Sambilegi, 30 Agustus 2026 — Semangat kebersamaan dalam memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 kembali terasa meriah di Padukuhan Sambilegi. Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) turut mengambil bagian dalam Karnaval HUT Kemerdekaan RI ke-81 Padukuhan Sambilegi yang berlangsung pada Minggu, 30 Agustus 2026.
Dalam kegiatan tersebut, GMBA diwakili oleh ibu-ibu paroki dan Orang Muda Katolik (OMK) di bawah koordinasi Mbak Vera. Dengan penuh antusias dan semangat kebersamaan, para perwakilan GMBA bergabung bersama masyarakat untuk memeriahkan kegiatan karnaval.
Keikutsertaan GMBA dikoordinasikan oleh Tim HAK (Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan) di bawah naungan Kabid Kemasyarakatan. Keterlibatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran GMBA di tengah masyarakat sekaligus upaya untuk terus membangun hubungan yang harmonis, persaudaraan, dan kebersamaan dengan seluruh warga.
Tidak hanya berpartisipasi sebagai peserta, GMBA juga turut mendukung kelancaran kegiatan dengan menyediakan halaman parkir gereja sebagai titik awal perjalanan karnaval. Halaman gereja menjadi tempat berkumpul dan persiapan para peserta sebelum bersama-sama memulai perjalanan karnaval menyusuri wilayah Padukuhan Sambilegi.
Suasana penuh kegembiraan, semangat kemerdekaan, dan kebersamaan mewarnai kegiatan tersebut. Keikutsertaan GMBA menjadi kesempatan untuk semakin mempererat hubungan antara umat dan masyarakat sekitar serta menumbuhkan semangat gotong royong, toleransi, dan hidup berdampingan dalam keberagaman.
Melalui kegiatan ini, GMBA kembali menunjukkan bahwa gereja hadir tidak hanya dalam kehidupan menggereja, tetapi juga turut hadir, terlibat, dan memberikan kontribusi positif dalam kehidupan bermasyarakat.
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81 Merdeka, guyub, dan terus menjaga persaudaraan dalam keberagaman.
Maguwo, Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan kembali terasa meriah di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, para Ketua Wilayah berinisiatif menggelar pertandingan bulu tangkis dan tenis meja (pingpong) yang melibatkan seluruh lingkungan di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
Namun, kemeriahan acara ini ternyata tidak dimulai ketika pertandingan pertama berlangsung. Jauh sebelumnya, semangat kebersamaan sudah terlihat dari proses persiapannya.
Para Ketua Wilayah bersama umat bergotong royong membuat lapangan bulu tangkis, memodifikasi meja pingpong, hingga menyiapkan penerangan untuk lapangan bulu tangkis yang berada di halaman parkir gereja. Dengan keterbatasan yang ada, kreativitas dan semangat kebersamaan justru menghasilkan sarana pertandingan yang dapat digunakan bersama.
Semua Ikut, Semua Bergembira
Saat pertandingan dimulai, suasana GMBA pun berubah menjadi arena olahraga yang penuh semangat. Hampir seluruh lingkungan ikut ambil bagian. Laki-laki dan perempuan, yang muda maupun yang lebih senior, semuanya berbaur dalam pertandingan.
Di arena bulu tangkis maupun pingpong, semangat bertanding terlihat begitu kuat. Setiap tim berusaha memberikan permainan terbaiknya. Namun, yang paling menarik bukan hanya pertandingan di dalam arena.
Di luar lapangan, para suporter juga tidak kalah heboh.
Teriakan dukungan dari masing-masing lingkungan bersahutan. Gebukan botol air mineral menjadi irama sederhana yang mengiringi yel-yel dan teriakan para pendukung. Ketika tim jagoan mereka bertanding, suasana semakin ramai dan meriah.
Tak jarang, sorak-sorai para suporter justru menjadi tontonan tersendiri yang mengundang senyum dan gelak tawa umat yang hadir.
Yel-Yel Lingkungan, Bikin Suasana Makin Pecah!
Kemeriahan pertandingan semakin lengkap dengan adanya lomba yel-yel antarlingkungan.
Berbagai kreativitas dan gaya unik ditampilkan oleh masing-masing lingkungan. Ada yang tampil penuh semangat, ada yang tampil kompak, dan ada pula yang justru sukses membuat seluruh umat tertawa.
Lomba yel-yel menjadi bumbu yang membuat suasana semakin cair. Tidak ada lagi sekat antarlingkungan. Semua larut dalam kegembiraan dan menikmati kebersamaan sebagai satu keluarga besar GMBA.
Baik di arena badminton maupun pingpong, suasana tetap ramai. Pertandingan berlangsung dengan penuh semangat, tetapi tetap dalam suasana persaudaraan dan kegembiraan.
Menang atau Kalah Bukan yang Utama
Di balik pertandingan dan persaingan di lapangan, ada satu hal yang jauh lebih penting: kebersamaan.
Menang atau kalah bukanlah inti dari kegiatan ini. Yang utama adalah bagaimana umat dari berbagai lingkungan dapat berkumpul, saling mengenal, tertawa bersama, dan semakin guyub serta bahagia sebagai satu komunitas.
Semangat inilah yang menjadi warna utama perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di GMBA. Kemerdekaan dirayakan bukan hanya dengan perlombaan, tetapi juga melalui semangat persaudaraan, gotong royong, dan kebersamaan.
Terima Kasih untuk Semua yang Terlibat
Ucapan terima kasih disampaikan kepada seluruh lingkungan yang telah berpartisipasi dan ikut menyukseskan rangkaian kegiatan ini. Antusiasme dan keterlibatan seluruh umat menjadi kekuatan utama sehingga acara dapat berlangsung dengan meriah.
Apresiasi khusus juga disampaikan kepada para Ketua Wilayah Sang Timur, Don Bosco, De Britto, dan Loyola yang telah memprakarsai sekaligus menyelenggarakan kegiatan ini dengan penuh semangat dan kebersamaan.
Mulai dari mempersiapkan lapangan, memodifikasi sarana pingpong, menyediakan penerangan, hingga mengatur jalannya pertandingan, semuanya menjadi bukti nyata bahwa ketika umat bergerak bersama, keterbatasan bukanlah penghalang untuk menciptakan kegembiraan.
Panitia juga menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelaksanaan kegiatan masih terdapat berbagai kekurangan. Setiap kekurangan menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran agar kegiatan serupa dapat terlaksana dengan lebih baik di masa mendatang.
Dan yang pasti…
Sampai jumpa di tahun depan!
Semoga HUT RI tahun depan, pertandingan badminton dan pingpong di GMBA dapat kembali hadir dengan suasana yang lebih ramai, lebih seru, lebih kompak, dan tentunya lebih guyup!
Karena pada akhirnya, bukan tentang siapa yang menjadi juara.
Tetapi tentang bagaimana kita bisa berkumpul, tertawa, bergembira, dan menjadi satu keluarga besar GMBA.
Maguwo, 22 Agustus 2026 — Semangat kemerdekaan terasa begitu hidup di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo. Pada Sabtu, 22 Agustus 2026, umat bersama-sama mengikuti senam sehat bernuansa merah putih dalam rangka menyambut dan memperingati Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Sejak pagi, suasana di lingkungan GMBA sudah dipenuhi keceriaan. Nuansa merah putih tampak menghiasi kegiatan, sekaligus menjadi simbol semangat persatuan dan kebersamaan seluruh umat. Dengan penuh antusias, peserta mengikuti setiap gerakan senam yang dipandu bersama dalam suasana yang santai, sehat, dan penuh kegembiraan.
Kegiatan senam sehat tidak hanya menjadi sarana untuk menjaga kebugaran jasmani, tetapi juga menjadi kesempatan bagi umat untuk berjumpa, bersosialisasi, dan mempererat persaudaraan. Tawa dan canda mewarnai kegiatan, menciptakan suasana yang akrab di antara umat dari berbagai lingkungan.
Semakin Meriah dengan Berbagai Lomba
Setelah senam sehat selesai, kemeriahan berlanjut dengan berbagai perlombaan khas perayaan kemerdekaan. Para peserta dengan penuh semangat mengikuti setiap perlombaan yang telah disiapkan.
Tidak hanya peserta lomba, umat yang hadir pun turut memberikan dukungan dan semangat. Sorak-sorai, tawa, dan tepuk tangan terdengar mengiringi jalannya perlombaan. Tidak ada sekat antara usia maupun lingkungan—semuanya larut dalam suasana kebersamaan.
Kegiatan ini menjadi gambaran sederhana bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sehat, gembira, dan mempererat persaudaraan.
Sehat, Gembira, dan Bersaudara
Melalui kegiatan senam sehat dan berbagai perlombaan ini, GMBA Maguwo tidak hanya mengajak umat untuk menjaga kesehatan jasmani, tetapi juga membangun semangat persaudaraan, kebersamaan, dan kegembiraan sebagai satu komunitas umat.
Antusiasme seluruh peserta menjadi warna tersendiri dalam kegiatan tersebut. Keceriaan yang terpancar sepanjang acara menunjukkan bahwa kebersamaan mampu menghadirkan sukacita sederhana yang mempererat hubungan antarumat.
Semangat merah putih pun tidak berhenti pada simbol dan perayaan. Ia diwujudkan melalui kebersamaan, kepedulian, persaudaraan, serta semangat untuk terus membangun kehidupan bersama.
Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! 🇮🇩
Sehat badannya, gembira hatinya, erat persaudaraannya.
Dari GMBA Maguwo, semangat kemerdekaan terus menyala dalam kebersamaan umat.
Maguwo, 21 Agustus 2026 — Semangat untuk semakin mengenal, mencintai, dan menghidupi Sabda Tuhan mulai digaungkan di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Bertempat di Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), pada Jumat, 21 Agustus 2026, dilaksanakan Sosialisasi Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 sebagai persiapan umat menyambut pelaksanaan BKSN sepanjang bulan September mendatang.
Kegiatan ini diikuti oleh 52 peserta yang terdiri dari para pemandu lingkungan dari 17 lingkungan, Ketua Lingkungan (Kaling), prodiakon, serta suster. Kehadiran para peserta menjadi wujud nyata kesiapan para penggerak umat untuk bersama-sama menghidupkan semangat membaca, memahami, merenungkan, dan mewartakan Sabda Tuhan di tengah kehidupan umat.
Sosialisasi BKSN ini diselenggarakan oleh Bidang Pewarta, Tim Pelayanan Katekis dan Pemandu Lingkungan, bersama Tim Pelayanan Kerasulan Kitab Suci. Sinergi berbagai unsur pelayanan ini menunjukkan bahwa pewartaan Sabda Tuhan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu bidang, melainkan menjadi panggilan bersama seluruh umat.
Belajar, Bergembira, dan Berbagi
Kegiatan diawali dengan doa bersama, memohon penyertaan Tuhan agar seluruh rangkaian persiapan BKSN dapat berjalan dengan baik dan membawa buah bagi kehidupan iman umat.
Selanjutnya, peserta mendapatkan materi sosialisasi BKSN sebagai bekal untuk mendampingi umat di lingkungan masing-masing selama bulan September. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga diajak untuk memahami dan mempersiapkan pelaksanaan BKSN secara lebih konkret.
Suasana semakin cair ketika kegiatan dilanjutkan dengan ice breaking dan doorprize. Momen tersebut menjadi kesempatan bagi para peserta untuk membangun keakraban, mencairkan suasana, sekaligus menumbuhkan kegembiraan dalam kebersamaan.
Antusiasme peserta juga terlihat dalam sesi tanya jawab. Berbagai pertanyaan dan tanggapan menjadi ruang untuk memperjelas materi sekaligus berbagi pengalaman mengenai pendampingan umat di lingkungan masing-masing.
Kegiatan kemudian ditutup dengan doa dan harapan agar semangat yang diperoleh dalam sosialisasi ini tidak berhenti di dalam ruang pertemuan, tetapi benar-benar diteruskan kepada umat di 17 lingkungan di wilayah Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
Menjadikan Sabda sebagai Jalan Hidup
BKSN bukan sekadar kegiatan yang berlangsung selama satu bulan. Lebih dari itu, BKSN menjadi momentum bagi umat untuk kembali mendekatkan diri kepada Kitab Suci dan menemukan kehendak Tuhan dalam perjalanan hidup sehari-hari.
Melalui para pemandu lingkungan, Kaling, prodiakon, suster, serta seluruh penggerak umat, diharapkan semangat mencintai Kitab Suci semakin tumbuh dan mengakar dalam kehidupan menggereja.
Bulan September akan menjadi bulan untuk semakin dekat dengan Sabda Tuhan: membaca, mendengarkan, merenungkan, dan akhirnya mewujudkannya dalam kehidupan nyata.
Dari Sabda, kita belajar. Dari Sabda, kita diteguhkan. Dan dari Sabda, kita diutus untuk menjadi berkat bagi sesama.
Selamat menyambut BKSN 2026. Semoga Sabda Tuhan semakin hidup dalam diri kita, keluarga, lingkungan, dan seluruh umat Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
MERAYAKAN HUT KE-81 KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA
Disampaikan pada HR Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga, Sabtu – Minggu, 15 – 16 Agustus 2026
“Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”
Saudari-saudara, umat Katolik Keuskupan Agung Semarang yang terkasih, Berkah Dalem.
Pada 17 Agustus 2026, kita memperingati 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan penuh syukur, kita mengenang perjuangan para pahlawan yang merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dinikmati, melainkan tanggung jawab untuk terus dirawat. Mardika iku ora mung uwal saka penjajahan, nanging uga wani mbangun urip bebarengan kang luwih adil lan sejahtera. Merdeka berarti berani membangun kehidupan bersama yang lebih adil dan sejahtera.
Surat Gembala ini bertepatan dengan Hari Raya Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Bunda Maria menjadi tanda harapan: Allah mengangkat dan memuliakan manusia yang setia kepada-Nya. Bunda Maria mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukanlah kebebasan untuk mementingkan diri sendiri, melainkan kebebasan untuk mengasihi, melayani, dan mengangkat martabat sesama. Bersama Bunda Maria, marilah kita membawa harapan itu ke dalam kehidupan berbangsa.
Saudari-saudara yang terkasih,
Kita bersyukur atas banyak kemajuan bangsa. Namun, berbagai persoalan masih kita hadapi. Kesenjangan ekonomi masih terasa, dan bahkan semakin terasakan akhir-akhir ini. Sebagian saudara kita masih mengalami kesulitan untuk memperoleh pekerjaan, pendidikan, pelayanan kesehatan, dan tempat tinggal yang layak. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelemahan supremasi hukum, pembungkaman ruang dan masyarakat sipil, kekerasan, perdagangan manusia, dan berbagai ketidakadilan masih melukai kehidupan bersama.
Persaudaraan pun mudah retak karena perbedaan agama, etnis dan pilihan politik, sikap merasa kelompok sendiri paling benar, berita bohong, dan ujaran kebencian. Alam juga terluka: hutan berkurang dan hancur akibat penebangan secara tidak bertanggungjawab, sungai tercemar akibat limbah yang tidak diolah, sampah menumpuk hingga mengganggu kesehatan, dan penambangan yang tidak bertanggung jawab demi mengejar keuntungan ekonomi. Ini semua mengancam kehidupan masyarakat serta masa depan generasi mendatang.
Kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan memang membawa banyak manfaat positif, tetapi juga rentan merendahkan martabat manusia. Dalam ensiklik pertamanya, Magnifica Humanitas, tertanggal 15 Mei 2026, Paus Leo XIV menegaskan bahwa teknologi harus melayani manusia dan untuk kebaikan bersama. Teknologi tidak boleh menguasai, menggantikan, atau merendahkan manusia.
Di tengah berbagai persoalan itu, kita tidak boleh kehilangan harapan. Harapan kristiani bukanlah menunggu sambil berpangku tangan. Harapan menggerakkan kita untuk bertindak bersama. Terkait dengan hal ini, Nabi Yeremia berpesan, “Usahakanlah kesejahteraan kota … sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yer. 29:7). Karena itu, mencintai dan membangun Indonesia menjadi bangsa yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur merupakan bagian dari panggilan iman kita.
Saudari-saudara yang terkasih,
Sidang Pleno Federasi Konferensi-Konferensi Para Uskup Asia atau FABC, pada 20–26 Juli 2026 di Jakarta, mengajak Gereja – ya kita semua – untuk melakukan pertobatan sinodal dengan “menjadi jembatan dan pembangun jembatan”. Ajakan ini sangat penting dan relevan bagi bangsa Indonesia dengan semua kemajemukannya. Kita tidak cukup hanya hidup berdampingan. Kita dipanggil untuk membangun perjumpaan satu dengan yang lain; saling mendengarkan, memahami, dan bekerja sama membangun peradaban kasih. Itulah sebabnya dibutuhkan jembatan-jembatan dialog yang menghubungkan satu sama lain.
Menjadi jembatan berarti menghubungkan mereka yang berbeda dan mempertemukan mereka yang berseberangan dan berseteru. Kita mesti memulai dengan komunikasi kasih: berbicara jujur tanpa melukai, mendengarkan tanpa prasangka, berani meminta maaf seraya mengakui kekurangan, dan tulus mengampuni tanpa syarat. Jika ada keretakan, kita berani mengambil langkah pertama menuju perdamaian, baik di dalam keluarga, lingkungan, paroki, komunitas, tempat kerja, ataupun masyarakat.
Inilah laku pertobatan: urip bebarengan iku kudu gelem ngrungokake, ngurmati, lan nyengkuyung siji lan sijine. Hidup bersama bertumbuh ketika kita saling mendengarkan, menghormati, dan meneguhkan.
Saudari-saudara yang terkasih,
Dalam semangat ARDAS IX, kita ingin menjadi Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. Kebahagiaan kristiani tumbuh ketika kehadiran kita membuat sesama mengalami kasih, harapan, dan kehidupan yang lebih baik. Karena itu, perayaan kemerdekaan ini mengundang kita menempuh empat langkah pertobatan bersama.
Pertama, marilah menjadi jembatan dan pembangun jembatan. Kita membangun dan mengembangkan komunikasi kasih yang saling menghormati dan mengikis perseteruan, permusuhan, atau konflik. Kita membangun dan menghadirkan ruang perjumpaan dan perdamaian.
Kedua, marilah merawat bumi untuk mengusahakan kesejahteraan yang berkeadilan. Kita dampingi keluarga miskin dan rentan. Kita dukung usaha kecil dan koperasi yang sesungguhnya dan sudah berkembang baik, serta membuka kesempatan kerja. Pada saat yang sama, kita mengembangkan laku lestari seperti mengurangi pemakaian plastik, memilah dan mengolah sampah menjadi berkah, menghemat dan menjaga sumber air, misalnya dengan membuat sumur resapan di sekitar rumah, serta menanam dan merawat pohon.
Keluarga, lingkungan, paroki, sekolah, rumah sakit, komunitas, dan lembaga Katolik mesti mempunyai langkah bersama yang jelas dan dapat dievaluasi. Kemajuan ekonomi kita upayakan bersama dengan tetap menjaga kelestarian alam, bukan dengan eksploitasi berlebihan yang merusak kehidupan.
Ketiga, marilah menggunakan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijaksana demi martabat umat manusia. Kita periksa kebenaran informasi sebelum membagikannya; tidak membuat atau menyebarkan berita bohong, fitnah, gambar palsu, dan ujaran kebencian sebagaimana masih sering kita jumpai. Teknologi memang membantu kita mengambil keputusan, namun tanggung jawab moral tetap berada pada manusia.
Keempat, kepada para pemimpin dan pemegang tanggung jawab publik, kita menaruh harapan agar berani menghentikan kebijakan yang merugikan kepentingan bangsa, negara, dan masyarakat. Setiap kebijakan semoga lahir dari kesediaan mendengarkan suara dan kepentingan rakyat, terutama mereka yang lemah serta dijalankan dengan jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan, kesejahteraan bersama, dan kelestarian alam.
Saudari-saudara yang terkasih,
Marilah merayakan kemerdekaan bangsa ini dengan syukur dan tanggung jawab. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang saya peroleh dari bangsa kita”, tetapi juga bertanya, “Apa yang dapat saya berikan bagi Indonesia”. Kiranya masingmasing dari kita dapat mempersembahkan satu langkah nyata: memulihkan hubungan yang retak, menolong keluarga yang kesulitan, merawat lingkungan, menggunakan teknologi secara bertanggung jawab, serta menyuarakan kebenaran dan keadilan demi kebaikan bersama.
Urip iku urup. Hidup kita hendaknya menjadi terang dan membawa manfaat bagi sesama. Semoga tema HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi titik pijak pertobatan bersama untuk membangun Indonesia yang sungguh berdaulat, adil, dan makmur.
Semoga Tuhan Yang Mahapengasih memberkati bangsa dan negara kita. Semoga Santa Perawan Maria yang diangkat ke surga, Bunda segala bangsa dan tanda harapan bagi umat beriman, menyertai perjalanan Indonesia menuju kehidupan yang semakin sejahtera, adil, makmur, manusiawi, dan lestari. Berkah Dalem. DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA ! MERDEKA !
Maguwo – Semangat kebersamaan dan kepedulian umat kembali tampak di Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Pada Minggu, 12 Juli 2026, setelah Perayaan Ekaristi, Panitia Pengembangan Kawasan bersama Romo Murdi menyelenggarakan Pengundian Kupon Kemurahan Hati Periode II yang dilanjutkan dengan Lelang Lukisan. Kegiatan ini berlangsung di halaman depan gereja dan disambut dengan antusias oleh umat yang masih berkumpul setelah Misa.
Program Kupon Kemurahan Hati dan Lelang Lukisan merupakan bagian dari upaya bersama untuk mendukung pengembangan kawasan Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Seluruh hasil yang diperoleh dari penjualan kupon maupun lelang lukisan akan digunakan untuk pembelian lahan di bagian belakang gereja, sebagai langkah strategis dalam mendukung kebutuhan pengembangan paroki di masa mendatang.
Suasana pengundian berlangsung meriah namun tetap penuh keakraban. Dengan disaksikan oleh umat yang hadir, Romo Murdi melakukan pengundian kupon dan menetapkan para pemenang Kupon Kemurahan Hati Periode II, yaitu:
Juara I : Nomor 04555 – Lingkungan Yohanes Pembaptis
Juara II : Nomor 02144 – Lingkungan St. Yusuf
Juara III : Nomor 05265 – Lingkungan St. Monika
Selamat kepada para pemenang. Semoga hadiah yang diterima menjadi sukacita, sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap bentuk kemurahan hati yang diberikan merupakan bagian dari karya bersama untuk membangun Gereja.
Lebih dari sekadar pengundian dan lelang, kegiatan ini menjadi gambaran nyata semangat umat Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo dalam bergotong royong mewujudkan cita-cita bersama. Setiap kupon yang dibeli dan setiap lukisan yang berhasil dilelang merupakan wujud partisipasi umat dalam membangun masa depan paroki yang semakin berkembang dan mampu melayani lebih banyak orang.
Kiranya semangat berbagi, kebersamaan, dan kepedulian yang terus bertumbuh di tengah umat menjadi kekuatan untuk mewujudkan pengembangan kawasan gereja sebagai warisan yang bermanfaat bagi generasi-generasi mendatang. Bersama, kita membangun bukan hanya sebuah kawasan, tetapi juga menghadirkan harapan bagi perjalanan Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo di masa depan.
Maguwo – Kepedulian Gereja terhadap umat tidak hanya diwujudkan melalui pelayanan rohani, tetapi juga melalui perhatian terhadap kesehatan jasmani. Semangat itulah yang dihadirkan Tim Pelayanan (Timpel) Kesehatan di bawah naungan Bidang Kemasyarakatan Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo dengan menyelenggarakan Pemeriksaan Kesehatan Gratis pada Minggu, 12 Juli 2026, setelah Perayaan Ekaristi.
Bertempat di Gazebo dan halaman belakang gereja, kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pelayanan yang mendapat sambutan hangat dari umat. Seusai mengikuti Misa, umat dari berbagai usia tampak antusias memanfaatkan kesempatan untuk memeriksakan kondisi kesehatannya. Suasana penuh keakraban dan kepedulian mewarnai jalannya kegiatan, sementara para petugas melayani setiap peserta dengan ramah dan penuh perhatian.
Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan tekanan darah (tensi), kadar gula darah, kolesterol, asam urat, serta pengukuran berat badan. Selain memperoleh hasil pemeriksaan, umat juga mendapatkan penjelasan mengenai kondisi kesehatannya sebagai bekal untuk menjaga pola hidup yang lebih sehat. Pemeriksaan sederhana ini diharapkan dapat membantu umat mengenali kondisi tubuh sejak dini sehingga berbagai risiko penyakit dapat dicegah melalui langkah-langkah yang tepat.
Pelayanan kesehatan merupakan bagian dari perhatian Gereja terhadap kesejahteraan umat secara menyeluruh. Iman yang bertumbuh perlu diiringi dengan kepedulian untuk merawat tubuh sebagai anugerah Tuhan, sehingga setiap orang dapat terus berkarya, melayani, dan menjalankan panggilannya dengan penuh sukacita.
Melalui kegiatan ini, Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo ingin terus menghadirkan Gereja yang dekat dengan kehidupan umat. Kepedulian terhadap kesehatan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pemeriksaan semata, tetapi menjadi awal tumbuhnya kesadaran bersama untuk membangun pola hidup sehat, saling mengingatkan, dan saling menjaga sebagai satu keluarga dalam Kristus.
Semoga pelayanan sederhana ini menjadi inspirasi bahwa kasih Allah dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, termasuk melalui perhatian terhadap kesehatan sesama. Dengan semangat kebersamaan, Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo terus berkomitmen menghadirkan Gereja yang melayani, peduli, dan membawa harapan bagi setiap umat.
Maguwo — Minggu, 12 Juli 2026, Gereja Maria Bunda Allah, Paroki Administratif Maguwo, menyelenggarakan sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Paroki Hijau. Kegiatan ini merupakan langkah konkret paroki dalam menanggapi seruan ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, yang mengajak seluruh umat untuk hidup dalam semangat ekologi integral.
Sosialisasi ini dihadiri oleh perwakilan umat dari berbagai lingkungan, serta sejumlah pihak yang selama ini berperan aktif dalam kehidupan menggereja di Maguwo, di antaranya Timpel KCLH, Tim BDU GMBA, anggota Dewan Paroki, para Ketua Lingkungan dan para Ketua Wilayah.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan seluruh KCLH se-Kevikepan Jogja Timur, sebagai wujud keseriusan paroki dalam mengimplementasikan hasil pertemuan tersebut ke dalam langkah nyata di tingkat paroki.
Merawat Bumi, Merawat Iman
Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa merawat lingkungan bukanlah urusan yang terpisah dari kehidupan iman, melainkan bagian yang menyatu di dalamnya — sejalan dengan pesan Laudato Si’ bahwa “semuanya saling berkaitan”. Atas dasar itu, SOP Paroki Hijau disusun sebagai pedoman bagi seluruh umat untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan, mengelola sumber daya secara bijaksana, serta menjaga keutuhan ciptaan demi kebaikan bersama dan generasi mendatang.
SOP ini bertumpu pada lima tujuan utama: mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan gereja, mewujudkan semangat gereja yang berkelanjutan, menghemat kertas, energi, dan air, membiasakan perilaku hijau dalam keseharian umat, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap kaum rentan yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan.
Kelima tujuan tersebut dilandasi oleh lima prinsip dasar yang bersifat spiritual dan etis, yaitu menghormati ciptaan, tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya, keberlanjutan, keadilan sosial dan ekologis, serta pertobatan ekologis — bahwa kepedulian pada lingkungan adalah bagian dari pertobatan dan perjalanan iman setiap umat.
Tujuh Area Penerapan dalam Kehidupan Paroki
Peserta sosialisasi diajak memahami tujuh area penerapan SOP Paroki Hijau yang akan menjadi pedoman teknis dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkup pribadi umat maupun di lingkungan gereja:
Penghematan energi dan sumber daya — mulai dari mematikan listrik dan AC saat tidak digunakan, penggunaan air secukupnya, hingga mengutamakan pencahayaan alami dan tanaman hidup sebagai dekorasi altar.
Kegiatan dan pertemuan — mendorong umat membawa botol minum sendiri, menghindari plastik dan styrofoam sekali pakai, serta mengutamakan produk lokal dan UMKM umat.
Spanduk dan banner — pemasangan wajib mendapat izin Romo Paroki, dengan masa berlaku maksimal satu bulan dan menggunakan bahan yang tahan lama.
Sampah rumah tangga — mengajak umat memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi plastik sekali pakai, serta mendukung program bank sampah paroki.
Pengelolaan lingkungan gereja — melalui penanaman pohon, pembuatan biopori dan sumur resapan, pengomposan sampah organik, hingga pemantauan lingkungan secara berkala.
Edukasi dan pembinaan umat — mengintegrasikan tema lingkungan dalam homili dan katekese, melibatkan OMK, PIA, dan PIR, serta memperingati hari-hari lingkungan seperti Hari Bumi dan Bulan Laudato Si’.
Pemantauan dan evaluasi — dikoordinasikan oleh Tim Laudato Si’ yang dibentuk khusus untuk mengawal program lingkungan paroki, dengan evaluasi rutin setiap tahun dan peninjauan ulang SOP setiap dua tahun.
Pembentukan Tim Laudato Si’
Selain sosialisasi SOP, momen ini juga menjadi tonggak penting dengan dibentuknya Tim Laudato Si’ Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Tim ini akan menjadi motor penggerak sekaligus penjaga keberlanjutan pelaksanaan SOP Paroki Hijau, dengan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
Menyusun dan mengoordinasikan pelaksanaan program kerja Laudato Si’ di tingkat paroki.
Membangun kerja sama dengan dewan paroki, wilayah, lingkungan, dan kelompok kategorial dalam mendukung program kepedulian lingkungan.
Melakukan sosialisasi, edukasi, dan pendampingan kepada umat terkait penerapan gaya hidup ramah lingkungan.
Melaksanakan pemantauan dan pengumpulan data pelaksanaan program secara berkala.
Melakukan evaluasi minimal satu kali dalam setahun terhadap capaian program, tingkat keterlibatan umat, serta efektivitas penggunaan sumber daya.
Menyusun laporan hasil evaluasi dan memberikan rekomendasi perbaikan berkelanjutan.
Meninjau dan memperbarui SOP minimal setiap dua tahun atau sesuai kebutuhan.
Dengan terbentuknya tim ini, pelaksanaan SOP Paroki Hijau diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar terkawal dan berkelanjutan dalam kehidupan umat sehari-hari.
Mari Bertumbuh Bersama
Sosialisasi ini ditutup dengan ajakan bagi seluruh umat untuk mengambil tiga langkah konkret: memulai dari diri sendiri dengan kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum dan tas belanja, melibatkan komunitas seperti OMK, PIA, PIR, dan lingkungan agar turut aktif berpartisipasi, serta mendukung kerja Tim Laudato Si’ yang baru terbentuk melalui masukan dan keterlibatan dalam evaluasi tahunan.
Sebagaimana disampaikan dalam penutup sosialisasi, kita mungkin tidak bisa menyelamatkan bumi seorang diri, tetapi setiap umat dapat mengambil bagian untuk tidak menambah kerusakannya. Dengan langkah-langkah kecil yang dimulai bersama, Paroki Maria Bunda Allah Maguwo diharapkan dapat menjadi teladan bahwa merawat lingkungan bukan sekadar program, melainkan wujud nyata iman umat kepada Tuhan.
Terima kasih, Tuhan memberkati upaya kita merawat ciptaan-Nya.
Gereja Maria Bunda Allah – Paroki Administratif MaguwoJln. Anggrek No. 6, Karangploso, Maguwoharjo, Depok, Sleman • www.gmba-maguwo.org
“Segala sesuatu ada waktunya, dan setiap peristiwa di bawah langit ada masanya.” (Pkh 3:1)
Perjalanan iman sebuah komunitas tidak pernah dibangun dalam semalam. Ia bertumbuh dari doa-doa yang dipanjatkan dengan setia, pengorbanan yang diberikan dengan tulus, serta semangat pelayanan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Demikian pula perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo yang pada tahun 2026 memasuki babak baru sejarahnya sebagai Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo.
Sebagai ungkapan syukur atas rahmat Tuhan yang melimpah sekaligus mengenang perjalanan panjang umat, rangkaian perayaan ulang tahun GMBA diselenggarakan melalui berbagai kegiatan yang sarat makna, menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Gereja.
Rangkaian perayaan diawali pada Sabtu, 30 Mei 2026 pagi, dengan ziarah dan doa di makam para leluhur serta perintis Gereja Maguwo. Kegiatan ini bukan sekadar kunjungan ke tempat peristirahatan terakhir mereka, melainkan sebuah ungkapan hormat dan terima kasih kepada para pendahulu yang telah menanam benih-benih iman di tanah Maguwo.
Di hadapan pusara para perintis, umat diajak untuk mengenang bahwa Gereja yang kini berdiri dan berkembang merupakan buah dari perjuangan, kesetiaan, dan pengorbanan banyak orang. Dalam suasana hening dan penuh doa, umat memohon agar semangat para pendahulu terus hidup dan menjadi inspirasi dalam membangun Gereja di masa kini.
Masih pada hari yang sama, suasana syukur berlanjut melalui kegiatan kenduren bersama warga sekitar gereja. Acara ini menjadi wujud nyata semangat kebersamaan dan persaudaraan yang telah lama terjalin antara Gereja dan masyarakat Maguwoharjo.
Dalam suasana sederhana namun hangat, umat bersama warga berkumpul untuk berdoa dan bersyukur. Pada kesempatan tersebut, Gereja juga memohon doa restu dari masyarakat atas penetapan status baru GMBA sebagai Paroki Administratif.
Kehadiran berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa perjalanan Gereja tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitar. Semangat toleransi, gotong royong, dan saling menghargai yang selama ini terbangun menjadi fondasi penting dalam kehidupan bersama sebagai sesama warga masyarakat.
Puncak historis rangkaian perayaan terjadi pada Selasa, 2 Juni 2026 pukul 19.00 WIB melalui pelantikan Dewan Pastoral Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur.
Pelantikan ini menjadi penanda dimulainya pelayanan pastoral dalam status yang baru. Para pengurus yang dilantik menerima tugas perutusan untuk melayani umat, membangun persekutuan, serta menghadirkan Gereja yang semakin hidup dan relevan di tengah masyarakat.
Momentum tersebut sekaligus menegaskan bahwa perubahan status dari stasi menjadi paroki administratif bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam mewartakan Injil dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Rangkaian perayaan ditutup dengan Pesta Umat yang diselenggarakan di halaman belakang gereja setelah Misa Minggu, 14 Juni 2026. Dalam suasana penuh sukacita dan kekeluargaan, umat dari berbagai lingkungan berkumpul untuk merayakan syukur bersama.
Acara semakin meriah dengan pemotongan tumpeng oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., Vikaris Episkopal Yogyakarta Timur sebagai simbol rasa syukur atas penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Kebersamaan yang terjalin dalam pesta umat menjadi gambaran nyata Gereja sebagai keluarga Allah yang hidup, bertumbuh, dan saling menguatkan.
Tawa, canda, dan keakraban yang hadir sepanjang acara menjadi tanda bahwa iman tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga diwujudkan dalam persaudaraan yang hangat di tengah umat.
Melangkah Bersama Menuju Masa Depan
Keempat kegiatan tersebut membentuk satu rangkaian yang utuh: mengenang para perintis, menjalin persaudaraan dengan masyarakat, meneguhkan pelayanan pastoral, dan merayakan sukacita sebagai satu keluarga umat Allah.
Perjalanan menuju Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo mengajarkan bahwa Gereja bertumbuh bukan hanya karena bangunan yang berdiri megah, melainkan karena umat yang terus setia berjalan bersama Tuhan. Dengan berlandaskan warisan iman para pendahulu, didukung semangat kebersamaan umat, serta terbuka pada karya Roh Kudus, Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo kini melangkah dengan penuh harapan menuju masa depan.
Semoga segala rahmat yang telah diterima menjadi sumber kekuatan untuk terus menghadirkan Gereja yang hidup, missioner, dan menjadi berkat bagi sesama.
Suasana sukacita dan rasa syukur memenuhi halaman belakang Gereja Santa Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo pada Minggu, 14 Juni 2026. Setelah perayaan Ekaristi, umat Paroki Administratif Maguwo berkumpul dalam Pesta Umat sebagai puncak rangkaian peringatan hari ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.
Perayaan ini menjadi penutup dari berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya, mulai dari ziarah ke makam para leluhur pendiri gereja, kenduren bersama warga sekitar gereja sebagai wujud persaudaraan dan kebersamaan, hingga pelantikan Dewan Pastoral Paroki Administratif Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan dalam perjalanan Gereja serta komitmen umat untuk terus melanjutkan karya pelayanan di masa mendatang.
Pesta Umat diawali dengan prosesi pemotongan tumpeng oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr., selaku Vikaris Episkopal Kevikepan Yogyakarta Timur. Tumpeng yang telah dipotong kemudian diserahkan kepada Bapak Agung selaku Wakil Ketua II Dewan Pastoral Paroki Administratif Maguwo. Selanjutnya, tumpeng tersebut diteruskan kepada pengurus Remaja Bunda Maria (RBM) sebagai perwakilan generasi muda. Prosesi ini menjadi simbol yang sarat makna, menggambarkan kesinambungan pelayanan dan regenerasi dalam kehidupan Gereja, di mana warisan iman dan semangat pelayanan terus diteruskan kepada generasi penerus.
Semangat kebersamaan juga tampak melalui keterlibatan seluruh lingkungan di Paroki Administratif Maguwo. Dengan penuh semangat dan gotong royong, setiap lingkungan berpartisipasi dalam menyediakan hidangan soto dan bakso yang dinikmati bersama oleh seluruh umat. Makan bersama menjadi lambang persaudaraan yang mempererat ikatan sebagai satu keluarga besar umat Allah.
Acara semakin meriah dengan berbagai penampilan yang menghibur sekaligus mempererat kebersamaan umat. Drumband dari TK Indriyasana Maguwo membuka kemeriahan dengan penampilan yang penuh semangat. Tim Senam GMBA menampilkan line dance yang enerjik, disusul penampilan line dance dari Lingkungan Santa Elisabet. Umat juga dihibur dengan penampilan solo keyboard dari Lauda, yang menambah semarak suasana.
Puncak kemeriahan terjadi ketika seluruh umat diajak bergabung dalam flashmob bersama yang dimotori oleh ibu-ibu Tim Senam GMBA. Dengan penuh sukacita, umat dari berbagai usia larut dalam gerakan dan kegembiraan yang mencerminkan semangat persaudaraan serta kebersamaan yang hidup di tengah komunitas Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.
Di sela-sela acara, panitia juga membagikan berbagai doorprize yang semakin menambah antusiasme dan keceriaan umat. Sorak sorai dan tawa kebahagiaan mewarnai seluruh rangkaian kegiatan, menjadikan pesta umat sebagai momen yang tidak hanya meriah, tetapi juga mempererat rasa memiliki terhadap Gereja dan komunitas paroki.
Melalui perayaan ini, umat Santa Maria Bunda Allah Maguwo diajak untuk senantiasa bersyukur atas penyertaan Tuhan yang telah membimbing perjalanan Gereja hingga saat ini. Semoga semangat kebersamaan, pelayanan, dan regenerasi yang terwujud dalam perayaan ini terus tumbuh dan menjadi kekuatan bagi Paroki Administratif Maguwo dalam melaksanakan perutusannya di tengah Gereja dan masyarakat.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo