Melampaui Batas: Prodiakon Maguwo Mengasah Homili, Meresapi Ziarah, Menikmati Indahnya Slili

Pada tanggal 12 Juli 2025, Prodiakon Gereja Maria Bunda Allah Maguwo melaksanakan sebuah kegiatan istimewa yang memadukan spiritualitas dan pengembangan diri. Perjalanan rohani dimulai dengan ziarah khusyuk ke Gua Tritis, sebuah tempat yang menawarkan kedamaian dan kedekatan dengan alam, menjadi momen refleksi dan permohonan rahmat bagi para prodiakon.

Setelah merasakan ketenangan di Gua Tritis, kegiatan dilanjutkan dengan sesi peningkatan soft skill yang sangat relevan. Bersama Romo Norbertus Sukarno Siwi, Pr. Yang bertajuk “Menciptakan Homili/Renungan yang Menarik”. Dalam sesi ini, Romo Norbertus berbagi ilmu dan pengalaman tentang bagaimana merangkai kata-kata menjadi pesan rohani yang menginspirasi, mudah dicerna, dan menyentuh hati umat. Diskusi interaktif dan latihan praktis menjadi bagian penting dari sesi ini, membekali para prodiakon dengan keterampilan komunikasi yang lebih baik dalam pelayanan gerejawi mereka.

Para prodiakon antusias mengikuti lokakarya interaktif bertajuk “Menciptakan Homili/Renungan yang Menarik”. Romo Norbertus, dengan gaya yang menginspirasi, membagikan kiat-kiat praktis dan wawasan mendalam tentang bagaimana merangkai pesan-pesan biblis menjadi renungan yang hidup, relevan, dan menyentuh hati umat. Diskusi kelompok, latihan presentasi singkat, dan umpan balik konstruktif mengisi sesi ini, membekali setiap prodiakon dengan kepercayaan diri dan keterampilan untuk menyampaikan Sabda Tuhan dengan lebih efektif.

Setelah berdinamika bersama Romo Norbertus, para prodiakon langsung menyantap hidangan yang sudah disediakan. Tentunya dengan lahap para prodiakon menyantap makanan – makanan itu, saat itu juga bertepatan dengan makan siang.

Hari yang produktif dan sarat berkah ini ditutup dengan sentuhan keindahan alam yang menawan. Para prodiakon bersama-sama menikmati panorama elok Pantai Slili. Deburan ombak yang syahdu dan hembusan angin pantai yang menyegarkan menjadi penutup sempurna bagi rangkaian kegiatan, memungkinkan mereka untuk bersantai, menjalin keakraban, dan meresapi rasa syukur atas hari yang telah dilalui. Kegiatan ini tidak hanya memperkaya spiritualitas dan kompetensi para prodiakon, tetapi juga mempererat tali persaudaraan dalam pelayanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

kunjungi Instagram komsos GMBA : https://www.instagram.com/p/DMCRftRR2Ia/?igsh=bjY0MnE5ZHR2dWw2

“Refresh Jiwa Lingk. St. Monica” Menyapa Hati, Menyembuhkan Batin, Semangat Menggereja

Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat dan padat, kita kerap tenggelam dalam rutinitas tanpa sempat bertanya: Bagaimana kabar jiwa kita hari ini? Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar lahirnya sebuah kegiatan penuh makna yang diselenggarakan oleh Lingkungan Santa Monica, bertajuk “Refresh Jiwa”, sebuah inisiatif baru yang menghadirkan keheningan, refleksi, dan penyembuhan batin.

Perjalanan Spiritual ke Taman Doa Maria Penolong Abadi

Kegiatan ini berlangsung di Taman Doa Maria Penolong Abadi, yang berlokasi di Stasi Pojok, Paroki St. Petrus–Paulus, Minggir, Klepu. Dikelilingi suasana khas pedesaan yang alami dan tenang, tempat ini menjadi ruang yang tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, dan menyatu dalam keheningan bersama Tuhan.

Taman doa ini tidak hanya menyuguhkan keindahan fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang menyentuh. Pendopo joglo sederhana, tempat berlangsungnya prosesi, disiapkan penuh kasih, dikelilingi alam hijau, diterangi lampu remang-remang, dan ditemani patung Bunda Maria dengan sentuhan budaya Jawa. Semua elemen ini menyatu menciptakan suasana yang intim, penuh damai, dan sangat mendukung pengalaman batin yang mendalam.

Kekuatan Unsur Hypnotherapy dalam Penyembuhan Jiwa

Hal yang menjadikan kegiatan ini unik dan berkesan adalah penggunaan unsur hypnotherapy spiritual, yang dipadukan dengan metode penyembuhan menggunakan energi Ilahi. Melalui bimbingan dan teknik-teknik relaksasi serta pemusatan pikiran, para peserta diajak untuk membuka diri, menerima kasih Tuhan, dan membiarkan setiap luka batin, kekhawatiran, serta beban hidup dipulihkan dalam kehadiran-Nya.

Sekitar 50 umat, dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para lansia, dengan penuh kesadaran dan keterbukaan mengikuti setiap proses. Mereka diajak untuk menyapa jiwa, mengendapkan emosi, menyadari kehadiran Tuhan di balik segala peristiwa hidup. Tidak sedikit peserta yang merasakan ketenangan, kesegaran jiwa, bahkan mengalami momen spiritual yang mendalam.

Diprakarsai oleh Kaum Muda yang Penuh Semangat

Salah satu keistimewaan kegiatan ini adalah keterlibatan kaum muda sebagai motor penggerak utama. Mas Wilfred, Mbak Sulis, dan Mas Vincent tampil sebagai inisiator dan fasilitator utama, dibantu Bapak Lasiman selaku Ketua Lingkungan Monica. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat pelayanan dan inovasi rohani tidak mengenal usia, dan bahwa generasi muda dapat mengambil peran penting dalam membangun kehidupan menggereja yang hidup dan relevan.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa gereja bisa hadir dengan cara yang kreatif, menyentuh, dan tetap setia pada nilai-nilai spiritual yang hakiki.

Membangun Komunitas yang Guyub dan Bersemangat

“Refresh Jiwa” tidak hanya memberi pengalaman pribadi yang menguatkan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara umat. Dalam suasana yang akrab, para peserta saling mendukung, berbagi cerita, mendoakan satu sama lain. Kegiatan ini menghidupkan kembali spirit Santa Monica, pelindung lingkungan ini, yang dikenal sebagai sosok ibu penuh kasih, tabah, dan teguh dalam doa demi keselamatan keluarganya.

Melalui kegiatan ini, harapannya umat Lingkungan Monica semakin guyub, solid, dan antusias dalam keterlibatan pastoral, baik di lingkungan maupun di Stasi. Semangat melayani, semangat berbagi, dan semangat memuliakan Tuhan bersama-sama menjadi bekal penting untuk terus membangun Gereja yang hidup dan berakar dalam iman.

“Refresh Jiwa bukan hanya soal rehat sejenak, tapi tentang mendengarkan bisikan jiwa, menyentuh kasih Tuhan, dan pulang dengan semangat baru untuk mencintai lebih sungguh.”

Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk menciptakan ruang-ruang penyembuhan batin yang nyata, sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan rohani umat.

Berkah Dalem

foto lengkap bisa dilihat di link google drive :

https://drive.google.com/drive/folders/1Oltv2L3DEKz55adJK8a9Xtzb4A2vWkyx

Ketika Suara Kecil Menyentuh Langit Hati

Hari ini seperti biasa saat saya sedang break dari kegiatan, Jari saya sibuk scroll Instagram, tanpa tujuan. Cuma nyari hiburan ringan, ngisi waktu luang, atau sekadar kabur sebentar dari rutinitas yang kadang bikin kepala berat. Timeline penuh video lucu, berita viral, hal-hal receh. Tapi tiba-tiba… saya berhenti.

Sebuah video muncul. Seorang anak sedang menyanyi. Biasa? Tidak. Anak itu dari SLB A Karya Murni Ruteng. Seorang tuna netra. Tapi bukan itu yang bikin saya terpaku. Suaranya… beda. Ada sesuatu di cara dia menyanyikan lagu itu—tulus, jujur, tanpa beban gaya. Langsung menembus ke hati.

“Dengarlah Tuhan memanggilmu… jangan kau terlena membisu…”

Saya merinding. Terdiam. Dunia yang tadinya ribut di kepala saya, mendadak senyap. Seolah lagu itu sedang bicara langsung ke saya. Bukan hanya lirik. Tapi pesan. Panggilan. Ajakannya terasa lembut tapi kuat.

Tanpa pikir panjang, saya buka YouTube. Cari lagu itu. Dapat dua versi. Dan saya dengarkan berulang-ulang. Semakin saya dengar, semakin terasa dalam. Bukan hanya karena liriknya indah, tapi karena saya sadar—saya sedang diingatkan akan sesuatu yang sering saya abaikan.

“Yesus cinta kan pribadimu, dan tak kan pernah meninggalkanmu…”
“Dengarlah lonceng gereja sayup-sayup di sana, pertanda waktunya engkau tinggalkan semuanya…”
“Datanglah engkau bersujud, mohon pengampunan-Nya… sampai saat kau berada di pelukan-Nya.”

Jujur… saya jadi diam. Lama.

Bukan karena sedih. Tapi karena tersentuh. Lagu ini bukan cuma tentang iman. Tapi tentang pulang. Tentang kasih Tuhan yang nggak pernah maksa, tapi selalu nunggu. Tentang panggilan yang kadang kita abaikan karena sibuk ngejar dunia.

Dan yang bikin saya makin mikir… kenapa pesan sebesar ini justru saya terima dari seorang anak kecil yang bahkan tak bisa melihat?

Mungkin itu cara Tuhan bicara. Kadang, Dia nggak pakai mimbar tinggi atau kata-kata sulit. Tapi cukup lewat suara sederhana dari hati yang bersih. Lewat video pendek yang nyempil di tengah scroll-scroll iseng. Lewat lagu yang nggak populer tapi penuh kuasa.

Malam itu, saya duduk lama. Nggak ngapa-ngapain. Cuma dengerin lagu itu sambil mikir…
Kapan terakhir kali saya benar-benar mendengarkan Tuhan?


Dan kamu yang lagi baca ini… entah kenapa saya pengen bilang:
Kalau hari-harimu lagi berat, atau hatimu lagi kosong, atau kamu cuma capek aja tanpa tahu kenapa… mungkin ini juga panggilan buatmu. Nggak usah buru-buru. Nggak harus langsung berubah besar-besaran.

Kadang, cukup diam sebentar. Dengarkan pelan-pelan.
Mungkin ada suara lembut yang udah lama kamu abaikan—tapi sebenarnya dia cuma nunggu kamu menoleh.

Tuhan nggak pernah jauh. Kita aja yang sering jalan terlalu jauh. Tapi kabar baiknya: jalan pulang itu nggak pernah ditutup.

Jadi… siapa tahu, ini waktunya kamu juga pulang

Paskah Bersama Lansia: Merayakan Kasih yang Tak Pernah Menua

Minggu 20 April 2025, selepas misa paskah pagi,di sebuah sudut hangat penuh senyum dan cerita, tepatnya di kediaman Bapak Arief Subyantoro, suasana Paskah terasa begitu berbeda. Tidak ada sorak sorai anak kecil, tidak ada hiruk-pikuk paduan suara. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam: tatapan mata penuh syukur, genggaman tangan yang hangat, dan kisah-kisah kehidupan yang dipeluk oleh cahaya Paskah.

Itulah wajah indah dari Perayaan Paskah bersama para lansia, sebuah inisiatif penuh kasih dari Timpel PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) di bawah naungan Bidang Pewarta Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah pelukan rohani bagi mereka yang telah berjalan lebih dulu dalam perjalanan iman

Acara ini dibungkus dalam kesederhanaan, namun justru di situlah letak kemewahannya. Lagu-lagu rohani dinyanyikan dengan suara lembut namun penuh rasa. Doa-doa dipanjatkan dalam irama pelan, menyentuh setiap hati yang hadir. Ada pula momen berbagi cerita, di mana para lansia menyampaikan harapan, syukur, bahkan canda kecil tentang masa muda mereka—yang disambut tawa hangat dari semua yang hadir.

Sambutan yang Membuat Hati Bergetar

Salah satu momen mengharukan terjadi saat Ketua Stasi memberikan sambutan. Dengan suara sedikit bergetar dan mata yang berkaca-kaca, beliau menyampaikan rasa syukur dan bangga atas terselenggaranya acara ini.

Kami lihat, setiap kerutan di wajah oma opa, eyang,  menyimpan cerita, doa, dan pengorbanan yang luar biasa. Dan lewat perayaan sederhana ini, kami ingin bilang: terima kasih………………Terima kasih karena terus menjadi tiang doa bagi keluarga dan lingkungan. Terima kasih karena kasih dan semangat bapak dan ibu selalu jadi inspirasi bagi kami yang lebih muda.

Bukan karena sedih, tapi karena mereka menyadari betapa besarnya cinta Tuhan yang mengalir melalui perhatian kecil seperti ini.

Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk menyadari bahwa iman tak pernah memudar seiring usia, justru menjadi lebih matang dan bijak. Kehadiran para lansia adalah kekayaan gereja, mereka adalah “kitab hidup” yang menyimpan hikmah dan keteladanan.

“Terima kasih, kami merasa tidak dilupakan,” ucap salah satu opa dengan mata berkaca-kaca.

Dan itulah inti dari Paskah—bahwa kasih Allah selalu bangkit dan hadir di setiap usia, dalam setiap detak hidup umat-Nya.

Acara ini bukan hanya hadiah bagi para lansia, tapi juga menjadi pelajaran berharga bagi yang muda: bahwa pelayanan tak mengenal usia, dan Paskah tak hanya untuk dirayakan di altar megah, tapi juga di ruang tamu kecil yang penuh cinta.

Terima kasih untuk Timpel PIUL yang sudah menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan. Terima kasih juga untuk Bapak Arief Subyantoro yang telah membuka pintu rumah dan hatinya. Dan terima kasih untuk para lansia, yang diam-diam selalu mengajarkan kita arti keteguhan, kesabaran, dan cinta sejati.

Selamat Paskah.
Tuhan yang bangkit, juga menghidupkan kembali harapan di setiap hati—tanpa memandang usia.

Ziarah Suara dan Doa – Sebuah Perjalanan Iman

Dalam semangat kebersamaan dan iman yang terus menyala, 5 april 2025 tim soundsystem GMBA memulai perjalanan ziarah rohani ke sembilan tempat suci, menapaki jejak-jejak kasih Tuhan dalam keheningan dan doa. Ziarah ini bukan hanya perjalanan fisik, tapi juga perjalanan batin, menyatu dalam syukur, harapan, dan pembaruan diri.

  1. Ibu Maria Damparing Kawicaksanan (Turi Sleman)
    Perjalanan dimulai dengan menapaki jalan sejuk di lereng Merapi, menuju tempat yang penuh damai: Ibu Maria Damparing Kawicaksanan. Di tengah hijaunya alam, kami memulai doa, menyerahkan niat dan permohonan di bawah naungan Bunda yang penuh kebijaksanaan.
  2. Sendang Sono (Kalibawang Kulonprogo)
    Lalu kami melangkah ke “Lourdes-nya Indonesia”, Sendang Sono. Di tempat ini, kami merefleksikan sejarah iman dan ketekunan misionaris, seraya membasuh hati dengan air sendang yang menyegarkan jiwa.
  3. Bunda Maria Penolong Abadi (Minggir Sleman)
    Dalam keheningan yang teduh, kami tiba di tempat ziarah Bunda Maria Penolong Abadi. Di sini, kami membawa segala beban hidup untuk dititipkan pada Bunda yang tak pernah lelah menolong anak-anaknya.
  4. Jatiningsih (Klepu Sleman)
    Suasana syahdu menyambut di Jatiningsih. Deretan pohon jati menjadi saksi keheningan doa-doa yang kami panjatkan. Kami memohon keteguhan iman dalam menjalani panggilan hidup sehari-hari.
  5. Jurang Metes (Sedayu Bantul)
    Jurang Metes memberikan nuansa alam yang memukau. Di tengah denting air dan udara sejuk, kami merenungkan makna pertobatan dan kesetiaan dalam mengikuti Kristus, Sang Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
  6. Candi Maria (Sedayu Bantul)
    Tak jauh dari sana, Candi Maria menawarkan keheningan khas tempat ziarah. Dalam balutan arsitektur yang unik, kami merasakan kehadiran Maria sebagai Ibu Gereja yang selalu menyertai perjalanan umatnya.
  7. Gua Maria Semanggi (Kasongan Bantul)
    Di tengah kehidupan seni Kasongan, Gua Maria Semanggi menjadi tempat hening yang membumi. Kami bersyukur atas karya-karya kami dan memohon agar setiap pelayanan kami—termasuk dalam bidang soundsystem—senantiasa menjadi berkat.
  8. Wajah Yesus (Pajangan Bantul)
    Kami kemudian menghadap Wajah Yesus di Pajangan, tempat kontemplatif yang menghadirkan kedekatan pribadi dengan Sang Penebus. Tatapan-Nya mengajak kami merenung dan memperbarui diri dalam kasih dan pengampunan.
  9. Ganjuran (Bambanglipuro Bantul)
    Ziarah ditutup di Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran, simbol perjumpaan antara iman dan budaya. Di altar Jawa yang agung, kami menutup perjalanan dengan misa syukur, memohon berkat untuk karya, keluarga, dan seluruh kehidupan kami.

Ziarah ini menjadi pengalaman spiritual yang mendalam. Lewat setiap langkah, doa, dan perhentian, kami disegarkan dalam iman dan persaudaraan. Semoga kasih Tuhan yang kami alami sepanjang perjalanan ini terus memancar lewat pelayanan kami, tak hanya dalam suara yang terdengar, tapi juga dalam hati yang tersentuh.



Pertemuan APP 4, Lingkungan St. Antonius

Pada hari Kamis, 27 Maret 2025, pukul 19.00 WIB, berlangsung Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ke-4 yang bertempat di pendopo Gantari Laras milik Pak Totok. Pertemuan ini dihadiri oleh kurang lebih 25 umat yang dengan penuh antusias mengikuti rangkaian acara.

Acara dikemas dalam suasana yang khusyuk melalui ibadat bersama, yang menjadi awal dari pertemuan ini. Setelah itu, dilanjutkan dengan sesi sharing, di mana para peserta berbagi pengalaman iman dan refleksi mereka dalam menjalani masa APP. Suasana keakraban dan kebersamaan terasa kuat, mempererat ikatan komunitas dalam semangat persaudaraan.

Pertemuan ini menjadi momen yang memperdalam pemahaman umat akan makna APP serta memperkuat komitmen untuk hidup lebih peduli dan berbagi dengan sesama.

Pertemuan APP 3, Lingkungan St. Antonius

Hari/Tanggal: Kamis, 20 Maret 2025
Waktu: 19.00 WIB
Tempat: Rumah Ibu Aniek
Peserta: ± 25 umat

Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) ke-3 berlangsung dengan penuh kebersamaan di rumah Ibu Aniek. Acara dimulai dengan doa pembuka, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan utama, yaitu drama, diskusi kelompok, dan sesi sharing.

Drama yang ditampilkan memberikan ilustrasi mendalam mengenai tema pertemuan, yang kemudian menjadi bahan refleksi dalam diskusi kelompok. Dalam diskusi, umat secara aktif berbagi pandangan dan pengalaman terkait tema yang diangkat, menciptakan suasana yang penuh keakraban dan saling membangun.

Sesi sharing menjadi momen yang menyentuh, di mana peserta berbagi pengalaman hidup dan bagaimana nilai-nilai iman diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertemuan ditutup dengan doa bersama, menguatkan komitmen umat untuk semakin hidup dalam kasih dan kepedulian terhadap sesama.

Acara berlangsung dengan lancar dan penuh makna, mempererat tali persaudaraan antarumat

Pertemuan APP 2, Lingkungan St. Antonius

Hari/Tanggal: Kamis, 13 Maret 2025
Waktu: 19.00 WIB
Tempat: Rumah Bapak Arief S
Jumlah Peserta: ± 30 orang
Pemandu: Tim 2 (Pak Rusiawan, Pak Larno, Pak Andreas, Pak Wiwid)

Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) kedua ini berlangsung dengan penuh kebersamaan dan semangat refleksi. Dipandu oleh Tim 2, acara diawali dengan doa pembuka, dilanjutkan dengan renungan dan ilustrasi yang dikemas dalam dinamika kelompok. Peserta aktif berdiskusi, berbagi pengalaman, serta mendalami makna refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui dinamika kelompok, peserta semakin memahami pesan renungan dengan cara yang interaktif dan aplikatif. Suasana kekeluargaan sangat terasa, mencerminkan kebersamaan dalam iman dan aksi nyata. Acara diakhiri dengan doa penutup, membawa harapan agar hasil pertemuan ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan APP 1, Lingkungan St. Antonius

Hari/Tanggal: Kamis, 6 Maret 2025
Waktu: 19.00 WIB
Tempat: Rumah Ibu Hudyono
Jumlah Hadir: ±30 umat

Rangkuman Kegiatan:
Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) pertama berlangsung dengan penuh semangat dan kebersamaan. Kegiatan ini dipandu oleh tim 1 yang terdiri dari Pak Purwanto, Pak Andreas, Bu Bagus, Bu Widi, dan Mas Satriya.

Sesi renungan dan ilustrasi dikemas secara kreatif dalam bentuk drama, yang berhasil menarik perhatian dan memudahkan umat dalam memahami pesan yang disampaikan. Interaksi yang dinamis membuat suasana menjadi hidup, dan umat terlibat secara aktif dalam refleksi bersama.

Pertemuan ini menjadi awal yang baik dalam perjalanan APP tahun ini, dengan harapan semakin banyak umat yang tergerak untuk berpartisipasi dan menghayati nilai-nilai yang dibahas.

KASIH ITU PEMBEBASAN

Manusia dalam abad modern ini sungguh terasa lebih mementingkan diri sendiri, demi “uang”, “harga diri” “jabatan” dan sebagainya. Nilai-nilai dasar kemanusiaan tidak lagi menjadi patokan untuk membuat sebuah pertimbangan. Kasus korupsi, ketidak adilan hukum menjadi berita sehari-hari baik di media massa maupun media elektronik. Kasus Korupsi dari Gayus Tambunan hingga Nazarudin, kasus ketidak adilan hukum dari Prita dan sebagainya membuat manusia bangsa dan negeri ini semakin meninggalkan hati nurani mereka.

Dalam berbagai ketidak pastian akan penyelesaian akan segala hal tersebut, Dia mengundang kita untuk merayakan perjamuan Tuhan. Allah Tahu bahwa ada pengkhianatan, tapi Dia tidak membalas pengkhianatan dengan kekerasan, Dia membalas dengan cinta dan kasih. Cinta yang begitu besar yang ada di dalam diri Allah inilah yang membuat Dia melakukan tindakan yang sulit diterima oleh akal budi.

Simbol perjamuan adalah penerimaan antara yang satu dengan yang lain dimana idak ada saling curiga, permusuhan, pemaksaan. Semua dilebur dalam bahasa kasih. Kasih adalah sebuah tindakan nyata seperti halnya Yesus sendiri merelakan harga diri mau menjadi hamba dengan tindakan membasuh kaki para muridnya. Itu bukan hanya sebuah pengakuan bahwa dosa sudah diampuni, tetapi lebih dalam lagi adalah bahwa engkau yang menyebut diri sebagai murid Yesus harus melakukan hal yang sama.

Menjadi murid Yesus harus berani menyangkal dirinya. Siapa yang berani mengikuti Yesus, dia harus berani membagi kasih itu kepada sesamanya. Orang yang membiarkan sesamanya kelaparan adalah melawan kasih. Orang yang membiarkan ketidak adilan terus berjalan adalah melawan kasih. Tindakan Allah mencintai adalah sebuah pemberian. Tindakan Yesus memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi manusia berdosa bukan dengan bahasa pemaksaan dan kekerasan tetapi dengan kasih. Tindakan kasih itu adalah tindakan orang-orang yang memiliki hati nurani yang sehat, yakni orang-orang yang tidak membiarkan sesamanya menderita karena adanya suatu ketidak adilan. Tindakan Kasih N

Itulah yang dilakukan oleh Yesus dalam perjamuan. “Inilah tubuh-Ku yang dikorbankan bagimu, inilah piala perjanjian baru yang diikat dalam darah-Ku sebagai pembaharuan dalam kasih. Pembaharuan bukan sekedar bualan dengan kata-kata, tetapi suatu tindakan moral. Bertindak atas nama moral berarti membangun kesejahteraan bangsa ini.

Medio maguwo Juli 2011

Bravo sera