Misa Lansia: Tetap Bersukacita dan Berpengharapan di Masa Tua


Pagi yang teduh menyelimuti Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo ketika lonceng misa belum lagi berdentang. Di antara desir angin dan cahaya matahari yang lembut, satu per satu umat lanjut usia mulai berdatangan. Ada yang berjalan tegap dengan langkah mantap, ada yang perlahan dengan tongkat di tangan, dan ada pula yang didorong dengan kursi roda oleh keluarga tercinta. Semua datang dengan hati yang sama: rindu akan perjumpaan dengan Kristus dalam Ekaristi Kudus.

klik to play

Tepat pukul 08.00, suasana gereja sudah terasa hidup dalam hening doa. Tim Pelayanan Legio Maria memimpin Doa Rosario, membuka hari dengan permenungan yang lembut tentang kasih Bunda Maria yang senantiasa menyertai umat-Nya. Setelah itu, umat bersiap menyambut Perayaan Ekaristi Lansia yang diprakarsai oleh Tim PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) — sebuah bentuk perhatian dan pendampingan Gereja bagi para umat usia lanjut agar tetap hidup dalam kasih dan semangat iman.

Perayaan Misa dimulai pukul 08.50, dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Sebelum Liturgi Ekaristi dimulai, umat terlebih dahulu berdoa Doa Pembangunan Gereja Paroki St. Maria Marganingsih Kalasan, memohon agar setiap batu dan tenaga yang terlibat menjadi persembahan bagi kemuliaan Tuhan. Doa ini kemudian disusul dengan lagu medley dan lagu pembukaan “Hidup Cerah” yang dibawakan oleh kelompok koor PMG (Pemusik Muda Gereja) Stasi Maguwo, menandai awal perayaan dengan sukacita yang sederhana namun penuh makna.

Tema yang diangkat dalam Misa kali ini “Hidup dalam Sukacita dan Pengharapan di Masa Lansia” — seakan menggema dalam setiap wajah yang hadir. Di usia yang mungkin tak lagi muda, para lansia tetap menunjukkan bahwa iman tidak mengenal batas usia. Dalam khotbahnya, Romo Dadang dengan sapaan hangat dan gaya khasnya mengajak umat untuk meneladani semangat para murid dalam Injil Lukas 10:1–12, ketika Yesus mengutus tujuh puluh murid untuk mewartakan damai.

“Bagi para lansia,” ujar Romo, “pewartaan itu tidak harus dilakukan dengan langkah kaki yang jauh, tetapi dengan ojo ningalake Gusti Yesus — jangan pernah meninggalkan Tuhan Yesus. Biarlah hidup kita menjadi kesaksian bagi anak, cucu, dan sesama, agar mereka melihat kasih Allah melalui kelembutan hati dan kesetiaan kita.”

Suasana khidmat terasa ketika umat menerima Sakramen Ekaristi. Lagu “The Majesty” mengiringi langkah para prodiakon yang membagikan Tubuh Kristus kepada setiap umat dengan penuh hormat. Di tengah keterbatasan fisik, para lansia tetap mengulurkan tangan, menerima dan menyambut Sang Penyelamat dengan hati yang bersyukur.

Menjelang akhir perayaan, umat menerima berkat penutup dari Romo Dadang, disertai lagu “Yubelium” yang dinyanyikan dengan penuh semangat. Wajah-wajah yang telah renta tampak bercahaya—bukan karena muda kembali, melainkan karena dipenuhi oleh sukacita iman yang tidak lekang oleh waktu.

Usai misa, suasana keakraban mewarnai pelataran gereja. Ada yang saling menyapa setelah lama tak bertemu, ada pula yang hanya tersenyum dari kejauhan sambil menggenggam tangan satu sama lain. Dalam perjumpaan sederhana itu, kasih persaudaraan Gereja sungguh terasa nyata.

Dari data yang dihimpun, 215 umat lansia terdaftar mengikuti misa ini, dengan total kehadiran umat sekitar 280 orang. Satu jam yang singkat terasa begitu penuh rahmat—menjadi ruang di mana Gereja memberi tempat istimewa bagi mereka yang telah lama berjuang dalam iman, agar tetap setia, tetap bersyukur, dan tetap bersukacita dalam pengharapan kepada Tuhan.

Di masa ketika tubuh mungkin tak lagi sekuat dulu, Tuhan justru menghadirkan kesempatan untuk memancarkan kasih-Nya dengan cara yang lebih lembut—melalui senyum, doa, dan kesetiaan dalam iman. Sebab sukacita sejati tidak datang dari kekuatan fisik, melainkan dari hati yang tetap bersandar pada Tuhan, sumber pengharapan yang tak pernah pudar.

Posted in Berita Terkini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *