Suasana malam Selasa, 17 Februari 2026 pukul 19.00 WIB, Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo dipenuhi langkah-langkah umat yang datang dengan satu kerinduan: mengawali Masa Prapaskah dengan hati yang dibarui. Sebanyak 918 umat memenuhi gereja untuk mengikuti Perayaan Ekaristi Rabu Abu yang dipimpin oleh Antonius Dadang Hermawan, Pr.
Sejak perarakan masuk, nuansa tobat terasa begitu kuat. Dalam Ritus Pembuka, umat diajak menyadari bahwa Prapaskah bukan sekadar tradisi tahunan, melainkan momentum rahmat—waktu istimewa untuk kembali kepada Tuhan.
Memasuki Liturgi Sabda, firman Tuhan menggema mengundang pertobatan yang sejati: bukan hanya perubahan lahiriah, melainkan pembaruan hati. Dalam homilinya, Romo mengingatkan bahwa abu yang akan diterima bukan tanda kesedihan, tetapi tanda harapan—bahwa manusia yang rapuh tetap dikasihi dan selalu diberi kesempatan untuk bangkit.
Puncak keheningan terjadi saat pemberkatan dan pengenaan abu. Abu yang berasal dari daun palma tahun lalu didoakan, lalu satu per satu umat maju menerima tanda salib di dahi. Terdengar kalimat yang sederhana namun menggugah:
“Bertobatlah dan percayalah kepada Injil.”




Dalam momen itu, gereja seakan tenggelam dalam doa. Abu menjadi simbol kerendahan hati; tanda bahwa hidup ini fana, namun penuh makna ketika diserahkan kepada Allah.
Perayaan berlanjut dalam Doa Umat dan Liturgi Ekaristi, di mana umat mempersembahkan diri bersama roti dan anggur, memohon agar perjalanan 40 hari ke depan sungguh menjadi jalan pertobatan yang nyata—melalui doa, puasa, dan karya kasih.
Malam itu, umat tidak hanya pulang dengan abu di dahi, tetapi juga dengan tekad baru di hati. Masa Prapaskah telah dimulai—dan bersama Tuhan, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik dari kemarin.
Berkah Dalem.
