“MENINGGALKAN SIKAP KETIDAKPEDULIAN, MENGEMBANGKAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL”
Tanggal : 5 Maret 2026
Tempat : Rumah Ibu Aniek
Pemandu : Bp Purwanto, Bp Indarto, Bp Andreas, Ibu Titik, Ibu Nelly
Jumlah Peserta : 27 orang
Pertemuan ketiga Aksi Puasa Pembangunan (APP) 2026 kembali dilaksanakan dalam semangat tema besar “Gereja Berjuang Menghadirkan Masyarakat yang Bahagia dan Sejahtera.” Pada pertemuan ini umat diajak merenungkan subtema “Meninggalkan Sikap Ketidakpedulian, Mengembangkan Tanggung Jawab Sosial.” Melalui pertemuan ini, umat diingatkan bahwa setiap anugerah yang diterima dari Tuhan—baik kemampuan, waktu, relasi, maupun harta—mengandung tanggung jawab untuk dibagikan kepada sesama demi menghadirkan kesejahteraan bersama.
Pertemuan diawali dengan nyanyian pembuka, tanda salib, pengantar, serta doa pembuka yang mengantar umat memasuki suasana refleksi lalu pembacaan Kitab Suci untuk memberikan acuan dari tema ini. Dalam pendalaman materi, umat diajak menyadari bahwa kepedulian sosial merupakan bagian penting dari panggilan iman. Gereja mengajak setiap orang untuk tidak bersikap acuh terhadap kesulitan sesama, melainkan berani mengambil langkah nyata dalam membangun solidaritas. Dengan saling berbagi dan bekerja sama, anugerah yang berbeda-beda dari setiap orang dapat dipadukan untuk menghadirkan perubahan yang nyata bagi mereka yang membutuhkan.
Untuk memperdalam pemahaman tersebut, pertemuan ini dilengkapi dengan sebuah fragmen atau drama situasi yang menggambarkan kontras antara sikap ketidakpedulian dan sikap penuh kasih. Dalam cerita tersebut digambarkan seorang keluarga kaya yang hidup berkecukupan namun menolak membantu seorang pria yang sedang membutuhkan uang untuk membeli obat bagi istrinya yang sakit. Sebaliknya, sebuah keluarga sederhana yang hidup dengan keterbatasan justru menunjukkan belas kasih dengan memberikan sebagian dari uang belanja mereka untuk menolong orang yang membutuhkan. Kisah ini menegaskan bahwa kepedulian tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh hati yang terbuka untuk berbagi.
Fragmen tersebut mencapai puncaknya ketika orang kaya yang sebelumnya bersikap sombong mengalami kesulitan karena anaknya mengalami kecelakaan dan membutuhkan donor darah. Tanpa diduga, justru orang miskin yang dahulu ia tolak bantuannya bersedia secara sukarela mendonorkan darahnya demi menyelamatkan nyawa anak tersebut. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa dalam kehidupan, setiap orang saling membutuhkan dan kebaikan yang diberikan dengan tulus akan membawa berkat bagi banyak orang.Pertemuan dilanjutkan dengan doa ARDAS IX kemudian Doa Bapa Kami, serta berkat penutup dan lagu penutup. Melalui pertemuan APP ketiga ini, umat diajak untuk semakin meninggalkan sikap tidak peduli dan mulai mengembangkan tanggung jawab sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana sesuai kemampuan masing-masing, sebab membantu sesama tidak harus menunggu menjadi kaya, melainkan dimulai dari hati yang mau berbagi dan menghidupi kasih Kristus dalam kehidupan nyata.



































