Tugas Among Tamu & Hitung Kolekte Lingkungan St. Gregorius – Misa Minggu 11 Oktober 2026

Tugas Among Tamu & Menghitung Kolekte | Lingkungan St. Gregorius
Lingkungan St. Gregorius · Kadisoka
Tugas Among Tamu & Menghitung Kolekte
Pelayanan Umat Lingkungan St. Gregorius di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo
Minggu, 11 Oktober 2026

Dengan hati yang penuh syukur, umat Lingkungan St. Gregorius melaksanakan tugas pelayanan among tamu dan menghitung kolekte di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo pada Minggu, 11 Oktober 2026. Tugas sederhana ini menjadi kesempatan untuk melayani Tuhan sekaligus mempererat persaudaraan sebagai satu keluarga umat beriman.

Pelayanan dalam Gereja tidak selalu dilakukan dari altar atau melalui tugas yang terlihat besar. Menyambut umat yang datang untuk mengikuti Perayaan Ekaristi, membantu menciptakan suasana yang tertib dan ramah, serta menjalankan tanggung jawab dalam penghitungan kolekte merupakan bagian penting dari kehidupan menggereja. Setiap tugas, ketika dilakukan dengan tulus, menjadi ungkapan kasih kepada Tuhan dan sesama.

Menyambut dengan Ramah, Melayani dengan Kasih

Dalam tugas among tamu, para petugas berusaha menyambut umat dengan sikap ramah, penuh perhatian, dan sukacita. Sapaan sederhana, senyum, serta kesediaan membantu dapat membuat setiap orang merasa diterima sebagai bagian dari keluarga besar Gereja. Keramahan menjadi kesaksian iman yang nyata—bahwa Gereja adalah rumah bersama, tempat setiap orang disambut dan dikuatkan.

Menjaga Kepercayaan dalam Menghitung Kolekte

Selain among tamu, umat Lingkungan St. Gregorius juga menjalankan tugas menghitung kolekte. Pelayanan ini membutuhkan ketelitian, tanggung jawab, keterbukaan, dan kerja sama. Kolekte yang dihimpun dari umat merupakan ungkapan syukur serta partisipasi dalam mendukung kehidupan dan pelayanan Gereja. Karena itu, proses penghitungan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan semangat kebersamaan.

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang.”1 Petrus 4:10

Pelayanan yang Menguatkan Iman dan Persaudaraan

Melalui tugas ini, umat tidak hanya menjalankan tanggung jawab yang dipercayakan, tetapi juga belajar untuk saling mendukung, membangun komunikasi, dan bekerja sebagai satu tim. Kebersamaan dalam pelayanan mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki peran dan karunia yang dapat dipersembahkan bagi kebaikan bersama.

Semoga pengalaman pelayanan pada Minggu ini semakin memperkuat iman umat Lingkungan St. Gregorius, menumbuhkan semangat untuk terlibat aktif dalam kehidupan Gereja, serta mempererat persaudaraan di antara sesama umat. Semoga setiap langkah kecil yang dilakukan dengan kasih menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan dan membawa berkat bagi banyak orang.

Among TamuMenyambut umat dengan ramah, membantu dengan tulus, dan menghadirkan suasana Gereja yang hangat serta bersahabat.
Menghitung KolekteMenjalankan kepercayaan dengan teliti, jujur, bertanggung jawab, dan bekerja sama demi pelayanan Gereja.

Galeri Dokumentasi Pelayanan

Berikut dokumentasi tugas pelayanan umat Lingkungan St. Gregorius di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.

Guyub dalam Kasih, Bertumbuh dalam Iman

Terima kasih kepada seluruh umat Lingkungan St. Gregorius yang telah mengambil bagian dalam pelayanan. Semoga Tuhan senantiasa memberkati setiap niat baik, menguatkan langkah pelayanan, dan menjadikan kita semakin setia menjadi saksi kasih Kristus.

Berkah Dalem.
Lingkungan St. Gregorius Kadisoka
Paroki Administratif Gereja Maria Bunda Allah Maguwo
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ Sujud & Terima Kasih – JCC Worship
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Ibadat Rosario Hari ke-8 Umat Lingkungan St. Gregorius : Bertumbuh dalam Iman dan Persaudaraan – 8 Oktober 2026

✠ ✧ 🕊 ✧ ✠

PAROKI ADMINISTRATIF MARIA BUNDA ALLAH MAGUWO

Ibadat Rosario Hari ke-8 Umat Lingkungan St. Gregorius

Kamis, 8 Oktober 2026

“Tekun dalam Doa, Bertumbuh dalam Iman, Erat dalam Persaudaraan”

Umat Lingkungan St. Gregorius berdoa Rosario bersama
Kebersamaan umat dalam Ibadat Rosario Hari ke-8 Lingkungan St. Gregorius.

Lingkungan St. Gregorius kembali mengadakan Ibadat Rosario hari ke-8 pada Kamis, 8 Oktober 2026. Dalam suasana kebersamaan dan penuh kekhusyukan, umat berkumpul untuk berdoa bersama, mendengarkan Sabda Tuhan, serta menyerahkan berbagai harapan dan pergumulan hidup kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Ibadat diawali dengan pembacaan Injil Lukas 11:5–13. Melalui Sabda Tuhan ini, umat diajak untuk merenungkan pentingnya ketekunan dalam berdoa dan keyakinan akan kasih Allah. Yesus mengajarkan agar setiap orang terus meminta, mencari, dan mengetuk, sebab Allah adalah Bapa yang penuh kasih dan mengetahui apa yang terbaik bagi anak-anak-Nya.

✝

“Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.”

Lukas 11:9

Sabda Tuhan tersebut menjadi pengingat bagi umat untuk senantiasa mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan. Doa bukan hanya ungkapan permohonan, melainkan juga wujud iman, penyerahan diri, dan kepercayaan bahwa Allah senantiasa menyertai perjalanan hidup umat-Nya.

Setelah mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan, umat bersama-sama melanjutkan ibadat dengan mendaraskan Doa Rosario. Doa dipanjatkan dengan penuh penghayatan melalui perantaraan Bunda Maria, seraya mengenangkan misteri kehidupan Yesus Kristus. Dalam suasana doa, umat menyerahkan keluarga, kesehatan, pekerjaan, kehidupan menggereja, serta berbagai intensi pribadi dan bersama ke dalam penyelenggaraan kasih Tuhan.

Umat mengikuti Ibadat Rosario Lingkungan St. Gregorius
Umat mengikuti doa Rosario dalam suasana tenang dan penuh penghayatan.

Ibadat Rosario ini juga menjadi kesempatan berharga untuk mempererat tali persaudaraan antarumat. Kebersamaan dalam doa mengingatkan bahwa kehidupan menggereja tidak hanya diwujudkan melalui peribadatan, tetapi juga melalui kepedulian, perhatian, dan kesediaan untuk saling mendukung dalam kehidupan sehari-hari.

Suasana kebersamaan umat dalam Ibadat Rosario
Kebersamaan umat dalam doa.
Umat Lingkungan St. Gregorius berdoa bersama
Menguatkan iman dan persaudaraan.

