BKSN III&IV Lingkungan St. Yohanes Pembaptis

BKSN (Bulan Kitab Suci Nasional) selalu menjadi momen yang indah bagi umat Katolik untuk kembali merenungkan betapa berharganya Sabda Allah dalam hidup sehari-hari. Sabda yang kita dengarkan bukan sekadar cerita dari masa lalu, melainkan sungguh-sungguh hidup, berbicara, dan menuntun kita di masa kini. Pada minggu ke-3 dan ke-4, tema yang kita renungkan mengarah kepada relasi kita dengan keluarga serta relasi kita dengan Allah. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan, karena keluarga adalah anugerah Allah, dan Allah adalah sumber kasih yang menopang setiap keluarga.

Keluarga adalah tempat pertama di mana kita belajar tentang arti kasih, pengorbanan, dan kesetiaan. Dari ayah, ibu, dan saudara, kita mengenal apa itu perhatian, kebersamaan, dan tanggung jawab. Keluarga adalah sekolah kehidupan, tempat di mana nilai-nilai iman diajarkan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi melalui teladan nyata.

Namun, kita juga tidak menutup mata bahwa dalam keluarga sering muncul konflik, perbedaan pendapat, bahkan kekecewaan. Ada saatnya kita merasa tidak dipahami, atau justru kita sendiri gagal memahami orang lain dalam keluarga. Di sinilah Sabda Tuhan mengajak kita untuk terus membangun kasih dan pengampunan. Kasih dalam keluarga bukanlah kasih yang instan, melainkan kasih yang diperjuangkan, dipelihara, dan diperbarui setiap hari.

Yesus sendiri menunjukkan betapa pentingnya keluarga. Ia tumbuh dalam keluarga Nazaret yang sederhana, di mana Yusuf dan Maria menjadi teladan iman, ketaatan, dan kasih. Kehidupan Yesus bersama keluarganya menjadi gambaran bagaimana keluarga yang dipenuhi kasih Allah akan melahirkan buah-buah kebaikan. Maka, ketika kita berusaha membangun keluarga yang penuh cinta, kita sesungguhnya sedang menghadirkan wajah Allah di dunia. Keluarga yang rukun, saling mendukung, dan menghidupi nilai iman akan menjadi bukti nyata bagi orang lain tentang kasih Allah yang hidup.Namun, hubungan kita tidak berhenti hanya pada lingkup keluarga.

Relasi dengan Allah adalah dasar dan kekuatan bagi segalanya. Kita bisa memiliki keluarga yang hangat, damai, dan penuh cinta, hanya jika kita terlebih dahulu berakar dalam kasih Allah. Relasi dengan Allah terjalin dalam doa pribadi, doa bersama keluarga, perayaan Ekaristi, dan keterbukaan hati terhadap Sabda-Nya. Allah bukanlah sosok yang jauh dan menakutkan, melainkan Bapa yang penuh kasih, yang selalu menyertai dan mendengarkan kita. Ketika kita memberi waktu untuk berdoa dan merenungkan firman, kita sesungguhnya sedang memperbarui ikatan cinta kita dengan Allah.Relasi dengan Allah juga mengajarkan kita untuk berserah dan percaya.

Dalam hidup, kita sering dihadapkan pada rencana yang tidak sesuai dengan kehendak kita. Ada kegagalan, sakit hati, atau jalan yang terasa buntu. Namun, ketika kita memiliki hubungan yang erat dengan Allah, kita belajar untuk percaya bahwa segala sesuatu terjadi dalam rencana-Nya yang penuh kasih. Dalam keheningan doa, kita menemukan kekuatan untuk tetap melangkah, sekalipun jalan hidup terasa berat.


Posted in Berita Terkini, Lingkungan, Lingkungan YP, Wilayah, Wilayah Ignatius Loyola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *