Satu Acara, Tiga Program: Ngobrol, Belajar, dan Melayani Bersama
Minggu sore, 4 Oktober 2026, sekitar 102 umat berkumpul di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo. Sore itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada tiga program yang “dikawinkan” menjadi satu acara. 😄
Ketiganya adalah:
- Ardas ke-9 Butir 5 – Workshop Pelayanan yang Membahagiakan, Menginspirasi, dan Menyejahterakan.
- Program Pelayanan DPH Maguwo 2026 Butir 9 – Pertemuan dan silaturahmi dengan umat yang terlibat dalam kepengurusan RT/RW, pedukuhan, maupun organisasi kemasyarakatan.
- Program Litbang Timpel Pengembangan SDM Butir 2 – Pelatihan program kemasyarakatan.
Jadi, daripada membuat tiga acara terpisah dengan tiga kali undangan, tiga kali persiapan, dan mungkin tiga kali konsumsi. 😄 Ketiganya disatukan dalam satu sore yang penuh obrolan, sharing, pembekalan, dan peneguhan.
Secara resmi memang workshop. Tetapi kalau melihat suasananya, sebenarnya acara ini lebih terasa seperti ruang untuk saling menyapa, mendengarkan, belajar, dan menguatkan.



Acara dipandu oleh Mas Danang dan Mbak Sari yang membuat suasana sejak awal terasa santai dan cair. Jadi, meskipun judulnya workshop, suasananya tidak seperti sedang ikut seminar yang harus duduk tegak sambil sibuk mencari pulpen.
Dari Sapaan, Lalu Jadi Cerita
Salah satu bagian yang paling menarik justru ketika umat mulai diajak bercerita.
Pak Agung, Waka 2, membuka ruang ngobrol dan sharing bersama umat yang aktif menjadi pengurus di masyarakat.
Di sinilah cerita mulai mengalir…………..Ada yang bercerita tentang mengurus warga, membangun komunikasi, menghadapi berbagai persoalan di lingkungan, sampai pengalaman menjadi umat Katolik yang hidup dan berkarya di tengah masyarakat yang mayoritas bukan Katolik.



Ternyata menjadi pengurus RT atau RW itu tidak sesederhana yang terlihat. Ada rapatnya, ada warganya, ada masalahnya, ada grup WhatsApp-nya… dan mungkin yang terakhir itu justru paling menantang. Tetapi dari semua cerita tersebut terlihat satu hal: umat GMBA ternyata sudah banyak mengambil bagian dalam kehidupan masyarakat.
Dan bagi Gereja, kehadiran mereka tentu bukan sesuatu yang kecil.
Gereja Tidak Hanya Mendengar dari Dalam Gereja
Sharing sore itu juga menjadi kesempatan bagi Dewan untuk mendengarkan langsung kehidupan umat di luar lingkungan Gereja.
Apa yang mereka alami? Apa yang menjadi tantangan? Bagaimana mereka menjalankan tugas pelayanan di masyarakat?



Dan yang tidak kalah penting, bagaimana semangat iman tetap dibawa ketika harus berhadapan dengan berbagai macam karakter dan persoalan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membuat pertemuan menjadi lebih bermakna, karena terkadang Gereja tidak perlu buru-buru memberikan jawaban. Duduk bersama, mendengarkan, dan memahami cerita umat juga merupakan bentuk pelayanan.
Ketika Google, WhatsApp dan AI Ikut Nimbrung
Setelah puas ngobrol dan berbagi pengalaman, teknologi pun ikut “nimbrung”.
Pak Yohanes Suyanto, Kabid Litbang, memperkenalkan beberapa pemanfaatan Google dan fitur WhatsApp yang bisa membantu komunikasi dan pengelolaan informasi.
Tidak berhenti di situ, umat juga diajak berkenalan dengan Artificial Intelligence atau AI.
Pak Agung mengajak umat melihat AI bukan sekadar sesuatu yang sedang tren, tetapi sebagai teknologi yang bisa dimanfaatkan secara positif dan bertanggung jawab.



Memang masih tahap pengenalan. Jadi belum sampai level “besok pagi semua pekerjaan diserahkan ke AI”. Justru dari sini muncul kesadaran bahwa teknologi perlu dipelajari secara bertahap dan digunakan sesuai kebutuhan.
Teknologi Canggih, Tapi Jangan Kehilangan Kehadiran
Sesi terakhir bersama Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr, menjadi peneguhan yang sangat penting.
Romo mengingatkan bahwa teknologi boleh semakin maju, AI boleh semakin pintar, tetapi jangan sampai kemajuan tersebut membuat manusia kehilangan kehadiran dan relasinya dengan sesama.
Pesannya sederhana tetapi dalam:
“Kehadiran jangan sampai digantikan oleh kemajuan teknologi. Jangan sampai relasi rusak karena digantikan oleh kemajuan teknologi.”
Mungkin ini yang perlu kita ingat bersama, Kita bisa menggunakan AI untuk membantu membuat tulisan, Kita bisa menggunakan Google untuk mencari informasi, Kita bisa menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi, Tetapi untuk menyapa seseorang, mendengarkan cerita, menguatkan yang sedang kesulitan, dan hadir ketika seseorang membutuhkan, tetap tidak ada aplikasi yang bisa menggantikan kita.
Pelayanan Itu Tidak Berhenti di Pintu Gereja
Pada akhirnya, sore itu bukan hanya tentang workshop, Bukan hanya tentang RT, RW, Google, WhatsApp atau AI, lebih dari itu, pertemuan ini menjadi pengingat bahwa Gereja hadir melalui umatnya di tengah masyarakat.
Umat yang menjadi pengurus RT, RW, organisasi maupun berbagai kegiatan kemasyarakatan adalah wajah Gereja yang setiap hari bertemu dan berinteraksi dengan masyarakat.
Di sanalah semangat “membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan” menjadi nyata.
Dan mungkin pelayanan yang paling sederhana memang bukan sesuatu yang spektakuler. kadang cukup dengan hadir, mau mendengarkan, mau membantu, mau menyapa, dan ketika dibutuhkan, tidak buru-buru bilang, “Waduh, saya sibuk.”
Sore itu GMBA belajar satu hal lagi: Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pelayanan tetap membutuhkan hati, karena pada akhirnya, Gereja bukan hanya tentang tempat kita berkumpul.
Gereja adalah tentang bagaimana kita hadir bagi sesama.
