Hari Minggu Paskah, 20 April 2025, menjadi momen penuh sukacita dan berkat bagi umat Stasi Maguwo, Gereja St. Maria Bunda Allah. Dalam suasana pagi yang cerah dan khidmat, sebanyak 665 umat hadir bersama untuk merayakan Kebangkitan Tuhan Yesus, pusat iman kita sebagai umat Kristiani.
Perayaan Ekaristi dipimpin langsung oleh Romo Paroki, Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr. Kehadiran beliau menjadi sukacita tersendiri bagi umat, terlebih karena beliau menyampaikan homili yang menyentuh hati tentang harapan, pembaruan hidup, dan kasih yang tak pernah gagal dari Tuhan yang bangkit.
Liturgi semakin hidup dengan iringan koor dari Wilayah Loyola yang membawakan lagu-lagu Paskah dengan penuh semangat dan penghayatan. Suara merdu dan harmonisasi yang indah membuat suasana misa semakin mengangkat jiwa, mengajak setiap umat untuk benar-benar mengalami kebangkitan dalam hidup masing-masing.
Sebagai penutup yang manis, di akhir Ekaristi, anak-anak dari Wilayah Loyola mempersembahkan sebuah nyanyian Paskah yang sederhana namun penuh makna. Dengan suara polos dan hati yang tulus, mereka menghadirkan sukacita dan harapan baru bagi seluruh umat yang hadir—sebuah pengingat bahwa semangat kebangkitan selalu hidup dalam generasi penerus Gereja.
Paskah bukan hanya tentang mengenang peristiwa ribuan tahun lalu. Bagi umat Stasi Maguwo, Paskah adalah saat untuk menyegarkan iman, memperbarui harapan, dan merayakan kasih Tuhan yang menghidupkan.
Sabtu malam, 19 April 2025, udara di sekitar Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa berbeda. Ada aroma lilin, harapan, dan sukacita yang mengalir di antara langkah-langkah umat yang mulai berdatangan sejak petang.
Dan benar saja, tepat pukul 19.00 WIB, lonceng sukacita berbunyi, menandai dimulainya Perayaan Vigili Paskah, momen puncak dalam rangkaian Pekan Suci.
Perayaan yang penuh makna ini dipimpin dengan penuh khidmat oleh Romo Agustinus Wahyu Anggoro, SJ, yang malam itu tampak begitu bersinar… meski tentu kalah terang dibanding 1245 umat yang hadir, masing-masing membawa cahaya lilin dan semangat kebangkitan dalam hati.
Api Baru, Harapan Baru
Upacara dimulai di luar gereja, di bawah langit Maguwo yang bersahabat. Api baru dinyalakan, lilin Paskah dikukuhkan, dan dari nyala kecil itu, cahaya perlahan menjalar dari satu umat ke umat lainnya. Satu demi satu, cahaya kecil itu bersatu, menjadi lautan terang yang mengusir gelap.
Bukan cuma simbol, tapi pesan yang nyata: bahwa terang Kristus tak pernah padam, bahkan di tengah dunia yang sering terasa remang.
Sabda, Pembaruan, dan Sukacita
Liturgi Sabda malam itu panjang—iya, memang panjang, tapi siapa peduli? Karena setiap bacaan membawa kita menelusuri kisah cinta Tuhan dari awal penciptaan sampai janji keselamatan yang kini digenapi.
Lalu terdengarlah kidung “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang Mahatinggi…” Gereja seketika gemuruh—lonceng berdentang, lilin altar dinyalakan, dan umat pun menyadari: Yesus telah bangkit! Dan kita semua ikut bangkit bersama-Nya
Percikan Berkat dan Sukacita
Momen pembaruan janji baptis dan percikan air suci jadi salah satu bagian yang paling dinantikan. Tidak sedikit umat yang ‘kena percik’ agak deras, termasuk saya …hehehe….tapi justru itulah yang bikin tersenyum. Ada yang bercanda, “gk sekalian aja disiram…hahahaha…” tapi toh semua pulang dengan wajah bersih dan hati baru.
Liturgi Ekaristi: Saatnya Bersatu dalam Syukur
Di bagian puncak perayaan, suasana hening menyelimuti. Umat bersatu dalam Ekaristi, menerima Tubuh Kristus dengan hati yang bersinar. Musik, doa, dan permenungan malam itu benar-benar menyatu jadi satu pujian agung.
Satu per satu umat meninggalkan gereja dengan senyum, damai, dan semangat baru. Tidak hanya karena perayaan yang indah, tapi karena kita diingatkan: kita adalah umat Paskah, dan Alleluia adalah lagu kita.
Selamat Paskah untuk seluruh umat Stasi Maguwo…………….
Maguwo, Sabtu 19 April 2025 — Suasana halaman gereja pagi ini terasa berbeda. Senyum hangat, sapaan akrab, dan semangat kebersamaan lintas keyakinan memenuhi udara saat mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta datang bersilaturahmi ke Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo.
Kedatangan mereka disambut langsung oleh para pengurus stasi, antara lain: Ketua Stasi Bapak Agung Prasetyo, Kabid Kemasyarakatan Bapak Al Bagio. M, Koordinator PAMDAL Bapak Antonius Sumaryono, Bendahara Stasi sekaligus Ketua KWT Ibu Sri Harnani, Sekretaris Stasi Ibu Elisabet Amy, serta Ibu Nurul, yang juga merupakan dosen di UIN Sunan Kalijaga.
Dalam suasana santai dan penuh rasa ingin tahu, para mahasiswa berbincang dengan para pengurus stasi, mengajukan berbagai pertanyaan seputar kehidupan umat Katolik, ajaran dasar Gereja Katolik, praktik toleransi, serta hubungan erat antara gereja dan masyarakat sekitar. Salah satu yang menarik perhatian adalah kisah tentang “PARJO” (Parkir Gerejo)—sebuah kolaborasi nyata antara gereja dan warga sekitar dalam pengelolaan parkir yang menjadi model hidup berdampingan yang harmonis.
Tak hanya berbincang, para mahasiswa juga diajak berkeliling kompleks gereja, melihat secara langsung ruang-ruang pelayanan dan persiapan perayaan Paskah 2025 yang sedang dilakukan. Mereka menyaksikan altar yang dihias, petugas liturgi yang berlatih, dan berbagai aktivitas lain yang menyiapkan gereja menyambut puncak sukacita iman.
Kunjungan ini menjadi bagian dari tugas akademik mereka, sekaligus pengalaman berharga dalam membangun pemahaman yang lebih dalam tentang kehidupan umat beragama di Indonesia. Dialog lintas iman yang terjadi hari ini membuktikan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk saling belajar, menghargai, dan membangun kedamaian bersama.
Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta atas kunjungan dan semangat belajarnya. Semoga momen ini menjadi benih persaudaraan sejati dalam keberagaman bangsa kita.
Dalam keheningan pagi Jumat Agung, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk mengikuti Ibadat Tujuh Sabda, sebuah ibadat yang sarat makna untuk mengenangkan tujuh perkataan terakhir Yesus di kayu salib. Ibadat dilaksanakan pada pagi hari, dan menjadi salah satu bagian penting dari rangkaian perayaan Tri Hari Suci.
Yang menjadi keistimewaan tahun ini, seluruh ibadat dibawakan dengan penuh penghayatan oleh para remaja Orang Muda Katolik (OMK) Maguwo. Dengan semangat pelayanan yang tulus, para OMK membacakan teks-teks sabda, doa-doa pengantar, serta menyampaikan renungan singkat untuk setiap sabda. Renungan yang disampaikan mencerminkan suara dan hati generasi muda, yang mencoba memahami dan meresapi makna penderitaan serta kasih pengorbanan Kristus dalam konteks hidup mereka saat ini.
Setiap renungan yang dibawakan tidak hanya menyentuh hati, tapi juga mengajak umat untuk melihat kembali bagaimana Sabda Yesus masih berbicara dengan kuat hingga hari ini—tentang pengampunan, pengharapan, cinta, dan penyerahan total kepada Bapa.
Suasana ibadat semakin syahdu dengan kehadiran Tim Cantorez, yang mengisi bagian musikal sepanjang ibadat. Lagu-lagu yang dibawakan dengan penuh perasaan mengalun lembut, menyatu dengan suasana reflektif, membawa umat masuk lebih dalam ke dalam permenungan. Tim Cantorez tidak hanya mengiringi, tetapi benar-benar memperkuat suasana kontemplatif lewat paduan suara yang tenang dan menyentuh.
Ibadat ini bukan hanya menjadi sarana doa, tetapi juga momen edukatif rohani bagi OMK dan seluruh umat. Gereja sungguh dihidupkan oleh semangat keterlibatan lintas generasi—di mana para remaja mengambil peran aktif, dan para penggiat musik turut mempersembahkan talenta mereka untuk memuliakan Tuhan.
Lewat Ibadat Tujuh Sabda yang penuh penghayatan ini, umat diajak untuk tidak hanya mengingat penderitaan Kristus, tetapi juga menjawab kasih-Nya dengan hidup yang penuh cinta, pengampunan, dan pelayanan.
Ketika umat datang ke gereja dengan hati tenang dan nyaman, sering kali ada sekelompok orang orang yang diam-diam sudah lebih dulu bersiap. Mereka bukan imam, bukan petugas liturgi, dan bukan pula koor. Namun tanpa kehadiran mereka, rasa aman bisa jadi hilang, dan kekhidmatan misa bisa terganggu. Mereka adalah PAMDAL Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo—para penjaga ketertiban yang bekerja dalam diam, tapi berdampak besar.
Di bawah komando Bapak Antonius Sumaryono, tim PAMDAL terdiri dari para pria tangguh dan berdedikasi tinggi yang berasal dari berbagai lingkungan di Stasi. Mereka adalah umat biasa yang terpanggil untuk mengambil peran luar biasa: menjaga keamanan dan kelancaran setiap kegiatan gereja, dari misa harian hingga perayaan besar seperti Natal dan Pekan Suci.
Namun, tugas mereka tidak hanya berhenti di pengamanan saat ibadat berlangsung. Tahun 2025 ini, Tim PAMDAL aktif dalam berbagai kegiatan strategis yang menunjukkan bahwa peran mereka semakin luas dan penuh semangat kolaboratif.
Beberapa kegiatan penting yang dijalani Tim PAMDAL sepanjang tahun ini antara lain:
Ikut serta dalam gladi bersih Pekan Suci 2025, memastikan alur acara berjalan tertib dan aman dari awal hingga akhir. Mereka bukan hanya hadir di hari-H, tapi juga terlibat aktif dalam persiapan.
Menghadiri rapat koordinasi dengan Panitia Pekan Suci 2025, demi menyatukan persepsi, membahas potensi risiko, serta menyusun strategi teknis demi kelancaran ibadat yang melibatkan ribuan umat.
Berperan dalam kolaborasi bersama BANSER DIY di Posko Mudik Kalasan 2025, sebagai bentuk solidaritas dan pengabdian lintas organisasi untuk pelayanan masyarakat yang lebih luas.
Bersinergi dengan elemen aparat keamanan dan masyarakat sekitar gereja, menunjukkan bahwa PAMDAL tidak berjalan sendiri, tetapi menjadi bagian dari jalinan kerja sama yang lebih besar demi menciptakan suasana ibadah yang aman, nyaman, dan tertib.
Dengan semangat pelayanan dan loyalitas yang tinggi, Tim PAMDAL tidak hanya menjadi penjaga fisik gereja, tetapi juga simbol kedewasaan iman umat, yang siap melayani secara nyata di balik layar. Mereka tidak selalu terlihat, tapi kehadiran dan peran mereka sungguh terasa.
Terima kasih, Tim PAMDAL Stasi Maguwo. Karena kalian, umat bisa beribadah dengan tenang. Karena kalian, suasana gereja tetap kondusif dan bersahabat.
Maguwo, 18 April 2025 — Suasana langit yang kelabu dan rintik hujan yang turun sejak siang hari tidak menghalangi semangat umat Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo untuk mengikuti Ibadat Jumat Agung, yang dilangsungkan pada pukul 15.00 WIB dan dipimpin oleh Romo Fajar Kristianto, Pr.
Sekitar 1.092 umat hadir memenuhi gereja, menghayati momen suci mengenangkan sengsara dan wafat Tuhan kita Yesus Kristus. Ibadat yang berlangsung hingga pukul 17.00 WIB ini dilaksanakan dalam suasana hening, penuh penghayatan, dan sarat makna.
Jumat Agung adalah satu-satunya hari dalam tahun liturgi Gereja di mana Ekaristi tidak dirayakan. Sebagai gantinya, umat diajak untuk merenungkan kisah sengsara Yesus , mendengarkan renungan, menyampaikan doa umat yang merangkul seluruh dunia, dan kemudian menghormati salib—tanda kasih yang mengalahkan dosa dan kematian.
Meski di luar hujan turun, di dalam gereja suasana terasa hangat oleh kehadiran umat yang tekun berdoa dan merenung. Suara bacaan dan doa menggema lembut, berpadu dengan tetes hujan yang jatuh di atap, seolah ikut meratapi penderitaan Sang Juruselamat. Salib yang dihadirkan dan dihormati umat menjadi titik pusat perhatian, simbol pengorbanan agung dan kasih tanpa batas.
Dalam homilinya, Romo Fajar mengajak umat untuk tidak hanya melihat salib sebagai lambang penderitaan, tetapi sebagai tanda harapan, bahwa dalam setiap luka dan pergumulan hidup, ada kasih Tuhan yang menyelamatkan. Ia menekankan bahwa Jumat Agung bukan hanya hari duka, tetapi juga hari kasih—kasih yang ditunjukkan dengan cara paling radikal: pengorbanan diri sepenuhnya.
Perayaan ini menjadi momen permenungan yang dalam, di mana setiap umat diajak untuk diam, melihat ke dalam hati, dan bertanya: “Apa makna salib dalam hidupku hari ini?”
Di tengah hujan, Gereja tetap penuh. Umat tetap hadir. Hati tetap terbuka. Karena kasih Tuhan, bahkan di hari tergelap, tetap bersinar.
Dalam suasana yang khusyuk dan penuh penghayatan, umat Paroki Santa Maria Bunda Allah Maguwo berkumpul untuk merayakan Kamis Putih, perayaan yang mengawali rangkaian Tri Hari Suci menjelang Hari Raya Paskah. Perayaan Ekaristi dimulai tepat pukul 19.00 WIB, dipimpin oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr., dan dihadiri oleh 1.214 umat yang memadati area gereja.
Kamis Putih mengajak umat untuk mengenangkan dua momen penting dalam kehidupan Yesus: Perjamuan Terakhir, di mana Ia menetapkan Sakramen Ekaristi, dan pembasuhan kaki murid-murid-Nya, sebuah tindakan kasih dan kerendahan hati yang luar biasa. Dalam homilinya, Romo Ngatmo menekankan bahwa peristiwa Kamis Putih bukan sekadar kenangan sejarah, tetapi panggilan nyata bagi setiap umat untuk menghadirkan kasih melalui pelayanan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Bagian pembasuhan kaki menjadi salah satu momen yang menyentuh, ketika Romo Ngatmo membasuh kaki perwakilan umat sebagai simbol kasih yang tidak pilih-pilih, kasih yang melayani dan merendahkan diri, seperti yang telah diteladankan oleh Kristus.
Setelah liturgi Ekaristi, perayaan dilanjutkan dengan pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan sementara, melambangkan Yesus yang memasuki saat-saat penderitaan di Taman Getsemani. Gereja kemudian memasuki suasana hening, mengajak umat untuk masuk dalam doa dan permenungan yang lebih dalam.
Usai misa, kegiatan dilanjutkan dengan tuguran atau doa berjaga, yang dibagi dalam empat sesi oleh perwakilan wilayah: Sang Timur, Loyola, Don Bosco, dan De Britto. Masing-masing wilayah memimpin umat dalam doa dan pujian, menjaga suasana tenang dan sakral sebagai bentuk kesetiaan menemani Yesus dalam pergulatan-Nya di malam menjelang penangkapan.
Perayaan Kamis Putih ini menjadi pengingat yang kuat bahwa iman bukan hanya soal ke gereja, tetapi juga soal hadir, melayani, dan mencintai—dengan rendah hati, seperti Kristus telah lakukan.
Arak-arakan Iman, Daun Palma, dan Langkah Menuju Kasih Sejati
Minggu, 13 April 2025. Udara pagi masih sejuk, tapi halaman belakang Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo sudah ramai sejak sebelum matahari sepenuhnya naik. Ada yang datang sambil menenteng daun palma dari kebun, ada yang bawa yang sudah dianyam mirip bunga (atau ayam jago? siapa yang tahu…), dan tentu saja ada yang datang sambil bisik-bisik, “Ini bener nggak sih bawa palem dari pot ruang tamu?”
Tepat pukul 07.00 WIB, umat berkumpul dan siap memulai Perayaan Minggu Palma yang dipimpin oleh Romo Andrianus Maradiyo, Pr. Di tengah semilir angin pagi dan iringan lagu pujian, Romo memberkati daun palma yang menjadi simbol semangat kita menyambut Kristus, Sang Raja Damai. Tapi jangan salah, ini bukan cuma acara tabur daun lalu pulang. Ini awal dari sebuah perjalanan iman!
Usai diberkati, ratusan umat mulai berarak dari halaman belakang menuju dalam gereja. Suasananya mirip pawai kecil—tapi bukan pawai biasa. Ini pawai iman. Ada yang melambai-lambaikan daun palma dengan semangat (bahkan lebih semangat dari suporter bola), ada yang jalan sambil nyanyi, dan ada yang… sudah ngos-ngosan di tengah jalan tapi tetap semangat karena “ini kan cuma pemanasan sebelum jalan salib!”
Setibanya di dalam gereja, suasana menjadi lebih hening dan sakral. Dalam homilinya, Romo Maradiyo mengajak umat untuk tidak hanya jadi pengikut Kristus saat dielu-elukan, tapi juga saat Ia memanggul salib.
“Kita semua hari ini ikut arak-arakan penuh sukacita. Tapi jangan berhenti di sini. Siapkah kita tetap berjalan bersama Yesus, meski jalan-Nya penuh luka?”
Seketika, suasana berubah. Semua kembali merenung—bahwa daun palma hanyalah awal dari sebuah perjalanan yang lebih dalam: perjalanan menuju salib, dan akhirnya menuju kebangkitan.
Perayaan ini tidak hanya mengingatkan kita pada kisah dua ribu tahun lalu, tetapi juga mengajak kita semua untuk menghidupi semangatnya hari ini: dalam keluarga, di tempat kerja, di jalanan, dan dalam komunitas. Bahwa iman bukan hanya tentang seremoni, tapi keberanian untuk terus mengikuti Yesus, bahkan saat dunia tak lagi bersorak.
Minggu Palma kali ini bukan hanya penuh daun, tapi juga penuh harapan. Umat pulang dengan tangan menggenggam palma—dan hati menggenggam semangat baru untuk menyambut Pekan Suci dengan iman yang hidup.
Seiring pertumbuhan umat Katolik di Stasi Maguwo yang semakin pesat dari tahun ke tahun, kami merasakan kebutuhan mendesak untuk menghadirkan sebuah kawasan gereja yang tidak hanya mampu menampung umat dengan layak, tetapi juga menjadi pusat kehidupan iman yang relevan bagi zaman ini.
1. Optimalisasi Fungsi dan Kapasitas Gereja Jumlah umat yang terus bertambah dari waktu ke waktu membawa kebutuhan untuk meningkatkan daya tampung serta kualitas sarana ibadah. Maka, optimalisasi ruang ibadah menjadi hal yang mendesak, agar umat dapat mengikuti perayaan Ekaristi dengan nyaman dan penuh kekhusyukan. Lingkungan yang mendukung secara fisik juga akan menumbuhkan semangat spiritualitas dan keterlibatan aktif dalam kehidupan menggereja.
2. Pusat Pelayanan Pastoral Kami ingin mewujudkan gereja sebagai lebih dari sekadar tempat ibadah. Pusat pelayanan pastoral yang akan dibangun di kawasan ini diharapkan menjadi ruang pembinaan iman, moral, dan sosial bagi seluruh umat. Anak-anak, kaum muda, keluarga, dan lansia akan memiliki ruang untuk bertumbuh dan dibina secara berkelanjutan dalam terang ajaran Gereja.
3. Peningkatan Fungsi Sosial Gereja Gereja St. Maria Bunda Allah – Stasi Maguwo juga ingin hadir secara nyata bagi masyarakat sekitar, tanpa memandang latar belakang agama. Kehadiran pusat pelayanan pastoral akan menjadi wadah dialog iman dan tempat pelayanan sosial yang mampu menjawab tantangan zaman ini. Gereja dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, menjadi saksi kasih di tengah masyarakat.
4. Tahapan Pembangunan dan Pengembangan Kawasan Gereja: a. Penyusunan desain master plan dan site plan b. Pengajuan rencana kepada Tim Pembangunan KAS melalui Pastor Paroki Kalasan c. Pembahasan antara Tim Pembangunan Maguwo dan Tim Pembangunan KAS, dilanjutkan dengan peninjauan lokasi d. Pengesahan master plan e. Penggalangan dana f. Eksekusi pembangunan secara bertahap
Dengan semangat kebersamaan dan iman yang hidup, kami mengajak seluruh umat dan para dermawan untuk mendukung proses ini — dalam doa, partisipasi, dan kontribusi nyata — agar impian bersama ini dapat terwujud demi kemuliaan Tuhan dan kesejahteraan umat-Nya.
Kamis, 10 April 2025, menjadi tonggak penting dalam perjalanan ini. Telah dilakukan pembahasan antara Tim Pembangunan Maguwo dan Tim Pembangunan KAS, disertai peninjauan langsung ke lokasi. Puji Tuhan, master plan resmi disetujui oleh Tim Pembangunan KAS. Semoga ini menjadi awal yang penuh berkat bagi langkah-langkah selanjutnya.
Kini, saatnya kita melangkah bersama. Pembangunan ini bukan hanya soal fisik bangunan, tetapi sebuah karya iman yang mencerminkan kasih, harapan, dan semangat pelayanan kita bersama. Kami percaya, dengan keterlibatan seluruh umat—baik dalam bentuk doa, tenaga, pikiran, maupun dana—segala sesuatu yang telah dirintis akan dapat diselesaikan dengan penuh sukacita.
Marilah kita menjadi bagian dari sejarah yang akan dikenang oleh generasi selanjutnya. Sebuah warisan iman yang hidup dan terus menyala di tengah masyarakat. Bersama Tuhan, tiada yang mustahil.
Ad maiorem Dei gloriam — Demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
terima kasih kepada : bapak Al. Bagio. Mketua tim pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah Martinus Ervin,desainer masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah tim pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah
inilah Fasad Gereja Santa Maria Bunda Allah yang disetujui oleh tim pembangunan KAS
Pernah nggak sih kamu ngerasa kayak… hidup ini isinya orang-orang hebat semua—kecuali kamu? Ada yang jago bisnis, ada yang viral tiap posting, ada yang ngurusin pelayanan dari pagi sampe malem, pokoknya semua keliatan produktif dan penuh berkat. Sementara kamu? ikut koor aja suara fals………………. Tenang bro,sis…. kamu nggak sendiri………………………
St. Dominic Savio—si bocah ajaib yang wafat di usia 14 tahun tapi udah jadi santo—ngajarin kita satu hal yang penting banget:
“I am not capable of doing big things, but I want to do everything, even the smallest things, for the greater glory of God.”
Diterjemahkan bebas: “Gue emang bukan Avengers. Tapi selama gue bisa nyapu gereja, bantuin tetangga, dan nyenyumin orang yang nyebelin… itu semua buat Tuhan.”
Gila nggak tuh? Dalam banget.
Di zaman sekarang yang serba “big achievement”, kita sering lupa bahwa Tuhan juga ngelirik hal-hal yang kecil. Nggak semua orang disuruh jadi kepala negara, tapi semua orang disuruh jadi pribadi yang penuh kasih. Nggak semua orang bisa bikin roket ke Mars, tapi semua bisa bantu angkat kursi habis misa. Tuhan nggak cari siapa yang paling viral, tapi siapa yang paling setia—even dalam hal paling receh.
Bayangin ya… kamu senyum ke orang yang lagi galau, bisa jadi titik balik hidup dia. kamu berdoa dalam sepi, bisa jadi tameng buat orang lain yang lo nggak kenal. kamu buang sampah pada tempatnya di lingkungan gereja, bisa jadi inspirasi buat anak-anak kecil yang lihat. Kecil? Iya. Tapi efeknya? Bisa tsunami kebaikan, bro!
St. Dominic ngajarin kita bahwa hidup bukan soal ukuran aksi, tapi ukuran cinta di balik aksi. Dia juga bukti bahwa kekudusan nggak harus nunggu tua atau nunggu kaya. Kekudusan itu kayak tanaman kecil di gambar itu—asal kamu tanam di tanah yang subur (hati yang tulus), kamu siram tiap hari (doa dan niat baik), dan kamu rawat dengan kasih, suatu saat akan tumbuh besar dan rindang.
Jadi, kalau kamu ngerasa kecil, ngerasa remeh, ngerasa “gue mah cuma…” berhenti deh………………… Mulai sekarang bilang: “Gue kecil, tapi gue punya Tuhan yang besar. Dan semua yang gue lakuin, walau kecil, bisa punya makna gede banget kalo buat kemuliaan-Nya.”
Mulai dari hal sederhana:
Bangun pagi dan nggak ngeluh.
Dengerin temen curhat tanpa motong.
Mandi sebelum ibadah (jangan anggap remeh ini
Ucapkan “terima kasih” dan “maaf” dari hati.
Pokoknya bro,sis……………, jangan pernah anggap hal baik itu terlalu kecil buat dilakuin. Karena di mata Tuhan, yang kecil itu bisa jadi mahakarya.
So, gaskeun terus! Jangan nunggu jadi luar biasa dulu baru bertindak. Tapi bertindaklah dengan luar biasa dalam hal-hal biasa. Karena itulah cara kita memuliakan Tuhan dari tempat kita berdiri sekarang.
Sebagai Ketua Stasi, inilah semangat saya: “Saya mungkin tidak mampu melakukan hal-hal besar, tapi saya mau melakukan segala sesuatu—sekecil apa pun—demi kemuliaan Tuhan.” Seperti St. Dominic Savio, saya percaya bahwa perubahan besar dimulai dari kesetiaan akan hal-hal kecil. Dan bersama umat semua, saya yakin… kita bisa jadi terang, bahkan dari pelita yang sederhana
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo