Yustina Munarti: “More than words, She proclaims life “

“More than words, she proclaims life.”Her name may not often be heard from the pulpit or in the media, but to many children and parishioners in her community, she is deeply significant. Yustina Munarti, a humble 73-year-old woman, has made her life a true offering to God—through quiet yet profound work: her ministry as a catechist.

Her journey of faith began in 1968, when she wholeheartedly received the Sacrament of Baptism and embraced the Catholic faith. From that moment, seeds of love for God and others began to grow within her, slowly but surely taking root in every step of her life.

In March 1980, at the young age of 27, she experienced a stirring in her heart. She witnessed a reality that deeply moved her: children in her neighborhood wandering aimlessly, without spiritual guidance, without anyone to accompany them in faith. It was a scene that many might consider ordinary—but not Yustina. To her, it was God speaking through the restlessness in her heart.

Encouraged by her own child, she decided to step into the Lord’s vineyard and become a catechist. She didn’t just want to teach—she wanted to accompany, to live the faith, and to proclaim God’s love in its most tangible form: presence.

Being a catechist has never been an easy path. Challenges and hardships came and went. Not every child was easy to reach, not every parent was supportive, and not every environment was encouraging. But for Yustina, these were not stumbling blocks—they were stepping stones to rely more fully on God. She learned that every soul touched by Christ’s love—even just one—is a great victory in her ministry.

Her joy cannot be measured in words. She feels her life has been enriched through simple yet meaningful experiences: seeing the children she once guided grow into people of faith, with some even continuing in her footsteps of service.

The days continue to pass, yet her spirit never fades. At the age of 73, Yustina remains present—with her smile, her laughter, and her burning passion. She is a living testament that ministry is not about age, but about love—love that asks for nothing in return, only to give, give, and keep giving.

“I will offer this life in the Lord’s vineyard,” she declares firmly. And it’s more than just words—that’s exactly what she has lived for decades, through her faithfulness, sincerity, and humility. She has not only taught the faith through words, but lived it with her whole being.Because for her, proclaiming the Gospel is not merely about teaching. It is a way of life.


Yustina Munarti: “Lebih dari kata, Ia mewartakan hidup”

“Lebih dari kata, ia mewartakan hidup.”Nama itu mungkin tak sering terdengar dari mimbar atau media, namun bagi banyak anak dan umat di komunitasnya, sosoknya begitu berarti. Yustina Munarti, seorang perempuan sederhana berusia 73 tahun, telah menjadikan hidupnya persembahan sejati bagi Tuhan—melalui karya sunyi, namun mendalam: pelayanan sebagai katekis.

Perjalanan imannya dimulai pada tahun 1968, saat ia dengan sepenuh hati menerima Sakramen Baptis dan memeluk iman Katolik. Dari situ, benih kasih kepada Tuhan dan sesama mulai tumbuh dalam dirinya, perlahan tapi pasti mengakar kuat dalam setiap langkah hidupnya.

Pada Maret 1980, di usia yang masih muda—27 tahun—sebuah panggilan batin mengetuk hatinya. Ia melihat kenyataan yang menyentuh nuraninya: anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya berkeliaran tanpa tujuan, tanpa pendamping rohani, tanpa bimbingan iman. Suatu pemandangan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa, namun tidak bagi Yustina. Di sanalah ia merasa bahwa Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan hatinya.

Dengan dorongan dari anaknya sendiri, ia memutuskan melangkah ke ladang Tuhan, menjadi seorang katekis. Ia bukan hanya ingin mengajar, tetapi lebih dari itu—ia ingin mendampingi, menghidupi iman, dan mewartakan kasih Allah dalam bentuk paling nyata: kehadiran.

Menjadi katekis bukanlah jalan yang selalu mudah. Duka dan tantangan silih berganti. Tidak semua anak mudah disentuh hatinya, tidak semua orang tua peduli, dan tidak semua lingkungan mendukung. Namun bagi Ibu Yustina, semua itu bukan batu sandungan, melainkan batu loncatan untuk semakin mengandalkan Tuhan. Ia belajar bahwa setiap jiwa yang disentuh oleh kasih Kristus—meski hanya satu—adalah kemenangan besar dalam pelayanan.

Sukacitanya pun tak dapat diukur dengan kata. Ia merasa hidupnya diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna: melihat anak-anak yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bahkan ada yang meneruskan jejak pelayanannya.

Hari-hari pun terus berlalu, namun semangatnya tak pernah padam. Di usianya yang ke-73, Ibu Yustina tetap hadir dengan senyum, tawa, dan semangat yang membara. Ia adalah gambaran nyata bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal cinta—cinta yang tak pernah menuntut balasan, hanya memberi, memberi, dan terus memberi.

Saya akan mempersembahkan hidup ini di ladang Tuhan,” tuturnya dengan mantap. Dan bukan hanya perkataan belaka—itulah yang selama puluhan tahun telah ia wujudkan, lewat kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Ia bukan hanya mengajarkan iman dengan kata-kata, tetapi menghidupinya dengan seluruh dirinya.Karena baginya, mewartakan Injil bukan semata soal pengajaran. Itu adalah cara hidup.

Posted in Berita Terkini, Informasi, RUANG INSPIRASI, Sosial.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *