Latihan Liturgi Bersama: Belajar, Berbagi, dan Bertumbuh dalam Semangat Pelayanan


Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hangat pada Minggu pagi, 12 Oktober 2025. Di tengah udara sejuk yang menyelimuti kawasan gereja, satu per satu para pelayan liturgi dari berbagai lingkungan datang dengan wajah penuh semangat. Hari itu, mereka berkumpul bukan hanya untuk berlatih tata perayaan, tetapi juga untuk belajar dan memperdalam pemahaman tentang makna liturgi, dalam kegiatan bertajuk “Belajar Liturgi Bersama”.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Liturgi dan Peribadatan Stasi Maguwo, dan diikuti oleh tim liturgi lingkungan serta para prodiakon yang setiap minggunya dengan setia melayani umat dalam berbagai perayaan ekaristi maupun ibadat sabda di wilayah masing-masing.

Pembuka yang Hangat dan Menggugah

Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Ibu Elisabeth Purna, mengundang seluruh peserta untuk menenangkan diri dan menyerahkan hati dalam suasana doa.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Stasi, yang diwakili oleh Sekretaris Stasi ibu Elisabet Amy Andriani menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pembelajaran liturgi ini. Beliau menekankan bahwa pelayanan liturgi adalah salah satu bentuk kesetiaan umat dalam mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.

“Menjadi pelayan liturgi bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh kasih dalam setiap perayaan Ekaristi,” ungkap beliau dalam sambutan yang disambut dengan tepuk tangan hangat para peserta.

Pengantar yang Menyadarkan Arti Persiapan Liturgi

Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Y. Saptanto Sarwo Basuki yang memberikan pengantar dengan sangat sistematis dan aplikatif. Beliau mengajak peserta untuk memahami proses menyiapkan perayaan misa secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, koordinasi dengan pastor, hingga pelaksanaan di lapangan.

Beliau juga menekankan pentingnya prosedur perizinan misa, koordinasi dengan pihak paroki atau pastor, serta penyiapan buku-buku liturgi yang tepat, mulai dari Misale, Tata Perayaan Ekaristi, Madah Bakti, hingga Puji Syukur. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab tim liturgi untuk memastikan bahwa perayaan iman berlangsung dengan penuh hormat dan teratur.

Pendalaman Liturgi Bersama Romo Yohanes Ngatmo, Pr

Setelah pengantar yang membuka wawasan, sesi dilanjutkan dengan materi utama yang dibawakan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Dengan gaya khasnya yang ramah dan penuh humor, Romo Ngatmo mengajak seluruh peserta untuk menyelami liturgi bukan hanya sebagai aturan atau urutan perayaan, tetapi sebagai pengalaman iman yang hidup.

“Liturgi bukan sekadar hafal kapan berdiri, duduk, atau menjawab. Liturgi adalah doa bersama Gereja yang mempersatukan kita dengan Kristus. Maka, setiap gerak dan kata dalam liturgi mengandung makna yang mendalam,” ujar Romo Ngatmo yang berhasil membuat seluruh peserta menyimak dengan penuh perhatian.

Romo juga menegaskan bahwa pelayan liturgi harus memahami makna dari setiap bagian misa — mulai dari ritus pembuka, liturgi sabda, hingga liturgi ekaristi — agar dapat membantu umat berpartisipasi secara sadar dan penuh iman.

Diskusi, Game, dan Pembelajaran Interaktif

Selepas sesi materi, suasana menjadi lebih santai dan interaktif. Ibu Y.V. Retno Wulandari memandu sesi permainan dan diskusi kelompok per wilayah: Loyola, Sang Timur, De Britto, dan Don Bosco.

Di dalam game ini masing-masing kelompok diberikan soal yang berbeda. Soal tersebut didiskusikan bersama dalam kelompok untuk kemudian di presentasikan dan saling memberikan feedback. Soal-soal tersebut berisi hidden subject dimana masing-masing kelompok harus memahami jenis misa khusus yang sering dihadapi oleh tim liturgi di lingkungan, seperti:

  1. Misa Memule dengan lebih dari satu ujud (intensi misa), yang perlu disiapkan dengan tertib agar setiap niat umat tersampaikan dengan benar.
  2. Misa pemberkatan jenazah, di mana kepekaan pastoral dan ketepatan liturgi sangat dibutuhkan agar keluarga yang berduka mendapatkan penghiburan sejati.
  3. Misa tirakatan jenazah, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa bagi jiwa yang dipanggil Tuhan, sembari meneguhkan iman akan kebangkitan.
  4. Pemberkatan perkawinan beda agama, yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai prosedur izin misa dan tata cara yang sesuai dengan ketentuan Gereja.

Tiap kelompok diminta untuk menjelaskan bagaimana cara menyiapkan : mulai dari prosedur, tata cara misa / panduan doa dan peralatan liturgi yang digunakan.

Dalam suasana akrab dan penuh tawa, para peserta berdiskusi mengenai berbagai situasi liturgi yang sering terjadi di lapangan — seperti bagaimana menghadapi perubahan mendadak dalam misa, atau bagaimana berkoordinasi jika imam datang terlambat. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan melalui feedback yang diberikan, peserta dapat saling belajar dari pengalaman nyata di lapangan.

Kegiatan ini tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antar pelayan liturgi lintas lingkungan. “Rasanya seperti retret mini,” ujar salah satu peserta sambil tersenyum. “Kita jadi saling mengenal, saling belajar, dan yang paling penting, semakin cinta pada pelayanan ini.”

Pengenalan Alat-Alat Liturgi oleh Misdinar

Menjelang akhir acara, suasana kembali semarak ketika tiga misdinar muda — Valent, Marlin, dan Ratna — tampil memperkenalkan berbagai alat liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan percaya diri dan gaya yang ringan, mereka menjelaskan fungsi dari setiap alat, mulai dari piala, sibori, patena, ampul, hingga wirug dan navikula.

Sesi ini bukan hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati, karena memperlihatkan bagaimana generasi muda turut mengambil bagian dalam kehidupan liturgi Gereja. Melihat semangat para misdinar ini, banyak peserta tersenyum bangga, menyadari bahwa pelayanan Gereja terus tumbuh di tangan yang muda dan penuh semangat.

Peneguhan: Menjadi Pelayan yang Setia dan Rendah Hati

Sebagai penutup, Ibu J.F. Ita Rinawati, selaku Ketua Bidang Liturgi & Peribadatan, memberikan peneguhan rohani yang kuat dan menyentuh. Beliau mengingatkan bahwa pelayanan liturgi tidak hanya soal keterampilan, tetapi juga soal kerendahan hati dan kesetiaan dalam panggilan. Pelayanan liturgi membutuhkan pemahaman untuk masing-masing misa khusus yang berbeda.

“Setiap kali kita membantu di altar, kita sedang melayani Kristus sendiri. Maka lakukan dengan hati yang bersih, dengan doa, dan dengan cinta. Dari situlah keindahan liturgi terpancar,” ucapnya dengan lembut, menutup kegiatan dengan suasana hening dan penuh refleksi.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh bapak Justinus Catur Budi Hantoro dan sapaan akrab antar peserta. Wajah-wajah lelah kini berganti dengan senyum puas — senyum dari mereka yang telah belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan.

Kegiatan “Belajar Liturgi Bersama” ini menjadi ruang perjumpaan yang indah, di mana setiap pelayan liturgi disegarkan kembali dalam semangatnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Semoga semangat kebersamaan dan pembelajaran ini terus berlanjut, menjadikan tim liturgi Stasi Maguwo semakin siap, terampil, dan setia menghadirkan kehadiran Kristus dalam setiap perayaan iman.

Posted in Berita Terkini, Tajuk Utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *