Peziarah Pengharapan: Jejak Iman Umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi di Tahun Yubelium 2025

Hari ini, 29 Mei 2025, langit tampak cerah seolah ikut bersukacita menyambut langkah-langkah kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 42 orang, anak-anak, orang muda, hingga para lansia, berkumpul dengan semangat yang sama, melangkah bersama dalam sebuah ziarah iman di Tahun Yubelium, tahun yang dikhususkan oleh Gereja Katolik sebagai momen pengampunan, pembaruan, dan rekonsiliasi.

Tahun Yubelium bukanlah sekadar tradisi. Ini adalah panggilan. Sebuah undangan untuk kembali, kepada Tuhan, kepada sesama, dan kepada ciptaan. Tahun ini, Paus Fransiskus mengangkat tema yang begitu menyentuh: “Peziarah Pengharapan.” Dan kami menjawabnya dengan sungguh-sungguh, lewat perjalanan rohani menuju tiga tempat suci: Taman Doa Maria Oblat, Kapel Salib Suci Gunung Sempu, dan Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran.

Langkah Awal: Berangkat Dengan Semangat

Titik kumpul kami di rumah Pak Cahyo, yang sudah ramai selepas Misa Kenaikan Yesus. Senyum, tawa, dan doa-doa kecil mengiringi keberangkatan kami. Tepat pukul 09.30 WIB, setelah semua terbagi dalam 9 mobil, rombongan kami berangkat menuju Taman Doa Maria Oblat.. Tak ada yang membawa beban, yang ada hanya semangat untuk mendekat kepada Tuhan dan saling menguatkan sebagai satu keluarga iman. Perjalanan 20 menit terasa ringan, diiringi canda dan harapan yang memenuhi hati.

Perhentian Pertama: Taman Doa Maria Oblat

Setibanya di sana, kami langsung larut dalam keheningan. Di antara pepohonan yang menyejukkan dan suasana damai, kami menyebar, mencari sudut masing-masing untuk tenggelam dalam doa pribadi, menyerahkan pergumulan, menyampaikan syukur, dan membuka hati bagi kasih Allah. Hati ini terasa lega, seolah beban pelan-pelan dilepaskan.

Perhentian Kedua: Gereja Salib Suci Gunung Sempu

Pukul 10.10 kami melanjutkan perjalanan menuju Gunung Sempu, tempat berdirinya Gereja Salib Suci yang menawan. Meski ramai oleh para peziarah lain, ada ketenangan yang tak tergantikan, kami tetap dapat berdoa dengan khidmat. Kami mengadakan ibadat singkat yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon lingkungan, Bapak Yuli, kami mendaraskan doa Rosario bersama, lalu melanjutkan dengan doa pribadi. Hati kami dipenuhi damai dalam kebersamaan. Di momen ini, kami seperti diingatkan: harapan itu nyata, dan ia tumbuh dari iman yang dibagikan bersama.

Perhentian Ketiga: Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran

Ganjuran selalu punya tempat spesial di hati umat Katolik Yogyakarta, simbol iman Katolik yang begitu khas dengan gaya arsitektur Jawa yang sarat makna. Setibanya di sana, sekitar pukul 12.30, kami berdoa secara pribadi, lalu menikmati waktu bebas. Beberapa dari kami mengunjungi museum yang menggugah sejarah iman di Ganjuran, ibu-ibu berbelanja oleh-oleh dan berfoto ria, anak-anak berlarian bebas dengan tawa riang, sementara yang lain duduk menikmati semilir angin. Semuanya terasa seperti pelukan hangat dari Tuhan.

Berbagi Cerita di Meja Makan

Sekitar pukul 14.00, kami menuju Restaurant Parangtritis untuk makan siang bersama. Inilah momen yang tak kalah berharga. Setiap meja menjadi ruang berbagi cerita. Bapak-bapak asyik berdiskusi tentang tembakau, cerutu, dan tentu saja diselingi dengan topik politik. Di sisi lain, ibu-ibu ramai berbagi gosip hangat dan berbincang tentang tugas-tugas pelayanan yang menanti. Sungguh suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita.

Pulang Dengan Hati Yang Penuh Syukur

Pukul 15.00, kami mengakhiri kegiatan dan kembali ke rumah masing-masing. Namun bukan hanya tubuh kami yang kembali, hati kami pun pulang dengan semangat baru, dengan sukacita yang sulit dijelaskan.

Hari ini bukan sekadar ziarah. Ini adalah perjalanan hati. Sebuah pengingat bahwa di tengah kesibukan hidup, kita selalu punya ruang untuk kembali. Kembali kepada Tuhan. Kembali kepada komunitas. Kembali kepada harapan.

Kami percaya, kegiatan seperti ini bukan hanya menguatkan iman, tapi juga mempererat tali persaudaraan. Kami pulang lebih dekat satu sama lain, lebih semangat dalam tugas, dan lebih sadar akan indahnya berjalan bersama dalam iman.

“Berbahagialah mereka yang berjalan dalam iman, sebab di sanalah harapan tumbuh dan kasih berkembang.”

Pembukaan Bulan Maria – Stasi St. Maria Bunda Allah Maguwo

Saudara-saudari umat Allah yang terkasih,

Hari ini, Kamis 1 Mei 2025, Bersama seluruh Gereja, kita memasuki Bulan Maria, masa penuh rahmat, ketika hati umat Katolik diarahkan secara khusus kepada Santa Perawan Maria, Bunda Tuhan kita. Dalam bulan ini, kita diajak untuk merenungkan kehadiran Bunda Maria dalam hidup kita, meneladani imannya yang total, dan membuka hati bagi karya keselamatan yang diwartakan melalui hidup dan tindakannya.

Dalam semangat iman dan devosi yang mendalam, Stasi Maria Bunda Allah memulai Bulan Maria dengan sebuah peristiwa rohani yang sungguh indah dan menyentuh: doa Rosario serentak oleh seluruh lingkungan, dilaksanakan di waktu yang sama, namun di tempat yang tersebar di tiap lingkungan masing-masing. Walau secara fisik terpisah, tetapi umat dipersatukan dalam satu semangat, satu intensi, dan satu hati di hadapan Allah, melalui perantaraan Bunda Maria.

Masing-masing lingkungan menyalakan terang devosi dari tempatnya sendiri, namun bersama-sama membentuk satu untaian doa yang harum di hadapan Tuhan. Satu demi satu, butir-butir Rosario dinaikkan sebagai persembahan cinta dan harapan, sebagai bentuk syukur dan permohonan, sebagai tanda kesetiaan umat kepada Allah melalui hati seorang ibu Maria, yang senantiasa mendoakan dan mendampingi anak-anaknya.

Inilah kekuatan Gereja: bersatu dalam doa, meskipun tak berada dalam satu ruangan. Seperti cahaya lilin di malam hari, yang terpisah namun menyatu dalam terang, demikian pula umat Stasi Maria Bunda Allah malam ini menghadirkan kehangatan iman dalam lingkup masing-masing, namun menggemakan satu suara kepada Surga.

Semoga rangkaian doa Rosario yang kita mulai malam ini menjadi sumber berkat bagi setiap keluarga, lingkungan, dan stasi kita. Semoga melalui perantaraan Bunda Maria, hidup kita pun makin dibentuk menjadi pribadi yang rendah hati, taat pada kehendak Allah, dan penuh kasih terhadap sesama.

putar audio di bawah ini, kemudian pejamkan mata anda………..

Santa Maria, Bunda Allah,
Doakanlah kami yang berlindung kepadamu.
Amin
.


Paskah Bersama Lansia: Merayakan Kasih yang Tak Pernah Menua

Minggu 20 April 2025, selepas misa paskah pagi,di sebuah sudut hangat penuh senyum dan cerita, tepatnya di kediaman Bapak Arief Subyantoro, suasana Paskah terasa begitu berbeda. Tidak ada sorak sorai anak kecil, tidak ada hiruk-pikuk paduan suara. Tapi ada sesuatu yang lebih dalam: tatapan mata penuh syukur, genggaman tangan yang hangat, dan kisah-kisah kehidupan yang dipeluk oleh cahaya Paskah.

Itulah wajah indah dari Perayaan Paskah bersama para lansia, sebuah inisiatif penuh kasih dari Timpel PIUL (Pelayanan Iman Umat Lansia) di bawah naungan Bidang Pewarta Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Bukan sekadar perayaan, tetapi sebuah pelukan rohani bagi mereka yang telah berjalan lebih dulu dalam perjalanan iman

Acara ini dibungkus dalam kesederhanaan, namun justru di situlah letak kemewahannya. Lagu-lagu rohani dinyanyikan dengan suara lembut namun penuh rasa. Doa-doa dipanjatkan dalam irama pelan, menyentuh setiap hati yang hadir. Ada pula momen berbagi cerita, di mana para lansia menyampaikan harapan, syukur, bahkan canda kecil tentang masa muda mereka—yang disambut tawa hangat dari semua yang hadir.

Sambutan yang Membuat Hati Bergetar

Salah satu momen mengharukan terjadi saat Ketua Stasi memberikan sambutan. Dengan suara sedikit bergetar dan mata yang berkaca-kaca, beliau menyampaikan rasa syukur dan bangga atas terselenggaranya acara ini.

Kami lihat, setiap kerutan di wajah oma opa, eyang,  menyimpan cerita, doa, dan pengorbanan yang luar biasa. Dan lewat perayaan sederhana ini, kami ingin bilang: terima kasih………………Terima kasih karena terus menjadi tiang doa bagi keluarga dan lingkungan. Terima kasih karena kasih dan semangat bapak dan ibu selalu jadi inspirasi bagi kami yang lebih muda.

Bukan karena sedih, tapi karena mereka menyadari betapa besarnya cinta Tuhan yang mengalir melalui perhatian kecil seperti ini.

Melalui kegiatan ini, kita diajak untuk menyadari bahwa iman tak pernah memudar seiring usia, justru menjadi lebih matang dan bijak. Kehadiran para lansia adalah kekayaan gereja, mereka adalah “kitab hidup” yang menyimpan hikmah dan keteladanan.

“Terima kasih, kami merasa tidak dilupakan,” ucap salah satu opa dengan mata berkaca-kaca.

Dan itulah inti dari Paskah—bahwa kasih Allah selalu bangkit dan hadir di setiap usia, dalam setiap detak hidup umat-Nya.

Acara ini bukan hanya hadiah bagi para lansia, tapi juga menjadi pelajaran berharga bagi yang muda: bahwa pelayanan tak mengenal usia, dan Paskah tak hanya untuk dirayakan di altar megah, tapi juga di ruang tamu kecil yang penuh cinta.

Terima kasih untuk Timpel PIUL yang sudah menjadi perpanjangan tangan kasih Tuhan. Terima kasih juga untuk Bapak Arief Subyantoro yang telah membuka pintu rumah dan hatinya. Dan terima kasih untuk para lansia, yang diam-diam selalu mengajarkan kita arti keteguhan, kesabaran, dan cinta sejati.

Selamat Paskah.
Tuhan yang bangkit, juga menghidupkan kembali harapan di setiap hati—tanpa memandang usia.