Dari Satu Suara Menjadi Empat Suara

Minggu pagi, 12 Juli 2026, Lingkungan St. Fransiskus Asisi kembali mendapat tugas koor dalam Perayaan Ekaristi di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Puji Tuhan, tugas pagi itu dapat kami jalankan dengan baik. Kami bernyanyi dengan sepenuh hati. Mungkin masih ada nada yang belum tepat di sana-sini, mungkin juga belum sesempurna koor yang lain. Tetapi pagi itu kami mempersembahkan nyanyian kami dengan segenap hati sebagai doa bagi Tuhan.

Kalau melihat kami bernyanyi hari ini, mungkin tidak banyak yang tahu bahwa perjalanan kami sampai di titik ini tidaklah singkat.

Sejak pemekaran lingkungan pada tahun 2022, Lingkungan St. Fransiskus Asisi dan Lingkungan St. Clara berjalan sendiri-sendiri. Terus terang, waktu itu kami sempat minder.

Bagaimana tidak? Hampir semua umat yang memang memiliki kemampuan menyanyi berada di Lingkungan Clara. Sementara kami di Asisi… ya, bisa menyanyi sekadarnya. Bahkan setiap kali mendapat jadwal koor, rasa tidak percaya diri selalu muncul.

Dulu, kami hanya berani menyanyi dengan satu suara. Yang penting lagu selesai, nada tidak terlalu meleset, dan tugas terlaksana.

Namun kami juga sadar, kalau tidak mulai belajar, kami tidak akan pernah berkembang.

Sedikit demi sedikit kami mulai rutin berlatih. Untungnya, kami dipertemukan dengan Mas Gathut yang dengan sabar membimbing kami. Latihan bersama Mas Gathut selalu menyenangkan. Kami tidak hanya diminta menghafal lagu, tetapi juga diajarkan bagaimana bernapas dengan benar, menjaga nada, membuka mulut dengan baik, hingga mengucapkan setiap kata dengan artikulasi yang jelas.

Bahkan, beberapa hari yang lalu Mas Gathut datang membawa… sendok! Lihat videonya disini.

Bukan untuk makan bersama, tetapi sebagai alat latihan agar kami berani membuka mulut lebih lebar saat bernyanyi. Awalnya tentu terasa lucu, tetapi ternyata latihan sederhana itu sangat membantu kami mengeluarkan suara dengan lebih baik.

Mas Gathut juga selalu mengingatkan bahwa saat bernyanyi di gereja, yang kita persembahkan bukan sekadar suara yang indah. Nyanyian adalah doa. Karena itu, setiap kata harus diucapkan dengan jelas dan setiap lagu dinyanyikan sepenuh hati.

Awal tahun ini menjadi langkah baru bagi kami. Dengan modal nekat, kami mulai mencoba bernyanyi empat suara. Memang belum semua lagu. Memang belum selalu rapi. Kadang masih saling mencari nada, kadang masih ada yang bingung harus masuk di bagian mana.

Tapi ternyata… kami bisa.

Hari ini kami kembali membuktikan kepada diri sendiri bahwa segala sesuatu memang butuh proses.

Bukan proses menjadi paduan suara terbaik, tetapi proses berani mencoba, mau belajar, mau mendengarkan, dan mau terus berlatih bersama, tapi justru di situlah letak sukacitanya.

Kami belajar bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti melayani. Dengan semangat, latihan, dan kebersamaan, Tuhan selalu membuka jalan untuk bertumbuh.

Mungkin kami belum sempurna. Namun hari ini kami bernyanyi jauh lebih percaya diri dibanding tiga tahun yang lalu. Dan bagi kami, itu sudah menjadi berkat yang sangat besar.

Terima kasih untuk Mas Gathut yang dengan sabar membimbing kami, dan terima kasih untuk seluruh umat Asisi yang selalu mau meluangkan waktu untuk berlatih. Semoga setiap nada yang kami nyanyikan selalu menjadi doa yang berkenan di hadapan Tuhan.

Karena ternyata, dengan segala keterbatasan kami… kami bisa.

Asisi! Bersama, bahagia, beriman!

Posted in Berita Terkini, Latihan koor, Lingkungan, Lingkungan St. Fransiskus Asisi, Tugas Koor Lingkungan, Wilayah Ignatius Loyola and tagged , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *