Hari Minggu, 9 November 2025, menjadi hari yang penuh berkat bagi umat Gereja Maria Bunda Allah Maguwo, khususnya bagi keluarga-keluarga Katolik yang hadir mengikuti kegiatan Rekoleksi Keluarga Katolik dengan tema besar “Keluarga Katolik yang Tangguh Bersukacita dalam Iman dan Kasih.”

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Tim Pelayanan Keluarga Pastoral Stasi GMB Maguwo dan dihadiri oleh 80 peserta dari 17 lingkungan yang ada di wilayah Maguwo. Rekoleksi ini dipandu oleh Romo Yeremias Balapitu Duan, MSF, dari Paroki Santa Maria Gubug, Grobogan – Purwodadi, seorang imam yang selama ini dikenal penuh semangat dan dekat dengan umat.
Menimba Kekuatan dari Spirit Keluarga Kudus Nazaret
Rekoleksi ini menjadi saat berharga bagi para keluarga untuk berhenti sejenak dari rutinitas kehidupan, menata ulang hati, dan menimba kembali semangat hidup dalam terang kasih Allah. Dalam suasana doa dan kebersamaan yang hangat, Romo Yeremias mengajak para peserta merenungkan makna mendalam tentang keluarga yang tangguh — keluarga yang berakar pada iman, pengharapan, dan kasih.
Dalam pemaparannya, Romo Yeremias menegaskan bahwa keluarga Katolik yang tangguh bukan berarti keluarga tanpa persoalan, melainkan keluarga yang mampu menghadapi setiap tantangan dengan iman dan pengharapan kepada Tuhan.
Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang menjadikan nilai-nilai Injil sebagai dasar hidup bersama, saling menopang dalam suka dan duka, serta meneladani Keluarga Kudus Nazaret — Yesus, Maria, dan Yosef — sebagai model keluarga yang setia, sederhana, dan penuh kasih.
Romo juga menekankan bahwa keluarga Katolik harus menjadi sumber sukacita di tengah dunia yang sering kali dilanda kekhawatiran dan perpecahan. “Keluarga yang tangguh adalah keluarga yang mampu tetap bersukacita meskipun berada dalam dukacita. Mereka tidak larut dalam kesulitan, tetapi justru menjadi pembawa pengharapan dan kekuatan bagi keluarga lain yang sedang bergumul,” tutur Romo Yeremias dengan penuh semangat.
Membangun Relasi yang Sehat dan Penuh Kasih
Selain penguatan rohani, sesi rekoleksi ini juga menyoroti pentingnya membangun relasi yang sehat dalam keluarga, terutama antara suami dan istri. Melalui kisah, refleksi, dan tanya jawab, para peserta diajak untuk menilai kembali bagaimana komunikasi, kejujuran, dan kesetiaan dijaga dalam keseharian hidup berkeluarga.
Romo Yeremias mengingatkan bahwa kasih sejati tidak berhenti pada kata-kata, tetapi diwujudkan dalam tindakan nyata setiap hari — dalam saling mendengarkan, saling memaafkan, dan saling menopang dalam kelemahan.



“Relasi yang kuat antara suami dan istri adalah fondasi bagi ketahanan keluarga. Ketika pasangan saling menghormati dan terbuka, anak-anak pun tumbuh dalam suasana kasih yang sehat dan penuh damai,” tegasnya.
Sukacita, Tawa, dan Gerak Bersama
Suasana rekoleksi yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB terasa hidup dan penuh sukacita. Tidak hanya sesi refleksi, acara ini juga diwarnai dengan gerak dan lagu, permainan ringan, serta dinamika kelompok yang menumbuhkan keakraban antar keluarga.
Tawa dan semangat kebersamaan terdengar di seluruh ruang gereja, menciptakan suasana hangat yang mencerminkan kasih Kristus yang hidup di tengah umat-Nya.

Banyak peserta mengaku merasa diteguhkan dan disegarkan kembali. “Rekoleksi ini membuat kami sadar bahwa keluarga kami tidak sendiri. Kami belajar untuk saling menguatkan dan percaya bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap perjalanan keluarga,” ujar salah satu peserta dengan penuh rasa syukur.
Puncak Rekoleksi: Perayaan Ekaristi Kudus
Sebagai puncak dan penutup rekoleksi, seluruh peserta mengikuti Perayaan Ekaristi Kudus yang dipimpin langsung oleh Romo Yeremias Balapitu Duan, MSF. Dalam homilinya, beliau mengajak setiap keluarga untuk menjadikan pengalaman rekoleksi ini sebagai titik awal pembaruan hidup rohani dan keluarga.

“Jadilah keluarga yang membawa terang dan sukacita bagi sesama. Jangan takut menghadapi badai hidup, karena Tuhan sendiri yang akan meneguhkan langkah-langkah keluarga kita,” pesan Romo dalam homili penutupnya.
Misa penutupan berlangsung khidmat dan penuh haru, diiringi dengan doa persembahan keluarga yang melambangkan penyerahan diri dan kasih setia kepada Allah.
Peneguhan dan Harapan
Melalui kegiatan ini, Gereja Maria Bunda Allah Maguwo berharap agar setiap keluarga semakin menyadari panggilan sucinya: menjadi rumah iman, sekolah kasih, dan ladang kesetiaan. Keluarga yang tangguh bukanlah yang sempurna, tetapi yang setia saling meneguhkan dalam iman dan kasih Kristus.

Semoga semangat rekoleksi ini terus hidup di hati setiap peserta, dan setiap keluarga Katolik semakin kuat dalam menghadapi tantangan zaman — menjadi saksi kasih Allah yang hidup di tengah dunia.
