.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, suasana keakraban semakin terasa saat umat berkumpul menikmati hidangan ringan bersama di halaman belakang Gereja. Canda dan obrolan hangat mengiringi santapan sederhana seperti combro, kletikan, tahu krispi, dan donat yang menambah erat rasa persaudaraan antarumat.

Melalui kegiatan Jumat Bersih ini, Wilayah Ignatius Loyola tidak hanya membersihkan lingkungan gereja, tetapi juga menumbuhkan semangat guyub, pelayanan, dan kepedulian bersama. Semoga kebersamaan yang terjalin semakin mempererat rasa gayeng dan akrab dalam kehidupan menggereja sehari-hari.

Berdoa Rosario Menjadi Pengalaman Iman yang Menyejukkan

Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.

Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.

Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.

Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.

Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth: Kerendahan Hati untuk Melayani

Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.

Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.

Paskahan Lingkungan St. Elisabeth

23 April 2026, di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan Perayaan Paskahan Lingkungan Bersama. Paskahan dihadiri oleh hampir seluruh umat di Lingkungan St. Elisabeth, yaitu 38 umat. Diawali dengan sembahyangan yang dipimpin Mbak Vera.

Renungan dalam sembahyangan diambil dari Bacaan Injil Yohanes 6:44-51. Bacaan ini berisi tentang Yesus yang berkata bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya kalau tidak ditarik oleh Bapa. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga karena kasih dan panggilan Allah yang terlebih dahulu menyentuh hati kita. Tuhan selalu mencari dan mengundang setiap orang untuk datang lebih dekat kepada-Nya.

Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “roti hidup yang turun dari surga.” Roti adalah makanan yang memberi kekuatan dan kehidupan. Namun roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan jasmani, melainkan kehidupan kekal. Banyak orang mencari kebahagiaan dari harta, pujian, atau kesenangan dunia, tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia. Hanya Yesus yang mampu mengisi kekosongan hati dan memberi damai sejati.

Sebagai orang muda maupun keluarga Kristiani, kita sering merasa lelah menghadapi masalah, tugas, konflik, atau rasa kecewa. Dalam keadaan itu, Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dan menjadikan-Nya sumber kekuatan hidup. Ketika kita rajin berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Ekaristi, hati kita perlahan diperbarui oleh Tuhan.

Bacaan ini juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima Yesus harus menjadi “roti” bagi sesama. Artinya, kita dipanggil untuk membawa kasih, penghiburan, perhatian, dan bantuan bagi orang lain. Kehadiran kita seharusnya membawa kehidupan dan sukacita, bukan luka atau kebencian.

Semoga melalui sabda hari ini, kita semakin percaya kepada Yesus Sang Roti Hidup, dan menjadikan-Nya pusat dalam hidup kita setiap hari.

Setelah Sembahyangan selesai, acara Paskahan dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih bagi umat yang sebelumnya sempat sakit dan opname di Rumah Sakit, yaitu Pak Deddy, dan Mbah Cipto. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dan games yang menyenangkan lalu makan bersama. Acara Paskahan Lingkungan St. Elisabeth tahun ini berlangsung sangat sederhana namun sangat meriah karna banyak umat yang hadir dan bergembira bersama. Kami masing-masing bisa pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.

Mengalun dalam Kasih dan Rahmat-Nya, Kami Bersatu dalam Satu Suara: Persembahan Koor Lintas Generasi Lingkungan St. Gabriel dalam Misa Kudus Hari Tuhan

Pada hari Minggu, 3 Mei, suasana di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hidup dan penuh sukacita. Sesuai dengan jadwal liturgi, Lingkungan St. Gabriel mendapat kepercayaan untuk bertugas sebagai tim koor dalam misa pagi. Tugas ini tidak dijalankan secara instan, melainkan melalui proses persiapan yang matang dan penuh kebersamaan.

Di bawah koordinasi Seksi Koor lingkungan yang dipimpin oleh Ibu Intan, berbagai persiapan dilakukan dengan sungguh-sungguh. Lagu-lagu liturgi dipilih dengan cermat, disesuaikan dengan tema perayaan, lalu dilatih secara intensif sebanyak enam kali pertemuan. Ibu Intan sendiri turun langsung melatih, membimbing dengan penuh kesabaran dan semangat, memastikan setiap anggota koor memahami dinamika dan makna dari setiap lagu yang akan dipersembahkan.

Yang istimewa, latihan koor ini melibatkan seluruh lapisan umat—mulai dari anak-anak PIA, remaja, OMK, hingga para orang tua. Kebersamaan lintas generasi ini menciptakan suasana latihan yang hangat dan penuh kekeluargaan. Meskipun beberapa kali latihan harus diwarnai oleh turunnya hujan, hal itu tidak menyurutkan semangat umat untuk hadir dan berlatih. Justru, di tengah keterbatasan itu, semangat pelayanan semakin terasa kuat dan tulus.

Tibalah hari yang dinanti. Sejak pukul 06.30 WIB, tim koor sudah hadir dan bersiap dengan penuh antusias. Dengan dresscode bernuansa putih dan biru muda, seluruh anggota koor tampil serasi dan rapi, mencerminkan kesederhanaan sekaligus kekhidmatan. Iringan musik dipercayakan kepada Bapak Henri Yulianto sebagai organis, yang dengan apik mengalun mengiringi setiap lagu.

Perayaan misa pun berlangsung dengan lancar dan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang telah dilatih dengan tekun dipersembahkan dengan harmonis dan menyentuh hati. OMK turut ambil bagian sebagai dirigen, yaitu Mandriva dan Valen, yang memimpin koor dengan penuh percaya diri. Dari kalangan remaja, Aurel dipercaya sebagai pemazmur dan membawakan mazmur dengan indah serta penuh penghayatan.

Keterlibatan seluruh umat—anak-anak, remaja, OMK, hingga orang tua—menjadi bukti nyata semangat kebersamaan dalam pelayanan. Koor pagi itu tidak hanya sekadar menyanyikan lagu, tetapi juga menjadi sarana untuk memuliakan Tuhan melalui talenta yang dimiliki.

Setelah misa selesai, kebahagiaan dan rasa syukur terpancar dari wajah setiap anggota koor. Momen kebersamaan tersebut ditutup dengan foto bersama, sebagai kenangan indah atas pelayanan yang telah dilaksanakan dengan penuh cinta dan dedikasi.

Hari itu menjadi pengingat bahwa dalam kebersamaan, ketekunan, dan semangat melayani, setiap hal sederhana dapat menjadi persembahan yang indah bagi Tuhan.

Semoga kebersamaan yang telah terjalin ini terus hidup dan menjadi inspirasi bagi pelayanan-pelayanan berikutnya. Apa yang telah dipersembahkan hari ini kiranya berkenan di hati Tuhan dan semakin meneguhkan iman serta persaudaraan seluruh umat. Dengan semangat yang sama, semoga setiap langkah kecil dalam pelayanan selalu menjadi wujud kasih yang nyata.

Menjadi Kaum Muda Katolik yang Aktif dan Berdampak

Pada tanggal 15 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth menjadi tuan rumah dari berkumpulnya para kaum muda Katholik Maguwo. Pertemuan ini adalah pertemuan yang rutin dilaksanakan para kaum muda tiap sebulan sekali. Pertemuan dilaksanakan bergiliran ke tiap-tiap lingkungan se-stasi Maguwo. Kebetulan pada bulan Maret ini, lingkungan Elisabeth menjadi tuan rumah. Pertemuan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto sepulang misa.

Pertemuan diikuti oleh seluruh Orang Muda Katholik yang ada di stasi Maguwo, para suster, perwakilan mantan OMK, dan perwakilan umat St. Elisabeth. Memang belum semuanya hadir, tapi sudah cukup banyak mewakili. Pertemuan berlangsung sangat hangat dan meriah. Diisi dengan sesi ramah tamah, sharring, dan game sebagai ice breaking.

Pertemuan dilaksanakan safari ke tiap-tiap lingkungan tiap bulannya agar OMK baru yang ada di lingkungan, terpanggil untuk ikut serta terlibat di kegiatan OMK stasi.
Pertemuan kaum muda Katolik merupakan salah satu wadah penting bagi generasi muda untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menemukan jati diri sebagai pengikut Kristus di tengah dunia modern. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, kaum muda diajak untuk semakin mengenal Tuhan dan memahami peran mereka dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.

Sesi sharing atau berbagi pengalaman menjadi momen yang sangat berharga. Dalam sesi ini, setiap peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman iman, tantangan hidup, maupun pergumulan yang sedang dihadapi. Dari sini, muncul rasa saling mendukung dan menguatkan satu sama lain sebagai satu komunitas. Tidak kalah penting, pertemuan kaum muda juga diisi dengan kegiatan kreatif dan menyenangkan, seperti games. Hal ini bertujuan agar kaum muda tidak merasa bosan, sekaligus melatih kerja sama, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab.


Melalui pertemuan ini, diharapkan kaum muda Katolik dapat semakin berani menjadi terang dan garam dunia. Mereka dipanggil untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. Dengan iman yang kuat dan semangat pelayanan, kaum muda dapat membawa perubahan positif di lingkungan sekitar.
Akhirnya, pertemuan ditutup dengan doa penutup sebagai ungkapan syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Harapannya, setiap peserta pulang dengan hati yang dikuatkan dan semangat baru untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Kristus.

Aksi APP 2026 dan Kunjungan Kasih Lingkungan St. Elisabeth

Dalam semangat APP 2026, Lingkungan St. Elisabeth Stasi Maguwo melaksanakan Kunjungan Kasih sebagai wujud nyata cinta, kepedulian, dan persaudaraan. Selama masa APP, Lingkungan St. Elisabeth berkomitmen untuk menggunakan uang kolekte selama Sembahyangan untuk memberikan tanda kasih kepada para lansia yang ada di Lingkungan St. Elisabeth.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2026. Sebelumnya kami berkumpul di Pendopo Mbah Cipto. Kemudian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Mbah Cipto. Selanjutnya kami juga menyempatkan untuk mengunjungi Pak Deddy yang baru pulang dari opname di Rumah Sakit. Lalu kunjungan selanjutnya, kami menuju Rumah Ibu Sugiarto, Mbah Sudiran, dan terakhir kami berkunjung ke rumah Ibu Pujo.

Bukan hanya sekedar berkunjung dan memberikan tanda kasih, tapi kami juga menunjukkan kehangatan, perhatian, bahkan berdoa bersama sebagai penguatan secara rohani, agar setiap orang yang kami kunjungi juga merasa penuh secara rohani.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DXW6L_fj6Km/?igsh=OWl4Ynk2dHJqbjA5

Datang dari Atas: Belajar Percaya dan Hidup dalam Kebenaran

Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.

Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.

Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.

Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?

Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.

Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.

Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.

Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:

  • Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
  • Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?

Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.

Misa Persiapan TKA SD KANISIUS Sleman Timur


Pada hari Jumat, 17 April 2026, keluarga besar SD Kanisius Sleman Timur menyelenggarakan Misa Persiapan Tes Kompetensi Akademik (TKA) bagi siswa kelas VI. Kegiatan ini berlangsung dengan penuh khidmat di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, serta dihadiri oleh orang tua/wali murid dan para tenaga pembimbing


Misa ini menjadi sarana pembinaan rohani sekaligus penguatan mental bagi para siswa dalam menghadapi TKA. Dalam suasana doa yang tenang dan reflektif, para siswa diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, memohon bimbingan, serta meneguhkan niat untuk menjalani ujian dengan jujur, percaya diri, dan penuh tanggung jawab.


Salah satu momen yang paling menyentuh dalam perayaan ini adalah prosesi pemberian restu dari orang tua kepada putra-putrinya. Dengan penuh kasih, para orang tua memberikan doa, dukungan, dan harapan terbaik bagi anak-anak mereka. Suasana haru pun terasa ketika siswa menerima restu sebagai bekal spiritual dalam menghadapi ujian yang akan datang.

Kehadiran orang tua dan tenaga pembimbing dalam misa ini menjadi wujud nyata sinergi antara sekolah dan keluarga dalam mendampingi perkembangan siswa, tidak hanya dalam aspek akademik, tetapi juga dalam pembentukan karakter dan iman.


Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh siswa kelas VI semakin siap menghadapi TKA dengan hati yang tenang, iman yang kuat, dan semangat yang tinggi. Semoga setiap usaha yang telah dilakukan membuahkan hasil yang terbaik serta menjadi langkah awal menuju jenjang pendidikan selanjutnya.



Semangat iman dalam perayaan ini diteguhkan melalui kutipan Kitab Suci dari Amsal 3:5-6: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” Ayat ini menjadi pengingat bagi para siswa untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah mereka, termasuk dalam menghadapi TKA.


Pertemuan Paguyuban Ibu-ibu Lingkungan Antonius

Pertemuan dilaksanakan hari Sabtu, 18 April 2026 pukul 16.30 wib di rumah ibu Purwanto.
Ibu-ibu yang hadir mengenakan dresscode kebaya untuk memperingati hari Kartini.
Pertemuan diawali dengan doa pembukaan dan menyanyikan lagu Kartini.
Setelah acara rutin info-info dan laporan-laporan, dilanjutkan isian oleh ibu Susi tentang kesehatan gigi.
Acara dilanjutkan dengan pemberian hadiah untuk ketiga ibu yang mengenakan kebaya “cantik”.
Acara ditutup dengan doa dan foto bersama.