Menapak Jejak Para Perintis: Ziarah dan Doa Menyongsong Paroki Administratif GMBA Maguwo


DPS Maguwo bersama perwakilan unsur umat melaksanakan ziarah ke makam para pendiri dan perintis Gereja Maria Bunda Allah sebagai ungkapan syukur, penghormatan, dan permohonan restu menjelang peresmian GMBA menjadi Paroki Administratif pada 2 Juni 2026.

Sabtu pagi, 30 Mei 2026, Dewan Pengurus Stasi (DPS) Maguwo bersama perwakilan Prodiakon, Orang Muda Katolik (OMK), Remaja Bunda Maria (RBM), Pamdal, perwakilan ibu-ibu stasi, para Ketua Lingkungan (Kaling), dan Ketua Wilayah (Kawil) melaksanakan ziarah ke tiga makam tokoh yang memiliki peran besar dalam sejarah perjalanan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo.

Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun GMBA sekaligus ungkapan syukur dan penghormatan kepada para pendahulu yang telah meletakkan dasar bagi tumbuh dan berkembangnya komunitas umat Katolik di Maguwo. Ziarah ini juga menjadi momen untuk memohon restu dan doa para leluhur pendiri gereja menjelang peristiwa bersejarah, yakni pada tanggal 2 Juni 2026 Gereja Maria Bunda Allah Maguwo resmi menjadi Paroki Administratif.

Perjalanan dimulai pukul 08.00 WIB dari Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Seakan turut mengiringi dan merestui perjalanan para peziarah, semesta menghadirkan cuaca yang begitu bersahabat. Langit tampak mendung namun tanpa hujan, udara terasa sejuk, dan angin berembus lembut sepanjang perjalanan. Suasana yang teduh tersebut menambah kekhusyukan dan kebersamaan dalam setiap perhentian ziarah.

Tujuan pertama adalah makam Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto beserta istri yang berada di wilayah Pokoh. Beliau merupakan sosok yang memiliki jasa besar dalam perjalanan awal berdirinya Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Dengan kemurahan hati dan kepedulian yang luar biasa, beliau berkenan menjual tanahnya dengan harga yang sangat terjangkau sehingga dapat digunakan untuk pembangunan gereja yang kini menjadi pusat kehidupan iman umat Katolik di Maguwo.

Di lokasi makam, rombongan disambut hangat oleh salah satu keturunan beliau, Ibu Munarti, yang juga aktif melayani sebagai katekis di GMBA. Kehadiran beliau menjadi pengingat bahwa semangat pelayanan yang diwariskan oleh keluarga besar Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto terus hidup dan berkembang hingga saat ini. Dalam suasana doa dan penghormatan, umat mengenang ketulusan serta pengorbanan beliau yang telah menjadi salah satu fondasi berdirinya Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju makam Bapak Paulus Yadi Wiyono di wilayah Modinan. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memiliki perhatian besar terhadap pembinaan dan pemberdayaan kaum muda dalam kehidupan menggereja. Dengan semangat dan dedikasinya, beliau mendorong generasi muda untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan dan pengembangan Gereja.

Di makam ini, rombongan juga diterima dengan hangat oleh ahli waris dan keluarga besar Bapak Paulus Yadi Wiyono. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan berharga untuk mengenang kembali perjuangan dan semangat beliau dalam membangun keterlibatan kaum muda sebagai generasi penerus Gereja. Warisan nilai yang beliau tinggalkan terus menjadi inspirasi bagi OMK dan generasi muda GMBA untuk terus berkarya, melayani, dan bertumbuh dalam iman.

Ziarah kemudian berlanjut ke tujuan terakhir, yaitu makam Bapak Yohanes Berchmans Kandari. Beliau dikenal sebagai tokoh yang memprakarsai pembentukan paguyuban umat Katolik yang bermukim di wilayah Kelurahan Maguwoharjo. Berkat inisiatif dan semangat persaudaraan yang beliau bangun, umat Katolik yang tersebar di berbagai wilayah dapat dipersatukan dalam sebuah komunitas yang saling mendukung dan menguatkan dalam kehidupan beriman.

Di lokasi makam, rombongan disambut oleh ahli waris dan keluarga besar Bapak Yohanes Berchmans Kandari yang hingga saat ini masih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan di GMBA. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa semangat pelayanan dan kebersamaan yang diwariskan oleh Bapak Yohanes Berchmans Kandari terus berlanjut dari generasi ke generasi. Dari benih-benih persaudaraan yang beliau tanam, tumbuhlah komunitas umat yang semakin berkembang hingga akhirnya mengantarkan GMBA memasuki babak baru sebagai Paroki Administratif.

Melalui ziarah ini, umat diajak untuk mengenang dan meneladani tiga nilai luhur yang diwariskan para tokoh tersebut. Dari Bapak Lazarus Djayeng Adisubroto, kita belajar tentang ketulusan dan pengorbanan demi perkembangan Gereja. Dari Bapak Paulus Yadi Wiyono, kita belajar tentang pentingnya membina generasi muda sebagai harapan masa depan Gereja. Sedangkan dari Bapak Yohanes Berchmans Kandari, kita belajar tentang semangat persatuan dan kebersamaan dalam membangun komunitas umat yang kokoh dan penuh kasih.

Semoga perjalanan ziarah ini tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada para pendahulu, tetapi juga menjadi momentum refleksi bagi seluruh umat untuk melanjutkan semangat, karya, dan pengabdian yang telah mereka wariskan. Menjelang perubahan status menjadi Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo, kiranya seluruh umat semakin dipersatukan dalam iman, semakin bersemangat dalam pelayanan, serta semakin siap menjawab panggilan untuk menjadi Gereja yang hidup, bertumbuh, dan membawa berkat bagi sesama.

Semoga Tuhan senantiasa memberkati perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Dan semoga jasa, keteladanan, serta pengorbanan para pendiri dan perintis gereja ini senantiasa dikenang dan menjadi inspirasi bagi generasi sekarang maupun generasi yang akan datang dalam membangun Gereja yang semakin dewasa, mandiri, dan berakar kuat dalam kasih Kristus.

Posted in Berita Terkini, Tajuk Utama, Warta Gereja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *