Di tengah ritme kehidupan yang kian cepat dan padat, kita kerap tenggelam dalam rutinitas tanpa sempat bertanya: Bagaimana kabar jiwa kita hari ini? Pertanyaan sederhana itu menjadi dasar lahirnya sebuah kegiatan penuh makna yang diselenggarakan oleh Lingkungan Santa Monica, bertajuk “Refresh Jiwa”, sebuah inisiatif baru yang menghadirkan keheningan, refleksi, dan penyembuhan batin.
Perjalanan Spiritual ke Taman Doa Maria Penolong Abadi
Kegiatan ini berlangsung di Taman Doa Maria Penolong Abadi, yang berlokasi di Stasi Pojok, Paroki St. Petrus–Paulus, Minggir, Klepu. Dikelilingi suasana khas pedesaan yang alami dan tenang, tempat ini menjadi ruang yang tepat untuk berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, dan menyatu dalam keheningan bersama Tuhan.
Taman doa ini tidak hanya menyuguhkan keindahan fisik, tetapi juga menghadirkan kekuatan spiritual yang menyentuh. Pendopo joglo sederhana, tempat berlangsungnya prosesi, disiapkan penuh kasih, dikelilingi alam hijau, diterangi lampu remang-remang, dan ditemani patung Bunda Maria dengan sentuhan budaya Jawa. Semua elemen ini menyatu menciptakan suasana yang intim, penuh damai, dan sangat mendukung pengalaman batin yang mendalam.
Kekuatan Unsur Hypnotherapy dalam Penyembuhan Jiwa
Hal yang menjadikan kegiatan ini unik dan berkesan adalah penggunaan unsur hypnotherapy spiritual, yang dipadukan dengan metode penyembuhan menggunakan energi Ilahi. Melalui bimbingan dan teknik-teknik relaksasi serta pemusatan pikiran, para peserta diajak untuk membuka diri, menerima kasih Tuhan, dan membiarkan setiap luka batin, kekhawatiran, serta beban hidup dipulihkan dalam kehadiran-Nya.
Sekitar 50 umat, dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga para lansia, dengan penuh kesadaran dan keterbukaan mengikuti setiap proses. Mereka diajak untuk menyapa jiwa, mengendapkan emosi, menyadari kehadiran Tuhan di balik segala peristiwa hidup. Tidak sedikit peserta yang merasakan ketenangan, kesegaran jiwa, bahkan mengalami momen spiritual yang mendalam.
Diprakarsai oleh Kaum Muda yang Penuh Semangat
Salah satu keistimewaan kegiatan ini adalah keterlibatan kaum muda sebagai motor penggerak utama. Mas Wilfred, Mbak Sulis, dan Mas Vincent tampil sebagai inisiator dan fasilitator utama, dibantu Bapak Lasiman selaku Ketua Lingkungan Monica. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa semangat pelayanan dan inovasi rohani tidak mengenal usia, dan bahwa generasi muda dapat mengambil peran penting dalam membangun kehidupan menggereja yang hidup dan relevan.
Kegiatan ini juga menjadi bukti bahwa gereja bisa hadir dengan cara yang kreatif, menyentuh, dan tetap setia pada nilai-nilai spiritual yang hakiki.
Membangun Komunitas yang Guyub dan Bersemangat
“Refresh Jiwa” tidak hanya memberi pengalaman pribadi yang menguatkan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan di antara umat. Dalam suasana yang akrab, para peserta saling mendukung, berbagi cerita, mendoakan satu sama lain. Kegiatan ini menghidupkan kembali spirit Santa Monica, pelindung lingkungan ini, yang dikenal sebagai sosok ibu penuh kasih, tabah, dan teguh dalam doa demi keselamatan keluarganya.
Melalui kegiatan ini, harapannya umat Lingkungan Monica semakin guyub, solid, dan antusias dalam keterlibatan pastoral, baik di lingkungan maupun di Stasi. Semangat melayani, semangat berbagi, dan semangat memuliakan Tuhan bersama-sama menjadi bekal penting untuk terus membangun Gereja yang hidup dan berakar dalam iman.
“Refresh Jiwa bukan hanya soal rehat sejenak, tapi tentang mendengarkan bisikan jiwa, menyentuh kasih Tuhan, dan pulang dengan semangat baru untuk mencintai lebih sungguh.”
Semoga kegiatan ini dapat terus berlanjut dan menjadi inspirasi bagi lingkungan lain untuk menciptakan ruang-ruang penyembuhan batin yang nyata, sederhana namun berdampak besar bagi kehidupan rohani umat.
Minggu, 8 Juni 2025 – Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo
Minggu pagi biasanya identik dengan suasana santai dan waktu berkualitas bareng keluarga. Tapi kali ini, ada yang spesial banget di Stasi Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Soalnya, para ibu dari Paguyuban Ibu-Ibu Stasi turun gunung buat nemenin adik-adik PIA St. Angelus dalam kegiatan seru yang penuh makna.
Bertempat di ruang PIA, anak-anak yang biasanya ceria dan aktif kali ini duduk manis (meskipun kadang masih goyang-goyang sedikit mendengarkan cerita seru dari para ibu tentang Rosario dan Bunda Maria. Tapi tenang, ini bukan sesi ceramah yang bikin ngantuk kok. Justru dibawakan dengan gaya yang ringan, hangat, dan penuh kasih sayang. Anak-anak diajak kenalan sama siapa sih Bunda Maria itu, kenapa kita mendoakan Rosario, dan gimana sih cara mendoakannya.
Dengan penuh semangat dan kelembutan khas seorang ibu, mereka membimbing anak-anak untuk mengenal dan mencintai doa Rosario sebagai salah satu bentuk devosi Katolik yang mendalam. Melalui cerita-cerita sederhana, lagu-lagu rohani, serta aktivitas kreatif yang menyenangkan, anak-anak diajak untuk lebih dekat dengan Bunda Maria sebagai teladan iman dan kasih.
Kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan rohani anak-anak, tetapi juga mempererat hubungan antar umat lintas generasi. Tampak jelas keceriaan di wajah anak-anak saat mereka memegang rosario masing-masing dan mulai memahami makna setiap bagiannya.
Paguyuban ibu-ibu berharap, benih-benih iman yang ditanam hari ini akan bertumbuh menjadi cinta sejati kepada Yesus melalui Bunda Maria. Terima kasih kepada tim PIA St. Angelus atas kesempatan yang diberikan, dan semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilanjutkan demi membangun iman anak-anak sejak dini.
Minggu, 8 Juni 2025 menjadi penanda resmi berakhirnya seluruh rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun Gereja Stasi Santa Maria Bunda Allah. Sebuah momen penuh syukur digelar sebagai bentuk penutupan: pembubaran panitia yang telah bekerja keras dan melayani dengan sepenuh hati.
Sejak awal, perayaan HUT tahun ini bukan sekadar selebrasi, melainkan juga menjadi perjalanan iman bersama umat. Rangkaian kegiatan dimulai pada 25 Mei 2025 dengan bakti sosial berupa cek kesehatan untuk masyarakat sekitar gereja sebagai wujud nyata kasih dan kepedulian terhadap sesama, khususnya mereka yang membutuhkan.
Perjalanan dilanjutkan dengan ziarah ke makam para leluhur pendiri Gereja pada 29 Mei 2025—sebuah langkah penuh hormat dan doa bagi mereka yang telah lebih dulu berpulang dalam iman. Suasana doa yang khusyuk memperkuat ikatan batin umat dengan sejarah, warisan iman, dan keluarga besar gereja.
Puncaknya terjadi pada 1 Juni 2025, dengan Misa Syukur sebagai inti perayaan, disambung dengan pesta umat yang penuh sukacita, keakraban, dan semangat persaudaraan. Semua lapisan umat ambil bagian, dari anak-anak hingga lansia, menjadikan hari itu bukan hanya meriah, tapi juga menghangatkan hati.
Hari ini, saat panitia secara resmi dibubarkan, yang tersisa bukan hanya laporan kegiatan atau dokumentasi acara. Yang paling berharga adalah pengalaman melayani bersama, tawa yang dibagi, keringat yang jatuh diam-diam, dan semangat gotong royong yang mempererat ikatan umat satu sama lain.
Terima kasih yang tak terhingga kepada seluruh panitia—yang telah berjerih lelah, berdoa dalam diam, bekerja dalam kesederhanaan, dan memberi dalam kasih. Semoga semua benih kebaikan yang ditanam dalam perayaan HUT ini tumbuh menjadi buah-buah berkat bagi gereja dan sesama.
Sampai jumpa di pelayanan selanjutnya. Karena gereja adalah kita, dan kita semua adalah bagian dari karya kasih-Nya yang terus berjalan.
Sabtu pagi, 7 Juni 2025, kompleks Biara SCJ di Jalan Kaliurang dipenuhi dengan wajah-wajah penuh semangat dan harapan. Hari itu, rekoleksi calon penerima Komuni Pertama se-Paroki Kalasan digelar sebagai bagian penting dari persiapan rohani anak-anak sebelum menyambut Sakramen Maha Kudus untuk pertama kalinya.
Sebanyak 192 anak calon penerima Komuni Pertama dan 300 orang tua turut ambil bagian dalam kegiatan ini. Dari jumlah tersebut, Stasi Maguwo mengutus 23 anak dan 60 orang tua—sebuah angka yang menunjukkan antusiasme dan keterlibatan nyata dari komunitas dalam mendampingi pertumbuhan iman anak-anaknya.
Dengan mengangkat tema “Keluargaku sebagai Sekolah Iman dan Kehidupan”, rekoleksi ini mengajak peserta untuk menyadari bahwa keluarga bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga ruang pertama dan utama dalam menanamkan nilai-nilai Kristiani. Dalam dinamika keluarga—dalam kasih, pengampunan, dan keteladanan—iman itu tumbuh dan menjadi nyata.
Acara dimulai sejak pukul 07.30 WIB dan berlangsung hingga pukul 13.00 WIB. Para peserta mendapatkan siraman rohani dan wawasan hidup dari tiga narasumber inspiratif:
Romo Marwoto SCJ, yang mengajak orang tua merenungkan kembali peran mereka sebagai pendidik iman di rumah,
Dr. Victorius Didik S., yang menyampaikan pentingnya pendekatan yang manusiawi dan mendalam dalam mendampingi tumbuh kembang anak secara psikologis dan spiritual,
serta Suster Erna RMI, yang dengan pendekatan ceria dan penuh kasih memandu anak-anak mengenal Yesus dengan bahasa yang sederhana dan menyentuh hati.
Sesi demi sesi berlangsung dalam suasana penuh kehangatan, kekeluargaan, dan keheningan rohani yang menyegarkan. Anak-anak tidak hanya diajak untuk paham secara intelektual, tapi juga disentuh hatinya—belajar untuk mencintai Ekaristi dan memahami makna kehadiran Yesus dalam hidup mereka.
Sementara itu, orang tua diajak untuk kembali menyadari bahwa mereka adalah “guru iman” pertama dan utama bagi anak-anak. Rekoleksi ini menjadi momen reflektif dan sekaligus pemantik semangat untuk semakin hadir, menyemangati, dan menjadi teladan dalam hidup beriman sehari-hari.
