Pertemuan APP ke-3 Lingkungan St. Stefanus

Tema: Melampaui Materi, Menghidupkan Kepedulian

Pertemuan ketiga dalam rangkaian Aksi Puasa Pembangunan (APP) kali ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam mengenai sikap tidak peduli. Seringkali, kita terjebak dalam pola pikir bahwa menjadi “baik” atau “berkat bagi sesama” hanya diukur dari seberapa banyak materi yang kita bagikan. Padahal, tanggung jawab sosial jauh lebih luas dari sekadar dompet.


1. Belajar dari Kisah Si Kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31)

Dosa utama si kaya dalam perumpamaan ini bukanlah karena ia memiliki harta, melainkan karena ia memiliki gerbang. Gerbang itu secara simbolis memisahkan dirinya dengan realitas di sekitarnya—yakni Lazarus yang menderita di depan pintunya.

  • Ketidakpedulian sebagai Dinding: Si kaya tidak berbuat jahat secara aktif (ia tidak mengusir Lazarus), tetapi ia memilih untuk tidak melihat. Ketidakpedulian adalah “dosa kelalaian” yang sering kita lakukan saat kita membiarkan kesulitan orang lain berlalu begitu saja karena merasa itu bukan tanggung jawab kita.
  • Berkat itu Bukan Hanya Harta: Kita sering salah kaprah menganggap berkat hanya berupa uang atau barang. Padahal, berkat yang paling mendasar adalah waktu, perhatian, dan kesediaan kita untuk hadir bagi orang lain.

2. Memperluas Makna “Membantu”

Membantu tidak melulu soal materi. Jika kita merasa tidak memiliki kelebihan harta, bukan berarti kita tidak bisa menjadi berkat. Tanggung jawab sosial dapat diwujudkan melalui:

  • Kehadiran (Presence): Menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang kesepian atau sedang berbeban berat. Terkadang, didengarkan adalah bentuk bantuan terbesar.
  • Advokasi: Berani bersuara ketika melihat ketidakadilan, meskipun itu tidak menimpa kita secara langsung.
  • Edukasi & Pendampingan: Membagikan ilmu atau keterampilan yang kita miliki untuk membantu orang lain menjadi lebih mandiri.
  • Empati yang Aktif: Mengakui keberadaan sesama. Mengingat nama mereka, menanyakan kabar, dan memperlakukan setiap orang dengan martabat yang sama—inilah cara merobohkan “gerbang” yang memisahkan kita dari Lazarus-Lazarus di zaman sekarang.

3. Mengubah Sikap: Dari “Melihat” menjadi “Bertindak”

Sikap tidak peduli biasanya berakar dari rasa aman yang semu. Namun, tanggung jawab sosial menuntut kita untuk berani merasa “tidak nyaman” demi orang lain. Di minggu ke-3 ini, mari kita berkomitmen untuk:

  • Mulai melihat orang-orang yang selama ini kita abaikan dalam keseharian kita.
  • Memberikan apresiasi dan perhatian yang tulus kepada orang-orang di sekitar kita.
  • Menyadari bahwa setiap talenta atau kebaikan kecil yang kita bagikan adalah bagian dari berkat yang harus diteruskan, bukan ditimbun untuk diri sendiri.

Pertemuan APP ke-2 Lingkungan St. Stefanus : Refleksi dan Pengelolaan Dana Solidaritas

Pertemuan ibadah APP ke-2 Lingkungan St. Stefanus

Dalam pertemuan APP yg kedua ini, kita belajar bahwa pengelolaan dana APP mengikuti prinsip subsidiarietas dan solidaritas :

  • Alur: Dana dikumpulkan dari lingkungan/stasi, diteruskan ke Paroki, hingga ke Keuskupan dan Nasional (KWI).
  • Pemerataan: Sebagian dana tetap tinggal di tingkat Paroki untuk bantuan darurat lokal, sementara sebagian lagi dikelola secara luas untuk program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang sifatnya lintas wilayah.
  • Sasaran: Pengelolaan diarahkan kepada mereka yang “paling membutuhkan” (preferential option for the poor), namun diakui bahwa tantangan verifikasi di lapangan masih ada agar bantuan benar-benar tepat sasaran dan tidak hanya bersifat karitatif (sekali habis), tetapi juga memberdayakan.

Bercermin pada jemaat perdana. Dalam teks Kisah Para Rasul 4:32-37, digambarkan sebuah idealisme kristiani: “Segala sesuatu adalah kepunyaan bersama” dan “pembagian dilakukan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.”

Refleksi Kritis:

  • Apakah sudah sesuai? Secara struktur, Gereja telah mencoba meniru pola para Rasul dengan adanya penyaluran melalui “kaki para rasul” (pimpinan Gereja/Panitia APP).
  • Tantangan: Jika di jemaat perdana “tidak ada seorang pun yang berkekurangan,” saat ini kita masih melihat adanya kesenjangan informasi. Masih ada anggota jemaat yang sangat membutuhkan namun belum terjangkau, atau sebaliknya, ada yang enggan berbagi karena merasa belum “cukup.”

Kesimpulan

Pertemuan ini menyimpulkan bahwa APP adalah jembatan untuk mendekati idealisme jemaat perdana. Meski belum sempurna dalam hal pemerataan yang 100% tepat sasaran, sistem yang ada terus diperbaiki agar dana yang dikumpulkan dari umat kembali menjadi berkat bagi mereka yang paling terpinggirkan, sehingga semangat “sehati sejiwa” bukan sekadar teks Alkitab, melainkan realitas hidup.

Adanya berita yang tidak mengenakkan, yakni ada seorang anak mengakhiri hidupnya karena tidak bisa membayar iuran sekolah sebesar 10,000 rupiah adalah tamparan keras bagi kita sebagai umat Khatolik untuk lebih memperhatikan sesama kita, apakah diantara tempt ita tinggal ada yang membutuhkan uluran tangan kita dan membutuhkan perhatian kita. Biarlah ini menjadi perenungan bagi kita semua.

Pertemuan APP 1- lingkungan St. Stefanus

Menerima atau Memberi: Sebuah Refleksi Diri

Pertemuan APP hari ini menyadarkan kita bahwa kerendahan hati bukan hanya soal mengakui dosa, tapi juga jujur mengakui kemampuan. Jika kita sudah cukup, mari melapangkan hati untuk berbagi dan membiarkan mereka yang benar-benar membutuhkan mendapatkan haknya.

Di masa prapaskah ini, kita diajak untuk melihat ke dalam cermin hati yang paling jujur. Seringkali kita merasa berkekurangan, namun apakah kita benar-benar “layak” disebut membutuhkan bantuan? Atau mungkinkah kita sebenarnya sedang memegang berkat yang seharusnya milik orang lain?

​Lewat perenungan hari ini, kita diajak untuk melepaskan ego. Berhenti mengambil jatah yang bukan milik kita, dan mulai melihat siapa yang bisa kita bantu. Karena sejatinya, kebahagiaan sejati ada pada saat tangan kita memberi, bukan sekadar menerima.

​Sudahkah kita jujur pada diri sendiri hari ini?

APP2026 #MasaPrapaskah #RefleksiDiri #BerbagiBerkat #KatolikIndonesia

Mempererat Persaudaraan dan Iman: Pertemuan Rutin Ibu-ibu PWK Lingkungan Santo Stefanus

Bagi ibu-ibu di Lingkungan Santo Stefanus, pertemuan bulanan Paguyuban Wanita Katolik (PWK) bukan sekadar rutinitas kalender, melainkan sebuah oase untuk memperdalam iman sekaligus memperkuat solidaritas sosial. Kegiatan ini menjadi wadah bagi kaum wanita untuk bertumbuh bersama dalam semangat pelayanan dan kasih Kristiani.

Bertumbuh dalam Rohani dan Ekonomi

Pertemuan ini dirancang dengan perpaduan yang selaras antara kegiatan rohani, pengelolaan ekonomi mandiri, dan aksi nyata, yang mencakup:

  • Doa Rutin & Pendalaman Iman: Menjadi pondasi utama, setiap pertemuan dibuka dengan doa bersama, doa Rosario sesuai panduan liturgi lingkungan agar setiap langkah pelayanan selalu berdasar pada Firman Tuhan.
  • Arisan Bulanan: Berfungsi sebagai pengikat kehadiran yang efektif, kegiatan ini menjadi momen hangat untuk berbagi informasi dan mempererat tali silaturahmi antaranggota.
  • Simpan Pinjam (Kas Paguyuban): Sebuah bentuk pengelolaan keuangan mandiri yang bertujuan membantu ekonomi anggota, yang sering kali dijalankan dengan sistem tanggung renteng sebagai wujud kepercayaan satu sama lain.
  • TACIKA (Tabungan Cinta Kasih/Tabungan Citra Kasih): Sebagai program unggulan, TACIKA memupuk kebiasaan menabung yang bermuara pada dana sosial. Dana ini dialokasikan untuk menopang kebutuhan sosial-ekonomi anggota maupun mendukung pelayanan gereja.
  • Sosial & Pemberdayaan (Baksos): Wujud nyata dari semangat “Wanita Katolik yang Berdaya”, kegiatan ini meliputi kunjungan kasih kepada anggota yang sakit, bantuan bagi ibu dan anak yang mengalami kesulitan ekonomi, serta berbagai kegiatan kreatif lainnya untuk meningkatkan martabat sesama.

Semangat Pelayanan Tanpa Batas

Melalui rangkaian kegiatan ini, PWK Lingkungan Santo Stefanus membuktikan bahwa peran wanita dalam gereja sangatlah vital. Tidak hanya mengurus urusan domestik, ibu-ibu ini juga menjadi penggerak ekonomi mikro dan agen perubahan sosial yang membawa dampak positif bagi lingkungan dan paroki.


“Satu hati, satu jiwa, melayani dengan cinta kasih demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.”

Sukacita Ekaristi: Pemberkatan Kediaman Ibu Lucia Rusmiati

Pada hari Senin, 16 Februari 2026, suasana penuh syukur dan kegembiraan iman menyelimuti keluarga Ibu Lucia Rusmiati. Bertempat di kediaman beliau di Perum Soka Asri Permai, Kadisoka, telah dilaksanakan Misa Ekaristi dalam rangka pemberkatan rumah baru yang berlangsung dengan sangat khidmat dan meriah.

Perayaan Syukur yang Dipimpin oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr

Ibadah syukur ini dipimpin langsung oleh Romo FX Murdi Susanto, Pr. Dalam homilinya, Romo menekankan bahwa rumah yang diberkati bukan sekadar bangunan fisik, melainkan tempat di mana kasih Tuhan terpancar melalui kehidupan sehari-hari penghuninya. Romo juga memimpin prosesi percikan air suci ke setiap sudut ruangan sebagai simbol penyucian dan permohonan perlindungan Ilahi bagi seluruh anggota keluarga.

Guyub Rukun Lintas Lingkungan

Momen ini menjadi bukti nyata eratnya tali persaudaraan antarumat. Tidak hanya dihadiri oleh kerabat dekat, misa ini juga dihadiri oleh umat dari berbagai lingkungan, di antaranya:

  • Lingkungan Santo Stefanus
  • Lingkungan Santo Gregorius
  • Lingkungan Santo Bartolomeus

Kehadiran umat dari berbagai lingkungan ini menciptakan suasana “paguyuban” yang hangat, di mana doa-doa dipanjatkan bersama demi keselamatan dan keberkahan rumah tangga Ibu Lucia Rusmiati.

Lantunan Merdu Paduan Suara Nada Surgawi

Kehidmatan misa semakin terasa berkat iringan lagu-lagu pujian yang dibawakan secara apik oleh Paduan Suara Nada Surgawi dari GKR Baciro. Suara merdu dan harmoni yang mereka bawakan menambah suasana sakral, membawa hati setiap umat yang hadir semakin larut dalam kekhusyukan doa dan syukur.


“Rumah ini biarlah menjadi tempat yang penuh dengan berkat, di mana setiap orang yang masuk merasakan damai sejahtera dari Kristus.”

Selamat menempati kediaman baru bagi Ibu Lucia Rusmiati. Semoga Tuhan senantiasa memberkati dan melindungi seluruh keluarga.

Pelayanan Kasih di Balik Meja Kantin: Oleh Ibu-Ibu PWK Santo Stefanus

Bulan Februari 2026 menjadi momen spesial bagi Ibu-Ibu Paguyuban Wanita Katolik (PWK) Lingkungan Santo Stefanus. Selama satu bulan penuh, mereka mendedikasikan waktu dan tenaga untuk menjalankan tugas pelayanan jaga kantin di Gereja Maria Bunda Allah, Maguwo.

Sinergi dan Kebersamaan Umat

Kantin ini bukan sekadar tempat bertransaksi, melainkan wujud nyata ekonomi gotong royong umat. Seluruh hidangan yang tersaji merupakan hasil karya dan titipan jual dari umat Paroki Maguwo sendiri. Ibu-ibu PWK Santo Stefanus berperan sebagai garda depan yang mengelola dan melayani para pembeli dengan senyum dan keramahan khas ibu.

Aneka Hidangan yang Menggugah Selera

Meja kantin ditata apik dengan berbagai pilihan menu sehat dan lezat yang siap memanjakan lidah umat setelah mengikuti perayaan Ekaristi:

  • Makanan Siap Saji: Tersedia berbagai pilihan lauk pauk rumahan dan sayur matang yang segar.
  • Camilan & Buah: Aneka kudapan tradisional hingga buah-buahan segar tertata rapi dalam wadah-wadah bersih.
  • Minuman Segar: Berbagai pilihan minuman tersedia untuk melepas dahaga.

Melayani dengan Sukacita

Meskipun harus bertugas di sela-sela kesibukan rumah tangga, ibu-ibu Lingkungan Santo Stefanus menjalankan tugas ini dengan penuh sukacita. Semangat pelayanan ini menjadi bukti nyata bahwa bakti kepada Tuhan bisa diwujudkan melalui cara-cara sederhana, seperti menerima hasil karya dari para umat yang menitipkan dagangannya dan melayani transaksi dari para umat yang melarisi dagangan yang digelar, sambil mempererat tali silaturahmi antar-lingkungan.


“Melayani Tuhan tidak hanya di depan altar, tapi juga melalui perhatian kecil dalam melayani sesama.”

Terima kasih kepada Ibu-Ibu PWK Santo Stefanus atas dedikasinya selama bulan Februari ini. Semoga berkah Tuhan senantiasa menyertai setiap langkah pelayanan kita.

Syukur dan Berkat di Kediaman Baru Mbak Giacinta-lingkungan St. Stefanus

Pada hari Kamis, 12 Februari 2026, suasana penuh sukacita menyelimuti keluarga Mbak Giacinta Canggih Ayuningati. Bertempat di hunian asri Perum Ambara Citra, Prambanan, berkumpullah umat dari Lingkungan Santo Stefanus untuk menyatukan doa dalam ibadat pemberkatan rumah.

Ibadat yang berlangsung khidmat ini dipimpin oleh Bapak Prodiakon Ignatius Sunaryo. Dalam suasana kekeluargaan, umat yang hadir tampak antusias mengikuti setiap rangkaian doa dan nyanyian pujian. Cahaya lilin yang berpijar di atas meja altar sederhana menjadi simbol kehadiran Kristus yang menerangi setiap sudut ruangan.

Dalam renungannya, Bapak Ignatius Sunaryo menekankan pentingnya menjadikan rumah bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah “Gereja Kecil” di mana kasih dan kedamaian Tuhan senantiasa bertahta bagi setiap orang yang tinggal di dalamnya maupun tamu yang datang berkunjung.

Kebersamaan Umat

Kehadiran umat Lingkungan Santo Stefanus menunjukkan eratnya tali persaudaraan (paguyuban) antarwarga. Dengan membawa buku doa dan teks nyanyian, umat turut mendoakan agar Mbak Giacinta beserta keluarga senantiasa dilindungi, diberkati kesehatan, dan dilimpahi rezeki dalam menempati rumah baru ini.

Acara diakhiri dengan percikan air suci ke seluruh ruangan sebagai simbol penyucian dan penyerahan hunian ini ke dalam perlindungan Tuhan.


“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)

Semoga kediaman Mbak Giacinta di Perum Ambara Citra menjadi tempat yang penuh berkat dan membawa sukacita bagi lingkungan sekitar.

Tugas Tata Laksana & Among Tamu

Lingkungan Santo Stefanus – Minggu Biasa V

Pada perayaan Ekaristi Minggu Biasa ke-5 ini, Lingkungan Santo Stefanus mendapat kepercayaan untuk melayani sebagai petugas Tata Laksana dan Among Tamu. Semangat pelayanan diwujudkan dengan kehadiran para petugas 30 menit sebelum misa dimulai, menyambut umat di pintu masuk dengan senyum, sapa, dan salam, serta membantu mengarahkan umat ke tempat duduk yang masih tersedia guna menjaga ketertiban liturgi.

Selama perayaan, tim Tata Laksana Lingkungan Santo Stefanus bersiaga menjaga kekhidmatan di dalam gereja. Selanjutnya, tugas pelayanan dilanjutkan dengan kolektan, di mana petugas mengedarkan kantong kolekte dengan tertib .

Seluruh rangkaian tugas ditutup dengan penghitungan kolekte bersama. Perhitungan ini dilakukan dengan cermat dan teliti guna memastikan keakuratan jumlahnya, sebelum hasilnya kemudian dicatat dan dilaporkan secara resmi kepada bendahara gereja untuk dikelola sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan gereja, serta mendukung karya pelayanan gereja. Semoga pelayanan dari Lingkungan Santo Stefanus ini menjadi wujud nyata persekutuan yang hidup dan berkenan di hadapan-Nya.

“Pelayanan adalah bentuk syukur yang paling tulus.”

Misa Memule: Mengenang 2 Tahun Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono

Selasa, 20 Januari 2026 – Suasana khidmat dan penuh doa menyelimuti kediaman keluarga almarhumah Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono saat umat berkumpul untuk merayakan Misa Ekaristi peringatan 2 tahun berpulangnya beliau ke rumah Bapa.

Ekaristi yang Penuh Harapan

Misa kudus dipimpin oleh Romo Yos Bintoro, Pr. Dalam homilinya, Romo Yos mengingatkan kembali akan janji keselamatan Kristus. Suasana doa berlangsung begitu tenang, membawa pesan mendalam tentang harapan Kristiani: bahwa wafat bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pintu menuju kehidupan kekal yang penuh sukacita bersama Tuhan di surga. Romo Yos juga menyampaikan pesan bahwa hidup ini adalah kesempatan untuk melayani Tuhan dan sesama, maka dari itu kita diingatkan kembali untuk mempergunakan hidup kita dengan sebaik-baiknya dalam mempersiapkan kehidupan abadi bersma Tuhan.

Kehadiran umat dari Lingkungan St. Stefanus dan Lingkungan St. Gregorius memberikan warna tersendiri. Partisipasi dari dua lingkungan ini menjadi bukti nyata kuatnya tali persaudaraan antarumat beriman. Bersama-sama, seluruh umat yang hadir melambungkan doa permohonan agar jiwa Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono diterima dengan penuh cinta dalam kerahiman Allah yang tak terbatas.

Wujud Solidaritas dan Penguatan Iman

Setelah perayaan Ekaristi usai, pihak keluarga menyampaikan ucapan terima kasih yang mendalam kepada seluruh umat yang hadir. Dukungan doa dan kehadiran fisik dari para tetangga serta sahabat sejak masa duka hingga peringatan 1000 hari ini menjadi kekuatan luar biasa bagi keluarga yang ditinggalkan.

Solidaritas yang ditunjukkan malam itu tidak hanya sekadar tradisi, tetapi menjadi momen yang memperteguh iman dan mempererat ikatan persaudaraan dalam komunitas lingkungan. Kehadiran umat menjadi saksi bahwa dalam duka maupun syukur, gereja adalah sebuah keluarga yang saling menguatkan.

Doa yang Menghangatkan Hati

Perayaan malam itu berakhir dengan kehangatan yang meresap ke dalam hati. Sebuah ungkapan cinta, doa, dan pengharapan yang tulus telah dihantarkan. Semoga segala amal kasih almarhumah semasa hidup menjadi persembahan yang harum di hadapan-Nya.

“Berbahagialah orang yang mati dalam Tuhan, karena mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, sebab segala perbuatan mereka menyertai mereka.”

Semoga jiwa Ibu Elisabeth Soeryaningsih Soesono beristirahat dalam damai Tuhan yang abadi. Amin.

Rapat Program Kerja Lingkungan St. Stefanus Tahun 2026

Maguwo, 23 Januari 2026 – Melanjutkan semangat baru pasca serah terima jabatan, pengurus dan tokoh umat Lingkungan St. Stefanus berkumpul di kediaman Ketua Lingkungan yang baru, Bapak Paulus Wardana. Pertemuan ini menjadi momentum bagi lingkungan untuk merumuskan arah pelayanan selama satu tahun ke depan melalui Rapat Penyusunan Program Kerja.

Sinergi dengan Program Paroki

Fokus utama dalam rapat ini adalah menyelaraskan gerak langkah lingkungan dengan kalender kegiatan yang telah ditetapkan oleh Gereja Pusat/Paroki. Bapak Paulus Wardana menekankan bahwa sebagai bagian dari tubuh gereja, Lingkungan St. Stefanus berkomitmen untuk menyukseskan program-program besar paroki, baik di bidang liturgi, kemasyarakatan, maupun pewartaan.

Poin-Poin Utama Rapat

Dalam suasana yang penuh keakraban namun tetap produktif, rapat tersebut membahas beberapa agenda penting, antara lain:

  • Integrasi Agenda Gereja: Menjadwalkan partisipasi lingkungan dalam hari-hari besar gerejawi dan kegiatan rutin paroki sepanjang tahun 2026.
  • Perencanaan Kegiatan Lokal: Menyusun detail teknis untuk kegiatan internal lingkungan seperti pertemuan doa berkala, pendalaman iman, dan aksi sosial.
  • Alokasi Sumber Daya: Memastikan kesiapan petugas dan dukungan sarana dan prasarana agar setiap program dapat berjalan dengan lancar dan melibatkan sebanyak mungkin warga.

Membangun Partisipasi Umat

kegiatan ini mengajak seluruh umat untuk aktif berkontribusi, baik dalam pemikiran maupun pelaksanaan, agar Lingkungan St. Stefanus semakin hidup dan guyub.


“Program kerja ini adalah peta jalan kita dalam melayani. Dengan dasar ketaatan pada gereja dan semangat gotong royong, mari kita jadikan tahun 2026 ini sebagai tahun yang penuh berkah bagi seluruh warga St. Stefanus.”


Satu Hati, Satu Langkah dalam Pelayanan.