“Pamong Berdaya, Umat Sejahtera: Spiritualitas, Kepemimpinan, dan Aksi Nyata Menuju Gereja yang Menginspirasi”


Pada Jumat, 1 Mei 2026, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo menjadi saksi terselenggaranya kegiatan pembekalan bagi Ketua Lingkungan dan Pengurus Lingkungan dalam lingkup Stasi Maria Bunda Allah Maguwo. Mengusung tema “Menjadi Pamong yang Bahagia dan Menginspirasi”, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang pembelajaran, tetapi juga momentum refleksi dan transformasi pelayanan.

Kegiatan dibuka oleh Romo Yuyun Yuniarto yang mengangkat konsep multi-tasking sebagai realitas keseharian para pamong: banyak peran, banyak tanggung jawab, dan kesibukan yang tak terelakkan. Namun, pertanyaan mendasar yang diajukan menggugah hati para peserta apakah semua itu membawa kebahagiaan, atau justru tekanan? Dalam permenungannya, ditegaskan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya aktivitas, melainkan pada kedalaman relasi dengan Allah: hidup dalam ketergantungan penuh kepada-Nya, memiliki hati yang lembut, merindukan kebenaran, serta rela berkorban demi iman.

Lebih dari sekadar refleksi spiritual, pembekalan ini juga menegaskan kembali tugas utama kepamongprajaan. Para ketua dan pengurus lingkungan diharapkan mampu menjadi penggerak pertumbuhan iman umat sekaligus menjalin sinergi pelayanan dalam Gereja. Tak berhenti di altar, peran ini juga menjangkau kehidupan sosial kemasyarakatan—aktif dalam kegiatan RT, RW, hingga padukuhan, sebagai wujud nyata kehadiran Gereja di tengah dunia.

Menariknya, kegiatan ini juga dilengkapi dengan pelatihan praktis pengolahan sampah organik. Para peserta diajak untuk tidak hanya melayani dengan hati, tetapi juga menjadi teladan dalam aksi nyata yang berdampak bagi lingkungan. Melalui praktik pembuatan kompos dari dedaunan, umat diajak membangun kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah yang mandiri dan berkelanjutan.

Proses pelatihan dimulai dari pengenalan alat, seperti mesin pencacah dedaunan dan mesin pengayak kompos, serta bahan pendukung seperti EM4 dan molase. Peserta kemudian diajak memahami tahapan pembuatan kompos secara sederhana, mulai dari pengumpulan bahan, pencacahan, hingga proses pengayakan kompos yang telah difermentasi selama 2–3 bulan. Dalam praktiknya, peserta juga langsung mencoba mengoperasikan alat dan memahami pentingnya menjaga kelembapan serta suhu agar proses pengomposan berjalan optimal.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh ketua dan pengurus lingkungan se-Stasi Maria Bunda Allah Maguwo, dengan tujuan utama mendorong umat untuk tidak lagi membakar sampah yang berdampak buruk bagi lingkungan. Lebih dari itu, kegiatan ini membekali umat dengan keterampilan praktis dalam mengolah sampah organik menjadi kompos yang bermanfaat bagi tanaman.

Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir para pamong yang tidak hanya setia dalam pelayanan, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi umat dan masyarakat. Pamong yang bahagia, peduli, dan berdaya, yang menghadirkan Gereja tidak hanya dalam kata, tetapi juga dalam tindakan nyata demi kebaikan bersama.

Posted in Berita Terkini, Tajuk Utama, Warta Gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *