Rabu, 1 Oktober 2025 merupakan rabu kelabu bagi segenap umat Gereja Maria Bunda Allah (GMBA), kami kehilangan sosok muda inspiratif dan penuh kasih: Imanuel Anggara Wirayuda. Sosok yang akrab disapa ‘Mas Yuda’, berpulang setelah berjuang melawan rasa sakit.

Kepergiannya kepada Bapa meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan segenap umat GMBA. Ia yang lahir pada 25 Desember 2001, seolah membawa makna mendalam sesuai namanya, “Imanuel” yang berarti Allah beserta kita.

Sosoknya yang tinggi, kurus, dengan rambut gondrong, mengingatkan banyak orang akan kehadiran Yesus. Bukan hanya penampilannya yang menjadikannya istimewa, melainkan api pelayanan tulus darinya yang tiada pernah padam.
Pelayan yang Selalu Ada
“Ada Mas Yuda”, sering terdengar khususnya di ruang lingkup pelayan liturgi. Celetukan tersebut seolah menghadirkan rasa tenang bagi seluruh pelayan liturgi, seolah tahu bahwa kehadirannya memberikan jaminan bahwa semua akan berjalan lancar.

Sebagai prodiakon muda, Mas Yuda adalah sosok yang energik, cekatan, dan ringan tangan. Ia tak hanya aktif dalam tim prodiakon, tetapi juga menjadi bagian penting dari pelayanan liturgi GMBA di bawah komando Ibu Ita Rinawati.

Hampir setiap minggu, Mas Yuda setia bersiap membantu siapa pun yang membutuhkan. Sebagai bagian dari tim ‘wira-wiri’, bersama dengan tim pelayanan peribadatan lainnya, seperti Ibu Purna, Bapak Saptanto, dan Ibu Retno, senantiasa hadir bukan karena kewajiban tapi karena panggilan hati.

Sikapnya yang bisa melakukan apa saja selagi mampu, membuatnya menjadi sosok yang diandalkan bagi banyak orang di GMBA. Candaan khasnya yang sedikit sarkas tapi jujur, membuat suasana pelayanan menjadi lebih berwarna. Ia melayani dengan caranya sendiri, otentik dan tanpa kepalsuan.

Mas Yuda merupakan sosok pemuda Katolik yang memberikan inspirasi bahwa menjadi pelayan, khususnya pelayan liturgi, bukan hanya urusan “orang tua”. Melalui Mas Yuda, kita tahu bahwa pelayanan dapat tumbuh dan dijalani dengan semangat kaum muda masa kini.
Sejarawan Muda yang Menghidupkan Iman
Mas Yuda belum lama ini menyelesaikan studi di Program Studi Sejarah, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan diwisuda pada bulan Agustus yang lalu. Kecintaannya pada sejarah dan iman Katolik, Ia tuangkan dalam berbagai bentuk edukasi kreatif. Mas Yuda kerap membagikan tulisan-tulisan reflektif di media sosial, mengangkat kisah gereja bersejarah dan peristiwa penting dalam iman Katolik.

Tak hanya itu, ia juga menyalurkan passion-nya melalui gim Minecraft. Ia menciptakan map bangunan gereja seperti Katedral St. Petrus dan Paulus, terinspirasi dari Basilika St. Petrus lama. Bagi Mas Yuda, sejarah bukan sekadar masa lalu, tetapi jendela untuk memahami iman dan memperkuat komunitas Gereja.
Warisan Kebaikan yang Abadi
Putra dari Bapak Agustinus Gus Adi/KMT. Prajanalausada dan Ibu Yuliana Subaryati ini telah dimakamkan hari ini, Kamis, 2 Oktober 2025, di TPU Modinan, Sambilegi.

Sebelumnya, jenazah disemayamkan di rumah duka: Gg. Udang, Jl. Anggrek, Sambilegi Lor, Depok, Sleman. Misa requiem dipimpin oleh Romo Antonius Dadang Hermawan, Pr., dalam suasana penuh syukur dan haru. Doa-doa dipanjatkan, pujian dilantunkan, dan kenangan akan Mas Yuda mengalir dalam benak pelayat yang hadir.

Suasana rumah duka dipenuhi oleh pelayat dari berbagai kalangan, termasuk rekan-rekan alumni SMA Kolese De Britto. Dalam momen penuh haru, mereka memberikan penghormatan terakhir dengan menyanyikan Mars De Britto di depan peti jenazah Mas Yuda, sebuah tradisi khas yang menggambarkan persaudaraan, semangat, dan cinta yang tak lekang oleh waktu. Nyanyian itu menjadi simbol bahwa Mas Yuda telah menjalani hidupnya dengan nilai-nilai yang ia pelajari dan hayati: menjadi manusia yang utuh, peduli, dan berani.

Meski raganya telah tiada, kebaikannya tetap hidup dalam kenangan banyak orang. Ia adalah pelayan muda yang menjadi terang, penyelamat kecil bagi gereja masa kini. Kepergiannya yang mendadak membuat banyak hati terhenyak. Namun kita percaya, Tuhan memanggilnya karena Ia melihat betapa besar kasih dan kerja keras yang telah Mas Yuda berikan. Ia telah menyelesaikan tugasnya dengan baik, dan kini tibalah saat baginya untuk beristirahat dalam damai. Mari kita lanjutkan estafet pelayanan yang telah Ia jalankan.

Selamat jalan, Mas Yuda. Terima kasih telah menjadi teladan pelayanan, cinta, dan iman. Doa kami menyertaimu, dan kisahmu akan terus hidup dalam setiap sudut gereja yang pernah kau bantu, setiap liturgi yang kau layani, dan setiap hati yang pernah kau sentuh.
never imagined goodbye would be come this fast, rest easy Mas Yuda.

Hidupmu selalu dalam kebaikan dan selalu berbahagia di Keabadian Surga yang Indah,Selamat jalan Mas Pro Wirayuda…