Menapaki Jejak Iman: Ziarah Porta Sancta Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Magelang, 5 Juli 2025 — Dalam semangat memperdalam iman dan merayakan Tahun Yubileum Suci, umat Lingkungan St. Gregorius Stasi GMBA Maguwo, Paroki Maria Marganingsih Kalasan mengadakan ziarah rohani ke Porta Sancta (Pintu Suci) yang berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025

Perjalanan penuh makna ini menyatukan 44 orang peziarah dari berbagai usia—anak-anak hingga lansia—dalam satu hati dan satu langkah menuju tiga lokasi suci: Goa Maria Sendangsono, Gereja Ignatius Magelang, dan Kerkhof Muntilan, makam Romo Sanjaya.

Ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan lingkungan dalam menyambut Tahun Yubileum 2025 yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus dengan tema “Peziarah Harapan.” Di tengah kesibukan dan rutinitas harian, ziarah ini menjadi kesempatan langka bagi umat untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan hidup rohani mereka, dan memperbaharui semangat iman.

Suasana Hening di Sendangsono

Gerbang Memasuki Goa Maria Sendangsono

Perhentian pertama adalah Goa Maria Sendangsono, tempat bersejarah yang disebut sebagai “Lourdes-nya Indonesia.” Di sinilah iman Katolik pertama kali bersemi di Tanah Jawa. Dikelilingi rimbunnya pepohonan dan gemericik air sendang, para peziarah memulai hari dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prodiakon Paulus Supit dibantu oleh Katekis Agnes Gunarti. Jalan salib pun dilaksanakan dengan khidmat, menyusuri stasi demi stasi dengan permenungan mendalam atas kisah sengsara Yesus Kristus.

Prodiakon mengajak seluruh umat merenungkan arti penderitaan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana setiap orang dipanggil untuk memanggul salib masing-masing dengan iman dan pengharapan. “Jalan salib bukan hanya mengenang penderitaan Tuhan, tapi juga mengajak kita melihat bagaimana Tuhan hadir dalam luka dan beban hidup kita,” ujarnya.

Napak Tilas Iman di Gereja Ignatius Magelang

Di depan Gereja Ignasius Magelang

Usai dari Sendangsono, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Santo Ignatius, Magelang. Gereja tua yang dibangun sejak abad ke-19 ini menyimpan banyak sejarah pewartaan iman Katolik di Jawa Tengah. Di sini, para peziarah diajak merenungkan keteladanan St. Ignatius Loyola—pendiri Serikat Yesus—dalam menjalani hidup yang penuh penyerahan dan discernment (pembedaan roh).

Berdoa di depan Taman Doa yang berada di belakang Gereja

Doa pribadi dan devosi di depan patung Maria (terletak di belakang Gereja) menjadi waktu yang sunyi namun kuat secara spiritual. Suasana hening dan arsitektur lingkungan gereja yang asri memberi ruang bagi setiap umat untuk berdiam diri dalam hadirat Allah.

Ziarah Ditutup dengan Doa di Kerkhof Muntilan

Berdoa di Kerkhof Muntilan

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke perhentian terakhir: Kerkhof Muntilan, kompleks makam para imam dan tokoh Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Di tempat inilah terbaring jasad Romo Sanjaya, seorang imam pribumi yang dikenal gigih dalam karya kerasulan dan pendidikan. Di makam Romo Sanjaya, umat mendaraskan doa mohon syafaat para kudus dan mendoakan para imam yang telah mendahului.

Kami tetap semangat menyelesaikan ziarah Porta Sancta

“Ziarah ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan singkat. Ia seperti napak tilas hidup, dari kelahiran hingga kembali ke rumah Bapa,” ungkap Gregorius Henry, Ketua Lingkungan St. Gregorius, dalam refleksi singkatnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas partisipasi seluruh umat yang telah mengikuti ziarah ini dengan antusias dan penuh semangat.

Kebersamaan yang Menyegarkan Iman

Selain sebagai pengalaman rohani, ziarah ini juga mempererat tali persaudaraan antarumat lingkungan. Sepanjang perjalanan, tawa, nyanyian, dan cerita iman dibagikan satu sama lain. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan individualistis, kegiatan seperti ini menjadi oase bagi kebersamaan yang sejati.

Ketua lingkungan dan tim panitia juga memberikan apresiasi kepada para donatur dan sponsor yang telah berkontribusi, serta kepada para peserta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini dengan tertib dan penuh sukacita. “Kami mohon maaf jika dalam pelayanan selama ziarah masih ada kekurangan. Namun kami percaya bahwa semangat kita bersama telah membuat perjalanan ini berbuah,” ujar Henry.

Ziarah Porta Sancta ini ditutup dengan doa penutup sebelum perjalanan pulang. Wajah-wajah lelah namun penuh damai dan kebahagiaan menjadi bukti bahwa ziarah bukan sekadar bepergian secara fisik, melainkan perjalanan batin yang meneguhkan.

GMBA Maguwo Ikut Meriahkan Perayaan HUT ke-85 Keuskupan Agung Semarang di Stadion Jatidiri

Semarang, 29 Juni 2025 — Stadion Jatidiri Semarang menjadi saksi sukacita besar umat Katolik dalam perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-85 Keuskupan Agung Semarang (KAS), Minggu (29/6). Acara yang mengusung tema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkat” ini dihadiri oleh sekitar 30.000 umat dari seluruh penjuru Kevikepan, paroki, dan stasi. Tak ketinggalan, Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo turut mengambil bagian dalam perayaan akbar ini dengan mengirimkan 50 umat sebagai delegasi. Rombongan GMBA Maguwo berangkat dari Maguwoharjo pukul 10.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB.

Perwakilan Stasi GMBA Maguwo goes to Semarang

Semarak Penyambutan dan Hiburan Rohani

Sesampainya di stadion, suasana meriah langsung menyambut rombongan. Berbagai penampilan seni dari umat Katolik mewarnai panggung, mulai dari nyanyian, tarian, hingga drama monolog yang mencerminkan dinamika iman dan perjalanan gereja. Penampilan dr. Edward Tirtananda Wikanta, M.Biomed., juara 1 Lomba Cipta Lagu Rohani Pesparani LP3KD, memukau umat dengan lagu rohani ciptaannya yang penuh makna. Sebelumnya, artis Katolik Lisa A. Riyanto tampil menyanyikan lagu-lagu rohani yang semakin membangun suasana iman menjelang acara utama.

Arak-arakan Iman yang Menggugah

Pukul 15.30 WIB, arak-arakan akbar dilangsungkan. Barisan arak-arakan terdiri dari perwakilan TNI, Polri, seluruh Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang, instansi pendidikan Katolik, rumah sakit Katolik, serta para biarawan dan biarawati. Perwakilan panji-panji dari berbagai paroki turut memeriahkan perarakan ini. Dari GMBA Maguwo, Davina & Valen (OMK) mendapat kehormatan membawa panji Stasi Maguwo dalam barisan.

Perarakan yang semarak

Arak-arakan ini bukan sekadar tradisi, namun lambang nyata persatuan Gereja dalam keberagaman pelayanan.

Sambutan Pemimpin Gereja dan Pemerintahan

Usai perarakan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tokoh penting. Ketua panitia, Pak Riyanto, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan ribuan umat dan semua pihak yang mendukung kelancaran acara. Sambutan berikutnya datang dari Plt. Gubernur Jawa Tengah yang menekankan nilai kebersamaan lintas iman dan kontribusi Gereja dalam pembangunan masyarakat.

Sambutan Walikota Semarang

Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, SS., MM, juga hadir dan menyampaikan rasa bangganya atas kiprah Keuskupan Agung Semarang, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Simbol Syukur Lewat Tumpeng

Momentum berlanjut dengan potong tumpeng sebagai lambang syukur atas perjalanan panjang Keuskupan Agung Semarang yang telah mencapai usia 85 tahun. Tumpeng dipotong oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dan secara simbolis diserahkan kepada Plt. Gubernur Jawa Tengah, Plt. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Wali Kota Semarang. Prosesi ini mencerminkan semangat sinergi antara Gereja dan pemerintah dalam melayani masyarakat.

Prosesi Pemotongan Tumpeng

Setelah itu, dilakukan sesi foto bersama yang melibatkan para tokoh penting: Mgr. Rubiyatmoko, Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Uskup Antonius Benjamin dari Keuskupan Bandung, serta para pejabat daerah yang hadir.

Pertunjukan Unik dan Penghargaan Katekis

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan story telling yang sangat menarik dari adik Kazio Sunanto, siswa SD Marsudirini BSB. Sebagai juara 1 Lomba Story Telling PIA, Kazio membawakan kisah inspiratif dalam Bahasa Inggris — sebuah penampilan yang menyegarkan dan membanggakan.

Tak lama setelah itu, Rm. Yohanes Gunawan membacakan pengumuman Sarikromo Award, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada lima katekis dari lima Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang. Para katekis ini dipilih berdasarkan kesetiaan dan dedikasi mereka dalam mewartakan kabar keselamatan sebagai murid-murid Kristus di tengah masyarakat.

Semangat Kaum Muda: Kosmus Karangpanas

Semangat anak-anak muda Gereja tampak dalam penampilan dari Kosmus (Komunitas Seni dan Musik) Karangpanas. Mereka membawakan lagu-lagu rohani secara meriah dan penuh penghayatan. Penampilan ini menjadi lebih istimewa karena mereka adalah peraih Juara 1 Lomba Cover Lagu Madah Bakti dan Kidung Adi. Suara merdu dan aransemen kreatif dari Kosmus menambah warna dalam perayaan iman ini.

Puncak Perayaan: Misa Syukur HUT ke-85 KAS

Tepat pukul 17.30 WIB, Perayaan Ekaristi dimulai. Misa Syukur dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, bersama para uskup dan imam konselebran.

Mgr Rubi memimpin misa

Homili disampaikan oleh Kardinal Ignatius Suharyo. Dalam homilinya, Kardinal menyampaikan pesan yang mendalam tentang pertumbuhan iman dan kesetiaan sebagai murid Kristus.

Ia mengajak umat untuk merenungkan panggilan hidup sebagai Gereja yang terus bertumbuh dalam kasih dan kesetiaan.

“Bertumbuh menuju kesempurnaan kasih, bertumbuh menuju kesempurnaan kesetiaan, semakin serupa sebagai citra Allah,”

tegas Kardinal Suharyo, menyemangati umat agar senantiasa menjadi terang dan garam di dunia.

Homili oleh Kardinal Ign. Suharyo

Ekaristi berlangsung dengan khidmat. Stadion yang biasanya diisi sorak-sorai olahraga, kini menjadi ruang doa yang penuh penghayatan. Ribuan umat mengikuti misa dengan tertib, menciptakan suasana sakral yang menyentuh hati.

Akhir yang Damai dan Merdu

Setelah misa selesai, umat meninggalkan stadion secara tertib dan rapi. Panitia mengatur arus keluar dengan baik, dan suasana tetap kondusif. Sambil menunggu giliran keluar, umat kembali dihibur dengan penampilan spesial dari Siska Saras JKT48 yang membawakan lagu-lagu rohani dengan suara merdu dan penghayatan yang menyentuh. Kehadirannya memberi penutup yang manis dan meneduhkan bagi seluruh rangkaian acara hari itu.

Ucapan HUT dan Penutup

Perayaan HUT ke-85 Keuskupan Agung Semarang ini bukan hanya menjadi peristiwa seremoni, tetapi sebuah kesaksian nyata akan hidupnya Gereja di tengah umat. Bagi GMBA Maguwo, kesempatan hadir dan terlibat dalam momen besar ini menjadi pengalaman iman yang sangat berharga — sebuah ziarah rohani bersama ribuan umat Katolik lainnya.

Dari Maguwo hingga Semarang, dari anak-anak hingga para uskup, semua bersatu dalam semangat ziarah dan pelayanan. Tema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkat” sungguh terwujud dalam tindakan nyata sepanjang acara.

Atas nama seluruh umat GMBA Maguwo dan segenap umat Keuskupan Agung Semarang:

Selamat Ulang Tahun ke-85 Keuskupan Agung Semarang!

Semoga senantiasa menjadi Gereja yang bertumbuh dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kemuliaan Tuhan.

Ad multos annos!

Foto & video dokumentasi dapat diunduh di link berikut

Download

30 Tahun Perjalanan Iman dan Kebersamaan: HUT Lingk. St. Gregorius

Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.

Umat hadir dari berbagai usia

Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.

Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.

Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan

Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.

Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan

Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius

Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.

Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:

  1. Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
  2. adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.

Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior

Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus

Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.

Past, present and future

Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan

Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.

Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius

Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.

Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:

  1. Lingkungan St. Bartholomeus, dan
  2. Lingkungan St. Stefanus

Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.

Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius

Penutup yang Penuh Sukacita.

Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.

Semua bersyukur, semua gembira

Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius!
Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.

Doa Rosario dan Renungan Bulan Katekese Liturgi 3, Lingkungan St. Gregorius

Merenungkan Iman dan Kesetiaan kepada Kristus

Kamis malam, 15 Mei 2025 — Suasana hujan rintik-rintik, teduh dan penuh hikmat menyelimuti kediaman Ibu Ritta ketika sekitar sepuluh umat dari berbagai usia berkumpul untuk mengikuti Renungan Bulan Katekese yang diadakan pukul 19.00 WIB. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan iman yang dilaksanakan secara sederhana namun sarat makna, di tengah kehidupan umat yang rindu akan penguatan rohani.

Renungan malam itu berfokus pada tujuh bacaan Injil yang dikutip dari kitab Yohanes. Setiap bacaan menyentuh tema-tema mendalam seputar pengharapan, kesetiaan, relasi personal dengan Tuhan, serta makna persekutuan dalam iman.

Berikut urutan bacaan yang direnungkan:

  1. Pengharapan (Yohanes 6:56) – “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
  2. Setia pada Yesus (Yohanes 6:68) – “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.”
  3. Dekat dan Lekat dengan Tuhan (Yohanes 10:29-30) – “Aku dan Bapa adalah satu.”
  4. Pintu Menuju Keselamatan (Yohanes 10:9) – “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.”
  5. Mendengarkan Tuhan (Yohanes 10:27) – “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.”
  6. Beriman dengan Berelasi (Yohanes 15:9) – “Tinggallah di dalam kasih-Ku.”
  7. Beriman dalam Persekutuan (Yohanes 13:20) – “Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku.”

Setiap kutipan Injil dibacakan secara bergantian oleh umat yang hadir, disertai permenungan singkat dan refleksi pribadi. Meski berlangsung dalam lingkup kecil, nuansa kebersamaan dan semangat untuk bertumbuh dalam iman begitu terasa.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang untuk merenungkan firman Tuhan, tetapi juga mempererat ikatan sebagai satu Tubuh Kristus. Dalam semangat communio, umat diajak untuk tidak hanya mengimani Yesus dalam hati, tetapi juga menghadirkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari melalui kesetiaan dan kasih.

Renungan Bulan Katekese akan dilanjutkan kembali pada Senin, 19 Mei 2025 di tempat yang akan diumumkan kemudian.

Paskahan Wilayah Sang Timur : Bersama Kembali ke Jalan Allah

Senin, 12 Mei 2025 – Suasana hangat, meriah, dan penuh sukacita terpancar dari area dalam dan halaman Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo saat umat Wilayah Sang Timur berkumpul untuk merayakan Paskahan bersama. Acara yang digagas oleh Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah Sang Timur ini berlangsung dari pukul 17.00 hingga 20.30 WIB, dengan mengangkat tema “Berkelana: Bersama Kembali ke Jalan Allah”.

Ramainya Umat yang hadir mengikuti Paskahan Wilayah Sang Timur

Acara Paskahan tahun ini tak sekadar menjadi momentum sukacita atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi momen penyatuan umat dari empat lingkungan di bawah naungan Wilayah Sang Timur: Lingkungan St. Bartholomeus, Lingkungan St. Gregorius, Lingkungan St. Stefanus, dan Lingkungan St. Antonius. Semua bersatu dalam semangat kebersamaan, memperkuat iman, dan saling berbagi kasih dalam perayaan penuh makna ini.

Keceriaan Hadiah dan Sukacita Anak-anak

Keceriaan Seluruh Umat Wilayah Sang Timur

Keceriaan tak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga anak-anak yang hadir. Panitia telah menyiapkan parcel Paskah khusus bagi anak-anak, berisi aneka makanan ringan, minuman ringan, yang dibungkus dengan menarik dan kids friendly. Sementara itu, acara doorprize menjadi momen yang dinanti-nanti oleh seluruh umat. Hadiah yang beragam – mulai dari peralatan rumah tangga hingga bingkisan menarik – yang dibagikan di depan panggung yang telah disiapkan di area dalam Gereja.

Sambutan Hangat dari Para Pemimpin Wilayah

Suasana syukur dan persaudaraan semakin terasa saat para tokoh wilayah memberikan sambutan. Mikael Purwanto, perwakilan dari Stasi, membuka acara dengan ucapan terima kasih dan ajakan untuk terus menjaga semangat kebersamaan dalam hidup menggereja. “Paskah bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah perjalanan spiritual untuk kembali menapaki jalan Allah,” ujarnya penuh semangat.

Apresiasi dari panitia untuk Stasi GMBA Maguwo

Dilanjutkan dengan sambutan dari Mbak Dysi, Ketua OMK Wilayah Sang Timur, yang dengan antusias menyampaikan apresiasi kepada seluruh OMK yang telah bekerja keras mempersiapkan acara. “Ini bukti nyata bahwa OMK tidak hanya aktif, tapi juga kompak, solid, dan kreatif. Semangat ini harus terus dijaga,” ucapnya disambut tepuk tangan meriah.

Sambutan ketua OMK Wilayah Sang Timur

Tak ketinggalan, Bu Lia selaku Ketua Wilayah Sang Timur juga menyampaikan kebanggaannya atas keterlibatan aktif seluruh lingkungan. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya semangat ‘berkelana bersama’ sebagai panggilan untuk terus bertumbuh dalam iman dan pelayanan. “Dengan cinta dan kebersamaan, kita kembali ke jalan-Nya,” tuturnya.

Renungan yang Menyentuh Hati “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup”

Puncak spiritualitas acara diisi oleh renungan Paskah yang dibawakan oleh dua prodiakon, Pak Paul dan Pak Tri Mulyono. Renungan malam itu mengangkat bacaan Injil dari Yohanes 14:1–6, di mana Yesus berkata: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

Dengan refleksi yang mendalam, keduanya mengajak umat untuk memahami bahwa dalam hidup yang penuh tantangan dan pencarian, Yesus adalah satu-satunya jalan menuju pengharapan dan keselamatan. “Kadang kita merasa bingung, lelah, atau tersesat. Tapi Yesus sudah menunjukkan bahwa Dia adalah jalan yang pasti, jalan yang benar, dan hidup yang sejati,” ujar Pak Prodiakon, menguatkan umat yang hadir.

Renungan oleh prodiakon

Pak Paul menambahkan, “Berkelana dalam hidup iman memang tidak selalu mudah, tapi selama kita berjalan bersama Tuhan, kita tidak pernah benar-benar sendirian.” Suasana hening, penuh permenungan, menyelimuti ruangan saat umat merenungkan sabda tersebut dalam hati mereka masing-masing.

Sesi Ice Breaking & Quiz TTS : Gelak Tawa yang Mencairkan Suasana

Keseruan ice breaking yang membuat suasana lebih “hidup”

Usai renungan yang mendalam, suasana kembali cair dan penuh gelak tawa melalui sesi ice breaking yang dipandu oleh Pak Arif. Dengan caranya yang humoris dan energik, Pak Arif mengajak umat untuk bergerak bersama dalam permainan interaktif dan penuh tawa. Anak-anak, remaja, hingga para orang tua larut dalam permainan seru yang memecah keheningan, membangun kembali semangat dan energi menjelang acara puncak.

Umat dengan semangat mengikuti ice breaking

Permainan sederhana namun kreatif seperti “siapa cepat dia dapat”, dan “TTS (Teka Teki Silang)” membuat seluruh hadirin terlibat dan saling mengenal satu sama lain dengan cara yang menyenangkan. Tidak hanya menghibur, sesi ini juga mempererat kebersamaan lintas usia.

Pentas Seni: Ungkapan Iman Melalui Kreativitas

Acara puncak malam itu adalah pentas seni antar lingkungan, sebuah pertunjukan yang menunjukkan betapa iman bisa diekspresikan secara kreatif dan menyenangkan. Empat lingkungan tampil dengan ciri khas dan kekayaan budaya masing-masing, menciptakan suasana yang semarak sekaligus menyentuh.

  • Lingkungan Stefanus membuka panggung dengan tembang Mocopat, membawakan lantunan puisi Jawa yang sarat makna spiritual. Suasana menjadi syahdu, mengingatkan umat akan kearifan lokal yang berpadu dengan nilai iman Katolik.
  • Lingkungan Gregorius menyuguhkan tari tradisional yang dinamis, diikuti dengan sesi menyanyi dan joget bareng yang membuat seluruh hadirin ikut bergoyang. Keceriaan menjalar ke seluruh ruangan, menghapus sekat antar generasi.
  • Lingkungan Antonius memukau penonton dengan tari balet yang anggun, dilanjutkan dengan gerak dan lagu yang menggemaskan. Penampilan ini berhasil membangkitkan rasa bangga akan keberagaman bakat anak-anak lingkungan.
  • Lingkungan Bartholomeus menutup pentas dengan drama musikal bertema kebangkitan dan tari tradisional penuh semangat. Penampilan ini tidak hanya menghibur, tapi juga menyampaikan pesan rohani yang mendalam.

Setiap penampilan mendapat apresiasi luar biasa dari umat yang hadir. Tidak sedikit yang mengabadikan momen-momen tersebut melalui kamera ponsel mereka, menciptakan kenangan indah yang akan terus diingat.

Penutupan yang Mengharukan: “Kemesraan Ini Janganlah Cepat Berlalu”

Menjelang akhir acara, seluruh umat diajak menyanyikan lagu “Kemesraan” bersama-sama. Yang istimewa, seluruh lampu gereja dimatikan, dan hanya cahaya dari lampu-lampu handphone yang menerangi ruangan. Suasana menjadi begitu haru dan syahdu. Dalam balutan cahaya temaram, umat bergandengan tangan, menyanyikan lirik demi lirik dengan penuh perasaan. Momen ini menjadi penutup yang sempurna — mengikat kembali rasa cinta dan persaudaraan di antara umat Wilayah Sang Timur.

Suasana syahdu malam itu

Suksesnya Paskahan sebagai Buah Kebersamaan

Paskahan Wilayah Sang Timur tahun 2025 ini bukan hanya sekadar acara tahunan. Ia telah menjadi panggung kebersamaan, ruang pertumbuhan iman, dan bukti nyata bahwa ketika umat bersatu, segala hal menjadi mungkin. Keberhasilan acara ini tak lepas dari kerja keras OMK Wilayah Sang Timur, yang tidak hanya menunjukkan kapasitas organisasi mereka, tetapi juga kedewasaan iman yang terus bertumbuh.

Tim Konsumsi dengan sabar mempersiapkan konsumsi untuk semua hadirin

Dengan tema Berkelana: Bersama Kembali ke Jalan Allah, umat diajak tidak hanya merayakan Paskah secara lahiriah, tetapi juga menghayatinya sebagai perjalanan rohani bersama. Dalam canda, tawa, haru, dan doa, mereka kembali menemukan Tuhan dalam kebersamaan, dalam seni, dan dalam setiap wajah sesama.

OMK Wilayah Sang Timur

Semoga semangat Paskah ini terus menyala dalam kehidupan umat Wilayah Sang Timur — menuntun langkah mereka untuk terus berkelana bersama Tuhan, hari demi hari.

Habemus Papam! Bapa Paus Leo XIV

Dari Chicago ke Tahta Suci: Jejak Panjang Pelayan Tuhan

Setelah beberapa kali cerobong Kapel Sistina menghembuskan asap hitam—tanda bahwa para kardinal belum mencapai kesepakatan— Dengan kawalan “penjaga udara” burung camar yang selalu setia berada di depan cerobong, akhirnya pada 8 Mei 2025, langit Roma disambut asap putih yang mengepul dari Kapel Sistina.
Habemus Papam! Dunia Katolik bersukacita: seorang Paus baru telah terpilih.

Cerobong Kapel Sistina mengeluarkan asap putih

Sorak haru dan tepuk tangan membahana memenuhi Lapangan Santo Petrus, yang telah dipadati umat dari berbagai penjuru dunia. Suasana penuh kegembiraan dan kelegaan mengalir tak hanya di Vatikan, tetapi juga menjalar luas melalui media sosial—Habemus Papam pun segera menjadi trending topic global.

Dari antara para kardinal, terpilihlah Kardinal Robert Francis Prevost asal Amerika Serikat. Ia menerima panggilan luhur ini dan memilih nama Paus Leo XIV, menandai awal babak baru dalam sejarah Gereja Katolik.

Berikut adalah profil singkat beliau.

Nama Lengkap dan Asal Usul
Paus Leo XIV lahir dengan nama Robert Francis Prevost di Chicago, Amerika Serikat, pada 14 September 1955. Selain berkewarganegaraan Amerika, beliau juga menjadi warga negara Peru—negara yang begitu membentuk iman dan panggilannya sebagai gembala umat.

Kardinal Robert Francis Prevost dari Amerika Serikat terpilih menjadi Paus dan memilih nama Paus Leo XIV

Seorang Paus dari Ordo Agustinian
Beliau merupakan anggota Ordo Santo Agustinus (O.S.A.), sebuah komunitas religius yang mengutamakan hidup bersama, pencarian akan kebenaran, dan pelayanan kasih. Semangat Agustinian senantiasa membentuk cara berpikir dan memimpinnya.

Latar Belakang Akademik yang Kuat
Paus Leo XIV meraih gelar sarjana matematika dari Villanova University, melanjutkan studi teologi di Chicago, dan kemudian memperoleh lisensiat serta doktorat dalam hukum kanonik dari Universitas Angelicum di Roma.

Misionaris yang Mencintai Akar Rumput
Sejak 1985 hingga 1998, beliau melayani sebagai misionaris di Peru—menjadi kanselir keuskupan hingga pemimpin seminari. Dalam masa itulah, hatinya benar-benar tertambat pada kehidupan umat sederhana dan pelayanan pastoral yang nyata.

Pemimpin Tertinggi Ordo Agustinus
Dari tahun 2001 hingga 2013, ia terpilih sebagai Prior Jenderal Ordo Agustinus, memimpin ordo ini secara global selama dua belas tahun—sebuah tanda kepercayaan dan pengakuan atas kepemimpinan rohaninya.

Uskup dan Pelayan Gereja Universal
Pada tahun 2015, beliau diangkat sebagai Uskup Chiclayo, Peru. Kemudian pada 2023, Paus Fransiskus mempercayakan kepadanya jabatan Prefek Dikasteri untuk Para Uskup, sebuah peran strategis dalam penunjukan para uskup di seluruh dunia.

Kardinal Robert Francis Prevost (sekarang menjadi Paus Leo XIV) bersama Paus Fransiskus

Kardinal dan Penerus Warisan Gereja
Masih di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus, pada tahun 2023 beliau masuk dalam Kolegium Kardinal—sebuah langkah penting yang memperkuat posisinya sebagai tokoh Gereja universal.

Terpilih sebagai Paus pada 8 Mei 2025
Setelah wafatnya Paus Fransiskus, Konklaf yang berlangsung dua hari menetapkan Robert F. Prevost sebagai Paus ke-267, dan beliau memilih nama Leo XIV sebagai nama kepausannya.

Makna Nama “Leo XIV”
Nama “Leo” melambangkan keberanian, kebijaksanaan, dan semangat reformasi—mewarisi warisan para pendahulu besar seperti Leo I (Santo Leo Agung) dan Leo XIII, tetapi dengan visi yang menyentuh zaman kini.

Paus Berwajah Global, Berhati Misioner
Dengan latar belakang Amerika, pengalaman pastoral di Amerika Latin, dan pelayanan di pusat Kuria Roma, Paus Leo XIV adalah gembala dengan pandangan global dan hati yang dekat dengan umat kecil. Ia hadir sebagai jembatan antar budaya dan zaman.

Semangat Baru untuk Dunia
Dari lorong-lorong seminari di Peru hingga balkon Basilika Santo Petrus, Paus Leo XIV datang membawa angin segar Gereja yang bersahabat, berpengharapan, dan berpijak pada realitas dunia. Dunia menantikan langkah-langkah besarnya.

Viva il Papa!

SAMBUTAN PERDANA PAUS LEO XIV

Saudara-saudari terkasih, Semoga damai menyertai kalian semua! Ini adalah salam yang diucapkan pertama oleh Kristus yang Bangkit, sang Gembala baik yang memberikan nyawanya untuk kawananNya. Saya pun ingin agar salam damai ini masuk ke dalam hati kalian, menjangkau keluarga kalian, dan semua orang dimanapun mereka berada, di seluruh penjuru bumi. Damai menyertai kalian semua!
Inilah damai dari Kristus yang bangkit. Damai tanpa senjata bahkan melucuti sencata, damai yang rendah hati dan gigih bertahan, berasal dari Allah, Allah yang mencintai kita semua tanpa syarat.
Masih kita kenang, suara lemah namun selalu berani dari Paus Fransiskus yang telah memberi berkat pada kota Roma. Paus Fransiskus yang memberi berkat juga pada dunia pada pagi hari paskah yang lalu. Kini izinkan saya juga untuk meneruskan berkat yang sama… Allah mencintaimu, Allah mencintai kamu semua… kejahatan tidak akan menang, kita semua berada di tangan Allah..
Oleh karena itu tanpa rasa takut, mari kita bersatu, bergandengan tangan satu sama lain, berjalan bersama Allah, bergerak maju. Kita adalah murid-murid Kristus, Kristus akan menyertai kita. Dunia sedang membutuhkan cahayanya, kemanusiaan membutuhkanNya, mari kita bangun jembatan agar cinta kasih Allah dapat meraih mereka yang membutuhkan. Mari kita saling bahu-membahu membangun jembatan melalui dialog, melalui perjumpaan yang menyatukan kita semua menjadi satu umat, selalu dalam damai.
Terimakasih pada Paus Fransiskus, dan juga kepada para saudara kardinal yang telah memilih saya menjadi pengganti Santo Petrus dan berjalan bersama dengan kalian semua, sebagai gereja yang satu selalu mencari perdamaian, keadilan, tetap setia pada Yesus Kristus, tanpa takut mewartakan kabar sukacita sebagai misionaris.
Saya adalah putra Santo Agustinus (anggota Ordo Santo Agustinus). Ia yang pernah mengatakan. “Bersama kalian, aku seorang kristen dan untuk kalian aku dalah seorang uskup”. Demikian kita semua dapat berjalan bersama menuju tanah air yang telah disiapkan Allah bagi kita.
Salam khusus saya sampaikan juga pada Gereja Roma. Mari kita berjalan bersama menjadi gereja misionaris, gereja yang membangun jembatan, membangun dialog, gereja yang selalu terbuka untuk menerima seperti bentuk dari alun2 santo Petrus ini, dengan tangan terbuka bagi semua yang membutuhkan cinta kasih kita, kehadiran kita dan dialog kasih.
(Dalam Bahasa Spanyol) Izinkanlah saya menyapa mereka yang pernah saya layani di Keuskupan Chiclayo, Peru. Dimana umat beriman mendampingi dengan setia uskup mereka menjadikan gereja yang setia pada Yesus Kristus.
Dan kepada kalian semua saudara-saudari terkasih, yang ada di Roma, di seluruh Italia dan seluruh dunia, kita jadikan gereja kita gereja yang sinodal, Gereja yang berjalan bersama, Gereja yang selalu mencari perdamaian, mencari selalu kasih, selalu berusaha untuk dekat dengan mereka yang menderita.
Hari ini adalah peringatan Bunda maria dari Pompey. Bunda kita Maria akan selalu berjalan bersama, dekat dengan kita. Membantu kita dengan perantaraannya dan dengan cintanya. Maka saya hendak berdoa bersama kalian semua, kita berdoa untuk tugas baru ini, dan tentu saja untuk seluruh gereja, dan untuk perdamaian dunia. Dan kita mohonkan ini rahmat khusus ini dengan perantaraan Bunda Maria, Bunda kita…
Salam Maria….

 

Doa Rosario dan Renungan Bulan Katekese Liturgi 2, Lingkungan St. Gregorius

Renungan Hangat dalam Bulan Katekese Liturgi: Lingkungan St. Gregorius Kadisoka Membangun Iman Lewat Kebersamaan

Yogyakarta, 8 Mei 2025 — Suasana damai dan penuh kehangatan menyelimuti rumah Ibu Ritta di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka pada Kamis malam, 8 Mei 2025. Sebanyak 23 umat — terdiri dari 21 orang dewasa dan 2 anak-anak — berkumpul dalam semangat iman untuk mengikuti Renungan Bulan Katekese Liturgi, sebuah momen reflektif yang telah menjadi tradisi tahunan komunitas Katolik.

Rangkaian acara dimulai dengan Doa Rosario yang dipimpin secara bergantian oleh umat, menuntun seluruh peserta masuk dalam keheningan dan kehadiran ilahi. Butir-butir doa yang dilafalkan perlahan membawa kelegaan, sekaligus membuka hati untuk menerima Sabda Tuhan yang hendak direnungkan bersama. Dipandu oleh Ibu Evi selaku tim liturgi lingkungan St. Gregorius.

Inti acara adalah pembacaan dan permenungan tiga bab dari buku Renungan Bulan Katekese Liturgi Tahun 2025.

Bab 6, berjudul “Mengembangkan Pengharapan di Tengah Hidup Bersama”, merujuk pada ayat Yohanes 6:35 yang menegaskan Yesus sebagai roti hidup. Umat diajak merenungkan bagaimana harapan tidak bisa dipisahkan dari kebersamaan dalam komunitas, bahwa hidup beriman selalu menemukan maknanya dalam relasi yang saling menguatkan.

Bab 7, “Jaminan Iman”, menggali lebih dalam janji keselamatan dalam Yohanes 6:40. Di tengah berbagai tantangan zaman, iman menjadi jangkar hidup yang membawa kedamaian batin. Umat didorong untuk tidak takut menghadapi masa depan, karena Tuhan sendiri menjamin keselamatan bagi mereka yang percaya.

Sedangkan Bab 8, berjudul “Roti Hidup”, membuka refleksi tentang makna Ekaristi yang sejati, sebagaimana tertulis dalam Yohanes 6:51. Kehadiran Yesus dalam rupa roti menjadi sumber kekuatan spiritual yang tak tergantikan. Bacaan ini meneguhkan kembali pentingnya menyambut Komuni Kudus dengan iman yang hidup dan rasa syukur yang mendalam.

Usai permenungan, seluruh umat bersatu dalam doa-doa permohonan yang menyentuh banyak aspek kehidupan. Salah satu intensi utama adalah untuk proses pemilihan Paus baru, agar Gereja Katolik dipimpin oleh gembala yang bijak, kudus, dan terbuka pada tuntunan Roh Kudus.

Doa juga dipanjatkan bagi seluruh umat di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka, agar senantiasa diberi kesehatan, kebahagiaan, dan keteguhan iman dalam menghadapi tantangan zaman. Secara khusus, doa syukur dinaikkan untuk Ibu Ritta, tuan rumah malam itu, yang merayakan ulang tahunnya. Suasana menjadi haru ketika seluruh umat mendoakannya dengan tulus, sebagai bentuk kasih dalam komunitas kecil ini.

Kolekte untuk kas lingkungan pun dilaksanakan sebagai bagian dari tanggung jawab dan kepedulian bersama. Tak lupa, acara diakhiri dengan ramah tamah sederhana yang mempererat rasa kekeluargaan. Gelak tawa, senyum hangat, dan obrolan ringan menjadi penutup malam yang penuh makna.

Selain itu, ketua lingkungan St. Gregorius (Bpk Henry) juga membagikan lembar catatan pribadi ziarah yubileum 2025 kepada seluruh umat yang hadir. Lembar ini ditujukan sebagai catatan pribadi saat umat melakukan kegiatan ziarah di tempat-tempat yang sudah ditentukan oleh Keuskupan Agung Semarang. Umat sangat antusias melakukan ziarah.

Lembar ziarah yubileum lingkungan st. Gregorius

Malam itu, iman tidak hanya dihayati secara pribadi, tetapi juga diwujudkan dalam relasi antarumat yang saling mendukung. Kegiatan ini menjadi bukti bahwa hidup menggereja bukan hanya soal ibadah, melainkan tentang menciptakan ruang bersama untuk saling mendoakan, menguatkan, dan bertumbuh dalam kasih Kristus.

 

Doa Rosario dan Renungan Bulan Katekese Liturgi 1, Lingkungan St. Gregorius

Bulan Katekese Liturgi 2025 di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka: Merenungi Iman Bersama Maria di Tengah Semangat Yubileum

Kadisoka, 5 Mei 2025 — Dalam semangat Tahun Yubileum 2025, umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka berkumpul dalam sukacita dan keheningan untuk mengikuti Bulan Katekese Liturgi (BKL). Pertemuan ini berlangsung dengan penuh kekhidmatan pada hari Senin, 5 Mei 2025, bertempat di rumah Ibu Ritta, seorang umat yang dengan sukarela membuka pintu rumahnya sebagai tempat perjumpaan iman.

Acara diawali dengan Doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Agnes Gunarti, membawa umat memasuki suasana batin yang tenang dan siap merenungkan peran Bunda Maria dalam sejarah keselamatan. Lantunan doa dan pujian membawa suasana sakral yang menyatukan hati seluruh peserta.

Sebanyak 17 umat dari berbagai usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia, hadir dalam pertemuan ini. Kehadiran lintas generasi menjadi tanda nyata semangat komunio dan sinodalitas yang digaungkan dalam Yubileum — berjalan bersama sebagai umat Allah yang satu.

Dalam pertemuan ini, umat dibimbing untuk mendalami lima bab utama yang menggugah kesadaran akan iman, harapan, dan kasih.

Bacaan Pertemuan 1: Mengenal 4 Dogma Maria
Umat diajak memahami dasar ajaran Gereja tentang Maria: Bunda Allah, Perawan Abadi, Dikandung Tanpa Noda, dan Diangkat ke Surga. Keempat dogma ini bukan sekadar doktrin, tetapi cermin dari rencana keselamatan Allah yang bekerja melalui seorang wanita yang sederhana namun penuh iman.

Bacaan Pertemuan 2: Gelar-gelar Bunda Maria
Berbagai gelar Maria — dari “Bunda Penolong Abadi” hingga “Ratu Perdamaian” — menjadi cermin sifat-sifat ilahi yang hadir melalui diri Maria. Umat diajak merenungkan bagaimana setiap gelar itu menyentuh kehidupan nyata dan menjadi penghiburan di tengah tantangan zaman.

Bacaan Pertemuan 3: Per Mariam ad Jesum
Melalui Maria menuju Yesus. Tema ini mengajak umat menyadari bahwa Maria bukan tujuan akhir, melainkan jembatan rohani menuju Kristus. Ia adalah teladan ketaatan dan pembuka jalan menuju Sang Sumber Harapan.

Bacaan Pertemuan 4: Janji Allah Menjadi Dasar Pengharapan Manusia (Yohanes 21:6)
Dalam refleksi atas kisah penangkapan ikan yang ajaib, umat menyadari bahwa pengharapan sejati hanya tumbuh ketika manusia menyerahkan diri sepenuhnya pada kehendak Allah. Janji Tuhan tidak pernah gagal — Ia hadir dan bekerja saat umat percaya.

Bacaan Pertemuan 5: Membangun Watak Peduli, Mewujudkan Pengharapan (Yohanes 6:27)
Sebagai penutup, umat diajak menimba kekuatan dari sabda Yesus tentang mencari makanan yang bertahan sampai hidup kekal. Ini menjadi ajakan konkret untuk membangun watak peduli dan menghidupi pengharapan melalui tindakan nyata di lingkungan sekitar.

Dalam semangat Yubileum, pertemuan ini menjadi tanda pertobatan bersama, pembaruan iman, dan perjalanan pulang kepada kasih Allah. Saling mendengarkan, saling menguatkan, dan berjalan bersama menjadi semangat yang menyala sepanjang pertemuan.

Pertemuan BKL ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan momen ziarah batin umat — sebuah kesempatan berahmat untuk semakin mengenal Allah melalui perantaraan Bunda Maria, dan mewujudkan pengharapan dalam hidup nyata.

“Melalui Maria, kita diajak melangkah dalam terang Yubileum: bertobat, memperbarui diri, dan menjadi saksi kasih Allah bagi dunia.”

Renungan Bulan Katekese Liturgi 2025

Array

Semangat Kebersamaan dalam Outbound Tim Litbang GMBA

Dalam upaya mempererat hubungan antar anggota serta memperkuat semangat pelayanan yang tulus dan kolaboratif, tim litbang Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo mengadakan kegiatan outbound yang berlangsung di Banyu Sumilir, Pakem, Sleman, pada Kamis, 1 Mei 2025. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bersama bagi para anggota, sekaligus sarana penyegaran rohani dan jasmani di tengah dinamika tugas pelayanan gerejawi.

Acara dimulai pada pagi hari dengan suasana cerah dan semangat yang menggebu. Pembukaan dilakukan oleh Bapak Agung selaku Ketua Stasi Maguwo. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi kepada tim litbang atas dedikasi dan kerja keras mereka dalam mendampingi program-program pengembangan stasi. Ia juga menegaskan pentingnya membangun kebersamaan dan kekompakan dalam pelayanan, karena tim yang solid akan menjadi tulang punggung gereja yang hidup dan bertumbuh.

Sambutan berikutnya diberikan oleh Bapak Andre Muda, perwakilan dari tim litbang, yang menyampaikan harapannya agar kegiatan ini menjadi momen untuk membangun kembali semangat melayani dengan hati yang jujur dan terbuka. “Tim litbang bukan hanya tim teknis yang mengurus data dan perencanaan,” ujar Bapak Andre, “tetapi juga mitra strategis pastoral yang harus mampu mendengar suara umat, menanggapi kebutuhan mereka, dan menjembatani gagasan menuju aksi nyata.” Ia juga menekankan bahwa kejujuran dan komunikasi yang baik adalah fondasi utama dalam setiap bentuk kerja sama, baik dalam lingkungan tim maupun dalam pelayanan umat.

Kegiatan kemudian dipandu oleh Bapak Frans, selaku pengelola Banyu Sumilir, yang dengan ramah menyambut seluruh peserta dan memperkenalkan konsep kegiatan yang akan dijalani hari itu. Setelah sesi pengarahan singkat, peserta diarahkan ke lapangan untuk memulai sesi permainan outbound yang telah dirancang secara khusus.

Dengan dipandu oleh tim fasilitator yang berpengalaman—Pak Ari, Mbak Murni, dan Mbak Ari—seluruh peserta diajak mengikuti serangkaian permainan yang menantang namun penuh kegembiraan. Aktivitas-aktivitas tersebut dirancang untuk menguji kemampuan konsentrasi, melatih koordinasi, serta membangun kepercayaan dan kekompakan antaranggota. Tawa, semangat, dan sorak-sorai terdengar bergema di antara pepohonan dan aliran air alami, menciptakan suasana akrab dan menyegarkan.

Sebanyak 32 peserta mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Mereka dibagi menjadi dua kelompok besar, yakni Kelompok Ganjil dan Kelompok Genap yang menamakan diri “Amazon”. Pembagian ini tidak hanya menambah unsur kompetitif, tetapi juga memunculkan dinamika unik yang mendorong semua peserta untuk saling mendukung, menyusun strategi bersama, dan tetap menjaga semangat sportivitas.

Di sela permainan, beberapa peserta menyampaikan kesan bahwa kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan, tidak hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai bentuk pemulihan spiritual dan emosional dalam pelayanan yang seringkali menuntut ketahanan dan kesabaran tinggi. "Saya merasa lebih dekat dengan teman-teman satu tim. Ternyata di balik kesibukan rapat dan diskusi, ada wajah-wajah hangat yang saling menopang," ungkap salah satu peserta.

Tim litbang sendiri memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan menggereja, khususnya di lingkungan Stasi. Mereka bertugas menggali informasi, menganalisis kebutuhan umat, merancang program pengembangan, serta menjadi motor penggerak dalam penyusunan kebijakan dan agenda pastoral. Dalam konteks sinodalitas, litbang menjadi pelopor dalam mendengarkan dan merumuskan arah gerak bersama sesuai kehendak Roh Kudus.

Kejujuran menjadi napas utama dalam kerja tim ini. Kejelasan data, keterbukaan terhadap masukan, serta integritas dalam menyampaikan laporan menjadi ciri khas yang dipegang teguh. Komunikasi yang baik pun menjadi kunci keberhasilan setiap langkah, terutama dalam menjembatani ide-ide antara tim kerja dan umat secara luas.

Kegiatan outbound ini pun diakhiri dengan sesi refleksi singkat, di mana masing-masing peserta diminta membagikan satu hal yang mereka pelajari dari pengalaman hari itu. Banyak yang menyoroti pentingnya saling percaya, mendengar dengan hati, dan tidak takut untuk berproses bersama meskipun penuh tantangan.

Outbound tim litbang Stasi Maguwo ini bukan sekadar kegiatan luar ruangan, tetapi merupakan perwujudan nyata dari semangat pelayanan yang dilandasi oleh kebersamaan, kejujuran, dan komunikasi yang terbuka. Harapannya, semangat ini tidak berhenti di Banyu Sumilir, tetapi terus menyala dalam setiap rapat, kegiatan, dan aksi nyata demi gereja yang semakin hidup, tanggap, dan bersinar bagi umat.

Array