Koor Lingkungan St. Elisabeth : Persembahan Terbaik bagi Tuhan

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita.” (Mazmur 100:2)

Dalam persiapan tugas koor misa tanggal 31 Mei 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth melakukan persiapan atau latihan bersama berkali kali demi kelancaran tugas koor. Latihan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dan panti koor Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Dalam kehidupan menggereja, koor atau paduan suara memiliki peranan penting dalam membantu umat menghayati perayaan liturgi. Melalui nyanyian, umat diajak untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, latihan koor yang dilakukan oleh umat lingkungan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pelayanan dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum bertugas dalam perayaan Ekaristi atau ibadah lainnya. Setiap anggota koor meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempelajari lagu-lagu liturgi, menyelaraskan suara, memahami makna lagu, serta membangun kekompakan dalam pelayanan. Semua usaha tersebut dilakukan demi menghadirkan nyanyian yang indah dan membantu umat berdoa dengan lebih baik.

Dalam suasana kebersamaan, para anggota belajar saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, dan bekerja sama mencapai tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan. Semangat persaudaraan ini mencerminkan kehidupan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Latihan yang dilakukan secara rutin juga menunjukkan kesungguhan umat dalam melayani. Mereka menyadari bahwa pelayanan liturgi bukanlah tentang menampilkan kemampuan pribadi, melainkan tentang mempersembahkan talenta yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, setiap anggota koor berusaha memberikan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Melalui latihan yang tekun, nyanyian yang dibawakan saat perayaan menjadi lebih harmonis dan penuh penghayatan. Keharmonisan suara yang tercipta bukan hanya menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menjadi sarana pewartaan iman yang menggerakkan hati umat. Nyanyian yang dipersiapkan dengan baik dapat membantu umat merasakan kehadiran Tuhan dan semakin terlibat dalam perayaan liturgi.

Oleh karena itu, latihan koor lingkungan hendaknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman dan pelayanan. Setiap nada yang dilatih, setiap waktu yang dikorbankan, dan setiap usaha yang dilakukan merupakan persembahan yang berharga di hadapan Tuhan. Dengan semangat pelayanan yang tulus, umat lingkungan dapat terus menghadirkan pujian yang indah sebagai persembahan terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Latihan koor bukan hanya tentang belajar bernyanyi, tetapi tentang mempersiapkan hati untuk melayani. Melalui kebersamaan, disiplin, dan ketekunan dalam berlatih, umat lingkungan menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan. Semoga setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa yang hidup dan membawa semakin banyak orang untuk memuliakan Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sembahyangan Rutin, BKL, Doa Rosario, dan Latihan Koor St. Elisabeth

Tanggal 28 Mei 2026, Lingkungan St. Elisabeth kembali berkumpul untuk mengikuti Sembahyangan Rutin, Pembacaan buku BKL, lalu Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Deddy, kemudian dilanjutkan dengan Latihan Koor untuk mengisi tugas koor pada misa hari Minggu, tanggal 31 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Sembahyangan yang dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dengan 23 umat yang hadir berlangsung dengan khidmat, namun tetap guyub.

Berdoa Rosario Menjadi Pengalaman Iman yang Menyejukkan

Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.

Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.

Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.

Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.

Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth: Kerendahan Hati untuk Melayani

Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.

Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.

Paskahan Lingkungan St. Elisabeth

23 April 2026, di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan Perayaan Paskahan Lingkungan Bersama. Paskahan dihadiri oleh hampir seluruh umat di Lingkungan St. Elisabeth, yaitu 38 umat. Diawali dengan sembahyangan yang dipimpin Mbak Vera.

Renungan dalam sembahyangan diambil dari Bacaan Injil Yohanes 6:44-51. Bacaan ini berisi tentang Yesus yang berkata bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya kalau tidak ditarik oleh Bapa. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga karena kasih dan panggilan Allah yang terlebih dahulu menyentuh hati kita. Tuhan selalu mencari dan mengundang setiap orang untuk datang lebih dekat kepada-Nya.

Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “roti hidup yang turun dari surga.” Roti adalah makanan yang memberi kekuatan dan kehidupan. Namun roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan jasmani, melainkan kehidupan kekal. Banyak orang mencari kebahagiaan dari harta, pujian, atau kesenangan dunia, tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia. Hanya Yesus yang mampu mengisi kekosongan hati dan memberi damai sejati.

Sebagai orang muda maupun keluarga Kristiani, kita sering merasa lelah menghadapi masalah, tugas, konflik, atau rasa kecewa. Dalam keadaan itu, Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dan menjadikan-Nya sumber kekuatan hidup. Ketika kita rajin berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Ekaristi, hati kita perlahan diperbarui oleh Tuhan.

Bacaan ini juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima Yesus harus menjadi “roti” bagi sesama. Artinya, kita dipanggil untuk membawa kasih, penghiburan, perhatian, dan bantuan bagi orang lain. Kehadiran kita seharusnya membawa kehidupan dan sukacita, bukan luka atau kebencian.

Semoga melalui sabda hari ini, kita semakin percaya kepada Yesus Sang Roti Hidup, dan menjadikan-Nya pusat dalam hidup kita setiap hari.

Setelah Sembahyangan selesai, acara Paskahan dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih bagi umat yang sebelumnya sempat sakit dan opname di Rumah Sakit, yaitu Pak Deddy, dan Mbah Cipto. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dan games yang menyenangkan lalu makan bersama. Acara Paskahan Lingkungan St. Elisabeth tahun ini berlangsung sangat sederhana namun sangat meriah karna banyak umat yang hadir dan bergembira bersama. Kami masing-masing bisa pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.

Mengambil langkah Pertama Dalam Menolong Sesama

Pertemuan APP ke-5

Pada tanggal 26 Maret 2026, umat Lingkungan Elisabeth mengadakan pertemuan APP kelima di Pendopo Mbah Cipto. pertemuan APP yang terakhir ini dihadiri 27 orang. Petugas pemimpin ibadat APP kali ini mengemas renungan dengan apik. Umat diajak menyaksikan cerita melalui proyektor. Sebuah kisah tentang seorang tukang ojek yang bisu tuli namun tetap menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Pada suatu hari, dia mengalami musibah, barang yang akan dia antar dicuri oleh sekelompok anak. Saat pencuri itu tertangkap dan orang-orang akan menghakimi pencuri tersebut, si bisu tuli ini justru menolong. Saat mengetahui si pencuri kelaparan, dia mengajaknya makan, dan memaafkan. Dari sini kita bisa memetik nilai moral, bahwa cinta kasih dapat berlaku untuk dan oleh siapa saja. Entah dia dalam keadaan yang kekurangan sekalipun, masih bisa berbagi kasih. Bahkan seorang penjahat sekalipun, berhak mendapatkan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat berbagai bentuk penderitaan di sekitar kita, kemiskinan, kesepian, ketidakadilan, dan berbagai kesulitan lainnya. Namun, tidak jarang kita memilih untuk diam atau menunda untuk bertindak, entah karena merasa tidak mampu, takut, atau menganggap itu bukan tanggung jawab kita. Pertemuan APP ke-5 ini mengajak kita untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Lukas 9:1-6.

Dalam bacaan tersebut, Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya dan mengutus mereka untuk pergi memberitakan Kerajaan Allah serta menyembuhkan orang sakit. Menariknya, Yesus tidak membekali mereka dengan banyak hal secara materi. Ia bahkan melarang mereka membawa bekal berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, melainkan keberanian untuk melangkah dan kepercayaan kepada Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa untuk menolong orang lain, kita harus memiliki banyak hal terlebih dahulu. Uang yang cukup, waktu yang longgar, atau kemampuan yang luar biasa. Padahal, Tuhan hanya meminta kita untuk memulai dari apa yang kita punya. Langkah kecil yang kita ambil dengan tulus dapat membawa dampak besar bagi orang lain.

Mengambil langkah pertama memang tidak selalu mudah. Ada rasa ragu, takut ditolak, atau khawatir tidak bisa membantu secara maksimal. Namun, melalui kisah ini, kita diajak untuk percaya bahwa Tuhan menyertai setiap usaha baik kita. Ketika kita berani melangkah, Tuhan bekerja melalui kita.

Menolong sesama tidak harus selalu dalam bentuk besar. Hal sederhana seperti mendengarkan, memberi perhatian, membantu teman yang kesulitan, atau berbagi dengan yang membutuhkan sudah menjadi wujud nyata kasih. Yang terpenting adalah hati yang peduli dan kemauan untuk bertindak.

Melalui pertemuan ini, kita diajak untuk tidak lagi menunda. Mari mulai dari langkah kecil, dari lingkungan terdekat kita, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Ketika kita berani mengambil langkah pertama, kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan kasih dan harapan bagi sesama.


Mari kita berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu. Karena dalam setiap tindakan kasih, Tuhan hadir dan bekerja melalui kita.

Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Doa yang Mengikat, Kasih yang Menguatkan

-APP 1- Paguyuban-Valentine Lingkungan St. Elisabeth-

Kamis, 26 Februari 2026. Senja berganti malam dengan cuaca yang begitu bersahabat. Di kediaman Ibu Asih, umat lingkungan berkumpul dalam suasana penuh syukur. Puji Tuhan, sebanyak 36 umat hadir mengikuti sembayangan lingkungan malam itu.

Pertemuan APP ke-1 dipimpin oleh Pak Agus dan Mbak Tika. Kegiatan diawali dengan lagu “Di Jenjang Maaf” yang mengalun lembut, membawa setiap hati masuk dalam suasana refleksi, kerendahan hati, dan kebersamaan.

Tema APP ke-1 kali ini adalah “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawal Aksi.” Dalam pertemuan ini, umat diajak melihat secara nyata kondisi lingkungan—baik tantangan yang dihadapi maupun potensi yang dapat dikembangkan. Umat juga diajak menyadari pentingnya data sebagai dasar perencanaan, agar setiap gerakan dan aksi yang dilakukan sungguh tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dinamika pertemuan terasa hidup. Pemandu membuka ruang sharing tentang kondisi pribadi dan kehidupan sehari-hari. Satu per satu umat berbagi dengan tulus. Setiap tanggapan disambut dengan sukacita, menciptakan suasana hangat yang penuh empati dan persaudaraan.

Usai pertemuan APP, dilaksanakan edaran kolekte untuk mendukung aksi Paskah lingkungan, sebagai wujud nyata solidaritas dan kepedulian bersama.

Momen penuh makna juga hadir dalam pemberian tanda kasih kepada Pak Agus, Bu Agus, dan Michael yang diwakili oleh Pak Suradi, atas penerimaan Sakramen Krisma. Ungkapan syukur dan doa mengiringi perjalanan iman yang semakin diteguhkan.

Karena masih dalam suasana Valentine, kebersamaan malam itu semakin semarak dengan kegiatan tukar kado. Umat kompak mengenakan pakaian serba pink, menambah warna dan keceriaan. Tukar kado berlangsung seru, penuh tawa dan kejutan.

Tidak berhenti di situ, kebersamaan dilanjutkan dengan kegiatan paguyuban seperti arisan dan lotre sederhana. Meski hadiahnya sederhana, kebahagiaan yang terpancar begitu nyata. Tawa dan sorak gembira memenuhi ruangan saat nama-nama pemenang diumumkan.

Malam itu bukan sekadar pertemuan, tetapi perayaan kebersamaan. Semoga Lingkungan Santa Elisabeth semakin romantis dalam kasih, semakin hidup dalam pelayanan, dan semakin guyub dalam persaudaraan. (*Vera)

Link Instagram : https://www.instagram.com/p/DVXzpU4Dw4u/

PERAYAAN EKARISTI PERINGATAN 1000 HARI BERPULANGNYA BPK. ANDREAS SUYANTO

Pada Hari Minggu, 8 Februari 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Perayaan Ekaristi untuk memperingati berpulangnya Bapak Andreas Suyanto, Bapak dari Bapak Mikko Prihantoro Nugroho. Ibadat Ekaristi dimulai pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh 100 umat lebih. Umat terdiri dari umat lingkungan St. Elisabeth dan para tamu undangan. Misa Ekaristi ini dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Dalam Ekaristi kali ini, Romo Dadang menekankan tentang Tuhan yang Sungguh Hadir.

Dalam bacaan pertama, Kitab 1 Raja-raja 8:1–7, 9–13, diceritakan bagaimana Raja Salomo memindahkan Tabut Perjanjian ke dalam Bait Suci. Ketika para imam keluar dari tempat kudus, awan memenuhi rumah Tuhan. Kemuliaan Tuhan begitu nyata sampai para imam tidak tahan berdiri untuk melayani. Itu tanda bahwa Tuhan benar-benar hadir di tengah umat-Nya.

Menariknya, yang ada di dalam Tabut hanya dua loh batu, tanda perjanjian Tuhan dengan umat-Nya. Artinya, bukan kemegahan bangunan yang membuat Tuhan hadir, tetapi kesetiaan-Nya pada janji dan relasi dengan umat.

Dalam bacaan Injil, pada Injil Markus 6:53–56, kita melihat kehadiran Tuhan dalam diri Yesus Kristus. Ke mana pun Yesus pergi, orang-orang membawa yang sakit kepada-Nya. Bahkan yang hanya menyentuh jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Tidak ada awan atau gemuruh, tetapi hadirat Tuhan sungguh nyata lewat sentuhan, belas kasih, dan pemulihan.

Dari dua bacaan ini kita belajar:

Tuhan hadir dalam kemuliaan-Nya yang agung.

Tuhan juga hadir dalam kelembutan dan kasih-Nya yang menyembuhkan.

Tuhan tidak jauh, Dia hadir ketika kita membuka hati.

Hari ini, Tuhan tidak lagi hadir dalam awan di atas Tabut, tetapi dalam hati kita yang menjadi bait-Nya. Saat kita berdoa dengan tulus, saat kita percaya dan datang kepada-Nya, hadirat-Nya nyata.

Pada bacaan ini, kita merenungkan bahwa orang yang meninggal tidak benar-benar tiada. Dia masih hadir meski dalam wujud yang berbeda. Bagi kita yang ditinggalkan, tidak perlu bersedih, tidak perlu berduka yang berlarut-larut, cukup kita doakan dengan tulus, maka mereka akan tetap hadir di hati kita masing-masing, dan kita harus tetap melanjutkan misi dari Tuhan dalam perziarahan hidup kita.  

Semoga Bapak Andreas Suyanto beristirahat dalam damai abadi di surga, berada di sisi Bapa bersama para kudusNya, dan memperoleh kebahagiaan kekal. Serta kita yang masih berziarah di bumi ini bisa melanjutkan karya Tuhan dan memberi yang terbaik dari diri kita untuk kebaikan sesama dan lingkungan.