Syukur 40 Tahun Hidup Bakti Suster Rosita SDP: Persembahan Cinta dari Putri lingkungan St. Elisabet Maguwo


Umat Stasi Maguwo bersyukur dan berbangga karena salah satu putri terbaik dari Lingkungan St. Elisabet, Suster Rosita, SDP, merayakan 40 tahun hidup bakti dalam Kongregasi Suster Penyelenggaraan Ilahi (SDP). Sebuah perjalanan panjang yang penuh kesetiaan, ketekunan, dan pengabdian bagi Gereja serta sesama.

Puncak perayaan syukur ini berlangsung dalam Perayaan Ekaristi di Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo, yang dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr. Suasana misa dipenuhi rasa syukur dan kegembiraan dari seluruh umat yang hadir.


Momen Mengharukan dalam Homili

Dalam homilinya, Romo Murdi tidak hanya mengajak umat merenungkan makna hidup bakti, tetapi juga secara khusus meminta Suster Rosita untuk bercerita tentang perjalanan panggilannya. Dengan suara lembut namun penuh keyakinan, Suster Rosita membagikan kisah masa mudanya—bagaimana keputusannya untuk masuk biara awalnya mendapat penolakan dari orang tua.



Nama asli : Warih Sujarwi
Nama biara : Sr.Rosita, SDP
Pendidikan : SPG
Tempat / Tgl lahir : Sleman , 26 Juni 1960
Nama kongregasi : Sister of Divine Providence ( SDP ) dalam bahasa Indonesia Penyelenggaraan Ilahi ( PI )
Tempat bertugas : Susteran PROVIDENTIA Jakarta
Masuk biara : 23 Juli 1985 ( 40 th ).

Riwayat panggilan hidup membiara Sr. Rosita, SDP

Selama 40 th sebagai suster mendapat tugas pelayanan di bidang pendidikan, pastoral :
Di Jakarta :

  • di sekolah dan perburuhan kerja sama dengan Institut Serikat Jesus ( romo2 SJ ) Di Kudus :
  • karya pendidikan Di Timor ( Keuskupan Atambua ) :
  • karya pendidikan & asrama putri

Kalimantan Tengah ( Keuskupan Palangkaraya ) :

  • Asrama & pastoral
    di stasi pedalaman

Di Semarang:

  • ( studi ) & mengajar

Di Banjarmasin & pegunungan:

  • Meratus ( sekolah , pastoral, pendampingan belajar anak usia dini & SD

Panggilan saya muncul:
samar2 berusia 9 th ketika sering berjumpa dengan suster OP. Dimantapkan lagi saat mengikuti retret sekolah kls 2 SPG.

Motivasi awal saya ingin mengabdi Tuhan secara total dan ikut ambil bagian dalam pelayanan gereja yang masih sangat kekurangan tenaga khususnya di pedalaman.

Figur seorang suster yg ramah, sabar ; keprihatian gereja ( tuaian banyak, pekerja sedikit ) , kegiatan Legio yg banyak berkunjung ke orang sakit, miskin , terlantar sangat menginspirasi panggilan saya menjadi suster.

Moto saya ” Jangan takut , Aku akan menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir jaman “

Ajakan panggilan: Saya mengajak keluarga muda khususnya untuk menumbuhkan benih2 panggilan bagi anak – anak melalui pembiasaan sejak dini dan perkembangan berikutnya : berdoa bersama, ibadat di lingkungan, mengenalkan kisah orang Kudus, nyanyian rohani melalui medsos, mengikuti kegiatan lingk / gereja : PIA ,BIR , PA, dsb ; memiliki anak minimal 2 sehingga masih ada regenerasi ( jumlah anggota gereja katolik semakin berkurang karena banyak keluarga yang membatasi kelahiran ) , ikut memikirkan perkembangan gereja mendatang, jangan sampai seperti gereja di Eropa. Bagi orang muda ( gen ” Z ” ) ikut terlibat aktif dlm kegiatan gereja ( PA, OMK , koor, berbagai kegiatan rohani yg memberi bekal & memperkuat iman dlm menghadapi tantangan di jaman digital dan serba instan.

Suka duka :
Selama 40 th dalam peziarahan hidup sebagai suster PI saya lebih banyak mengalami sukacita: merasakan persaudaraan, dukungan, semangat baik di biara maupun dalam pelayanan dan penyertaan kasih Allah melalui kemurahan hati sesama di mana saya diutus, dekat dengan anak2, umat khususnya mereka yg kurang diperhatikan, ada liburan bersama di komunitas, bisa ziarah ke Holly Land ( Tanah Suci ), libur di tengah2 keluarga, dapat melayani masyarakat di pedalaman, dsb.

Tantangannya :

  1. Dalam tugas di sekolah menghadapi orang tua murid dan rekan kerja dengan berbagai karakter yg kadang membuat lelah ( di kota besar )
  2. Medan yg berat : saat tugas di pedalaman, jalan berlumpur & berlubang, genangan air yg dalam yg sering menyebabkan orang jatuh , motor mogok di tengah hutan yg gelap & sunyi, saat musim kemarau sulit mengupayakan air, mendampingi umat yg hanya mementingkan pekerjaan dari pada beribadat, tidak ada signal sehingga komunikasi sangat terbatas, dsb.

Semua tantangan tsb menjadi kesempatan bagi saya untuk makin memurnikan motivasi panggilan, makin mengandalkan kekuatan Allah dan mensyukuri kasih Allah melalui dalam hal kecil sekalipun.
” ALLAH YG MENCINTAI, MEMANGGIL DAN MENGUTUS SAYA , ALLAH YG AKAN MENYELESAIKAN DENGAN BAIK “


Empat Dekade Pengabdian yang Menginspirasi

Perjalanan 40 tahun hidup bakti Suster Rosita menjadi tanda bahwa penyelenggaraan Tuhan bekerja melalui pribadi yang siap menyerahkan diri sepenuhnya. Selama empat dekade, beliau menghadirkan kasih Allah melalui:

  • pelayanan sederhana namun penuh kepedulian,
  • pendampingan umat di berbagai tempat tugas,
  • perhatian kepada mereka yang lemah dan membutuhkan,
  • serta hidup doa yang menjadi sumber kekuatan setiap hari.

Kisah hidupnya menjadi inspirasi bagi banyak orang, sekaligus menjadi kebanggaan bagi umat Stasi Maguwo, terutama Lingkungan St. Elisabet.


Perayaan Penuh Sukacita dan Harapan

Dalam Misa Syukur ini, umat bersama memanjatkan doa bagi Suster Rosita:

  • agar tetap diberi kesehatan dan sukacita,
  • agar semakin diteguhkan dalam pelayanan,
  • dan agar terus menjadi saluran berkat bagi sesama.

Momen ini juga mengingatkan umat bahwa Tuhan masih bekerja memanggil dan mengutus putra-putri dari tengah komunitas kita.


Terima Kasih, Suster Rosita

Terima kasih atas empat dekade perjalanan iman dan pelayanan penuh kasih. Terima kasih telah membawa nama Maguwo dalam karya Penyelenggaraan Ilahi yang begitu nyata.

Semoga Tuhan selalu menyertai langkah-langkahmu, Suster.
Selamat merayakan 40 tahun hidup bakti—tetaplah menjadi berkat dan inspirasi di mana pun Tuhan mengutusmu.

Posted in Berita Terkini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *