PELATIHAN AKBAR(SCRIPT WRITING VIDEOGRAPHY) 12-13 juli 2025 di Wisma Salam

Membangun Kreativitas Sinematik di Wisma SalamWisma Salam, 12–13 Juli 2025 — Sebanyak 40 peserta dari berbagai latar belakang mengikuti Pelatihan Akbar Script Writing & Videography yang diselenggarakan selama dua hari penuh di Wisma Salam. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas peserta dalam penulisan naskah (script writing) dan keterampilan videografi, dua elemen penting dalam produksi konten kreatif dan sinema digital masa kini.

Acara pelatihan ini menjadi momen penting untuk menyatukan para pegiat kreatif, pelajar, guru, dan praktisi media dalam sebuah ruang belajar kolaboratif yang interaktif. Pelatihan difasilitasi oleh para profesional di bidangnya, yang menghadirkan materi komprehensif mulai dari dasar-dasar penulisan skenario, struktur tiga babak, hingga teknik pengambilan gambar, penyutradaraan, dan editing video. Hari pertama pelatihan difokuskan pada Script Writing, di mana peserta diajak untuk memahami pentingnya narasi yang kuat dalam sebuah karya audio-visual. Melalui latihan langsung, peserta menulis skenario pendek yang nantinya dijadikan acuan produksi pada hari berikutnya. Suasana pelatihan berlangsung dinamis, dengan diskusi kelompok dan sesi umpan balik dari fasilitator.

Hari kedua berlanjut dengan pelatihan videografi, di mana peserta dibagi ke dalam tim produksi kecil. Mereka mempraktikkan proses produksi dari skrip yang telah dibuat—mulai dari pemilihan angle kamera, pengaturan pencahayaan, pengambilan suara, hingga proses editing dasar. Hasil akhir berupa video pendek dipresentasikan di sesi penutupan, yang disambut antusias dan penuh apresiasi. Kegiatan ini tidak hanya memperkuat keterampilan teknis, tetapi juga mempererat jaringan antar peserta. Dalam refleksi penutupan, banyak peserta mengungkapkan bahwa pelatihan ini menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, bermanfaat, dan memotivasi mereka untuk terus berkarya di bidang media kreatif. Panitia berharap, dari pelatihan ini akan lahir banyak karya inspiratif dan kolaborasi-kolaborasi baru yang berdampak positif bagi masyarakat.

Yustina Munarti: “More than words, She proclaims life “

“More than words, she proclaims life.”Her name may not often be heard from the pulpit or in the media, but to many children and parishioners in her community, she is deeply significant. Yustina Munarti, a humble 73-year-old woman, has made her life a true offering to God—through quiet yet profound work: her ministry as a catechist.

Her journey of faith began in 1968, when she wholeheartedly received the Sacrament of Baptism and embraced the Catholic faith. From that moment, seeds of love for God and others began to grow within her, slowly but surely taking root in every step of her life.

In March 1980, at the young age of 27, she experienced a stirring in her heart. She witnessed a reality that deeply moved her: children in her neighborhood wandering aimlessly, without spiritual guidance, without anyone to accompany them in faith. It was a scene that many might consider ordinary—but not Yustina. To her, it was God speaking through the restlessness in her heart.

Encouraged by her own child, she decided to step into the Lord’s vineyard and become a catechist. She didn’t just want to teach—she wanted to accompany, to live the faith, and to proclaim God’s love in its most tangible form: presence.

Being a catechist has never been an easy path. Challenges and hardships came and went. Not every child was easy to reach, not every parent was supportive, and not every environment was encouraging. But for Yustina, these were not stumbling blocks—they were stepping stones to rely more fully on God. She learned that every soul touched by Christ’s love—even just one—is a great victory in her ministry.

Her joy cannot be measured in words. She feels her life has been enriched through simple yet meaningful experiences: seeing the children she once guided grow into people of faith, with some even continuing in her footsteps of service.

The days continue to pass, yet her spirit never fades. At the age of 73, Yustina remains present—with her smile, her laughter, and her burning passion. She is a living testament that ministry is not about age, but about love—love that asks for nothing in return, only to give, give, and keep giving.

“I will offer this life in the Lord’s vineyard,” she declares firmly. And it’s more than just words—that’s exactly what she has lived for decades, through her faithfulness, sincerity, and humility. She has not only taught the faith through words, but lived it with her whole being.Because for her, proclaiming the Gospel is not merely about teaching. It is a way of life.


Yustina Munarti: “Lebih dari kata, Ia mewartakan hidup”

“Lebih dari kata, ia mewartakan hidup.”Nama itu mungkin tak sering terdengar dari mimbar atau media, namun bagi banyak anak dan umat di komunitasnya, sosoknya begitu berarti. Yustina Munarti, seorang perempuan sederhana berusia 73 tahun, telah menjadikan hidupnya persembahan sejati bagi Tuhan—melalui karya sunyi, namun mendalam: pelayanan sebagai katekis.

Perjalanan imannya dimulai pada tahun 1968, saat ia dengan sepenuh hati menerima Sakramen Baptis dan memeluk iman Katolik. Dari situ, benih kasih kepada Tuhan dan sesama mulai tumbuh dalam dirinya, perlahan tapi pasti mengakar kuat dalam setiap langkah hidupnya.

Pada Maret 1980, di usia yang masih muda—27 tahun—sebuah panggilan batin mengetuk hatinya. Ia melihat kenyataan yang menyentuh nuraninya: anak-anak di lingkungan tempat tinggalnya berkeliaran tanpa tujuan, tanpa pendamping rohani, tanpa bimbingan iman. Suatu pemandangan yang bagi banyak orang mungkin dianggap biasa, namun tidak bagi Yustina. Di sanalah ia merasa bahwa Tuhan sedang berbicara melalui kegelisahan hatinya.

Dengan dorongan dari anaknya sendiri, ia memutuskan melangkah ke ladang Tuhan, menjadi seorang katekis. Ia bukan hanya ingin mengajar, tetapi lebih dari itu—ia ingin mendampingi, menghidupi iman, dan mewartakan kasih Allah dalam bentuk paling nyata: kehadiran.

Menjadi katekis bukanlah jalan yang selalu mudah. Duka dan tantangan silih berganti. Tidak semua anak mudah disentuh hatinya, tidak semua orang tua peduli, dan tidak semua lingkungan mendukung. Namun bagi Ibu Yustina, semua itu bukan batu sandungan, melainkan batu loncatan untuk semakin mengandalkan Tuhan. Ia belajar bahwa setiap jiwa yang disentuh oleh kasih Kristus—meski hanya satu—adalah kemenangan besar dalam pelayanan.

Sukacitanya pun tak dapat diukur dengan kata. Ia merasa hidupnya diperkaya oleh pengalaman-pengalaman sederhana namun penuh makna: melihat anak-anak yang dulu ia bimbing kini tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang beriman, bahkan ada yang meneruskan jejak pelayanannya.

Hari-hari pun terus berlalu, namun semangatnya tak pernah padam. Di usianya yang ke-73, Ibu Yustina tetap hadir dengan senyum, tawa, dan semangat yang membara. Ia adalah gambaran nyata bahwa pelayanan bukan soal usia, melainkan soal cinta—cinta yang tak pernah menuntut balasan, hanya memberi, memberi, dan terus memberi.

Saya akan mempersembahkan hidup ini di ladang Tuhan,” tuturnya dengan mantap. Dan bukan hanya perkataan belaka—itulah yang selama puluhan tahun telah ia wujudkan, lewat kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati. Ia bukan hanya mengajarkan iman dengan kata-kata, tetapi menghidupinya dengan seluruh dirinya.Karena baginya, mewartakan Injil bukan semata soal pengajaran. Itu adalah cara hidup.

“Pertemuan Prodiakon: Menguatkan Semangat, Meneguhkan Panggilan”

Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Hari ini, Minggu 6 Juli 2025, Gazebo Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo menjadi tempat yang penuh kehangatan dan semangat pelayanan, saat para prodiakon mengadakan pertemuan rutin bulanan. Pertemuan ini menjadi momen penting untuk memperkuat koordinasi, merefleksikan pelayanan yang telah berjalan, dan menyusun langkah-langkah ke depan demi pelayanan yang lebih mantap.

Pertemuan dipimpin langsung oleh Koordinator Prodiakon Stasi, Bapak Ignatius Sunaryo, dan dihadiri oleh 18 prodiakon serta 4 suster yang ikut hadir dan memberikan dukungan rohani dalam suasana persaudaraan dan kebersamaan yang akrab.

Agenda utama mencakup:
Evaluasi tugas-tugas pelayanan prodiakon, baik dalam pelayanan liturgi, kunjungan umat, maupun pelayanan komuni,
Pembahasan program kerja ke depan, dengan fokus pada efektivitas, semangat melayani, dan peningkatan kualitas koordinasi.

Dari diskusi yang terbuka dan penuh semangat, lahirlah berbagai masukan serta peneguhan yang membangun. Hasilnya, program kerja yang disusun menjadi lebih matang dan terarah, serta tekad bersama untuk menjadikan pelayanan prodiakon di Stasi Maguwo semakin kuat, terstruktur, dan penuh kasih.

Semoga pertemuan hari ini menjadi penguat semangat dan kesetiaan dalam pelayanan, serta menjadi wujud nyata dari iman yang bekerja dalam kasih.


St. Mary Mother of God Station, Maguwo

Today, Sunday, July 6, 2025, the gazebo of St. Mary Mother of God Church in Maguwo served as a peaceful and spirit-filled setting for the monthly meeting of Eucharistic Ministers—a moment to reflect, coordinate, and renew their commitment to ministry.

The meeting was led by Mr. Ignatius Sunaryo, Coordinator of the Eucharistic Ministers, and was attended by 18 lay ministers and 4 religious sisters who came to offer support and spiritual presence in a warm, fraternal atmosphere.

The meeting covered two key areas:
Evaluation of recent ministerial duties, including liturgical service, communion distribution, and pastoral visits,
Discussion of future work plans, focused on improving effectiveness, nurturing the heart of service, and building stronger coordination.

Open dialogue and shared reflection led to a clearer, more focused plan for upcoming activities. The group agreed to move forward with renewed spirit—committed to making the ministry in Maguwo more organized, intentional, and filled with compassion.

May today’s gathering strengthen not only the coordination of tasks, but also the spiritual bonds among all who serve—so that their ministry may truly reflect the love and light of Christ.

“A Step Toward the Future: The Maguwo Church Masterplan Submitted to the Archdiocese”

With gratitude and hope, the Masterplan for the Development of Santa Maria Bunda Allah Church in Maguwo has entered a significant phase: the preparation of an official proposal together with our parish priest, as part of the submission to the Archdiocese of Semarang.

This step marks a new chapter in our long journey as a faith community—one that seeks not only to build a better physical space, but also to reflect our identity as believers, our spirit of unity, and our long-term pastoral vision.

This is more than a construction project. It is the realization of our shared longing for a church that is more alive, more open, and filled with the joy of God’s presence. Behind every line on the blueprint lies a great hope: that our community may continue to grow in fellowship and service.

We extend our deepest thanks to the planning team, our parish leaders, and all members of the community who have offered prayers and support. Please continue to pray with us, that the preparation and approval process may go smoothly, wisely, and in accordance with God’s will.

Together, we are building—not just a church—but the future of our faith.


Dengan penuh syukur dan harapan, Masterplan Pengembangan Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo kini memasuki tahap penting: proses penyusunan proposal resmi bersama Romo Paroki, sebagai bagian dari pengajuan ke Keuskupan Agung Semarang.

Langkah ini menjadi babak baru dalam perjalanan panjang umat Maguwo untuk mewujudkan sebuah tempat ibadah yang tidak hanya layak secara fisik, tetapi juga mampu mencerminkan jati diri iman, semangat kebersamaan, dan visi pastoral jangka panjang.

Perjalanan ini bukan sekadar proyek bangunan, melainkan wujud nyata dari kerinduan umat untuk memiliki rumah Tuhan yang lebih hidup, terbuka, dan membawa sukacita bagi semua. Di balik garis-garis rancangan dan gambar denah, tersimpan harapan besar akan tumbuhnya komunitas yang semakin kokoh dalam persekutuan dan pelayanan.

Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan umat, tim perencana, dan para pendamping yang setia mengawal proses ini. Kami mohon doa dan restu agar penyusunan proposal ini dapat berjalan lancar, penuh hikmat, dan selaras dengan kehendak Tuhan.

Bersama kita membangun, bukan hanya gereja—tetapi masa depan iman.

LKTD OMK dan RBM Stasi St Maria Bunda Allah Maguwo dengan tema “BERTUMBUH DALAM IMAN, BERSUKACITA DALAM PELAYANAN”

Kaliurang, 28 Juni 2025 – Dalam rangka membentuk pribadi muda Katolik yang berjiwa pemimpin dan penuh semangat pelayanan, OMK (Orang Muda Katolik) dan RBM (Remaja Bina Iman) Stasi Santa Maria Buda Allah Maguwo menyelenggarakan Latihan Kepemimpinan Tingkat Dasar (LKTD) selama dua hari, pada Jumat dan Sabtu, 27–28 Juni 2025.

Kegiatan ini mengusung tema “Bertumbuh dalam Iman, Bersukacita dalam Pelayanan”, dan diikuti oleh 69 peserta dari kalangan remaja dan OMK. Pembinaan dalam Kebersamaan LKTD tahun ini menjadi wadah penting untuk membina semangat kepemimpinan Kristiani, mempererat persaudaraan, dan menggugah kesadaran para peserta akan peran mereka dalam kehidupan menggereja dan bermasyarakat.

Melalui beragam sesi yang dikemas secara kreatif dan menyenangkan, peserta diajak untuk mengenal jati diri, memperdalam iman, serta melatih kemampuan bekerja sama dan mengambil tanggung jawab.Hari pertama kegiatan diawali dengan sesi pengantar mengenai dasar-dasar kepemimpinan Katolik dan dinamika kelompok. Para peserta juga mengikuti sesi reflektif mengenai iman dan panggilan pelayanan. Suasana kekeluargaan dan spiritualitas yang hangat turut dirasakan dalam renungan malam dan doa bersama, yang memberi ruang untuk perenungan pribadi di hadapan Tuhan.Pelayanan Sebagai SukacitaHari kedua diisi dengan kegiatan latihan kepemimpinan interaktif, teamwork challenge, diskusi kelompok, serta penyampaian materi tentang pelayanan di lingkungan gereja. Dalam sesi tersebut, peserta diajak untuk memahami bahwa menjadi pemimpin bukan sekadar jabatan, tetapi lebih sebagai panggilan untuk melayani dengan sukacita dan ketulusan hati.Kegiatan ditutup dengan misa syukur, sebagai ungkapan syukur atas penyertaan Tuhan selama dua hari kegiatan berlangsung.

Peserta tampak antusias dan membawa pulang semangat baru untuk terus bertumbuh dalam iman serta terlibat aktif dalam berbagai kegiatan pelayanan di stasi maupun lingkungan masing-masing. Menjadi generasi muda yang siap melayani melalui kegiatan LKTD ini, OMK dan RBM Stasi Maguwoharjo menegaskan komitmennya dalam membina generasi muda Katolik yang tidak hanya cerdas dan aktif, tetapi juga berakar kuat dalam iman dan siap menjadi pelayan-pelayan yang penuh kasih. “Kami berharap setelah mengikuti LKTD ini, para peserta semakin percaya diri, memiliki semangat kebersamaan, dan menjadikan pelayanan sebagai bagian dari gaya hidup Kristiani mereka,” ungkap salah satu panitia kegiatan. Dengan semangat “Bertumbuh dalam Iman, Bersukacita dalam Pelayanan”, para peserta diharapkan menjadi agen perubahan positif di tengah komunitas, menjadi terang dan garam dunia, serta menjadi teladan dalam tindakan nyata di lingkungan Gereja dan masyarakat.

link foto :

https://drive.google.com/drive/folders/1AlOP7JqDG2jaWsP8BkhAcIV9EAOnOYtQ

Martinus Ervin Andres Rinaldi: The Young Architect Behind the Masterplan of St. Mary Mother of God Church, Maguwo

Martinus Ervin Andres Rinaldi was born in Sleman, on September 21, 1995. Raised in a Catholic family rooted in simplicity, faith, and integrity, Ervin grew up in an environment where values like responsibility, service, and devotion were instilled early. From a young age, he showed an innate interest in structures and design—keenly observing spaces and sketching alternative layouts from his imagination.

He began his formal education at Kanisius Kalasan Junior High School, a school well-known for nurturing character and promoting Ignatian values. This foundation shaped his intellectual curiosity and social awareness. His passion for the built environment deepened during his time at STM Pembangunan Yogyakarta (now SMK Negeri 2 Depok), where he developed essential technical skills in construction and building design.

His path became clearer when he was admitted to the Faculty of Engineering, Architecture Department at Atma Jaya Yogyakarta University, class of 2016. During his university years, Ervin was known not only for his diligence and creativity but also for his reflective approach to architecture. To him, design is not just about aesthetics or structure—it’s about the soul of a space, the relationship between place and people, form and meaning.

As the masterplan designer for St. Mary Mother of God Church in Maguwo, Ervin was entrusted with a significant mission: to design not only a physical structure but to articulate the identity and pastoral direction of a living faith community. He approached the task with humility and depth—listening to the needs of the faithful, studying the church’s history, observing the social and environmental context, and aligning the design with the spirit of Catholic liturgy.

In his masterplan, Ervin envisioned a sacred space that harmonizes with nature and community. The spatial arrangement considers liturgical flow, natural lighting, accessibility, and movement of the congregation. He also designed supporting facilities to encourage pastoral outreach, faith education, and communal interaction. All elements are grounded in one essential principle: a church is not merely a place of prayer, but a shared home shaped and enlivened by its people.

Ervin’s design style can be described as modest yet meaningful. He avoids excessive visual grandeur, instead favoring simplicity imbued with depth and purpose. His work reflects clean geometry, inclusive spatial planning, and the thoughtful use of local materials. He skillfully incorporates symbolic elements of the Catholic faith—such as the cross, light, and altar orientation—into a design that feels both contemporary and sacred.

His involvement in this project goes beyond professional duty. Ervin is a man of faith, and for him, designing a church is a spiritual journey—one that demands prayer, reflection, and sincere dialogue. He does not design from ego, but from a heart that seeks to serve and glorify God through his talents.

Through his dedication and thoughtful design, St. Mary Mother of God Church in Maguwo will stand not only as an impressive architectural structure, but more importantly as a spiritual home—a place that gathers, nurtures, and sends forth the faithful into the world.

Martinus Ervin Andres Rinaldi is a shining example of today’s Catholic youth: talented, principled, and spiritually grounded. Through his hands and heart, he has helped shape a space where heaven touches earth, where community finds its soul, and where faith takes form in brick and light.



Martinus Ervin Andres Rinaldi: Arsitek Muda di Balik Masterplan Gereja St. Maria Bunda Allah Stasi Maguwo

Martinus Ervin Andres Rinaldi lahir di Sleman, 21 September 1995. Ia tumbuh besar dalam lingkungan keluarga Katolik yang sederhana namun penuh nilai, di mana iman, tanggung jawab, dan kepedulian sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sejak usia muda, Ervin menunjukkan minat pada dunia visual dan bentuk. Ia senang mengamati bangunan, menggambar denah, dan membayangkan ulang ruang-ruang hidup dalam perspektifnya sendiri.

Perjalanan pendidikannya dimulai dari SMP Kanisius Kalasan, sekolah yang dikenal dengan nilai-nilai pendidikan karakter dan pembentukan kepribadian. Di sinilah benih semangat intelektual dan kepedulian sosialnya mulai tumbuh. Ia kemudian melanjutkan ke STM Pembangunan Yogyakarta—kini dikenal sebagai SMK Negeri 2 Depok—dan mulai mendalami dunia teknik bangunan secara lebih spesifik. Di sini, minatnya terhadap desain bangunan semakin menguat, dan keahliannya mulai terasah secara teknis.

Langkahnya semakin mantap saat ia diterima di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta, angkatan 2016. Selama masa kuliah, Ervin dikenal sebagai mahasiswa yang tidak hanya tekun dan kreatif, tetapi juga reflektif dalam memaknai ruang dan desain. Baginya, arsitektur bukan sekadar estetika atau struktur fisik, tetapi juga tentang jiwa dari sebuah tempat—tentang relasi antara ruang dan manusia, antara bentuk dan makna.

Sebagai desainer masterplan Gereja Santa Maria Bunda Allah di Maguwo, Ervin diamanahi sebuah tanggung jawab besar—merancang bukan hanya fisik bangunan, tetapi juga merumuskan identitas dan arah pastoral sebuah komunitas umat. Ia memulai proses ini dengan pendekatan mendalam: mendengarkan kebutuhan umat, memahami sejarah gereja, memperhatikan dinamika lingkungan, hingga menyelaraskan desain dengan semangat liturgi Katolik.

Dalam masterplan rancangannya, Ervin menghadirkan ruang ibadat yang menyatu dengan alam dan komunitas. Penataan ruang memperhatikan sirkulasi umat, tata letak liturgis, pencahayaan alami, dan aksesibilitas untuk semua kalangan. Ia juga merancang area penunjang yang mendukung kegiatan pastoral, pendidikan iman, dan interaksi sosial. Seluruh konsep berpijak pada prinsip bahwa gereja bukan hanya tempat berdoa, tetapi rumah bersama yang membentuk dan dihidupi oleh umat.

Gaya desain Ervin dapat dikatakan bersahaja namun bernas. Ia tidak mengejar kemewahan visual, tetapi lebih memilih kesederhanaan yang mendalam dan kuat secara makna. Material lokal, bentuk geometris yang bersih, dan tata ruang yang inklusif menjadi ciri khasnya. Ia juga piawai dalam memadukan elemen-elemen simbolik iman Katolik—seperti salib, cahaya, dan orientasi altar—dalam rancangan yang modern namun tetap sakral.

Keterlibatan Ervin dalam proyek ini bukan semata-mata sebagai seorang profesional, melainkan juga sebagai pribadi beriman yang ingin mempersembahkan karya terbaiknya bagi Tuhan dan Gereja. Bagi Ervin, merancang gereja adalah proses spiritual yang menuntut doa, refleksi, dan dialog yang tulus. Ia tidak datang dengan ego desain, melainkan dengan kerendahan hati dan semangat melayani.

Dengan segala pemikiran dan ketekunan yang ia curahkan, Gereja Santa Maria Bunda Allah Stasi Maguwo tidak hanya akan menjadi bangunan megah yang berdiri secara fisik, tetapi menjadi rumah rohani yang menyatukan umat, menumbuhkan iman, dan mengutus setiap orang untuk membawa terang Kristus dalam kehidupan nyata.

Martinus Ervin Andres Rinaldi adalah sosok arsitek muda yang merepresentasikan generasi Katolik masa kini: berintegritas, berbakat, dan berspiritualitas mendalam. Melalui karyanya, ia telah menorehkan sejarah, tidak hanya di atas kertas gambar, tetapi dalam hidup umat dan dalam perjalanan iman sebuah komunitas.

GMBA Maguwo Ikut Meriahkan Perayaan HUT ke-85 Keuskupan Agung Semarang di Stadion Jatidiri

Semarang, 29 Juni 2025 — Stadion Jatidiri Semarang menjadi saksi sukacita besar umat Katolik dalam perayaan puncak Hari Ulang Tahun (HUT) ke-85 Keuskupan Agung Semarang (KAS), Minggu (29/6). Acara yang mengusung tema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkat” ini dihadiri oleh sekitar 30.000 umat dari seluruh penjuru Kevikepan, paroki, dan stasi. Tak ketinggalan, Gereja Maria Bunda Allah (GMBA) Maguwo turut mengambil bagian dalam perayaan akbar ini dengan mengirimkan 50 umat sebagai delegasi. Rombongan GMBA Maguwo berangkat dari Maguwoharjo pukul 10.00 WIB dan tiba di lokasi sekitar pukul 14.30 WIB.

Perwakilan Stasi GMBA Maguwo goes to Semarang

Semarak Penyambutan dan Hiburan Rohani

Sesampainya di stadion, suasana meriah langsung menyambut rombongan. Berbagai penampilan seni dari umat Katolik mewarnai panggung, mulai dari nyanyian, tarian, hingga drama monolog yang mencerminkan dinamika iman dan perjalanan gereja. Penampilan dr. Edward Tirtananda Wikanta, M.Biomed., juara 1 Lomba Cipta Lagu Rohani Pesparani LP3KD, memukau umat dengan lagu rohani ciptaannya yang penuh makna. Sebelumnya, artis Katolik Lisa A. Riyanto tampil menyanyikan lagu-lagu rohani yang semakin membangun suasana iman menjelang acara utama.

Arak-arakan Iman yang Menggugah

Pukul 15.30 WIB, arak-arakan akbar dilangsungkan. Barisan arak-arakan terdiri dari perwakilan TNI, Polri, seluruh Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang, instansi pendidikan Katolik, rumah sakit Katolik, serta para biarawan dan biarawati. Perwakilan panji-panji dari berbagai paroki turut memeriahkan perarakan ini. Dari GMBA Maguwo, Davina & Valen (OMK) mendapat kehormatan membawa panji Stasi Maguwo dalam barisan.

Perarakan yang semarak

Arak-arakan ini bukan sekadar tradisi, namun lambang nyata persatuan Gereja dalam keberagaman pelayanan.

Sambutan Pemimpin Gereja dan Pemerintahan

Usai perarakan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari sejumlah tokoh penting. Ketua panitia, Pak Riyanto, menyampaikan apresiasi atas keterlibatan ribuan umat dan semua pihak yang mendukung kelancaran acara. Sambutan berikutnya datang dari Plt. Gubernur Jawa Tengah yang menekankan nilai kebersamaan lintas iman dan kontribusi Gereja dalam pembangunan masyarakat.

Sambutan Walikota Semarang

Wali Kota Semarang, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, SS., MM, juga hadir dan menyampaikan rasa bangganya atas kiprah Keuskupan Agung Semarang, khususnya dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial.

Simbol Syukur Lewat Tumpeng

Momentum berlanjut dengan potong tumpeng sebagai lambang syukur atas perjalanan panjang Keuskupan Agung Semarang yang telah mencapai usia 85 tahun. Tumpeng dipotong oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, dan secara simbolis diserahkan kepada Plt. Gubernur Jawa Tengah, Plt. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Wali Kota Semarang. Prosesi ini mencerminkan semangat sinergi antara Gereja dan pemerintah dalam melayani masyarakat.

Prosesi Pemotongan Tumpeng

Setelah itu, dilakukan sesi foto bersama yang melibatkan para tokoh penting: Mgr. Rubiyatmoko, Kardinal Ignatius Suharyo, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Uskup Antonius Benjamin dari Keuskupan Bandung, serta para pejabat daerah yang hadir.

Pertunjukan Unik dan Penghargaan Katekis

Rangkaian acara dilanjutkan dengan penampilan story telling yang sangat menarik dari adik Kazio Sunanto, siswa SD Marsudirini BSB. Sebagai juara 1 Lomba Story Telling PIA, Kazio membawakan kisah inspiratif dalam Bahasa Inggris — sebuah penampilan yang menyegarkan dan membanggakan.

Tak lama setelah itu, Rm. Yohanes Gunawan membacakan pengumuman Sarikromo Award, penghargaan bergengsi yang diberikan kepada lima katekis dari lima Kevikepan di Keuskupan Agung Semarang. Para katekis ini dipilih berdasarkan kesetiaan dan dedikasi mereka dalam mewartakan kabar keselamatan sebagai murid-murid Kristus di tengah masyarakat.

Semangat Kaum Muda: Kosmus Karangpanas

Semangat anak-anak muda Gereja tampak dalam penampilan dari Kosmus (Komunitas Seni dan Musik) Karangpanas. Mereka membawakan lagu-lagu rohani secara meriah dan penuh penghayatan. Penampilan ini menjadi lebih istimewa karena mereka adalah peraih Juara 1 Lomba Cover Lagu Madah Bakti dan Kidung Adi. Suara merdu dan aransemen kreatif dari Kosmus menambah warna dalam perayaan iman ini.

Puncak Perayaan: Misa Syukur HUT ke-85 KAS

Tepat pukul 17.30 WIB, Perayaan Ekaristi dimulai. Misa Syukur dipimpin oleh Uskup Agung Semarang, Mgr. Robertus Rubiyatmoko, bersama para uskup dan imam konselebran.

Mgr Rubi memimpin misa

Homili disampaikan oleh Kardinal Ignatius Suharyo. Dalam homilinya, Kardinal menyampaikan pesan yang mendalam tentang pertumbuhan iman dan kesetiaan sebagai murid Kristus.

Ia mengajak umat untuk merenungkan panggilan hidup sebagai Gereja yang terus bertumbuh dalam kasih dan kesetiaan.

“Bertumbuh menuju kesempurnaan kasih, bertumbuh menuju kesempurnaan kesetiaan, semakin serupa sebagai citra Allah,”

tegas Kardinal Suharyo, menyemangati umat agar senantiasa menjadi terang dan garam di dunia.

Homili oleh Kardinal Ign. Suharyo

Ekaristi berlangsung dengan khidmat. Stadion yang biasanya diisi sorak-sorai olahraga, kini menjadi ruang doa yang penuh penghayatan. Ribuan umat mengikuti misa dengan tertib, menciptakan suasana sakral yang menyentuh hati.

Akhir yang Damai dan Merdu

Setelah misa selesai, umat meninggalkan stadion secara tertib dan rapi. Panitia mengatur arus keluar dengan baik, dan suasana tetap kondusif. Sambil menunggu giliran keluar, umat kembali dihibur dengan penampilan spesial dari Siska Saras JKT48 yang membawakan lagu-lagu rohani dengan suara merdu dan penghayatan yang menyentuh. Kehadirannya memberi penutup yang manis dan meneduhkan bagi seluruh rangkaian acara hari itu.

Ucapan HUT dan Penutup

Perayaan HUT ke-85 Keuskupan Agung Semarang ini bukan hanya menjadi peristiwa seremoni, tetapi sebuah kesaksian nyata akan hidupnya Gereja di tengah umat. Bagi GMBA Maguwo, kesempatan hadir dan terlibat dalam momen besar ini menjadi pengalaman iman yang sangat berharga — sebuah ziarah rohani bersama ribuan umat Katolik lainnya.

Dari Maguwo hingga Semarang, dari anak-anak hingga para uskup, semua bersatu dalam semangat ziarah dan pelayanan. Tema “Bersama Berziarah, Berbagi Berkat” sungguh terwujud dalam tindakan nyata sepanjang acara.

Atas nama seluruh umat GMBA Maguwo dan segenap umat Keuskupan Agung Semarang:

Selamat Ulang Tahun ke-85 Keuskupan Agung Semarang!

Semoga senantiasa menjadi Gereja yang bertumbuh dalam kasih, dalam kesetiaan, dan dalam kemuliaan Tuhan.

Ad multos annos!

Foto & video dokumentasi dapat diunduh di link berikut

Download

Sosialisasi TCK Bersama PT BPR Shinta Daya

Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo – Minggu, 15 Juni 2025

Pada hari Minggu, 15 Juni 2025, bertempat di Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, telah dilaksanakan kegiatan Sosialisasi Tabungan Cinta Kasih (TCK) bersama PT BPR Shinta Daya. Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Lingkungan, Pengurus TCK Lingkungan dan Stasi, Kabid Pelayanan Masyarakat, tim sekretaris, serta tim bendahara Stasi Maguwo.

Sesi pertama disampaikan oleh Ibu Lydia dan tim dari PT BPR Shinta Daya. Dalam pemaparannya, dijelaskan secara rinci mengenai arti, maksud, dan tujuan dari program TCK, yakni sebagai wadah untuk membangun semangat gotong royong dan solidaritas dalam mendukung kebutuhan pembangunan gereja melalui simpanan kolektif yang dikelola secara profesional.

Dijelaskan pula bahwa dana setoran TCK akan dimasukkan ke bank dalam bentuk deposito, dengan bunga khusus yang diberikan oleh bank: pada tahun pertama mengikuti suku bunga LPS, dan tahun-tahun berikutnya sebesar 0,5% di bawah suku bunga LPS. Jangka waktu simpanan disesuaikan dengan kesepakatan para peserta.

Sesi berikutnya diisi oleh Ibu Agnes Suratini selaku pengurus TCK Stasi Maguwo. Beliau menjelaskan mekanisme pembagian bunga tabungan untuk periode yang baru saja berakhir, yaitu 60% dialokasikan untuk dana pembangunan stasi dan 40% dibagikan ke lingkungan (dimasukkan ke kas lingkungan) berdasarkan jumlah saham masing-masing. Namun, untuk periode baru, sesuai arahan Romo Dadang dalam misa, seluruh bunga—100%—akan dialokasikan untuk mendukung dana pembangunan gereja. Kesepakatan bersama juga dicapai mengenai jangka waktu simpanan yang ditetapkan selama 24 bulan.

Dalam kesempatan yang sama, Bapak Bagio yang merupakan Kabid Kemasyarakatan juga sekaligus pimpro pembangunan Gereja Santa Maria Bunda Allah turut menegaskan pentingnya dukungan dana melalui program TCK ini. Beliau menyampaikan bahwa Stasi Maguwo saat ini telah memiliki masterplan pengembangan gereja yang tentu memerlukan biaya besar. Oleh karena itu, keputusan untuk mengarahkan seluruh hasil bunga TCK demi pembangunan gereja menjadi langkah strategis yang sangat membantu.

Kegiatan sosialisasi berlangsung lancar dan hangat, diakhiri dengan sesi tanya jawab dan diskusi ringan antar peserta. Semoga semangat kebersamaan dalam membangun rumah Tuhan terus tumbuh dan mengakar dalam hati seluruh umat Stasi Maguwo.

“Refresh Jiwa Lingk. St. Monica” Menyapa Hati, Menyembuhkan Batin, Semangat Menggereja

Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat dan padat, kita kerap tenggelam dalam rutinitas tanpa sempat bertanya: Bagaimana kabar jiwa kita hari ini? Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar lahirnya sebuah kegiatan penuh makna yang diselenggarakan oleh Lingkungan Santa Monica, bertajuk “Refresh Jiwa”, sebuah inisiatif baru yang menghadirkan keheningan, refleksi, dan penyembuhan batin.

Perjalanan Spiritual ke Taman Doa Maria Penolong Abadi

Kegiatan ini berlangsung di Taman Doa Maria Penolong Abadi, yang berlokasi di Stasi Pojok, Paroki St. Petrus–Paulus, Minggir, Klepu. Dikelilingi suasana khas pedesaan yang alami dan tenang, tempat ini menjadi ruang yang tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, dan menyatu dalam keheningan bersama Tuhan.

Taman doa ini tidak hanya menyuguhkan keindahan fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang menyentuh. Pendopo joglo sederhana, tempat berlangsungnya prosesi, disiapkan penuh kasih, dikelilingi alam hijau, diterangi lampu remang-remang, dan ditemani patung Bunda Maria dengan sentuhan budaya Jawa. Semua elemen ini menyatu menciptakan suasana yang intim, penuh damai, dan sangat mendukung pengalaman batin yang mendalam.

Kekuatan Unsur Hypnotherapy dalam Penyembuhan Jiwa

Hal yang menjadikan kegiatan ini unik dan berkesan adalah penggunaan unsur hypnotherapy spiritual, yang dipadukan dengan metode penyembuhan menggunakan energi Ilahi. Melalui bimbingan dan teknik-teknik relaksasi serta pemusatan pikiran, para peserta diajak untuk membuka diri, menerima kasih Tuhan, dan membiarkan setiap luka batin, kekhawatiran, serta beban hidup dipulihkan dalam kehadiran-Nya.

Sekitar 50 umat, dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para lansia, dengan penuh kesadaran dan keterbukaan mengikuti setiap proses. Mereka diajak untuk menyapa jiwa, mengendapkan emosi, menyadari kehadiran Tuhan di balik segala peristiwa hidup. Tidak sedikit peserta yang merasakan ketenangan, kesegaran jiwa, bahkan mengalami momen spiritual yang mendalam.

Diprakarsai oleh Kaum Muda yang Penuh Semangat

Salah satu keistimewaan kegiatan ini adalah keterlibatan kaum muda sebagai motor penggerak utama. Mas Wilfred, Mbak Sulis, dan Mas Vincent tampil sebagai inisiator dan fasilitator utama, dibantu Bapak Lasiman selaku Ketua Lingkungan Monica. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat pelayanan dan inovasi rohani tidak mengenal usia, dan bahwa generasi muda dapat mengambil peran penting dalam membangun kehidupan menggereja yang hidup dan relevan.

Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa gereja bisa hadir dengan cara yang kreatif, menyentuh, dan tetap setia pada nilai-nilai spiritual yang hakiki.

Membangun Komunitas yang Guyub dan Bersemangat

“Refresh Jiwa” tidak hanya memberi pengalaman pribadi yang menguatkan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara umat. Dalam suasana yang akrab, para peserta saling mendukung, berbagi cerita, mendoakan satu sama lain. Kegiatan ini menghidupkan kembali spirit Santa Monica, pelindung lingkungan ini, yang dikenal sebagai sosok ibu penuh kasih, tabah, dan teguh dalam doa demi keselamatan keluarganya.

Melalui kegiatan ini, harapannya umat Lingkungan Monica semakin guyub, solid, dan antusias dalam keterlibatan pastoral, baik di lingkungan maupun di Stasi. Semangat melayani, semangat berbagi, dan semangat memuliakan Tuhan bersama-sama menjadi bekal penting untuk terus membangun Gereja yang hidup dan berakar dalam iman.

“Refresh Jiwa bukan hanya soal rehat sejenak, tapi tentang mendengarkan bisikan jiwa, menyentuh kasih Tuhan, dan pulang dengan semangat baru untuk mencintai lebih sungguh.”

Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk menciptakan ruang-ruang penyembuhan batin yang nyata, sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan rohani umat.

Berkah Dalem

foto lengkap bisa dilihat di link google drive :

https://drive.google.com/drive/folders/1Oltv2L3DEKz55adJK8a9Xtzb4A2vWkyx

Minggu Ceria Bersama PIA St. Angelus: Mengenal Rosario dan Bunda Maria bersama Ibu ibu Stasi Maguwo

Minggu, 8 Juni 2025 – Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo

Minggu pagi biasanya identik dengan suasana santai dan waktu berkualitas bareng keluarga. Tapi kali ini, ada yang spesial banget di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Soalnya, para ibu dari Paguyuban Ibu-Ibu Stasi turun gunung buat nemenin adik-adik PIA St. Angelus dalam kegiatan seru yang penuh makna.

Bertempat di ruang PIA, anak-anak yang biasanya ceria dan aktif kali ini duduk manis (meskipun kadang masih goyang-goyang sedikit mendengarkan cerita seru dari para ibu tentang Rosario dan Bunda Maria. Tapi tenang, ini bukan sesi ceramah yang bikin ngantuk kok. Justru dibawakan dengan gaya yang ringan, hangat, dan penuh kasih sayang. Anak-anak diajak kenalan sama siapa sih Bunda Maria itu, kenapa kita mendoakan Rosario, dan gimana sih cara mendoakannya.

Dengan penuh semangat dan kelembutan khas seorang ibu, mereka membimbing anak-anak untuk mengenal dan mencintai doa Rosario sebagai salah satu bentuk devosi Katolik yang mendalam. Melalui cerita-cerita sederhana, lagu-lagu rohani, serta aktivitas kreatif yang menyenangkan, anak-anak diajak untuk lebih dekat dengan Bunda Maria sebagai teladan iman dan kasih.

Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan rohani anak-anak, tetapi juga mempererat hubungan antar umat lintas generasi. Tampak jelas keceriaan di wajah anak-anak saat mereka memegang rosario masing-masing dan mulai memahami makna setiap bagiannya.

Paguyuban ibu-ibu berharap, benih-benih iman yang ditanam hari ini akan bertumbuh menjadi cinta sejati kepada Yesus melalui Bunda Maria. Terima kasih kepada tim PIA St. Angelus atas kesempatan yang diberikan, dan semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan demi membangun iman anak-anak sejak dini.