Misa Lingkungan St. Gregorius Kadisoka: Momen Syukur yang Meneguhkan Iman Umat

Kadisoka, 17 November 2025 — Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Misa Lingkungan pada Senin malam, 17 November 2025 pukul 19.00 WIB. Sekitar 70 umat, dari anak hingga lanjut usia, hadir memenuhi area misa dengan semangat kebersamaan dan rasa syukur.

Rm. FX. Murdi Susanto Pr

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo FX. Murdi Susanto, Pr, imam dari Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Dalam homilinya yang diambil dari Injil Lukas 18:35–43, Romo Murdi menegaskan tentang iman yang memampukan seseorang melihat terang dan mengalami karya keselamatan Tuhan. Kisah penyembuhan seorang buta di pinggir jalan Yerikho menjadi ajakan bagi umat untuk semakin percaya, memohon, dan membuka hati pada karya kasih Allah dalam perjalanan kehidupan sehari-hari.

Misa berlangsung dengan khidmat

Homili tersebut juga mengingatkan umat bahwa mukjizat Tuhan kerap hadir ketika seseorang berani datang kepada-Nya dengan kerendahan hati dan kesederhanaan iman.

Misa dihadiri oleh berbagai usia

Sebelum misa ditutup, Gregorius Henry, selaku Ketua Lingkungan St. Gregorius, menyampaikan sambutan singkat. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran umat serta menegaskan pentingnya merawat kerukunan, keterlibatan aktif, dan semangat pelayanan. Ia berharap bahwa kegiatan misa lingkungan dapat terus mempererat tali persaudaraan dan menjaga kehangatan komunitas.

Sejumlah 70 umat hadir

Usai Perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan wawan hati dan ramah tamah dan diabadikan dengan foto bersama. Suasana hangat dan akrab tampak dalam perbincangan umat yang saling menyapa, berbagi cerita, hingga berdiskusi ringan mengenai kegiatan lingkungan yang akan datang. Momen kebersamaan ini menjadi ruang bagi umat untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat hubungan, dan membangun semangat keluarga besar St. Gregorius.

Umat kemudian pulang dengan hati gembira dan penuh syukur, membawa pulang semangat untuk terus bertumbuh dalam iman, kasih, dan pelayanan di tengah keluarga maupun masyarakat.

Ziarah Porta Sancta & Rekreasi Lingkungan St. Gregorius

Kadisoka, 9 November 2025 – Sebanyak 39 umat dari Lingkungan St. Gregorius, Kadisoka, mengikuti kegiatan Ziarah Porta Sancta dan Rekreasi yang berlangsung penuh sukacita dan kebersamaan. Tujuan ziarah kali ini adalah Goa Maria Tritis di Gunungkidul dan dilanjutkan dengan rekreasi di Pantai Indrayanti.

Perjalanan dimulai sejak pagi hari dengan semangat doa dan kebersamaan. Setibanya di Goa Maria Tritis, para peserta mengikuti Ibadat Jalan Salib yang dipandu dengan khusyuk. Suasana alam di sekitar goa yang sejuk dan rindang menambah kekhusyukan doa. Cuaca juga sangat mendukung — tidak panas dan tidak hujan — sehingga seluruh rangkaian doa dapat dijalani dengan nyaman dan penuh makna.

Rombongan Sampai di Goa Maria Tritis

Goa Maria Tritis, yang dikenal sebagai tempat ziarah dengan nuansa alami dan tenang, menjadi momen perhentian batin bagi banyak peserta. Di sanalah umat diajak merenungkan perjalanan iman serta mengucap syukur atas kasih Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Jalan Salib

Usai menunaikan ziarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pantai Indrayanti. Meskipun sempat mengalami sedikit kemacetan di perjalanan, semangat peserta tetap tinggi. Setibanya di pantai, suasana berubah menjadi penuh keceriaan. Dengan pasir putih yang lembut, bibir pantai yang luas, dan air laut biru cemerlang, umat menikmati waktu kebersamaan sambil bercengkerama dan berfoto bersama.

Rekreasi di Pantai Indrayanti

Hari itu menjadi perpaduan indah antara ziarah rohani dan rekreasi persaudaraan. Semua peserta kembali ke Kadisoka dengan hati gembira dan penuh syukur, karena seluruh perjalanan berjalan dengan lancar dan selamat.

Melalui kegiatan ini, umat Lingkungan St. Gregorius semakin dipersatukan dalam semangat iman, persaudaraan, dan sukacita Kristiani — berjalan bersama menuju kasih Tuhan yang melimpah.

Penutupan Bulan Rosario, Bersatu Dalam Doa dan Syukur

Selama bulan Oktober, umat di berbagai lingkungan telah melaksanakan doa Rosario secara rutin. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk merenungkan misteri kehidupan Yesus bersama Bunda Maria, sekaligus mempererat tali persaudaraan antarumat.

“Bersama Maria, kita diajak untuk terus bertekun dalam doa dan percaya akan penyertaan Tuhan dalam hidup kita.”

Makna Doa Rosario

Doa Rosario bukan sekadar rangkaian doa yang diulang-ulang, melainkan sebuah perjalanan iman yang membawa kita merenungkan misteri kehidupan Yesus Kristus bersama Bunda Maria.

  1. Doa yang Membawa Kita Dekat dengan Kristus

Melalui setiap peristiwa (misteri) dalam Rosario—sukacita, dukacita, kemuliaan, dan terang—kita diajak untuk memusatkan hati pada Yesus, merenungkan karya keselamatan-Nya dari kelahiran hingga kebangkitan.

  1. Maria sebagai Pendamping Doa

Dengan mendoakan Rosario, kita meneladani Bunda Maria yang setia merenungkan sabda Allah dalam hatinya (bdk. Lukas 2:19). Ia menjadi teladan bagi umat beriman untuk selalu percaya dan taat pada kehendak Tuhan.

  1. Doa yang Membawa Kedamaian

Rosario sering disebut sebagai “senjata rohani”. Santo Yohanes Paulus II menyebutnya sebagai doa yang membawa damai bagi hati, keluarga, dan dunia. Saat Rosario didaraskan dengan iman dan kasih, hati menjadi lebih tenang dan damai.

  1. Ungkapan Kasih dan Syukur

Setiap butir Rosario adalah persembahan kasih kepada Bunda Maria sebagai ungkapan syukur atas penyertaannya dan perantaraan doanya bagi Gereja serta umat manusia.

  1. Doa yang Mengikat Umat dalam Persaudaraan

Ketika Rosario didoakan bersama-sama — baik di keluarga, lingkungan, atau komunitas — kita diajak untuk hidup dalam kebersamaan, saling mendoakan, dan memperkuat iman satu sama lain.


“Marilah kita bertekun dan sehati dalam doa bersama-sama dengan beberapa perempuan serta Maria, ibu Yesus.”
Kisah Para Rasul 1:14

Dengan semangat yang sama, umat Stasi Maguwo berkomitmen untuk terus meneladani Bunda Maria dalam kehidupan sehari-hari — hidup yang penuh doa, rendah hati, dan setia kepada kehendak Allah.

Rekoleksi Keluarga Katolik

Di tengah tantangan zaman modern, keluarga Katolik dipanggil untuk tetap menjadi oasis kasih dan iman. Rekoleksi ini menjadi momen berharga untuk kembali menimba kekuatan rohani, memperdalam komunikasi, dan meneguhkan komitmen hidup berkeluarga dalam terang Kristus.

Oleh karena itu, perlu diperdalam secara berkala. Salah satu sarana adalah mengikuti rekoleksi atau seminar tentang keluarga Katolik.

Kami mengundang Bpk, Ibu, Sdr, Sdri untuk mengikuti Rekoleksi Keluarga Katolik dengan tema “Keluarga Katolik yang Tangguh, Bersukacita dalam Iman dan Kasih”

Bersama Rm. Yeremias Balapito Duan, MSF
Ketua Komisi Keluarga KAS 2013 – 2021

Minggu, 9 November 2025
Pukul 09.00 – 14.00 WIB
di Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo

Kontribusi:

Biaya Rp 25.000 / orang
Transfer ke rekening Bank Mandiri a/n Chatarina Suntiana
Nomor Rekening: 13700 – 6809 – 9999

(Max 31 Oktober 2025)

Registrasi & Kontak Person:

Pertemuan BKSN I Lingkungan St. Gregorius

Sleman, 4 September 2025 – Lingkungan St. Gregorius mengadakan Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) I pada Kamis, 4 September 2025. Pertemuan ini bertempat di rumah Ibu Ritta, yang beralamat di Perum Soka Asri Permai.

Acara dimulai dengan doa pembuka dan pujian, dilanjutkan dengan pembahasan Kitab Nabi Zakharia sebagai tema utama. Umat diajak untuk lebih mendalami pesan firman Tuhan dalam Kitab Zakharia yang menekankan pembaruan hidup, kesetiaan kepada Allah, serta harapan akan masa depan yang penuh damai.

Sekitar 25 umat hadir, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Suasana pertemuan berlangsung hangat, penuh semangat kekeluargaan, dan saling berbagi pengalaman iman.

Melalui pertemuan BKSN ini, umat Lingkungan St. Gregorius diajak untuk semakin mencintai Kitab Suci dan menjadikannya pedoman hidup sehari-hari. Pertemuan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah sederhana, meneguhkan semangat kebersamaan dalam iman.

Tahun Yubileum 2025

Pengertian

Tahun Yubileum 2025 adalah Tahun Suci yang diumumkan oleh Paus Fransiskus untuk Gereja Katolik sedunia. Perayaannya akan berlangsung di Roma dan seluruh dunia mulai 24 Desember 2024 hingga 6 Januari 2026 dengan tema “Peziarah Harapan” (Pilgrims of Hope).

Dalam tradisi Katolik, Yubileum dirayakan setiap 25 tahun sebagai masa rahmat khusus, pertobatan, dan pembaruan iman. Umat diundang untuk:

  1. Berziarah, terutama ke Basilika di Roma atau tempat ziarah lokal.
  2. Mengalami pengampunan dosa secara mendalam (melalui Sakramen Tobat).
  3. Menghidupi harapan Kristen dalam kehidupan sehari-hari, terutama lewat kasih, keadilan, dan solidaritas.

Tahun Yubileum 2025 adalah momen bagi umat Katolik untuk memperbarui iman, meneguhkan harapan, dan menjadi saksi kasih Tuhan di tengah dunia.

Doa Tahun Yubileum

Bapa yang ada di surga,
semoga iman yang telah Engkau anugerahkan kepada kami
dalam Putra-Mu, Yesus Kristus, saudara kami,
dan nyala api cinta kasih
yang dicurahkan ke dalam hati kami oleh Roh Kudus,
membangkitkan pengharapan yang mulia
akan kedatangan Kerajaan-Mu di dalam diri kami.

Semoga rahmat-Mu mengubah kami
menjadi penabur-penabur yang gigih akan benih- benih Injil
yang menghidupkan umat manusia dan seluruh alam semesta
dalam penantian yang penuh iman
akan surga dan bumi baru,
ketika mengalahkan kekuatan Jahat,
kemuliaan-Mu akan dinyatakan untuk selama- lamanya.

Semoga rahmat Tahun Yubileum ini
menghidupkan kembali dalam diri kami, Peziarah Pengharapan,
kerinduan akan harta surgawi,
dan curahkanlah bagi seluruh dunia,
sukacita dan damai
dari Sang Penebus kami.
Bagi-Mu, ya Allah yang Mahakuasa,
pujian dan kemuliaan sepanjang segala masa.

Amin

Mengenal Maskot Tahun Yubileum 2025

Nama maskot resmi Yubileum 2025 adalah Luce, yang berarti “Cahaya” dalam bahasa Italia. Luce dirancang oleh Simone Legno, pendiri merek budaya pop Italia, tokidoki. Selain Luce, terdapat juga tiga maskot pendamping lainnya, yaitu Fe, Xin, dan Sky, yang bersama-sama melambangkan persatuan umat di seluruh dunia.


Makna dan Simbolisme Maskot:

Luce: Sebagai maskot utama, Luce mewakili peziarah Katolik yang menjadi simbol harapan dan cahaya. Luce mengenakan jas hujan warna kuning.

Fe, Xin, dan Sky:
Keempat maskot (Luce, Fe, Xin, dan Sky) melambangkan peziarah dari empat penjuru dunia, mengenakan sepatu bot kotor dan tongkat untuk menandakan perjalanan menuju tempat-tempat yang terpinggirkan.
Fe mengenakan jas hujan warna merah
Xin mengenakan jas hujan warna hijau
Sky mengenakan jas hujan warna biru

Malaikat (Iubi) juga melambangkan kehadiran Tuhan yang menemani perjalanan setiap orang, dan malaikat pelindung sebagai pendamping sepanjang hidup. Dan anjing (Santino) yang bagi San Rocco (Santo Peziarah) adalah tanda penyelenggaraan Ilahi yang membantunya pada saat yang sangat dibutuhkan, juga melambangkan kesetiaanya pada panggilan Tuhan, anjing juga sebagai simbol persahabatan. Serta terdapat burung merpati (Aura) sebagai simbol Roh Kudus yang melambangkan pendamping perjalanan, kemurnian, pencarian Tuhan, kebebasan, dan pembawa pesan perdamaian.

Desain:
Keempat karakter tersebut, yang dirancang oleh Simone Legno, memiliki jaket berwarna cerah dan dirancang untuk melibatkan kaum muda dalam budaya pop

Tim Pendamping Iman Keluarga Stasi Maguwo Ikuti Seminar Keluarga Katolik dan Apostolik

Sleman, Yogyakarta – Tim Pendamping Iman Keluarga (PIK) dari Stasi Maguwo yang berjumlah 10 orang turut ambil bagian dalam seminar keluarga yang diselenggarakan oleh Komisi Keluarga Kevikepan Yogyakarta Timur. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Aveon Jogja dengan tema “Keluarga yang Katolik dan Apostolik”, menghadirkan Romo Erwin Santoso, MSF sebagai narasumber utama.

Seminar yang diikuti sekitar 200 peserta ini menghadirkan suasana hangat dan penuh antusiasme. Romo Erwin dikenal memiliki gaya penyampaian yang cerdas, ringan, serta diselingi humor segar sehingga peserta mudah menangkap inti pesan yang dibawakan.

Dalam paparannya, Romo Erwin menekankan delapan poin penting yang perlu dijalankan oleh keluarga Katolik, yakni:

  1. Keluarga sebagai Gereja Kecil
  2. Pendidikan iman yang berkelanjutan
  3. Kesetiaan dan Sakramen Perkawinan
  4. Menghidupi nilai apostolik
  5. Komunikasi dan kerja sama dalam keluarga
  6. Partisipasi aktif dalam keuskupan dan paroki
  7. Meneladani hidup para santo, santa, dan rasul
  8. Memahami iman dan memberi kesaksian

Selain itu, Romo Erwin juga mengingatkan pentingnya pendidikan iman bagi anak-anak. Menurutnya, orang tua memiliki kewajiban mendampingi serta menanamkan iman Katolik secara berkesinambungan, baik di lingkungan rumah tangga maupun dalam hidup menggereja.

“Pendidikan iman bukanlah tugas sekali jadi, melainkan perjalanan yang terus-menerus. Anak-anak perlu melihat teladan nyata dari orang tuanya, agar iman itu benar-benar hidup dalam keseharian,” ujar Romo Erwin dalam sesi seminar.

Seminar ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga menjadi ajang penguatan bagi Tim Pendamping Iman Keluarga Stasi Maguwo. Dengan bekal materi yang diterima, mereka diharapkan semakin siap dalam mendampingi keluarga-keluarga Katolik agar semakin setia pada panggilan hidup beriman dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Srawung dengan Sesama. Sarasehan Kebangsaan II Gregorius

Lingkungan St. Gregorius kembali menyelenggarakan sarasehan kebangsaan pada Kamis, 21 Agustus 2025 pukul 19.00 WIB, yang dihadiri oleh 18 umat dari berbagai usia. Acara ini berlangsung sederhana namun penuh makna, menghadirkan suasana kekeluargaan dan semangat kebersamaan.

Materi utama yang diangkat kali ini adalah mengenai kehidupan bermasyarakat: srawung, saling menghargai, dan menerima sesama tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun ras. Umat diajak untuk menyadari bahwa sebagai pengikut Kristus, setiap pribadi dipanggil untuk menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam relasi sosial bersama warga sekitar.

Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Bermasyarakat

Dalam sharing yang dibagikan, terungkap bahwa umat Katolik hendaknya tidak hidup eksklusif, melainkan mampu berbaur, berelasi, dan hidup berdampingan secara harmonis. Sikap terbuka, ramah, serta aktif dalam kegiatan masyarakat menjadi wujud nyata kasih Kristus yang melintasi sekat perbedaan.

“Kasih Kristus tidak hanya diungkapkan dalam doa dan peribadatan, tetapi juga dalam sikap nyata di tengah lingkungan tempat kita tinggal,” demikian salah satu penegasan yang muncul dalam sarasehan. Nilai persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian pun ditegaskan kembali sebagai dasar membangun kehidupan bersama.

Kegiatan yang berlangsung dengan hangat ini meneguhkan umat bahwa iman Katolik dan nasionalisme sejalan dengan semangat kebersamaan. Hidup rukun dengan semua orang adalah cara nyata menghidupi Injil sekaligus menjaga persatuan bangsa.

Melalui sarasehan ini, Lingkungan St. Gregorius menegaskan bahwa kasih Kristus hadir bukan dalam kata-kata semata, melainkan dalam tindakan nyata yang membawa damai dan persaudaraan bagi semua orang.

Semangat Nasionalisme – Sarasehan Kebangsaan I Gregorius

Lingkungan St. Gregorius – Kadisoka menggelar Sarasehan Kebangsaan pada Kamis, 14 Agustus 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di salah satu rumah umat. Acara yang berlangsung penuh keakraban ini dihadiri oleh sekitar 20 umat dari berbagai usia, mulai dari orang tua, kaum muda, hingga anak-anak.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebuah momen yang mengingatkan setiap peserta akan pentingnya rasa cinta tanah air sebagai bagian dari iman Kristiani. Suasana hening dan khidmat terasa ketika seluruh umat berdiri tegak, menyatukan hati dalam semangat kebangsaan.

Dalam sarasehan tersebut, materi utama yang diangkat adalah “Sikap Nasionalisme Umat Kristiani di Tengah Masyarakat dalam Menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia”. Pemateri mengajak umat untuk menyadari bahwa nasionalisme bukan hanya sebatas simbol atau seremoni, melainkan wujud nyata dari kasih dan pelayanan kepada bangsa.

Sesi dilanjutkan dengan sharing pengalaman umat Katolik dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Jawa. Beberapa peserta berbagi cerita mengenai bagaimana umat Katolik menjaga kerukunan, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dan tetap setia pada ajaran iman sambil menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk. Nilai gotong royong, toleransi, dan keterbukaan pun kembali ditegaskan sebagai ciri khas yang perlu terus dipelihara.

Melalui sarasehan ini, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa panggilan iman tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sebagai warga negara. Menjadi Katolik yang baik berarti juga menjadi warga negara yang baik—setia pada iman, setia pada bangsa.

Acara yang penuh semangat kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga komitmen nyata dalam menghidupi semangat nasionalisme Kristiani di tengah kehidupan sehari-hari.

Ibadat Lingk St. Gregorius dan Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi serta Ketua Lingkungan

Kadisoka, 29 Juli 2025 — Dalam semangat persaudaraan dan pelayanan, umat Lingkungan St. Gregorius berkumpul untuk mengikuti Ibadat Lingkungan sekaligus sosialisasi pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Acara ini dilaksanakan pada Selasa malam pukul 19.00 WIB, bertempat di kediaman Bapak Paulus Supit yang beralamat di Perum Soka Asri Permai Blok S10.

Suasana malam itu terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Sebanyak 35 umat hadir dari berbagai usia—mulai dari anak-anak, remaja, orang muda Katolik (OMK), hingga para orang tua—mencerminkan semangat kebersamaan yang hidup di tengah komunitas.

Ibadat dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit, yang mengajak umat untuk bersyukur atas segala berkat Tuhan dan memohon penyertaan Roh Kudus, khususnya dalam proses pemilihan para pemimpin baru di tingkat stasi, lingkungan, dan wilayah. Dalam renungannya, beliau menekankan bahwa kepemimpinan dalam Gereja bukanlah soal jabatan, melainkan bentuk pelayanan kasih yang dilandasi kerendahan hati.

Umat dengan khusyuk mengikuti ibadat

Setelah ibadat, umat berkesempatan menikmati ramah tamah dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Momen ini menjadi ajang saling menyapa, bercengkerama, dan menguatkan persaudaraan. Kehangatan obrolan terlihat dari wajah-wajah yang tersenyum, menandakan eratnya ikatan persaudaraan iman di Lingkungan St. Gregorius.

Memasuki sesi sosialisasi, Bapak Gregorius Henry selaku Ketua Lingkungan menyampaikan penjelasan mengenai mekanisme dan tata cara pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Beliau menegaskan bahwa proses ini sangat penting, karena akan menentukan arah pelayanan pastoral di tingkat akar rumput selama periode mendatang.

Sesi ini berlangsung interaktif dan terbuka. Umat diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, usul, maupun masukan terkait proses dan kriteria kepemimpinan. Beberapa umat mengungkapkan pengalaman mereka bekerja sama dengan pengurus sebelumnya, sementara yang lain menyampaikan harapan agar pemimpin yang terpilih kelak benar-benar memiliki hati untuk melayani. Diskusi yang hidup ini berlangsung dalam suasana saling menghargai dan penuh kasih persaudaraan.

Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi dan Ketua Lingkungan Baru

Melalui proses yang berjalan dengan lancar, akhirnya umat mencapai satu keputusan bersama yang disepakati secara bulat. Keputusan ini diambil bukan hanya sebagai hasil musyawarah, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan pada bimbingan Roh Kudus.

Acara resmi selesai sekitar pukul 21.00 WIB. Umat meninggalkan tempat dengan hati yang gembira, membawa pulang sukacita dan semangat baru untuk terus membangun Gereja sebagai persekutuan umat Allah. Semoga semangat kebersamaan dan kasih Kristus yang terpancar pada malam itu terus menguatkan pelayanan di Lingkungan St. Gregorius, demi kemuliaan nama Tuhan.