Paskahan Lingkungan St. Elisabeth

23 April 2026, di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth melaksanakan Perayaan Paskahan Lingkungan Bersama. Paskahan dihadiri oleh hampir seluruh umat di Lingkungan St. Elisabeth, yaitu 38 umat. Diawali dengan sembahyangan yang dipimpin Mbak Vera.

Renungan dalam sembahyangan diambil dari Bacaan Injil Yohanes 6:44-51. Bacaan ini berisi tentang Yesus yang berkata bahwa tidak seorang pun dapat datang kepada-Nya kalau tidak ditarik oleh Bapa. Ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya hasil usaha manusia, tetapi juga karena kasih dan panggilan Allah yang terlebih dahulu menyentuh hati kita. Tuhan selalu mencari dan mengundang setiap orang untuk datang lebih dekat kepada-Nya.

Yesus juga berkata bahwa Ia adalah “roti hidup yang turun dari surga.” Roti adalah makanan yang memberi kekuatan dan kehidupan. Namun roti yang diberikan Yesus bukan sekadar makanan jasmani, melainkan kehidupan kekal. Banyak orang mencari kebahagiaan dari harta, pujian, atau kesenangan dunia, tetapi semua itu tidak pernah benar-benar memuaskan hati manusia. Hanya Yesus yang mampu mengisi kekosongan hati dan memberi damai sejati.

Sebagai orang muda maupun keluarga Kristiani, kita sering merasa lelah menghadapi masalah, tugas, konflik, atau rasa kecewa. Dalam keadaan itu, Yesus mengajak kita datang kepada-Nya dan menjadikan-Nya sumber kekuatan hidup. Ketika kita rajin berdoa, membaca Kitab Suci, dan mengikuti Ekaristi, hati kita perlahan diperbarui oleh Tuhan.

Bacaan ini juga mengingatkan bahwa siapa yang menerima Yesus harus menjadi “roti” bagi sesama. Artinya, kita dipanggil untuk membawa kasih, penghiburan, perhatian, dan bantuan bagi orang lain. Kehadiran kita seharusnya membawa kehidupan dan sukacita, bukan luka atau kebencian.

Semoga melalui sabda hari ini, kita semakin percaya kepada Yesus Sang Roti Hidup, dan menjadikan-Nya pusat dalam hidup kita setiap hari.

Setelah Sembahyangan selesai, acara Paskahan dilanjutkan dengan pemberian tanda kasih bagi umat yang sebelumnya sempat sakit dan opname di Rumah Sakit, yaitu Pak Deddy, dan Mbah Cipto. Kemudian acara dilanjutkan dengan menyanyi bersama dan games yang menyenangkan lalu makan bersama. Acara Paskahan Lingkungan St. Elisabeth tahun ini berlangsung sangat sederhana namun sangat meriah karna banyak umat yang hadir dan bergembira bersama. Kami masing-masing bisa pulang dengan hati yang penuh kebahagiaan.

Menjadi Kaum Muda Katolik yang Aktif dan Berdampak

Pada tanggal 15 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth menjadi tuan rumah dari berkumpulnya para kaum muda Katholik Maguwo. Pertemuan ini adalah pertemuan yang rutin dilaksanakan para kaum muda tiap sebulan sekali. Pertemuan dilaksanakan bergiliran ke tiap-tiap lingkungan se-stasi Maguwo. Kebetulan pada bulan Maret ini, lingkungan Elisabeth menjadi tuan rumah. Pertemuan dilaksanakan di Pendopo Mbah Cipto sepulang misa.

Pertemuan diikuti oleh seluruh Orang Muda Katholik yang ada di stasi Maguwo, para suster, perwakilan mantan OMK, dan perwakilan umat St. Elisabeth. Memang belum semuanya hadir, tapi sudah cukup banyak mewakili. Pertemuan berlangsung sangat hangat dan meriah. Diisi dengan sesi ramah tamah, sharring, dan game sebagai ice breaking.

Pertemuan dilaksanakan safari ke tiap-tiap lingkungan tiap bulannya agar OMK baru yang ada di lingkungan, terpanggil untuk ikut serta terlibat di kegiatan OMK stasi.
Pertemuan kaum muda Katolik merupakan salah satu wadah penting bagi generasi muda untuk bertumbuh dalam iman, mempererat persaudaraan, serta menemukan jati diri sebagai pengikut Kristus di tengah dunia modern. Dalam suasana yang penuh kebersamaan, kaum muda diajak untuk semakin mengenal Tuhan dan memahami peran mereka dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.

Sesi sharing atau berbagi pengalaman menjadi momen yang sangat berharga. Dalam sesi ini, setiap peserta diberi kesempatan untuk mengungkapkan pengalaman iman, tantangan hidup, maupun pergumulan yang sedang dihadapi. Dari sini, muncul rasa saling mendukung dan menguatkan satu sama lain sebagai satu komunitas. Tidak kalah penting, pertemuan kaum muda juga diisi dengan kegiatan kreatif dan menyenangkan, seperti games. Hal ini bertujuan agar kaum muda tidak merasa bosan, sekaligus melatih kerja sama, kepemimpinan, dan rasa tanggung jawab.


Melalui pertemuan ini, diharapkan kaum muda Katolik dapat semakin berani menjadi terang dan garam dunia. Mereka dipanggil untuk tidak hanya hidup bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi berkat bagi orang lain. Dengan iman yang kuat dan semangat pelayanan, kaum muda dapat membawa perubahan positif di lingkungan sekitar.
Akhirnya, pertemuan ditutup dengan doa penutup sebagai ungkapan syukur atas kebersamaan yang telah terjalin. Harapannya, setiap peserta pulang dengan hati yang dikuatkan dan semangat baru untuk menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan ajaran Kristus.

Aksi APP 2026 dan Kunjungan Kasih Lingkungan St. Elisabeth

Dalam semangat APP 2026, Lingkungan St. Elisabeth Stasi Maguwo melaksanakan Kunjungan Kasih sebagai wujud nyata cinta, kepedulian, dan persaudaraan. Selama masa APP, Lingkungan St. Elisabeth berkomitmen untuk menggunakan uang kolekte selama Sembahyangan untuk memberikan tanda kasih kepada para lansia yang ada di Lingkungan St. Elisabeth.

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 19 April 2026. Sebelumnya kami berkumpul di Pendopo Mbah Cipto. Kemudian kunjungan dimulai dengan mengunjungi Mbah Cipto. Selanjutnya kami juga menyempatkan untuk mengunjungi Pak Deddy yang baru pulang dari opname di Rumah Sakit. Lalu kunjungan selanjutnya, kami menuju Rumah Ibu Sugiarto, Mbah Sudiran, dan terakhir kami berkunjung ke rumah Ibu Pujo.

Bukan hanya sekedar berkunjung dan memberikan tanda kasih, tapi kami juga menunjukkan kehangatan, perhatian, bahkan berdoa bersama sebagai penguatan secara rohani, agar setiap orang yang kami kunjungi juga merasa penuh secara rohani.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DXW6L_fj6Km/?igsh=OWl4Ynk2dHJqbjA5

Datang dari Atas: Belajar Percaya dan Hidup dalam Kebenaran

Pada Tanggal 16 April 2026, bertempat di Pendopo Mbah Cipto, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Sembahyangan Rutin. Pada sembahyangan kali ini bertepatan dengan Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan, sehingga sebelum sembahyangan dimulai, Ibu-ibu menyelesaikan pembayaran administrasi seperti Kas, Tali Kasih, dan Ziarah. Setiap ada Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu, selalu diisi dengan pembagian lotre sehingga suasana selalu meriah.

Pertemuan kali ini memang tidak seramai biasanya tapi acara tetap berlangsung meriah. Umat yang hadir dalam pertemuan malam ini berjumlah 29 orang. Setelah segala urusan administrasi selesai, baru Sembahyangan Rutin dimulai. Pemimpin Ibadat malam ini adalah Bapak Bagyo.

Ibadat malam ini mengambil bacaan sesuai Kalender Liturgi, dari Injil Yohanes 3 : 31-36. Dalam perikop ini, Yesus Kristus digambarkan sebagai Dia yang “Datang dari Atas” artinya berasal dari Allah sendiri. Ia membawa kebenaran ilahi, bukan sekadar pemikiran manusia. Sementara manusia sering berbicara dari pengalaman terbatas, Yesus berbicara tentang apa yang Ia lihat dan dengar langsung dari Bapa.

Namun, ada kenyataan yang cukup menyentuh: tidak semua orang menerima kesaksian-Nya. Ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: Apakah aku sungguh mendengarkan dan menerima sabda Tuhan, atau hanya sekadar tahu tanpa menghidupinya?

Ayat 36 menjadi penegasan penting: “Barangsiapa percaya kepada Anak, ia beroleh hidup yang kekal.” Iman bukan hanya soal percaya di pikiran, tetapi juga percaya dalam tindakan, mengikuti, menaati, dan mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Perlu kita sadari bahwa percaya kepada Yesus, berarti membuka hati pada kebenaran yang datang dari Allah.

Beriman sejati berarti juga kita harus taat, bukan hanya mengakui.

Hidup kekal bukan hanya nanti di surga, tapi sudah mulai dari sekarang ketika kita hidup dalam kasih dan kebenaran.

Sebagai bahan Renungan bagi diri kita masing-masing:

  • Apakah aku sudah sungguh percaya kepada Yesus dalam hidupku sehari-hari?
  • Bagian mana dari hidupku yang masih sulit untuk taat pada kehendak Tuhan?

Semoga kita sungguh bisa benar-benar percaya kepada Tuhan, bukan hanya dengan kata, tetapi juga lewat perbuatan, dan semoga hati kita terbuka, agar mampu menerima kebenaran Tuhan dan bisa hidup sesuai kehendakNya.

Nuansa Sukacita Iringi Tugas Parkir Lingkungan Santa Elisabeth di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

You need to add a widget, row, or prebuilt layout before you’ll see anything here. 🙂

Nuansa Sukacita Iringi Tugas Parkir Lingkungan Santa Elisabeth di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo

Pada Minggu ini, 12 April 2026 Lingkungan Santa Elisabeth menerima tugas pelayanan parkir di Gereja Maria Bunda Allah Stasi Maguwo. Dengan penuh sukacita, seluruh umat lingkungan baik bapak-bapak, kaum muda, ibu-ibu, maupun adik-adik turut ambil bagian dalam tugas pelayanan ini.

Koordinator parkir lingkungan, Bapak Agus Widodo, dengan penuh semangat aktif mengingatkan dan mengoordinasikan petugas melalui grup WhatsApp lingkungan, sehingga seluruh anggota dapat mempersiapkan diri dengan baik. Sejak pagi hari, bapak-bapak dan kaum muda sudah hadir lebih awal di gereja untuk mulai menata posisi kendaraan, khususnya sepeda motor, agar tersusun rapi dan tertib. Setelah seluruh kendaraan tertata dengan baik, seluruh petugas kemudian mengikuti Perayaan Ekaristi dengan penuh kekhusyukan.

Sementara itu, ibu-ibu dan adik-adik mendapatkan tugas untuk membantu pengumpulan uang parkir setelah perayaan Ekaristi selesai.

Usai perayaan, seluruh petugas kembali menjalankan tugas masing-masing dengan penuh tanggung jawab. Mengenakan kaos kebanggaan lingkungan berwarna dusty rose dan putih, kami dengan semangat mengambil posisi di area halaman belakang Gereja untuk melayani umat yang akan meninggalkan lokasi.

Melalui pelayanan ini, kami semakin merasakan kebersamaan, semangat gotong royong, dan sukacita dalam melayani sesama sebagai bagian dari kehidupan menggereja.

Tuhan memberkati pelayanan kita semua.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DXF7Kalj5Ko/?igsh=MXZtdGJveHY2NXptcw==

Ronda Malam Vigili Paskah Wilayah St. Ignatius Loyola Berlangsung Meriah dan Penuh Kebersamaan

Dalam rangka merayakan Vigili Paskah, Wilayah St. Ignatius Loyola mengadakan kegiatan ronda malam yang berlangsung pada Sabtu malam, setelah Misa Vigili Paskah. Acara dimulai pukul 22.00 hingga 01.00 WIB dan bertempat di halaman depan gereja, menghadirkan suasana yang hangat dan penuh sukacita.

Kegiatan ini diikuti oleh lima lingkungan, yaitu St. Elisabeth, St. Gabriel, Santo Yohanes Pembaptis, St. Clara, dan St. Fransiskus Asisi. Partisipasi umat dari berbagai kalangan, mulai dari anak-anak, Orang Muda Katolik (OMK), hingga Bapak dan Ibu, menciptakan suasana kebersamaan yang akrab dan penuh semangat persaudaraan.

Rangkaian acara semakin semarak dengan sajian aneka hidangan yang disiapkan oleh Ibu-ibu Paguyuban Wilayah Ignatius Loyola. Salah satu menu yang menarik perhatian adalah nasi kucing versi jumbo yang dikenal dengan sebutan Sego Macan. Selain itu, tersedia pula berbagai camilan seperti tahu bacem, tahu isi, keripik singkong, dan karak. Minuman hangat seperti wedang jahe dan kopi turut melengkapi suasana malam yang sejuk.

Tidak hanya menikmati hidangan, umat juga memanfaatkan area photo booth untuk mengabadikan momen kebersamaan. Di berbagai sudut, terlihat umat yang saling berbincang, bercanda, dan berbagi cerita, menambah kehangatan suasana malam Vigili Paskah.

Kegiatan ronda malam ini berlangsung dengan tertib dan penuh sukacita. Kebersamaan yang terjalin menjadi wujud nyata semangat persaudaraan dalam kehidupan menggereja. Diharapkan kegiatan seperti ini dapat terus mempererat relasi antarumat serta memperkuat iman dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat merayakan Paskah. Semoga sukacita kebangkitan Kristus senantiasa membawa damai dan harapan bagi kita semua.

Mengambil langkah Pertama Dalam Menolong Sesama

Pertemuan APP ke-5

Pada tanggal 26 Maret 2026, umat Lingkungan Elisabeth mengadakan pertemuan APP kelima di Pendopo Mbah Cipto. pertemuan APP yang terakhir ini dihadiri 27 orang. Petugas pemimpin ibadat APP kali ini mengemas renungan dengan apik. Umat diajak menyaksikan cerita melalui proyektor. Sebuah kisah tentang seorang tukang ojek yang bisu tuli namun tetap menjalankan tugas dan perannya dengan baik. Pada suatu hari, dia mengalami musibah, barang yang akan dia antar dicuri oleh sekelompok anak. Saat pencuri itu tertangkap dan orang-orang akan menghakimi pencuri tersebut, si bisu tuli ini justru menolong. Saat mengetahui si pencuri kelaparan, dia mengajaknya makan, dan memaafkan. Dari sini kita bisa memetik nilai moral, bahwa cinta kasih dapat berlaku untuk dan oleh siapa saja. Entah dia dalam keadaan yang kekurangan sekalipun, masih bisa berbagi kasih. Bahkan seorang penjahat sekalipun, berhak mendapatkan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali melihat berbagai bentuk penderitaan di sekitar kita, kemiskinan, kesepian, ketidakadilan, dan berbagai kesulitan lainnya. Namun, tidak jarang kita memilih untuk diam atau menunda untuk bertindak, entah karena merasa tidak mampu, takut, atau menganggap itu bukan tanggung jawab kita. Pertemuan APP ke-5 ini mengajak kita untuk berani mengambil langkah pertama dalam menolong sesama, sebagaimana yang diajarkan oleh Yesus dalam Injil Lukas 9:1-6.

Dalam bacaan tersebut, Yesus memberikan kuasa kepada para murid-Nya dan mengutus mereka untuk pergi memberitakan Kerajaan Allah serta menyembuhkan orang sakit. Menariknya, Yesus tidak membekali mereka dengan banyak hal secara materi. Ia bahkan melarang mereka membawa bekal berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukanlah apa yang kita miliki, melainkan keberanian untuk melangkah dan kepercayaan kepada Tuhan.

Sering kali kita berpikir bahwa untuk menolong orang lain, kita harus memiliki banyak hal terlebih dahulu. Uang yang cukup, waktu yang longgar, atau kemampuan yang luar biasa. Padahal, Tuhan hanya meminta kita untuk memulai dari apa yang kita punya. Langkah kecil yang kita ambil dengan tulus dapat membawa dampak besar bagi orang lain.

Mengambil langkah pertama memang tidak selalu mudah. Ada rasa ragu, takut ditolak, atau khawatir tidak bisa membantu secara maksimal. Namun, melalui kisah ini, kita diajak untuk percaya bahwa Tuhan menyertai setiap usaha baik kita. Ketika kita berani melangkah, Tuhan bekerja melalui kita.

Menolong sesama tidak harus selalu dalam bentuk besar. Hal sederhana seperti mendengarkan, memberi perhatian, membantu teman yang kesulitan, atau berbagi dengan yang membutuhkan sudah menjadi wujud nyata kasih. Yang terpenting adalah hati yang peduli dan kemauan untuk bertindak.

Melalui pertemuan ini, kita diajak untuk tidak lagi menunda. Mari mulai dari langkah kecil, dari lingkungan terdekat kita, keluarga, teman, dan masyarakat sekitar. Ketika kita berani mengambil langkah pertama, kita menjadi alat Tuhan untuk menghadirkan kasih dan harapan bagi sesama.


Mari kita berani mengambil langkah pertama, sekecil apa pun itu. Karena dalam setiap tindakan kasih, Tuhan hadir dan bekerja melalui kita.

Pentingnya Pedoman dalam Sebuah Gerakan dalam Terang Kisah Para Rasul

Pertemuan APP 4

Hari Kamis, 19 Maret 2026, Lingkungan Elisabeth mengadakan Sembahyangan Lingkungan APP ke-4, dan juga Pertemuan Paguyuban Ibu-Ibu Lingkungan di Rumah Bapak Sugiyono di Kradenan. Sebelum Pertemuan APP dimulai, umat menyelesaikan administrasi, arisan, lotre dan lain-lain. Setelah dirasa cukup, baru sembahyangan dimulai. Pada Pertemuan kali ini umat diajak untuk menyadari pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan, agar setiap usaha yang dilakukan dapat berjalan dengan baik, teratur, dan menghasilkan buah yang nyata.

Bacaan dari Kisah Para Rasul 6:1–7 menggambarkan situasi jemaat perdana yang mulai berkembang pesat. Dalam perkembangan tersebut, muncul persoalan mengenai pembagian bantuan kepada para janda, di mana terjadi ketidakadilan yang menimbulkan keluhan. Para rasul tidak mengabaikan masalah ini, melainkan mencari solusi yang bijaksana dan terarah.

Mereka kemudian menetapkan suatu pedoman dengan memilih tujuh orang yang penuh Roh dan hikmat untuk melayani kebutuhan tersebut. Para rasul sendiri tetap fokus pada tugas utama mereka, yaitu doa dan pelayanan firman. Pembagian tugas ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan yang baik membutuhkan aturan, struktur, dan pedoman yang jelas agar setiap orang dapat menjalankan perannya dengan maksimal.

Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa tanpa pedoman yang jelas, sebuah gerakan dapat mengalami kekacauan, ketidakadilan, bahkan perpecahan. Sebaliknya, dengan adanya pedoman yang disepakati bersama, pelayanan dapat berjalan lebih efektif, tertib, dan membawa kebaikan bagi semua pihak.

Dalam kehidupan umat saat ini, baik di lingkungan, paroki, maupun masyarakat, pedoman sangat diperlukan. Pedoman membantu kita untuk tetap fokus pada tujuan bersama, menjaga keadilan, serta memastikan bahwa setiap orang dilayani dengan baik. Pedoman juga menjadi sarana untuk membangun kerja sama, saling percaya, dan tanggung jawab bersama.

Melalui Pertemuan APP 4 ini, umat diajak untuk tidak hanya aktif dalam berbagai kegiatan, tetapi juga menghargai dan mengikuti pedoman yang ada. Bahkan lebih dari itu, umat didorong untuk terlibat dalam menyusun dan menghidupi pedoman tersebut demi kebaikan bersama.

Akhirnya, seperti jemaat perdana yang semakin bertumbuh karena keteraturan dan kesatuan, demikian pula kita diharapkan mampu membangun komunitas yang kuat, terarah, dan penuh kasih. Dengan pedoman yang jelas dan semangat pelayanan, setiap gerakan yang kita lakukan akan semakin mencerminkan karya Tuhan di tengah dunia.

Instagram : https://www.instagram.com/p/DWILtWfD9Zy/

Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/