Sembayangan Lingkungan St. Gabriel: Iman yang Teguh dan Kerendahan Hati

Pada hari Kamis, 12 Februari 2026, Lingkungan St. Gabriel melaksanakan kegiatan sembayangan lingkungan rutin yang bertempat di rumah keluarga Bapak Hanadi. Kegiatan dimulai pada pukul 19.00 WIB dan berlangsung dengan tertib serta penuh kekhusyukan.

Petugas dalam pelaksanaan ibadat pada malam hari tersebut adalah Bapak Junedi, Bapak Apri, dan Saudara Galang. Sembayangan dihadiri oleh 35 orang umat yang terdiri dari anak-anak, remaja, OMK, dan orang tua. Kehadiran umat dari berbagai kelompok usia mencerminkan semangat kebersamaan dan partisipasi aktif dalam kehidupan menggereja di lingkungan.

Bacaan Injil hari itu diambil dari Injil Markus 7:24–30, tentang iman seorang ibu Siro-Fenisia yang memohon kepada Yesus agar anaknya yang kerasukan roh jahat disembuhkan. Walaupun ia bukan orang Yahudi, ia tetap percaya dan dengan rendah hati memohon pertolongan Yesus. Karena imannya yang besar, Yesus pun menyembuhkan anaknya.

Melalui bacaan Injil ini, kita diajak untuk memiliki iman yang teguh dan kerendahan hati dalam memohon pertolongan Tuhan. Seperti ibu tersebut, kita pun hendaknya tidak mudah menyerah dalam doa, tetapi tetap percaya bahwa Tuhan mendengarkan dan menjawab setiap permohonan kita pada waktu-Nya.

Semoga melalui sembayangan lingkungan ini, iman umat Lingkungan St. Gabriel semakin bertumbuh, dan kebersamaan dalam kasih Kristus semakin erat.

Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan penyampaian pengumuman serta pembahasan agenda dan pembagian tugas Lingkungan St. Gabriel dalam waktu dekat. Pada kesempatan tersebut juga dilaksanakan serah terima keuangan kas PWK dari bendahara lama, Ibu Nana, kepada bendahara baru, Ibu Fifin, sebagai bentuk tanggung jawab dan keberlanjutan pelayanan administrasi di lingkungan.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan ramah tamah sambil menikmati hidangan yang telah disediakan oleh tuan rumah. Seluruh rangkaian acara ditutup dengan ucapan terima kasih kepada keluarga Bapak Hanadi atas kesediaannya menjadi tuan rumah. Pertemuan berakhir pada pukul 20.30 WIB.

Wilayah Ignatius Loyola Gelar Kerja Bakti “Jumat Bersih” di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo


Dalam semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap rumah bersama, Jumat 30 Januari 2026 Wilayah Ignatius Loyola yang terdiri dari Lingkungan St. Yohanes Pembaptis, St. Elisabet, St. Clara, St. Fransiskus Asisi, dan St. Gabriel, melaksanakan kegiatan kerja bakti “Jumat Bersih” di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai wujud nyata partisipasi umat dalam merawat dan menjaga kebersihan lingkungan gereja, sekaligus sebagai sarana mempererat kebersamaan antar lingkungan di Wilayah Ignatius Loyola. umat dari 5 lingkungan yang tergabung di wilayah Ign Loyola lingkungan hadir dengan penuh semangat, bahu-membahu membersihkan area gereja, mulai dari halaman, taman, hingga area dalam gereja.

Kerja bakti ini tidak hanya menjadi kegiatan fisik semata, tetapi juga menjadi ungkapan iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Melalui kegiatan Jumat Bersih, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa gereja bukan hanya tempat beribadah, tetapi juga rumah bersama yang perlu dirawat dengan penuh tanggung jawab dan cinta.

Semangat gotong royong, kebersamaan, dan sukacita tampak jelas sepanjang kegiatan berlangsung. Diharapkan, kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan menjadi inspirasi bagi wilayah serta lingkungan lain untuk terus aktif berkontribusi dalam kehidupan menggereja.

melalui kerja bakti Jumat Bersih ini, Wilayah Ignatius Loyola semakin diteguhkan dalam semangat pelayanan, persaudaraan, dan kepedulian, serta mampu menghadirkan Gereja yang bersih, nyaman, dan membahagiakan bagi seluruh umat.

