BKSN 2026 Pertemuan Keempat Lingkungan Santo Antonius Maguwo

“Ujian Masuk Surga”: Ketika Iman Tidak Cukup Hanya Dirayakan, tetapi Harus Dihidupi

Maguwo, 30 September 2026 — Ada suasana berbeda dalam pertemuan keempat Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 di Lingkungan Santo Antonius Maguwo. Jika pada pertemuan-pertemuan sebelumnya umat diajak mendalami ajaran Yesus melalui refleksi dan aktivitas bersama, kali ini pesan Injil disampaikan dengan cara yang ringan, menghibur, namun sekaligus mengusik hati.

Bertempat di rumah Ibu Nunik, sebanyak 25 umat hadir dalam pertemuan BKSN yang dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026. Pertemuan mengangkat tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal”, dengan bacaan Injil Matius 25:31-46.

Tema tersebut merupakan pertemuan keempat dalam rangkaian BKSN 2026 yang mengangkat tema besar “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Dalam panduan BKSN, Matius 25:31-46 mengajak umat mendengarkan ajaran Yesus mengenai hidup yang kekal melalui jalan belas kasih kepada mereka yang menderita, miskin, dan tersingkir, sekaligus merefleksikan bagaimana umat menghadirkan tindakan yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Dari “Yesus Pokok” menuju permenungan tentang hidup

Pertemuan diawali dengan lagu “Yesus Pokok dan Kitalah Carang-Nya”, yang membawa umat memasuki suasana pertemuan dengan semangat untuk melekat pada Kristus sebagai sumber kehidupan.

Selanjutnya, Bapak Murdiyana memimpin pembukaan dengan tanda salib dan Doa Ardas IX. Dalam pengantarnya, umat diajak memasuki pertemuan keempat dengan melihat kembali pesan utama bacaan Injil: bahwa pembicaraan mengenai hidup yang kekal bukan sekadar persoalan tentang apa yang terjadi setelah kematian, melainkan berkaitan erat dengan bagaimana manusia menjalani kehidupannya sekarang.

Doa pembuka kemudian mengantar umat pada bagian pendalaman Sabda. Bapak Widjajanto membacakan Injil Matius 25:31-46, perikop yang menggambarkan kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan dan pemisahan antara mereka yang menjalankan kasih kepada sesama dan mereka yang mengabaikannya.

Dalam rangkaian BKSN 2026, perikop ini memang ditempatkan sebagai puncak permenungan tentang hidup yang kekal. Panduan BKSN menegaskan bahwa sabda Yesus diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan rohani, tetapi membentuk hati umat agar semakin peka terhadap sesama, terbuka untuk bekerja sama, peduli kepada yang lemah, serta berani menjadi saksi Kristus dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. 

“Ujian Masuk Surga”: Tertawa, tetapi kemudian tersentuh

Setelah pembacaan Injil, suasana pertemuan berubah menjadi lebih cair. Umat disuguhi sebuah fragmen berjudul “Ujian Masuk Surga”, yang dikemas dalam format fragmen berdurasi sekitar 5–6 menit. 

Fragmen tersebut menggambarkan sebuah situasi imajinatif: bagaimana jika seseorang harus mengikuti “seleksi” sebelum masuk surga.

Kisah diawali dengan pertanyaan sederhana namun menggelitik:

“Apa yang membuat seseorang layak menerima hidup yang kekal?” Naskah Fragmen Pertemuan ke4

Salah satu tokoh, Pak Wiwid, datang dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki bekal yang cukup. Ia rajin mengikuti misa, rajin berdoa, dan cukup aktif dalam pelayanan. Namun ketika petugas seleksi mulai mengajukan pertanyaan tentang bagaimana ia memperlakukan orang yang lapar, sakit, kesepian, atau membutuhkan pertolongan, jawaban yang muncul berulang kali adalah:

“Saya doakan.”

Di sinilah humor dalam fragmen perlahan berubah menjadi refleksi. Petugas kemudian mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam: jika Tuhan sudah memberikan makanan, mengapa makanan itu tidak dibagikan kepada mereka yang lapar? Naskah Fragmen Pertemuan ke4

Pertanyaan tersebut menjadi titik balik. Umat diajak menyadari bahwa doa dan kehidupan keagamaan tetap penting, tetapi iman tidak berhenti pada apa yang diucapkan dan dirayakan. Iman harus menjelma menjadi tindakan nyata.

Sebaliknya, tokoh Larno digambarkan sebagai pribadi yang merasa dirinya “biasa saja”. Ia tidak banyak berbicara tentang aktivitas keagamaannya. Namun ketika bertemu orang lapar, ia berbagi makanan; ketika ada orang sakit, ia datang; ketika ada orang baru, ia mengajak berkenalan; dan ketika ada orang kesepian, ia menemani. 

Kontras kedua tokoh tersebut membuat pesan Injil menjadi lebih mudah dipahami: bukan seberapa banyak seseorang mengaku telah melakukan kebaikan, melainkan apakah imannya sungguh membuatnya peduli terhadap sesama.

Puncak fragmen ditandai dengan pertanyaan tentang “tiket masuk surga”. Jawaban yang diberikan justru mengarahkan umat untuk melihat kehidupan di sekitar mereka: adakah orang yang lapar, sakit, kesepian, atau membutuhkan pertolongan?

“Mungkin… ujiannya sudah dimulai.”

Kalimat tersebut menjadi punchline sekaligus pesan utama fragmen.

Sharing: Dari “orang lain” menjadi “orang di sekitar kita”

Refleksi kemudian dilanjutkan melalui sesi sharing yang dibawakan oleh Bapak Bagus.

Sharing dikembangkan melalui tiga pertanyaan sederhana. Pertama, umat diajak melihat kembali alasan Pak Wiwid merasa dirinya sudah layak karena rajin misa, berdoa, dan melayani. Kedua, umat diajak mengenali siapa sebenarnya “orang yang membutuhkan pertolongan” dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, umat diajak memilih satu tindakan kasih nyata yang dapat dilakukan setelah pertemuan BKSN. 

Pertanyaan kedua menjadi penting karena orang yang membutuhkan perhatian ternyata tidak selalu berada jauh dari kehidupan kita. Bisa jadi mereka adalah orang yang paling dekat: suami, istri, anak, orang tua, tetangga, teman satu lingkungan, atau seseorang yang sedang mengalami kesepian.

Kadang mereka bahkan tidak meminta bantuan. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau melihat, menyapa, mendengarkan, dan menemani.

Di sinilah pesan Matius 25 menjadi sangat konkret. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang membutuhkan:

“Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)

Dengan demikian, perjumpaan dengan sesama yang membutuhkan bukan sekadar kesempatan untuk berbuat baik. Perjumpaan tersebut dapat menjadi perjumpaan dengan Kristus sendiri.

Jangan pulang hanya membawa pengetahuan

Salah satu pesan yang kuat dalam sesi sharing adalah ajakan agar BKSN tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan mengenai Kitab Suci.

Umat diajak pulang dengan satu tindakan nyata. Tidak harus besar. Bisa menelepon seseorang yang sudah lama tidak disapa, mengunjungi orang sakit, menemani seseorang yang kesepian, berbagi makanan, membantu tetangga, atau berdamai dengan seseorang yang selama ini dijauhi. 

Pesan tersebut selaras dengan arah BKSN 2026 bahwa tujuan pendalaman Kitab Suci bukan hanya memahami teks, tetapi menemukan inspirasi sehingga hidup umat bertumbuh, berubah menjadi lebih baik, dan nilai-nilai Sabda Allah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan demikian, pertanyaan yang dibawa pulang bukan lagi sekadar:

“Apakah saya sudah menjadi orang Katolik yang baik?”

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih personal:

“Apakah iman saya membuat saya menjadi orang yang berbelas kasih?”

Hidup kekal dimulai dari cara kita hidup hari ini

Setelah sesi sharing, rangkaian pertemuan dilanjutkan dengan doa umat, doa penutup, dan berkat oleh prodiakon. Suasana kemudian ditutup dengan lagu “Kasih-Nya Seperti Sungai”, sebuah penutup yang semakin menegaskan bahwa kasih Allah seharusnya mengalir melalui kehidupan umat.

Pertemuan keempat BKSN Lingkungan Santo Antonius Maguwo akhirnya bukan sekadar menjadi penutup rangkaian pendalaman Kitab Suci selama September. Melalui bacaan Matius 25:31-46, umat diajak melihat bahwa pembicaraan tentang hidup yang kekal tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan sesama dalam kehidupan sekarang.

Fragmen “Ujian Masuk Surga” berhasil menjembatani pesan Injil dengan pengalaman sehari-hari. Umat diajak tertawa, tetapi kemudian berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika ada orang di sekitar kita yang membutuhkan, apakah kita hanya mendoakannya, atau sungguh hadir dan melakukan sesuatu?

Pada akhirnya, pesan yang sederhana namun kuat dari pertemuan ini adalah: kita tidak perlu sibuk mencari “tiket masuk surga”. Kita cukup membuka mata dan melihat siapa yang membutuhkan kita hari ini. Sebab mungkin, justru di sanalah Tuhan sedang menunggu untuk kita jumpai.

Pertemuan BKSN keempat Lingkungan Santo Antonius Maguwo berlangsung dengan baik dan penuh antusiasme, diikuti 25 peserta di rumah Ibu Nunik. Rangkaian BKSN 2026 pun ditutup dengan sebuah ajakan yang sangat konkret: mendengarkan Yesus Sang Guru berarti membiarkan sabda-Nya mengubah cara kita melihat, merasakan, dan memperlakukan sesama.

Berkah Dalem.

Menghayati Persaudaraan dalam Iman yang Saling Menyejahterakan

Pertemuan Ketiga BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius

Maguwo – Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 Lingkungan Santo Antonius Padua, Maguwo, kembali dilaksanakan pada Kamis, 24 September 2026. Pertemuan kali ini bertempat di rumah Bapak Rusiawan dan diikuti oleh 27 umat.

Pertemuan mengangkat tema “Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman yang Saling Menyejahterakan.”Tema tersebut mengajak umat untuk semakin memahami bahwa iman kepada Yesus tidak hanya diwujudkan dalam relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi juga melalui kehidupan bersama sebagai saudara seiman.

Persaudaraan dalam iman mengandung panggilan untuk saling memperhatikan, menghargai, membantu, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama. Dengan demikian, kehidupan menggereja tidak berhenti pada kegiatan bersama, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kepedulian dan menciptakan kehidupan yang semakin menyejahterakan satu sama lain.

Pertemuan dipandu secara bersama oleh Bapak Arief, Bapak Rusiawan, Ibu Ayiek, dan Bapak Indarto. Umat mengikuti rangkaian pendalaman dengan penuh perhatian dan terlibat dalam suasana kebersamaan. Melalui pendalaman tema BKSN, umat diajak untuk melihat kembali bagaimana ajaran Yesus dapat dihidupi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam relasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Suasana pertemuan berlangsung akrab dan penuh kebersamaan. Selain menjadi kesempatan untuk mendalami Sabda Allah, pertemuan BKSN juga menjadi ruang bagi umat untuk saling berbagi pengalaman iman serta semakin mempererat persaudaraan di lingkungan.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santo Antonius Padua diajak untuk terus menghadirkan iman yang hidup: iman yang membangun persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan membawa kesejahteraan bagi sesama.

Belajar Menjadi Murid yang Inspiratif: Ketika Berbagi Menjadi Jalan Perutusan

Pertemuan Kedua BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Mengajak Umat untuk Berani Melayani Sesama

Maguwo, 17 September 2026 — Semangat kebersamaan dan kegembiraan kembali mewarnai Pertemuan Kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 Lingkungan Santo Antonius, yang dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026, di rumah Ibu Aniek. Sebanyak 32 umat hadir dan mengikuti pendalaman Kitab Suci dengan tema “Pengajaran Yesus: Menjadi Murid yang Inspiratif”, berdasarkan Injil Matius 10:1–15.

