Melayani dalam Harmoni: Tugas Kor Bramin Minggu Biasa V Tahun A

Lingkungan Brayat Minulya (Bramin) berkesempatan melayani kor dalam misa biasa minggu V Tahun A yang berlangsung pada hari Minggu, 8 Februari 2026.

Kor Bramin membawakan puji-pujian dengan bantuan organis Mas Yudha dari Lingkungan Yohanes Pembaptis. Mas Hayom, remaja Bramin, bertugas sebagai pemazmur dalam misa pada kali ini.

Adapun lagu pembukaan diambil dari Puji Syukur (PS) 683 Kau Dipanggil Tuhan, Bapa Kami versi Konvenas, lagu komuni dari PS 434 Santapan Peziarah dan PS 545 Ya Yesus, Bersabdalah, serta lagu penutup dari PS 700 Hai, Bangkit Bagi Yesus. Sementara itu, kor membawakan ordinarium dari Misa Manado.

“Pasukan” kor Bramin diperkuat oleh para suster dan calon suster dari kongregasi RMI yang komunitasnya berlokasi di lingkungan Bramin. Selain para suster, remaja dan OMK Bramin juga turut berpartisipasi dalam pelayanan kor.

Dalam harmoni, kor Bramin mempersembahkan puji-pujian, bersama seluruh umat menghayati ekaristi sebagai ungkapan rasa syukur dan persatuan dengan Tuhan.

Sosialisasi APP 2026: Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera

Menjelang masa prapaskah 2026, TimPel PSE Bidang Kemasyarakatan bekerja sama dengan TimPel Katekis dan Pemandu Lingkungan Bidang Pewarta dan Evangelisasi menggelar sosialisasi APP (Aksi Puasa Pembangunan). Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2026 di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo.

Peserta sosialisasi ini adalah para ketua lingkungan, pewarta lingkungan, PSE lingkungan, prodiakon, serta para suster dari kongregasi RMI, OP, dan SSpS yang komunitasnya berlokasi di stasi Maguwo.

Mendekati pukul 19.00 WIB, peserta mulai ramai berdatangan. Setiap perwakilan lingkungan mengambil buku panduan dan kotak APP yang sudah dipesan sebelumnya.

Kemudian pada pukul 19.15, Pak Widjaja dari TimPel Katekis dan Pemandu Lingkungan selaku MC membuka acara. Setelah prodiakon Pak Catur memimpin doa pembukaan, Pak Felix dari TimPel Katekis dan Pemandu Lingkungan mulai menjelaskan tema dan subtema APP 2026.

Tema APP tahun ini adalah “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera“. Tema tersebut merupakan turunan dari roadmap ARDAS 2026-2030 Keuskupan Agung Semarang, yakni “Gereja yang Bahagia, Inspiratif, dan Mensejahterakan”. Adapun subtema APP 2026 mencakup lima topik: (1) Potret kondisi dan potensi, dasar untuk mengawal aksi; (2) Potensi dana sosial Gereja dan sifatnya; (3) Meninggalkan sikap ketidakpedulian, Mengembangkan tanggung jawab sosial; (4) Pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan; dan (5) Mengambil langkah pertama dalam menolong sesama.

Selanjutnya, Bu Nining dari TimPel PSE dan Bu Monica sebagai Bendahara 2 GMBA memaparkan pengelolaan dana sosial GMBA. Sesi ini bertujuan menjelaskan pengelolaan dana sosial stasi secara transparan kepada para pengurus lingkungan dan pemandu pertemuan APP, karena pengelolaan dana sosial merupakan bagian dari gerakan solidaritas sosial untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan pembekalan materi APP 2026, diharapkan para pengurus lingkungan dan pemandu pertemuan APP dapat mengajak umat memahami gerakan solidaritas sosial sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dari olah rohani, olah jiwani, serta mati raga yang dijalankan selama masa prapaskah. Meningkatnya kesejahteraan dan kebahagiaan umat, merupakan buah iman yang mewujud dari penghayatan umat.

