Pada Minggu, 16 November 2025, umat Lingkungan Santo Paulus melaksanakan Ziarah Porta Sancta sebagai bagian dari perjalanan rohani untuk memperdalam iman dan mengalami kembali limpahan rahmat Allah dalam Tahun Yubileum. Ziarah ini diikuti oleh umat lingkungan bersama para Suster SSpS serta para Romo SVD, sehingga nuansa kebersamaan dan semangat misioner terasa sangat kuat sepanjang perjalanan.
Perhentian pertama adalah Kerkoff Muntilan, tempat para misionaris awal—khususnya para Jesuit—dimakamkan. Di lokasi bersejarah ini, umat diajak mengenang pengorbanan dan dedikasi para pewarta Injil yang telah menanamkan dasar iman Katolik di tanah Jawa. Suasana hening dan penuh hormat menjadi momen refleksi mendalam bagi para peserta.
Ziarah kemudian berlanjut ke Gereja Santo Ignatius Magelang, sebuah gereja tua yang kaya akan spiritualitas Ignasian. Di sini umat berdoa dan memohon kekuatan untuk menjalani hidup dengan semangat discernment serta tekad untuk mencari dan menemukan Allah dalam segala hal.
Perhentian ketiga adalah Gereja Maria Penasihat Baik di Wates, tempat yang menjadi puncak pengalaman rohani bagi peserta ziarah. Di gereja ini, umat terlebih dahulu mengikuti pengakuan dosa, sebuah kesempatan untuk memurnikan hati dan mengalami kembali kasih pengampunan Tuhan. Setelah itu, umat merayakan Perayaan Ekaristi bersama tiga romo SVD: Romo Ryan, Romo Sunday, dan Romo Salu. Misa berlangsung dalam suasana penuh syukur, hangat, dan membawa kedalaman rohani bagi seluruh peserta.
Ziarah ditutup dengan kunjungan ke Gereja Hati Kudus Tuhan Yesus (HKTY) Ganjuran, sebuah pusat devosi yang sangat dikenal di Keuskupan Agung Semarang. Umat berdoa dalam keheningan dan kedamaian khas Ganjuran, merasakan sentuhan kasih Tuhan yang menguatkan dan menyegarkan kembali semangat iman.
Perjalanan rohani ini menjadi pengalaman yang mempererat persaudaraan umat Lingkungan Santo Paulus, memperdalam relasi dengan Tuhan, serta menghadirkan sukacita sebagai Gereja yang senantiasa berjalan bersama. Semoga ziarah ini membuahkan pembaruan hidup dan menumbuhkan semangat pelayanan dalam keseharian.
Usai Misa Peringatan Arwah Semua Orang Beriman, para pengurus misdinar Stasi Gereja Maria Bunda Allah Maguwo melaksanakan ziarah ke makam beberapa sosok yang sangat berarti bagi komunitas. Dengan hati yang tenang dan doa yang tulus, mereka menabur bunga serta memanjatkan doa di makam mamanya Asti, mas Surya—papanya Tian, mbak Danik, dan mas Yuda.
Ziarah ini menjadi ungkapan kasih dan iman, serta bentuk penghormatan kepada mereka yang telah berpulang terlebih dahulu menghadap Bapa di surga. Dalam hening doa, para misdinar memohon agar Tuhan menganugerahkan kedamaian abadi bagi jiwa-jiwa yang mereka doakan, dan agar teladan hidup mereka tetap menjadi berkat bagi umat yang masih berziarah di dunia ini.
Ibunya Asti dikenal sebagai pribadi yang lembut, penuh perhatian, dan setia dalam kehidupan keluarga serta pelayanan. Beliau adalah istri dari Bapak Satrio Widodo, salah satu aktivis gereja yang dikenal ahli dalam bidang dekorasi dan tata artistik di setiap perayaan dan acara gereja. Melalui karya dan kreativitasnya, Pak Satrio telah banyak memperindah suasana liturgi, membantu umat semakin merasakan kehadiran Allah dalam keindahan dan kesakralan perayaan iman.
Mas Surya, papanya Tian, semasa hidupnya dikenal sebagai aktivis gereja yang penuh semangat. Di kalangan OMK lawas, beliau dikenang sebagai sosok yang supel, mudah bergaul, dan ramah kepada siapa saja. Kehadirannya selalu membawa suasana hangat dan penuh persaudaraan, menjadi contoh bagaimana iman diwujudkan dalam relasi yang penuh kasih.
Mas Yuda dikenal sebagai prodiakon GMBA yang sangat dicintai oleh seluruh umat. Sosoknya sederhana, penuh semangat, dan tulus dalam pelayanan. Ia menjadi inspirasi bagi banyak orang muda untuk melayani Tuhan dengan sukacita dan kesetiaan. Di usia yang masih muda, Tuhan memanggilnya pulang, namun jejak kasih dan pelayanannya tetap hidup dalam hati umat GMBA.
Mbak Danik, sepupu dari almarhum mas Yuda, juga merupakan prodiakon yang tekun dan penuh dedikasi. Meskipun harus bergulat dengan sakit, ia tetap setia melayani hingga akhirnya dipanggil Tuhan. Dalam kelemahannya, terpancar kekuatan iman yang menjadi kesaksian indah bagi banyak orang.
Melalui ziarah ini, para pengurus misdinar belajar bahwa pelayanan bukan hanya tentang berdiri di altar, tetapi juga tentang meneladani kasih, kesetiaan, dan pengorbanan mereka yang telah mendahului kita. Doa-doa yang dipanjatkan menjadi wujud iman akan kehidupan kekal dan pengharapan akan perjumpaan kembali dalam Kerajaan Surga.
“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup serta percaya kepada-Ku tidak akan mati selama-lamanya.” — Yohanes 11:25–26
Semoga semangat pelayanan dan cinta kasih yang diwariskan oleh almarhumah ibunya Asti, almarhum mas Surya, almarhum mas Yuda, dan almarhumah mbak Danik terus menyalakan api iman di hati para misdinar, agar mereka semakin teguh melayani Tuhan dengan sukacita dan ketulusan.
Sebuah pertanyaan sederhana namun penuh makna menjadi tema pembekalan lektor kali ini: “Siapa Kita?”. Pertanyaan yang mengajak setiap lektor untuk merenungkan kembali identitas dan panggilan pelayanannya sebagai pembawa Sabda Tuhan di tengah umat.
Bertempat di Gantari Laras Resto & Bakery, kegiatan ini diikuti oleh anggota lama dan anggota baru — para lektor hasil penjaringan dari lomba lektor yang diadakan sebelumnya. Suasana pertemuan berlangsung hangat dan akrab sejak awal, diawali dengan sesi perkenalan antaranggota yang dikemas secara ringan dan menyenangkan.
Setelah saling mengenal, peserta diajak untuk mengikuti “kado silang”, sebuah momen sederhana namun penuh keakraban yang mempererat rasa persaudaraan di antara para pelayan Sabda. Kegiatan kemudian berlanjut dengan pengenalan tentang apa itu lektor dan tugas-tugasnya, yang disampaikan dalam format permainan interaktif melalui aplikasi Kahoot. Dengan cara yang kreatif dan seru, para peserta diajak memahami kembali hakikat pelayanan lektor sebagai pewarta Sabda yang tidak hanya membaca, tetapi juga menghidupi dan menyampaikan Firman dengan hati yang beriman.
Selain itu, terdapat penjelasan tambahan tentang komunitas Lektor St. Symphorian Maguwo, termasuk berbagai kegiatan yang selama ini dijalankan — mulai dari pelayanan rutin hingga pembinaan rohani. Suasana semakin hidup ketika beberapa lektor berbagi pengalaman pribadi mereka dalam melayani di altar Tuhan; kisah-kisah sederhana yang menguatkan dan menginspirasi satu sama lain.
Acara kemudian ditutup dengan makan bersama, di mana canda dan tawa mengalir begitu alami. Di balik suasana santai itu, terselip kesadaran yang mendalam bahwa menjadi lektor bukan sekadar tugas liturgis, melainkan panggilan untuk mewartakan Sabda Allah dengan hidup dan keteladanan.
Pertemuan ini menjadi ruang pembaruan semangat bagi para lektor St. Symphorian Maguwo — untuk semakin mengenal satu sama lain, meneguhkan panggilan, dan menjawab kembali dengan hati yang tulus:
“Kami adalah pelayan Sabda, yang dipanggil untuk bersuara bagi Firman Tuhan.”
Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo terasa begitu hangat pada Minggu pagi, 12 Oktober 2025. Di tengah udara sejuk yang menyelimuti kawasan gereja, satu per satu para pelayan liturgi dari berbagai lingkungan datang dengan wajah penuh semangat. Hari itu, mereka berkumpul bukan hanya untuk berlatih tata perayaan, tetapi juga untuk belajar dan memperdalam pemahaman tentang makna liturgi, dalam kegiatan bertajuk “Belajar Liturgi Bersama”.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh Bidang Liturgi dan Peribadatan Stasi Maguwo, dan diikuti oleh tim liturgi lingkungan serta para prodiakon yang setiap minggunya dengan setia melayani umat dalam berbagai perayaan ekaristi maupun ibadat sabda di wilayah masing-masing.
Pembuka yang Hangat dan Menggugah
Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan doa pembuka yang dipimpin oleh Ibu Elisabeth Purna, mengundang seluruh peserta untuk menenangkan diri dan menyerahkan hati dalam suasana doa.
Dalam sambutannya, Ketua Dewan Stasi, yang diwakili oleh Sekretaris Stasi ibu Elisabet AmyAndriani menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan pembelajaran liturgi ini. Beliau menekankan bahwa pelayanan liturgi adalah salah satu bentuk kesetiaan umat dalam mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah.
“Menjadi pelayan liturgi bukan sekadar tugas, tetapi panggilan untuk menghadirkan wajah Kristus yang penuh kasih dalam setiap perayaan Ekaristi,” ungkap beliau dalam sambutan yang disambut dengan tepuk tangan hangat para peserta.
Pengantar yang Menyadarkan Arti Persiapan Liturgi
Sesi berikutnya diisi oleh Bapak Y. Saptanto Sarwo Basuki yang memberikan pengantar dengan sangat sistematis dan aplikatif. Beliau mengajak peserta untuk memahami proses menyiapkan perayaan misa secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, koordinasi dengan pastor, hingga pelaksanaan di lapangan.
Beliau juga menekankan pentingnya prosedur perizinan misa, koordinasi dengan pihak paroki atau pastor, serta penyiapan buku-buku liturgi yang tepat, mulai dari Misale, Tata Perayaan Ekaristi, Madah Bakti, hingga Puji Syukur. Semua itu menjadi bagian dari tanggung jawab tim liturgi untuk memastikan bahwa perayaan iman berlangsung dengan penuh hormat dan teratur.
Pendalaman Liturgi Bersama Romo Yohanes Ngatmo, Pr
Setelah pengantar yang membuka wawasan, sesi dilanjutkan dengan materi utama yang dibawakan oleh Romo Yohanes Ngatmo, Pr. Dengan gaya khasnya yang ramah dan penuh humor, Romo Ngatmo mengajak seluruh peserta untuk menyelami liturgi bukan hanya sebagai aturan atau urutan perayaan, tetapi sebagai pengalaman iman yang hidup.
“Liturgi bukan sekadar hafal kapan berdiri, duduk, atau menjawab. Liturgi adalah doa bersama Gereja yang mempersatukan kita dengan Kristus. Maka, setiap gerak dan kata dalam liturgi mengandung makna yang mendalam,” ujar Romo Ngatmo yang berhasil membuat seluruh peserta menyimak dengan penuh perhatian.
Romo juga menegaskan bahwa pelayan liturgi harus memahami makna dari setiap bagian misa — mulai dari ritus pembuka, liturgi sabda, hingga liturgi ekaristi — agar dapat membantu umat berpartisipasi secara sadar dan penuh iman.
Diskusi, Game, dan Pembelajaran Interaktif
Selepas sesi materi, suasana menjadi lebih santai dan interaktif. Ibu Y.V. Retno Wulandari memandu sesi permainan dan diskusi kelompok per wilayah: Loyola, Sang Timur, De Britto, dan Don Bosco.
Di dalam game ini masing-masing kelompok diberikan soal yang berbeda. Soal tersebut didiskusikan bersama dalam kelompok untuk kemudian di presentasikan dan saling memberikan feedback. Soal-soal tersebut berisi hidden subject dimana masing-masing kelompok harus memahami jenis misa khusus yang sering dihadapi oleh tim liturgi di lingkungan, seperti:
Misa Memule dengan lebih dari satu ujud (intensi misa), yang perlu disiapkan dengan tertib agar setiap niat umat tersampaikan dengan benar.
Misa pemberkatan jenazah, di mana kepekaan pastoral dan ketepatan liturgi sangat dibutuhkan agar keluarga yang berduka mendapatkan penghiburan sejati.
Misa tirakatan jenazah, yang menjadi kesempatan bagi umat untuk berdoa bagi jiwa yang dipanggil Tuhan, sembari meneguhkan iman akan kebangkitan.
Pemberkatan perkawinan beda agama, yang memerlukan pemahaman mendalam mengenai prosedur izin misa dan tata cara yang sesuai dengan ketentuan Gereja.
Tiap kelompok diminta untuk menjelaskan bagaimana cara menyiapkan : mulai dari prosedur, tata cara misa / panduan doa dan peralatan liturgi yang digunakan.
Dalam suasana akrab dan penuh tawa, para peserta berdiskusi mengenai berbagai situasi liturgi yang sering terjadi di lapangan — seperti bagaimana menghadapi perubahan mendadak dalam misa, atau bagaimana berkoordinasi jika imam datang terlambat. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusinya, dan melalui feedback yang diberikan, peserta dapat saling belajar dari pengalaman nyata di lapangan.
Kegiatan ini tidak hanya mengasah pengetahuan, tetapi juga memperkuat kebersamaan antar pelayan liturgi lintas lingkungan. “Rasanya seperti retret mini,” ujar salah satu peserta sambil tersenyum. “Kita jadi saling mengenal, saling belajar, dan yang paling penting, semakin cinta pada pelayanan ini.”
Pengenalan Alat-Alat Liturgi oleh Misdinar
Menjelang akhir acara, suasana kembali semarak ketika tiga misdinar muda — Valent, Marlin, dan Ratna — tampil memperkenalkan berbagai alat liturgi yang digunakan dalam misa. Dengan percaya diri dan gaya yang ringan, mereka menjelaskan fungsi dari setiap alat, mulai dari piala, sibori, patena, ampul, hingga wirug dan navikula.
Sesi ini bukan hanya informatif, tetapi juga menyentuh hati, karena memperlihatkan bagaimana generasi muda turut mengambil bagian dalam kehidupan liturgi Gereja. Melihat semangat para misdinar ini, banyak peserta tersenyum bangga, menyadari bahwa pelayanan Gereja terus tumbuh di tangan yang muda dan penuh semangat.
Peneguhan: Menjadi Pelayan yang Setia dan Rendah Hati
Sebagai penutup, Ibu J.F. Ita Rinawati, selaku Ketua Bidang Liturgi& Peribadatan, memberikan peneguhan rohani yang kuat dan menyentuh. Beliau mengingatkan bahwa pelayanan liturgi tidak hanya soal keterampilan, tetapi juga soal kerendahan hati dan kesetiaan dalam panggilan. Pelayanan liturgi membutuhkan pemahaman untuk masing-masing misa khusus yang berbeda.
“Setiap kali kita membantu di altar, kita sedang melayani Kristus sendiri. Maka lakukan dengan hati yang bersih, dengan doa, dan dengan cinta. Dari situlah keindahan liturgi terpancar,” ucapnya dengan lembut, menutup kegiatan dengan suasana hening dan penuh refleksi.
Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh bapak Justinus Catur Budi Hantoro dan sapaan akrab antar peserta. Wajah-wajah lelah kini berganti dengan senyum puas — senyum dari mereka yang telah belajar, berbagi, dan bertumbuh bersama dalam pelayanan.
Kegiatan “Belajar Liturgi Bersama” ini menjadi ruang perjumpaan yang indah, di mana setiap pelayan liturgi disegarkan kembali dalam semangatnya untuk melayani Tuhan dan umat-Nya. Semoga semangat kebersamaan dan pembelajaran ini terus berlanjut, menjadikan tim liturgi Stasi Maguwo semakin siap, terampil, dan setia menghadirkan kehadiran Kristus dalam setiap perayaan iman.
Sebentar lagi bulan Oktober sebagai bulan Rosario, umat Katolik di seluruh dunia diajak untuk mendoakan butir-butir Rosario secara lebih intens. Doa sederhana yang lahir dari tradisi panjang Gereja ini mengajak umat merenungkan misteri hidup Kristus melalui bimbingan Maria. Paus Leo XIII (1878-1903) di abad ke-19 bahkan menyebut Rosario sebagai “doa yang paling istimewa” dan menetapkan Oktober sebagai Bulan Rosario.
Tahun ini, Bulan Rosario memperoleh makna khusus. Dalam Audiensi Umum pada 24 September 2025, Paus Leo XIV menyerukan agar umat Katolik mendoakan Rosario setiap hari sepanjang Oktober, dengan intensi khusus memohon perdamaian dunia.
Paus menekankan agar doa ini dilakukan “secara pribadi, dalam keluarga, dan dalam komunitas,” serta mengundang umat di Roma untuk mendoakan Rosario bersama pada 11 Oktober dalam rangka Yubileum Spiritualitas Marian.
Seruan Bapa Suci hadir di tengah dunia yang penuh luka dan ketidakpastian. Kita melihat perang berkepanjangan di beberapa kawasan, konflik identitas, serta meningkatnya ketegangan sosial dan politik. Paus mengingatkan bahwa dunia sedang ditandai “reruntuhan yang diciptakan oleh kebencian pembunuh.”
Dalam situasi ini, Rosario menjadi lebih dari sekadar doa repetitif: ia adalah tindakan iman, perlawanan rohani terhadap logika kebencian, sekaligus kesaksian bahwa kasih Kristus masih menjadi harapan umat manusia.
Rosario: DoaPerdamaian
Rosario adalah doa Kristologis yang berakar pada Kitab Suci (Luk 1:28; Luk 1:42). Salam Maria berasal dari Injil Lukas, dan setiap peristiwa yang direnungkan membawa umat masuk ke dalam misteri Kristus—dari kelahiran, karya, wafat hingga kebangkitan-Nya. Ketika doa ini dipanjatkan untuk perdamaian, umat Katolik sesungguhnya sedang menghubungkan penderitaan dunia dengan jalan salib Yesus, sekaligus berharap pada kebangkitan-Nya yang memberi kehidupan baru.
Selain itu, Rosario juga melatih batin: irama doa yang berulang mengundang ketenangan, membentuk kesabaran, dan membuka hati untuk mengampuni. Karena itu, doa Rosario dapat melahirkan spiritualitas perdamaian—sikap hati yang sabar, rendah hati, dan berani menolak kebencian.
RelevansibagiIndonesia
Bagi umat Katolik Indonesia, seruan Paus Leo XIV menemukan konteks yang amat nyata. Kita hidup di negeri yang kaya akan keragaman agama, budaya, dan etnis. Keragaman ini adalah berkat, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber konflik bila tidak dihayati dengan benar. DI beberapa lokasi, kita masih menyaksikan gesekan sosial, ujaran kebencian di media sosial, hingga tindak intoleransi yang melukai persaudaraan.
Dalam situasi ini, doa Rosario dapat menjadi sarana rohani untuk memperkuat komitmen pada kerukunan. Rosario yang didaraskan di rumah-rumah keluarga Katolik sesungguhnya adalah benih damai yang bisa memancar keluar. Umat yang tekun berdoa Rosario dipanggil untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pribadi yang menyejukkan, sabar dalam menghadapi tantangan dan perbedaan, serta aktif membangun dialog dan solidaritas lintas iman.
Rosario, dengan demikian, tidak berhenti di dalam tembok gereja atau dalam rumah, melainkan menemukan buahnya dalam kehidupan bersama. Setiap doa “Salam Maria” yang diucapkan seharusnya menumbuhkan kerinduan untuk menyapa sesama dengan hormat. Setiap misteri yang direnungkan seharusnya mendorong umat untuk ikut merawat kehidupan bersama di tanah air. Inilah bentuk nyata spiritualitas perdamaian: doa yang diwujudkan dalam sikap hidup sehari-hari.
SpiritualitasKerukunan
Kerukunan bangsa tidak hanya ditopang oleh kebijakan negara atau peraturan hukum, tetapi juga oleh spiritualitas yang dihayati masyarakat. Spiritualitas kerukunan berarti kesediaan untuk melihat sesama sebagai saudara, bukan ancaman.
Dalam konteks Indonesia, ini berarti keberanian untuk membangun jembatan antaragama, mengedepankan musyawarah daripada konflik, serta memperjuangkan keadilan bagi semua warga tanpa diskriminasi.
Rosario, meskipun khas Katolik, dapat menjadi salah satu jalan untuk membentuk spiritualitas kerukunan ini. Umat yang setia mendoakan Rosario akan belajar meneladani Maria yang rendah hati, penuh kasih, dan terbuka pada kehendak Allah. Sikap ini kemudian diterjemahkan dalam hidup sosial: menghormati keyakinan orang lain, memperkuat solidaritas dengan mereka yang lemah, dan menolak segala bentuk kekerasan.
SeruanProfetis
Ajakan Paus Leo XIV agar umat mendoakan Rosario untuk perdamaian dunia adalah seruan profetis yang melampaui sekat gereja. Dunia haus akan damai, dan Indonesia pun menghadapi tantangan kerukunan yang nyata.
Dengan doa Rosario, umat Katolik tidak hanya memperdalam imannya, tetapi juga mengambil bagian dalam misi besar: menghadirkan kasih Kristus di tengah masyarakat majemuk.
Bulan Rosario tahun ini menjadi momentum berharga. Di ruang-ruang keluarga Katolik, di komunitas basis, di paroki-paroki di seluruh Indonesia, doa Rosario yang dipanjatkan akan bersatu dengan doa Paus dan Gereja universal.
Semoga doa ini bukan hanya menjadi rutinitas, tetapi sungguh melahirkan hati yang lebih damai, yang kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata: membangun kerukunan, merawat persaudaraan, dan memperjuangkan perdamaian bagi bangsa.
Akhirnya, doa Rosario di bulan Oktober ini adalah ajakan untuk menyalakan kembali semangat: bahwa kasih lebih kuat daripada kebencian, pengampunan lebih berdaya daripada balas dendam, dan kerukunan lebih indah daripada perpecahan.
Inilah warisan rohani yang hendak ditumbuhkan oleh Paus Leo XIV: sebuah spiritualitas perdamaian yang dimulai dari butir-butir doa sederhana, tetapi mampu mengubah wajah dunia.
Pormadi Simbolon (Pembimas Katolik Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Banten)
Memasuki bulan Oktober, Gereja Kudus senantiasa mengajak seluruh umat beriman untuk menimba kekuatan rohani melalui doa Rosario. Dalam semangat itulah, seluruh lingkungan Stasi Maguwo bersatu hati dan serentak melaksanakan doa Rosario, mempersembahkan doa-doa umat beriman bersama Bunda Maria kepada Puteranya, Tuhan kita Yesus Kristus.
Dalam lantunan doa yang sederhana, tetapi penuh kuasa, umat merenungkan peristiwa-peristiwa gembira, sedih, mulia, dan terang dari kehidupan Kristus. Melalui Rosario, umat diajak memasuki kedalaman misteri keselamatan, sambil meneladani ketaatan dan kerendahan hati Santa Perawan Maria. Doa Rosario menjadi tali emas yang mengikat hati umat agar semakin kokoh dalam iman, teguh dalam pengharapan, dan berbuah dalam kasih.
Kebersamaan seluruh lingkungan dalam doa Rosario serentak ini adalah tanda nyata kesatuan Gereja Kristus yang hidup di tengah umat. Setiap butir manik-manik yang didaraskan menjadi persembahan doa syukur, permohonan, serta penyerahan diri kepada penyelenggaraan ilahi. Dalam doa ini, umat memohon berkat bagi keluarga, Gereja, bangsa, serta bagi mereka yang menderita, sakit, dan terlupakan.
Kiranya dengan doa Rosario yang dipanjatkan secara serentak ini, Umat Stasi Maguwo semakin diteguhkan sebagai komunitas yang sehati dan sejiwa dalam menghidupi iman. Semoga, berkat doa bersama Bunda Maria, kita semua dipimpin semakin dekat kepada Kristus, Sang Terang Sejati, yang adalah sumber pengharapan dan damai sejahtera.
Bunda Maria yang penuh kasih, kami bersyukur boleh bersatu dalam doa Rosario ini. Dampingilah langkah hidup kami, teguhkan iman dan persaudaraan kami, agar semakin setia mengikuti Puteramu, Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat kami. Amin.
Stasi Maguwo memasuki Pertemuan ke-4 Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025 dengan tema “Pembaruan Relasi dengan Allah”. Pertemuan ini mengajak umat untuk kembali melihat relasi pribadi dengan Allah: apakah selama ini kita sungguh setia, atau justru membiarkan iman menjadi hambar dan jauh dari-Nya.
Kitab Maleakhi menegaskan bahwa ada perbedaan nyata antara orang yang setia kepada Allah dan yang tidak. Relasi yang benar dengan Allah bukanlah sekadar kewajiban, melainkan sikap hati yang penuh kasih dan kepercayaan. Allah merindukan umat-Nya kembali dengan tulus, bukan hanya dalam doa atau ibadat lahiriah, tetapi juga dalam seluruh sikap hidup sehari-hari.
Suasana pertemuan BKSN kali ini dipenuhi semangat doa dan permenungan. Umat diajak untuk mengevaluasi relasi pribadinya dengan Tuhan: apakah kita masih sering meragukan kasih-Nya, ataukah kita tetap percaya dan setia walau menghadapi tantangan hidup? Dalam diskusi dan sharing iman, banyak umat menyadari bahwa menjaga relasi dengan Allah berarti menjaga kesetiaan dalam hal-hal kecil—setia berdoa, setia menghadiri Ekaristi, setia dalam pelayanan, serta setia dalam menghidupi kasih di tengah keluarga dan masyarakat.
Pertemuan ini menjadi undangan bagi setiap umat untuk memperbarui komitmen imannya. Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya; Ia selalu mencatat dan mengenal mereka yang setia kepada-Nya. Relasi yang erat dengan Allah akan memberi kekuatan baru untuk menghadapi pergumulan hidup, sekaligus menjadi sumber berkat bagi sesama.
Lingkungan yang melaksanakan BKSN Pertemuan 4:
Lingkungan St. Antonius
2. Lingkungan St. Petrus
Lingkungan St Clara
Lingkungan St Gregorius
Lingkungan St Elisabet
Lingkungan St Paulus
Lingkungan St Maria Asumpta
Lingkungan St Monica
Semoga pertemuan BKSN ini meneguhkan iman umat, agar semakin setia dan tekun menjaga relasi dengan Allah yang penuh kasih dan setia.
Pada hari Minggu, 21 September 2025, Kaum Muda Maguwo turut ambil bagian dalam kegiatan Tindak Lanjut Pembekalan Orang Muda Peduli Lansia yang diselenggarakan oleh Komisi Musyawarah Lansia (Kimusi Lansia) Kevikepan Yogyakarta Timur, bertempat di Aula Paroki Bintaran. Kegiatan ini mengusung tema: “Sahabat Lansia, Siap Melayani.”
Setiap paroki diundang dengan perwakilan dua orang muda dan satu anggota Tim PIUL. Namun khusus untuk Maguwo, diperkenankan hadir tiga orang muda: Mbak Dysi, Mas Reno, dan Mas Daniel, yang didampingi oleh dua Tim Pelayanan PIUL, yaitu Bp. Franz dan Bp. Sudiharto.
Setibanya di lokasi, para peserta langsung dikelompokkan sesuai dengan pembagian yang telah ditentukan. Perwakilan Maguwo ditempatkan dalam Kelompok D Santa Maria, bersama dengan peserta dari Paroki Babadan, Kalasan, Macanan, dan Minomartani.
Acara dimulai tepat pukul 10.30 dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, Hymne Yubelium, doa pembukaan, serta doa Yubelium. Dalam sambutannya, Bapak Bambang, selaku Wakil Ketua Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur, menekankan pentingnya keterlibatan kaum muda dalam kepedulian terhadap para lansia. Beliau berharap OMK tidak hanya mendukung kegiatan PIUL, tetapi juga dapat menginisiasi pelayanan yang digerakkan oleh kaum muda sendiri.
Materi utama pertemuan disampaikan oleh Ibu Yulianti, yang kemudian dilanjutkan dengan diskusi kelompok.
Diskusi Tahap 1 membahas tentang pembentukan dua grup WA sebagai sarana komunikasi dan koordinasi. Untuk Kelompok St. Maria, diskusi dipandu oleh dr. Dysi.
Diskusi Tahap 2 berfokus pada penyusunan rencana kegiatan Komisi Lansia Kevikepan Yogyakarta Timur. Di kelompok St. Maria, Mas Daniel bertindak sebagai pemandu, Mas Reno mencatat jalannya diskusi, dan Mbak Dysi menuangkan ide-ide dalam bentuk slogan dan ilustrasi.
Hasil diskusi kemudian dipresentasikan. Sebagai moderator, Bapak Bambang memberikan kesempatan kepada lima kelompok untuk menyampaikan gagasannya. Kelompok St. Maria turut ambil bagian, dengan presentasi disampaikan oleh Mas Daniel dan Mas Reno. Meski waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 dan para peserta mulai merasa lapar, semangat diskusi tetap terjaga hingga akhirnya hanya tiga kelompok yang memaparkan hasil secara penuh, sementara dua kelompok lainnya cukup menyampaikan inti pembahasan.
Pertemuan ditutup dengan doa penutup sekaligus doa makan pada pukul 13.30. Seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan penuh semangat persaudaraan, menjadi tanda nyata bahwa kaum muda pun siap menjadi sahabat bagi para lansia dalam pelayanan Gereja.
Beberapa umat dari Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo punya pengalaman seru minggu ini. Mereka ikutan Workshop TikTok for Business 2025 yang digelar oleh Billa Creative bareng Rumah BUMN Yogyakarta. Suasananya santai tapi penuh ilmu, apalagi buat mereka yang pengin mengembangkan usaha dengan cara yang lebih kekinian.
Acara ini menghadirkan Deddy Susanto, Chief Operating Officer dari Billa Creative, yang berbagi banyak trik soal bikin konten TikTok. Bukan sekadar bikin video lucu-lucuan, tapi gimana caranya konten bisa jadi pintu rezeki, mengenalkan usaha, bahkan membangun brand yang kuat. Cara penyampaiannya enak, gampang dicerna, dan bikin peserta betah menyimak sampai akhir.
Umat Maguwo yang ikut merasa dapat insight baru. Mereka jadi sadar kalau TikTok bukan cuma aplikasi hiburan, tapi juga peluang besar untuk usaha. Dengan sedikit kreativitas, konsistensi, dan keberanian untuk mencoba, siapa pun bisa berkembang di dunia digital.
Belajar hal baru kayak gini bikin kita makin yakin bahwa talenta yang Tuhan kasih bisa dipakai di mana aja—termasuk di dunia digital. Bikin konten nggak melulu soal viral, tapi bisa juga jadi cara sederhana untuk berbagi kebaikan dan menghadirkan terang Kristus lewat kreativitas.
Umat Stasi Maguwo kembali melaksanakan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2025, kali ini memasuki pertemuan ke-3 dengan tema “Pembaruan Relasi dalam Keluarga”. Pertemuan ini menjadi kesempatan berharga untuk meneguhkan setiap keluarga agar tetap setia pada panggilannya, hidup dalam kasih, serta menjadi saksi iman di tengah dunia.
Dalam bacaan dari Kitab Maleakhi, umat diajak untuk menyadari bahwa kita semua berasal dari satu Bapa yang sama. Karena itu, keluarga dipanggil untuk menjaga kesetiaan, mengutamakan kasih, dan menjauhi perpecahan. Nabi Maleakhi dengan tegas mengingatkan bahwa relasi yang rapuh, penuh konflik, atau tanpa kesetiaan akan merusak keharmonisan keluarga. Sebaliknya, keluarga yang dibangun atas dasar kasih akan menjadi berkat, bukan hanya bagi anggotanya sendiri, tetapi juga bagi lingkungan sekitar.
Suasana pertemuan BKSN di berbagai lingkungan pun terasa hangat dan penuh kekeluargaan. Umat bersama-sama merenungkan Firman Tuhan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman hidup sehari-hari dalam keluarga. Lewat sharing iman yang sederhana, setiap peserta semakin diteguhkan bahwa keluarga adalah “sekolah kasih” di mana pengampunan dipelajari, kesabaran dilatih, dan kesetiaan dijaga.
Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk tidak berhenti memperbarui diri dalam lingkup keluarga. Kasih yang hidup di dalam keluarga diharapkan dapat menjadi dasar untuk membangun relasi yang lebih luas, baik di gereja maupun di masyarakat.
Lingkungan St Gregorius
Lingkungan St Yohanes Pembabtis
Lingkungan St Stefanus
Lingkungan St Theresia
Lingkungan St Monica
Lingkungan St Clara
Lingkungan St Bartolomeus
Lingkungan St Gabriel
Lingkungan St Petrus
Lingkungan St Paulus
Lingkungan St Fransiskus Asisi
Lingkungan St Antonius
Semoga pertemuan BKSN ini semakin meneguhkan setiap keluarga untuk hidup dalam kasih, setia pada janji, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia.