Semangat kreativitas dan kebersamaan ditunjukkan oleh Orang Muda Katolik (OMK) St. Lucius Lingkungan Yohanes Pembaptis melalui kegiatan rapat persiapan program Paskah yang dilaksanakan di PLAI Cafe.
Sebanyak 13 anggota OMK hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana rapat berlangsung santai namun tetap penuh semangat diskusi. Pertemuan ini secara khusus membahas rencana pembuatan dan penjualan parcel Paskah yang akan ditawarkan kepada umat menjelang perayaan Paskah mendatang.
Dalam rapat tersebut, para OMK berdiskusi mengenai konsep parcel, isi paket, pembagian tugas, hingga strategi pelaksanaan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik. Kegiatan ini menjadi wadah bagi kaum muda untuk belajar bekerja sama, bertanggung jawab, sekaligus mengembangkan kreativitas dalam pelayanan.
Melalui inisiatif ini, OMK St. Lucius ingin mengambil peran aktif dalam kehidupan lingkungan serta menghadirkan semangat pelayanan kaum muda yang nyata di tengah umat. Kebersamaan yang terjalin dalam suasana diskusi ringan menunjukkan bahwa pelayanan Gereja dapat diwujudkan melalui ide-ide sederhana yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Diharapkan, persiapan yang dilakukan dapat berjalan dengan lancar dan kegiatan penjualan parcel Paskah nantinya menjadi berkat bagi umat Lingkungan Yohanes Pembaptis sekaligus semakin menumbuhkan semangat pelayanan OMK.
Kamis, 26 Februari 2026 pukul 20.00 WIB, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan latihan koor sebagai persiapan tugas pelayanan pada Misa Jumat Pertama yang akan dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2026.
Sebanyak 27 umat ambil bagian dalam latihan ini, mulai dari OMK, bapak-bapak, ibu-ibu, hingga para lansia. Kehadiran lintas generasi tersebut menunjukkan semangat pelayanan yang hidup dalam Lingkungan Yohanes Pembaptis, di mana setiap umat mengambil bagian sesuai talenta yang dimiliki.
Latihan koor dilaksanakan dalam suasana penuh kebersamaan. Lagu demi lagu dilatih dengan tekun, menyatukan nada, irama, dan penghayatan agar pujian yang dipersembahkan nantinya dapat membantu umat semakin khusyuk dalam perayaan Ekaristi. Tidak hanya melatih teknik bernyanyi, latihan ini juga menjadi sarana membangun kekompakan dan mempererat relasi antarumat.
Meski dilakukan setelah rangkaian kegiatan lingkungan sebelumnya, semangat peserta tetap terasa hangat. Tawa ringan, saling mendukung, serta kesediaan untuk terus belajar bersama menjadi warna tersendiri dalam latihan malam itu.
Melalui persiapan ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis berharap dapat memberikan pelayanan terbaik dalam Misa Jumat Pertama nanti. Pujian yang dipersembahkan bukan sekadar nyanyian, melainkan ungkapan iman dan syukur kepada Tuhan.
Kamis, 26 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis kembali melaksanakan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang kedua. Sebanyak 27 umat hadir, mulai dari OMK, bapak-ibu, hingga para lansia, menunjukkan semangat kebersamaan dalam menjalani masa APP tahun ini.
Pertemuan kali ini mengangkat tema “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya.” Melalui tema tersebut, umat diajak semakin memahami bagaimana Gereja menghidupi solidaritas melalui pengelolaan dana sosial.
Dalam sesi pendalaman, umat merefleksikan bacaan dari Kisah Para Rasul 4:32–37. Bacaan tersebut menggambarkan kehidupan Jemaat Perdana yang hidup dalam semangat kebersamaan, di mana harta milik tidak hanya dipandang sebagai milik pribadi, tetapi memiliki dimensi sosial demi kesejahteraan bersama. Semangat solidaritas dan kesetiakawanan membuat tidak ada satu pun anggota jemaat yang berkekurangan.
Sosok Barnabas menjadi contoh nyata pribadi yang menghidupi jiwa sosial. Ia dengan sukarela berbagi dan menghadirkan sukacita bagi komunitas. Teladan ini mengajak umat untuk melihat bahwa kualitas iman juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap sesama.
Selanjutnya, umat diajak mengenal berbagai Dana Sosial Gereja yang dihimpun dari umat dan dikelola secara berjenjang, mulai dari tingkat nasional melalui KWI, tingkat Keuskupan dan Kevikepan, hingga Paroki. Dana sosial tersebut memiliki fungsi yang beragam, baik untuk mendukung kehidupan internal Gereja, seperti Dana Solidaritas antar Paroki (DSP), maupun untuk membantu mereka yang membutuhkan, khususnya kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD).
Melalui sesi diskusi, umat diajak merefleksikan kesan mereka terhadap keberadaan dana sosial Gereja serta menyadari bahwa masih banyak umat yang belum memahami secara utuh fungsi dana sosial, termasuk APP. Diskusi ini menumbuhkan kesadaran baru akan pentingnya keterlibatan umat, tidak hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai pelaku yang aktif mendukung perkembangan Gereja.
Pertemuan APP kedua ini menjadi kesempatan bagi umat untuk semakin memahami bahwa solidaritas Gereja bukan sekadar konsep, melainkan gerakan nyata yang hidup dari partisipasi umat. Diharapkan, melalui pemahaman ini, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis semakin tergerak untuk ambil bagian dalam mendukung pelayanan Gereja dan membantu sesama yang membutuhkan.
Minggu, 22 Februari 2026 pukul 15.30 WIB, Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan Yohanes Pembaptis mengadakan pertemuan bulanan yang bertempat di rumah Ibu Titus Pulunggono. Suasana penuh sukacita dan kebersamaan terasa sejak awal pertemuan dimulai.
Sebanyak 21 ibu hadir dalam kegiatan tersebut. Pertemuan kali ini mengusung tema Valentine, yang dimaknai bukan sekadar perayaan kasih secara simbolis, melainkan sebagai kesempatan untuk mempererat persaudaraan, saling menguatkan, dan menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.
Acara diawali dengan doa bersama, kemudian dilanjutkan dengan agenda rutin paguyuban, yaitu pembayaran iuran bulanan sebagai bentuk tanggung jawab bersama dalam mendukung kegiatan lingkungan. Setelah itu, kegiatan diisi dengan sharing ringan dan kebersamaan yang hangat antaranggota.
Para ibu saling berbagi cerita kehidupan, pengalaman iman, serta dukungan satu sama lain sebagai bagian dari keluarga besar Lingkungan Yohanes Pembaptis. Nuansa kebersamaan semakin terasa melalui suasana santai penuh tawa, menunjukkan bahwa pertemuan paguyuban bukan hanya menjadi wadah kegiatan rohani, tetapi juga ruang untuk membangun relasi yang akrab dan penuh perhatian.
Melalui pertemuan bulanan ini, para ibu diharapkan semakin bertumbuh dalam iman, pelayanan, dan kasih kepada sesama. Semangat Valentine yang dihidupi bersama menjadi pengingat bahwa kasih dapat diwujudkan melalui perhatian kecil, kebersamaan, dan kepedulian nyata di tengah komunitas.
Semoga paguyuban ibu-ibu Lingkungan Yohanes Pembaptis terus menjadi sumber sukacita dan kekuatan bagi umat serta lingkungan sekitar.
Dalam semangat kebersamaan dan toleransi antarumat beragama, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis mengambil bagian dalam menjaga keamanan lingkungan saat umat Muslim melaksanakan ibadah tarawih.
Kegiatan ronda ini dimulai dan akan berlangsung selama tujuh hari ke depan. Beberapa bapak-bapak umat YP secara bergantian berjaga di sekitar lingkungan, memastikan situasi tetap aman dan kondusif selama pelaksanaan ibadah malam tersebut.
Inisiatif ini menjadi wujud nyata persaudaraan dan kepedulian lintas iman. Di tengah keberagaman, umat YP menunjukkan bahwa hidup berdampingan bukan hanya tentang saling menghormati, tetapi juga tentang saling menjaga.
Kehadiran umat YP dalam ronda malam ini disambut dengan hangat oleh warga sekitar. Suasana penuh kekeluargaan terasa, memperlihatkan bahwa nilai gotong royong dan solidaritas tetap hidup dalam kehidupan bermasyarakat.
Semoga kegiatan ini semakin mempererat hubungan antarwarga dan menjadi kesaksian bahwa kasih dan persaudaraan dapat diwujudkan dalam tindakan sederhana namun bermakna.
Kamis, 19 Februari 2026 menjadi malam yang penuh kebersamaan bagi umat Lingkungan Yohanes Pembaptis. Setelah menyelesaikan Pertemuan APP pertama pukul 19.00, umat tidak langsung pulang. Tepat pukul 20.00, kegiatan dilanjutkan dengan latihan koor untuk persiapan tugas Misa Jumat Pertama pada 6 Maret 2026.
Meski waktu sudah cukup malam, semangat umat tetap menyala. Bapak-bapak, ibu-ibu, dan OMK duduk bersama, menyatukan suara dalam latihan yang penuh kekompakan. Nada demi nada dilatih dengan serius, namun tetap dalam suasana santai dan hangat.
Latihan ini bukan sekadar mempersiapkan lagu, tetapi juga mempererat kebersamaan antarumat. Ada tawa kecil saat nada belum kompak, ada fokus saat bagian sulit diulang bersama. Semua menyatu dalam satu tujuan: memberikan pelayanan terbaik untuk Tuhan melalui pujian.
Kebersamaan lintas generasi yang terlihat malam itu menjadi bukti bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal hati yang mau terlibat. Dari yang muda hingga yang senior, semua mengambil bagian.
Semoga melalui latihan ini, pelayanan pada Misa Jumat Pertama nanti dapat berjalan dengan baik dan membawa umat semakin khusyuk dalam perayaan Ekaristi.
Kamis, 19 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Yohanes Pembaptis melaksanakan Pertemuan APP (Aksi Puasa Pembangunan) yang pertama dengan tema “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawali Aksi.” Pertemuan ini menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran bersama akan pentingnya kepedulian sosial, khususnya dalam hal bantuan sosial (bansos).
Sebanyak 30 umat hadir dalam pertemuan tersebut, terdiri dari OMK (Orang Muda Katolik), bapak-ibu, serta para lansia. Kehadiran lintas generasi ini menunjukkan semangat kebersamaan dan tanggung jawab bersama dalam membangun lingkungan yang semakin peduli dan solider.
Pertemuan diawali dengan doa pembuka dan pengantar mengenai makna APP sebagai momentum pertobatan yang tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga sosial. Umat diajak untuk melihat realitas di sekitar: apakah bantuan sosial yang ada selama ini sudah sungguh menyentuh mereka yang paling membutuhkan?
Dalam sesi diskusi, umat diajak merefleksikan beberapa pertanyaan mendalam, antara lain:
Apakah saya atau keluarga saya termasuk penerima bantuan sosial yang sebenarnya tidak tepat sasaran?
Adakah anggota masyarakat di sekitar saya yang justru lebih membutuhkan bantuan tersebut?
Bagaimana peran saya agar bantuan sosial dapat tepat sasaran dan benar-benar membantu yang membutuhkan?
Diskusi berlangsung terbuka dan penuh kejujuran. Beberapa umat menyampaikan keprihatinan atas kondisi di sekitar lingkungan, di mana masih ada warga yang membutuhkan namun belum tersentuh bantuan. Ada pula refleksi pribadi mengenai pentingnya integritas dan kejujuran dalam menerima bantuan.
Melalui pertemuan ini, umat tidak hanya diajak untuk menilai situasi, tetapi juga menggali potensi yang dimiliki lingkungan, seperti semangat gotong royong, komunikasi antarwarga, serta kepedulian yang sudah tumbuh selama ini. Kesadaran bersama ini menjadi dasar untuk merancang aksi nyata selama masa APP, agar bantuan sosial dapat lebih tepat sasaran dan benar-benar menjadi wujud kasih yang konkret.
Pertemuan APP pertama ini menjadi pengingat bahwa pertobatan sejati tidak berhenti pada doa dan puasa, tetapi juga diwujudkan dalam keberanian bersikap jujur, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama. Semoga semangat solidaritas yang telah tumbuh dalam pertemuan ini terus berkembang dan menjadi berkat bagi banyak orang.
Di sebuah malam yang tenang, di tengah suasana kekeluargaan yang begitu hangat, para pengurus Lingkungan St. Yohanes Pembaptis berkumpul dalam sebuah momen yang spesial—sebuah momen yang bukan hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga menandai perjalanan baru bagi seluruh umat lingkungan. Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas. Ia sedang maju antara mereka yang telah mengabdi dengan sepenuh hati sebagai pengurus lama, dengan wajah-wajah baru yang siap melanjutkan pelayanan estafet. Seakan-akan dua generasi bertemu dalam satu ruang, membawa cerita, pengalaman, harapan, dan semangat yang sama: melayani Tuhan melalui umat-Nya.
Para pengurus lama duduk berdampingan, membawa kisah perjalanan panjang yang mereka lalui—tentang rapat yang tak terhitung, kunjungan umat, kegiatan rohani, suka duka dalam pelayanan, hingga tawa-tawa kecil yang pernah mewarnai kebersamaan mereka. Mereka hadir bukan hanya untuk menyerahkan tugas, tetapi untuk memberikan teladan dan jejak yang bisa menjadi pijakan bagi generasi berikutnya. Di sisi lain, para pengurus baru datang dengan mata berbinar—melambangkan optimisme dan tekad untuk meneruskan pelayanan ini. Mereka menyimak, menyapa, dan berdialog; menyerap setiap pesan dan nasihat seolah tengah menerima warisan berharga: warisan semangat pelayanan penuh kasih. Suasana pertemuan terasa hangat ketika keduanya saling bertukar cerita. Ada tawa lembut mengenang perjalanan yang sudah dilalui, ada pula percakapan serius tentang harapan umat dan tantangan ke depan. Namun di antara semua itu, yang paling terasa adalah rasa syukur: syukur karena Tuhan terus menyediakan tangan-tangan baru untuk melanjutkan karya-Nya.
Pada akhirnya, proses serah terima berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Ketika tanggung jawab itu berpindah, seolah cahaya baru menyala—cahaya harapan bagi lingkungan Yohanes Pembaptis untuk terus bertumbuh, bersekutu, dan melayani lebih baik lagi. Regenerasi ini bukanlah penutup dari sebuah perjalanan, melainkan babak baru yang dibuka dengan penuh kebahagiaan. Para pengurus lama tetap menjadi keluarga yang disertai dengan doa dan dukungan, sementara pengurus baru melangkah maju, membawa api pelayanan yang terus menyala. Dan dengan hati yang bersatu, keluarga besar Lingkungan St. Yohanes Pembaptis pun berdoa bersama: semoga Tuhan selalu membimbing setiap langkah, menguatkan setiap niat, dan mewujudkan setiap pelayanan—baik mereka yang dulu, sekarang, maupun yang akan datang.
Satu Hati dalam Sukacita: Tradisi Ujung Natal Lingkungan Yohanes Pembaptis Fajar baru saja menyingsing setelah Misa Natal usai, namun suasana di Lingkungan Yohanes Pembaptis sudah terasa begitu hidup. Hari ini bukan sekadar tentang perayaan formal, melainkan tentang menghidupkan kembali tradisi “Ujung”—sebuah perjalanan kasih yang menghubungkan satu pintu ke pintu lainnya.
Sejak pagi, rombongan warga mulai berkumpul. Tidak ada batasan usia; dari yang sepuh hingga yang paling muda, semua berbaur menjadi satu keluarga besar. Tradisi muter ke rumah-rumah ini adalah cara kami berkumpul kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan setahun terakhir. Setiap rumah yang dikunjungi menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat, seolah mengatakan, “Rumahku adalah rumahmu juga.” Pesta Kecil bagi Para “Pemburu” Jajan Pemandangan yang paling ikonik tentu saja datang dari anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka menenteng tas besar—bahkan ada yang membawa tas belanja kain berukuran ekstra—yang siap terisi. Bagi mereka, Natal adalah “panen raya” kebahagiaan. Di setiap meja tamu, toples-toples berisi kue nastar, putri salju, hingga berbagai snack kekinian telah menanti. Tak butuh waktu lama, tas yang kosong tadi mulai menggelembung penuh dengan aneka rupa jajanan. Suara gemerisik bungkus plastik dan tawa renyah mereka saat membandingkan “hasil buruan” menjadi latar musik yang paling merdu sepanjang perjalanan.
Lebih dari Sekadar Snack dan Silaturahmi Namun, di balik tas-tas yang berat berisi makanan dan rute panjang yang ditempuh, ada makna yang lebih dalam. Tradisi Ujung di Lingkungan Yohanes Pembaptis adalah tentang: Kerendahan Hati: Saling memaafkan dan membuka diri. Kedermawanan: Berbagi berkat sekecil apa pun kepada sesama. Pewarisan Iman: Mengajarkan anak-anak bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tapi komunitas orang-orang yang saling mengasihi. Lelah di kaki seolah tak terasa karena hati telah penuh oleh sukacita. Inilah wajah Natal kita—sederhana, guyub, dan penuh berkat. Selamat merayakan Natal, Lingkungan Yohanes Pembaptis! Semoga semangat silaturahmi ini terus menyala di hati kita semua.
Menjelang akhir masa Natal, umat di lingkungan-lingkungan Stasi Maguwo melaksanakan Ibadat Keluarga Kudus sebagai momen untuk kembali meneguhkan panggilan keluarga kristiani. Ibadat tahun ini mengangkat tema: “Bersama-Sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”
Melalui ibadat sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin memaknai kedatangan Kristus dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam keluarga sebagai komunitas terkecil yang membentuk Gereja. Keluarga yang hidup dalam sukacita dan harapan akan lebih mampu menjadi inspirasi dan saluran kebaikan bagi masyarakat sekitar.
Tujuan Ibadat
Pertemuan ini bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa kehadiran Kristus tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dalam relasi keluarga, kebersamaan, dan hidup menggereja di lingkungan. Dengan demikian, keluarga kristiani semakin menjadi tempat:
tumbuhnya sukacita,
bertumbuhnya iman,
serta lahirnya tindakan kasih yang menyejahterakan sesama.
Bacaan Injil: Lukas 2:41–52
Ibadat ditopang oleh bacaan Injil tentang Yesus yang berada di Bait Allah pada usia dua belas tahun. Kisah ini menggambarkan dinamika keluarga yang pernah mengalami kehilangan, keresahan, dan pencarian, namun semuanya dijalani dengan kasih dan kesetiaan.
Renungan Singkat: Tiga Makna Keluarga Kudus
Pemandu atau pemimpin ibadat mengajak umat merenungkan tiga pokok inspiratif dari Keluarga Kudus Nazaret:
1. Keluarga yang Bahagia
Keluarga Kudus tidak steril dari masalah. Mereka sempat mengalami kekhawatiran besar ketika Yesus hilang. Namun mereka menghadapinya dengan:
cinta kasih,
kepercayaan penuh,
komunikasi yang terbuka.
Bahagia bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk saling menopang dan bertumbuh bersama dalam setiap situasi.
2. Keluarga yang Menginspirasi
Maria dan Yosef menunjukkan ketaatan yang mendalam pada kehendak Allah. Mereka menjadi teladan keluarga sederhana yang hidup dari iman. Dari merekalah kita belajar bahwa keluarga adalah sekolah iman pertama, tempat nilai-nilai Kristiani ditanamkan secara nyata.
3. Keluarga yang Menyejahterakan
Yesus tumbuh menjadi pribadi yang “bertambah hikmat, besar, dan disukai Allah dan manusia”. Pertumbuhan itu tidak terlepas dari kesejahteraan rohani dan jasmani yang Ia terima dalam keluarga-Nya.
Keluarga yang menyejahterakan adalah keluarga yang menumbuhkan potensi tiap anggotanya sehingga mampu menjadi berkat bagi dunia, membawa damai, dan menghadirkan kebaikan.
Litani Permohonan
Dalam litani permohonan, umat bersama-sama memohon agar setiap keluarga:
diberi kekuatan menghadapi tantangan,
diteguhkan dalam cinta,
serta dipenuhi semangat untuk menjadi keluarga yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.
Doa Penutup & Berkat
Ibadat diakhiri dengan doa penutup, menyerahkan keluarga masing-masing ke dalam penyertaan Tuhan. Setelah itu, umat menerima berkat penutup yang menjadi tanda pengutusan agar setiap keluarga semakin menjadi cermin kasih Allah di tengah masyarakat.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo