Pertemuan OMK St. Mikhael dengan Lingkungan St, Bartholomeus


Pada hari Minggu, 8 Februari 2025, telah dilaksanakan pertemuan Orang Muda Katolik (OMK) Santo Mikhael yang bertempat di Lingkungan Bartholomeus. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak dan kaum muda yang tergabung dalam OMK Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo. Pertemuan ini menjadi salah satu agenda penting dalam upaya membangun kebersamaan dan mempererat tali persaudaraan di antara kaum muda gereja.

Acara berlangsung dalam suasana yang penuh kehangatan, kekeluargaan, dan sukacita. Sejak awal kegiatan, para peserta tampak antusias mengikuti setiap rangkaian acara yang telah disiapkan. Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang untuk berkumpul, tetapi juga menjadi sarana untuk saling mengenal lebih dekat, memperkuat relasi antar anggota OMK, serta menumbuhkan rasa memiliki terhadap komunitas dan gereja.

Tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mempererat persaudaraan antar anak dan kaum muda, sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan dalam kehidupan menggereja. Melalui pertemuan ini, diharapkan para OMK semakin terdorong untuk aktif berpartisipasi dalam berbagai kegiatan gereja dan mampu menjadi generasi muda yang beriman, solid, dan peduli terhadap sesama.

Pendalaman Iman Bersama Para Suster

Salah satu bagian paling berkesan dari pertemuan ini adalah kehadiran beberapa suster yang turut hadir sebagai pengisi acara. Mereka memberikan pendalaman iman yang disampaikan secara menarik, relevan, dan penuh inspirasi. Materi yang dibawakan mencakup:

  • Ajakkan untuk menghidupi kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
  • Tantangan kaum muda Katolik dalam zaman modern.
  • Pentingnya menjadi saksi iman di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
  • Membangun sikap peduli, peka, dan melayani sebagai bagian dari OMK.

Pertemuan OMK Santo Mikhael ini sangat bermakna dengan kehadiran para suster yang turut mendampingi dan mengisi acara. Para suster memberikan pendalaman iman yang disampaikan dengan cara yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami oleh kaum muda. Materi yang dibawakan mengajak peserta untuk merefleksikan iman dalam kehidupan sehari-hari, sekaligus menumbuhkan semangat untuk tetap setia dan aktif dalam pelayanan gereja. Kehadiran para suster juga memberikan warna tersendiri yang membuat suasana acara semakin hidup dan penuh sukacita.

Secara keseluruhan, kegiatan pertemuan OMK Santo Mikhael di Lingkungan Bartholomeus ini berjalan dengan lancar dan penuh makna. Diharapkan melalui pertemuan ini, persaudaraan antar OMK semakin erat, iman semakin bertumbuh, serta semangat kebersamaan dan pelayanan di Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo terus terjaga dan berkembang di masa mendatang.


“Pelantikan & Pembaruan Janji Misdinar Santo Tarcisius Maguwo”


Suasana khidmat menyelimuti Gereja Santa Maria Bunda Allah pada perayaan Ekaristi hari ini, Minggu 18 januari 2026. Gereja dengan penuh sukacita merayakan regenerasi sekaligus penguatan komitmen para pelayan altarnya. Dalam upacara ini, sebanyak 19 anggota baru resmi dilantik, sementara puluhan anggota misdinar lama melakukan pembaruan janji setia.

Upacara yang penuh rahmat ini dipimpin langsung oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr . Di hadapan umat, para putra-putri ini berdiri dengan mantap untuk menyatakan kesiapan mereka melayani di Altar Tuhan.

Poin-Poin Penting Upacara:

  • Penerimaan 19 Anggota Baru: Setelah melalui masa pembekalan dan katekese yang panjang, 19 calon misdinar ini akhirnya dinyatakan layak untuk bergabung dalam korps misdinar Stasi.
  • Pembaruan Janji Misdinar Senior: Tidak hanya menyambut wajah-wajah baru, para misdinar yang telah lebih dulu bertugas juga berdiri untuk memperbaharui komitmen mereka. Momen ini menjadi pengingat bahwa pelayanan adalah perjalanan yang terus berlanjut dan perlu dipupuk kembali semangatnya.
  • Amanat Romo FX Murdi Susanto, Pr: Dalam pesannya, Romo mengingatkan bahwa menjadi misdinar bukan sekadar tugas teknis atau pelengkap liturgi, melainkan bentuk pengabdian hati yang meneladani keberanian dan kesetiaan Santo Tarcisius.
  • Pengucapan Janji Serempak: Inti dari upacara ini adalah saat ke-19 anggota baru bersama para misdinar senior mengucapkan janji misdinar secara serempak. Mereka berjanji untuk menjaga kesucian hidup, disiplin dalam mengabdi, dan rasa hormat yang mendalam terhadap Sakramen Mahakudus.

Makna Pelayanan kehadiran 19 anggota baru dan pembaruan komitmen para senior menjadi nafas segar bagi kehidupan liturgi di
Stasi Santa Maria Bunda Allah . Meskipun tugas ini menguras waktu dan tenaga, namun kegembiraan dalam mengabdi kepada Tuhan di Altar adalah anugerah yang luar biasa bagi perkembangan iman mereka. Keharmonisan antara anggota baru yang penuh semangat dan anggota lama yang berpengalaman menciptakan persaudaraan yang kuat dalam tubuh Misdinar Santo Tarcisius.


Selamat kepada 19 misdinar baru yang telah dilantik, dan selamat melanjutkan tugas bagi para misdinar yang telah memperbaharui janjinya. Semoga semangat Santo Tarsisius selalu menyala di dalam hati kalian, menjadikan kalian pelayan yang rendah hati dan penuh kasih.”

“Proficiat dan Selamat Melayani!”





Terang yang dilanjutkan: “Babak baru Pelayanan Lingkungan St. Yohanes Pembaptis”


Di sebuah malam yang tenang, di tengah suasana kekeluargaan yang begitu hangat, para pengurus Lingkungan St. Yohanes Pembaptis berkumpul dalam sebuah momen yang spesial—sebuah momen yang bukan hanya menjadi ajang pertemuan, tetapi juga menandai perjalanan baru bagi seluruh umat lingkungan.
Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas. Ia sedang maju antara mereka yang telah mengabdi dengan sepenuh hati sebagai pengurus lama, dengan wajah-wajah baru yang siap melanjutkan pelayanan estafet. Seakan-akan dua generasi bertemu dalam satu ruang, membawa cerita, pengalaman, harapan, dan semangat yang sama: melayani Tuhan melalui umat-Nya.

Para pengurus lama duduk berdampingan, membawa kisah perjalanan panjang yang mereka lalui—tentang rapat yang tak terhitung, kunjungan umat, kegiatan rohani, suka duka dalam pelayanan, hingga tawa-tawa kecil yang pernah mewarnai kebersamaan mereka. Mereka hadir bukan hanya untuk menyerahkan tugas, tetapi untuk memberikan teladan dan jejak yang bisa menjadi pijakan bagi generasi berikutnya.
Di sisi lain, para pengurus baru datang dengan mata berbinar—melambangkan optimisme dan tekad untuk meneruskan pelayanan ini. Mereka menyimak, menyapa, dan berdialog; menyerap setiap pesan dan nasihat seolah tengah menerima warisan berharga: warisan semangat pelayanan penuh kasih.
Suasana pertemuan terasa hangat ketika keduanya saling bertukar cerita. Ada tawa lembut mengenang perjalanan yang sudah dilalui, ada pula percakapan serius tentang harapan umat dan tantangan ke depan. Namun di antara semua itu, yang paling terasa adalah rasa syukur: syukur karena Tuhan terus menyediakan tangan-tangan baru untuk melanjutkan karya-Nya.

Pada akhirnya, proses serah terima berlangsung dengan sederhana namun penuh makna. Ketika tanggung jawab itu berpindah, seolah cahaya baru menyala—cahaya harapan bagi lingkungan Yohanes Pembaptis untuk terus bertumbuh, bersekutu, dan melayani lebih baik lagi.
Regenerasi ini bukanlah penutup dari sebuah perjalanan, melainkan babak baru yang dibuka dengan penuh kebahagiaan. Para pengurus lama tetap menjadi keluarga yang disertai dengan doa dan dukungan, sementara pengurus baru melangkah maju, membawa api pelayanan yang terus menyala.
Dan dengan hati yang bersatu, keluarga besar Lingkungan St. Yohanes Pembaptis pun berdoa bersama:
semoga Tuhan selalu membimbing setiap langkah, menguatkan setiap niat, dan mewujudkan setiap pelayanan—baik mereka yang dulu, sekarang, maupun yang akan datang.


“Lingkungan Yohanes Pembaptis: Merajut Kasih, Menyebar Sukacita”


Satu Hati dalam Sukacita: Tradisi Ujung Natal Lingkungan Yohanes Pembaptis
​Fajar baru saja menyingsing setelah Misa Natal usai, namun suasana di Lingkungan Yohanes Pembaptis sudah terasa begitu hidup. Hari ini bukan sekadar tentang perayaan formal, melainkan tentang menghidupkan kembali tradisi “Ujung”—sebuah perjalanan kasih yang menghubungkan satu pintu ke pintu lainnya.

Sejak pagi, rombongan warga mulai berkumpul. Tidak ada batasan usia; dari yang sepuh hingga yang paling muda, semua berbaur menjadi satu keluarga besar. Tradisi muter ke rumah-rumah ini adalah cara kami berkumpul kembali tali persaudaraan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan setahun terakhir. Setiap rumah yang dikunjungi menyambutnya dengan senyum lebar dan pelukan hangat, seolah mengatakan, “Rumahku adalah rumahmu juga.”
Pesta Kecil bagi Para “Pemburu” Jajan
​Pemandangan yang paling ikonik tentu saja datang dari anak-anak. Dengan penuh semangat, mereka menenteng tas besar—bahkan ada yang membawa tas belanja kain berukuran ekstra—yang siap terisi.
Bagi mereka, Natal adalah “panen raya” kebahagiaan. Di setiap meja tamu, toples-toples berisi kue nastar, putri salju, hingga berbagai snack kekinian telah menanti. Tak butuh waktu lama, tas yang kosong tadi mulai menggelembung penuh dengan aneka rupa jajanan. Suara gemerisik bungkus plastik dan tawa renyah mereka saat membandingkan “hasil buruan” menjadi latar musik yang paling merdu sepanjang perjalanan.

Lebih dari Sekadar Snack dan Silaturahmi
​Namun, di balik tas-tas yang berat berisi makanan dan rute panjang yang ditempuh, ada makna yang lebih dalam. Tradisi Ujung di Lingkungan Yohanes Pembaptis adalah tentang:
​Kerendahan Hati: Saling memaafkan dan membuka diri.
​Kedermawanan: Berbagi berkat sekecil apa pun kepada sesama.
​Pewarisan Iman: Mengajarkan anak-anak bahwa Gereja bukan hanya bangunan, tapi komunitas orang-orang yang saling mengasihi.
​Lelah di kaki seolah tak terasa karena hati telah penuh oleh sukacita. Inilah wajah Natal kita—sederhana, guyub, dan penuh berkat.
​Selamat merayakan Natal, Lingkungan Yohanes Pembaptis! Semoga semangat silaturahmi ini terus menyala di hati kita semua.

Dokumentasi ujung Lingkungan Yepe:

https://drive.google.com/drive/folders/1kgUQBCqzUeY5RkURDGZ7_wzXW_QcpUUD

“Harmoni Muda di Misa Konvensi Nasional”


Harmoni Pembuka di Bawah Naungan Para Gembala

Malam itu, Ballroom The Rich Hotel Jogja bertransformasi menjadi sebuah tempat kudus yang megah, menjadi saksi bisu dimulainya sebuah perjalanan rohani. Seluruh umat berkumpul, menyambut Konvensi Nasional XV yang diselenggarakan oleh Badan Pelayanan Pembaharuan Karismatik Katolik (BPPKK).

Di tengah suasana yang sarat kekhidmatan itu, kelompok paduan suara dan Pemusik Muda GMBA tampil memukau. Dengan suara yang terlantun indah dan teratur, mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan petugas koor yang menghidupkan liturgi, menuntun hati setiap hadirin untuk masuk lebih dalam ke dalam misteri iman. Setiap nada yang mereka bawakan terasa mengalun lembut, memeluk jiwa dan mempersiapkan hati untuk Perayaan Ekaristi Pembukaan.

Perayaan kemuliaan semakin terasa lengkap dengan kehadiran para Gembala Gereja. Perayaan Ekaristi tersebut dipengaruhi oleh kehadiran yang luar biasa, yakni lima Uskup dari berbagai Keuskupan di seluruh Indonesia, didampingi oleh lebih dari sepuluh Romo yang berdiri sebagai pelayan Kristus.

Puncak kekhidmatan terjadi saat Perayaan Ekaristi agung yang dipimpin langsung oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko, yang bertindak sebagai Selebran Utama. Di sekeliling altar, bersama Uskup-uskup lainnya, beliau memimpin umat dalam perayaan kurban Kristus yang mulia. Kolaborasi imam-imam tersebut menciptakan sebuah momen persatuan Gereja yang tak terlupakan, menjadi penanda suci dan penuh berkah bagi dimulainya Konvensi Nasional XV.

Sungguh, itu adalah malam pembukaan yang diselimuti harmoni ilahi, di mana pelayanan musik PMG bertemu dengan kehadiran para Uskup, menjadikan Konvensi Nasional ini resmi dimulai dalam naungan doa dan berkat Tuhan.

Misa Lingkungan St. Yohanes Pembaptis


Pada hari Rabu, 25 September 2025, umat Lingkungan Yohanes Pembaptis berkumpul dalam suasana penuh kekeluargaan untuk merayakan Misa Lingkungan yang diadakan di kediaman Bapak Titus. Misa ini dipimpin oleh Romo Murdi, yang dengan penuh sukacita memimpin perayaan Ekaristi bersama umat yang hadir.

Sejak sore hari, rumah Pak Titus mulai dipenuhi oleh umat yang datang dengan semangat kebersamaan dan kerinduan akan perjumpaan rohani. Lingkungan yang biasanya tenang berubah menjadi tempat yang hidup, dipenuhi doa, nyanyian pujian, dan sapaan hangat antar sesama umat.

Misa berlangsung dengan khidmat dan penuh kehangatan. Kehadiran Romo Murdi memberikan semangat baru bagi umat lingkungan, yang merasa diteguhkan dalam iman dan kebersamaan. Liturgi berjalan lancar, dengan partisipasi aktif dari umat dalam tugas-tugas liturgis seperti lektor, pemazmur, dan petugas koor.

Lingkungan Yohanes Pembaptis juga dikenal memiliki tradisi yang indah dan penuh makna, yaitu memberikan kenang-kenangan kepada para penerima Sakramen Penguatan (Krisma) dan Komuni Pertama. Tradisi ini merupakan bentuk dukungan dan kasih dari komunitas lingkungan kepada anak-anak dan remaja yang telah mengambil langkah penting dalam perjalanan iman mereka. Kenang-kenangan tersebut menjadi simbol bahwa mereka diterima dan didoakan oleh seluruh umat lingkungan.

Setelah misa selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana. Hidangan khas rumahan disajikan, dan suasana penuh canda tawa serta cerita hangat mengisi malam itu. Anak-anak bermain bersama, orang tua saling bertukar kabar, dan semuanya bersatu dalam semangat Yohanes Pembaptis: hidup dalam terang dan kasih Kristus.

Misa lingkungan ini menjadi bukti nyata bahwa kebersamaan dan semangat pelayanan tetap hidup dan tumbuh di tengah umat, memperkuat ikatan sebagai satu keluarga besar dalam iman.

BKSN III&IV Lingkungan St. Yohanes Pembaptis

BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) selalu menjadi momen yang indah bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan betapa berharganya Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Sabda yang kita dengarkan bukan sekadar cerita dari masa lalu, melainkan sungguh-sungguh hidup, berbicara, dan menuntun kita di masa kini. Pada minggu ke-3 dan ke-4, tema yang kita renungkan mengarah kepada relasi kita dengan keluarga serta relasi kita dengan Allah. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan, karena keluarga adalah anugerah Allah, dan Allah adalah sumber kasih yang menopang setiap keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar tentang arti kasih, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, ibu, dan saudara, kita mengenal apa itu perhatian, kebersamaan, dan tanggung jawab. Keluarga adalah sekolah kehidupan, tempat di mana nilai-nilai iman diajarkan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui teladan nyata.

Namun, kita juga tidak menutup mata bahwa dalam keluarga sering muncul konflik, perbedaan pendapat, bahkan kekecewaan. Ada saatnya kita merasa tidak dipahami, atau justru kita sendiri gagal memahami orang lain dalam keluarga. Di sinilah Sabda Tuhan mengajak kita untuk terus membangun kasih dan pengampunan. Kasih dalam keluarga bukanlah kasih yang instan, melainkan kasih yang diperjuangkan, dipelihara, dan diperbarui setiap hari.

Yesus sendiri menunjukkan betapa pentingnya keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga Nazaret yang sederhana, di mana Yusuf dan Maria menjadi teladan iman, ketaatan, dan kasih. Kehidupan Yesus bersama keluarganya menjadi gambaran bagaimana keluarga yang dipenuhi kasih Allah akan melahirkan buah-buah kebaikan. Maka, ketika kita berusaha membangun keluarga yang penuh cinta, kita sesungguhnya sedang menghadirkan wajah Allah di dunia. Keluarga yang rukun, saling mendukung, dan menghidupi nilai iman akan menjadi bukti nyata bagi orang lain tentang kasih Allah yang hidup.Namun, hubungan kita tidak berhenti hanya pada lingkup keluarga.

Relasi dengan Allah adalah dasar dan kekuatan bagi segalanya. Kita bisa memiliki keluarga yang hangat, damai, dan penuh cinta, hanya jika kita terlebih dahulu berakar dalam kasih Allah. Relasi dengan Allah terjalin dalam doa pribadi, doa bersama keluarga, perayaan Ekaristi, dan keterbukaan hati terhadap Sabda-Nya. Allah bukanlah sosok yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang penuh kasih, yang selalu menyertai dan mendengarkan kita. Ketika kita memberi waktu untuk berdoa dan merenungkan firman, kita sesungguhnya sedang memperbarui ikatan cinta kita dengan Allah.Relasi dengan Allah juga mengajarkan kita untuk berserah dan percaya.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada rencana yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada kegagalan, sakit hati, atau jalan yang terasa buntu. Namun, ketika kita memiliki hubungan yang erat dengan Allah, kita belajar untuk percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam rencana-Nya yang penuh kasih. Dalam keheningan doa, kita menemukan kekuatan untuk tetap melangkah, sekalipun jalan hidup terasa berat.


Menghitung Hari Menuju Sakramen Penguatan: Triduum II, Pertobatan


Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, khususnya para calon penerima Sakramen Penguatan,

Salam damai dalam kasih Tuhan kita Yesus Kristus.

Dengan penuh sukacita dan harapan, kita menantikan saat yang sangat istimewa dalam perjalanan iman kita, yaitu penerimaan Sakramen Penguatan—sebuah anugerah agung di mana kita diteguhkan oleh Roh Kudus untuk menjadi saksi Kristus yang berani, setia, dan penuh kasih di tengah dunia.

Sakramen Penguatan bukanlah sekadar sebuah upacara atau tradisi Gereja. Ia adalah perjumpaan pribadi dengan Roh Kudus, yang akan memeteraikan kita dengan karunia-karunia-Nya: kebijaksanaan, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, kesalehan, dan takut akan Allah. Oleh karena itu, Gereja mengajak kita semua, khususnya para calon penerima Krisma, untuk mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh—bukan hanya secara lahiriah, tetapi terlebih secara batiniah.

Triduum: Masa Persiapan Rohani

Dalam semangat itu, kita akan memasuki Triduum, yaitu masa persiapan rohani selama tiga hari menjelang penerimaan Sakramen Penguatan. Triduum ini adalah waktu yang sangat berharga untuk merenungkan kembali perjalanan iman kita, membuka hati terhadap karya Allah, dan membiarkan Roh Kudus membentuk kita menjadi pribadi yang baru.

Salah satu langkah penting dalam masa persiapan ini adalah menerima Sakramen Tobat atau Pengakuan Dosa, yang akan dilaksanakan pada:

 Hari/Tanggal: Selasa, 2 September 2025
 Waktu: 15.30 – selesai
 Tempat: Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Mengapa Sakramen Tobat Begitu Penting?

Sebelum menerima pencurahan Roh Kudus, kita diajak untuk terlebih dahulu membersihkan bejana hati kita dari segala dosa, luka batin, dan hal-hal yang menghalangi kasih Allah bekerja dalam hidup kita. Sakramen Tobat adalah pintu rahmat, tempat di mana kita:

  • Mengakui dengan rendah hati segala kelemahan dan kegagalan kita di hadapan Allah
  • Menerima pengampunan dan pemulihan dari Bapa yang penuh belas kasih
  • Dibebaskan dari beban dosa yang mengikat dan melemahkan jiwa
  • Memulai kembali dengan hati yang diperbarui, bersih, dan siap menerima Roh Kudus

Dalam Kitab Suci, kita melihat bagaimana para rasul dipersiapkan oleh Yesus sebelum menerima Roh Kudus pada hari Pentakosta. Mereka berkumpul dalam doa, dalam pertobatan, dan dalam penantian yang penuh iman. Demikian pula kita, hendaknya mempersiapkan diri dengan semangat yang sama—dengan hati yang terbuka, penuh kerinduan, dan siap untuk diperbarui.

Menyambut Roh Kudus dengan Hati yang Siap

Roh Kudus tidak memaksa masuk ke dalam hati yang tertutup. Ia hadir dalam kelembutan, dalam keheningan, dalam hati yang berserah dan percaya. Maka, mari kita jadikan masa Triduum ini sebagai titik balik dalam hidup rohani kita. Jangan sia-siakan kesempatan ini. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang jujur. Biarkan Dia menyentuh, menyembuhkan, dan menguatkan kita.

Jangan takut untuk mengakui dosa. Jangan malu untuk kembali kepada Allah. Ia adalah Bapa yang selalu menanti kita dengan tangan terbuka. Dalam Sakramen Tobat, kita tidak hanya diampuni, tetapi juga dipulihkan dan dipersiapkan untuk menerima karunia yang jauh lebih besar: kehadiran Roh Kudus yang mengubah hidup.


Saudara-saudari terkasih,

Mari kita jalani masa Triduum ini dengan penuh kesungguhan, dengan semangat pertobatan dan pembaruan. Jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk semakin dekat dengan Tuhan, semakin mengenal diri, dan semakin siap untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia yang haus akan kasih dan kebenaran.

Semoga Roh Kudus membimbing setiap langkah kita, menerangi hati kita, dan meneguhkan kita dalam panggilan hidup sebagai murid-murid Kristus yang sejati.

Datanglah, ya Roh Kudus, penuhilah hati umat-Mu, dan nyalakanlah di dalamnya api cinta-Mu.

Amin.


Untuk dokumentasi lainya dapat dicek disini:

https://drive.google.com/drive/folders/1azQc0gxPSs2O0Xu8dcsTeFIsbVhuJrYH

Pemilihan Ketua Dewan Pastoral Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo


Dalam kehidupan Gereja Katolik, keterlibatan umat beriman menjadi bagian penting dalam membangun dan menghidupkan komunitas iman. Salah satu wujud nyata partisipasi tersebut tampak dalam struktur kepengurusan stasi, yaitu komunitas umat di tingkat lingkungan atau wilayah yang berada di bawah naungan paroki.

Pada hari minggu 24 Agustus 2025, umat Stasi Maguwo menggelar pemilihan Ketua Dewan Pastoral Stasi sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungan pelayanan dan penggembalaan umat. Acara ini menjadi momen penting sekaligus sakral bagi seluruh umat karena tidak hanya memilih seorang pemimpin, tetapi juga seorang pelayan dan teladan iman.

Proses pemilihan diawali dengan doa bersama, memohon bimbingan Roh Kudus agar umat mampu menentukan pilihan yang bijak sesuai kehendak Tuhan. Suasana penuh persaudaraan semakin terasa ketika umat mendengarkan arahan dari Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr, selaku Pastor Paroki Maria Marganingsih Kalasan. Dalam arahannya, Romo Dadang menegaskan bahwa seorang pemimpin Kristiani hendaknya rendah hati, mau bekerja sama, siap sakit hati, penuh kasih, serta berkomitmen pada tugas Gereja.

Pada pemilihan kali ini, umat stasi maguwo sudah mengantongi 3 nama kandidat Ketua Dewan Stasi, yaitu pada kandidat pertama ada Bapak Fransiskus Xaverius Dwi Istiya Rusiawan, kemudian yang kedua ada Bapak Yohanes Agung Prasetya Putra (sekaligus adalah Petahana), dan yang ketiga ada Bapak Yohanes Saptanto Sarwo Basuki. Merekalah orang-orang yang terpilih dan dipilih oleh umat stasi maguwo.

Setelah dilakukan penghitungan suara, ketua dewan stasi terpilih adalah Bapak Yohanes Agung Prasetya Putra, sebagai Ketua Dewan Pastoral Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo periode 2026 – 2028. Jabatan Ketua Stasi bukan hanya menjadi “pemimpin”, tetapi terutama seorang gembala kecil di tengah umat, yang membantu pastor paroki dalam mengkoordinasi kegiatan rohani maupun sosial, seperti perayaan liturgi, kunjungan pastoral, pelayanan kepada kaum miskin, dan pembinaan iman umat, kaum muda dan anak-anak. Tugas ini tentu tidak ringan, namun mulia, karena semuanya dijalankan demi kemuliaan Allah dan kesejahteraan umat-Nya.

Momen pemilihan ketua dewan pastoral stasi ini juga menjadi kesempatan bagi umat untuk semakin menyadari panggilan mereka sebagai Gereja yang hidup, di mana setiap orang mengambil bagian dalam perutusan Kristus. Dengan semangat kebersamaan, mereka percaya bahwa siapa pun yang dipilih adalah alat Tuhan yang diutus untuk membimbing dan menguatkan iman komunitas. Akhirnya, seluruh rangkaian acara ditutup dengan doa dan harapan agar pemimpin baru mampu menjalankan tugasnya dengan rendah hati, penuh kasih, serta selalu mengandalkan kekuatan dari Tuhan.


https://www.instagram.com/komsosgmba?igsh=MTV0cmtoOHcwdHVucw==

“Gerbang Utama Kehidupan Kristiani” Babtisan di bulan Agustus 2025

Sakramen Baptis adalah gerbang utama menuju kehidupan Kristiani dalam Gereja Katolik. Melalui baptisan, seseorang dibersihkan dari dosa asal dan menjadi anggota resmi dalam Tubuh Kristus, yakni Gereja. Sakramen ini bukan sekadar upacara simbolis, melainkan sebuah peristiwa rohani yang mendalam, di mana Allah sendiri menyentuh dan menguduskan hidup seseorang.

Dalam tradisi Katolik, baptisan biasanya diberikan kepada bayi, sebagai tanda bahwa keselamatan adalah anugerah Allah yang mendahului usaha manusia. Namun, orang dewasa yang belum dibaptis juga dapat menerima sakramen ini setelah menjalani masa katekumenat, yaitu masa persiapan dan pendalaman iman. Air yang dicurahkan ke atas kepala atau dengan cara pencelupan menjadi lambang pembersihan rohani, sekaligus tanda kehidupan baru dalam Kristus.

Baptis juga menyatukan kita dengan misteri wafat dan kebangkitan Kristus. Melalui baptisan, kita mati terhadap dosa dan bangkit menjadi ciptaan baru. Oleh karena itu, setelah dibaptis, seseorang dipanggil untuk hidup dalam terang Kristus, menjadi murid yang setia, serta terlibat dalam kehidupan Gereja dan masyarakat dengan kasih, pengharapan, dan iman.

Sakramen ini menunjukkan kasih Allah yang tak terbatas, yang menyambut setiap orang tanpa syarat. Dalam keluarga Katolik, momen baptisan menjadi saat sukacita dan harapan, ketika seorang anak atau orang dewasa diterima secara penuh dalam komunitas iman, siap untuk berjalan bersama Kristus sepanjang hidupnya.

Baptis bayi di Minggu I bulan Agustus 2025 ini diterimakan oleh romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Selamat menjadi anggota gereja Katolik anak Francis Rivaille Risardi, bertumbuhlah dalam iman akan Yesus Kristus.



Kunjungi Instagram komsos GMBA:

https://www.instagram.com/reel/DMXPNS7Rt4y