Bersatu dalam Iman: Sembayangan & Pertemuan PWK Lingkungan St Gabriel

Pada Kamis, 22 Januari 2026, Lingkungan St. Gabriel menyelenggarakan sembayangan rutin sekaligus pertemuan PWK (Paguyuban Warga Katolik) di rumah keluarga Ibu Watik. Acara dimulai pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh 30 umat, terdiri dari orang tua, OMK, remaja, dan anak-anak. Kegiatan dipimpin oleh Ibu Rina, Ibu Jumadi, dan Sdri. Valen, berjalan dengan tertib dan khidmat.

Pertemuan diawali dengan pembayaran arisan dan iuran wajib, termasuk prolenan, APBU, Caos Dahar Romo, dan GKH Pendidikan. Setelah semua administrasi selesai, acara dilanjutkan dengan doa sembayangan, yang diikuti oleh seluruh umat dengan penuh khidmat, menciptakan suasana rohani yang hangat dan khusyuk.

Setelah doa, kegiatan berlanjut dengan laporan dari masing-masing seksi, yang menyampaikan perkembangan program dan kegiatan yang sedang berlangsung. Dilanjutkan dengan pengumuman lingkungan, memberikan informasi penting dan menguatkan koordinasi antarumat. Sembari mendengarkan pengumuman, umat menikmati snack dan minuman yang disediakan oleh tuan rumah, menciptakan momen kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.

Acara resmi ditutup pukul 20.30 WIB. Keseluruhan kegiatan berlangsung dengan lancar, menunjukkan antusiasme umat dari berbagai kelompok usia. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana ibadah, tetapi juga mempererat persaudaraan, meningkatkan koordinasi, dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dalam komunitas Lingkungan St. Gabriel.

Inventarisasi Aset Lingkungan St. Gabriel sebagai Langkah Awal Kepengurusan Baru

Sebagai langkah awal dalam memulai masa kepengurusan yang baru, Lingkungan St. Gabriel memandang perlu dilaksanakannya inventarisasi aset lingkungan. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya mengenali, mendata, dan menata kembali seluruh aset yang dimiliki, baik berupa sarana, prasarana, maupun sumber daya pendukung lainnya.

Inventarisasi aset ini menjadi fondasi penting bagi kepengurusan baru agar dapat bekerja secara terarah, transparan, dan berkelanjutan. Dengan data yang jelas dan terdokumentasi, setiap aset dapat dimanfaatkan secara optimal demi menunjang kegiatan lingkungan serta pelayanan kepada seluruh anggota.

Melalui proses ini, kepengurusan baru tidak hanya melanjutkan apa yang telah ada, tetapi juga membangun kesadaran bersama akan tanggung jawab menjaga dan mengembangkan aset lingkungan. Diharapkan, inventarisasi ini menjadi awal yang baik bagi terciptanya tata kelola lingkungan yang tertib, akuntabel, dan semakin solid ke depannya.

Tahap awal pelaksanaan inventarisasi dimulai dengan pendataan seluruh aset, meliputi jenis inventaris dan lokasi penyimpanannya. Selanjutnya, pengurus mengambil aset yang selama ini disimpan di rumah umat dan mengumpulkannya di satu tempat untuk dilakukan pendataan ulang. Inventaris yang terkumpul kemudian dipilah, disortir, dan diberi label sesuai dengan kategori dan fungsinya. Proses ini bertujuan agar pengelolaan aset menjadi lebih tertib, sistematis, dan mudah diawasi. Setelah pendataan dan penyortiran selesai, inventaris diserahkan kepada masing-masing seksi sesuai bidang tugas dan tanggung jawabnya.

Selama pelaksanaan, seluruh pengurus melaksanakan kegiatan ini secara bersama-sama, saling membantu untuk memastikan setiap tahapan berjalan dengan lancar. Kegiatan inventarisasi ini diharapkan menjadi fondasi yang kuat bagi kepengurusan baru, sehingga pengelolaan aset Lingkungan St. Gabriel dapat dilakukan secara akuntabel, efisien, dan mendukung kelancaran seluruh kegiatan lingkungan.

Pelayanan Lingkungan St. Gabriel: Among Tamu dan Hitung Kolekte

Pada Minggu, 18 Januari 2026, Lingkungan St. Gabriel melaksanakan tugas among tamu dan penghitungan kolekte pada Misa Minggu. Sebelum pelaksanaan, pengurus lingkungan telah melakukan koordinasi untuk menyusun daftar petugas, sehingga setiap anggota yang bertugas sudah siap saat hari H.

Para petugas hadir di gereja sejak pukul 06.00 WIB dengan pakaian rapi dan sopan. Petugas among tamu menyambut umat yang hadir, mempersilahkan mereka masuk, dan mengarahkan tempat duduk agar Misa berjalan tertib.

Sementara itu, petugas kolekte menyiapkan kantong kolekte, mengedarkan, dan mengumpulkannya selama perayaan.

Setelah Misa selesai, kotak kolekte yang sudah terkumpul dibawa ke ruangan bendahara oleh tim pamdal untuk dilakukan penghitungan. Petugas hitung kolekte dari lingkungan, berjumlah tiga orang, menghitung secara bersama-sama. Hasilnya kemudian diserahkan kepada bendahara stasi untuk dicek, dihitung ulang, dan dilaporkan.

Seluruh rangkaian tugas among tamu dan hitung kolekte berjalan dengan baik dan lancar, mencerminkan semangat kerjasama dan pelayanan anggota lingkungan dalam mendukung kelancaran Misa Minggu di Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.

Sembayangan Perdana, Serah Terima Pengurus Lingkungan St. Gabriel, dan Sosialisasi Pembangunan Gereja GMBA Maguwo

Kamis, 8 Januari 2026, Lingkungan St. Gabriel mengawali tahun baru dengan sembayangan perdana di rumah Bapak Thobias, dimulai pukul 19.00 WIB. Sekitar 30 umat hadir, terdiri dari orang tua, remaja, dan anak-anak. Sembayangan dipimpin oleh Bapak Paul, Bapak Simbolon dan Sdr. Diego, berlangsung dalam suasana khidmat. Kegiatan ini menjadi momen doa bersama untuk memohon berkat di tahun baru serta mempererat kebersamaan umat Lingkungan St. Gabriel.

Setelah selesai doa, acara dilanjutkan dengan serah terima kepengurusan dari Ketua Lingkungan lama, Bapak Philipus Soejiwa Prasaja, kepada Ketua Lingkungan baru, Bapak Paulus Haryoko. Serah terima dilakukan melalui penandatanganan berita acara, penyerahan laporan keuangan, dan penyerahan cap lingkungan, sebagai simbol tanggung jawab resmi kepengurusan baru.

Dalam kesempatan itu, Ketua Lingkungan lama, Bapak Philipus Soejiwa Prasaja, menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh umat atas kerja sama dan dukungan selama masa kepengurusannya. Beliau juga memohon maaf apabila selama pelayanan terdapat hal-hal yang kurang berkenan atau kesalahan yang dilakukan.

Selanjutnya, pertemuan dilanjutkan dengan sosialisasi pembangunan Gereja GMBA Maguwo, yang dipaparkan dengan rinci dan jelas oleh Bapak Andre dan Bapak Pangat. Umat diajak untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan gereja, karena gereja adalah milik bersama dan untuk masa depan anak cucu kita. Partisipasi dapat dilakukan melalui pembelian kupon atau sumbangan pribadi, dengan harga kupon Rp20.000 per lembar. Selain itu, setiap tiga bulan akan diadakan undian kupon sebagai bentuk apresiasi bagi umat yang berpartisipasi.

Kegiatan awal tahun ini menjadi momen penting untuk mempererat kebersamaan umat, memperkuat komitmen pengurus baru, dan mendukung pembangunan Gereja GMBA Maguwo demi keberlanjutan pelayanan dan iman umat Lingkungan St. Gabriel.

Langkah Awal Pelayanan Pengurus Baru Lingkungan St. Gabriel

Pada Rabu, 7 Januari 2026, pengurus baru Lingkungan St. Gabriel mengadakan rapat perdana yang bertempat di rumah keluarga Bapak Paul. Rapat ini dimulai pada pukul 19.00 WIB dan dihadiri oleh seluruh pengurus baru Lingkungan St. Gabriel.

Ketua Lingkungan terpilih adalah Bapak Paulus Haryoko, yang memimpin rapat perdana pengurus baru Lingkungan St. Gabriel.

Rapat ini menjadi momentum awal bagi para pengurus untuk saling mengenal, menyamakan visi, serta membahas rencana pelayanan dan program kerja ke depan. Suasana rapat berlangsung dengan penuh semangat dan kekeluargaan.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Lingkungan yang baru, Bapak Paulus Haryoko, memaparkan tugas dan tanggung jawab (jobdesk) masing-masing pengurus secara jelas dan terstruktur. Pemaparan ini disampaikan dengan mengajak seluruh pengurus untuk berdiskusi secara terbuka, sehingga setiap pengurus dapat memahami peran dan tanggung jawabnya dengan baik.

Melalui rapat perdana ini, diharapkan seluruh pengurus dapat bekerja sama dengan baik, menjaga komunikasi, dan melaksanakan tugas pelayanan dengan penuh tanggung jawab. Semoga pengurus Lingkungan St. Gabriel selalu kompak dan Lingkungan St. Gabriel semakin guyup dalam membangun kebersamaan serta kehidupan iman umat.

ADVEN KE IV, Ibadat Keluarga Kudus di Lingkungan: Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan


Menjelang akhir masa Natal, umat di lingkungan-lingkungan Stasi Maguwo melaksanakan Ibadat Keluarga Kudus sebagai momen untuk kembali meneguhkan panggilan keluarga kristiani. Ibadat tahun ini mengangkat tema:
“Bersama-Sama Menghadirkan Gereja yang Bahagia, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.”

Melalui ibadat sederhana namun penuh makna ini, umat diajak untuk semakin memaknai kedatangan Kristus dalam kehidupan sehari-hari—terutama dalam keluarga sebagai komunitas terkecil yang membentuk Gereja. Keluarga yang hidup dalam sukacita dan harapan akan lebih mampu menjadi inspirasi dan saluran kebaikan bagi masyarakat sekitar.


Tujuan Ibadat

Pertemuan ini bertujuan agar umat semakin menyadari bahwa kehadiran Kristus tidak hanya dirayakan dalam liturgi, tetapi juga dalam relasi keluarga, kebersamaan, dan hidup menggereja di lingkungan. Dengan demikian, keluarga kristiani semakin menjadi tempat:

  • tumbuhnya sukacita,
  • bertumbuhnya iman,
  • serta lahirnya tindakan kasih yang menyejahterakan sesama.


Bacaan Injil: Lukas 2:41–52

Ibadat ditopang oleh bacaan Injil tentang Yesus yang berada di Bait Allah pada usia dua belas tahun. Kisah ini menggambarkan dinamika keluarga yang pernah mengalami kehilangan, keresahan, dan pencarian, namun semuanya dijalani dengan kasih dan kesetiaan.


Renungan Singkat: Tiga Makna Keluarga Kudus

Pemandu atau pemimpin ibadat mengajak umat merenungkan tiga pokok inspiratif dari Keluarga Kudus Nazaret:

1. Keluarga yang Bahagia

Keluarga Kudus tidak steril dari masalah. Mereka sempat mengalami kekhawatiran besar ketika Yesus hilang. Namun mereka menghadapinya dengan:

  • cinta kasih,
  • kepercayaan penuh,
  • komunikasi yang terbuka.

Bahagia bukan berarti tanpa masalah, tetapi kemampuan untuk saling menopang dan bertumbuh bersama dalam setiap situasi.

2. Keluarga yang Menginspirasi

Maria dan Yosef menunjukkan ketaatan yang mendalam pada kehendak Allah. Mereka menjadi teladan keluarga sederhana yang hidup dari iman. Dari merekalah kita belajar bahwa keluarga adalah sekolah iman pertama, tempat nilai-nilai Kristiani ditanamkan secara nyata.

3. Keluarga yang Menyejahterakan

Yesus tumbuh menjadi pribadi yang “bertambah hikmat, besar, dan disukai Allah dan manusia”. Pertumbuhan itu tidak terlepas dari kesejahteraan rohani dan jasmani yang Ia terima dalam keluarga-Nya.

Keluarga yang menyejahterakan adalah keluarga yang menumbuhkan potensi tiap anggotanya sehingga mampu menjadi berkat bagi dunia, membawa damai, dan menghadirkan kebaikan.


Litani Permohonan

Dalam litani permohonan, umat bersama-sama memohon agar setiap keluarga:

  • diberi kekuatan menghadapi tantangan,
  • diteguhkan dalam cinta,
  • serta dipenuhi semangat untuk menjadi keluarga yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Doa Penutup & Berkat

Ibadat diakhiri dengan doa penutup, menyerahkan keluarga masing-masing ke dalam penyertaan Tuhan. Setelah itu, umat menerima berkat penutup yang menjadi tanda pengutusan agar setiap keluarga semakin menjadi cermin kasih Allah di tengah masyarakat.

Adven II Stasi Maguwo: Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi


Memasuki Minggu Adven II, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hening dan penuh harapan untuk mengikuti pertemuan dengan tema “Berjalan Bersama sebagai Gereja yang Menginspirasi.” Tema ini mengajak umat untuk berani melangkah, mengambil peran, dan menghadirkan terang kasih Tuhan di tengah masyarakat.

Pertemuan diawali dengan nyanyian dan doa pembuka, mengantar umat memasuki momen refleksi. Adven minggu kedua ini mengingatkan bahwa setiap orang dipanggil bukan hanya untuk menantikan kedatangan Tuhan, tetapi juga menjadi tanda kehadiran-Nya melalui tindakan kasih yang nyata.


Tema: Mengambil Langkah Pertama untuk Peradaban Kasih

Dalam pengantar pertemuan, umat diajak menyadari bahwa dunia yang semakin kompleks membutuhkan pribadi-pribadi yang siap menjadi teladan. Gereja yang menginspirasi bukanlah Gereja yang pasif, tetapi Gereja yang berani mengambil langkah pertama untuk menyemai peradaban kasih.

Mulai dari tindakan kecil—menyapa, membantu, mendengarkan, memberi waktu—semua itu menjadi dasar yang membuat komunitas semakin hidup. Adven mengajak umat melihat bahwa perubahan besar selalu dimulai dari keberanian sederhana seseorang untuk memulai.


Inspirasi Iman: Mengisi Kertas Kosong

Untuk memperdalam makna tema, pertemuan Adven II diisi dengan dinamika “Mengisi Kertas Kosong.” Pemandu menyediakan selembar kertas kosong serta beberapa spidol, lalu umat diajak hening sejenak sebelum permainan dimulai.

Satu per satu, setiap peserta diminta memberi satu goresan—entah garis, lingkaran, titik, atau bentuk sederhana lainnya. Goresan sederhana yang saling melengkapi ini perlahan membentuk sebuah gambar utuh.

Dinamika ini membawa pesan mendalam:

  • Sebuah karya besar selalu dimulai dari satu inisiatif kecil.
  • Setiap orang punya peran penting untuk mengisi kekosongan dalam komunitas.
  • Ketika setiap umat memberi kontribusinya, Gereja menjadi lebih indah dan lebih menginspirasi.
  • Tanpa kebersamaan, kertas tetap kosong. Namun dengan kerjasama, kertas itu berubah menjadi karya penuh makna.

Seperti gambar itu, hidup menggereja juga membutuhkan keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk berjalan bersama.


Peneguhan Sabda: Matius 3:1–12

Pertemuan kemudian diteguhkan dengan pembacaan Kitab Suci dari Matius 3:1–12, yang menghadirkan suara Yohanes Pembaptis sebagai pewarta pertobatan. Bacaan ini menegaskan bahwa setiap orang dipanggil untuk memperbarui diri, mempersiapkan jalan bagi Tuhan, dan menghasilkan buah-buah pertobatan dalam hidup sehari-hari.

Sabda ini menjadi dorongan agar umat tidak hanya berhenti pada kata-kata, tetapi mengambil tindakan nyata untuk mewujudkan kasih Tuhan.


Penutup: Melangkah Bersama, Menginspirasi Sesama

Pertemuan Adven II ditutup dengan doa, memohon agar umat diberikan keberanian untuk menjadi Gereja yang bergerak, yang menghadirkan inspirasi, dan yang membangun kesejahteraan melalui aksi-aksi sederhana.

Melalui Adven minggu kedua ini, umat Stasi Maguwo diajak untuk terus melangkah bersama—mengubah “kertas kosong” kehidupan menjadi karya kasih yang hidup dan menginspirasi banyak orang.

Adven III Umat Stasi Maguwo: Menjadi Gereja yang Menyejahterakan


Memasuki Minggu Adven III, umat Stasi Maguwo kembali berkumpul dalam suasana hangat untuk mengikuti pertemuan Adven dengan tema “Menjadi Gereja yang Menyejahterakan.” Tema ini mengajak umat untuk semakin membuka hati, melihat sesama, dan menghadirkan kesejahteraan bagi banyak orang melalui bela rasa dan kerjasama.
Setiap lingkungan berkumpul dalam suasana sederhana namun penuh keakraban, dipersatukan oleh semangat yang sama: membangun Gereja yang semakin menyejahterakan.

Pertemuan dimulai dengan nyanyian pembuka, disusul doa pembuka yang membawa umat masuk dalam suasana doa dan penantian yang mendalam. Suasana hening dan kebersamaan malam ini menjadi tempat yang baik untuk menyiapkan hati menyambut kehadiran Sang Juru Selamat.


Pengantar: Menghidupi Semangat Bela Rasa

Dalam pengantar pertemuan, umat diajak merenungkan bahwa menjadi Gereja yang menyejahterakan bukan hanya tugas para pemimpin Gereja, tetapi panggilan setiap orang beriman. Kesejahteraan terwujud ketika kita mau hadir, peduli, dan menjadi tanda kasih Tuhan bagi sesama.

Gereja dipanggil untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri, tetapi untuk keluar, melihat sekitar, dan terlibat menghadirkan kebaikan. Adven mengajak kita menyiapkan hati sekaligus menyiapkan tindakan nyata untuk mewujudkan kesejahteraan bersama—di keluarga, lingkungan, wilayah, dan stasi.


Inspirasi Iman: Puzzle Kesejahteraan

Pertemuan Adven III malam ini juga dilengkapi dengan dinamika menyusun puzzle, sebagai simbol bahwa kesejahteraan sejati adalah hasil karya bersama. Umat menerima potongan gambar dari berbagai bentuk—gambar keluarga harmonis, orang yang tersenyum, atau suasana damai—untuk dirangkai kembali menjadi gambar utuh.

Dinamika sederhana ini mengingatkan umat bahwa:

  • setiap orang membawa “potongan kebaikannya” sendiri,
  • setiap talenta saling melengkapi,
  • dan kesejahteraan hanya terwujud ketika semua bekerja bersama.

Sebagaimana puzzle tidak akan lengkap tanpa satu potongan pun, demikian pula Gereja tidak akan bisa menyejahterakan jika warganya berjalan sendiri-sendiri.


Refleksi Iman: Pesan Paus Fransiskus

Dalam refleksi, umat merenungkan pesan Paus Fransiskus yang menegaskan bahwa setiap manusia adalah saudara, tanpa memandang suku, agama, atau latar belakang. Kesejahteraan menurut Gereja bukan sekadar kesejahteraan materi, tetapi kesejahteraan yang memanusiakan setiap orang.

Paus mengingatkan bahwa masyarakat yang terpecah-pecah tidak mungkin menciptakan kesejahteraan. Justru dengan berbela rasa, bekerjasama, saling peduli, dan membangun relasi yang hangat, kita dapat menghadirkan “keluarga manusia” yang sejati.


Peneguhan Kitab Suci

Sabda Tuhan yang dibacakan menjadi sumber kekuatan bagi umat untuk semakin memahami panggilan sebagai Gereja yang melayani kesejahteraan bersama. Sabda tersebut mengingatkan bahwa tindakan kasih adalah bagian dari karya keselamatan Tuhan yang hadir melalui setiap pribadi yang mau peduli.


Penutup

Pertemuan ditutup dengan doa bersama, memohon agar umat semakin mampu menghidupi semangat bela rasa dan kerjasama, sehingga Gereja sungguh menjadi tempat yang menumbuhkan harapan dan kesejahteraan bagi semua orang.

Melalui Adven III ini, umat Stasi Maguwo—khususnya lingkungan St. Monika, St. Klara, St. Yohanes Pembaptis, St. Gregorius, Bramin, St. Theresia, St. Stefanus, dan St. Yusuf—diajak untuk semakin siap menyambut kelahiran Kristus, Sang Sumber Sukacita dan Kesejahteraan sejati.