Siap Melayani di Altar Tuhan, 15 Putra-Putri Altar GMBA Maguwo Resmi Dilantik


Maguwo – Minggu, 11 Oktober 2026. Semangat pelayanan dan sukacita mewarnai Perayaan Ekaristi Minggu pagi di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dalam suasana penuh syukur, sebanyak 15 anggota Putra-Putri Altar Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo resmi dilantik dan diberkati oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr.

Pelantikan ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi langkah baru bagi ke-15 anggota untuk semakin terlibat dalam pelayanan Gereja. Dengan mengenakan busana liturgi dan mengambil bagian dalam tugas di altar, mereka diajak untuk melayani dengan hati yang tulus, penuh tanggung jawab, serta semakin dekat dengan Tuhan.

Menjadi Putra-Putri Altar tentu bukan hanya tentang membantu imam selama Perayaan Ekaristi. Ada banyak hal yang bisa dipelajari, mulai dari kedisiplinan, kerja sama, ketelitian, hingga keberanian untuk mengambil bagian dalam kehidupan menggereja. Dari altar, mereka belajar bahwa pelayanan sederhana pun memiliki makna besar ketika dilakukan dengan kasih dan kesungguhan.

Sebagai bagian dari Bidang Liturgi dan Peribadatan, Tim Pelayanan Putra-Putri Altar menjadi salah satu ruang bagi anak-anak dan kaum muda untuk bertumbuh dalam iman sekaligus belajar melayani sesama. Kehadiran mereka juga menjadi tanda bahwa semangat pelayanan Gereja terus tumbuh dan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Selamat kepada 15 Putra-Putri Altar yang telah dilantik! Semoga semakin bersemangat dalam menjalankan tugas, semakin kompak dalam kebersamaan, dan selalu membawa sukacita dalam setiap pelayanan. Ingat, ya, pelayanan bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di altar, tetapi juga tentang bagaimana kita menghadirkan kasih Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Dari altar, belajar melayani. Dalam pelayanan, bertumbuh dalam iman. Semoga langkah kecil yang dimulai hari ini menjadi perjalanan iman yang indah bagi Putra-Putri Altar GMBA Maguwo.

Selamat melayani, Putra-Putri Altar GMBA Maguwo. Tuhan memberkati setiap langkah dan pelayanan kalian………………..

Ketika Gereja Menyapa, Mendengarkan, dan Belajar Bersama


Satu Acara, Tiga Program: Ngobrol, Belajar, dan Melayani Bersama

Minggu sore, 4 Oktober 2026, sekitar 102 umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sore itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada tiga program yang “dikawinkan” menjadi satu acara. 😄

Ketiganya adalah:

  • Ardas ke-9 Butir 5 – Workshop Pelayanan yang Membahagiakan, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.
  • Program Pelayanan DPH Maguwo 2026 Butir 9 – Pertemuan dan silaturahmi dengan umat yang terlibat dalam kepengurusan RT/RW, pedukuhan, maupun organisasi kemasyarakatan.
  • Program Litbang Timpel Pengembangan SDM Butir 2 – Pelatihan program kemasyarakatan.

Jadi, daripada membuat tiga acara terpisah dengan tiga kali undangan, tiga kali persiapan, dan mungkin tiga kali konsumsi. 😄 Ketiganya disatukan dalam satu sore yang penuh obrolan, sharing, pembekalan, dan peneguhan.

Secara resmi memang workshop. Tetapi kalau melihat suasananya, sebenarnya acara ini lebih terasa seperti ruang untuk saling menyapa, mendengarkan, belajar, dan menguatkan.

Acara dipandu oleh Mas Danang dan Mbak Sari yang membuat suasana sejak awal terasa santai dan cair. Jadi, meskipun judulnya workshop, suasananya tidak seperti sedang ikut seminar yang harus duduk tegak sambil sibuk mencari pulpen.


Dari Sapaan, Lalu Jadi Cerita

Salah satu bagian yang paling menarik justru ketika umat mulai diajak bercerita.

Pak Agung, Waka 2, membuka ruang ngobrol dan sharing bersama umat yang aktif menjadi pengurus di masyarakat.

Di sinilah cerita mulai mengalir…………..Ada yang bercerita tentang mengurus warga, membangun komunikasi, menghadapi berbagai persoalan di lingkungan, sampai pengalaman menjadi umat Katolik yang hidup dan berkarya di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Katolik.

Ternyata menjadi pengurus RT atau RW itu tidak sesederhana yang terlihat. Ada rapatnya, ada warganya, ada masalahnya, ada grup WhatsApp-nya… dan mungkin yang terakhir itu justru paling menantang. Tetapi dari semua cerita tersebut terlihat satu hal: umat GMBA ternyata sudah banyak mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.

Dan bagi Gereja, kehadiran mereka tentu bukan sesuatu yang kecil.

Gereja Tidak Hanya Mendengar dari Dalam Gereja

Sharing sore itu juga menjadi kesempatan bagi Dewan untuk mendengarkan langsung kehidupan umat di luar lingkungan Gereja.

Apa yang mereka alami? Apa yang menjadi tantangan? Bagaimana mereka menjalankan tugas pelayanan di masyarakat?

Dan yang tidak kalah penting, bagaimana semangat iman tetap dibawa ketika harus berhadapan dengan berbagai macam karakter dan persoalan masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat pertemuan menjadi lebih bermakna, karena terkadang Gereja tidak perlu buru-buru memberikan jawaban. Duduk bersama, mendengarkan, dan memahami cerita umat juga merupakan bentuk pelayanan.


Ketika Google, WhatsApp dan AI Ikut Nimbrung

Setelah puas ngobrol dan berbagi pengalaman, teknologi pun ikut “nimbrung”.

Pak Yohanes Suyanto, Kabid Litbang, memperkenalkan beberapa pemanfaatan Google dan fitur WhatsApp yang bisa membantu komunikasi dan pengelolaan informasi.

Tidak berhenti di situ, umat juga diajak berkenalan dengan Artificial Intelligence atau AI.

Pak Agung mengajak umat melihat AI bukan sekadar sesuatu yang sedang tren, tetapi sebagai teknologi yang bisa dimanfaatkan secara positif dan bertanggung jawab.

Memang masih tahap pengenalan. Jadi belum sampai level “besok pagi semua pekerjaan diserahkan ke AI”. Justru dari sini muncul kesadaran bahwa teknologi perlu dipelajari secara bertahap dan digunakan sesuai kebutuhan.

Teknologi Canggih, Tapi Jangan Kehilangan Kehadiran

Sesi terakhir bersama Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, menjadi peneguhan yang sangat penting.

Romo mengingatkan bahwa teknologi boleh semakin maju, AI boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai kemajuan tersebut membuat manusia kehilangan kehadiran dan relasinya dengan sesama.

Pesannya sederhana tetapi dalam:

“Kehadiran jangan sampai digantikan oleh kemajuan teknologi. Jangan sampai relasi rusak karena digantikan oleh kemajuan teknologi.”

Mungkin ini yang perlu kita ingat bersama, Kita bisa menggunakan AI untuk membantu membuat tulisan, Kita bisa menggunakan Google untuk mencari informasi, Kita bisa menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi, Tetapi untuk menyapa seseorang, mendengarkan cerita, menguatkan yang sedang kesulitan, dan hadir ketika seseorang membutuhkan, tetap tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan kita.

Pelayanan Itu Tidak Berhenti di Pintu Gereja

Pada akhirnya, sore itu bukan hanya tentang workshop, Bukan hanya tentang RT, RW, Google, WhatsApp atau AI, lebih dari itu, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa Gereja hadir melalui umatnya di tengah masyarakat.

Umat yang menjadi pengurus RT, RW, organisasi maupun berbagai kegiatan kemasyarakatan adalah wajah Gereja yang setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat.

Di sanalah semangat “membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan” menjadi nyata.

Dan mungkin pelayanan yang paling sederhana memang bukan sesuatu yang spektakuler. kadang cukup dengan hadir, mau mendengarkan, mau membantu, mau menyapa, dan ketika dibutuhkan, tidak buru-buru bilang, “Waduh, saya sibuk.”

Sore itu GMBA belajar satu hal lagi: Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pelayanan tetap membutuhkan hati, karena pada akhirnya, Gereja bukan hanya tentang tempat kita berkumpul.

Gereja adalah tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.

1 Tahun Senam Sehat GMBA: Sehat Bersama, Bahagia Bersama


Sabtu, 3 Oktober 2026 menjadi hari yang cukup spesial bagi keluarga besar Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Seperti biasa, sejak pukul 07.00 WIB, Tim Senam Sehat GMBA yang berada di bawah naungan Timpel PIUL kembali mengajak umat untuk bergerak bersama dalam kegiatan senam sehat yang dilaksanakan di halaman belakang GMBA.

Namun, senam pagi kali ini terasa sedikit berbeda. Bukan hanya sekadar berkeringat dan menggerakkan badan, hari ini juga menjadi momen untuk memperingati 1 tahun perjalanan Senam Sehat GMBA.

Selama satu tahun, kegiatan ini menjadi salah satu ruang sederhana bagi umat untuk berkumpul, berolahraga, bercanda, dan tentunya menjaga kesehatan bersama. Tidak perlu alat olahraga yang ribet, tidak perlu suasana yang terlalu serius, yang penting badan bergerak, hati senang, dan bisa ketemu teman-teman.

Setelah senam selesai, suasana dilanjutkan dengan syukuran sederhana berupa pemotongan tumpeng. Dalam doa bersama, seluruh peserta memanjatkan syukur atas perjalanan satu tahun yang telah dilalui, sekaligus berharap agar kegiatan Senam Sehat GMBA dapat terus berjalan dan menjadi sarana kebersamaan bagi umat.

Doanya sederhana, tetapi harapannya besar: semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, kebahagiaan, dan semangat untuk terus menjaga kebersamaan.

Dan tentu saja, acara belum lengkap kalau setelah olahraga tidak ada acara makan-makan. …….

Kali ini, peserta menikmati sarapan pagi dengan menu gudangan. Sayuran yang segar, lauk-pauk yang lengkap, sambal yang mantap, ditambah suasana makan bersama setelah olahraga membuat sarapan pagi terasa semakin nikmat. Kalau kata yang hadir, “Gudangannya sederhana, tapi nikmatnya luar biasa!”

Satu tahun mungkin bukan waktu yang panjang, tetapi dari satu tahun ini sudah banyak cerita, tawa, keringat, dan kebersamaan yang tercipta.

Selamat ulang tahun yang pertama untuk Senam Sehat GMBA….

Semoga tetap menjadi ruang untuk sehat bersama, bahagia bersama, dan bertumbuh bersama. Jangan lupa, minggu depan senam lagi… karena sehat itu bukan cuma cita-cita, tapi harus diusahakan.

Perwakilan Dewan Pastoral dan Tim Pelayanan GMBA Mengikuti Pra TEPAS Kevikepan Jogja Timur Secara Daring


Senin malam (28/9/2026), Gazebo Gereja Maria Bunda Allah Maguwo kembali ramai. Bukan untuk senam, bukan juga untuk makan-makan, tetapi kali ini para perwakilan Dewan Pastoral Harian bersama Timpel PIA, PIOM, PIUL, PIOD, dan PIR berkumpul untuk mengikuti Pra Temu Pastoral (TEPAS) Kevikepan Yogyakarta Timur melalui Zoom.

Namanya memang daring, tapi kumpulnya tetap luring. Jadi, yang online adalah acaranya, sementara orangnya tetap duduk manis di Gazebo GMBA. Laptop dan layar menjadi “jendela” untuk mengikuti pertemuan bersama para peserta dari wilayah lain.

Pra TEPAS ini menjadi kesempatan untuk ngobrol dan melihat bersama bagaimana pelayanan Gereja ke depan bisa terus dikembangkan. Berbagai hal dibahas sebagai persiapan menuju Temu Pastoral Kevikepan Yogyakarta Timur.

Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah penguatan FIBB, khususnya untuk kalangan muda dan OMK. Maklum, kalau bicara anak muda sekarang, hampir semuanya tidak bisa jauh-jauh dari HP. Bangun tidur cari HP, mau tidur cari HP. Nah, daripada HP cuma dipakai scroll-scroll sampai lupa waktu, kenapa tidak sekalian dimanfaatkan untuk pewartaan?

Teknologi digital memang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Karena itu, Gereja juga perlu hadir di ruang digital dengan cara yang kreatif dan dekat dengan dunia anak muda. Pewartaan tidak harus selalu menunggu orang datang ke gereja. Bisa juga “jemput bola” lewat media digital, tentu dengan cara yang tetap membawa pesan iman dan tidak terasa menggurui.

Dari pembahasan Pra TEPAS ini, GMBA mendapatkan banyak bahan untuk dipikirkan bersama. Terutama bagaimana masing-masing Timpel bisa ikut mengambil bagian dalam mengembangkan pelayanan yang lebih kreatif, terbuka terhadap teknologi, dan tentunya tetap dekat dengan umat.

Jadi, malam itu bukan sekadar duduk, lihat layar, lalu pulang. Ada gagasan yang dibawa pulang, ada bahan untuk dipikirkan, dan semoga ada juga semangat baru untuk diwujudkan dalam pelayanan. Karena kalau Gereja mau terus hidup dan berkembang, yang harus di-update bukan cuma HP dan aplikasinya, tapi cara kita melayani dan mewartakan iman juga.

Dari Gazebo GMBA, kita belajar bahwa berjalan bersama itu bisa dilakukan di mana saja, bahkan sambil duduk di depan layar Zoom.

Gerakan Laudato Si’ GMBA: Panen Kompos dan Pilah Sampah Wujudkan Semangat Paroki Hijau


Minggu, 20 September 2026 — Semangat untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama kembali diwujudkan secara nyata di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap lingkungan dan keutuhan ciptaan, umat diajak untuk tidak hanya berbicara tentang kepedulian terhadap bumi, tetapi juga menghidupinya melalui tindakan sederhana dan nyata.

Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan sampah organik dan anorganik di lingkungan gereja. Kegiatan hari ini digerakkan oleh Pak Pargiyono, dengan dukungan Mas Bani selaku Kabid Rumah Tangga, bersama Tim Laudato Si’ GMBA yang terdiri dari Mas Bono, Pak Agus Hari, Pak Gandung, dan Bu Sri Hernani.

Panen Kompos Setelah Dua Tahun

Salah satu kegiatan utama hari ini adalah memanen kompos dari tumpukan sampah daun yang telah terkumpul dan mengalami proses penguraian selama kurang lebih dua tahun.

Daun-daun yang sebelumnya dipandang sebagai sampah, ternyata dapat kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. Setelah melalui proses alami, material organik tersebut menghasilkan kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman di lingkungan gereja.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua yang kita sebut sebagai “sampah” benar-benar tidak berguna. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik dapat kembali ke dalam siklus kehidupan dan memberikan manfaat bagi tanah serta tanaman.

Membersihkan dan Memilah Sampah

Selain memanen kompos, tim juga melakukan pengosongan tempat sampah yang berada di pojok depan gereja. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah berdasarkan jenisnya.

Sampah anorganik yang masih memiliki kemungkinan untuk dimanfaatkan atau didaur ulang dipisahkan, sementara sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang juga dipisahkan dan ditangani dengan lebih bertanggung jawab.

Proses pemilahan ini mungkin terlihat sederhana, namun justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah budaya peduli lingkungan dapat mulai tumbuh di tengah kehidupan menggereja.

Dengan Teknologi Sederhana, Semangat Besar

Dalam kegiatan ini, tim menggunakan dua alat pencacah daun serta alat pemisah kompos. Kehadiran peralatan tersebut membantu proses pengolahan sampah organik menjadi lebih efektif dan memudahkan tim dalam mengelola material yang selama ini terkumpul.

Pemanfaatan alat tersebut menunjukkan bahwa semangat Laudato Si’ dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi sederhana. Teknologi bukan sekadar untuk mempermudah pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menjaga dan merawat lingkungan.

Apa yang dilakukan hari ini merupakan salah satu bentuk nyata dari semangat yang saat ini terus digaungkan di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, yaitu Paroki Hijau.

Merawat Bumi, Merawat Rumah Bersama

Gerakan Laudato Si’ mengajak kita untuk melihat lingkungan bukan sebagai sesuatu yang berada di luar kehidupan kita, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama. Gereja pun memiliki panggilan untuk menjadi contoh dalam membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.

Melalui kegiatan sederhana seperti mengolah daun menjadi kompos, memilah sampah, membersihkan lingkungan gereja, dan mengurangi sampah yang berakhir begitu saja, kita sedang belajar mengubah cara pandang: sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang perlu dikelola dengan bijaksana.

Lebih dari sekadar kegiatan kebersihan, apa yang dilakukan oleh Pak Pargiyono bersama Mas Bani dan Tim Laudato Si’ GMBA hari ini menjadi sebuah bentuk pelayanan terhadap alam dan sesama.

Harapan untuk Paroki Hijau

Semoga langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal dari gerakan yang semakin besar dan berkelanjutan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Semoga semakin banyak umat yang tergerak untuk mengurangi sampah, memilah sampah dari sumbernya, memanfaatkan kembali apa yang masih berguna, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan—baik di gereja maupun di rumah masing-masing.

Harapannya, semangat Laudato Si’ tidak berhenti pada kegiatan tertentu atau momentum tertentu saja, tetapi tumbuh menjadi budaya hidup umat.

Semoga lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo semakin hijau, bersih, asri, dan menjadi ruang yang nyaman bagi umat sekaligus menjadi kesaksian nyata bahwa Gereja hadir untuk merawat keutuhan ciptaan.

Dan semoga dari tempat sederhana ini, tumbuh kesadaran bersama bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman, dan menjaga rumah kita bersama adalah tanggung jawab kita semua.

Dari daun yang jatuh, lahir kompos.
Dari sampah yang dipilah, lahir kepedulian.
Dari langkah kecil bersama, tumbuh Paroki Hijau.

Laudato Si’ — Terpujilah Engkau, Tuhan, melalui seluruh ciptaan-Mu.

GMBA Semarakkan Karnaval HUT RI ke-81 Padukuhan Sambilegi


Sambilegi, 30 Agustus 2026 — Semangat kebersamaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 kembali terasa meriah di Padukuhan Sambilegi. Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) turut mengambil bagian dalam Karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-81 Padukuhan Sambilegi yang berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Dalam kegiatan tersebut, GMBA diwakili oleh ibu-ibu paroki dan Orang Muda Katolik (OMK) di bawah koordinasi Mbak Vera. Dengan penuh antusias dan semangat kebersamaan, para perwakilan GMBA bergabung bersama masyarakat untuk memeriahkan kegiatan karnaval.

Keikutsertaan GMBA dikoordinasikan oleh Tim HAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) di bawah naungan Kabid Kemasyarakatan. Keterlibatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran GMBA di tengah masyarakat sekaligus upaya untuk terus membangun hubungan yang harmonis, persaudaraan, dan kebersamaan dengan seluruh warga.

Tidak hanya berpartisipasi sebagai peserta, GMBA juga turut mendukung kelancaran kegiatan dengan menyediakan halaman parkir gereja sebagai titik awal perjalanan karnaval. Halaman gereja menjadi tempat berkumpul dan persiapan para peserta sebelum bersama-sama memulai perjalanan karnaval menyusuri wilayah Padukuhan Sambilegi.

Suasana penuh kegembiraan, semangat kemerdekaan, dan kebersamaan mewarnai kegiatan tersebut. Keikutsertaan GMBA menjadi kesempatan untuk semakin mempererat hubungan antara umat dan masyarakat sekitar serta menumbuhkan semangat gotong royong, toleransi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman.

Melalui kegiatan ini, GMBA kembali menunjukkan bahwa gereja hadir tidak hanya dalam kehidupan menggereja, tetapi juga turut hadir, terlibat, dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-81
Merdeka, guyub, dan terus menjaga persaudaraan dalam keberagaman.


Dari Lapangan hingga Suporter: Semarak Bulu Tangkis dan Pingpong Warnai HUT RI ke-81 di GMBA


Maguwo, Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan kembali terasa meriah di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, para Ketua Wilayah berinisiatif menggelar pertandingan bulu tangkis dan tenis meja (pingpong) yang melibatkan seluruh lingkungan di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.

Namun, kemeriahan acara ini ternyata tidak dimulai ketika pertandingan pertama berlangsung. Jauh sebelumnya, semangat kebersamaan sudah terlihat dari proses persiapannya.

Para Ketua Wilayah bersama umat bergotong royong membuat lapangan bulu tangkis, memodifikasi meja pingpong, hingga menyiapkan penerangan untuk lapangan bulu tangkis yang berada di halaman parkir gereja. Dengan keterbatasan yang ada, kreativitas dan semangat kebersamaan justru menghasilkan sarana pertandingan yang dapat digunakan bersama.

Semua Ikut, Semua Bergembira

Saat pertandingan dimulai, suasana GMBA pun berubah menjadi arena olahraga yang penuh semangat. Hampir seluruh lingkungan ikut ambil bagian. Laki-laki dan perempuan, yang muda maupun yang lebih senior, semuanya berbaur dalam pertandingan.

Di arena bulu tangkis maupun pingpong, semangat bertanding terlihat begitu kuat. Setiap tim berusaha memberikan permainan terbaiknya. Namun, yang paling menarik bukan hanya pertandingan di dalam arena.

Di luar lapangan, para suporter juga tidak kalah heboh.

Teriakan dukungan dari masing-masing lingkungan bersahutan. Gebukan botol air mineral menjadi irama sederhana yang mengiringi yel-yel dan teriakan para pendukung. Ketika tim jagoan mereka bertanding, suasana semakin ramai dan meriah.

Tak jarang, sorak-sorai para suporter justru menjadi tontonan tersendiri yang mengundang senyum dan gelak tawa umat yang hadir.

Yel-Yel Lingkungan, Bikin Suasana Makin Pecah!

Kemeriahan pertandingan semakin lengkap dengan adanya lomba yel-yel antarlingkungan.

Berbagai kreativitas dan gaya unik ditampilkan oleh masing-masing lingkungan. Ada yang tampil penuh semangat, ada yang tampil kompak, dan ada pula yang justru sukses membuat seluruh umat tertawa.

Lomba yel-yel menjadi bumbu yang membuat suasana semakin cair. Tidak ada lagi sekat antarlingkungan. Semua larut dalam kegembiraan dan menikmati kebersamaan sebagai satu keluarga besar GMBA.

Baik di arena badminton maupun pingpong, suasana tetap ramai. Pertandingan berlangsung dengan penuh semangat, tetapi tetap dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan.

Menang atau Kalah Bukan yang Utama

Di balik pertandingan dan persaingan di lapangan, ada satu hal yang jauh lebih penting: kebersamaan.

Menang atau kalah bukanlah inti dari kegiatan ini. Yang utama adalah bagaimana umat dari berbagai lingkungan dapat berkumpul, saling mengenal, tertawa bersama, dan semakin guyub serta bahagia sebagai satu komunitas.

Semangat inilah yang menjadi warna utama perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di GMBA. Kemerdekaan dirayakan bukan hanya dengan perlombaan, tetapi juga melalui semangat persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan.

Terima Kasih untuk Semua yang Terlibat

Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh lingkungan yang telah berpartisipasi dan ikut menyukseskan rangkaian kegiatan ini. Antusiasme dan keterlibatan seluruh umat menjadi kekuatan utama sehingga acara dapat berlangsung dengan meriah.

Apresiasi khusus juga disampaikan kepada para Ketua Wilayah Sang Timur, Don Bosco, De Britto, dan Loyola yang telah memprakarsai sekaligus menyelenggarakan kegiatan ini dengan penuh semangat dan kebersamaan.

Mulai dari mempersiapkan lapangan, memodifikasi sarana pingpong, menyediakan penerangan, hingga mengatur jalannya pertandingan, semuanya menjadi bukti nyata bahwa ketika umat bergerak bersama, keterbatasan bukanlah penghalang untuk menciptakan kegembiraan.

Panitia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat berbagai kekurangan. Setiap kekurangan menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran agar kegiatan serupa dapat terlaksana dengan lebih baik di masa mendatang.

Dan yang pasti…

Sampai jumpa di tahun depan!

Semoga HUT RI tahun depan, pertandingan badminton dan pingpong di GMBA dapat kembali hadir dengan suasana yang lebih ramai, lebih seru, lebih kompak, dan tentunya lebih guyup!

Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang menjadi juara.

Tetapi tentang bagaimana kita bisa berkumpul, tertawa, bergembira, dan menjadi satu keluarga besar GMBA.

🇮🇩 Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! 🇮🇩

Merdeka! Guyup! Bahagia!


Semarak Merah Putih di GMBA: Senam Sehat dan Lomba Meriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI


Maguwo, 22 Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan terasa begitu hidup di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, umat bersama-sama mengikuti senam sehat bernuansa merah putih dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak pagi, suasana di lingkungan GMBA sudah dipenuhi keceriaan. Nuansa merah putih tampak menghiasi kegiatan, sekaligus menjadi simbol semangat persatuan dan kebersamaan seluruh umat. Dengan penuh antusias, peserta mengikuti setiap gerakan senam yang dipandu bersama dalam suasana yang santai, sehat, dan penuh kegembiraan.

Kegiatan senam sehat tidak hanya menjadi sarana untuk menjaga kebugaran jasmani, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk berjumpa, bersosialisasi, dan mempererat persaudaraan. Tawa dan canda mewarnai kegiatan, menciptakan suasana yang akrab di antara umat dari berbagai lingkungan.

Semakin Meriah dengan Berbagai Lomba

Setelah senam sehat selesai, kemeriahan berlanjut dengan berbagai perlombaan khas perayaan kemerdekaan. Para peserta dengan penuh semangat mengikuti setiap perlombaan yang telah disiapkan.

Tidak hanya peserta lomba, umat yang hadir pun turut memberikan dukungan dan semangat. Sorak-sorai, tawa, dan tepuk tangan terdengar mengiringi jalannya perlombaan. Tidak ada sekat antara usia maupun lingkungan—semuanya larut dalam suasana kebersamaan.

Kegiatan ini menjadi gambaran sederhana bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sehat, gembira, dan mempererat persaudaraan.

Sehat, Gembira, dan Bersaudara

Melalui kegiatan senam sehat dan berbagai perlombaan ini, GMBA Maguwo tidak hanya mengajak umat untuk menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga membangun semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kegembiraan sebagai satu komunitas umat.

Antusiasme seluruh peserta menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Keceriaan yang terpancar sepanjang acara menunjukkan bahwa kebersamaan mampu menghadirkan sukacita sederhana yang mempererat hubungan antarumat.

Semangat merah putih pun tidak berhenti pada simbol dan perayaan. Ia diwujudkan melalui kebersamaan, kepedulian, persaudaraan, serta semangat untuk terus membangun kehidupan bersama.

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! 🇮🇩

Sehat badannya, gembira hatinya, erat persaudaraannya.

Dari GMBA Maguwo, semangat kemerdekaan terus menyala dalam kebersamaan umat.

Dari Sabda Menjadi Aksi: GMBA Maguwo Bersiap Menyambut BKSN 2026


Maguwo, 21 Agustus 2026 — Semangat untuk semakin mengenal, mencintai, dan menghidupi Sabda Tuhan mulai digaungkan di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Bertempat di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), pada Jumat, 21 Agustus 2026, dilaksanakan Sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 sebagai persiapan umat menyambut pelaksanaan BKSN sepanjang bulan September mendatang.

Kegiatan ini diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari para pemandu lingkungan dari 17 lingkungan, Ketua Lingkungan (Kaling), prodiakon, serta suster. Kehadiran para peserta menjadi wujud nyata kesiapan para penggerak umat untuk bersama-sama menghidupkan semangat membaca, memahami, merenungkan, dan mewartakan Sabda Tuhan di tengah kehidupan umat.

Sosialisasi BKSN ini diselenggarakan oleh Bidang Pewarta, Tim Pelayanan Katekis dan Pemandu Lingkungan, bersama Tim Pelayanan Kerasulan Kitab Suci. Sinergi berbagai unsur pelayanan ini menunjukkan bahwa pewartaan Sabda Tuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu bidang, melainkan menjadi panggilan bersama seluruh umat.

Belajar, Bergembira, dan Berbagi

Kegiatan diawali dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan agar seluruh rangkaian persiapan BKSN dapat berjalan dengan baik dan membawa buah bagi kehidupan iman umat.

Selanjutnya, peserta mendapatkan materi sosialisasi BKSN sebagai bekal untuk mendampingi umat di lingkungan masing-masing selama bulan September. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak untuk memahami dan mempersiapkan pelaksanaan BKSN secara lebih konkret.

Suasana semakin cair ketika kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking dan doorprize. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk membangun keakraban, mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan kegembiraan dalam kebersamaan.

Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan menjadi ruang untuk memperjelas materi sekaligus berbagi pengalaman mengenai pendampingan umat di lingkungan masing-masing.

Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar semangat yang diperoleh dalam sosialisasi ini tidak berhenti di dalam ruang pertemuan, tetapi benar-benar diteruskan kepada umat di 17 lingkungan di wilayah Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.

Menjadikan Sabda sebagai Jalan Hidup

BKSN bukan sekadar kegiatan yang berlangsung selama satu bulan. Lebih dari itu, BKSN menjadi momentum bagi umat untuk kembali mendekatkan diri kepada Kitab Suci dan menemukan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup sehari-hari.

Melalui para pemandu lingkungan, Kaling, prodiakon, suster, serta seluruh penggerak umat, diharapkan semangat mencintai Kitab Suci semakin tumbuh dan mengakar dalam kehidupan menggereja.

Bulan September akan menjadi bulan untuk semakin dekat dengan Sabda Tuhan: membaca, mendengarkan, merenungkan, dan akhirnya mewujudkannya dalam kehidupan nyata.

Dari Sabda, kita belajar.
Dari Sabda, kita diteguhkan.
Dan dari Sabda, kita diutus untuk menjadi berkat bagi sesama.

Selamat menyambut BKSN 2026. Semoga Sabda Tuhan semakin hidup dalam diri kita, keluarga, lingkungan, dan seluruh umat Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.


Surat Gembala Uskup Agung Semarang Merayakan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia


SURAT GEMBALA USKUP AGUNG SEMARANG

MERAYAKAN HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA

Disampaikan pada HR Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Sabtu – Minggu, 15 – 16 Agustus 2026

“Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”

Saudari-saudara, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang terkasih, Berkah Dalem.

Pada 17 Agustus 2026, kita memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan penuh syukur, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dinikmati, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat. Mardika iku ora mung uwal saka penjajahan, nanging uga wani mbangun urip bebarengan kang luwih adil lan sejahtera. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.

Surat Gembala ini bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria menjadi tanda harapan: Allah mengangkat dan memuliakan manusia yang setia kepada-Nya. Bunda Maria mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk mementingkan diri sendiri, melainkan kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama. Bersama Bunda Maria, marilah kita membawa harapan itu ke dalam kehidupan berbangsa.

Saudari-saudara yang terkasih,

Kita bersyukur atas banyak kemajuan bangsa. Namun, berbagai persoalan masih kita hadapi. Kesenjangan ekonomi masih terasa, dan bahkan semakin terasakan akhir-akhir ini. Sebagian saudara kita masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman ruang dan masyarakat sipil, kekerasan, perdagangan manusia, dan berbagai ketidakadilan masih melukai kehidupan bersama.

Persaudaraan pun mudah retak karena perbedaan agama, etnis dan pilihan politik, sikap merasa kelompok sendiri paling benar, berita bohong, dan ujaran kebencian. Alam juga terluka: hutan berkurang dan hancur akibat penebangan secara tidak bertanggungjawab, sungai tercemar akibat limbah yang tidak diolah, sampah menumpuk hingga mengganggu kesehatan, dan penambangan yang tidak bertanggung jawab demi mengejar keuntungan ekonomi. Ini semua mengancam kehidupan masyarakat serta masa depan generasi mendatang.

Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan memang membawa banyak manfaat positif, tetapi juga rentan merendahkan martabat manusia. Dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, tertanggal 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia dan untuk kebaikan bersama. Teknologi tidak boleh menguasai, menggantikan, atau merendahkan manusia.

Di tengah berbagai persoalan itu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan kristiani bukanlah menunggu sambil berpangku tangan. Harapan menggerakkan kita untuk bertindak bersama. Terkait dengan hal ini, Nabi Yeremia berpesan, “Usahakanlah kesejahteraan kota … sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Karena itu, mencintai dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur merupakan bagian dari panggilan iman kita.

Saudari-saudara yang terkasih,

Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup Asia atau FABC, pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta, mengajak Gereja – ya kita semua – untuk melakukan pertobatan sinodal dengan “menjadi jembatan dan pembangun jembatan”. Ajakan ini sangat penting dan relevan bagi bangsa Indonesia dengan semua kemajemukannya. Kita tidak cukup hanya hidup berdampingan. Kita dipanggil untuk membangun perjumpaan satu dengan yang lain; saling mendengarkan, memahami, dan bekerja sama membangun peradaban kasih. Itulah sebabnya dibutuhkan jembatan-jembatan dialog yang menghubungkan satu sama lain.

Menjadi jembatan berarti menghubungkan mereka yang berbeda dan mempertemukan mereka yang berseberangan dan berseteru. Kita mesti memulai dengan komunikasi kasih: berbicara jujur tanpa melukai, mendengarkan tanpa prasangka, berani meminta maaf seraya mengakui kekurangan, dan tulus mengampuni tanpa syarat. Jika ada keretakan, kita berani mengambil langkah pertama menuju perdamaian, baik di dalam keluarga, lingkungan, paroki, komunitas, tempat kerja, ataupun masyarakat.

Inilah laku pertobatan: urip bebarengan iku kudu gelem ngrungokake, ngurmati, lan nyengkuyung siji lan sijine. Hidup bersama bertumbuh ketika kita saling mendengarkan, menghormati, dan meneguhkan.

Saudari-saudara yang terkasih,

Dalam semangat ARDAS IX, kita ingin menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Kebahagiaan kristiani tumbuh ketika kehadiran kita membuat sesama mengalami kasih, harapan, dan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, perayaan kemerdekaan ini mengundang kita menempuh empat langkah pertobatan bersama.

Pertama, marilah menjadi jembatan dan pembangun jembatan. Kita membangun dan mengembangkan komunikasi kasih yang saling menghormati dan mengikis perseteruan, permusuhan, atau konflik. Kita membangun dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian.

Kedua, marilah merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan. Kita dampingi keluarga miskin dan rentan. Kita dukung usaha kecil dan koperasi yang sesungguhnya dan sudah berkembang baik, serta membuka kesempatan kerja. Pada saat yang sama, kita mengembangkan laku lestari seperti mengurangi pemakaian plastik, memilah dan mengolah sampah menjadi berkah, menghemat dan menjaga sumber air, misalnya dengan membuat sumur resapan di sekitar rumah, serta menanam dan merawat pohon.

Keluarga, lingkungan, paroki, sekolah, rumah sakit, komunitas, dan lembaga Katolik mesti mempunyai langkah bersama yang jelas dan dapat dievaluasi. Kemajuan ekonomi kita upayakan bersama dengan tetap menjaga kelestarian alam, bukan dengan eksploitasi berlebihan yang merusak kehidupan.

Ketiga, marilah menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia. Kita periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya; tidak membuat atau menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu, dan ujaran kebencian sebagaimana masih sering kita jumpai. Teknologi memang membantu kita mengambil keputusan, namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.

Keempat, kepada para pemimpin dan pemegang tanggung jawab publik, kita menaruh harapan agar berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat. Setiap kebijakan semoga lahir dari kesediaan mendengarkan suara dan kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah serta dijalankan dengan jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan, kesejahteraan bersama, dan kelestarian alam.

Saudari-saudara yang terkasih,

Marilah merayakan kemerdekaan bangsa ini dengan syukur dan tanggung jawab. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya peroleh dari bangsa kita”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi Indonesia”. Kiranya masingmasing dari kita dapat mempersembahkan satu langkah nyata: memulihkan hubungan yang retak, menolong keluarga yang kesulitan, merawat lingkungan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menyuarakan kebenaran dan keadilan demi kebaikan bersama.

Urip iku urup. Hidup kita hendaknya menjadi terang dan membawa manfaat bagi sesama. Semoga tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi titik pijak pertobatan bersama untuk membangun Indonesia yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur.

Semoga Tuhan Yang Mahapengasih memberkati bangsa dan negara kita. Semoga Santa Perawan Maria yang diangkat ke surga, Bunda segala bangsa dan tanda harapan bagi umat beriman, menyertai perjalanan Indonesia menuju kehidupan yang semakin sejahtera, adil, makmur, manusiawi, dan lestari. Berkah Dalem. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ! MERDEKA !

Semarang, 8 Agustus 2026

† Mgr. Robertus Rubiyatmoko

Uskup Agung Semarang


sumber :