Catatan Kecil dari Pelatihan Bendahara Paroki

Dua hari yang rasanya cepat sekali.

Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2026 lalu, kami, para bendahara dan karyawan administrasi keuangan dari berbagai paroki di Kevikepan Jogja Timur mengikuti Pelatihan Bendahara dan Karyawan Administrasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang di PPSM (Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan).

Pesertanya cukup banyak. Ada perwakilan dari 19 paroki, 2 paroki administratif, dan 2 stasi dari Kevikepan Jogja Timur. Dari Paroki Administratif Maguwo sendiri, keempat bendahara ikut hadir. Kesempatan yang baik karena jarang rasanya bisa belajar bersama dalam formasi yang lengkap seperti ini.

Materi yang diberikan cukup padat. Ada delapan materi yang harus diselesaikan dalam dua hari. Mulai dari pemahaman tugas masing-masing bendahara, Akuntansi Paroki dan KAP (Keuangan Akuntansi Paroki), tata cara pencatatan keuangan, aset dan inventarisasi aset, perpajakan, sampai penyusunan RAB (Rancana Anggaran & Beban), RAPAT (Rencana Anggaran & Pengadaan Aset Tetap), dan proposal.

Jujur saja, beberapa materi membuat kepala sedikit berasap. Tetapi untungnya para narasumber Ekonomat Keuskupan Agung Semarang menyampaikan dengan sabar dan cukup membumi. Banyak pertanyaan yang muncul, banyak diskusi terjadi. kadang serius, kadang diselingi tawa. Dari situlah terasa bahwa hampir semua peserta memiliki pergumulan yang mirip dalam pelayanan sehari-hari.

Yang biasanya disukai dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, tetapi juga kesempatan bertemu dengan orang-orang yang menjalani pelayanan yang sama. Ada rasa bahwa kita tidak berjalan sendirian. Banyak hal yang ternyata bisa dipelajari dari pengalaman paroki lain.

Hari pertama bahkan berakhir hampir pukul 22.00 malam. Saat sesi terakhir malam itu selesai, hampir semua peserta langsung tersenyum lega.

Yang menyenangkan dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, kami juga menikmati obrolan-obrolan kecil saat jeda kopi, saat makan, atau ketika saling bertanya bagaimana praktik administrasi di paroki masing-masing. Ternyata banyak tantangan yang mirip-mirip. Ada yang bergumul dengan inventaris aset, ada yang masih belajar memahami KAP, ada juga yang berbagi cara agar administrasi bisa lebih rapi tanpa membuat pelayanan menjadi kewalahan.

PPSM sendiri selalu punya suasana yang khas. Tenang. Tidak banyak kebisingan. Di dekat kapel terdengar suara air mengalir yang membuat suasana semakin damai.

Saat sempat duduk beberapa saat di dalam kapel. Kapelnya tidak besar, tetapi heningnya terasa. Kadang kita datang membawa banyak pikiran, banyak pekerjaan yang menunggu, banyak angka yang harus dibereskan. Tetapi di tempat itu rasanya Tuhan hanya meminta kita duduk sebentar dan beristirahat.

Sabtu pagi, 20 Juni 2026, kami mengikuti misa yang dipimpin Romo Ekonomat. Bacaan Injil diambil dari Matius 6:24-34 tentang jangan khawatir akan hidupmu.

Tentu saja itu terasa sangat “pas” dengan pelatihan kami akhir minggu kemarin. Bahkan Romo menyampaikan di homilinya, bacaan hari itu seperti Tuhan berbicara langsung kepada para Bendahara dan karyawan administrasi Paroki.

Dua hari kami berbicara tentang anggaran, laporan keuangan, aset, inventaris, dan berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Lalu Injil pagi itu mengingatkan bahwa hidup bukan pertama-tama soal semua itu.

Bukan berarti keuangan tidak penting. Justru karena penting maka harus dikelola dengan baik. Tetapi di atas semua angka dan laporan itu, tetap ada Tuhan yang memelihara Gereja-Nya.

Pelatihan ditutup dengan peneguhan dari Romo Ekonomat. Dari banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang masih teringat sampai perjalanan pulang.

“If you lose your wealth, you have lost nothing; if you lose your health, you have lost something; but if you lose your character, you have lost everything.”

Sebagai bendahara, kalimat itu terasa sangat dekat. Karena pada akhirnya yang paling dijaga bukan hanya uang atau laporan keuangan, melainkan kepercayaan.

Pelatihan selesai pukul 13.00 dan ditutup dengan makan siang bersama. Setelah itu kami kembali ke paroki masing-masing dengan catatan yang lebih penuh daripada saat datang.

Semoga apa yang dipelajari selama dua hari ini tidak berhenti di buku catatan atau file presentasi saja, tetapi sungguh membantu pelayanan kami sehari-hari.

Karena menjadi bendahara paroki bukan sekadar mengurus angka.

Di balik setiap angka, ada kepercayaan umat yang harus dijaga.

Posted in Berita Terkini, Tajuk Utama, Warta Gereja and tagged , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *