Pertemuan BKSN I Lingkungan St. Gregorius

Sleman, 4 September 2025 – Lingkungan St. Gregorius mengadakan Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) I pada Kamis, 4 September 2025. Pertemuan ini bertempat di rumah Ibu Ritta, yang beralamat di Perum Soka Asri Permai.

Acara dimulai dengan doa pembuka dan pujian, dilanjutkan dengan pembahasan Kitab Nabi Zakharia sebagai tema utama. Umat diajak untuk lebih mendalami pesan firman Tuhan dalam Kitab Zakharia yang menekankan pembaruan hidup, kesetiaan kepada Allah, serta harapan akan masa depan yang penuh damai.

Sekitar 25 umat hadir, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Suasana pertemuan berlangsung hangat, penuh semangat kekeluargaan, dan saling berbagi pengalaman iman.

Melalui pertemuan BKSN ini, umat Lingkungan St. Gregorius diajak untuk semakin mencintai Kitab Suci dan menjadikannya pedoman hidup sehari-hari. Pertemuan ditutup dengan doa bersama dan ramah tamah sederhana, meneguhkan semangat kebersamaan dalam iman.

Tahun Yubileum 2025

Pengertian

Tahun Yubileum 2025 adalah Tahun Suci yang diumumkan oleh Paus Fransiskus untuk Gereja Katolik sedunia. Perayaannya akan berlangsung di Roma dan seluruh dunia mulai 24 Desember 2024 hingga 6 Januari 2026 dengan tema “Peziarah Harapan” (Pilgrims of Hope).

Dalam tradisi Katolik, Yubileum dirayakan setiap 25 tahun sebagai masa rahmat khusus, pertobatan, dan pembaruan iman. Umat diundang untuk:

  1. Berziarah, terutama ke Basilika di Roma atau tempat ziarah lokal.
  2. Mengalami pengampunan dosa secara mendalam (melalui Sakramen Tobat).
  3. Menghidupi harapan Kristen dalam kehidupan sehari-hari, terutama lewat kasih, keadilan, dan solidaritas.

Tahun Yubileum 2025 adalah momen bagi umat Katolik untuk memperbarui iman, meneguhkan harapan, dan menjadi saksi kasih Tuhan di tengah dunia.

Doa Tahun Yubileum

Bapa yang ada di surga,
semoga iman yang telah Engkau anugerahkan kepada kami
dalam Putra-Mu, Yesus Kristus, saudara kami,
dan nyala api cinta kasih
yang dicurahkan ke dalam hati kami oleh Roh Kudus,
membangkitkan pengharapan yang mulia
akan kedatangan Kerajaan-Mu di dalam diri kami.

Semoga rahmat-Mu mengubah kami
menjadi penabur-penabur yang gigih akan benih- benih Injil
yang menghidupkan umat manusia dan seluruh alam semesta
dalam penantian yang penuh iman
akan surga dan bumi baru,
ketika mengalahkan kekuatan Jahat,
kemuliaan-Mu akan dinyatakan untuk selama- lamanya.

Semoga rahmat Tahun Yubileum ini
menghidupkan kembali dalam diri kami, Peziarah Pengharapan,
kerinduan akan harta surgawi,
dan curahkanlah bagi seluruh dunia,
sukacita dan damai
dari Sang Penebus kami.
Bagi-Mu, ya Allah yang Mahakuasa,
pujian dan kemuliaan sepanjang segala masa.

Amin

Mengenal Maskot Tahun Yubileum 2025

Nama maskot resmi Yubileum 2025 adalah Luce, yang berarti “Cahaya” dalam bahasa Italia. Luce dirancang oleh Simone Legno, pendiri merek budaya pop Italia, tokidoki. Selain Luce, terdapat juga tiga maskot pendamping lainnya, yaitu Fe, Xin, dan Sky, yang bersama-sama melambangkan persatuan umat di seluruh dunia.


Makna dan Simbolisme Maskot:

Luce: Sebagai maskot utama, Luce mewakili peziarah Katolik yang menjadi simbol harapan dan cahaya. Luce mengenakan jas hujan warna kuning.

Fe, Xin, dan Sky:
Keempat maskot (Luce, Fe, Xin, dan Sky) melambangkan peziarah dari empat penjuru dunia, mengenakan sepatu bot kotor dan tongkat untuk menandakan perjalanan menuju tempat-tempat yang terpinggirkan.
Fe mengenakan jas hujan warna merah
Xin mengenakan jas hujan warna hijau
Sky mengenakan jas hujan warna biru

Malaikat (Iubi) juga melambangkan kehadiran Tuhan yang menemani perjalanan setiap orang, dan malaikat pelindung sebagai pendamping sepanjang hidup. Dan anjing (Santino) yang bagi San Rocco (Santo Peziarah) adalah tanda penyelenggaraan Ilahi yang membantunya pada saat yang sangat dibutuhkan, juga melambangkan kesetiaanya pada panggilan Tuhan, anjing juga sebagai simbol persahabatan. Serta terdapat burung merpati (Aura) sebagai simbol Roh Kudus yang melambangkan pendamping perjalanan, kemurnian, pencarian Tuhan, kebebasan, dan pembawa pesan perdamaian.

Desain:
Keempat karakter tersebut, yang dirancang oleh Simone Legno, memiliki jaket berwarna cerah dan dirancang untuk melibatkan kaum muda dalam budaya pop

Tim Pendamping Iman Keluarga Stasi Maguwo Ikuti Seminar Keluarga Katolik dan Apostolik

Sleman, Yogyakarta – Tim Pendamping Iman Keluarga (PIK) dari Stasi Maguwo yang berjumlah 10 orang turut ambil bagian dalam seminar keluarga yang diselenggarakan oleh Komisi Keluarga Kevikepan Yogyakarta Timur. Kegiatan ini berlangsung di Hotel Aveon Jogja dengan tema “Keluarga yang Katolik dan Apostolik”, menghadirkan Romo Erwin Santoso, MSF sebagai narasumber utama.

Seminar yang diikuti sekitar 200 peserta ini menghadirkan suasana hangat dan penuh antusiasme. Romo Erwin dikenal memiliki gaya penyampaian yang cerdas, ringan, serta diselingi humor segar sehingga peserta mudah menangkap inti pesan yang dibawakan.

Dalam paparannya, Romo Erwin menekankan delapan poin penting yang perlu dijalankan oleh keluarga Katolik, yakni:

  1. Keluarga sebagai Gereja Kecil
  2. Pendidikan iman yang berkelanjutan
  3. Kesetiaan dan Sakramen Perkawinan
  4. Menghidupi nilai apostolik
  5. Komunikasi dan kerja sama dalam keluarga
  6. Partisipasi aktif dalam keuskupan dan paroki
  7. Meneladani hidup para santo, santa, dan rasul
  8. Memahami iman dan memberi kesaksian

Selain itu, Romo Erwin juga mengingatkan pentingnya pendidikan iman bagi anak-anak. Menurutnya, orang tua memiliki kewajiban mendampingi serta menanamkan iman Katolik secara berkesinambungan, baik di lingkungan rumah tangga maupun dalam hidup menggereja.

“Pendidikan iman bukanlah tugas sekali jadi, melainkan perjalanan yang terus-menerus. Anak-anak perlu melihat teladan nyata dari orang tuanya, agar iman itu benar-benar hidup dalam keseharian,” ujar Romo Erwin dalam sesi seminar.

Seminar ini tidak hanya memperkaya wawasan peserta, tetapi juga menjadi ajang penguatan bagi Tim Pendamping Iman Keluarga Stasi Maguwo. Dengan bekal materi yang diterima, mereka diharapkan semakin siap dalam mendampingi keluarga-keluarga Katolik agar semakin setia pada panggilan hidup beriman dan menjadi saksi Kristus di tengah masyarakat.

Srawung dengan Sesama. Sarasehan Kebangsaan II Gregorius

Lingkungan St. Gregorius kembali menyelenggarakan sarasehan kebangsaan pada Kamis, 21 Agustus 2025 pukul 19.00 WIB, yang dihadiri oleh 18 umat dari berbagai usia. Acara ini berlangsung sederhana namun penuh makna, menghadirkan suasana kekeluargaan dan semangat kebersamaan.

Materi utama yang diangkat kali ini adalah mengenai kehidupan bermasyarakat: srawung, saling menghargai, dan menerima sesama tanpa membeda-bedakan agama, suku, maupun ras. Umat diajak untuk menyadari bahwa sebagai pengikut Kristus, setiap pribadi dipanggil untuk menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam relasi sosial bersama warga sekitar.

Menghidupi Kasih Kristus dalam Kehidupan Bermasyarakat

Dalam sharing yang dibagikan, terungkap bahwa umat Katolik hendaknya tidak hidup eksklusif, melainkan mampu berbaur, berelasi, dan hidup berdampingan secara harmonis. Sikap terbuka, ramah, serta aktif dalam kegiatan masyarakat menjadi wujud nyata kasih Kristus yang melintasi sekat perbedaan.

“Kasih Kristus tidak hanya diungkapkan dalam doa dan peribadatan, tetapi juga dalam sikap nyata di tengah lingkungan tempat kita tinggal,” demikian salah satu penegasan yang muncul dalam sarasehan. Nilai persaudaraan, gotong royong, dan kepedulian pun ditegaskan kembali sebagai dasar membangun kehidupan bersama.

Kegiatan yang berlangsung dengan hangat ini meneguhkan umat bahwa iman Katolik dan nasionalisme sejalan dengan semangat kebersamaan. Hidup rukun dengan semua orang adalah cara nyata menghidupi Injil sekaligus menjaga persatuan bangsa.

Melalui sarasehan ini, Lingkungan St. Gregorius menegaskan bahwa kasih Kristus hadir bukan dalam kata-kata semata, melainkan dalam tindakan nyata yang membawa damai dan persaudaraan bagi semua orang.

Semangat Nasionalisme – Sarasehan Kebangsaan I Gregorius

Lingkungan St. Gregorius – Kadisoka menggelar Sarasehan Kebangsaan pada Kamis, 14 Agustus 2025, pukul 19.00 WIB, bertempat di salah satu rumah umat. Acara yang berlangsung penuh keakraban ini dihadiri oleh sekitar 20 umat dari berbagai usia, mulai dari orang tua, kaum muda, hingga anak-anak.

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sebuah momen yang mengingatkan setiap peserta akan pentingnya rasa cinta tanah air sebagai bagian dari iman Kristiani. Suasana hening dan khidmat terasa ketika seluruh umat berdiri tegak, menyatukan hati dalam semangat kebangsaan.

Dalam sarasehan tersebut, materi utama yang diangkat adalah “Sikap Nasionalisme Umat Kristiani di Tengah Masyarakat dalam Menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia”. Pemateri mengajak umat untuk menyadari bahwa nasionalisme bukan hanya sebatas simbol atau seremoni, melainkan wujud nyata dari kasih dan pelayanan kepada bangsa.

Sesi dilanjutkan dengan sharing pengalaman umat Katolik dalam kehidupan bermasyarakat, khususnya di Jawa. Beberapa peserta berbagi cerita mengenai bagaimana umat Katolik menjaga kerukunan, aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, dan tetap setia pada ajaran iman sambil menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang majemuk. Nilai gotong royong, toleransi, dan keterbukaan pun kembali ditegaskan sebagai ciri khas yang perlu terus dipelihara.

Melalui sarasehan ini, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa panggilan iman tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab sebagai warga negara. Menjadi Katolik yang baik berarti juga menjadi warga negara yang baik—setia pada iman, setia pada bangsa.

Acara yang penuh semangat kebersamaan ini menjadi pengingat bahwa menyongsong HUT ke-80 Republik Indonesia bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga komitmen nyata dalam menghidupi semangat nasionalisme Kristiani di tengah kehidupan sehari-hari.

Ibadat Lingk St. Gregorius dan Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi serta Ketua Lingkungan

Kadisoka, 29 Juli 2025 — Dalam semangat persaudaraan dan pelayanan, umat Lingkungan St. Gregorius berkumpul untuk mengikuti Ibadat Lingkungan sekaligus sosialisasi pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Acara ini dilaksanakan pada Selasa malam pukul 19.00 WIB, bertempat di kediaman Bapak Paulus Supit yang beralamat di Perum Soka Asri Permai Blok S10.

Suasana malam itu terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Sebanyak 35 umat hadir dari berbagai usia—mulai dari anak-anak, remaja, orang muda Katolik (OMK), hingga para orang tua—mencerminkan semangat kebersamaan yang hidup di tengah komunitas.

Ibadat dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit, yang mengajak umat untuk bersyukur atas segala berkat Tuhan dan memohon penyertaan Roh Kudus, khususnya dalam proses pemilihan para pemimpin baru di tingkat stasi, lingkungan, dan wilayah. Dalam renungannya, beliau menekankan bahwa kepemimpinan dalam Gereja bukanlah soal jabatan, melainkan bentuk pelayanan kasih yang dilandasi kerendahan hati.

Umat dengan khusyuk mengikuti ibadat

Setelah ibadat, umat berkesempatan menikmati ramah tamah dengan hidangan sederhana yang telah disiapkan. Momen ini menjadi ajang saling menyapa, bercengkerama, dan menguatkan persaudaraan. Kehangatan obrolan terlihat dari wajah-wajah yang tersenyum, menandakan eratnya ikatan persaudaraan iman di Lingkungan St. Gregorius.

Memasuki sesi sosialisasi, Bapak Gregorius Henry selaku Ketua Lingkungan menyampaikan penjelasan mengenai mekanisme dan tata cara pemilihan Ketua Stasi, Ketua Lingkungan, dan Ketua Wilayah. Beliau menegaskan bahwa proses ini sangat penting, karena akan menentukan arah pelayanan pastoral di tingkat akar rumput selama periode mendatang.

Sesi ini berlangsung interaktif dan terbuka. Umat diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan, usul, maupun masukan terkait proses dan kriteria kepemimpinan. Beberapa umat mengungkapkan pengalaman mereka bekerja sama dengan pengurus sebelumnya, sementara yang lain menyampaikan harapan agar pemimpin yang terpilih kelak benar-benar memiliki hati untuk melayani. Diskusi yang hidup ini berlangsung dalam suasana saling menghargai dan penuh kasih persaudaraan.

Sosialisasi Pemilihan Ketua Stasi dan Ketua Lingkungan Baru

Melalui proses yang berjalan dengan lancar, akhirnya umat mencapai satu keputusan bersama yang disepakati secara bulat. Keputusan ini diambil bukan hanya sebagai hasil musyawarah, tetapi juga sebagai bentuk ketaatan pada bimbingan Roh Kudus.

Acara resmi selesai sekitar pukul 21.00 WIB. Umat meninggalkan tempat dengan hati yang gembira, membawa pulang sukacita dan semangat baru untuk terus membangun Gereja sebagai persekutuan umat Allah. Semoga semangat kebersamaan dan kasih Kristus yang terpancar pada malam itu terus menguatkan pelayanan di Lingkungan St. Gregorius, demi kemuliaan nama Tuhan.

Menapaki Jejak Iman: Ziarah Porta Sancta Lingkungan St. Gregorius Kadisoka

Magelang, 5 Juli 2025 — Dalam semangat memperdalam iman dan merayakan Tahun Yubileum Suci, umat Lingkungan St. Gregorius Stasi GMBA Maguwo, Paroki Maria Marganingsih Kalasan mengadakan ziarah rohani ke Porta Sancta (Pintu Suci) yang berlangsung pada Sabtu, 5 Juli 2025

Perjalanan penuh makna ini menyatukan 44 orang peziarah dari berbagai usia—anak-anak hingga lansia—dalam satu hati dan satu langkah menuju tiga lokasi suci: Goa Maria Sendangsono, Gereja Ignatius Magelang, dan Kerkhof Muntilan, makam Romo Sanjaya.

Ziarah ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan lingkungan dalam menyambut Tahun Yubileum 2025 yang dicanangkan oleh Paus Fransiskus dengan tema “Peziarah Harapan.” Di tengah kesibukan dan rutinitas harian, ziarah ini menjadi kesempatan langka bagi umat untuk berhenti sejenak, menengok kembali perjalanan hidup rohani mereka, dan memperbaharui semangat iman.

Suasana Hening di Sendangsono

Gerbang Memasuki Goa Maria Sendangsono

Perhentian pertama adalah Goa Maria Sendangsono, tempat bersejarah yang disebut sebagai “Lourdes-nya Indonesia.” Di sinilah iman Katolik pertama kali bersemi di Tanah Jawa. Dikelilingi rimbunnya pepohonan dan gemericik air sendang, para peziarah memulai hari dengan doa bersama yang dipimpin oleh Prodiakon Paulus Supit dibantu oleh Katekis Agnes Gunarti. Jalan salib pun dilaksanakan dengan khidmat, menyusuri stasi demi stasi dengan permenungan mendalam atas kisah sengsara Yesus Kristus.

Prodiakon mengajak seluruh umat merenungkan arti penderitaan dalam kehidupan sehari-hari dan bagaimana setiap orang dipanggil untuk memanggul salib masing-masing dengan iman dan pengharapan. “Jalan salib bukan hanya mengenang penderitaan Tuhan, tapi juga mengajak kita melihat bagaimana Tuhan hadir dalam luka dan beban hidup kita,” ujarnya.

Napak Tilas Iman di Gereja Ignatius Magelang

Di depan Gereja Ignasius Magelang

Usai dari Sendangsono, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Gereja Santo Ignatius, Magelang. Gereja tua yang dibangun sejak abad ke-19 ini menyimpan banyak sejarah pewartaan iman Katolik di Jawa Tengah. Di sini, para peziarah diajak merenungkan keteladanan St. Ignatius Loyola—pendiri Serikat Yesus—dalam menjalani hidup yang penuh penyerahan dan discernment (pembedaan roh).

Berdoa di depan Taman Doa yang berada di belakang Gereja

Doa pribadi dan devosi di depan patung Maria (terletak di belakang Gereja) menjadi waktu yang sunyi namun kuat secara spiritual. Suasana hening dan arsitektur lingkungan gereja yang asri memberi ruang bagi setiap umat untuk berdiam diri dalam hadirat Allah.

Ziarah Ditutup dengan Doa di Kerkhof Muntilan

Berdoa di Kerkhof Muntilan

Perjalanan kemudian dilanjutkan ke perhentian terakhir: Kerkhof Muntilan, kompleks makam para imam dan tokoh Katolik di Keuskupan Agung Semarang. Di tempat inilah terbaring jasad Romo Sanjaya, seorang imam pribumi yang dikenal gigih dalam karya kerasulan dan pendidikan. Di makam Romo Sanjaya, umat mendaraskan doa mohon syafaat para kudus dan mendoakan para imam yang telah mendahului.

Kami tetap semangat menyelesaikan ziarah Porta Sancta

“Ziarah ini mengingatkan kita bahwa iman bukanlah perjalanan singkat. Ia seperti napak tilas hidup, dari kelahiran hingga kembali ke rumah Bapa,” ungkap Gregorius Henry, Ketua Lingkungan St. Gregorius, dalam refleksi singkatnya. Ia juga menyampaikan rasa syukur atas partisipasi seluruh umat yang telah mengikuti ziarah ini dengan antusias dan penuh semangat.

Kebersamaan yang Menyegarkan Iman

Selain sebagai pengalaman rohani, ziarah ini juga mempererat tali persaudaraan antarumat lingkungan. Sepanjang perjalanan, tawa, nyanyian, dan cerita iman dibagikan satu sama lain. Di tengah tantangan zaman yang serba cepat dan individualistis, kegiatan seperti ini menjadi oase bagi kebersamaan yang sejati.

Ketua lingkungan dan tim panitia juga memberikan apresiasi kepada para donatur dan sponsor yang telah berkontribusi, serta kepada para peserta yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini dengan tertib dan penuh sukacita. “Kami mohon maaf jika dalam pelayanan selama ziarah masih ada kekurangan. Namun kami percaya bahwa semangat kita bersama telah membuat perjalanan ini berbuah,” ujar Henry.

Ziarah Porta Sancta ini ditutup dengan doa penutup sebelum perjalanan pulang. Wajah-wajah lelah namun penuh damai dan kebahagiaan menjadi bukti bahwa ziarah bukan sekadar bepergian secara fisik, melainkan perjalanan batin yang meneguhkan.

GMBA Maguwo Ikut Meriahkan Perayaan HUT ke-85 Keuskupan Agung Semarang di Stadion Jatidiri

Semarang, 29 Juni 2025 — Stadion Jatidiri Semarang menjadi saksi sukacita besar umat Katolik dalam perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-85 Keuskupan Agung Semarang (KAS), Minggu (29/6). Acara yang mengusung tema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkat” ini dihadiri oleh sekitar 30.000 umat dari seluruh penjuru Kevikepan, paroki, dan stasi. Tak ketinggalan, Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo turut mengambil bagian dalam perayaan akbar ini dengan mengirimkan 50 umat sebagai delegasi. Rombongan GMBA Maguwo berangkat dari Maguwoharjo pukul 10.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB.

Perwakilan Stasi GMBA Maguwo goes to Semarang

Semarak Penyambutan dan Hiburan Rohani

Sesampainya di stadion, suasana meriah langsung menyambut rombongan. Berbagai penampilan seni dari umat Katolik mewarnai panggung, mulai dari nyanyian, tarian, hingga drama monolog yang mencerminkan dinamika iman dan perjalanan gereja. Penampilan dr. Edward Tirtananda Wikanta, M.Biomed., juara 1 Lomba Cipta Lagu Rohani Pesparani LP3KD, memukau umat dengan lagu rohani ciptaannya yang penuh makna. Sebelumnya, artis Katolik Lisa A. Riyanto tampil menyanyikan lagu-lagu rohani yang semakin membangun suasana iman menjelang acara utama.

Arak-arakan Iman yang Menggugah

Pukul 15.30 WIB, arak-arakan akbar dilangsungkan. Barisan arak-arakan terdiri dari perwakilan TNI, Polri, seluruh Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang, instansi pendidikan Katolik, rumah sakit Katolik, serta para biarawan dan biarawati. Perwakilan panji-panji dari berbagai paroki turut memeriahkan perarakan ini. Dari GMBA Maguwo, Davina & Valen (OMK) mendapat kehormatan membawa panji Stasi Maguwo dalam barisan.

Perarakan yang semarak

Arak-arakan ini bukan sekadar tradisi, namun lambang nyata persatuan Gereja dalam keberagaman pelayanan.

Sambutan Pemimpin Gereja dan Pemerintahan

Usai perarakan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tokoh penting. Ketua panitia, Pak Riyanto, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan ribuan umat dan semua pihak yang mendukung kelancaran acara. Sambutan berikutnya datang dari Plt. Gubernur Jawa Tengah yang menekankan nilai kebersamaan lintas iman dan kontribusi Gereja dalam pembangunan masyarakat.

Sambutan Walikota Semarang

Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, SS., MM, juga hadir dan menyampaikan rasa bangganya atas kiprah Keuskupan Agung Semarang, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Simbol Syukur Lewat Tumpeng

Momentum berlanjut dengan potong tumpeng sebagai lambang syukur atas perjalanan panjang Keuskupan Agung Semarang yang telah mencapai usia 85 tahun. Tumpeng dipotong oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dan secara simbolis diserahkan kepada Plt. Gubernur Jawa Tengah, Plt. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Wali Kota Semarang. Prosesi ini mencerminkan semangat sinergi antara Gereja dan pemerintah dalam melayani masyarakat.

Prosesi Pemotongan Tumpeng

Setelah itu, dilakukan sesi foto bersama yang melibatkan para tokoh penting: Mgr. Rubiyatmoko, Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Uskup Antonius Benjamin dari Keuskupan Bandung, serta para pejabat daerah yang hadir.

Pertunjukan Unik dan Penghargaan Katekis

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan story telling yang sangat menarik dari adik Kazio Sunanto, siswa SD Marsudirini BSB. Sebagai juara 1 Lomba Story Telling PIA, Kazio membawakan kisah inspiratif dalam Bahasa Inggris — sebuah penampilan yang menyegarkan dan membanggakan.

Tak lama setelah itu, Rm. Yohanes Gunawan membacakan pengumuman Sarikromo Award, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada lima katekis dari lima Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang. Para katekis ini dipilih berdasarkan kesetiaan dan dedikasi mereka dalam mewartakan kabar keselamatan sebagai murid-murid Kristus di tengah masyarakat.

Semangat Kaum Muda: Kosmus Karangpanas

Semangat anak-anak muda Gereja tampak dalam penampilan dari Kosmus (Komunitas Seni dan Musik) Karangpanas. Mereka membawakan lagu-lagu rohani secara meriah dan penuh penghayatan. Penampilan ini menjadi lebih istimewa karena mereka adalah peraih Juara 1 Lomba Cover Lagu Madah Bakti dan Kidung Adi. Suara merdu dan aransemen kreatif dari Kosmus menambah warna dalam perayaan iman ini.

Puncak Perayaan: Misa Syukur HUT ke-85 KAS

Tepat pukul 17.30 WIB, Perayaan Ekaristi dimulai. Misa Syukur dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, bersama para uskup dan imam konselebran.

Mgr Rubi memimpin misa

Homili disampaikan oleh Kardinal Ignatius Suharyo. Dalam homilinya, Kardinal menyampaikan pesan yang mendalam tentang pertumbuhan iman dan kesetiaan sebagai murid Kristus.

Ia mengajak umat untuk merenungkan panggilan hidup sebagai Gereja yang terus bertumbuh dalam kasih dan kesetiaan.

“Bertumbuh menuju kesempurnaan kasih, bertumbuh menuju kesempurnaan kesetiaan, semakin serupa sebagai citra Allah,”

tegas Kardinal Suharyo, menyemangati umat agar senantiasa menjadi terang dan garam di dunia.

Homili oleh Kardinal Ign. Suharyo

Ekaristi berlangsung dengan khidmat. Stadion yang biasanya diisi sorak-sorai olahraga, kini menjadi ruang doa yang penuh penghayatan. Ribuan umat mengikuti misa dengan tertib, menciptakan suasana sakral yang menyentuh hati.

Akhir yang Damai dan Merdu

Setelah misa selesai, umat meninggalkan stadion secara tertib dan rapi. Panitia mengatur arus keluar dengan baik, dan suasana tetap kondusif. Sambil menunggu giliran keluar, umat kembali dihibur dengan penampilan spesial dari Siska Saras JKT48 yang membawakan lagu-lagu rohani dengan suara merdu dan penghayatan yang menyentuh. Kehadirannya memberi penutup yang manis dan meneduhkan bagi seluruh rangkaian acara hari itu.

Ucapan HUT dan Penutup

Perayaan HUT ke-85 Keuskupan Agung Semarang ini bukan hanya menjadi peristiwa seremoni, tetapi sebuah kesaksian nyata akan hidupnya Gereja di tengah umat. Bagi GMBA Maguwo, kesempatan hadir dan terlibat dalam momen besar ini menjadi pengalaman iman yang sangat berharga — sebuah ziarah rohani bersama ribuan umat Katolik lainnya.

Dari Maguwo hingga Semarang, dari anak-anak hingga para uskup, semua bersatu dalam semangat ziarah dan pelayanan. Tema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkat” sungguh terwujud dalam tindakan nyata sepanjang acara.

Atas nama seluruh umat GMBA Maguwo dan segenap umat Keuskupan Agung Semarang:

Selamat Ulang Tahun ke-85 Keuskupan Agung Semarang!

Semoga senantiasa menjadi Gereja yang bertumbuh dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kemuliaan Tuhan.

Ad multos annos!

Foto & video dokumentasi dapat diunduh di link berikut

Download

30 Tahun Perjalanan Iman dan Kebersamaan: HUT Lingk. St. Gregorius

Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.

Umat hadir dari berbagai usia

Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.

Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.

Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.

Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan

Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.

Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan

Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.

Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius

Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.

Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:

  1. Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
  2. adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.

Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior

Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus

Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.

Past, present and future

Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan

Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.

Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius

Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.

Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:

  1. Lingkungan St. Bartholomeus, dan
  2. Lingkungan St. Stefanus

Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.

Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius

Penutup yang Penuh Sukacita.

Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.

Semua bersyukur, semua gembira

Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius!
Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.

Doa Rosario dan Renungan Bulan Katekese Liturgi 3, Lingkungan St. Gregorius

Merenungkan Iman dan Kesetiaan kepada Kristus

Kamis malam, 15 Mei 2025 — Suasana hujan rintik-rintik, teduh dan penuh hikmat menyelimuti kediaman Ibu Ritta ketika sekitar sepuluh umat dari berbagai usia berkumpul untuk mengikuti Renungan Bulan Katekese yang diadakan pukul 19.00 WIB. Acara ini merupakan bagian dari rangkaian pembinaan iman yang dilaksanakan secara sederhana namun sarat makna, di tengah kehidupan umat yang rindu akan penguatan rohani.

Renungan malam itu berfokus pada tujuh bacaan Injil yang dikutip dari kitab Yohanes. Setiap bacaan menyentuh tema-tema mendalam seputar pengharapan, kesetiaan, relasi personal dengan Tuhan, serta makna persekutuan dalam iman.

Berikut urutan bacaan yang direnungkan:

  1. Pengharapan (Yohanes 6:56) – “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.”
  2. Setia pada Yesus (Yohanes 6:68) – “Tuhan, kepada siapa kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal.”
  3. Dekat dan Lekat dengan Tuhan (Yohanes 10:29-30) – “Aku dan Bapa adalah satu.”
  4. Pintu Menuju Keselamatan (Yohanes 10:9) – “Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat.”
  5. Mendengarkan Tuhan (Yohanes 10:27) – “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku.”
  6. Beriman dengan Berelasi (Yohanes 15:9) – “Tinggallah di dalam kasih-Ku.”
  7. Beriman dalam Persekutuan (Yohanes 13:20) – “Barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku.”

Setiap kutipan Injil dibacakan secara bergantian oleh umat yang hadir, disertai permenungan singkat dan refleksi pribadi. Meski berlangsung dalam lingkup kecil, nuansa kebersamaan dan semangat untuk bertumbuh dalam iman begitu terasa.

Acara ini tidak hanya menjadi ajang untuk merenungkan firman Tuhan, tetapi juga mempererat ikatan sebagai satu Tubuh Kristus. Dalam semangat communio, umat diajak untuk tidak hanya mengimani Yesus dalam hati, tetapi juga menghadirkan-Nya dalam kehidupan sehari-hari melalui kesetiaan dan kasih.

Renungan Bulan Katekese akan dilanjutkan kembali pada Senin, 19 Mei 2025 di tempat yang akan diumumkan kemudian.