Minggu, 20 September 2026 — Semangat untuk merawat bumi sebagai rumah kita bersama kembali diwujudkan secara nyata di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sejalan dengan semangat ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus tentang kepedulian terhadap lingkungan dan keutuhan ciptaan, umat diajak untuk tidak hanya berbicara tentang kepedulian terhadap bumi, tetapi juga menghidupinya melalui tindakan sederhana dan nyata.

Salah satu bentuk nyata gerakan tersebut dilaksanakan melalui kegiatan pengelolaan sampah organik dan anorganik di lingkungan gereja. Kegiatan hari ini digerakkan oleh Pak Pargiyono, dengan dukungan Mas Bani selaku Kabid Rumah Tangga, bersama Tim Laudato Si’ GMBA yang terdiri dari Mas Bono, Pak Agus Hari, Pak Gandung, dan Bu Sri Hernani.
Panen Kompos Setelah Dua Tahun
Salah satu kegiatan utama hari ini adalah memanen kompos dari tumpukan sampah daun yang telah terkumpul dan mengalami proses penguraian selama kurang lebih dua tahun.
Daun-daun yang sebelumnya dipandang sebagai sampah, ternyata dapat kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan. Setelah melalui proses alami, material organik tersebut menghasilkan kompos yang nantinya dapat dimanfaatkan kembali untuk menyuburkan tanaman di lingkungan gereja.

Kegiatan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua yang kita sebut sebagai “sampah” benar-benar tidak berguna. Dengan pengelolaan yang tepat, sampah organik dapat kembali ke dalam siklus kehidupan dan memberikan manfaat bagi tanah serta tanaman.
Membersihkan dan Memilah Sampah
Selain memanen kompos, tim juga melakukan pengosongan tempat sampah yang berada di pojok depan gereja. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah berdasarkan jenisnya.
Sampah anorganik yang masih memiliki kemungkinan untuk dimanfaatkan atau didaur ulang dipisahkan, sementara sampah yang sudah tidak dapat didaur ulang juga dipisahkan dan ditangani dengan lebih bertanggung jawab.
Proses pemilahan ini mungkin terlihat sederhana, namun justru dari kebiasaan-kebiasaan kecil seperti inilah budaya peduli lingkungan dapat mulai tumbuh di tengah kehidupan menggereja.
Dengan Teknologi Sederhana, Semangat Besar
Dalam kegiatan ini, tim menggunakan dua alat pencacah daun serta alat pemisah kompos. Kehadiran peralatan tersebut membantu proses pengolahan sampah organik menjadi lebih efektif dan memudahkan tim dalam mengelola material yang selama ini terkumpul.

Pemanfaatan alat tersebut menunjukkan bahwa semangat Laudato Si’ dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan pemanfaatan teknologi sederhana. Teknologi bukan sekadar untuk mempermudah pekerjaan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menjaga dan merawat lingkungan.
Apa yang dilakukan hari ini merupakan salah satu bentuk nyata dari semangat yang saat ini terus digaungkan di lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, yaitu Paroki Hijau.
Merawat Bumi, Merawat Rumah Bersama
Gerakan Laudato Si’ mengajak kita untuk melihat lingkungan bukan sebagai sesuatu yang berada di luar kehidupan kita, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dirawat bersama. Gereja pun memiliki panggilan untuk menjadi contoh dalam membangun kebiasaan hidup yang lebih ramah lingkungan.
Melalui kegiatan sederhana seperti mengolah daun menjadi kompos, memilah sampah, membersihkan lingkungan gereja, dan mengurangi sampah yang berakhir begitu saja, kita sedang belajar mengubah cara pandang: sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, tetapi sesuatu yang perlu dikelola dengan bijaksana.

Lebih dari sekadar kegiatan kebersihan, apa yang dilakukan oleh Pak Pargiyono bersama Mas Bani dan Tim Laudato Si’ GMBA hari ini menjadi sebuah bentuk pelayanan terhadap alam dan sesama.
Harapan untuk Paroki Hijau
Semoga langkah kecil yang dilakukan hari ini dapat menjadi awal dari gerakan yang semakin besar dan berkelanjutan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.
Semoga semakin banyak umat yang tergerak untuk mengurangi sampah, memilah sampah dari sumbernya, memanfaatkan kembali apa yang masih berguna, serta menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan—baik di gereja maupun di rumah masing-masing.
Harapannya, semangat Laudato Si’ tidak berhenti pada kegiatan tertentu atau momentum tertentu saja, tetapi tumbuh menjadi budaya hidup umat.
Semoga lingkungan Gereja Maria Bunda Allah Maguwo semakin hijau, bersih, asri, dan menjadi ruang yang nyaman bagi umat sekaligus menjadi kesaksian nyata bahwa Gereja hadir untuk merawat keutuhan ciptaan.
Dan semoga dari tempat sederhana ini, tumbuh kesadaran bersama bahwa merawat bumi adalah bagian dari iman, dan menjaga rumah kita bersama adalah tanggung jawab kita semua.




Dari daun yang jatuh, lahir kompos.
Dari sampah yang dipilah, lahir kepedulian.
Dari langkah kecil bersama, tumbuh Paroki Hijau.
Laudato Si’ — Terpujilah Engkau, Tuhan, melalui seluruh ciptaan-Mu.
