Line Dance St. Elisabeth

Tanggal 14 Juni 2026. Lingkungan St. Elisabeth turut memeriahkan Acara HUT Gereja Maria Bunda Allah dengan mempersembahkan Line Dance.

Dalam perayaan ini, selain memperingati HUT GMBA, kami juga bersuka cita karna GMBA sudah resmi menjadi Paroki Administratif. Setelah misa, seluruh umat diajak untuk berpesta Bakso dan Soto yang dipersembahkan oleh 14 lingkungan di Paroki Administratif GMBA. Sembari menikmati hidangan, umat juga disuguhi beberapa hiburan, salah satunya Line Dance persembahan dari Lingkungan St. Elisabeth ini.

Lingkungan Elisabeth sudah mempersiapkan 2x seminggu untuk berlatih bersama selama kurang lebih 2 bulan.

Kasih adalah yang Utama dari Kehidupan Orang Beriman

Pada tanggal 4 Juni, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan Rutin yang bertempat di Pendopo Mbah Cipto. Dalam sembahyangan kali ini, kami merenungkan Injil Markus 12:28–34. Dalam injil ini bercerita bagaimana seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” Yesus menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan, serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini.

Ahli Taurat itu memahami bahwa kasih kepada Allah dan sesama jauh lebih berharga daripada segala kurban dan persembahan. Melihat jawabannya, Yesus berkata, “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah.”

Pesan ini mengingatkan kita bahwa iman bukan hanya tentang menjalankan aturan atau mengikuti ibadah secara lahiriah. Iman yang sejati tampak dalam kasih yang diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mengasihi Tuhan berarti menempatkanNya sebagai pusat hidup, setia berdoa, mendengarkan sabdaNya, dan melakukan kehendakNya. Mengasihi sesama berarti menghargai setiap orang, mau mengampuni, menolong yang membutuhkan, serta menjaga martabat setiap manusia.

Yang perlu kita renungkan bersama adalah,

  1. Apakah saya sungguh mengasihi Tuhan dengan seluruh hidup saya?
  2. Apakah kasih saya kepada sesama terlihat dalam tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekitar?
  3. Sudahkah saya menunjukkan kasih kepada ciptaan Tuhan dengan mengasihi sesama?

“Tuhan Yesus, ajarlah kami mengasihiMu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kami. Bukalah hati kami agar mampu mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan, serta peduli terhadap seluruh ciptaanMu. Semoga setiap perkataan, tindakan, dan keputusan kami menjadi wujud nyata kasih yang Engkau ajarkan. Amin.”

Pengumpulan Bahan Daur Ulang Lingkungan St. Elisabeth

Dalam rangka mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan sebagai wujud syukur atas ciptaan Tuhan, sekaligus membantu mengurangi sampah, Paroki memiliki program yang sudah lama berlangsung, yaitu mengadakan Pengumpulan Bahan Daur Ulang. Kegiatan ini juga dapat menjadi bagian dari aksi nyata dalam semangat menjaga lingkungan.

Kegiatan ini bertujuan:

  • Mengurangi sampah yang berakhir di TPA.
  • Mengajak umat membiasakan memilah sampah dari rumah.
  • Menumbuhkan semangat menjaga kelestarian ciptaan Tuhan.
  • Menggalang dana sosial dari hasil penjualan bahan daur ulang.
  • Menumbuhkan rasa cinta lingkungan dari lingkup yang paling kecil, yaitu keluarga.

Barang yang dikumpulkan berupa:

  • Botol plastik (PET)
  • Gelas plastik
  • Kardus
  • Kertas dan koran bekas
  • Kaleng minuman
  • Botol kaca
  • Minyak jelantah (dalam botol tertutup)
  • Tutup botol plastik

Biasanya di lingkungan St. Elisabeth pengumpulan BDU dilakukan tiap minggu keempat di hari yang telah disepakati bersama di rumah Keluarga Bapak Suradi, yang kemudian barang-barang dibersihkan, dipilah, dirapikan, disatukan dan dikumpulkan ke Gereja untuk ditimbang bersama.

Melalui langkah sederhana ini, kita bersama-sama mengurangi sampah, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghadirkan kasih Tuhan kepada sesama melalui pemanfaatan hasil daur ulang untuk karya sosial gereja.

“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)

Mari bersama menjaga bumi, rumah kita bersama.

Koor Lingkungan St. Elisabeth : Persembahan Terbaik bagi Tuhan

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita.” (Mazmur 100:2)

Dalam persiapan tugas koor misa tanggal 31 Mei 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth melakukan persiapan atau latihan bersama berkali kali demi kelancaran tugas koor. Latihan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dan panti koor Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Dalam kehidupan menggereja, koor atau paduan suara memiliki peranan penting dalam membantu umat menghayati perayaan liturgi. Melalui nyanyian, umat diajak untuk berdoa, memuji, dan memuliakan Tuhan dengan lebih khusyuk. Oleh karena itu, latihan koor yang dilakukan oleh umat lingkungan bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan sebuah bentuk pelayanan dan persembahan yang tulus kepada Tuhan.

Latihan koor menjadi sarana bagi umat untuk mempersiapkan diri secara sungguh-sungguh sebelum bertugas dalam perayaan Ekaristi atau ibadah lainnya. Setiap anggota koor meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempelajari lagu-lagu liturgi, menyelaraskan suara, memahami makna lagu, serta membangun kekompakan dalam pelayanan. Semua usaha tersebut dilakukan demi menghadirkan nyanyian yang indah dan membantu umat berdoa dengan lebih baik.

Dalam suasana kebersamaan, para anggota belajar saling mendukung, menghargai perbedaan kemampuan, dan bekerja sama mencapai tujuan yang sama, yaitu memuliakan Tuhan. Semangat persaudaraan ini mencerminkan kehidupan Gereja sebagai satu tubuh Kristus yang saling melengkapi.

Latihan yang dilakukan secara rutin juga menunjukkan kesungguhan umat dalam melayani. Mereka menyadari bahwa pelayanan liturgi bukanlah tentang menampilkan kemampuan pribadi, melainkan tentang mempersembahkan talenta yang telah dianugerahkan Tuhan. Dengan hati yang rendah dan penuh syukur, setiap anggota koor berusaha memberikan yang terbaik sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan.

Melalui latihan yang tekun, nyanyian yang dibawakan saat perayaan menjadi lebih harmonis dan penuh penghayatan. Keharmonisan suara yang tercipta bukan hanya menyenangkan untuk didengar, tetapi juga menjadi sarana pewartaan iman yang menggerakkan hati umat. Nyanyian yang dipersiapkan dengan baik dapat membantu umat merasakan kehadiran Tuhan dan semakin terlibat dalam perayaan liturgi.

Oleh karena itu, latihan koor lingkungan hendaknya dipandang sebagai bagian dari perjalanan iman dan pelayanan. Setiap nada yang dilatih, setiap waktu yang dikorbankan, dan setiap usaha yang dilakukan merupakan persembahan yang berharga di hadapan Tuhan. Dengan semangat pelayanan yang tulus, umat lingkungan dapat terus menghadirkan pujian yang indah sebagai persembahan terbaik bagi kemuliaan Tuhan.

Latihan koor bukan hanya tentang belajar bernyanyi, tetapi tentang mempersiapkan hati untuk melayani. Melalui kebersamaan, disiplin, dan ketekunan dalam berlatih, umat lingkungan menunjukkan rasa syukur dan cintanya kepada Tuhan. Semoga setiap lagu yang dinyanyikan menjadi doa yang hidup dan membawa semakin banyak orang untuk memuliakan Tuhan.

“Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

Sembahyangan Rutin, BKL, Doa Rosario, dan Latihan Koor St. Elisabeth

Tanggal 28 Mei 2026, Lingkungan St. Elisabeth kembali berkumpul untuk mengikuti Sembahyangan Rutin, Pembacaan buku BKL, lalu Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Deddy, kemudian dilanjutkan dengan Latihan Koor untuk mengisi tugas koor pada misa hari Minggu, tanggal 31 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Sembahyangan yang dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto dengan 23 umat yang hadir berlangsung dengan khidmat, namun tetap guyub.

Sembahyangan Rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor Lingkungan St. Elisabeth

Pada 21 Mei 2026, pukul 19.00, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan sembahyangan rutin kamisan, Doa Rosario, Perkumpulan Paguyuban Ibu-Ibu, kemudian dilanjutkan dengan latihan koor. Kegiatan malam ini diikuti oleh 31 orang umat.

Pertemuan diawali dengan pembacaan buku BKL untuk hari ke 21 dan 22. BKL dipimpin oleh Mas Heru. Kemudian dilanjutkan dengan Doa Rosario yang dipimpin oleh Pak Suradi. Lalu lanjut dengan Pertemuan Ibu-Ibu yang diisi dengan pembacaan laporan keuangan, pengumuman, arisan, dan lotre. Selanjutnya pertemuan malam ini ditutup dengan Latihan Koor untuk tugas misa minggu terakhir bulan Mei yang dipimpin oleh Bu Padmi dan Bu Vera. Seperti biasa, semua berlangsung dengan meriah, dan lancar.

Instagram:

Sembayangan rutin, Doa Rosario, BKL, Paguyuban dan Latihan Koor….
https://www.instagram.com/reel/DYr7ZU2PMNm/?igsh=dzF1cmxmeXVxazZu

Lingkungan St. Elisabeth Doa Rosario bersama di Gereja

Tanggal 20 Mei 2026, pukul 19.00 Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan BKL dan Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah. Doa Rosario dipimpin oleh Bapak Suradi.

Doa bersama di Gereja ini sudah disepakati oleh seluruh umat di Stasi Maguwo dalam rangka penyambutan akan dibentuknya status baru Gereja Maria Bunda Allah, dari stasi menjadi Paroki Administratif pada tanggal 2 Juni 2026 nanti.

Dalam rangka penyambutan status baru ini, seluruh umat, baik dari tiap lingkungan maupun komunitas di stasi Maguwo berdoa Rosario di Gereja secara bergantian setiap harinya selama bulan Mei.

Meski cuaca agak mendung dan sebelumnya sempat sedikit hujan tapi semangat untuk berkumpul dan berdoa bersama tetap berkobar. Doa Rosario malam ini dilaksanakan di depan Patung Bunda Maria halaman depan gereja. Semoga kegiatan ini dapat berlangsung dengan lancar dan semangat untuk berkumpul dan berdoa tetap kuat untuk setiap lingkungan dan komunitas di Maguwo.

Instagram :

Doa Rosario bersama di Gereja Maria Bunda Allah …
https://www.instagram.com/reel/DYr6fPnvWpl/?igsh=MW1kNnM2cmR6dDl3dA==

Jumat Bersih Ala Wilayah Loyola: Lingkungan Santa Elisabeth Turut Guyub Merawat Gereja, Hangat Mempererat Persaudaraan

Semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap lingkungan terasa begitu hangat dalam kegiatan Jumat Bersih yang diselenggarakan Wilayah Ignatius Loyola pada Jumat, 8 Mei 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Perwakilan umat dari 5 lingkungan di Wilayah Ignatius Loyola hadir dan bergotong royong menciptakan suasana Gereja yang bersih, nyaman, dan asri untuk seluruh umat.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan dari Lingkungan Santa Clara, Santo Fransiskus Asisi, Santo Gabriel, Santo Yohanes Pembaptis, serta Santa Elisabeth. Kehadiran para umat semakin menambah semarak suasana guyub yang menjadi ciri khas kebersamaan Wilayah Ignatius Loyola. Dari Lingkungan Santa Elisabeth, hadir Pak Dedy, Pak Gusadi, Pak Suradi, Mbak Dita, Mas Heru, dan Mbak Vera yang dengan penuh semangat turut ambil bagian dalam kerja bakti tersebut.

Sejak kegiatan dimulai, setiap umat langsung mengambil peran masing-masing. Ada yang menyapu halaman, mengelap area dalam Gereja, membersihkan sudut-sudut ruangan, hingga merapikan lingkungan sekitar Gereja. Semua dilakukan dengan sukacita, mencerminkan semangat pelayanan, dan kebersamaan yang hidup di tengah umat.

Tidak hanya berfokus pada kebersihan, kegiatan Jumat Bersih kali ini juga diwarnai aksi peduli lingkungan. Dipimpin Ketua Wilayah, Mas Bono, beberapa bapak dan kaum muda berinisiatif mengolah sampah daun menjadi kompos. Daun-daun kering dikumpulkan lalu dicacah menggunakan mesin sebagai langkah awal pembuatan pupuk kompos. Kegiatan ini menjadi bentuk nyata kepedulian umat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus pemanfaatan sampah organik secara bijak dan bermanfaat.

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, suasana keakraban semakin terasa saat umat berkumpul menikmati hidangan ringan bersama di halaman belakang Gereja. Canda dan obrolan hangat mengiringi santapan sederhana seperti combro, kletikan, tahu krispi, dan donat yang menambah erat rasa persaudaraan antarumat.

Melalui kegiatan Jumat Bersih ini, Wilayah Ignatius Loyola tidak hanya membersihkan lingkungan gereja, tetapi juga menumbuhkan semangat guyub, pelayanan, dan kepedulian bersama. Semoga kebersamaan yang terjalin semakin mempererat rasa gayeng dan akrab dalam kehidupan menggereja sehari-hari.

Berdoa Rosario Menjadi Pengalaman Iman yang Menyejukkan

Suasana hangat penuh kebersamaan kembali terasa dalam pertemuan rutin Lingkungan Santa Elisabeth yang dilaksanakan pada Kamis malam, 7 Mei 2026. Bertempat di Pendopo Mbah Cipto, dengan petugas snack keluarga Bapak Sampurno, sekitar 25 umat hadir untuk bersama-sama membangun iman melalui doa dan kebersamaan.

Malam itu, rangkaian kegiatan lingkungan diisi dengan BKL, doa Rosario, serta latihan koor. Dalam suasana yang teduh dan penuh kekhusyukan, umat diajak untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Lastri. Sementara itu, Bapak Bagio dan Mbak Dita bertugas membawakan renungan BKL dan doa-doa ibadat dengan penuh penghayatan.

Lantunan doa Salam Maria yang didaraskan bersama menghadirkan suasana damai dan menyejukkan hati. Kebersamaan sederhana seperti inilah yang menjadi kekuatan bagi umat untuk terus bertumbuh dalam iman dan persaudaraan di tengah kehidupan sehari-hari.

Setelah ibadat selesai, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman lingkungan dan latihan koor. Lingkungan Santa Elisabeth mendapat tugas pelayanan koor pada misa Minggu terakhir bulan Mei. Dengan penuh semangat, umat mulai berlatih lagu pembuka sebagai persiapan untuk mendukung perayaan ekaristi nanti.

Melalui pertemuan rutin ini, Lingkungan Santa Elisabeth tidak hanya mempererat persaudaraan antarumat, tetapi juga menumbuhkan semangat pelayanan dan kehidupan doa yang semakin hidup. Semoga kebersamaan dalam doa Rosario ini terus menjadi pengalaman iman yang meneguhkan dan menyejukkan hati setiap umat.

Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth: Kerendahan Hati untuk Melayani

Sembahyangan Lingkungan Rutin Kamisan pada tanggal 30 April 2026 dilaksanakan di Rumah Ibu Lastri. Sembahyangan dipimpin oleh Mas Heru. Meskipun umat yang hadir kali ini terhitung sedikit yakni 12 umat, karna kesibukan masing-masing, namun sembahyangan berlangsung dengan khidmat, dan membawa perenungan yang baik bagi diri masing-masing.

Dalam bacaan Injil Yohanes 13:16-20, yang diambil dalam renungan hari ini, Yesus mengajarkan tentang kerendahan hati dan pelayanan. Setelah membasuh kaki para murid-Nya, Yesus berkata bahwa seorang hamba tidak lebih tinggi daripada tuannya. Melalui tindakan sederhana itu, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam pelayanan kepada sesama.

Di dunia sekarang, banyak orang ingin dihormati, dipuji, dan dianggap paling hebat. Namun Yesus justru memberi teladan yang berbeda. Walaupun Ia adalah Guru dan Tuhan, Ia rela merendahkan diri untuk melayani. Dari sini kita belajar bahwa kebesaran seseorang tidak dilihat dari jabatan atau kekuasaan, melainkan dari hati yang mau melayani dengan tulus.

Dalam kehidupan sehari-hari, melayani bisa dimulai dari hal-hal kecil: membantu orang tua di rumah, mendengarkan teman yang sedang sedih, atau peduli kepada orang yang membutuhkan. Kadang pelayanan itu tidak mendapat pujian, tetapi Tuhan melihat setiap kebaikan yang dilakukan dengan kasih.

Yesus juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima orang yang diutus-Nya, berarti menerima Dia sendiri. Artinya, kita dipanggil menjadi pembawa kasih dan kehadiran Tuhan di tengah dunia. Sikap kita, perkataan kita, dan tindakan kita dapat menjadi jalan bagi orang lain untuk merasakan kasih Allah.

Melalui Injil hari ini, kita diajak untuk memiliki hati yang rendah hati, tidak egois, dan mau melayani tanpa memilih-milih. Semakin kita melayani dengan kasih, semakin kita menjadi serupa dengan Yesus.