Maguwo — Minggu, 12 Juli 2026, Gereja Maria Bunda Allah, Paroki Administratif Maguwo, menyelenggarakan sosialisasi Standar Operasional Prosedur (SOP) Paroki Hijau. Kegiatan ini merupakan langkah konkret paroki dalam menanggapi seruan ensiklik Laudato Si’ dari Paus Fransiskus, yang mengajak seluruh umat untuk hidup dalam semangat ekologi integral.
Sosialisasi ini dihadiri oleh perwakilan umat dari berbagai lingkungan, serta sejumlah pihak yang selama ini berperan aktif dalam kehidupan menggereja di Maguwo, di antaranya Timpel KCLH, Tim BDU GMBA, anggota Dewan Paroki, para Ketua Lingkungan dan para Ketua Wilayah.



Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan seluruh KCLH se-Kevikepan Jogja Timur, sebagai wujud keseriusan paroki dalam mengimplementasikan hasil pertemuan tersebut ke dalam langkah nyata di tingkat paroki.
Merawat Bumi, Merawat Iman
Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa merawat lingkungan bukanlah urusan yang terpisah dari kehidupan iman, melainkan bagian yang menyatu di dalamnya — sejalan dengan pesan Laudato Si’ bahwa “semuanya saling berkaitan”. Atas dasar itu, SOP Paroki Hijau disusun sebagai pedoman bagi seluruh umat untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan, mengelola sumber daya secara bijaksana, serta menjaga keutuhan ciptaan demi kebaikan bersama dan generasi mendatang.
SOP ini bertumpu pada lima tujuan utama: mengurangi dampak lingkungan dari kegiatan gereja, mewujudkan semangat gereja yang berkelanjutan, menghemat kertas, energi, dan air, membiasakan perilaku hijau dalam keseharian umat, hingga menumbuhkan kepedulian terhadap kaum rentan yang paling terdampak oleh kerusakan lingkungan.



Kelima tujuan tersebut dilandasi oleh lima prinsip dasar yang bersifat spiritual dan etis, yaitu menghormati ciptaan, tanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya, keberlanjutan, keadilan sosial dan ekologis, serta pertobatan ekologis — bahwa kepedulian pada lingkungan adalah bagian dari pertobatan dan perjalanan iman setiap umat.
Tujuh Area Penerapan dalam Kehidupan Paroki
Peserta sosialisasi diajak memahami tujuh area penerapan SOP Paroki Hijau yang akan menjadi pedoman teknis dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkup pribadi umat maupun di lingkungan gereja:
- Penghematan energi dan sumber daya — mulai dari mematikan listrik dan AC saat tidak digunakan, penggunaan air secukupnya, hingga mengutamakan pencahayaan alami dan tanaman hidup sebagai dekorasi altar.
- Kegiatan dan pertemuan — mendorong umat membawa botol minum sendiri, menghindari plastik dan styrofoam sekali pakai, serta mengutamakan produk lokal dan UMKM umat.
- Spanduk dan banner — pemasangan wajib mendapat izin Romo Paroki, dengan masa berlaku maksimal satu bulan dan menggunakan bahan yang tahan lama.
- Sampah rumah tangga — mengajak umat memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi plastik sekali pakai, serta mendukung program bank sampah paroki.
- Pengelolaan lingkungan gereja — melalui penanaman pohon, pembuatan biopori dan sumur resapan, pengomposan sampah organik, hingga pemantauan lingkungan secara berkala.
- Edukasi dan pembinaan umat — mengintegrasikan tema lingkungan dalam homili dan katekese, melibatkan OMK, PIA, dan PIR, serta memperingati hari-hari lingkungan seperti Hari Bumi dan Bulan Laudato Si’.
- Pemantauan dan evaluasi — dikoordinasikan oleh Tim Laudato Si’ yang dibentuk khusus untuk mengawal program lingkungan paroki, dengan evaluasi rutin setiap tahun dan peninjauan ulang SOP setiap dua tahun.
Pembentukan Tim Laudato Si’
Selain sosialisasi SOP, momen ini juga menjadi tonggak penting dengan dibentuknya Tim Laudato Si’ Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo. Tim ini akan menjadi motor penggerak sekaligus penjaga keberlanjutan pelaksanaan SOP Paroki Hijau, dengan tugas dan tanggung jawab sebagai berikut:
- Menyusun dan mengoordinasikan pelaksanaan program kerja Laudato Si’ di tingkat paroki.
- Membangun kerja sama dengan dewan paroki, wilayah, lingkungan, dan kelompok kategorial dalam mendukung program kepedulian lingkungan.
- Melakukan sosialisasi, edukasi, dan pendampingan kepada umat terkait penerapan gaya hidup ramah lingkungan.
- Melaksanakan pemantauan dan pengumpulan data pelaksanaan program secara berkala.
- Melakukan evaluasi minimal satu kali dalam setahun terhadap capaian program, tingkat keterlibatan umat, serta efektivitas penggunaan sumber daya.
- Menyusun laporan hasil evaluasi dan memberikan rekomendasi perbaikan berkelanjutan.
- Meninjau dan memperbarui SOP minimal setiap dua tahun atau sesuai kebutuhan.
Dengan terbentuknya tim ini, pelaksanaan SOP Paroki Hijau diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, melainkan benar-benar terkawal dan berkelanjutan dalam kehidupan umat sehari-hari.
Mari Bertumbuh Bersama
Sosialisasi ini ditutup dengan ajakan bagi seluruh umat untuk mengambil tiga langkah konkret: memulai dari diri sendiri dengan kebiasaan sederhana seperti membawa botol minum dan tas belanja, melibatkan komunitas seperti OMK, PIA, PIR, dan lingkungan agar turut aktif berpartisipasi, serta mendukung kerja Tim Laudato Si’ yang baru terbentuk melalui masukan dan keterlibatan dalam evaluasi tahunan.





Sebagaimana disampaikan dalam penutup sosialisasi, kita mungkin tidak bisa menyelamatkan bumi seorang diri, tetapi setiap umat dapat mengambil bagian untuk tidak menambah kerusakannya. Dengan langkah-langkah kecil yang dimulai bersama, Paroki Maria Bunda Allah Maguwo diharapkan dapat menjadi teladan bahwa merawat lingkungan bukan sekadar program, melainkan wujud nyata iman umat kepada Tuhan.
Terima kasih, Tuhan memberkati upaya kita merawat ciptaan-Nya.
Gereja Maria Bunda Allah – Paroki Administratif Maguwo Jln. Anggrek No. 6, Karangploso, Maguwoharjo, Depok, Sleman • www.gmba-maguwo.org
