Dalam pertemuan APP yg kedua ini, kita belajar bahwa pengelolaan dana APP mengikuti prinsip subsidiarietas dan solidaritas :
- Alur: Dana dikumpulkan dari lingkungan/stasi, diteruskan ke Paroki, hingga ke Keuskupan dan Nasional (KWI).
- Pemerataan: Sebagian dana tetap tinggal di tingkat Paroki untuk bantuan darurat lokal, sementara sebagian lagi dikelola secara luas untuk program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang sifatnya lintas wilayah.
- Sasaran: Pengelolaan diarahkan kepada mereka yang “paling membutuhkan” (preferential option for the poor), namun diakui bahwa tantangan verifikasi di lapangan masih ada agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak hanya bersifat karitatif (sekali habis), tetapi juga memberdayakan.
Bercermin pada jemaat perdana. Dalam teks Kisah Para Rasul 4:32-37, digambarkan sebuah idealisme kristiani: “Segala sesuatu adalah kepunyaan bersama” dan “pembagian dilakukan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.”
Refleksi Kritis:
- Apakah sudah sesuai? Secara struktur, Gereja telah mencoba meniru pola para Rasul dengan adanya penyaluran melalui “kaki para rasul” (pimpinan Gereja/Panitia APP).
- Tantangan: Jika di jemaat perdana “tidak ada seorang pun yang berkekurangan,” saat ini kita masih melihat adanya kesenjangan informasi. Masih ada anggota jemaat yang sangat membutuhkan namun belum terjangkau, atau sebaliknya, ada yang enggan berbagi karena merasa belum “cukup.”
Kesimpulan
Pertemuan ini menyimpulkan bahwa APP adalah jembatan untuk mendekati idealisme jemaat perdana. Meski belum sempurna dalam hal pemerataan yang 100% tepat sasaran, sistem yang ada terus diperbaiki agar dana yang dikumpulkan dari umat kembali menjadi berkat bagi mereka yang paling terpinggirkan, sehingga semangat “sehati sejiwa” bukan sekadar teks Alkitab, melainkan realitas hidup.
Adanya berita yang tidak mengenakkan, yakni ada seorang anak mengakhiri hidupnya karena tidak bisa membayar iuran sekolah sebesar 10,000 rupiah adalah tamparan keras bagi kita sebagai umat Khatolik untuk lebih memperhatikan sesama kita, apakah diantara tempt ita tinggal ada yang membutuhkan uluran tangan kita dan membutuhkan perhatian kita. Biarlah ini menjadi perenungan bagi kita semua.
