Semangat Paskah dalam Kebersamaan: Ibadah Paskah Lingkungan Santa Monica

Sukacita Paskah terasa begitu hangat dalam kebersamaan umat Lingkungan Santa Monica yang menggelar ibadah Paskah pada Kamis, 9 April 2026. Bertempat di rumah Bapak Saman, ibadah yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh prodiakon Ibu Wiwiek dan dihadiri oleh umat dalam jumlah yang cukup banyak.

Sejak awal acara, suasana penuh khidmat dan kebersamaan sudah terasa. Meskipun sempat terjadi mati lampu di tengah jalannya ibadah, hal tersebut tidak mengurangi semangat umat dalam mengikuti seluruh rangkaian perayaan. Dengan sederhana namun penuh makna, ibadah tetap berlangsung lancar hingga selesai. Justru dalam keterbatasan tersebut, kebersamaan dan kekhusyukan umat semakin terasa kuat.

Tingginya jumlah kehadiran umat pada malam itu juga dipengaruhi oleh momen penting, yakni hari terakhir pengumpulan kotak APP sebelum nantinya diserahkan ke tingkat stasi pada minggu berikutnya. Umat dengan penuh kesadaran dan sukacita membawa serta hasil pengorbanan mereka selama masa Prapaskah sebagai wujud nyata kepedulian dan solidaritas terhadap sesama.

Setelah ibadah selesai, Ketua Lingkungan, Mas Edo, menyampaikan beberapa pengumuman penting. Dalam kesempatan tersebut, beliau mengungkapkan bahwa seluruh hasil kolekte selama rangkaian APP dari pertemuan pertama hingga kelima akan disalurkan kepada Panti Asuhan Bakti Luhur Berbah. Rencana penyaluran bantuan ini akan dilaksanakan pada hari Senin, 13 April 2026.

Adapun total dana yang berhasil dikumpulkan mencapai Rp1.000.000, yang juga mencakup tambahan dari paguyuban ibu-ibu lingkungan. Tidak hanya dalam bentuk dana, umat juga menunjukkan kepedulian melalui donasi berupa beras seberat 25 kilogram. Bantuan ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Ibadah Paskah kali ini tidak hanya menjadi perayaan iman atas kebangkitan Kristus, tetapi juga menjadi wujud nyata kebersamaan, kepedulian, dan semangat berbagi di tengah umat. Dalam kesederhanaan dan kebersamaan, Lingkungan Santa Monica kembali menunjukkan bahwa iman yang hidup senantiasa diwujudkan dalam tindakan kasih yang konkret.

Semoga semangat Paskah yang telah dirayakan ini terus menginspirasi umat untuk hidup dalam terang, harapan, dan kasih di tengah kehidupan sehari-hari.

Wujudkan Aksi Nyata APP 2026, Pengurus Lingkungan St. Maria Immaculata Sambangi Umat Lansia

Semangat Aksi Puasa Pembangunan (APP) tahun 2026 tidak hanya berhenti pada 5 kali pertemuan ibadat lingkungan dan pengumpulan kotak APP saja. Pengurus Lingkungan St. Maria Immaculata mewujudkannya secara nyata melalui aksi kunjungan kasih kepada umat lanjut usia (lansia) dan mereka yang sedang sakit di wilayah lingkungan, Jumat (10 April 2026)

Kegiatan ini menyasar para lansia yang karena keterbatasan fisik dan kondisi kesehatan, sudah tidak memungkinkan lagi untuk hadir secara fisik mengikuti Misa Mingguan di Gereja.

Kehadiran Gereja di Tengah Keluarga

Ketua Lingkungan St. Maria Immaculata Bapak St. Kristiantara menjelaskan bahwa kunjungan ini merupakan bagian dari program kerja lingkungan yang diselaraskan dengan tema APP 2026. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa setiap anggota komunitas, terutama yang paling rentan, tetap merasa menjadi bagian utuh dari persekutuan Gereja. Ada 3 umat lansia yang dikunjungi yakni Ibu Ngadiyanto, Bapak Soebardjo, dan Bapak Wagimin.

“Kami ingin menyapa saudara-saudara kita yang sudah sepuh. Meskipun mereka tidak bisa ke Gereja, Gereja-lah yang mendatangi mereka. Ini adalah bentuk pertobatan nyata melalui tindakan kasih,” ujar Ketua Lingkungan di sela-sela kunjungan.

Lebih dari Sekadar Kunjungan

Dalam kunjungan tersebut, para pengurus tidak hanya datang untuk bertegur sapa, tetapi juga mengajak umat yang dikunjungi untuk berdoa bersama , lalu memberikan bingkisan kasih sebagai simbol perhatian dari seluruh warga lingkungan dan yang tidak kalah penting adalah membantu memfasilitasi komunikasi jika umat yang bersangkutan merindukan Sakramen Pengurapan Orang Sakit atau Komuni Kudus yang diantarkan oleh Prodiakon.

Salah satu umat lansia yang dikunjungi, Ibu Ngadiyanto, mengungkapkan rasa harunya. “Saya merasa sangat bahagia. Walau kaki sudah sulit melangkah ke altar, doa-doa dari pengurus lingkungan membuat saya merasa tetap dekat dengan Tuhan,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Dimana ibu Ngadiyanto setiap minggu diantar komuni oleh prodiakon lingkungan.

Menghidupkan Semangat Solidaritas

Aksi ini diharapkan dapat memicu semangat solidaritas bagi umat lainnya, terutama kaum muda, untuk lebih peduli terhadap sesama di sekitar mereka. Pengurus Lingkungan St. Maria Immaculata berharap kegiatan ini konsisten dilakukan, bukan hanya di masa Prapaskah, melainkan menjadi identitas komunitas yang inklusif.

Melalui langkah kecil ini, lingkungan St. Maria Immaculata membuktikan bahwa Aksi Puasa Pembangunan bukan sekadar wacana, melainkan jembatan kasih yang menghubungkan hati setiap umat, tanpa peduli jarak fisik maupun keterbatasan usia.

Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan dalam Terang Kisah Para Rasul

Pertemuan APP 4

Hari Kamis, 19 Maret 2026, Lingkungan Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan APP ke-4, dan juga Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan di Rumah Bapak Sugiyono di Kradenan. Sebelum Pertemuan APP dimulai, umat menyelesaikan administrasi, arisan, lotre dan lain-lain. Setelah dirasa cukup, baru sembahyangan dimulai. Pada Pertemuan kali ini umat diajak untuk menyadari pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan, agar setiap usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, teratur, dan menghasilkan buah yang nyata.

Bacaan dari Kisah Para Rasul 6:1–7 menggambarkan situasi jemaat perdana yang mulai berkembang pesat. Dalam perkembangan tersebut, muncul persoalan mengenai pembagian bantuan kepada para janda, di mana terjadi ketidakadilan yang menimbulkan keluhan. Para rasul tidak mengabaikan masalah ini, melainkan mencari solusi yang bijaksana dan terarah.

Mereka kemudian menetapkan suatu pedoman dengan memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk melayani kebutuhan tersebut. Para rasul sendiri tetap fokus pada tugas utama mereka, yaitu doa dan pelayanan firman. Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan yang baik membutuhkan aturan, struktur, dan pedoman yang jelas agar setiap orang dapat menjalankan perannya dengan maksimal.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa tanpa pedoman yang jelas, sebuah gerakan dapat mengalami kekacauan, ketidakadilan, bahkan perpecahan. Sebaliknya, dengan adanya pedoman yang disepakati bersama, pelayanan dapat berjalan lebih efektif, tertib, dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

Dalam kehidupan umat saat ini, baik di lingkungan, paroki, maupun masyarakat, pedoman sangat diperlukan. Pedoman membantu kita untuk tetap fokus pada tujuan bersama, menjaga keadilan, serta memastikan bahwa setiap orang dilayani dengan baik. Pedoman juga menjadi sarana untuk membangun kerja sama, saling percaya, dan tanggung jawab bersama.

Melalui Pertemuan APP 4 ini, umat diajak untuk tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga menghargai dan mengikuti pedoman yang ada. Bahkan lebih dari itu, umat didorong untuk terlibat dalam menyusun dan menghidupi pedoman tersebut demi kebaikan bersama.

Akhirnya, seperti jemaat perdana yang semakin bertumbuh karena keteraturan dan kesatuan, demikian pula kita diharapkan mampu membangun komunitas yang kuat, terarah, dan penuh kasih. Dengan pedoman yang jelas dan semangat pelayanan, setiap gerakan yang kita lakukan akan semakin mencerminkan karya Tuhan di tengah dunia.

Instagram : https://www.instagram.com/p/DWILtWfD9Zy/

Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Antonius Maguwo

“MENINGGALKAN SIKAP KETIDAKPEDULIAN, MENGEMBANGKAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL”

Tanggal                      : 5 Maret 2026

Tempat                      : Rumah Ibu Aniek

Pemandu                  : Bp Purwanto, Bp Indarto, Bp Andreas, Ibu Titik, Ibu Nelly

Jumlah Peserta       : 27 orang

Pertemuan ketiga Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 kembali dilaksanakan dalam semangat tema besar “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera.” Pada pertemuan ini umat diajak merenungkan subtema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial.” Melalui pertemuan ini, umat diingatkan bahwa setiap anugerah yang diterima dari Tuhan—baik kemampuan, waktu, relasi, maupun harta—mengandung tanggung jawab untuk dibagikan kepada sesama demi menghadirkan kesejahteraan bersama.

Pertemuan diawali dengan nyanyian pembuka, tanda salib, pengantar, serta doa pembuka yang mengantar umat memasuki suasana refleksi lalu pembacaan Kitab Suci untuk memberikan acuan dari tema ini. Dalam pendalaman materi, umat diajak menyadari bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dari panggilan iman. Gereja mengajak setiap orang untuk tidak bersikap acuh terhadap kesulitan sesama, melainkan berani mengambil langkah nyata dalam membangun solidaritas. Dengan saling berbagi dan bekerja sama, anugerah yang berbeda-beda dari setiap orang dapat dipadukan untuk menghadirkan perubahan yang nyata bagi mereka yang membutuhkan.

Untuk memperdalam pemahaman tersebut, pertemuan ini dilengkapi dengan sebuah fragmen atau drama situasi yang menggambarkan kontras antara sikap ketidakpedulian dan sikap penuh kasih. Dalam cerita tersebut digambarkan seorang keluarga kaya yang hidup berkecukupan namun menolak membantu seorang pria yang sedang membutuhkan uang untuk membeli obat bagi istrinya yang sakit. Sebaliknya, sebuah keluarga sederhana yang hidup dengan keterbatasan justru menunjukkan belas kasih dengan memberikan sebagian dari uang belanja mereka untuk menolong orang yang membutuhkan. Kisah ini menegaskan bahwa kepedulian tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh hati yang terbuka untuk berbagi.

Fragmen tersebut mencapai puncaknya ketika orang kaya yang sebelumnya bersikap sombong mengalami kesulitan karena anaknya mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Tanpa diduga, justru orang miskin yang dahulu ia tolak bantuannya bersedia secara sukarela mendonorkan darahnya demi menyelamatkan nyawa anak tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, setiap orang saling membutuhkan dan kebaikan yang diberikan dengan tulus akan membawa berkat bagi banyak orang.Pertemuan dilanjutkan dengan doa ARDAS IX kemudian Doa Bapa Kami, serta berkat penutup dan lagu penutup. Melalui pertemuan APP ketiga ini, umat diajak untuk semakin meninggalkan sikap tidak peduli dan mulai mengembangkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana sesuai kemampuan masing-masing, sebab membantu sesama tidak harus menunggu menjadi kaya, melainkan dimulai dari hati yang mau berbagi dan menghidupi kasih Kristus dalam kehidupan nyata.