
Kamis pagi, 14 Mei 2026, basecamp utama Lingkungan Fransiskus Asisi Tasura sudah ramai sejak Misa Kenaikan Yesus selesai. Satu per satu bapak-bapak datang dengan motor masing-masing, siap untuk melakukan touring rohani ke Gua Maria Tuk Ing Katentreman, sebuah tempat doa yang tenang dan sejuk di wilayah Magelang.
Rombongan kali ini terdiri dari Pak Jondit, Pak Rus, Pak Cahyo, Pak Bono, Pak Tiyok, Pak Wawan, Pak Felix, Mas Galang, dan Pak Ari Lawu dari Lingkungan Clara yang ikut bergabung. Total ada delapan motor yang siap mengantar mereka menikmati perjalanan yang penuh cerita.
Sebelum berangkat, Pak Wawan memimpin doa singkat. Dengan perlindungan Tuhan dan semangat kebersamaan, tepat pukul 10.00 WIB rombongan mulai melaju melalui rute Jurang Jero. Jalanan yang membelah kebun salak menyuguhkan pemandangan hijau yang menyejukkan mata. Mereka berkendara santai, menikmati udara segar, sambil sesekali menyalip truk-truk pasir yang menjadi bagian khas dari jalur tersebut.

Seperti dalam setiap perjalanan, selalu ada cerita kecil yang membuat pengalaman semakin berkesan. Sesaat sebelum melewati kawasan kebun salak, salah satu motor mengalami pecah ban. Untungnya, hanya sekitar seratus meter dari lokasi terdapat tukang tambal ban. Setelah berhenti beberapa saat dan ban kembali siap digunakan, perjalanan pun dilanjutkan dengan semangat yang tetap utuh.


Sekitar pukul 11.30 WIB, rombongan tiba di Gua Maria Tuk Ing Katentreman. Begitu turun dari motor, mereka langsung merasakan suasana yang teduh, hening, dan menenangkan. Pepohonan rindang dan gemericik sumber air di sekitar gua membuat tempat ini terasa seperti oase kecil yang sangat cocok untuk berdoa dan menenangkan hati.


Di sana, para bapak menyalakan lilin dan mengambil waktu untuk berdoa secara pribadi. Dalam keheningan itu, setiap orang membawa intensi dan syukur masing-masing kepada Bunda Maria dan Tuhan Yesus.


Setelah berdoa, suasana santai pun berlanjut dengan obrolan ringan tentang rencana touring berikutnya. Dengan nada bercanda, perjalanan ini disebut sebagai “survey lapangan” untuk mencari tempat-tempat ziarah yang nantinya layak direkomendasikan kepada ibu-ibu dan keluarga. Tentu saja, sebelum memberikan rekomendasi, para bapak merasa perlu melakukan lebih banyak “survey” ke berbagai tempat.

Salah satu momen yang paling bermakna dalam perjalanan ini adalah ketika rombongan menanam bibit pohon kimeng yang sudah dibawa dari rumah. Setelah meminta izin kepada penjaga lokasi, bibit itu ditanam di area sekitar gua. Tanaman kimeng dipercaya membantu menjaga ketersediaan air di sekitarnya, sehingga penanaman ini menjadi simbol sederhana kepedulian terhadap alam ciptaan Tuhan.
Sebelum pulang, rombongan mampir untuk makan siang di Warung Pepes Gapeswathi. Menu pepes dan rica enthog menjadi penyempurna perjalanan yang menyenangkan ini.
Perjalanan pulang ditempuh melalui jalur Tempel–Turi. Di tengah perjalanan, salah satu motor sempat kehabisan bensin dan harus didorong beberapa ratus meter menuju SPBU terdekat. Meski demikian, kejadian itu justru menambah warna dan cerita yang akan dikenang bersama.

Touring kali ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana: berangkat bersama, berdoa bersama, menghadapi kendala bersama, dan pulang dengan hati yang penuh sukacita. Lebih dari sekadar perjalanan, touring ini menunjukkan bahwa ke mana pun kita melangkah, selalu ada kesempatan untuk membawa doa, mempererat persaudaraan, dan meninggalkan jejak kebaikan bagi sesama maupun bagi alam ciptaan Tuhan