Jika pada pertemuan pertama umat diajak merenungkan pengajaran Yesus mengenai hidup yang bahagia, pada pertemuan kedua umat diajak melangkah lebih jauh: menjadi murid yang dipanggil dan diutus untuk melayani sesama.

Tema tersebut merupakan bagian dari rangkaian BKSN 2026 dengan tema besar “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui tema ini, umat diajak semakin mengenal Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh kuasa serta menghadirkan Kerajaan Allah melalui kasih dan pelayanan kepada sesama.

“Laskar Kristus” Membuka Pertemuan

Pertemuan diawali dengan lagu “Laskar Kristus” yang segera membangun suasana penuh semangat. Pilihan lagu tersebut terasa selaras dengan pesan pertemuan: menjadi murid Kristus bukan hanya berarti mendengarkan Sabda, tetapi juga berani bergerak dan menjalankan perutusan.

Ada hal menarik dalam pertemuan kali ini. Jika pertemuan pertama dipandu oleh beberapa umat, kali ini OMK Santo Antonius mengambil peran sebagai pemandu. Keterlibatan orang muda memberikan warna tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang untuk turut menghidupkan kehidupan menggereja dan pendalaman Kitab Suci di tengah komunitas.

Setelah lagu pembukaan, Mas Aremba memimpin pembukaan dengan tanda salib, dilanjutkan dengan Doa Ardas IX. Selanjutnya disampaikan pengantar mengenai tema pertemuan kedua dan kaitannya dengan Injil yang akan direnungkan bersama.

Pesan yang hendak dibawa cukup sederhana: setelah menerima dan mengalami kasih Allah, seorang murid tidak dipanggil untuk menyimpannya bagi diri sendiri. Ia dipanggil untuk keluar, hadir, dan melayani.

Yesus Memanggil dan Mengutus Para Murid

Pendalaman dilanjutkan dengan pembacaan Injil Matius 10:1–15 oleh OMK. Perikop ini merupakan bagian dari kisah pengutusan kedua belas murid. Yesus memanggil para murid, memberikan kuasa kepada mereka, dan mengutus mereka untuk mengambil bagian dalam karya pelayanan.

Dalam perikop tersebut, Yesus memberikan arahan mengenai perutusan, apa yang perlu dilakukan, apa yang tidak perlu dibawa, serta bagaimana para murid menghadapi penerimaan maupun penolakan.

Salah satu pesan Yesus yang menjadi perhatian dalam pendalaman adalah:

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Pesan ini mengingatkan bahwa kasih, pengampunan, rahmat, dan kebaikan yang diterima dari Tuhan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Semua itu dipanggil untuk diteruskan melalui kehidupan dan tindakan nyata kepada orang lain.

Karena itu, menjadi murid yang inspiratif tidak harus dimulai dari tindakan yang besar. Perutusan dapat dimulai dari kesediaan untuk mengambil langkah pertama dalam melayani sesama.

Secangkir Teh yang Mengajarkan Arti Kerja Sama

Setelah pendalaman Kitab Suci, OMK Santo Antonius mengajak peserta mengikuti sebuah permainan reflektif. Permainan tersebut sederhana, tetapi justru menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sekitar 25 peserta dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok memperoleh sebuah paket yang telah diundi. Namun, tidak ada satu pun paket yang berisi perlengkapan lengkap untuk membuat teh manis.

Ada kelompok yang mendapatkan gelas dan air panas. Kelompok lain memperoleh gula, sendok, dan gelas. Kelompok lainnya mendapatkan perlengkapan yang berbeda.

Tugas mereka sederhana: membuat minuman teh untuk seluruh anggota kelompok.

Namun, segera terlihat bahwa tidak ada kelompok yang dapat menyelesaikan tugas hanya dengan perlengkapan yang mereka miliki.

Untuk membuat teh manis, mereka membutuhkan sesuatu yang berada di kelompok lain.

Di sinilah permainan menjadi menarik.

Para peserta harus berkomunikasi, bernegosiasi, dan saling bertukar perlengkapan. Gelas, air panas, gula, sendok, dan berbagai kebutuhan lainnya harus dikumpulkan melalui kerja sama antarkelompok.

Tidak ada kelompok yang memiliki segala sesuatu. Hanya dengan berbagi dan bekerja sama, tugas tersebut dapat diselesaikan.

Pada akhirnya, batas antara “milik kelompok kami” dan “milik kelompok mereka” menjadi tidak lagi penting. Yang menjadi tujuan bersama adalah satu: semua anggota dapat menikmati secangkir teh manis.

Ketika Kekurangan Menjadi Jalan untuk Bersama

Permainan tersebut kemudian menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan dalam komunitas.

Tidak ada seorang pun yang memiliki segala sesuatu.

Ada yang memiliki waktu tetapi tidak memiliki kemampuan tertentu. Ada yang memiliki kemampuan tetapi membutuhkan dukungan orang lain. Ada yang memiliki sumber daya tetapi tidak memiliki kesempatan untuk menggunakannya. Bahkan, ada pula yang mungkin merasa tidak memiliki sesuatu yang istimewa, tetapi apa yang dimilikinya ternyata justru dibutuhkan oleh orang lain.

Karena itu, kehidupan menggereja tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kemampuan individu.

Kita saling membutuhkan.

Dalam konteks inilah pesan Yesus tentang perutusan menjadi semakin relevan. Para murid memang dipanggil dan diutus secara pribadi, tetapi pelayanan mereka tidak diarahkan pada individualisme. Mereka dipanggil untuk menghadirkan kasih dan Kerajaan Allah melalui pelayanan.

Permainan teh manis membuat pesan tersebut tidak berhenti sebagai teori. Para peserta mengalaminya secara langsung: untuk mendapatkan secangkir teh, mereka harus bersedia membuka apa yang mereka miliki dan berbagi dengan kelompok lain.

Dari Permainan Menuju Refleksi

Setelah permainan selesai, peserta diajak melihat kembali pengalaman yang baru saja mereka alami melalui beberapa pertanyaan refleksi.

Bagaimana perasaan ketika mengetahui bahwa paket yang diperoleh tidak lengkap? Apakah muncul keinginan untuk mempertahankan apa yang dimiliki? Kapan kelompok mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan kelompok lain? Bagaimana komunikasi dan pertukaran terjadi?

Dan pertanyaan yang kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan iman:

“Apa hubungan permainan tersebut dengan panggilan kita sebagai murid Kristus?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa peserta dari pengalaman bermain menuju refleksi iman.

Ketidaklengkapan paket menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan manusia. Kita tidak pernah benar-benar lengkap seorang diri. Dalam komunitas, perbedaan tidak selalu menjadi persoalan. Jika dikelola melalui kerja sama, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan.

Demikian pula dalam kehidupan lingkungan. Ada yang aktif dalam liturgi, ada yang kuat dalam pelayanan sosial, ada yang mampu mengorganisasi kegiatan, ada yang pandai menghidupkan suasana, dan ada pula yang setia hadir serta mendukung dari belakang.

Semua memiliki peran.

Yang dibutuhkan bukan keseragaman, melainkan kesediaan untuk saling melengkapi.

Menjadi Murid yang Inspiratif Dimulai dari Hal Sederhana

Matius 10:1–15 berbicara mengenai perutusan para murid. Namun, perutusan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler.

Menjadi murid yang inspiratif dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana: menyapa orang yang membutuhkan perhatian, membantu tetangga, mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan, berbagi apa yang kita miliki, terlibat dalam kehidupan lingkungan, atau mengambil inisiatif ketika melihat sesuatu yang perlu dilakukan.

Perutusan juga memiliki tantangan. Para murid tidak dijanjikan bahwa setiap langkah pelayanan akan diterima dengan baik. Karena itu, menjadi murid yang inspiratif bukan berarti selalu berhasil atau selalu mendapatkan apresiasi.

Yang lebih penting adalah kesediaan untuk melangkah dan melayani.

Sebuah tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan kebaikan berikutnya.

OMK dan Semangat Regenerasi dalam Komunitas

Keterlibatan OMK Santo Antonius sebagai pemandu menjadi salah satu bagian menarik dalam pertemuan kedua BKSN ini.

Kehadiran generasi muda sebagai penggerak pendalaman Kitab Suci menunjukkan bahwa pewartaan Sabda Allah merupakan tanggung jawab seluruh umat. Orang muda bukan hanya penerima warisan iman, tetapi juga dapat menjadi pelaku dan penggerak kehidupan menggereja.

Pada saat yang sama, keterlibatan lintas generasi membuat komunitas menjadi semakin kaya. Pengalaman umat yang lebih senior bertemu dengan kreativitas dan energi orang muda. BKSN pun menjadi ruang untuk mendalami Kitab Suci sekaligus membangun kebersamaan antaranggota Gereja.

Menutup Pertemuan dalam Doa

Setelah seluruh rangkaian refleksi selesai, suasana kembali diarahkan pada keheningan dan doa. Para peserta mengikuti doa umat, dilanjutkan dengan doa penutup dan lagu “Happy Ya Ya Ya”.

Pertemuan kemudian diakhiri dengan berkat oleh prodiakon Ibu Aniek.

Secara keseluruhan, Pertemuan Kedua BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius berlangsung dengan penuh antusiasme dan interaksi yang hidup. Kehadiran 32 umat menunjukkan bahwa BKSN menjadi ruang bagi umat untuk berkumpul, mendengarkan Sabda Tuhan, sekaligus membangun persaudaraan.

Jika pada pertemuan pertama umat diajak bertanya tentang di mana menemukan kebahagiaan sejati, pertemuan kedua membawa pertanyaan tersebut selangkah lebih jauh:

“Setelah menerima kasih dan kebaikan Tuhan, apa yang akan kita lakukan untuk sesama?”

Secangkir teh dalam permainan malam itu mungkin sederhana. Namun, dari pengalaman tersebut umat belajar bahwa sesuatu yang tampaknya tidak lengkap dapat menjadi lengkap ketika ada kemauan untuk berbagi, bekerja sama, dan saling melengkapi.

Demikian pula panggilan menjadi murid Kristus. Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna atau memiliki segala sesuatu untuk mulai melayani. Perutusan dapat dimulai dari apa yang ada pada diri kita, dari lingkungan terdekat, dan dari satu langkah kecil yang berani kita ambil hari ini.

Seorang murid yang inspiratif tidak harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia dapat mulai dengan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang lain pun terdorong untuk melakukan kebaikan.

Dan mungkin, itulah “secangkir teh manis” yang sesungguhnya ingin disampaikan dalam pertemuan BKSN malam itu:

Kebaikan menjadi semakin berarti ketika dibagikan.

Berkah Dalem.

Belajar Menemukan Kebahagiaan Sejati Bersama Yesus.

Pertemuan Pertama BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Padua Maguwo Mengajak Umat Mendengarkan Pengajaran Yesus

Maguwo, 10 September 2026 — Sebanyak 25 umat Lingkungan Santo Antonius Padua, Maguwo, berkumpul di rumah Bapak/Ibu Arief Subyantoro pada Kamis, 10 September 2026, untuk mengikuti pertemuan pertama Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026. Dalam suasana akrab dan penuh sukacita, umat diajak mendalami tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Bahagia” melalui Injil Matius 5:1–12.

Pertemuan ini merupakan bagian pertama dari rangkaian BKSN 2026 yang mengusung tema nasional “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui rangkaian pendalaman tersebut, umat diajak semakin mengenal Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh kuasa serta membiarkan Sabda-Nya menerangi kehidupan sehari-hari.

Mengawali Pertemuan dengan Sukacita

Pertemuan diawali dengan menyanyikan lagu “Hari Ini Kurasa Bahagia” bersama-sama. Lagu tersebut menjadi pembuka yang sesuai dengan tema pertemuan, sekaligus menciptakan suasana yang hangat dan penuh kegembiraan.

Selanjutnya, Bapak Mikael Purwanto memimpin pembukaan dengan tanda salib dan doa Ardas IX. Dalam pengantarnya, Bapak Purwanto menyampaikan gambaran umum mengenai BKSN 2026 serta tema pertemuan pertama.

Umat kemudian diajak melihat kembali makna kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari. Kebahagiaan sering kali dikaitkan dengan kesehatan, kecukupan ekonomi, keberhasilan, keluarga, pekerjaan, maupun berbagai pencapaian. Namun, melalui pengajaran-Nya, Yesus menawarkan cara pandang yang lebih mendalam.

Kebahagiaan sejati tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang dimiliki atau dicapai seseorang, tetapi berkaitan dengan sikap hati yang terbuka kepada Allah dan sesama. Setelah pengantar tersebut, umat bersama-sama mengucapkan doa pembuka untuk memohon agar hati dan budi dibuka sehingga mampu menerima dan merenungkan Sabda Tuhan.

Mendengarkan Yesus Sang Guru

Pendalaman dilanjutkan dengan pembacaan Injil Matius 5:1–12 oleh Bapak Andreas. Perikop yang dikenal sebagai Sabda-Sabda Bahagia tersebut mengisahkan Yesus yang naik ke atas bukit dan mengajar para murid serta orang banyak.

Apa yang disampaikan Yesus menghadirkan cara pandang yang berbeda dari ukuran kebahagiaan yang sering digunakan manusia. Mereka yang miskin di hadapan Allah, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus akan kebenaran, murah hati, suci hati, membawa damai, serta mereka yang mengalami penganiayaan karena kebenaran disebut berbahagia.

Sabda tersebut tidak berarti bahwa penderitaan atau kesulitan merupakan sesuatu yang harus dicari. Sebaliknya, Yesus menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati berakar pada relasi manusia dengan Allah, keterbukaan terhadap sesama, serta kesetiaan untuk hidup dalam kebenaran, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan.

Dengan demikian, Sabda Bahagia mengajak umat melihat bahwa kehidupan beriman bukan hanya tentang keadaan lahiriah, melainkan juga tentang sikap batin dan cara seseorang menjalani kehidupannya di hadapan Allah.

Video Membuka Ruang Refleksi

Untuk membantu umat menghubungkan Sabda Tuhan dengan pengalaman hidup sehari-hari, peserta kemudian diajak menyaksikan sebuah video inspiratif tentang hidup yang bahagia.

Video refleksi “Hidup yang Bahagia”

Setelah menyaksikan video tersebut, umat diajak merenungkan sebuah pertanyaan sederhana:

“Apa arti kebahagiaan bagi saya?”

Pertanyaan tersebut membuka ruang sharing yang hangat. Beberapa bapak dan ibu membagikan pengalaman mereka mengenai hal-hal yang membuat mereka merasakan kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari sharing yang muncul, kebahagiaan ternyata tidak selalu berkaitan dengan kepemilikan materi atau pencapaian pribadi. Bagi sebagian umat, kebahagiaan justru muncul ketika mereka dapat berbagi, membantu, hadir, dan melakukan sesuatu yang berguna bagi orang lain. Sebaliknya, perasaan tidak bahagia dapat muncul ketika seseorang merasa tidak mampu berbuat sesuatu bagi sesamanya.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa Sabda Bahagia dapat ditemukan dalam pengalaman konkret umat. Kasih, kepedulian, perhatian, dan kesediaan hadir bagi orang lain menjadi bagian nyata dari upaya menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan sehari-hari.

Bahagia Tidak Sekadar Merasa Senang

Pendalaman bersama juga membawa umat pada pemahaman bahwa kebahagiaan dalam perspektif iman tidak selalu berarti kehidupan tanpa masalah.

Seseorang tetap dapat mengalami pergumulan, kehilangan, kelelahan, maupun penderitaan, tetapi tetap memiliki harapan ketika kehidupannya berakar pada Allah. Kebahagiaan tidak hanya terletak pada keadaan yang menyenangkan, tetapi juga pada keyakinan bahwa hidup memiliki makna dan arah dalam relasi dengan Tuhan.

Karena itu, pertemuan pertama BKSN ini tidak berhenti pada pertanyaan “Apa yang membuat saya bahagia?” Umat juga diajak membawa pertanyaan yang lebih reflektif:

“Apakah cara saya mencari kebahagiaan selama ini sudah sesuai dengan yang diajarkan Yesus?”

Pertanyaan tersebut menjadi kesempatan bagi setiap peserta untuk melihat kembali pilihan, sikap, dan cara menjalani kehidupan sehari-hari sebagai murid Kristus.

Sabda yang Dihidupi dalam Keseharian

BKSN bukan sekadar kegiatan membaca dan memahami teks Kitab Suci. Pendalaman Sabda Tuhan diharapkan membantu umat menemukan inspirasi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Karena itu, sharing umat Lingkungan Santo Antonius Padua menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Sabda Tuhan tidak hanya dibicarakan sebagai teks, tetapi mulai dihubungkan dengan pengalaman konkret: kehidupan keluarga, relasi dengan tetangga, kehidupan lingkungan, pelayanan Gereja, pekerjaan, serta hubungan dengan masyarakat.

Melalui proses tersebut, umat diajak untuk semakin peka terhadap kebutuhan sesama, memiliki kepedulian terhadap mereka yang membutuhkan, serta berani menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan-tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Ditutup dalam Doa dan Syukur

Setelah sesi refleksi dan sharing, pertemuan dilanjutkan dengan doa umat. Dalam doa tersebut, umat membawa berbagai pengalaman, harapan, pergumulan, dan niat masing-masing ke hadapan Tuhan.

Pertemuan kemudian ditutup dengan doa penutup, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Alangkah Bahagianya”. Selanjutnya, berkat diberikan oleh prodiakon Bapak Y. Murdiyana.

Pertemuan pertama BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Padua Maguwo berlangsung dalam suasana hangat, akrab, dan penuh kebersamaan. Kehadiran 25 umat menunjukkan semangat komunitas untuk bersama-sama mendengarkan, merenungkan, dan menghidupi Sabda Tuhan.

Lebih dari sekadar agenda rutin lingkungan, pertemuan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk sejenak berhenti dari kesibukan, melihat kembali perjalanan hidup, dan menemukan kembali sumber kebahagiaan yang sejati.

Melalui Sabda Bahagia, Yesus mengajak para pengikut-Nya untuk melihat kehidupan dengan cara yang baru. Kebahagiaan tidak hanya ditemukan dalam apa yang dimiliki, tetapi juga dalam cara manusia hidup di hadapan Allah serta menghadirkan kasih bagi sesama.

Pertemuan pertama ini sekaligus menjadi awal perjalanan BKSN 2026 di Lingkungan Santo Antonius Padua Maguwo: mengenal Yesus, Guru yang Penuh Kuasa, mendengarkan ajaran-Nya, dan membiarkan Sabda-Nya semakin membentuk kehidupan umat.

Berkah Dalem.

Misa Memule Satu Tahun Berpulangnya Antonius Agung Yudodarsono, Umat St. Antonius Bersekutu dalam Doa

Yogyakarta — Umat Lingkungan St. Antonius bersama umat dari beberapa lingkungan sekitar berkumpul dalam Misa Memule satu tahun berpulangnya saudara Antonius Agung Yudodarsono pada Sabtu, 5 September 2026. Misa dilaksanakan di rumah Bapak V. Sumarno dan dihadiri oleh umat dalam suasana khidmat, akrab, dan penuh kebersamaan.

Misa dimulai pada pukul 19.35 WIB dan dipimpin oleh Romo F.X. Murdi Susanto, Pr. Melalui perayaan Ekaristi, umat bersama-sama mendoakan Antonius Agung Yudodarsono serta menyerahkan keluarga dan seluruh umat yang hadir ke dalam penyelenggaraan kasih Tuhan.

Perayaan ini juga menjadi kesempatan untuk meneguhkan iman akan pengharapan Kristiani. Dalam iman, kehidupan manusia senantiasa berada dalam kasih Tuhan, sementara perpisahan dengan orang yang dikasihi mengingatkan umat akan panggilan untuk terus menjalani kehidupan dengan iman, kasih, dan pengharapan.

Kehadiran umat dari Lingkungan St. Antonius dan lingkungan-lingkungan sekitar menunjukkan semangat persaudaraan yang terus terpelihara dalam kehidupan menggereja. Kebersamaan dalam doa menjadi bentuk dukungan bagi keluarga sekaligus mempererat hubungan antarumat.

Misa berlangsung dengan khidmat dan berakhir pada pukul 20.35 WIB. Setelah perayaan Ekaristi, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian beberapa pengumuman dari Paroki Administratif Maguwo yang ditujukan kepada umat Lingkungan St. Antonius.

Kegiatan malam itu menjadi pengingat bagi seluruh umat akan pentingnya hidup dalam iman dan persaudaraan. Melalui kebersamaan dalam Ekaristi dan doa, umat diajak untuk senantiasa mengandalkan kasih Tuhan serta menghadirkan kepedulian dan dukungan bagi sesama dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga doa yang dipanjatkan dalam perayaan ini menjadi penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan dan meneguhkan iman seluruh umat akan pengharapan akan kehidupan kekal dalam kasih Tuhan.

Menjaga Hati dan Tetap Waspada: Umat Lingkungan St. Antonius Padua Kembali Bersekutu dalam Ibadat

Yogyakarta — Sebanyak kurang lebih 25 umat Lingkungan St. Antonius Padua berkumpul di rumah Bapak Purwanto untuk mengikuti ibadat lingkungan. Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab dan penuh kekeluargaan serta dipimpin oleh Bapak Murdiyana.

Ibadat diawali dengan lagu pembuka “O Datanglah Imanuel” (PS 442). Nyanyian bersama menjadi sarana bagi umat untuk menenangkan diri, mempersiapkan hati, dan mengarahkan perhatian kepada Tuhan sebelum memasuki rangkaian ibadat.

Setelah doa pembukaan, umat diajak untuk mendengarkan dan merenungkan bacaan Injil dari Matius 24:42–51. Dalam bacaan tersebut, Yesus mengingatkan para murid untuk senantiasa berjaga-jaga karena kedatangan Tuhan tidak diketahui waktunya. Sikap berjaga-jaga bukan sekadar menunggu, tetapi diwujudkan melalui kesetiaan dalam menjalankan tanggung jawab yang telah dipercayakan Tuhan.

Melalui renungan atas Sabda Tuhan, umat diajak untuk melihat kembali kehidupan sehari-hari. Kesibukan dalam pekerjaan, keluarga, pelayanan, maupun berbagai persoalan kehidupan terkadang dapat membuat seseorang kehilangan kepekaan terhadap kehadiran Tuhan. Oleh karena itu, kewaspadaan iman perlu diwujudkan dalam sikap hidup yang bertanggung jawab, setia, dan senantiasa siap memberikan yang terbaik dalam setiap tugas dan panggilan.

Pesan Injil tersebut menjadi semakin relevan dalam kehidupan umat sehari-hari. Menantikan kedatangan Tuhan bukan berarti menjalani kehidupan dalam ketakutan, melainkan hidup dengan kesadaran bahwa setiap hari merupakan kesempatan untuk berbuat baik, melayani sesama, serta menjaga hubungan yang baik dengan Tuhan dan keluarga.

Rangkaian ibadat kemudian dilanjutkan dengan Doa Umat. Dalam doa bersama tersebut, umat membawa berbagai intensi dan harapan, baik bagi Gereja, masyarakat, keluarga, maupun kehidupan umat Lingkungan St. Antonius Padua. Doa menjadi ungkapan iman sekaligus bentuk kepedulian umat terhadap berbagai situasi dan kebutuhan di sekitar mereka.

Suasana kebersamaan kemudian dilanjutkan dengan Doa Penutup dan Berkat. Sebagai penutup, umat bersama-sama menyanyikan lagu “Panggilan Tuhan” (PS 682). Lagu tersebut menjadi pengingat bahwa setiap umat dipanggil untuk terus menghidupi iman dan mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Pertemuan ini kembali menegaskan bahwa ibadat lingkungan bukan hanya menjadi ruang untuk berdoa, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk memperkuat persaudaraan, menyegarkan kembali iman, dan menghidupi Sabda Tuhan di tengah kehidupan sehari-hari.

Pesan dari Injil Matius menjadi refleksi penting bagi seluruh umat: tetap berjaga-jaga, setia menjalankan tanggung jawab, dan senantiasa siap melakukan kehendak Tuhan. Di tengah rutinitas dan berbagai kesibukan kehidupan, iman tidak cukup hanya disimpan dalam hati. Iman perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan kehidupan bersama.

Dengan demikian, umat tidak hanya menantikan kedatangan Tuhan, tetapi juga dipanggil untuk menghadirkan kasih Tuhan melalui setiap perkataan, sikap, dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertemuan Kamisan Lingkungan St. Antonius: Menanggapi Undangan Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari

Pertemuan Kamisan Lingkungan St. Antonius kembali dilaksanakan pada Kamis, 20 Agustus 2026, bertempat di rumah keluarga Bapak dan Ibu Yani Ismono. Pertemuan dihadiri oleh kurang lebih 25 umat dan dipimpin serta dipandu oleh Ibu Agatha Ayiek Sih Sayekti. Dalam suasana penuh kekeluargaan, umat bersama-sama mengikuti rangkaian kegiatan yang diisi dengan sembahyangan, sharing, gendu-gendu rasa, serta penyampaian pengumuman dan informasi lingkungan.

Pertemuan diawali dengan sembahyangan, kemudian dilanjutkan dengan pendalaman dan sharing atas Sabda Tuhan. Bacaan Injil yang direnungkan diambil dari Matius 22:1–14, tentang perumpamaan undangan perkawinan. Melalui perumpamaan tersebut, umat diajak untuk menyadari bahwa Tuhan senantiasa mengundang manusia untuk datang dan mengambil bagian dalam kasih serta keselamatan yang ditawarkan-Nya.

Dalam sesi sharing, beberapa umat menyampaikan refleksi dan pengalaman mereka dengan mengaitkan bacaan Injil dengan kehidupan sehari-hari. Dari berbagai sharing yang disampaikan, muncul kesadaran bersama bahwa dalam perjalanan hidup, manusia sering kali mengabaikan undangan Tuhan, baik secara sengaja maupun tanpa disadari. Kesibukan pekerjaan, keluarga, berbagai tanggung jawab, serta persoalan kehidupan terkadang membuat kita kurang peka terhadap panggilan Tuhan.

Namun demikian, umat juga diajak untuk terus berusaha menanggapi undangan dan panggilan Tuhan di tengah berbagai kesibukan. Menanggapi panggilan Tuhan tidak selalu harus melalui hal-hal besar, tetapi dapat diwujudkan melalui kesediaan untuk meluangkan waktu bagi Tuhan, memperhatikan sesama, menjalankan tanggung jawab dengan penuh kasih, serta menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

Setelah sesi sharing, pertemuan dilanjutkan dengan gendu-gendu rasa, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk saling berbagi kabar, pengalaman, dan mempererat tali persaudaraan. Suasana kebersamaan terasa hangat dan akrab, mencerminkan semangat kekeluargaan yang terus dibangun dalam Lingkungan St. Antonius.

Pada bagian akhir pertemuan, Kaling menyampaikan berbagai pengumuman dan informasi kegiatan lingkunganyang perlu diketahui oleh seluruh umat. Penyampaian informasi tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga komunikasi dan koordinasi antarumat serta mendukung berbagai kegiatan lingkungan yang akan datang.

Seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari sembahyangan, sharing, gendu-gendu rasa, hingga penyampaian informasi lingkungan, berlangsung dalam suasana penuh keakraban dan kebersamaan. Pertemuan berakhir kurang lebih pada pukul 20.30 WIB.

Melalui pertemuan Kamisan ini, umat Lingkungan St. Antonius kembali diajak untuk tidak hanya mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga mengenali dan menanggapi undangan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Semoga kebersamaan dan semangat untuk terus bertumbuh dalam iman senantiasa menjadi kekuatan bagi seluruh umat Lingkungan St. Antonius.

“Dengarkanlah Dia”: Umat Lingkungan St. Antonius Diajak Menghidupi Sabda Tuhan dalam Kehidupan Sehari-hari

Yogyakarta, 6 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius mengadakan Pertemuan Lingkungan pada Kamis, 6 Agustus 2026, bertempat di rumah Bapak Bernardus Herjunanto. Pertemuan yang dihadiri sekitar 25 umat ini dipandu oleh Bapak Agustinus Djumingan dengan mengangkat tema “Dengarkanlah Dia: Dari Gunung Kemuliaan Menuju Kehidupan Sehari-hari”, yang diambil dari Injil Matius 17:1–9 tentang peristiwa Transfigurasi Tuhan.

Pertemuan diawali dengan menyanyikan lagu pembukaan “Ajaib Tuhan”, dilanjutkan dengan doa pembuka dan pembacaan Injil Matius 17:1–9. Setelah itu, Bapak Djumingan menyampaikan pendalaman Kitab Suci yang mengajak umat memahami makna peristiwa Transfigurasi sebagai peneguhan bahwa Yesus adalah Putra Allah yang diutus untuk membawa keselamatan bagi dunia.

Dalam renungannya disampaikan bahwa ketika Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke gunung, mereka menyaksikan kemuliaan-Nya yang dinyatakan melalui wajah yang bercahaya, pakaian yang putih berkilau, serta kehadiran Musa dan Elia. Di tengah peristiwa tersebut terdengar suara Allah Bapa yang berkata, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Sabda inilah yang menjadi pesan utama bagi setiap orang beriman untuk senantiasa menempatkan Kristus sebagai pusat kehidupan.

Bapak Djumingan juga mengajak umat merenungkan sikap Petrus yang ingin tetap tinggal di puncak gunung karena terpesona oleh pengalaman rohani yang dialaminya. Namun Yesus mengajak para murid turun kembali untuk menghadapi kehidupan nyata, termasuk jalan salib yang akan ditempuh-Nya. Hal ini mengingatkan bahwa pengalaman iman dalam Ekaristi, doa, maupun berbagai kegiatan rohani bukanlah tujuan akhir, melainkan bekal untuk menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari, baik di tengah keluarga, tempat kerja, sekolah, maupun masyarakat.

Kehadiran Musa dan Elia dijelaskan sebagai lambang Taurat dan para nabi yang seluruhnya menemukan penggenapannya dalam diri Yesus Kristus. Oleh karena itu, umat diajak untuk terus mendengarkan sabda Kristus di tengah berbagai “suara” dunia yang sering kali memengaruhi kehidupan. Mendengarkan Kristus berarti tidak hanya mengetahui firman-Nya, tetapi juga mewujudkannya dalam tindakan nyata melalui kasih, pengampunan, kejujuran, pelayanan, dan semangat membawa damai.

Suasana pendalaman Kitab Suci semakin hidup ketika Bapak Djumingan mengajukan beberapa pertanyaan kepada umat sebagai bahan refleksi bersama. Umat pun aktif berpartisipasi dengan menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Di antaranya, Bapak V. Sumarno dan Ibu Agatha Ayiek Sih Sayekti mengajukan pertanyaan yang memperkaya diskusi.

Salah satu pertanyaan yang menarik disampaikan oleh Bapak FX. Larno, yaitu mengenai isi pembicaraan antara Yesus, Musa, dan Elia di atas gunung. Dijelaskan bahwa Injil Matius memang tidak menyebutkan secara eksplisit isi percakapan tersebut. Namun, berdasarkan Injil Lukas (Luk. 9:31), pembicaraan mereka berkaitan dengan “kepergian” Yesus yang akan digenapi di Yerusalem, yakni sengsara, wafat, dan kebangkitan-Nya sebagai puncak karya keselamatan Allah bagi umat manusia. Penjelasan ini semakin memperkaya pemahaman umat akan makna peristiwa Transfigurasi.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan doa umat, doa Bapa Kami, doa penutup, dan berkat yang diberikan oleh prodiakon. Seluruh rangkaian kegiatan ditutup dengan menyanyikan lagu “Yesus Tuhan, Terimalah Diri Kami”sebagai ungkapan syukur dan komitmen umat untuk terus menghidupi sabda Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan St. Antonius diharapkan semakin terdorong untuk tidak hanya mengalami sukacita dalam kehidupan rohani, tetapi juga menjadi saksi Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat dengan senantiasa mendengarkan serta melaksanakan sabda-Nya.

“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
(Matius 17:5)

Lingkungan St. Antonius Padua Mengadakan Ibadat Peringatan Tujuh Hari Berpulangnya Bapak Thomas Eddy Susarso

Yogyakarta, 1 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius Padua mengadakan Ibadat Peringatan Tujuh Hari Berpulangnya Bapak Thomas Eddy Susarso, ayahanda dari Ibu Maria Titis Indrayani, pada Sabtu, 1 Agustus 2026, bertempat di kediaman keluarga. Ibadat dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 35 umat dari keluarga, kerabat, serta warga lingkungan.

Ibadat dipimpin oleh Ibu Lucia Bernadeta Andayani Budi Lestari selaku prodiakon. Dalam suasana doa yang khusyuk, umat bersama-sama mendoakan almarhum agar memperoleh kedamaian abadi di hadirat Tuhan serta memohon penghiburan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Petugas liturgi yang terlibat dalam ibadat ini antara lain Mbak Cecilia Kiara Indrayanto sebagai pembaca Kitab Suci, Ibu Natalia Purwanti sebagai pembaca doa umat, serta Bapak FX. Dwi Istiya Rusiawan yang memimpin lagu-lagu selama ibadat sehingga seluruh umat dapat berpartisipasi dengan baik dalam perayaan doa.

Setelah doa umat, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan doa Rosario yang dipimpin oleh Ibu Cristiana Maria Sudjinarti. Umat mengikuti doa dengan penuh penghayatan sebagai ungkapan iman akan harapan kebangkitan dan kehidupan kekal yang dijanjikan Kristus kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.

Melalui ibadat peringatan tujuh hari ini, umat Lingkungan St. Antonius Padua kembali menunjukkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan kasih persaudaraan dengan mendampingi keluarga yang sedang berduka melalui doa dan kehadiran.

“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” (Matius 5:4)

Lingkungan St. Antonius Padua Melaksanakan Tugas Among Tamu dan Penghitungan Kolekte

Yogyakarta, 2 Agustus 2026 – Umat Lingkungan St. Antonius Padua kembali mengambil bagian dalam pelayanan di Gereja melalui tugas among tamu dan penghitungan kolekte pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, 2 Agustus 2026.

Pelayanan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan oleh 14 orang petugas, yang terdiri dari 5 orang bapak, 8 orang ibu, dan 1 orang Orang Muda Katolik (OMK). Para petugas menjalankan tugas menyambut umat yang hadir, membantu menciptakan suasana ibadah yang tertib dan nyaman, serta melaksanakan penghitungan kolekte setelah Perayaan Ekaristi sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.

Seluruh rangkaian tugas dapat terlaksana dengan baik, lancar, dan penuh semangat pelayanan. Keterlibatan umat dari berbagai kelompok usia menjadi wujud nyata semangat gotong royong dan partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja.

Semoga pelayanan sederhana yang telah diberikan menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan serta semakin menumbuhkan semangat kebersamaan, kepedulian, dan sukacita dalam melayani sesama di lingkungan Paroki.

“Layanilah seorang akan yang lain sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)