Sebagai puncak dan penutup, seluruh rangkaian acara ditutup dengan Perayaan Ekaristi, yang menjadi simbol kebersamaan, rasa syukur, dan peneguhan iman seluruh peserta. Misa ini menjadi pengingat bahwa perjalanan iman bukanlah perjalanan sendiri, tetapi selalu bersama: bersama keluarga, bersama komunitas, dan terutama bersama Tuhan.
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh panitia, para narasumber, para pendamping, dan semua pihak yang telah melayani dengan hati. Semoga anak-anak kita siap menyambut Komuni Pertama bukan hanya sebagai momen seremoni, tetapi sebagai awal hidup baru bersama Kristus yang hadir nyata dalam Sakramen-Nya.
Kamis 29 Mei 2025, selepas Misa Kenaikan Yesus menjadi momen istimewa yang sarat makna bagi para pengurus Dewan Pastoral Stasi Maguwo. Diwakili oleh Ibu Amy, Ibu Tinung, Ibu Woro, Ibu Manis, Ibu Lely, Ibu Munarti, Bapak Bagio, Bapak Paul, Bapak Anton, Bapak Parno, Bapak Teteng, Bapak Nanto, Bapak Yulius, dan Bapak Naryo, mereka bersama-sama melaksanakan ziarah ke makam para sesepuh dan pendiri Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo.
Ziarah ini adalah bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah Maguwo. Lebih dari sekadar ritual, ziarah ini menjadi bentuk penghormatan yang tulus dan penuh kasih kepada para tokoh yang telah berjasa besar bagi gereja dan umatnya. Mereka adalah almarhum Bapak Lazarus Djayeng Adisubrata, almarhum Ibu Lusia Daliyah Djayeng Adisubrata, almarhum Bapak Paulus Yadiwiyono, dan almarhum Bapak YB Kandari. Masing-masing dari mereka adalah pilar penting yang menorehkan jejak iman dan pengabdian tanpa pamrih.
Dalam suasana yang penuh hening dan haru, para pengurus berdoa di pusara para pendahulu, mengenang segala kebaikan, pengorbanan, dan kasih yang telah mereka tanamkan. Setiap doa yang terucap menjadi untaian syukur dan penghormatan atas segala jasa mereka. Hembusan angin yang lembut seolah menjadi saksi betapa besarnya cinta kasih yang diwariskan oleh para sesepuh bagi kehidupan iman umat di Maguwo.
Ziarah ini menjadi pengingat mendalam akan nilai-nilai luhur yang mereka ajarkan: ketulusan hati, kesetiaan dalam pelayanan, dan kerendahan hati yang memancar dalam setiap langkah. Warisan semangat dan cinta kasih yang mereka tinggalkan menjadi lentera yang menuntun langkah para pengurus dan umat untuk terus berkarya demi kebaikan bersama.
Semoga melalui ziarah penuh kasih ini, seluruh umat semakin dikuatkan dalam iman, disatukan dalam semangat persaudaraan, dan diteguhkan untuk meneruskan karya pelayanan yang penuh pengharapan. Kehadiran para pendahulu dalam kenangan dan doa hari ini menjadi tanda bahwa cinta mereka tak pernah pudar, dan pengabdian mereka akan selalu hidup dalam hati kita semua.
Kadisoka, 25 Mei 2025 — Dalam suasana penuh syukur dan kekeluargaan, umat Lingkungan St. Gregorius merayakan 30 tahun perjalanan iman mereka melalui sebuah Ibadat Syukur yang diadakan pada Minggu malam, 25 Mei 2025, pukul 19.00 WIB. Bertempat di lingkungan setempat, acara tersebut menjadi momen reflektif sekaligus penuh kegembiraan, dihadiri oleh lebih dari 55 umat dari berbagai usia.
Umat hadir dari berbagai usia
Acara dimulai dengan Ibadat Syukur yang dipimpin oleh Bapak Prodiakon Paulus Supit. Dalam ibadat tersebut, umat diajak untuk mengenang perjalanan panjang Lingkungan St. Gregorius, mengucap syukur atas penyertaan Tuhan, serta memperkuat semangat persaudaraan di tengah masyarakat.
Prodiakon Paulus Supit memimpin jalannya ibadat syukur dengan khidmat
Setelah ibadat selesai, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Lingkungan, Bapak Gregorius Henry Prasista Kurniawan, yang menekankan pentingnya menjaga semangat pelayanan dan kebersamaan yang telah menjadi ciri khas lingkungan ini selama tiga dekade terakhir. Dalam sambutannya, beliau juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh umat yang telah setia mendukung dan membangun lingkungan sejak awal berdiri hingga kini.
Sebagai pembawa acara (MC), Mbak Anik memandu jalannya acara dengan penuh kehangatan dan keteraturan. Momen yang paling simbolis dan menyentuh hati adalah prosesi pemotongan tumpeng, sebuah tradisi yang sarat makna baik secara budaya maupun spiritual.
Filosofi Tumpeng: Simbol Syukur dan Harapan
Dalam penjelasannya, MC menyampaikan bahwa tumpeng, makanan khas berbentuk kerucut yang terbuat dari nasi kuning, bukan sekadar sajian pesta. Dalam budaya Jawa, tumpeng melambangkan hubungan vertikal antara manusia dan Tuhan (puncak kerucut), serta hubungan horizontal antara sesama manusia (lingkaran di sekeliling tumpeng). Nasi kuning sebagai simbol kemuliaan dan kebahagiaan juga mencerminkan harapan akan masa depan yang gemilang.
Tumpeng sebagai simbol syukur dan harapan
Secara iman Katolik, makna tumpeng dapat dimaknai sebagai wujud syukur atas anugerah kehidupan dan penyertaan Tuhan. Puncak tumpeng menggambarkan Tuhan sebagai pusat dan sumber segala berkat, sementara aneka lauk di sekitarnya mencerminkan keberagaman umat yang bersatu dalam kasih dan pelayanan.
Pemotongan tumpeng oleh Ketua Lingkungan St. Gregorius
Pemotongan dan pembagian tumpeng juga menjadi simbol pengutusan: bahwa berkat yang diterima bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk dibagikan kepada sesama.
Dalam prosesi tersebut, pemotongan dilakukan oleh Ketua Lingkungan, kemudian diberikan secara simbolis kepada dua perwakilan umat:
Bapak Petrus Soekamso, sebagai wakil sesepuh, perintis dan generasi pendahulu, serta
adik Avika, sebagai wakil generasi muda dan harapan masa depan lingkungan.
Potongan tumpeng pertama diberikan kepada perwakilan umat senior
Potongan tumpeng kedua diberikan kepada perwakilan generasi penerus
Keduanya menerima potongan tumpeng dengan penuh haru dan sukacita, menyimbolkan keberlanjutan semangat dan warisan nilai-nilai iman lintas generasi.
Past, present and future
Mengenang Sejarah dan Menatap Masa Depan
Usai prosesi, para umat melakukan sesi foto bersama yang diikuti dengan ramah tamah. Suasana terasa hangat dan akrab, diwarnai tawa anak-anak, canda para remaja, serta obrolan ringan para sesepuh.
Antusiasme umat Lingkungan St. Gregorius
Pada kesempatan tersebut, Bapak Petrus Soekamso menyampaikan kisah berdirinya Lingkungan St. Gregorius, mengajak umat mengenang kembali momen awal terbentuknya lingkungan sebagai hasil pemekaran dari Lingkungan St. Fransiskus Xaverius Purwomartani. Beliau menuturkan bagaimana dinamika umat, pertumbuhan jumlah keluarga Katolik, dan semangat pelayanan mendorong terbentuknya lingkungan baru yang diberi nama St. Gregorius.
Seiring waktu, lingkungan ini sendiri mengalami pertumbuhan signifikan hingga akhirnya melahirkan dua lingkungan baru melalui proses pemekaran, yaitu:
Lingkungan St. Bartholomeus, dan
Lingkungan St. Stefanus
Fakta ini menunjukkan bahwa Lingkungan St. Gregorius bukan hanya tumbuh, tetapi juga turut berkontribusi dalam perkembangan pastoral wilayah setempat. Bapak Petrus juga mengajak umat untuk tetap menjaga semangat pelayanan lintas generasi, agar lingkungan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang sebagai bagian dari tubuh Gereja.
Bpk Petrus Soekamso menceritakan awal berdirinya lingkungan St. Gregorius
Penutup yang Penuh Sukacita.
Acara malam itu ditutup dengan suasana hangat dan penuh sukacita. Seluruh umat pulang dengan hati yang dipenuhi rasa syukur dan kebanggaan menjadi bagian dari sejarah Lingkungan St. Gregorius. Dalam usia 30 tahun, lingkungan ini tidak hanya menunjukkan kedewasaan dalam iman, tetapi juga keteguhan dalam membangun komunitas yang inklusif, harmonis, dan penuh kasih.
Semua bersyukur, semua gembira
Proficiat untuk Lingkungan St. Gregorius! Semoga tetap menjadi garam dan terang bagi sesama, serta terus bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih.
Dalam rangka ulang tahun Gereja Santa Maria Bunda Allah, Stasi Maguwo, diadakan kegiatan bakti sosial yang super bermanfaat: cek kesehatan gratis! Acara ini diadakan pada hari Minggu, 25 Mei 2025, dan terbuka untuk semua warga sekitar yang mau ngecek kesehatan.
Kegiatan ini seru banget karena didukung penuh sama Rumah Sakit Panti Rini yang hadir dengan tim dokter dan paramedisnya, Kimia Farma yang bawa alat andalan Quantum, dan Puskesmas Depok yang lengkap dengan dokter dan obat-obatannya. Tim kesehatan dari Stasi Santa Maria Bunda Allah juga turun langsung bantuin acara ini, jadi makin kompak.
Warga sekitar yang ikut juga rame banget, mulai dari RT 5 Sambilegi Kidul, RT 6 Kembang, RT 01-05 Karangploso, sampai para pengurus DPH. Suasana hangat dan penuh kebersamaan benar-benar terasa sepanjang acara.
Keren banget, acara ini juga ditinjau langsung sama petinggi dari Rumah Sakit Panti Rini, Puskesmas Depok, dan Kimia Farma. Mereka semua ngasih support penuh supaya acara ini makin sukses.
Dan yang bikin tambah semangat, dari target 150 orang peserta, kegiatan ini berhasil ngumpulin 148 orang. Berarti udah 98,67% target tercapai, keren banget kan?
Semoga kegiatan ini bermanfaat buat semua warga dan makin mempererat kebersamaan di sekitar gereja. Sampai jumpa di acara seru berikutnya.
Di era serba cepat ini, saat semua serba online dan sibuk mengejar target harian, ada satu hal penting yang sering terlupakan: ingatan itu sendiri. Mulai dari lupa naruh kunci, lupa bawa dompet, sampai lupa kenapa tadi berdiri depan kulkas—banyak dari kita yang menganggap itu hal biasa. Tapi… benarkah semua itu cuma “pelupa wajar”?
Hari ini, Tim Pelayanan Kesehatan Gereja St. Maria Bunda Allah di bawah naungan Bidang Kemasyarakatan, mengajak kita untuk tidak lagi menyepelekan gejala tersebut lewat acara Bincang Sehat dengan tema: “Pentingnya Deteksi Dini Dimensia atau Pikun.”
Karena dimensia bukan sekadar bagian dari proses menua. Ia adalah kondisi serius yang memengaruhi kemampuan berpikir, mengingat, berkomunikasi, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari. Dan justru karena itu, deteksi dini sangat penting—agar kita bisa menyiapkan perawatan, pendampingan, dan dukungan yang terbaik sejak awal.
Acara ini dipandu oleh sosok berpengalaman dan komunikatif, dr. Tri Djoko Endro Susilo, SpPK, yang akan menjadi moderator dalam menggali informasi dari narasumber utama kita : dr. Lothar Matheus M. V., Sp.N., seorang dokter spesialis Neurologi dari RS. Siloam yang membagikan pengetahuan, pengalaman, sekaligus tips-tips penting dalam mengenali dan menghadapi dimensia dengan bijak dan penuh empati.
Yang membuat acara ini semakin istimewa adalah kehadiran teman-teman mahasiswa dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang tengah menyusun tugas akhir tentang keberagaman hidup beragama. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa ruang dialog antariman dan pendidikan bisa berjalan harmonis dan saling memperkaya.
Para peserta pun hadir dengan wajah cerah, hati yang senang, dan rasa penasaran yang tinggi. Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan: “Ini aku cuma pelupa atau perlu periksa?” “Apa tanda-tanda awal dimensia?” “Bagaimana cara merawat orang terdekat yang mulai mengalami penurunan daya ingat?”
Pertanyaan itu muncul bukan karena takut, tapi karena peduli. Karena sehat bukan hanya tentang bebas dari penyakit, tetapi juga tentang menjaga kejernihan pikiran, kualitas hidup, dan martabat di usia lanjut.
Dan hari ini, kita belajar bersama: Bahwa mengingat itu bukan sekadar fungsi otak—tapi juga bagian dari jati diri, hubungan sosial, dan makna kehidupan itu sendiri.
Pada hari Sabtu, 3 Mei 2025, bertempat di ruang sekertariat Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo, telah dilaksanakan rapat perdana dalam rangka persiapan Hari Ulang Tahun Gereja yang akan dirayakan pada bulan Juni 2025. Rapat ini dihadiri oleh Dewan Pastoral Harian (DPH) Stasi Maguwo serta para ibu dari Stasi yang diundang khusus sebagai koordinator acara perayaan HUT gereja tahun ini.
Rapat berlangsung dalam suasana akrab, penuh semangat pelayanan, dan komitmen bersama untuk menjadikan momen ini sebagai sarana membangun kebersamaan umat. Salah satu agenda utama yang disepakati adalah kegiatan bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan gratis bagi masyarakat sekitar gereja, yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Mei 2025. Kegiatan ini didukung oleh beberapa mitra, yakni Rumah Sakit Panti Rini, Kimia Farma, dan Puskesmas Depok Maguwoharjo, yang akan turut serta memberikan layanan medis dan edukasi kesehatan.
Sebagai puncak perayaan, akan diadakan pesta umat di halaman belakang gereja, yang melibatkan seluruh 17 lingkungan Stasi Maguwo. Acara ini diharapkan menjadi momen penuh sukacita, kebersamaan, dan syukur atas perjalanan iman komunitas umat di Stasi Maguwo.
Dengan semangat gotong royong dan pelayanan, seluruh peserta rapat berkomitmen untuk mewujudkan rangkaian kegiatan HUT ini sebagai pengalaman iman yang hidup, bersahaja, dan berdampak luas bagi umat serta masyarakat sekitar.
Bumi Indonesia memiliki pangan lokal yang berlimpah. Berbekal kreativitas, sayur dan buah lokal juga dapat tersaji sebagai camilan modern kekinian yang sarat gizi dan kaya manfaat.
Tema ini menjadi inti pelatihan yang diselenggarakan Tim Pelayanan PSE Gereja St. Maria Bunda Allah Maguwo (GMBA) bekerja sama dengan Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FTB UAJY) pada Sabtu, 3 Mei 2025 di Gazebo GMBA.
Dalam pelatihan ini, lima dosen Jurusan Teknologi Pangan FTB UAJY bersama dua staf laboratorium dan tiga asisten mahasiswa berbagi ilmu kepada umat GMBA. Mereka mengajak peserta berkreasi mengolah pangan lokal menjadi empat jenis camilan yang sehat, bergizi, dan lezat.
Popping boba buah naga dan semangka
Resep boba racikan tim FTB UAJY ini memanfaatkan buah naga dan semangka sebagai pewarna alami sehingga menjadi minuman yang lebih sehat sekaligus bernutrisi bagi keluarga, terutama untuk anak-anak. Ternyata, proses membuatnya pun relatif mudah. Membentuk bobanya saja yang cukup menantang. Maksud hati mau menghasilkan boba bulat, eh, jadinya kecebong :p
Membuat boba dari buah nagaBoba cantik nan bergizi sudah siap
Kue bebek mandi dan labu mandi
Dari namanya, unik dan membuat penasaran, ya? Bahan utama pangan lokal dalam kreasi kedua ini antara lain labu kuning dan ubi ungu. Cita rasa Nusantara juga hadir dalam isiannya berupa kelapa parut, gula merah, dan daun pandan. Begitu pula fla yang “merendam” kue terbuat dari santan bercampur daun pandan.
“Labu dan ubi kaya serat. Selain itu juga bisa menjadi pengganti terigu untuk yang menghindari gluten,” jelas LM. Ekawati Purwijantiningsih, S.Si., M.Si, yang akrab disapa Bu Eka. FYI, Bu Eka pernah menjadi umat GMBA, tepatnya di Lingkungan YP, lho.
Bu Eka (paling depan) membimbing praktik kelompok kue mandiKue mandi ini terlalu gemas untuk disantap!
Bola-bola labu
Labu kuning kembali menjadi bintang utama di sajian camilan sehat ini. Kreasi ketiga ini mirip kroket kentang sehingga ibu-ibu peserta pun dalam waktu singkat sudah bisa menguasai pembuatannya. Bola labu bisa diisi sesuai selera, seperti cokelat batang, keju cheddar, keju mozarella, dan sebagainya.
Serius menyimak tips menggoreng bola labu Ini bukan kroket, tapi bola labu lho^^
Nugget dan kaki naga sehat
Kaki naga? Apakah harus pindah dimensi dulu untuk berburu naga ala Harry Potter? Rupanya, namanya saja yang “seram”. Bahannya mudah dibeli di mana saja karena tinggal mencampur daging ayam, telur, tepung terigu, dan tepung tapioka ditambah bumbu-bumbu menjadi adonan. Istimewanya, nugget dan kaki naga ala FTB UAJY ini tidak menggunakan pengawet dan penambah rasa sintetis. Beda dengan buatan pabrik, ya, Bundd….
Meracik bahan nugget dan kaki naga Kaki naga yang lezat dan enggak ada seram-seramnya
Usai praktik, bahan pangan lokal pun bertransformasi menjadi camilan sehat sarat gizi. Tampilannya juga sangat menggugah selera. Tak heran, sebagian hasil praktik sudah mendarat di perut peserta sebelum sempat ditata cantik di piring saji >.<
“Kami jadi tambah ilmunya lewat pelatihan ini. Bisa untuk mengisi acara pertemuan di lingkungan dan PKK,” puji Ibu Sulasih Andreas dari Lingkungan Asisi.
Melihat respons yang sangat positif dari peserta, ucapan terima kasih kami haturkan kepada Tim FTB UAJY yang telah berbagi ilmu kepada umat GMBA melalui program pengabdian masyarakatnya. Pelatihan hari ini yang penuh suasana keakraban dan keceriaan, menjadi cermin jalinan sinergi indah antara Gereja dan dunia pendidikan.
Tim Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Jadi, tunggu apa lagi? Mari berkreasi hadirkan camilan sehat serta bergizi, dari pangan lokal Ibu Pertiwi tercinta.