Semoga melalui Ibadat Rosario hari ke-8 ini, iman umat Lingkungan St. Gregorius semakin diteguhkan, kehidupan doa semakin bertumbuh, dan persaudaraan di antara umat semakin erat. Semoga semangat doa yang telah dibangun bersama dapat terus diwujudkan dalam tindakan kasih, pelayanan, dan kepedulian kepada sesama.

Dengan meneladan Bunda Maria yang setia mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah, marilah kita terus berjalan bersama sebagai satu keluarga umat Allah, saling menguatkan dalam suka maupun duka, serta menjadi pembawa damai dan kasih Kristus di tengah keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

✝

Bunda Maria, Doakanlah Kami

Lingkungan St. Gregorius — Guyub dalam Kasih dan Bertumbuh dalam Iman

✧ ✧ ✧
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ original sound – Lingk. St. Gregorius Kadisoka
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

BKSN 2026 Pertemuan Keempat Lingkungan Santo Antonius Maguwo

“Ujian Masuk Surga”: Ketika Iman Tidak Cukup Hanya Dirayakan, tetapi Harus Dihidupi

Maguwo, 30 September 2026 — Ada suasana berbeda dalam pertemuan keempat Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 di Lingkungan Santo Antonius Maguwo. Jika pada pertemuan-pertemuan sebelumnya umat diajak mendalami ajaran Yesus melalui refleksi dan aktivitas bersama, kali ini pesan Injil disampaikan dengan cara yang ringan, menghibur, namun sekaligus mengusik hati.

Bertempat di rumah Ibu Nunik, sebanyak 25 umat hadir dalam pertemuan BKSN yang dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026. Pertemuan mengangkat tema “Pengajaran Yesus tentang Hidup yang Kekal”, dengan bacaan Injil Matius 25:31-46.

Tema tersebut merupakan pertemuan keempat dalam rangkaian BKSN 2026 yang mengangkat tema besar “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Dalam panduan BKSN, Matius 25:31-46 mengajak umat mendengarkan ajaran Yesus mengenai hidup yang kekal melalui jalan belas kasih kepada mereka yang menderita, miskin, dan tersingkir, sekaligus merefleksikan bagaimana umat menghadirkan tindakan yang membahagiakan, menginspirasi, dan menyejahterakan.

Dari “Yesus Pokok” menuju permenungan tentang hidup

Pertemuan diawali dengan lagu “Yesus Pokok dan Kitalah Carang-Nya”, yang membawa umat memasuki suasana pertemuan dengan semangat untuk melekat pada Kristus sebagai sumber kehidupan.

Selanjutnya, Bapak Murdiyana memimpin pembukaan dengan tanda salib dan Doa Ardas IX. Dalam pengantarnya, umat diajak memasuki pertemuan keempat dengan melihat kembali pesan utama bacaan Injil: bahwa pembicaraan mengenai hidup yang kekal bukan sekadar persoalan tentang apa yang terjadi setelah kematian, melainkan berkaitan erat dengan bagaimana manusia menjalani kehidupannya sekarang.

Doa pembuka kemudian mengantar umat pada bagian pendalaman Sabda. Bapak Widjajanto membacakan Injil Matius 25:31-46, perikop yang menggambarkan kedatangan Anak Manusia dalam kemuliaan dan pemisahan antara mereka yang menjalankan kasih kepada sesama dan mereka yang mengabaikannya.

Dalam rangkaian BKSN 2026, perikop ini memang ditempatkan sebagai puncak permenungan tentang hidup yang kekal. Panduan BKSN menegaskan bahwa sabda Yesus diharapkan tidak berhenti sebagai pengetahuan rohani, tetapi membentuk hati umat agar semakin peka terhadap sesama, terbuka untuk bekerja sama, peduli kepada yang lemah, serta berani menjadi saksi Kristus dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat. 

“Ujian Masuk Surga”: Tertawa, tetapi kemudian tersentuh

Setelah pembacaan Injil, suasana pertemuan berubah menjadi lebih cair. Umat disuguhi sebuah fragmen berjudul “Ujian Masuk Surga”, yang dikemas dalam format fragmen berdurasi sekitar 5–6 menit. 

Fragmen tersebut menggambarkan sebuah situasi imajinatif: bagaimana jika seseorang harus mengikuti “seleksi” sebelum masuk surga.

Kisah diawali dengan pertanyaan sederhana namun menggelitik:

“Apa yang membuat seseorang layak menerima hidup yang kekal?” Naskah Fragmen Pertemuan ke4

Salah satu tokoh, Pak Wiwid, datang dengan keyakinan bahwa dirinya memiliki bekal yang cukup. Ia rajin mengikuti misa, rajin berdoa, dan cukup aktif dalam pelayanan. Namun ketika petugas seleksi mulai mengajukan pertanyaan tentang bagaimana ia memperlakukan orang yang lapar, sakit, kesepian, atau membutuhkan pertolongan, jawaban yang muncul berulang kali adalah:

“Saya doakan.”

Di sinilah humor dalam fragmen perlahan berubah menjadi refleksi. Petugas kemudian mengajukan pertanyaan yang jauh lebih mendalam: jika Tuhan sudah memberikan makanan, mengapa makanan itu tidak dibagikan kepada mereka yang lapar? Naskah Fragmen Pertemuan ke4

Pertanyaan tersebut menjadi titik balik. Umat diajak menyadari bahwa doa dan kehidupan keagamaan tetap penting, tetapi iman tidak berhenti pada apa yang diucapkan dan dirayakan. Iman harus menjelma menjadi tindakan nyata.

Sebaliknya, tokoh Larno digambarkan sebagai pribadi yang merasa dirinya “biasa saja”. Ia tidak banyak berbicara tentang aktivitas keagamaannya. Namun ketika bertemu orang lapar, ia berbagi makanan; ketika ada orang sakit, ia datang; ketika ada orang baru, ia mengajak berkenalan; dan ketika ada orang kesepian, ia menemani. 

Kontras kedua tokoh tersebut membuat pesan Injil menjadi lebih mudah dipahami: bukan seberapa banyak seseorang mengaku telah melakukan kebaikan, melainkan apakah imannya sungguh membuatnya peduli terhadap sesama.

Puncak fragmen ditandai dengan pertanyaan tentang “tiket masuk surga”. Jawaban yang diberikan justru mengarahkan umat untuk melihat kehidupan di sekitar mereka: adakah orang yang lapar, sakit, kesepian, atau membutuhkan pertolongan?

“Mungkin… ujiannya sudah dimulai.”

Kalimat tersebut menjadi punchline sekaligus pesan utama fragmen.

Sharing: Dari “orang lain” menjadi “orang di sekitar kita”

Refleksi kemudian dilanjutkan melalui sesi sharing yang dibawakan oleh Bapak Bagus.

Sharing dikembangkan melalui tiga pertanyaan sederhana. Pertama, umat diajak melihat kembali alasan Pak Wiwid merasa dirinya sudah layak karena rajin misa, berdoa, dan melayani. Kedua, umat diajak mengenali siapa sebenarnya “orang yang membutuhkan pertolongan” dalam kehidupan sehari-hari. Ketiga, umat diajak memilih satu tindakan kasih nyata yang dapat dilakukan setelah pertemuan BKSN. 

Pertanyaan kedua menjadi penting karena orang yang membutuhkan perhatian ternyata tidak selalu berada jauh dari kehidupan kita. Bisa jadi mereka adalah orang yang paling dekat: suami, istri, anak, orang tua, tetangga, teman satu lingkungan, atau seseorang yang sedang mengalami kesepian.

Kadang mereka bahkan tidak meminta bantuan. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau melihat, menyapa, mendengarkan, dan menemani.

Di sinilah pesan Matius 25 menjadi sangat konkret. Yesus mengidentifikasikan diri-Nya dengan mereka yang membutuhkan:

“Segala sesuatu yang telah kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)

Dengan demikian, perjumpaan dengan sesama yang membutuhkan bukan sekadar kesempatan untuk berbuat baik. Perjumpaan tersebut dapat menjadi perjumpaan dengan Kristus sendiri.

Jangan pulang hanya membawa pengetahuan

Salah satu pesan yang kuat dalam sesi sharing adalah ajakan agar BKSN tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan mengenai Kitab Suci.

Umat diajak pulang dengan satu tindakan nyata. Tidak harus besar. Bisa menelepon seseorang yang sudah lama tidak disapa, mengunjungi orang sakit, menemani seseorang yang kesepian, berbagi makanan, membantu tetangga, atau berdamai dengan seseorang yang selama ini dijauhi. 

Pesan tersebut selaras dengan arah BKSN 2026 bahwa tujuan pendalaman Kitab Suci bukan hanya memahami teks, tetapi menemukan inspirasi sehingga hidup umat bertumbuh, berubah menjadi lebih baik, dan nilai-nilai Sabda Allah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

Dengan demikian, pertanyaan yang dibawa pulang bukan lagi sekadar:

“Apakah saya sudah menjadi orang Katolik yang baik?”

Melainkan pertanyaan yang jauh lebih personal:

“Apakah iman saya membuat saya menjadi orang yang berbelas kasih?”

Hidup kekal dimulai dari cara kita hidup hari ini

Setelah sesi sharing, rangkaian pertemuan dilanjutkan dengan doa umat, doa penutup, dan berkat oleh prodiakon. Suasana kemudian ditutup dengan lagu “Kasih-Nya Seperti Sungai”, sebuah penutup yang semakin menegaskan bahwa kasih Allah seharusnya mengalir melalui kehidupan umat.

Pertemuan keempat BKSN Lingkungan Santo Antonius Maguwo akhirnya bukan sekadar menjadi penutup rangkaian pendalaman Kitab Suci selama September. Melalui bacaan Matius 25:31-46, umat diajak melihat bahwa pembicaraan tentang hidup yang kekal tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan sesama dalam kehidupan sekarang.

Fragmen “Ujian Masuk Surga” berhasil menjembatani pesan Injil dengan pengalaman sehari-hari. Umat diajak tertawa, tetapi kemudian berhenti sejenak untuk bertanya kepada diri sendiri: ketika ada orang di sekitar kita yang membutuhkan, apakah kita hanya mendoakannya, atau sungguh hadir dan melakukan sesuatu?

Pada akhirnya, pesan yang sederhana namun kuat dari pertemuan ini adalah: kita tidak perlu sibuk mencari “tiket masuk surga”. Kita cukup membuka mata dan melihat siapa yang membutuhkan kita hari ini. Sebab mungkin, justru di sanalah Tuhan sedang menunggu untuk kita jumpai.

Pertemuan BKSN keempat Lingkungan Santo Antonius Maguwo berlangsung dengan baik dan penuh antusiasme, diikuti 25 peserta di rumah Ibu Nunik. Rangkaian BKSN 2026 pun ditutup dengan sebuah ajakan yang sangat konkret: mendengarkan Yesus Sang Guru berarti membiarkan sabda-Nya mengubah cara kita melihat, merasakan, dan memperlakukan sesama.

Berkah Dalem.

Ibadat Rosario Umat Lingkungan St. Gregorius : Bersama Bunda Maria Semakin Dekat dengan Yesus – 01 Oktober 2026

✦ ✝ ✦
LINGKUNGAN ST. GREGORIUS

Ibadat Rosario

Kamis, 01 Oktober 2026
“Bersama Bunda Maria, kita semakin dekat dengan Yesus”

Pada Kamis, 01 Oktober 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali berkumpul dalam suasana penuh iman dan persaudaraan untuk melaksanakan Ibadat Rosario bersama.

Ibadat Rosario menjadi salah satu kesempatan bagi umat untuk sejenak meninggalkan kesibukan sehari-hari, berkumpul sebagai satu keluarga, serta bersama-sama mengarahkan hati kepada Tuhan melalui doa dan perantaraan Santa Perawan Maria.

✝

Sabda Tuhan

Injil Matius 18:1-5

Ibadat Rosario diawali dengan pembacaan Injil Matius 18:1-5. Melalui bacaan Injil tersebut, umat diajak untuk merenungkan ajaran Yesus mengenai sikap menjadi seperti anak kecil dalam kehidupan iman.

Yesus mengajarkan bahwa kebesaran dalam Kerajaan Surga bukanlah tentang kedudukan ataupun kehebatan diri, melainkan tentang kerendahan hati, ketulusan, dan kesediaan untuk menerima Kerajaan Allah dengan hati yang sederhana.

✦ Renungan Sabda Tuhan ✦

Sebelum memasuki doa Rosario, umat diajak untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan dari Injil Matius 18:1-5. Sabda Tuhan mengingatkan kita bahwa kehidupan iman membutuhkan hati yang sederhana, rendah hati, terbuka, dan tulus di hadapan Allah.

Anak kecil menjadi gambaran bagi kita tentang ketulusan dan kepercayaan. Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang kita mudah terjebak dalam keinginan untuk dianggap, dihargai, atau menjadi yang paling penting. Namun Yesus justru mengajak kita untuk belajar menjadi pribadi yang rendah hati dan mau menerima satu sama lain.

Pesan tersebut juga sangat relevan dalam kehidupan menggereja. Sebagai umat Lingkungan St. Gregorius, kita dipanggil untuk terus membangun persaudaraan dengan mengesampingkan perbedaan, saling mendukung, saling mendoakan, dan menghadirkan kasih Kristus dalam kehidupan bersama.

Setelah mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan, umat kemudian bersama-sama melanjutkan dengan berdoa Rosario. Dalam setiap peristiwa Rosario, umat membawa berbagai intensi dan pergumulan kehidupan kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria.

Doa Rosario menjadi saat untuk kembali menimba kekuatan iman. Dalam keheningan doa, umat diajak semakin dekat dengan Yesus dan belajar dari Maria yang senantiasa setia mendengarkan, menyimpan, dan melaksanakan kehendak Allah.

❝

“Barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.”

Matius 18:4

🌹 Bersama dalam Doa Rosario 🌹

Setelah renungan Sabda Tuhan, seluruh umat bersama-sama melanjutkan ibadat dengan Doa Rosario. Doa dilakukan dengan penuh kekhusyukan sebagai ungkapan iman dan kepercayaan kepada Tuhan.

Melalui Rosario, umat Lingkungan St. Gregorius membawa berbagai intensi doa, baik untuk keluarga, kesehatan, pekerjaan, anak-anak, kaum muda, umat lingkungan, kehidupan menggereja, maupun berbagai pergumulan yang sedang dihadapi.

Semoga melalui doa bersama ini, umat semakin menyadari bahwa perjalanan iman tidak pernah dilakukan seorang diri. Kita dipanggil untuk berjalan bersama sebagai saudara dan saudari dalam Kristus.

✦ Dokumentasi Kegiatan ✦

Ibadat Rosario Umat Lingkungan St. Gregorius

Dokumentasi kegiatan Lingkungan St. Gregorius
Dokumentasi Ibadat Rosario Lingkungan St. Gregorius
Umat Lingkungan St. Gregorius mengikuti ibadat
Umat mengikuti ibadat dengan penuh kekhusyukan
Kebersamaan umat Lingkungan St. Gregorius
Kebersamaan umat dalam doa dan persaudaraan
Doa bersama umat Lingkungan St. Gregorius
Doa Rosario sebagai ungkapan iman dan persaudaraan
✝

Semoga melalui Ibadat Rosario ini, iman umat Lingkungan St. Gregorius semakin diteguhkan, hati semakin dekat dengan Tuhan, dan persaudaraan di antara umat semakin kuat.

“Bersama Maria, kita berjalan dalam iman, berharap dalam kasih, dan semakin dekat dengan Yesus.”

✦ ❖ ✝ ❖ ✦
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ suara asli – penyemangathidup.id
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Pelayanan Umat Lingkungan St. Gregorius pada Misa Harian Pagi di Gereja Maguwo – Senin 28 September 2026

✝
Lingkungan St. Gregorius

Tugas Umat Lingkungan St. Gregorius

Mengangkat Lagu pada Misa Harian Pagi

Gereja Maguwo • Senin, 28 September 2026 • Pukul 06.00 WIB

♪ ♫ ✝ ♫ ♪
✝

“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan segenap hati.”

— Kolose 3:16

Senin, 28 September 2026, umat Lingkungan St. Gregorius kembali mendapat kesempatan untuk mengambil bagian dalam pelayanan liturgi di Gereja Maguwo. Pada kesempatan ini, umat Lingkungan St. Gregorius mendapat tugas untuk mengangkat lagu pada Misa Harian Pagi yang dilaksanakan pada pukul 06.00 WIB.

Pelayanan ini menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan umat dalam kehidupan menggereja. Dengan penuh semangat, umat Lingkungan St. Gregorius mempersiapkan dan membawakan lagu-lagu liturgi untuk membantu seluruh umat yang hadir mengikuti perayaan Ekaristi dengan lebih khidmat, penuh sukacita, dan semakin menghayati setiap bagian dalam perayaan Misa.

✦ Pelayanan dalam Liturgi ✦

Dalam tugas pelayanan kali ini, umat Lingkungan St. Gregorius bertugas mengangkat beberapa lagu dalam Misa Harian Pagi, di antaranya:

  • 🎵 Lagu Pembuka
  • 🎵 Alleluya
  • 🎵 Lagu Penutup

Melalui lagu-lagu tersebut, umat diajak untuk semakin menyadari bahwa musik dan nyanyian liturgi bukan sekadar pelengkap dalam perayaan Ekaristi, tetapi menjadi sarana untuk membantu umat mengarahkan hati kepada Tuhan dan mengambil bagian secara aktif dalam doa bersama.

Semangat Pelayanan dan Kebersamaan

Tugas pelayanan dalam perayaan Misa menjadi kesempatan bagi umat Lingkungan St. Gregorius untuk terus membangun kebersamaan.

Kehadiran dan keterlibatan umat dalam pelayanan seperti ini juga menjadi sarana untuk semakin mempererat tali persaudaraan. Setiap umat memiliki peran dan talenta yang dapat dipersembahkan untuk membangun kehidupan Gereja.

✝

“Melayani dengan sukacita, bernyanyi dengan iman, dan berjalan bersama dalam kasih.”

♪ ♫ ♪

Menjadi Perekat dan Penyemangat dalam Pelayanan

Semoga tugas pelayanan ini menjadi pengalaman iman yang semakin mempererat persaudaraan umat Lingkungan St. Gregorius. Kebersamaan dalam menjalankan tugas di Gereja diharapkan dapat menjadi perekat dan penyemangat bagi seluruh umat Gregorius untuk terus terlibat dalam berbagai bentuk pelayanan, baik di lingkungan maupun dalam kehidupan Gereja.

Semoga setiap pelayanan yang dilakukan, sekecil apa pun perannya, dapat menjadi persembahan yang tulus bagi Tuhan serta membawa sukacita dan berkat bagi sesama. Dengan semangat guyub dalam kasih dan bertumbuh dalam iman, umat Lingkungan St. Gregorius terus melangkah bersama dalam pelayanan dan kehidupan menggereja.

📷 Dokumentasi Pelayanan Umat

Dokumentasi Tugas Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan di Gereja Maguwo.

Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan di Gereja Maguwo
Pelayanan Umat Lingkungan St. Gregorius
Umat Lingkungan St. Gregorius mengikuti pelayanan liturgi
Kebersamaan Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan
✝

Tuhan memberkati setiap langkah pelayanan umat Lingkungan St. Gregorius.

Lingkungan St. Gregorius
Guyub Dalam Kasih • Bertumbuh Dalam Iman • Melayani dengan Sukacita

🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ suara asli – Aerilyn
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Tugas Pelayanan Umat Lingkungan St. Gregorius : Counter dan Menjaga Text Misa – Minggu, 27 September 2026

✝

Tugas Umat Lingkungan St. Gregorius

Tugas Counter dan Menjaga Text Misa

Misa Hari Minggu, 27 September 2026

✦ ✝ ✦

Lingkungan St. Gregorius kembali mengambil bagian dalam pelayanan umat dan Gereja melalui tugas pelayanan pada Misa Hari Minggu, 27 September 2026. Dalam tugas pelayanan kali ini, umat Lingkungan St. Gregorius mendapat kepercayaan untuk melaksanakan tugas Counter (menghitung umat yang hadir) serta menjaga Text Misa.

Pelayanan ini menjadi salah satu bentuk keterlibatan nyata umat dalam mendukung kelancaran perayaan Ekaristi. Meskipun terlihat sederhana, tugas tersebut membutuhkan ketelitian, tanggung jawab, dan kesediaan untuk melayani agar perayaan Misa dapat berlangsung dengan tertib dan baik.

✝ Pengambilan Text Misa

Sebagai bagian dari persiapan pelayanan, pada Sabtu, 26 September 2026, umat Lingkungan St. Gregorius melaksanakan tugas mengambil Text Misa di Sekretariat Paroki Marganingsih Kalasan. Text Misa tersebut kemudian dibawa ke Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo untuk digunakan dalam perayaan Misa hari Minggu.

✝ Pelayanan pada Misa Hari Minggu

Pada Minggu, 27 September 2026, umat Lingkungan St. Gregorius melaksanakan tugas Counter, yaitu menghitung jumlah umat yang hadir dalam perayaan Misa. Selain itu, umat juga mendapat tugas untuk menjaga dan menyiapkan Text Misa agar dapat digunakan oleh umat selama perayaan Ekaristi berlangsung.

Tugas ini dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab sebagai wujud kepedulian dan partisipasi umat Lingkungan St. Gregorius dalam kehidupan Gereja.

✝

“Melayani bukan tentang seberapa besar tugas yang kita lakukan, melainkan tentang seberapa tulus kita memberikan diri bagi sesama dan Gereja.”

“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang.”

1 Petrus 4:10

🌿 Pelayanan Sederhana, Makna yang Besar

Setiap pelayanan di dalam Gereja memiliki nilai dan makna tersendiri. Demikian pula dengan tugas menghitung umat yang hadir dan menjaga Text Misa. Tugas yang sederhana ini menjadi kesempatan bagi umat Lingkungan St. Gregorius untuk hadir, terlibat, dan memberikan waktu serta tenaga bagi Gereja.

Melalui kebersamaan dalam menjalankan tugas, umat semakin belajar untuk saling membantu, saling menguatkan, dan bertanggung jawab terhadap pelayanan bersama. Kebersamaan tersebut tidak hanya mempererat persaudaraan di antara umat, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan iman sebagai satu komunitas.

Semoga melalui tugas pelayanan yang sederhana ini, Lingkungan St. Gregorius semakin menjadi komunitas yang guyub, peduli, dan siap melayani. Semoga semangat pelayanan ini menjadi perekat dan penyemangat bagi seluruh umat Gregorius untuk terus mengambil bagian dalam pelayanan, baik di lingkungan maupun di Gereja.

✝

“Bersama Melayani, Bersama Bertumbuh dalam Iman”

Lingkungan St. Gregorius

Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo

📷 Dokumentasi Tugas Pelayanan

Tugas Counter Umat Lingkungan St. Gregorius

Tugas pelayanan umat Lingkungan St. Gregorius

Umat Lingkungan St. Gregorius dalam pelayanan Gereja

Kebersamaan dalam menjalankan tugas pelayanan

Pelayanan Tugas Counter Lingkungan St. Gregorius

Pelayanan Counter – menghitung umat yang hadir

Pelayanan menjaga Text Misa Lingkungan St. Gregorius

Pelayanan menjaga dan menyiapkan Text Misa

✝ ✦ ✝ ✦ ✝
Lingkungan St. Gregorius
Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ original sound – Lingk. St. Gregorius Kadisoka
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Menghayati Persaudaraan dalam Iman yang Saling Menyejahterakan

Pertemuan Ketiga BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius

Maguwo – Pertemuan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 Lingkungan Santo Antonius Padua, Maguwo, kembali dilaksanakan pada Kamis, 24 September 2026. Pertemuan kali ini bertempat di rumah Bapak Rusiawan dan diikuti oleh 27 umat.

Pertemuan mengangkat tema “Pengajaran Yesus tentang Persaudaraan dalam Iman yang Saling Menyejahterakan.”Tema tersebut mengajak umat untuk semakin memahami bahwa iman kepada Yesus tidak hanya diwujudkan dalam relasi pribadi dengan Tuhan, tetapi juga melalui kehidupan bersama sebagai saudara seiman.

Persaudaraan dalam iman mengandung panggilan untuk saling memperhatikan, menghargai, membantu, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama. Dengan demikian, kehidupan menggereja tidak berhenti pada kegiatan bersama, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membangun kepedulian dan menciptakan kehidupan yang semakin menyejahterakan satu sama lain.

Pertemuan dipandu secara bersama oleh Bapak Arief, Bapak Rusiawan, Ibu Ayiek, dan Bapak Indarto. Umat mengikuti rangkaian pendalaman dengan penuh perhatian dan terlibat dalam suasana kebersamaan. Melalui pendalaman tema BKSN, umat diajak untuk melihat kembali bagaimana ajaran Yesus dapat dihidupi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam relasi dengan keluarga, lingkungan, dan masyarakat.

Suasana pertemuan berlangsung akrab dan penuh kebersamaan. Selain menjadi kesempatan untuk mendalami Sabda Allah, pertemuan BKSN juga menjadi ruang bagi umat untuk saling berbagi pengalaman iman serta semakin mempererat persaudaraan di lingkungan.

Melalui pertemuan ini, umat Lingkungan Santo Antonius Padua diajak untuk terus menghadirkan iman yang hidup: iman yang membangun persaudaraan, menumbuhkan kepedulian, dan membawa kesejahteraan bagi sesama.

Sarasehan BKSN ke-4 Lingkungan St. Gregorius : Menghidupi Sabda melalui Kasih dan Berbagi Pengalaman – 24 September 2026

✝
Sarasehan BKSN ke-4
Umat Lingkungan St. Gregorius
Kamis, 24 September 2026

Lingkungan St. Gregorius kembali melanjutkan rangkaian Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) melalui Sarasehan BKSN ke-4 yang dilaksanakan pada Kamis, 24 September 2026. Pertemuan ini menjadi kesempatan bagi umat untuk semakin mendalami Sabda Tuhan sekaligus melihat kembali bagaimana iman diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan kasih kepada sesama.

✝

Pendalaman Kitab Suci

Injil Matius 25:31-46 mengajak setiap orang beriman untuk mengenali kehadiran Kristus dalam diri mereka yang membutuhkan perhatian, pertolongan, kepedulian, dan kasih.
Matius 25:31-46

Mendengarkan Sabda dan Menghayatinya

Dalam sarasehan kali ini, umat diajak untuk tidak hanya mendengarkan dan memahami isi bacaan Injil, tetapi juga membawa Sabda Tuhan tersebut ke dalam kehidupan pribadi. Injil Matius 25:31-46 menjadi bahan permenungan untuk melihat kembali bagaimana setiap orang telah hadir bagi sesama, terutama bagi mereka yang membutuhkan perhatian dan pertolongan.

Pada saat pemaparan renungan, suasana dibuat semakin hening dan mendalam. Umat diajak melakukan refleksi batin dengan mendengarkan beberapa pertanyaan permenungan yang berkaitan dengan pesan Injil. Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ajakan bagi umat untuk melihat pengalaman hidup masing-masing dan menyadari kehadiran Tuhan melalui berbagai pengalaman kasih yang telah diberikan maupun diterima.

🕊️ Saat Hening dan Refleksi Batin

Dalam suasana hening, alunan musik instrumental Taizé “Yesus Kristus Cahaya Hatiku” mengiringi umat memasuki suasana doa dan permenungan.

Beberapa pertanyaan reflektif mengajak umat untuk merenungkan:

  • Dalam perjalanan hidup saya, kapan saya pernah mengalami kebaikan dan pertolongan dari orang lain?
  • Apakah saya pernah hadir dan memberikan perhatian kepada seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan?
  • Apakah saya mampu melihat Kristus dalam diri orang-orang yang membutuhkan kasih dan kepedulian saya?
  • Adakah kesempatan untuk berbuat baik kepada sesama yang selama ini saya lewatkan?
  • Apa yang Tuhan kehendaki agar saya lakukan setelah mendengarkan Sabda-Nya hari ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi ruang bagi umat untuk berhenti sejenak dari kesibukan, melihat ke dalam diri, serta menghubungkan Sabda Tuhan dengan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Dinamika Gulungan Sabda dan Sharing Pengalaman

Setelah renungan dan refleksi batin, suasana sarasehan dilanjutkan dengan sebuah dinamika yang menarik dan melibatkan seluruh umat yang hadir. Pemandu telah menyiapkan sejumlah gulungan kertas yang masing-masing berisi potongan kalimat atau pesan yang diambil dari bacaan Injil Matius 25:31-46.

Gulungan-gulungan tersebut kemudian dibagikan kepada umat. Setiap umat mendapatkan satu potongan kalimat untuk dibaca dan direnungkan. Selanjutnya, umat diajak untuk menghubungkan kalimat yang diperoleh dengan pengalaman hidup masing-masing.

✦ Berbagi Pengalaman Kasih

Umat diajak menjawab pertanyaan sederhana namun mendalam:

“Apakah saya pernah melakukan kebaikan seperti yang tertulis dalam kutipan tersebut?”

atau

“Apakah saya pernah menerima kebaikan seperti yang digambarkan dalam kutipan tersebut?”

Dari pertanyaan tersebut, umat kemudian menceritakan pengalaman masing-masing. Pengalaman sederhana yang mungkin selama ini dianggap biasa ternyata dapat menjadi kesaksian tentang bagaimana kasih Tuhan bekerja melalui kehidupan sehari-hari.

Sabda Tuhan Menjadi Pengalaman Hidup

Dinamika sharing membuat suasana Sarasehan BKSN ke-4 semakin hangat. Umat tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga mengambil bagian secara aktif dengan menceritakan pengalaman rohani dan pengalaman kasih yang pernah mereka alami.

Ada pengalaman tentang memberi perhatian, membantu sesama, menerima pertolongan, menemani seseorang dalam kesulitan, maupun berbagai bentuk kebaikan sederhana yang dilakukan dengan tulus. Melalui sharing tersebut, umat semakin menyadari bahwa tindakan kasih tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar.

Justru melalui perhatian kecil, waktu yang diberikan, kepedulian, sapaan, pertolongan, dan kesediaan untuk hadir bagi sesama, kasih Kristus dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Kebersamaan dalam sarasehan juga memperlihatkan bahwa pendalaman Kitab Suci dapat menjadi ruang untuk saling menguatkan. Ketika umat berani membuka pengalaman dan berbagi cerita, Sabda Tuhan menjadi semakin dekat dengan kehidupan nyata.

✝

Sabda yang Menggerakkan

Injil tidak berhenti pada kata-kata yang dibaca dan direnungkan, tetapi mengundang kita untuk mewujudkannya dalam tindakan kasih kepada sesama.
Matius 25:31-46

Bertumbuh Bersama dalam Iman

Sarasehan BKSN ke-4 Lingkungan St. Gregorius menjadi pengalaman kebersamaan yang memperkaya iman. Melalui doa, renungan, musik instrumental, refleksi batin, dinamika, dan sharing pengalaman, umat diajak untuk semakin memahami bahwa iman kepada Kristus harus diwujudkan melalui kasih yang nyata.

Semoga pengalaman pendalaman Kitab Suci ini tidak berhenti pada saat sarasehan selesai, tetapi terus dibawa dalam kehidupan keluarga, lingkungan, masyarakat, dan dalam setiap perjumpaan dengan sesama.

Dengan semangat kebersamaan, umat Lingkungan St. Gregorius terus belajar menjadi komunitas yang guyub dalam kasih, bertumbuh dalam iman, dan hadir bagi sesama.

Dokumentasi Sarasehan BKSN ke-4

Sarasehan BKSN ke-4 Umat Lingkungan St. Gregorius
Suasana umat mengikuti Sarasehan BKSN ke-4
Pendalaman Kitab Suci BKSN ke-4
Umat mengikuti pendalaman dan refleksi Kitab Suci
Sharing umat Sarasehan BKSN ke-4
Suasana sharing dan berbagi pengalaman iman
Kebersamaan Umat Lingkungan St. Gregorius
Kebersamaan umat dalam Sarasehan BKSN ke-4
✝

“Tuhan, ajarlah kami untuk semakin peka melihat kehadiran-Mu dalam diri setiap saudara yang kami jumpai.”

Semoga Sabda yang telah kita dengarkan menjadi terang bagi langkah hidup kita dan mendorong kita untuk terus menghadirkan kasih Kristus melalui tindakan nyata.

Lingkungan St. Gregorius
Paroki Administratif Maria Bunda Allah Maguwo


✠
✠
✝

BUKU PEDOMAN BKSN 2026

Bulan Kitab Suci Nasional 2026
❦ ✝ ❦
✠ ✝ ✠
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ Yesus Kristus Cahaya Hatiku – Manado Catholic Orchestra
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Pertemuan Ibu-Ibu Lingkungan St. Gregorius : Mempererat Persaudaraan dan Bertumbuh dalam Iman – 20 September 2026

✝ ❀ 🌿 ❀ ✝

Pertemuan Ibu-Ibu
Lingkungan St. Gregorius

Minggu, 20 September 2026
Pukul 16.00 WIB

🌹 • • • ✝ • • • 🌹

Pada Minggu, 20 September 2026, para ibu Lingkungan St. Gregorius berkumpul bersama dalam suasana penuh keakraban dan kekeluargaan. Pertemuan yang dimulai pada pukul 16.00 WIB ini menjadi kesempatan bagi para ibu untuk meluangkan waktu, berkumpul, berbagi, dan semakin mempererat tali persaudaraan sebagai satu keluarga dalam iman.

Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang untuk berkumpul, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat dan meningkatkan persaudaraan di antara ibu-ibu Lingkungan St. Gregorius. Dalam kebersamaan yang sederhana, setiap ibu dapat saling menyapa, berbagi cerita, memberikan perhatian, serta membangun semangat kekeluargaan yang menjadi kekuatan dalam kehidupan lingkungan.

✝
Bersatu dalam Doa dan Persaudaraan

“Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”
(Roma 12:10)

Salah satu bagian penting dalam pertemuan ini adalah doa Rosario bersama. Para ibu berdoa bersama dalam suasana hening dan penuh penghayatan, memohon penyertaan serta perlindungan Bunda Maria bagi seluruh umat Lingkungan St. Gregorius, keluarga masing-masing, serta berbagai intensi doa yang dibawa dalam pertemuan.

Doa Rosario bersama menjadi momen untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan melalui perantaraan Bunda Maria. Kebersamaan dalam doa juga mengingatkan bahwa kehidupan menggereja bukan hanya tentang kegiatan bersama, tetapi juga tentang saling mendoakan, saling menguatkan, dan berjalan bersama dalam iman.

Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, pertemuan ini menjadi pengalaman sederhana namun bermakna. Canda, percakapan, kebersamaan, dan doa menjadi bagian yang memperkaya kehidupan umat di Lingkungan St. Gregorius.

Semoga melalui pertemuan seperti ini, persaudaraan di antara umat semakin erat, kepedulian satu sama lain semakin tumbuh, dan semangat untuk melayani serta terlibat dalam kehidupan lingkungan semakin kuat.

“Bersama dalam persaudaraan,
bertumbuh dalam iman dan kasih.”

❀ ✝ ❀ 🌹 ❀ ✝ ❀

✝ Dokumentasi Pertemuan ✝

Pertemuan Ibu-Ibu Lingkungan St. Gregorius
Minggu, 20 September 2026

Kebersamaan ibu-ibu Lingkungan St. Gregorius

Kebersamaan ibu-ibu Lingkungan St. Gregorius

Pertemuan ibu-ibu Lingkungan St. Gregorius

Suasana pertemuan yang penuh kekeluargaan

Kebersamaan umat Lingkungan St. Gregorius

Saling berbagi dan menguatkan dalam persaudaraan

🌹 ✝ 🌹
Lingkungan St. Gregorius

Guyub dalam kasih, bertumbuh dalam iman, dan berjalan bersama dalam persaudaraan.

✝ ❀ 🌿 ❀ ✝
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor #lingkstgregoriuskadisoka ♬ original sound – Lingk. St. Gregorius Kadisoka
🎵 TikTok Lingkungan St. Gregorius
@lingk..st..gregor
✠
✠
✦ ✝ ✦

Lagu Lingkungan St. Gregorius

“Guyub Melayani Dalam Kasih”

❧ ✝ ❧
♪ Lingkungan St. Gregorius ♪
Guyub Melayani Dalam Kasih (Versi 2)
✦ ✝ ✦

Belajar Menjadi Murid yang Inspiratif: Ketika Berbagi Menjadi Jalan Perutusan

Pertemuan Kedua BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius Mengajak Umat untuk Berani Melayani Sesama

Maguwo, 17 September 2026 — Semangat kebersamaan dan kegembiraan kembali mewarnai Pertemuan Kedua Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026 Lingkungan Santo Antonius, yang dilaksanakan pada Kamis, 17 September 2026, di rumah Ibu Aniek. Sebanyak 32 umat hadir dan mengikuti pendalaman Kitab Suci dengan tema “Pengajaran Yesus: Menjadi Murid yang Inspiratif”, berdasarkan Injil Matius 10:1–15.

Jika pada pertemuan pertama umat diajak merenungkan pengajaran Yesus mengenai hidup yang bahagia, pada pertemuan kedua umat diajak melangkah lebih jauh: menjadi murid yang dipanggil dan diutus untuk melayani sesama.

Tema tersebut merupakan bagian dari rangkaian BKSN 2026 dengan tema besar “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa: Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Melalui tema ini, umat diajak semakin mengenal Yesus sebagai Guru yang mengajar dengan penuh kuasa serta menghadirkan Kerajaan Allah melalui kasih dan pelayanan kepada sesama.

“Laskar Kristus” Membuka Pertemuan

Pertemuan diawali dengan lagu “Laskar Kristus” yang segera membangun suasana penuh semangat. Pilihan lagu tersebut terasa selaras dengan pesan pertemuan: menjadi murid Kristus bukan hanya berarti mendengarkan Sabda, tetapi juga berani bergerak dan menjalankan perutusan.

Ada hal menarik dalam pertemuan kali ini. Jika pertemuan pertama dipandu oleh beberapa umat, kali ini OMK Santo Antonius mengambil peran sebagai pemandu. Keterlibatan orang muda memberikan warna tersendiri sekaligus menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang untuk turut menghidupkan kehidupan menggereja dan pendalaman Kitab Suci di tengah komunitas.

Setelah lagu pembukaan, Mas Aremba memimpin pembukaan dengan tanda salib, dilanjutkan dengan Doa Ardas IX. Selanjutnya disampaikan pengantar mengenai tema pertemuan kedua dan kaitannya dengan Injil yang akan direnungkan bersama.

Pesan yang hendak dibawa cukup sederhana: setelah menerima dan mengalami kasih Allah, seorang murid tidak dipanggil untuk menyimpannya bagi diri sendiri. Ia dipanggil untuk keluar, hadir, dan melayani.

Yesus Memanggil dan Mengutus Para Murid

Pendalaman dilanjutkan dengan pembacaan Injil Matius 10:1–15 oleh OMK. Perikop ini merupakan bagian dari kisah pengutusan kedua belas murid. Yesus memanggil para murid, memberikan kuasa kepada mereka, dan mengutus mereka untuk mengambil bagian dalam karya pelayanan.

Dalam perikop tersebut, Yesus memberikan arahan mengenai perutusan, apa yang perlu dilakukan, apa yang tidak perlu dibawa, serta bagaimana para murid menghadapi penerimaan maupun penolakan.

Salah satu pesan Yesus yang menjadi perhatian dalam pendalaman adalah:

“Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, berikanlah pula dengan cuma-cuma.”

Pesan ini mengingatkan bahwa kasih, pengampunan, rahmat, dan kebaikan yang diterima dari Tuhan tidak berhenti sebagai pengalaman pribadi. Semua itu dipanggil untuk diteruskan melalui kehidupan dan tindakan nyata kepada orang lain.

Karena itu, menjadi murid yang inspiratif tidak harus dimulai dari tindakan yang besar. Perutusan dapat dimulai dari kesediaan untuk mengambil langkah pertama dalam melayani sesama.

Secangkir Teh yang Mengajarkan Arti Kerja Sama

Setelah pendalaman Kitab Suci, OMK Santo Antonius mengajak peserta mengikuti sebuah permainan reflektif. Permainan tersebut sederhana, tetapi justru menghadirkan pengalaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sekitar 25 peserta dibagi menjadi lima kelompok. Masing-masing kelompok memperoleh sebuah paket yang telah diundi. Namun, tidak ada satu pun paket yang berisi perlengkapan lengkap untuk membuat teh manis.

Ada kelompok yang mendapatkan gelas dan air panas. Kelompok lain memperoleh gula, sendok, dan gelas. Kelompok lainnya mendapatkan perlengkapan yang berbeda.

Tugas mereka sederhana: membuat minuman teh untuk seluruh anggota kelompok.

Namun, segera terlihat bahwa tidak ada kelompok yang dapat menyelesaikan tugas hanya dengan perlengkapan yang mereka miliki.

Untuk membuat teh manis, mereka membutuhkan sesuatu yang berada di kelompok lain.

Di sinilah permainan menjadi menarik.

Para peserta harus berkomunikasi, bernegosiasi, dan saling bertukar perlengkapan. Gelas, air panas, gula, sendok, dan berbagai kebutuhan lainnya harus dikumpulkan melalui kerja sama antarkelompok.

Tidak ada kelompok yang memiliki segala sesuatu. Hanya dengan berbagi dan bekerja sama, tugas tersebut dapat diselesaikan.

Pada akhirnya, batas antara “milik kelompok kami” dan “milik kelompok mereka” menjadi tidak lagi penting. Yang menjadi tujuan bersama adalah satu: semua anggota dapat menikmati secangkir teh manis.

Ketika Kekurangan Menjadi Jalan untuk Bersama

Permainan tersebut kemudian menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan dalam komunitas.

Tidak ada seorang pun yang memiliki segala sesuatu.

Ada yang memiliki waktu tetapi tidak memiliki kemampuan tertentu. Ada yang memiliki kemampuan tetapi membutuhkan dukungan orang lain. Ada yang memiliki sumber daya tetapi tidak memiliki kesempatan untuk menggunakannya. Bahkan, ada pula yang mungkin merasa tidak memiliki sesuatu yang istimewa, tetapi apa yang dimilikinya ternyata justru dibutuhkan oleh orang lain.

Karena itu, kehidupan menggereja tidak dapat dibangun hanya dengan mengandalkan kemampuan individu.

Kita saling membutuhkan.

Dalam konteks inilah pesan Yesus tentang perutusan menjadi semakin relevan. Para murid memang dipanggil dan diutus secara pribadi, tetapi pelayanan mereka tidak diarahkan pada individualisme. Mereka dipanggil untuk menghadirkan kasih dan Kerajaan Allah melalui pelayanan.

Permainan teh manis membuat pesan tersebut tidak berhenti sebagai teori. Para peserta mengalaminya secara langsung: untuk mendapatkan secangkir teh, mereka harus bersedia membuka apa yang mereka miliki dan berbagi dengan kelompok lain.

Dari Permainan Menuju Refleksi

Setelah permainan selesai, peserta diajak melihat kembali pengalaman yang baru saja mereka alami melalui beberapa pertanyaan refleksi.

Bagaimana perasaan ketika mengetahui bahwa paket yang diperoleh tidak lengkap? Apakah muncul keinginan untuk mempertahankan apa yang dimiliki? Kapan kelompok mulai menyadari bahwa mereka membutuhkan kelompok lain? Bagaimana komunikasi dan pertukaran terjadi?

Dan pertanyaan yang kemudian menghubungkan pengalaman tersebut dengan iman:

“Apa hubungan permainan tersebut dengan panggilan kita sebagai murid Kristus?”

Pertanyaan-pertanyaan itu membawa peserta dari pengalaman bermain menuju refleksi iman.

Ketidaklengkapan paket menjadi gambaran sederhana tentang kehidupan manusia. Kita tidak pernah benar-benar lengkap seorang diri. Dalam komunitas, perbedaan tidak selalu menjadi persoalan. Jika dikelola melalui kerja sama, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan.

Demikian pula dalam kehidupan lingkungan. Ada yang aktif dalam liturgi, ada yang kuat dalam pelayanan sosial, ada yang mampu mengorganisasi kegiatan, ada yang pandai menghidupkan suasana, dan ada pula yang setia hadir serta mendukung dari belakang.

Semua memiliki peran.

Yang dibutuhkan bukan keseragaman, melainkan kesediaan untuk saling melengkapi.

Menjadi Murid yang Inspiratif Dimulai dari Hal Sederhana

Matius 10:1–15 berbicara mengenai perutusan para murid. Namun, perutusan tidak selalu harus dipahami sebagai sesuatu yang besar dan spektakuler.

Menjadi murid yang inspiratif dapat dimulai dari tindakan-tindakan sederhana: menyapa orang yang membutuhkan perhatian, membantu tetangga, mendengarkan orang yang sedang mengalami kesulitan, berbagi apa yang kita miliki, terlibat dalam kehidupan lingkungan, atau mengambil inisiatif ketika melihat sesuatu yang perlu dilakukan.

Perutusan juga memiliki tantangan. Para murid tidak dijanjikan bahwa setiap langkah pelayanan akan diterima dengan baik. Karena itu, menjadi murid yang inspiratif bukan berarti selalu berhasil atau selalu mendapatkan apresiasi.

Yang lebih penting adalah kesediaan untuk melangkah dan melayani.

Sebuah tindakan kecil yang dilakukan dengan tulus dapat menjadi inspirasi bagi orang lain untuk melakukan kebaikan berikutnya.

OMK dan Semangat Regenerasi dalam Komunitas

Keterlibatan OMK Santo Antonius sebagai pemandu menjadi salah satu bagian menarik dalam pertemuan kedua BKSN ini.

Kehadiran generasi muda sebagai penggerak pendalaman Kitab Suci menunjukkan bahwa pewartaan Sabda Allah merupakan tanggung jawab seluruh umat. Orang muda bukan hanya penerima warisan iman, tetapi juga dapat menjadi pelaku dan penggerak kehidupan menggereja.

Pada saat yang sama, keterlibatan lintas generasi membuat komunitas menjadi semakin kaya. Pengalaman umat yang lebih senior bertemu dengan kreativitas dan energi orang muda. BKSN pun menjadi ruang untuk mendalami Kitab Suci sekaligus membangun kebersamaan antaranggota Gereja.

Menutup Pertemuan dalam Doa

Setelah seluruh rangkaian refleksi selesai, suasana kembali diarahkan pada keheningan dan doa. Para peserta mengikuti doa umat, dilanjutkan dengan doa penutup dan lagu “Happy Ya Ya Ya”.

Pertemuan kemudian diakhiri dengan berkat oleh prodiakon Ibu Aniek.

Secara keseluruhan, Pertemuan Kedua BKSN 2026 Lingkungan Santo Antonius berlangsung dengan penuh antusiasme dan interaksi yang hidup. Kehadiran 32 umat menunjukkan bahwa BKSN menjadi ruang bagi umat untuk berkumpul, mendengarkan Sabda Tuhan, sekaligus membangun persaudaraan.

Jika pada pertemuan pertama umat diajak bertanya tentang di mana menemukan kebahagiaan sejati, pertemuan kedua membawa pertanyaan tersebut selangkah lebih jauh:

“Setelah menerima kasih dan kebaikan Tuhan, apa yang akan kita lakukan untuk sesama?”

Secangkir teh dalam permainan malam itu mungkin sederhana. Namun, dari pengalaman tersebut umat belajar bahwa sesuatu yang tampaknya tidak lengkap dapat menjadi lengkap ketika ada kemauan untuk berbagi, bekerja sama, dan saling melengkapi.

Demikian pula panggilan menjadi murid Kristus. Kita tidak harus menunggu menjadi sempurna atau memiliki segala sesuatu untuk mulai melayani. Perutusan dapat dimulai dari apa yang ada pada diri kita, dari lingkungan terdekat, dan dari satu langkah kecil yang berani kita ambil hari ini.

Seorang murid yang inspiratif tidak harus melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia dapat mulai dengan menghadirkan kebaikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga orang lain pun terdorong untuk melakukan kebaikan.

Dan mungkin, itulah “secangkir teh manis” yang sesungguhnya ingin disampaikan dalam pertemuan BKSN malam itu:

Kebaikan menjadi semakin berarti ketika dibagikan.

Berkah Dalem.