Dalam semangat persaudaraan seiman dan kepedulian terhadap para lansia, Timpel PIUL kembali melaksanakan karya pelayanan kasih melalui kunjungan ke rumah umat. Kegiatan ini menjadi wujud nyata dari perhatian Gereja kepada mereka yang telah lebih dahulu menabur benih iman dan pengabdian di tengah komunitas.
Kunjungan pertama dilakukan ke kediaman Bapak YB Hardjito dan Ibu Fransiska Jumirah. Suasana akrab dan penuh kekeluargaan begitu terasa sejak awal perjumpaan. Setelah diawali dengan doa bersama, tim kemudian mendampingi Bapak Hardjito untuk pemeriksaan kesehatan oleh Bapak Y. Sudiharto. Pemeriksaan meliputi tensi darah, kadar gula, asam urat, dan kolesterol. Hasilnya pun dibicarakan dengan ringan dan penuh perhatian, menjadi sarana untuk saling menguatkan dalam menjaga kesehatan di usia lanjut.


Dalam percakapan hangat, tersingkaplah kembali kisah perjalanan pelayanan Bapak Hardjito. Beliau pernah menjadi Koordinator sekaligus Pelatih musik inkulturasi gamelan Jawa untuk liturgi. Dengan penuh semangat, beliau menceritakan kembali pengalamannya mengiringi puji-pujian Gereja dengan lantunan gamelan, sebuah warisan budaya sekaligus wujud iman yang indah. Meskipun kini usia telah sepuh dan sudah lama fakum, semangatnya tetap menyala ketika berbicara tentang gamelan liturgi. Pandangan matanya seakan kembali hidup, menandakan betapa besar cinta yang pernah beliau berikan untuk Gereja melalui seni musik.
Perjalanan pelayanan kasih dilanjutkan ke Lingkungan St. Gabriel, mengunjungi Bapak Jumadi. Beliau pun memiliki kisah yang serupa: dahulu aktif sebagai pemusik gamelan yang memegang gong, ikut serta menghidupi suasana liturgi dengan indahnya harmoni tradisi Jawa. Saat ini, meski harus berjuang dengan kondisi kesehatan akibat Parkinson, semangat imannya tetap kokoh. Beliau masih berusaha hadir di Gereja setiap kali ada kesempatan, menjadi teladan kesetiaan dan ketekunan dalam menghidupi iman di tengah keterbatasan.


Kunjungan ini tidak hanya menjadi ajang pemeriksaan kesehatan fisik, melainkan juga menjadi ruang perjumpaan hati, di mana doa, cerita, kenangan, dan semangat pelayanan kembali dirangkai bersama. Melalui kisah para lansia, kita diajak merenungkan betapa iman dan pengabdian yang telah mereka taburkan merupakan harta berharga bagi Gereja.


Semoga karya pelayanan sederhana ini semakin meneguhkan bahwa Gereja adalah rumah yang saling menopang, tempat di mana setiap pribadi – muda maupun sepuh – dihargai dan dicintai. Kehadiran Timpel PIUL menjadi tanda bahwa kasih Kristus terus mengalir, menyapa, dan menguatkan semua umat-Nya.
