Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian dan Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial dalam Terang Lukas 16:19–31

Pertemuan APP 3

Pada hari Kamis, 12 Maret 2026, umat lingkungan Elisabeth mengikuti Sembahyangan Lingkungan APP 3 di kediaman Bapak Donal di Kradenan. Dalam APP ketiga ini, mengambil tema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial”. Aksi Puasa Pembangunan (APP) merupakan waktu yang tepat bagi umat Katolik untuk memperbarui hidup melalui pertobatan, doa, dan tindakan kasih. Umat diajak untuk meninggalkan sikap ketidakpedulian dan mengembangkan tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari iman.

Dalam Pertemuan APP kali ini, mengambil bacaan Injil dari Lukas 16:19–31 tentang orang kaya dan Lazarus, yang memberikan pesan yang sangat kuat. Dikisahkan seorang kaya hidup dalam kemewahan setiap hari, sementara di depan pintunya terbaring Lazarus, seorang miskin yang penuh luka dan sangat membutuhkan pertolongan. Ironisnya, orang kaya itu tidak melakukan apa pun. Ia tidak menyiksa Lazarus, tetapi ia juga tidak peduli—dan justru di situlah letak kesalahannya.

Perumpamaan ini menegaskan bahwa sikap ketidakpedulian dapat membawa konsekuensi serius. Orang kaya itu akhirnya mengalami penderitaan setelah kematian, bukan karena kejahatan besar yang dilakukannya, tetapi karena ia menutup mata dan hati terhadap penderitaan sesamanya. Sementara itu, Lazarus yang menderita justru memperoleh penghiburan.

Melalui kisah ini, kita diajak untuk bercermin: apakah kita juga sering bersikap seperti orang kaya itu? Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita melihat orang yang membutuhkan bantuan, tetapi memilih untuk tidak terlibat. Kita merasa itu bukan tanggung jawab kita, atau kita terlalu sibuk dengan urusan sendiri.

Pertemuan APP 3 mengingatkan bahwa iman sejati tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial. Mengasihi Tuhan harus tampak dalam kepedulian terhadap sesama. Mengembangkan tanggung jawab sosial berarti berani membuka mata, hati, dan tangan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Kita dipanggil untuk tidak hanya “melihat”, tetapi juga “bertindak”.

Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan dalam berbagai cara sederhana: berbagi dengan yang kekurangan, memberi perhatian kepada yang kesepian, serta terlibat dalam kegiatan sosial di lingkungan. Hal-hal kecil ini, jika dilakukan dengan kasih, menjadi tanda nyata kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, melalui Pertemuan APP 3 ini, umat diajak untuk sungguh-sungguh meninggalkan sikap acuh tak acuh dan mulai hidup dalam kepedulian. Kisah orang kaya dan Lazarus menjadi pengingat bahwa kesempatan untuk berbuat baik ada sekarang, di dunia ini. Jangan sampai kita menyesal karena melewatkan kesempatan untuk mengasihi.


https://youtube.com/watch?v=m3F7DgLTU7A&feature=shared

Membangun Kesadaran dan Aksi Nyata

Pertemuan APP 2

Pada Kamis, 5 Maret 2026 pukul 19.00 WIB, Lingkungan Santa Elisabeth kembali berkumpul dalam sembahyangan rutin lingkungan yang dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Yunius. Kurang lebih 28 umat hadir dalam pertemuan tersebut. Suasana penuh kehangatan sungguh terasa ketika umat yang datang saling bersalaman dan memberikan senyuman hangat satu sama lain.

Sebelum pertemuan APP dimulai, terdapat beberapa kegiatan administrasi rutin yang biasanya dilakukan oleh umat bersama bendahara lingkungan. Kegiatan tersebut meliputi iuran Gerakan Kemurahan Hati sebesar Rp2.000,00, iuran APBU, pengumpulan amplop Partisipasi Paskah, serta presensi kehadiran umat.

Setelah urusan administrasi selesai, umat pun diajak memasuki suasana permenungan melalui Pertemuan APP. Malam ini merupakan Pertemuan APP yang ke-2, yang diawali dengan lagu pembuka “Tuhan Dikau Naungan Hidupku”. Tema Pertemuan APP yang dipimpin oleh Bapak Bagio dan Bapak Hari pada malam ini adalah “Potensi Dana Sosial Gereja: Fungsi dan Sifatnya”.

Melalui pertemuan ini, umat diajak untuk semakin memahami berbagai potensi dana sosial Gereja. Selain itu, umat juga didorong untuk ikut mengakses dan memanfaatkan dana tersebut bagi mereka yang membutuhkan, khususnya kelompok KLMTD (Kecil, Lemah, Miskin, Tersingkir, dan Difabel).

Dalam pertemuan ini, Bapak Bagio dan Bapak Hari mengajak umat untuk berdiskusi dan berbagi pengalaman dalam kelompok-kelompok kecil yang dibagi menjadi empat kelompok. Diskusi dan sharing menjadi bagian penting dalam pertemuan ini. Umat saling bertukar pendapat serta berbagi pengalaman dan pemikiran yang membangun.

Suasana sharing pun semakin hangat ketika setiap kelompok menyampaikan hasil diskusinya. Kelompok 1 diwakili oleh Bapak Donal. Kelompok 2 diwakili oleh Mas Agus. Kelompok 3 diwakili oleh Bapak Agus. Kelompok 4 diwakili oleh Ibu Giyarti.

Setelah renungan APP selesai, acara dilanjutkan dengan ramah tamah sederhana, yaitu menyantap hidangan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh keluarga tuan rumah. Pada kesempatan ini, Ketua Lingkungan juga menyampaikan beberapa informasi, baik informasi lingkungan maupun informasi dari Stasi.

Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat hingga pertemuan sembahyangan pun berakhir. Pertemuan Kamis depan akan dilaksanakan di rumah keluarga Bapak Donal dengan petugas doa Bapak Dedy dan Ibu Vera.

Sebelum pulang, umat bersama-sama melakukan penghitungan amplop Partisipasi Paskah. Kegiatan doa lingkungan pada malam ini ditutup oleh Bapak Bagio dengan berpamitan kepada keluarga tuan rumah.

Semoga melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santa Elisabeth semakin tergerak hatinya untuk mewujudkan wajah sosial Gereja dengan mengawali pemanfaatan dan pengelolaan dana sosial Gereja demi membantu sesama yang membutuhkan.

Sampai jumpa di Pertemuan APP ke-3 Lingkungan Santa Elisabeth.
Berkah Dalem.

Video Dokumenter

Instagram : https://www.instagram.com/p/DV6QBj6D7_-/

Kepedulian terhadap Sesama: Menjenguk Orang Sakit sebagai Aksi Sosial di Lingkungan

Pada tanggal 4 Maret 2026, Lingkungan St. Elisabeth mengadakan kunjungan ke rumah Bapak Donal Sinaga. Kunjungan ini bertujuan untuk memberikan dukungan, semangat, dan mendoakan kesembuhan untuk Bapak Donal Sinaga yang sempat opname di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu. Kegiatan ini seringkali dilakukan di Lingkungan St. Elisabeth tiap ada umat di lingkungan yang menderita sakit. Aksi ini sebagai wujud kepedulian antarumat di lingkungan.

Kepedulian terhadap sesama merupakan nilai penting dalam kehidupan bermasyarakat. Sikap ini mencerminkan rasa empati, solidaritas, dan keinginan untuk saling membantu di tengah kehidupan yang sering kali dipenuhi kesibukan. Salah satu bentuk kepedulian yang sederhana namun sangat bermakna adalah menjenguk orang sakit di lingkungan sekitar serta mendoakan kesembuhannya.

Menjenguk orang yang sedang sakit bukan sekadar kunjungan biasa. Kehadiran kita dapat menjadi sumber semangat bagi mereka yang sedang berjuang melawan penyakit. Ketika seseorang sakit, sering kali ia merasakan kelemahan, kesedihan, bahkan kesepian. Dengan datang menjenguk, kita menunjukkan bahwa mereka tidak sendirian dan masih ada orang yang peduli terhadap kondisi mereka.

Selain memberikan dukungan moral, aksi ini juga mempererat hubungan sosial antarumat. Interaksi yang terjadi saat menjenguk dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan kekeluargaan di lingkungan. Hal ini penting untuk menciptakan hubungan yang harmonis, di mana setiap individu merasa diperhatikan dan dihargai.

Doa juga memiliki peran penting dalam aksi sosial ini. Mendoakan kesembuhan orang yang sakit merupakan bentuk dukungan spiritual yang memberikan harapan dan ketenangan bagi mereka. Doa yang tulus dapat memberikan kekuatan batin, baik bagi orang yang sakit, keluarga, maupun bagi orang yang mendoakannya.

Aksi sosial seperti ini tidak memerlukan biaya besar atau persiapan yang rumit. Hal yang terpenting adalah niat tulus untuk peduli dan berbagi perhatian. Bahkan kunjungan singkat dengan kata-kata penyemangat dapat memberikan dampak yang sangat berarti bagi orang yang sedang sakit.

Dengan membiasakan diri menjenguk orang sakit dan mendoakan kesembuhannya, kita turut menumbuhkan budaya kepedulian dalam masyarakat. Jika setiap orang memiliki rasa empati dan saling memperhatikan, maka lingkungan akan menjadi tempat yang lebih hangat, penuh kasih, dan saling mendukung.

Pada akhirnya, kepedulian terhadap sesama adalah fondasi penting dalam membangun kehidupan sosial yang sehat. Melalui tindakan sederhana seperti menjenguk orang sakit, kita belajar untuk lebih peka terhadap kondisi orang lain serta memperkuat nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Instagram : Tak selalu harus dengan banyak kata,
kadang kehadiran sederhana sudah cukup menyembuhkan.

Dalam kunjungan ini, kami belajar bahwa kasih itu nyata,
hadir, mendengar, menggenggam, dan mendoakan.

Lingkungan Santa Elizabeth Stasi Maguwo,
berjalan bersama dalam kasih, menguatkan dalam harapan.

Instagram: https://www.instagram.com/reel/DW5rrl4j5-8/?igsh=MWxiejF3a2g1bW44ZA==

Sebuah Renungan : Menjadi Saluran Berkat dalam Mewujudkan Kesejahteraan Bersama

Oleh: Jatuh Padmi

Bayangkan taman yang besar di mana hanya satu sudut kecil yang diberi air cukup sampai tergenang. Sementara itu, area lain tampak kering sehingga tanaman di tempat itu menjadi layu dan mati. Kecantikan taman ini akan lenyap akibat ketidakseimbangan tersebut. Citra ini menyerupai kehidupan sosial kita. Gereja tidak dapat berkembang menjadi taman yang indah jika hanya merawat dirinya sendiri di dalam dinding sakristi. Di luar sana, komunitas sedang berjuang melawan kemiskinan dan putus asa. Tema APP 2026, “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera,” menjadi panggilan untuk menjadi “tukang kebun” Allah yang berani menyalurkan air kehidupan ke lahan yang kering.

Perjuangan untuk membawa kebahagiaan dan kesejahteraan bukanlah hanya soal program sosial sementara. Ini adalah bukti nyata iman kita. Bagi orang Kristiani, kebahagiaan sejati terjadi saat setiap orang dihargai dan hak-haknya terpenuhi. Gereja harus hadir bukan sebagai tempat yang jauh dari kenyataan, tapi sebagai teman perjalanan bagi mereka yang terpinggirkan. Kita harus memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan keadilan sosial. Kita diajak untuk peduli bahwa kesejahteraan sesama juga merupakan tanggung jawab iman kita. Kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini ditandai dengan tercukupinya kebutuhan mereka yang paling membutuhkan.

Masa Prapaskah tahun ini adalah kesempatan untuk memeriksa gaya hidup kita. Apakah cara kita hidup selama ini justru merugikan orang lain? Atau apakah kesederhanaan kita memberi ruang bagi orang lain untuk tumbuh?

Melalui puasa dan pantang, kita melatih diri untuk lebih peduli pada ketimpangan di sekitar kita. Uang yang kita kumpulkan bukan hanya uang receh, tapi simbol pengorbanan dan komitmen kita untuk membangun masyarakat yang lebih baik dan bermartabat. Secara teologis, kesejahteraan yang kita perjuangkan adalah kesejahteraan yang utuh, yang menyentuh aspek jasmani sekaligus rohani. Ketika Gereja terlibat aktif dalam memberdayakan ekonomi umat, menjaga kelestarian lingkungan, dan menyuarakan kejujuran di ruang publik, saat itulah Gereja sedang menghadirkan wajah Allah yang memelihara. Kebahagiaan masyarakat akan terwujud apabila ada rasa aman, rasa cukup, dan rasa dihargai sebagai sesama citra Allah. Oleh karena itu, perjuangan ini menuntut ketekunan dan kerja sama dengan semua orang yang berkehendak baik, tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Oleh karena itu, marilah kita menyadari bahwa aksi puasa adalah motor penggerak perubahan sosial yang nyata. Mari kita melangkah keluar dengan keberanian untuk menjadi agen kesejahteraan, mengubah keluhan menjadi harapan, dan mengubah kemiskinan menjadi kecukupan. Hari ini, biarlah dunia melihat bahwa Gereja tidak hanya berkhotbah tentang kasih, tetapi sungguh-sungguh berjuang hingga kebahagiaan itu menjadi milik semua orang.

Nb : Foto ini diambil pada Sembahyangan Lingkungan St. Elisabeth, tgl 12 Februari 2026, di Ruman Bpk. Hary Mulyono, dengan petugas Ibu Jatuh Padmi. Sembahyangan ini dihadiri 28 orang.

Doa yang Mengikat, Kasih yang Menguatkan

-APP 1- Paguyuban-Valentine Lingkungan St. Elisabeth-

Kamis, 26 Februari 2026. Senja berganti malam dengan cuaca yang begitu bersahabat. Di kediaman Ibu Asih, umat lingkungan berkumpul dalam suasana penuh syukur. Puji Tuhan, sebanyak 36 umat hadir mengikuti sembayangan lingkungan malam itu.

Pertemuan APP ke-1 dipimpin oleh Pak Agus dan Mbak Tika. Kegiatan diawali dengan lagu “Di Jenjang Maaf” yang mengalun lembut, membawa setiap hati masuk dalam suasana refleksi, kerendahan hati, dan kebersamaan.

Tema APP ke-1 kali ini adalah “Potret Kondisi dan Potensi: Dasar untuk Mengawal Aksi.” Dalam pertemuan ini, umat diajak melihat secara nyata kondisi lingkungan—baik tantangan yang dihadapi maupun potensi yang dapat dikembangkan. Umat juga diajak menyadari pentingnya data sebagai dasar perencanaan, agar setiap gerakan dan aksi yang dilakukan sungguh tepat sasaran dan mampu meningkatkan kesejahteraan bersama.

Dinamika pertemuan terasa hidup. Pemandu membuka ruang sharing tentang kondisi pribadi dan kehidupan sehari-hari. Satu per satu umat berbagi dengan tulus. Setiap tanggapan disambut dengan sukacita, menciptakan suasana hangat yang penuh empati dan persaudaraan.

Usai pertemuan APP, dilaksanakan edaran kolekte untuk mendukung aksi Paskah lingkungan, sebagai wujud nyata solidaritas dan kepedulian bersama.

Momen penuh makna juga hadir dalam pemberian tanda kasih kepada Pak Agus, Bu Agus, dan Michael yang diwakili oleh Pak Suradi, atas penerimaan Sakramen Krisma. Ungkapan syukur dan doa mengiringi perjalanan iman yang semakin diteguhkan.

Karena masih dalam suasana Valentine, kebersamaan malam itu semakin semarak dengan kegiatan tukar kado. Umat kompak mengenakan pakaian serba pink, menambah warna dan keceriaan. Tukar kado berlangsung seru, penuh tawa dan kejutan.

Tidak berhenti di situ, kebersamaan dilanjutkan dengan kegiatan paguyuban seperti arisan dan lotre sederhana. Meski hadiahnya sederhana, kebahagiaan yang terpancar begitu nyata. Tawa dan sorak gembira memenuhi ruangan saat nama-nama pemenang diumumkan.

Malam itu bukan sekadar pertemuan, tetapi perayaan kebersamaan. Semoga Lingkungan Santa Elisabeth semakin romantis dalam kasih, semakin hidup dalam pelayanan, dan semakin guyub dalam persaudaraan. (*Vera)

Link Instagram : https://www.instagram.com/p/DVXzpU4Dw4u/

PERAYAAN EKARISTI PERINGATAN 1000 HARI BERPULANGNYA BPK. ANDREAS SUYANTO

Pada Hari Minggu, 8 Februari 2026, umat Lingkungan St. Elisabeth mengadakan Perayaan Ekaristi untuk memperingati berpulangnya Bapak Andreas Suyanto, Bapak dari Bapak Mikko Prihantoro Nugroho. Ibadat Ekaristi dimulai pukul 19.00 WIB dan diikuti oleh 100 umat lebih. Umat terdiri dari umat lingkungan St. Elisabeth dan para tamu undangan. Misa Ekaristi ini dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr.

Dalam Ekaristi kali ini, Romo Dadang menekankan tentang Tuhan yang Sungguh Hadir.

Dalam bacaan pertama, Kitab 1 Raja-raja 8:1–7, 9–13, diceritakan bagaimana Raja Salomo memindahkan Tabut Perjanjian ke dalam Bait Suci. Ketika para imam keluar dari tempat kudus, awan memenuhi rumah Tuhan. Kemuliaan Tuhan begitu nyata sampai para imam tidak tahan berdiri untuk melayani. Itu tanda bahwa Tuhan benar-benar hadir di tengah umat-Nya.

Menariknya, yang ada di dalam Tabut hanya dua loh batu, tanda perjanjian Tuhan dengan umat-Nya. Artinya, bukan kemegahan bangunan yang membuat Tuhan hadir, tetapi kesetiaan-Nya pada janji dan relasi dengan umat.

Dalam bacaan Injil, pada Injil Markus 6:53–56, kita melihat kehadiran Tuhan dalam diri Yesus Kristus. Ke mana pun Yesus pergi, orang-orang membawa yang sakit kepada-Nya. Bahkan yang hanya menyentuh jumbai jubah-Nya menjadi sembuh. Tidak ada awan atau gemuruh, tetapi hadirat Tuhan sungguh nyata lewat sentuhan, belas kasih, dan pemulihan.

Dari dua bacaan ini kita belajar:

Tuhan hadir dalam kemuliaan-Nya yang agung.

Tuhan juga hadir dalam kelembutan dan kasih-Nya yang menyembuhkan.

Tuhan tidak jauh, Dia hadir ketika kita membuka hati.

Hari ini, Tuhan tidak lagi hadir dalam awan di atas Tabut, tetapi dalam hati kita yang menjadi bait-Nya. Saat kita berdoa dengan tulus, saat kita percaya dan datang kepada-Nya, hadirat-Nya nyata.

Pada bacaan ini, kita merenungkan bahwa orang yang meninggal tidak benar-benar tiada. Dia masih hadir meski dalam wujud yang berbeda. Bagi kita yang ditinggalkan, tidak perlu bersedih, tidak perlu berduka yang berlarut-larut, cukup kita doakan dengan tulus, maka mereka akan tetap hadir di hati kita masing-masing, dan kita harus tetap melanjutkan misi dari Tuhan dalam perziarahan hidup kita.  

Semoga Bapak Andreas Suyanto beristirahat dalam damai abadi di surga, berada di sisi Bapa bersama para kudusNya, dan memperoleh kebahagiaan kekal. Serta kita yang masih berziarah di bumi ini bisa melanjutkan karya Tuhan dan memberi yang terbaik dari diri kita untuk kebaikan sesama dan lingkungan.