KWT Mentari Belajar Membuat Ecoprint

Bukti kebesaran Tuhan terpatri pada ecoprint. Dedaunan ciptaanNya dapat menghasilkan motif indah pada selembar kain. Setiap jenis tanaman bisa memunculkan warna yang berbeda. Sungguh luar biasa!

Keunikan pembuatan motif kain dengan bahan-bahan alami ini menarik minat ibu-ibu KWT (Kelompok Wanita Tani) Mentari untuk mempelajarinya. Alhasil, KWT Mentari kemudian mengundang Ibu Sih Sujati untuk berbagi ilmu kepada para ibu.

Sebanyak 15 anggota KWT Mentari mengikuti pelatihan pembuatan ecoprint dengan teknik pengukusan bersama Ibu Sih Sujati. Pelatihan ini berlangsung pada hari Minggu, 13 Juli 2025 di Gazebo GMBA.

Olah kreativitas

Sebelum sesi praktik, Ibu Jati — sapaan akrab Ibu Sih Sujati, menjelaskan sejumlah prinsip dasar. Di antaranya, motif akan lebih mudah tercipta menggunakan daun dengan kandungan tanin tinggi.

“Misalnya daun lanang, daun jati, daun talok atau kersen, daun jarak dan daun eucalyptus. Yang banyak di sekitar kita misalnya daun kelor dan kenikir,” jelas Bu Jati.

Selain daun, bunga, akar, dan batang tanaman bertanin juga bisa dipakai menciptakan motif. Kreativitas kita akan menghasilkan motif yang berbeda-beda.

Pemrosesan kain

Adapun kain yang cocok untuk ecoprint adalah yang terbuat dari serat alami seperti katun, rayon, dan sutra. Kain harus melalui proses scouring, yaitu dibersihkan dari kotoran dengan merendamnya dalam larutan TRO (Turkish Red Oil).

Setelah scouring, kain diproses mordanting. Proses ini antara lain bertujuan mempermudah main menyerap zat warna tumbuhan. Selain itu, mordanting juga berfungsi menguatkan warna alami agar tidak mudah luntur.

Bahan-bahan mordant merupakan bahan ramah lingkungan seperti cuka, tawas, tunjung, soda kue dan soda ash. Kain direndam dalam larutan mordant sekitar 15 menit dan dikucek-kucek, kemudian diperas dan dijemur hingga kering. Setelah itu cuci kain dengan air kapur dan siap digunakan untuk mencetak motif.

Pemberdayaan perempuan

Ibu-ibu KWT Mentari mengikuti pelatihan dengan antusias. Menata daun, menginjak-injak daun di kain untuk mencetak motif, hingga menunggu hasil motif yang tercipta menjadi rangkaian aktivitas yang mengasyikkan. Selama menunggu kain dikukus, Bu Jati juga memberikan pelatihan membuat bros sederhana pada para peserta.

Pelatihan ecoprint kali ini merupakan salah satu kegiatan KWT Mentari yang bertujuan meningkatkan kapasitas para anggota. Secara rutin, KWT Mentari menyelenggarakan berbagai pelatihan mulai dari membuat olahan makanan hingga urban farming.

Peserta pelatihan-pelatihan tersebut tak hanya anggota, tapi juga masyarakat sekitar seperti ibu-ibu Padukuhan Karangploso. Selaras dengan tujuan awal pendiriannya saat masih bernama IKM Mentari, KWT Mentari berharap dapat berkontribusi pada pemberdayaan perempuan dan masyarakat.

Nah, seperti apa keseruan ibu-ibu KWT Mentari belajar membuat ecoprint? Simak di video berikut ini! Dan jangan lupa follow Instagram KWT Mentari @kwtmentari yaa 😀

Bonus video: Fashion Show ala KWT Mentari! ><

kunjungi Instagram komsos GMBA : https://www.instagram.com/p/DMH8WksR5LZ/?igsh=MXR1djk3MTNkajFtNg==

Kala Gereja Menyapa Umat Lansia

Wajah Mbah Marto tampak semringah. Salah satu umat lansia Lingkungan Brayat Minulya (Bramin) ini terlihat menikmati keramaian di ruang tamunya pagi itu.

Rumah warga sepuh berusia 82 tahun itu menjadi persinggahan pertama Tim Pelayanan Pendampingan Iman Umat Lansia (PIUL) GMBA pada Sabtu, 12 Juli 2025, ke Lingkungan Bramin.

Tim PIUL GMBA yang terdiri dari Bapak Mikhael Purwanto, Bapak Franz Sarjiyana, Ibu Yustina Munarti, dan Bapak Ibu Harto memang rutin menyambangi para umat sepuh di lingkungan-lingkungan.

Dalam setiap kunjungan, Tim PIUL akan mengajak para umat lansia berdoa bersama serta melakukan pemeriksaan tekanan darah dan kadar gula darah. Hal ini juga dilakukan dalam kunjungan ke rumah Mbah Marto, yang bernama lengkap Margaretha Ngadikem Martodimejo.

Usai menyapa Mbah Marto, Tim PIUL kemudian melanjutkan anjangsana ke rumah Ibu Yohana Fransiska Sunari (65 tahun). Kedatangan Tim PIUL pun segera menyemarakkan suasana rumah Bu Nari.

Akibat stroke yang dideritanya, Bu Nari hanya mampu sesekali mengikuti ekaristi setiap hari Minggu di gereja. Bu Nari pun kini sudah tak bisa lagi datang ke sembahyangan lingkungan. Padahal, saat kondisi fisiknya masih prima, ia termasuk rajin menghadirinya.

Kunjungan Tim PIUL seolah mengobati rindu Mbah Marto dan Bu Nari akan pertemuan dengan sesama umat beriman di luar Lingkungan Bramin. Semangat pelayanan Tim PIUL GMBA sungguh patut diapresiasi. Pendampingan kepada warga sepuh terus dilakukan, walaupun mereka juga sudah masuk kategori “senior”.

Semoga Tuhan selalu memberkati Tim Pelayanan PIUL dan seluruh umat lansia GMBA.

Tim PIUL berbincang hangat dengan Bu Nari

Berkreasi Mengolah Camilan Sehat dari Pangan Lokal

Bumi Indonesia memiliki pangan lokal yang berlimpah. Berbekal kreativitas, sayur dan buah lokal juga dapat tersaji sebagai camilan modern kekinian yang sarat gizi dan kaya manfaat.

Tema ini menjadi inti pelatihan yang diselenggarakan Tim Pelayanan PSE Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) bekerja sama dengan Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) pada Sabtu, 3 Mei 2025 di Gazebo GMBA.

Dalam pelatihan ini, lima dosen Jurusan Teknologi Pangan FTB UAJY bersama dua staf laboratorium dan tiga asisten mahasiswa berbagi ilmu kepada umat GMBA. Mereka mengajak peserta berkreasi mengolah pangan lokal menjadi empat jenis camilan yang sehat, bergizi, dan lezat.

Popping boba buah naga dan semangka

Resep boba racikan tim FTB UAJY ini memanfaatkan buah naga dan semangka sebagai pewarna alami sehingga menjadi minuman yang lebih sehat sekaligus bernutrisi bagi keluarga, terutama untuk anak-anak. Ternyata, proses membuatnya pun relatif mudah. Membentuk bobanya saja yang cukup menantang. Maksud hati mau menghasilkan boba bulat, eh, jadinya kecebong :p

Membuat boba dari buah naga
Boba cantik nan bergizi sudah siap

Kue bebek mandi dan labu mandi

Dari namanya, unik dan membuat penasaran, ya? Bahan utama pangan lokal dalam kreasi kedua ini antara lain labu kuning dan ubi ungu. Cita rasa Nusantara juga hadir dalam isiannya berupa kelapa parut, gula merah, dan daun pandan. Begitu pula fla yang “merendam” kue terbuat dari santan bercampur daun pandan.

“Labu dan ubi kaya serat. Selain itu juga bisa menjadi pengganti terigu untuk yang menghindari gluten,” jelas LM. Ekawati Purwijantiningsih, S.Si., M.Si, yang akrab disapa Bu Eka. FYI, Bu Eka pernah menjadi umat GMBA, tepatnya di Lingkungan YP, lho.

Bu Eka (paling depan) membimbing praktik kelompok kue mandi
Kue mandi ini terlalu gemas untuk disantap!

Bola-bola labu

Labu kuning kembali menjadi bintang utama di sajian camilan sehat ini. Kreasi ketiga ini mirip kroket kentang sehingga ibu-ibu peserta pun dalam waktu singkat sudah bisa menguasai pembuatannya. Bola labu bisa diisi sesuai selera, seperti cokelat batang, keju cheddar, keju mozarella, dan sebagainya.

Serius menyimak tips menggoreng bola labu
Ini bukan kroket, tapi bola labu lho ^^

Nugget dan kaki naga sehat

Kaki naga? Apakah harus pindah dimensi dulu untuk berburu naga ala Harry Potter? Rupanya, namanya saja yang “seram”. Bahannya mudah dibeli di mana saja karena tinggal mencampur daging ayam, telur, tepung terigu, dan tepung tapioka ditambah bumbu-bumbu menjadi adonan. Istimewanya, nugget dan kaki naga ala FTB UAJY ini tidak menggunakan pengawet dan penambah rasa sintetis. Beda dengan buatan pabrik, ya, Bundd….

Meracik bahan nugget dan kaki naga
Kaki naga yang lezat dan enggak ada seram-seramnya

Usai praktik, bahan pangan lokal pun bertransformasi menjadi camilan sehat sarat gizi. Tampilannya juga sangat menggugah selera. Tak heran, sebagian hasil praktik sudah mendarat di perut peserta sebelum sempat ditata cantik di piring saji >.<

“Kami jadi tambah ilmunya lewat pelatihan ini. Bisa untuk mengisi acara pertemuan di lingkungan dan PKK,” puji Ibu Sulasih Andreas dari Lingkungan Asisi.

Melihat respons yang sangat positif dari peserta, ucapan terima kasih kami haturkan kepada Tim FTB UAJY yang telah berbagi ilmu kepada umat GMBA melalui program pengabdian masyarakatnya. Pelatihan hari ini yang penuh suasana keakraban dan keceriaan, menjadi cermin jalinan sinergi indah antara Gereja dan dunia pendidikan.

Tim Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Jadi, tunggu apa lagi? Mari berkreasi hadirkan camilan sehat serta bergizi, dari pangan lokal Ibu Pertiwi tercinta.

Bank Daur Ulang GMBA Kumpulkan 3,051 Ton Sampah Anorganik di 2024

Meski baru memulai perjalanannya selama setahun, Bank Daur Ulang GMBA berhasil mengumpulkan sampah anorganik yang dapat didaur ulang sebanyak 3.051,8 kg sepanjang tahun 2024. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya umat GMBA untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menjalankan Ajaran Sosial Gereja.

Dampak krisis ekologi semakin mengancam kehidupan manusia. Di Yogya sendiri, persoalan sampah terus mengemuka sejak pemerintah memutuskan menutup TPA Piyungan karena sudah tidak bisa menampung sampah.

Dengan kondisi ini, Ajaran Sosial Gereja mengenai kesadaran merawat dan menjaga Bumi sebagai rumah kita bersama menjadi kian relevan. Seruan Paus Fransiskus yang termuat dalam ensiklik Laudato Si tersebut mengajak komitmen dan keterlibatan semua pihak untuk mengatasi krisis ekologi yang terjadi.

Sebagai bentuk gerakan kolektif umat GMBA menjawab seruan Bapa Suci, Bank Daur Ulang GMBA memulai kegiatan pada Januari 2024. Setiap bulan pada minggu ke-2 dan ke-4, umat dapat mengumpulkan sampah anorganik seperti kertas, plastik, logam, kaca, dan minyak jelantah ke gereja. Semua bahan daur ulang ini kemudian diambil mitra pengepul dan diteruskan ke tempat-tempat daur ulang.

Paguyuban Ibu-Ibu Stasi memilah botol plastik dari Rumah Botol di gereja

Selain itu, Bank Daur Ulang GMBA juga menyediakan dua “Rumah Botol” yang terletak di halaman depan dan belakang gereja. Kehadiran Rumah Botol ini diharapkan dapat melatih umat terbiasa memilah sampah anorganik, dimulai dari botol plastik bekas minuman. Saat Rumah Botol sudah penuh, Paguyuban Ibu-Ibu Stasi akan mengosongkannya, memisahkan tutup serta label kemasan dari botol, sehingga botol plastik dapat memperoleh harga yang lebih tinggi dari mitra pengepul.

Kegiatan Bank Daur Ulang GMBA selalu diinformasikan melalui pengumuman di gereja dan koordinator masing-masing lingkungan. Berkat upaya ini, puji Tuhan kegiatan Bank Daur Ulang mendapat respons yang cukup positif. Hingga Desember 2024, sudah 15 lingkungan dari 17 lingkungan yang berpartisipasi mengumpulkan bahan daur ulang.

Sepanjang tahun 2024, Bank Daur Ulang GMBA berhasil mengumpulkan lebih dari 3 ton sampah anorganik untuk didaur ulang. Total keseluruhan sampah anorganik yang dikumpulkan mencapai 3.051,8 kg, terdiri dari 1.632,65 kg kertas, 772 kg plastik, 291,4 kg logam, 150,95 kg kaca, 171,5 kg jelantah, dan 33,3 kg sampah anorganik kategori lainnya (oli bekas, televisi, lampu LED).

Seluruh pengelola Bank Daur Ulang GMBA berharap di tahun 2025 semakin banyak umat yang terlibat dalam kegiatan ini, sehingga menjadi bagian solusi permasalahan sampah di Yogya dan Bumi terjaga kelestariannya. Ayo pilah sampah dari rumah, dan setorkan ke Bank Daur Ulang GMBA setiap minggu ke-2 atau ke-4 di gereja!

Lingkungan Bramin Jadwalkan Ibadat Bahasa Jawa di 2025

Rapat pengurus Lingkungan Bramin, 21 Januari 2025

Sembahyangan rutin Lingkungan Brayat Minulya (Bramin) pada tahun 2025 akan diisi dengan ibadat dalam bahasa Jawa setiap Kamis minggu kedua. Kegiatan ini menjadi bagian dari rencana program kerja yang disusun para pengurus lingkungan pada Selasa, 21 Januari 2025, bertempat di kediaman Ibu Aryati Rob Sugiyanto.

Ide melaksanakan ibadat berbahasa Jawa muncul sebagai upaya melestarikan dan mengenalkan ritual peribadatan dalam bahasa Jawa kepada umat lingkungan, khususnya kepada remaja dan OMK sebagai generasi muda penerus Gereja.

Setiap umat lingkungan yang bisa berbahasa Jawa didorong untuk dapat memimpin ibadat tersebut. Bila petugas ibadat merasa kesulitan, pengurus lingkungan akan memfasilitasi dengan teks berbahasa Jawa yang sudah disiapkan sehingga petugas cukup membaca teks untuk memimpin ibadat.

Selain ibadat bahasa Jawa, salah satu kegiatan lingkungan yang akan dilaksanakan pada tahun ini adalah ziarah ke Gua Maria Tritis. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada bulan Agustus atau September, dengan pertimbangan memberikan cukup waktu bagi umat untuk menabung serta bulan-bulan tersebut tempat ziarah tidak terlalu dipadati pengunjung.

Ramah tamah usai rapat program kerja

Tak hanya soal sembahyangan dan ziarah, pengurus lingkungan juga bersepakat menghidupkan kembali pertemuan rutin ibu-ibu lingkungan yang vakum sejak pandemi. Pertemuan rutin sebulan sekali ini akan dilaksanakan bersamaan dengan jadwal sembahyangan yang dimulai bulan Februari 2025.

Berhubung keterbatasan waktu, belum semua rencana program kerja tuntas dibahas dalam rapat malam itu. Para pengurus akan mengagendakan pertemuan lanjutan untuk mendiskusikan program kerja 2025 selengkapnya. Pertemuan malam itu kemudian ditutup dengan ramah tamah sederhana penuh keakraban.