Mencintai Bumi, Mencintai Kehidupan

Alam tidak berbicara melalui kata-kata. Peristiwa yang sering kita namakan sebagai “bencana” sesungguhnya adalah peringatan dari alam. Alam tidak membutuhkan manusia. Manusia yang membutuhkan alam. Namun, apakah kita sudah mendengarkan apa yang disampaikan alam?

Pesan yang mengentak dalam film pendek “Alam Berbicara” ini disajikan Sr. Marisa, CB kepada para peserta saat membuka sarasehan “Go Green and Clean” yang diselenggarakan Tim Pelayanan Keutuhan Ciptaan dan Lingkungan Hidup Bidang Kemasyarakatan pada Minggu, 10 Mei 2026 di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Perilaku manusia yang mengekploitasi alam menyebabkan krisis ekologi. Merusak bumi, akan menghancurkan kehidupan manusia. Sebaliknya, mencintai bumi berarti mencintai kehidupan itu sendiri.

Sr. Marisa menyampaikan, melalui ensiklik Laudato Si, Fratelli Tuti, dan Laudate Deum, Paus Fransiskus mengajak kita melakukan pertobatan pastoral dan ekologis untuk mengatasi dehumanisasi dan krisis ekologi. Seruan Paus Fransiskus ini kemudian ditegaskan kembali oleh Paus Leo XIV yang mengutus umat Katolik untuk menjalankan Revolusi Kasih. Membangun jembatan dialog dan bergandengan tangan dengan semua orang, adalah keniscayaan untuk mengatasi kemiskinan, kekerasan, kerusakan lingkungan serta menumbuhkan budaya damai dan harapan.

Semangat “berjalan bersama” inilah yang diharapkan dapat muncul dari seluruh umat untuk mewujudkan paroki sebagai rumah bersama yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Di lingkup paroki, kita dapat melakukan pertobatan ekologis dengan langkah sederhana. Di antaranya dengan menghias altar secara ramah lingkungan.

Selama ini, tata rias altar di GMBA banyak menggunakan bunga potong yang ternyata tidak ramah lingkungan. Bunga potong hanya mampu bertahan 3-6 hari, setelah itu menjadi sampah. Oasis yang dipakai untuk menjaga kesegaran bunga juga sulit hancur dan merusak lingkungan.

Menggunakan tanaman dalam pot menjadi penerapan semangat Laudato Si dalam tata rias altar. Selain mengurangi sampah, tanaman dalam pot membawa lebih banyak oksigen di lingkungan gereja. Sebagian tanaman seperti pandan dan zodia bahkan bermanfaat mengusir hewan dan serangga pengganggu dari dalam ruangan.

Usai pemaparan materi, Sr. Marisa kemudian mengajak peserta sarasehan mempraktikkan tata rias altar yang ekologis. Sambil menunggu hasilnya, sebagian peserta diajak mempraktikkan memilah sampah sesuai jenisnya seperti sampah kertas, plastik, dan organik.

Bersama Sr. Marisa, para peserta juga mempraktikkan cara membuat biopori mini di pot tanaman sebagai wadah sampah organik. Sampah organik dalam biopori akan terurai menjadi kompos sehingga menyuburkan tanaman dalam pot.

“Selain itu, cairan dari sampah organik dapat melembapkan media tanam sehingga lebih hemat air untuk menyiram,” kata biarawati yang sejak tahun 2020 menjadi koordinator KPKC (Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan) suster CB Provinsi Indonesia ini.

Selepas sesi praktik, para peserta yang sebagian besar adalah para ibu anggota tim pelayanan tata altar mendiskusikan rencana tindak lanjut untuk mewujudkan semangat Laudato Si dalam tata hias altar GMBA. Dari hasil diskusi, para peserta merumuskan beberapa komitmen aksi nyata, mencakup donasi tanaman dalam pot dan pot dari ibu-ibu, penyediaan rak tanaman, penataan tanaman serta pengaturan perawatan tanaman per wilayah, serta menggunakan lebih banyak tanaman dalam pot untuk tata hias altar.

Dari sarasehan “Green and Clean” pada petang hingga malam itu, dialog tercipta, partisipasi diteguhkan, dan solidaritas digaungkan untuk bersama-sama meraih asa: menghadirkan paroki sebagai rumah bersama yang hijau, adil, dan berkelanjutan. Jangan lagi menutup mata dan nurani, mari dengarkan apa yang disampaikan alam kepada kita.

Sosialisasi APP 2026: Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera

Menjelang masa prapaskah 2026, TimPel PSE Bidang Kemasyarakatan bekerja sama dengan TimPel Katekis dan Pemandu Lingkungan Bidang Pewarta dan Evangelisasi menggelar sosialisasi APP (Aksi Puasa Pembangunan). Kegiatan ini berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2026 di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo.

Peserta sosialisasi ini adalah para ketua lingkungan, pewarta lingkungan, PSE lingkungan, prodiakon, serta para suster dari kongregasi RMI, OP, dan SSpS yang komunitasnya berlokasi di stasi Maguwo.

Mendekati pukul 19.00 WIB, peserta mulai ramai berdatangan. Setiap perwakilan lingkungan mengambil buku panduan dan kotak APP yang sudah dipesan sebelumnya.

Kemudian pada pukul 19.15, Pak Widjaja dari TimPel Katekis dan Pemandu Lingkungan selaku MC membuka acara. Setelah prodiakon Pak Catur memimpin doa pembukaan, Pak Felix dari TimPel Katekis dan Pemandu Lingkungan mulai menjelaskan tema dan subtema APP 2026.

Tema APP tahun ini adalah “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera“. Tema tersebut merupakan turunan dari roadmap ARDAS 2026-2030 Keuskupan Agung Semarang, yakni “Gereja yang Bahagia, Inspiratif, dan Mensejahterakan”. Adapun subtema APP 2026 mencakup lima topik: (1) Potret kondisi dan potensi, dasar untuk mengawal aksi; (2) Potensi dana sosial Gereja dan sifatnya; (3) Meninggalkan sikap ketidakpedulian, Mengembangkan tanggung jawab sosial; (4) Pentingnya pedoman dalam sebuah gerakan; dan (5) Mengambil langkah pertama dalam menolong sesama.

Selanjutnya, Bu Nining dari TimPel PSE dan Bu Monica sebagai Bendahara 2 GMBA memaparkan pengelolaan dana sosial GMBA. Sesi ini bertujuan menjelaskan pengelolaan dana sosial stasi secara transparan kepada para pengurus lingkungan dan pemandu pertemuan APP, karena pengelolaan dana sosial merupakan bagian dari gerakan solidaritas sosial untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Dengan pembekalan materi APP 2026, diharapkan para pengurus lingkungan dan pemandu pertemuan APP dapat mengajak umat memahami gerakan solidaritas sosial sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dari olah rohani, olah jiwani, serta mati raga yang dijalankan selama masa prapaskah. Meningkatnya kesejahteraan dan kebahagiaan umat, merupakan buah iman yang mewujud dari penghayatan umat.