Sebagai wujud kepedulian dan semangat persaudaraan dalam kehidupan menggereja, umat Lingkungan St. Antonius Padua mengadakan kunjungan kasih ke rumah keluarga Bapak Ignasius Indarto pada hari Selasa, 14 Juli 2026, pukul 16.30 WIB. Kunjungan ini dilaksanakan untuk memberikan dukungan, penghiburan, serta doa bagi Ibu Monika Rubi Susilawati yang sedang dalam masa pemulihan setelah mengalami sakit beberapa waktu lalu.
Sebelum berangkat menuju rumah keluarga Bapak Ignasius Indarto, umat terlebih dahulu berkumpul di rumah keluarga Bapak dan Ibu Rusiawan. Dari tempat tersebut, sekitar 15 orang umat bersama-sama menuju lokasi kunjungan sebagai ungkapan kebersamaan dan perhatian kepada sesama anggota lingkungan.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, umat bersama-sama mendoakan agar Tuhan senantiasa memberikan kekuatan, penghiburan, serta rahmat kesembuhan kepada Ibu Monika Rubi Susilawati sehingga dapat segera pulih dan kembali beraktivitas seperti sedia kala.
Melalui kunjungan kasih ini, diharapkan semangat saling peduli, berbagi perhatian, dan mendoakan satu sama lain terus tumbuh di tengah umat Lingkungan St. Antonius Padua. Semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kesehatan, damai, dan berkat-Nya kepada keluarga Bapak Ignasius Indarto serta seluruh umat yang telah ambil bagian dalam kegiatan ini. Berkah Dalem.
Lingkungan St. Antonius Padua mendapat kesempatan melaksanakan tugas koor pada Perayaan Ekaristi hari Minggu, 5 Juli 2026. Berkat persiapan yang dilakukan melalui kurang lebih lima kali latihan bersama, seluruh rangkaian tugas koor dapat terlaksana dengan baik dan lancar.
Koor didukung oleh sekitar 25 orang umat Lingkungan St. Antonius Padua yang dengan penuh semangat mempersembahkan pelayanan melalui nyanyian liturgi. Kehadiran para anggota koor menjadi wujud kebersamaan dan semangat melayani dalam kehidupan menggereja.
Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Rm. Andrianus Maradiyo, Pr. Pada misa tersebut juga dilaksanakan pembaptisan bayi serta ritus percikan air suci yang menjadi ciri khas Perayaan Ekaristi pada Minggu pertama setiap bulan. Suasana liturgi berlangsung dengan khidmat, penuh sukacita, dan dihayati oleh seluruh umat yang hadir.
Semoga pelayanan yang telah diberikan semakin menumbuhkan semangat kebersamaan, mempererat persaudaraan antarumat, serta mendorong seluruh anggota Lingkungan St. Antonius Padua untuk terus ambil bagian dalam berbagai pelayanan di Gereja demi kemuliaan Tuhan.
Selamat datang di halaman karya seni Lelang Amal Paroki Administratif Maguwo.
Setiap karya yang dipamerkan di sini lahir dari perpaduan talenta, ketekunan, dan iman. Di balik setiap sapuan warna maupun setiap helai benang yang tersulam, tersimpan sebuah kisah, doa, dan permenungan yang mengajak kita semakin dekat kepada Tuhan.
Panitia Pengembangan dan Penataan Kawasan GMBA mengundang Anda untuk mengenal makna di balik setiap karya, menghayati pesan rohani yang ingin disampaikan, dan bila berkenan, mengambil bagian dalam lelang amal ini. Setiap penawaran yang Anda berikan bukan hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya seni, tetapi juga ungkapan kasih yang turut mendukung penataan kawasan Gereja sebagai rumah bersama bagi umat Allah.
Semoga setiap karya yang Anda nikmati hari ini menghadirkan inspirasi, kedamaian, dan semakin menumbuhkan iman dalam perjalanan hidup kita.
Keheningan dalam Dekapan Kasih Bunda
Karya: Johannes de Britto (Bang Joe)
Medium: Lukisan kopi di atas kanvas
Ukuran: 58 × 79 cm
Harga Pembuka Lelang (OB): Rp25.000.000
Tidak banyak medium yang mampu menghadirkan kehangatan sekaligus kesederhanaan seperti kopi. Melalui sapuan gradasi warna cokelat monokromatik, Bang Joe menghadirkan sosok Bunda Maria yang teduh, penuh damai, dan larut dalam penyerahan diri kepada Allah.
Mata yang terpejam, raut wajah yang lembut, serta lingkaran cahaya di belakang kepala menghadirkan suasana kontemplatif yang mengajak setiap orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Di hadapan karya ini, kita diajak memasuki keheningan doa bersama Bunda Maria, keheningan yang memberi ruang bagi Tuhan untuk berbicara dalam hati.
Keunikan karya ini terletak pada mediumnya. Ampas kopi, sesuatu yang sering dianggap sebagai sisa dan tidak lagi bernilai, justru diolah menjadi sebuah karya yang memancarkan keindahan. Hal ini menjadi lambang bahwa Tuhan mampu mengubah hal-hal yang sederhana menjadi sarana kemuliaan-Nya. Seperti hidup manusia, yang mungkin penuh kekurangan, namun di tangan Tuhan dapat dibentuk menjadi sesuatu yang indah dan bermakna.
Tekstur lembut pada jubah Bunda Maria menyerupai gumpalan awan yang menaungi. Ia mengingatkan kita akan kasih seorang ibu yang selalu melindungi, menguatkan, dan menghadirkan ketenangan bagi anak-anaknya di tengah berbagai pergumulan hidup.
Melalui lelang amal ini, karya ini tidak hanya menjadi sebuah koleksi seni, tetapi juga menjadi bagian dari perjalanan iman umat. Setiap penawaran yang diberikan merupakan ungkapan syukur dan dukungan nyata bagi penataan dan pengembangan kawasan Gereja, agar semakin banyak orang dapat menemukan rumah untuk berdoa, bertumbuh, dan mengalami kasih Tuhan.
Semoga siapa pun yang kelak memiliki karya ini senantiasa menemukan kedamaian, pengharapan, dan penghiburan setiap kali memandang wajah Bunda Maria yang penuh kasih.
Jesus of Nazareth
Karya: Annie Maria
Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
Ukuran: 54 × 78 cm
Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000
Karya sulaman kristik ini merupakan buah ketekunan, kesabaran, dan doa yang diwujudkan melalui ribuan persilangan benang. Sedikit demi sedikit, setiap tusukan benang membentuk wajah Yesus dari Nazaret yang mengenakan mahkota duri, sebuah gambaran akan kasih yang rela berkorban demi keselamatan umat manusia.
Tatapan Yesus yang mengarah ke atas menghadirkan kesan kepasrahan yang sempurna kepada kehendak Bapa. Di balik latar gelap yang melambangkan beratnya dosa dunia, cahaya pada wajah-Nya tetap memancarkan harapan, belas kasih, dan kemenangan kasih Allah atas penderitaan.
Teknik kristik sendiri memiliki makna rohani yang mendalam. Setiap persilangan benang adalah tindakan kecil yang dilakukan berulang kali dengan penuh kesetiaan. Seperti perjalanan iman, keindahan tidak lahir dalam sekejap, melainkan melalui kesabaran, ketekunan, dan kesediaan untuk terus melangkah, meskipun perlahan.
Perpaduan warna merah pada jubah Kristus dengan gradasi benang yang halus memberi kehidupan pada karya ini, menghadirkan sosok Sang Penebus yang tetap memandang umat-Nya dengan penuh cinta.
Melalui lelang amal ini, setiap penawaran bukan hanya bentuk penghargaan terhadap sebuah karya seni, tetapi juga menjadi persembahan kasih yang mendukung penataan dan pengembangan kawasan Gereja sebagai tempat umat berhimpun, beribadah, dan bertumbuh dalam iman.
Kiranya karya ini menjadi pengingat bahwa kasih Kristus selalu menyertai setiap langkah kehidupan.
Bunda Maria Penolong Senantiasa(Our Lady of Perpetual Help)
Karya: Annie Maria
Medium: Sulaman kristik (cross stitch) pada kain Aida
Ukuran: 51 × 82 cm
Harga Pembuka Lelang (OB): Rp15.000.000
Dalam tradisi Gereja, Bunda Maria dikenal sebagai Penolong Senantiasa, ibu yang tidak pernah berhenti mendampingi dan mendoakan anak-anaknya. Melalui ribuan persilangan benang yang disusun dengan penuh ketelitian, Annie Maria menghadirkan sosok Bunda Maria dalam sikap doa yang tenang dan penuh pengharapan.
Perpaduan warna biru kehijauan pada jubah melambangkan kemanusiaan, sementara nuansa keemasan menggambarkan rahmat Allah yang menaungi hidupnya. Lingkaran cahaya di belakang kepala menegaskan panggilannya sebagai Bunda Sang Juruselamat, sedangkan kedua tangan yang terkatup mengajak setiap orang untuk percaya akan kuasa doa dan penyertaan Tuhan.
Karya ini berpusat pada semangat Fiat kesediaan Bunda Maria untuk menjawab, “Jadilah padaku menurut kehendak-Mu.” Ketaatan yang lahir dari iman itulah yang menjadi teladan bagi setiap orang percaya dalam menghadapi suka maupun duka kehidupan.
Setiap helai benang yang disulam dengan sabar menjadi lambang doa-doa kecil yang dipersembahkan hari demi hari. Mungkin tidak selalu terlihat, namun pada akhirnya membentuk sebuah kesaksian iman yang utuh dan indah.
Dengan mengikuti lelang amal ini, Anda tidak hanya membawa pulang sebuah karya seni bernilai tinggi, tetapi juga turut mengambil bagian dalam penataan dan pengembangan kawasan Gereja, tempat di mana iman terus dipelihara dan harapan terus dihidupkan.
Semoga kehadiran karya ini senantiasa mengingatkan setiap keluarga akan kasih keibuan Bunda Maria yang selalu menyertai, menghibur, dan membawa setiap doa kepada Putra-Nya.
Umat Lingkungan St. Gregorius – Kadisoka kembali mengambil bagian dalam pelayanan di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo melalui tugas Among Tamu & Hitung Kolekte pada Perayaan Ekaristi Hari Minggu, 5 Juli 2026. Pelayanan ini menjadi salah satu bentuk nyata keterlibatan umat dalam mendukung kelancaran dan kekhidmatan perayaan liturgi. Gereja Maria Bunda Allah Maguwo
Sejak sebelum misa dimulai, para petugas Among Tamu telah hadir untuk mempersiapkan diri dan menyambut umat yang datang dengan penuh keramahan. Dengan senyum, salam, dan sikap yang baik, para petugas membantu mengarahkan umat menuju tempat duduk, memberikan informasi yang diperlukan, serta menciptakan suasana gereja yang tertib, nyaman, dan penuh sukacita.
Pelayanan Among Tamu bukan sekadar menjalankan tugas menyambut Umat, tetapi juga merupakan wujud kasih dan semangat melayani. Keramahan yang diberikan kepada setiap umat menjadi cerminan Gereja yang terbuka, ramah, dan menghadirkan kasih Kristus kepada siapa pun yang datang untuk beribadah.
Partisipasi umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka dalam tugas ini juga menjadi kesempatan untuk mempererat kebersamaan antarumat. Melalui semangat gotong royong dan kerja sama, seluruh petugas melaksanakan tanggung jawab dengan penuh dedikasi sehingga Perayaan Ekaristi dapat berlangsung dengan lancar dan khidmat.
Semoga pelayanan yang telah diberikan menjadi persembahan yang berkenan di hadapan Tuhan serta semakin menumbuhkan semangat pelayanan, kerendahan hati, dan sukacita dalam melayani. Kiranya seluruh umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka senantiasa diberi semangat untuk terus mengambil bagian dalam berbagai pelayanan Gereja demi membangun persekutuan yang semakin hidup, guyub, dan berbuah dalam iman.
“Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” (1 Petrus 4:10)
Umat Lingkungan St. Gregorius – Kadisoka mengadakan latihan koor pada hari sabtu, 4 Juli 2026, pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini merupakan awal dari rangkaian persiapan untuk tugas pelayanan koor pada Perayaan Ekaristi Minggu, 2 Agustus 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo.
Latihan berlangsung dengan penuh semangat, kebersamaan, dan sukacita. Tim Koor Lingkungan bersama-sama mempersiapkan lagu-lagu liturgi yang akan mengiringi jalannya Perayaan Ekaristi. Selain melatih teknik vokal, kekompakan suara, dan penguasaan lagu, latihan ini juga menjadi sarana mempererat persaudaraan di antara umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka.
Pelayanan koor bukan sekadar menyanyikan lagu, tetapi merupakan bagian dari liturgi yang membantu seluruh umat menghayati misteri iman melalui pujian kepada Tuhan. Oleh karena itu, setiap anggota koor diajak untuk mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh, tidak hanya melalui latihan, tetapi juga dengan membangun kehidupan doa dan semangat pelayanan.
Dalam suasana yang hangat dan penuh kekeluargaan, Umat berlatih beberapa lagu yang akan dibawakan saat bertugas nanti. Setiap lagu dipelajari dengan teliti, mulai dari pembagian suara, dinamika agar dapat dinyanyikan dengan baik kepada seluruh umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi.
Semoga melalui latihan-latihan yang akan terus dilaksanakan hingga menjelang hari tugas, koor Lingkungan St. Gregorius Kadisoka dapat memberikan pelayanan yang terbaik, sehingga nyanyian yang dipersembahkan menjadi doa yang indah, membangun kekhusyukan liturgi, serta memuliakan nama Tuhan.
Semoga tugas koor pada Minggu, 2 Agustus 2026, di Gereja Maria Bunda Allah Maguwo dapat berjalan dengan lancar, membawa sukacita bagi seluruh umat, dan semakin menumbuhkan semangat pelayanan di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka.
“Bernyanyilah bagi Tuhan dengan penuh sukacita, sebab pujian yang tulus adalah ungkapan syukur dan iman kepada-Nya.”
Umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka kembali berkumpul dalam kegiatan sembahyangan rutin yang diselenggarakan pada Kamis malam, 2 Juli 2026. Pertemuan sembayangan ini dihadiri oleh 19 umat lingkungan yang dengan penuh sukacita datang untuk Berdoa Doa Sengsara Yesus dan Rosario Koronka.
Ibadat diawali dengan lagu pembuka dan doa pembuka, kemudian dilanjutkan dengan Doa Sengsara Yesus sebagai ungkapan syukur sekaligus permenungan atas kasih Kristus yang telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan umat manusia. Suasana doa berlangsung dengan penuh kekhusyukan, mengajak setiap umat untuk semakin menghayati makna pengorbanan, kasih, dan kerahiman Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah itu, umat melanjutkan doa bersama dengan Rosario Koronka, memohon belas kasih Tuhan bagi keluarga-keluarga, Gereja, bangsa, serta seluruh umat yang sedang mengalami kesulitan, sakit, maupun pergumulan hidup. Melalui doa bersama ini, setiap peserta diajak untuk semakin mempercayakan hidup kepada Kerahiman Tuhan yang tidak pernah berkesudahan.
Kegiatan sembahyangan rutin ini menjadi sarana yang sangat berharga untuk mempererat persaudaraan antarumat sekaligus memperkokoh kehidupan iman di Lingkungan St. Gregorius Kadisoka. Kebersamaan dalam doa menjadi kekuatan yang mempersatukan umat untuk saling mendukung, menguatkan, dan bertumbuh dalam semangat pelayanan.
Semoga melalui kebiasaan berkumpul dalam doa, seluruh umat Lingkungan St. Gregorius Kadisoka senantiasa memperoleh rahmat, damai sejahtera, serta semakin bertumbuh dalam iman, harapan, dan kasih. Mari terus menjaga semangat kebersamaan dan tetap setia menghadiri kegiatan-kegiatan lingkungan sebagai wujud nyata hidup menggereja di tengah masyarakat.
“Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.” (Matius 18:20)
Melalui Misa Lingkungan St. Fransiskus Asisi bersama Pastor Paroki, umat diajak untuk kembali percaya bahwa Tuhan selalu menyertai perjalanan hidup, bahkan di tengah badai. Kebersamaan yang berlanjut dalam ramah tamah malam itu menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, dan bertumbuh dalam iman.
Bersama, Bahagia, Beriman
Selasa malam, 30 Juni 2026, menjadi salah satu malam yang hangat bagi kami, umat Lingkungan St. Fransiskus Asisi. Sebanyak 62 umat hadir dalam Misa Lingkungan yang dipimpin oleh Pastor Paroki kami, Rm. Antonius Dadang Hermawan, Pr.
Malam itu kami berkumpul di Joglo Prasetyan, atau yang lebih akrab kami sebut Joglo Asisi, di kediaman Bapak Paulus Prasetya. Rasanya memang sudah seperti rumah kedua. Banyak kegiatan lingkungan dilaksanakan di sana, jadi setiap kali berkumpul di Joglo Asisi, rasanya selalu ada suasana yang berbeda.
Bahkan sebelum misa dimulai, suasana sudah terasa hidup. Ada yang sibuk mengatur kursi, ada yang menyiapkan konsumsi, ada yang mengecek sound system, sementara tim koor latihan sebentar bersama organis muda lingkungan, Mbak Ganes dan Mbak Lauda. Di sisi lain, tentu ada juga yang asyik mengobrol. Begitulah Asisi. Selalu ada yang dikerjakan, tapi selalu ada juga waktu untuk saling menyapa.
Dalam homilinya, Romo mengajak kami merenungkan Injil Matius 8:23–27 tentang Yesus yang meredakan angin ribut.
Di tengah homilinya, Romo bertanya,
“Dalam Perayaan Ekaristi, berapa kali Romo mengucapkan ‘Tuhan bersamamu’?”
Kami mulai menghitung dipandu Romo dan mendapatkan jawabannya, 4 kali.
Lalu Romo melanjutkan lagi,
“Kalau sedang punya masalah atau sedang gundah, biasanya mengadu ke siapa?”
Jawabannya langsung bermacam-macam.
“Status WA, Romo!”
Belum selesai tertawa, ada lagi yang menjawab,
“ChatGPT!” tawa umat kembali pecah
“Yo, ChatGPT” kata Romo sambil tertawa
Di balik pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, Romo mengingatkan kami bahwa sering kali kita mencari jawaban ke mana-mana, padahal Tuhan selalu hadir lebih dulu. Kalimat “Tuhan bersamamu” yang kita dengar saat misa ternyata bukan hanya bagian dari liturgi. Itu adalah pengingat bahwa dalam keadaan apa pun, bahkan saat hidup sedang seperti diterpa badai, Tuhan tetap menyertai kita.
Setelah misa selesai, kami tidak langsung pulang.
Seperti biasa, sesi foto bersama wajib hukumnya. Setelah itu kami juga membuat video yel-yel Lingkungan Asisi dan video pendek untuk konten Instagram.
Harapannya sederhana. Kalau malam itu kami pulang dengan hati yang penuh sukacita, semoga sukacita yang sama juga bisa dirasakan oleh umat lain yang melihatnya melalui media sosial.
Lalu terdengarlah yel-yel yang sudah begitu akrab di telinga kami.
“Asisi! Bersama, bahagia, beriman!”
Malam itu rasanya tiga kata itu bukan sekadar yel-yel.
Kami benar-benar bersama, mulai dari mempersiapkan misa, melayani, berdoa, sampai membereskan semuanya bersama-sama.
Kami juga bahagia. Bahagia karena bisa bertemu, bercanda, tertawa, dan menikmati malam tanpa harus terburu-buru pulang.
Dan tentu saja kami pulang dengan iman yang kembali dikuatkan. Jadi rasanya, malam itu yel-yel Asisi benar-benar hidup.
Acara kemudian berlanjut dengan ramah tamah bersama Romo.
Sambil menikmati ronde panas, nasi kucing, sate ayam, tahu bacem, kerupuk, dan camilan sederhana lainnya, sesi tanya jawab dimulai.
Pertanyaannya macam-macam.
Ada yang penasaran makanan favorit Romo.
Ada ibu-ibu yang sekalian memberi kode soal menu caos dhahar.
Ada yang bertanya bagaimana Romo akhirnya memutuskan menjadi seorang Imam. Jawabannya pun membawa kami mendengar kembali cerita perjalanan panggilan beliau sejak muda.
Ibu-ibu lansia juga tidak mau melewatkan kesempatan. Ada yang bertanya tentang Sakramen Minyak Suci. Ada juga yang bertanya, kalau malam sudah capek dan tidak kuat duduk, apakah boleh berdoa sambil tiduran.
Lalu muncul pertanyaan yang mungkin mewakili bapak-bapak.
“Romo, olahraga apa kok tetap bugar?”
Romo menjawab sambil tersenyum, treadmill minimal 30 menit, ditambah squat dan plank setiap hari.
Belum selesai.
Ada lagi yang bertanya,
“Romo, rahasianya apa kok glowing terus?”
Jawaban Romo singkat.
“Karena rutin misa pagi!”
Lalu Romo juga bercerita bahwa yang bertanya tentang “keglowingan” Romo tidak hanya umat Asisi saja, ternyata Romo sering ditanya pertanyaan yang sama.
Malam itu gelak tawa kembali memenuhi Joglo Asisi.
Obrolan kemudian beralih ke topik yang lebih serius. Ada yang bertanya tentang tantangan kaum muda saat ini.
Menurut Romo, salah satunya adalah budaya FOMO. Anak muda sekarang sering ingin semuanya serba cepat. AI memang sangat membantu, tetapi kalau semua diserahkan pada teknologi, lama-lama kita bisa kehilangan kebiasaan berpikir dan menikmati proses. Romo mengajak kami, terutama kaum muda, untuk tetap mau belajar, bertumbuh, dan tidak takut menjalani proses.
Setelah umat puas bertanya, gantian Romo yang bertanya kepada kami. Beliau ingin mendengar bagaimana komitmen Lingkungan Asisi dalam mendukung pengembangan kawasan Gereja Maria Bunda Allah. Romo menekankan bahwa komitmen harus berdasarkan kesepakatan dan tidak memberatkan umat. Selain itu, Romo juga menjelaskan secara singkat mengenai APBU dan kolekte, sehingga kami semakin memahami bagaimana Gereja dikelola bersama-sama.
Tanpa terasa, es krim sebagai hidangan penutup sudah habis dan jam sudah semakin malam.
Acara ditutup dan kami pun berpamitan.
Pulang malam itu rasanya berbeda.
Perut kenyang.
Hati hangat dan penuh.
Dan iman terasa sedikit lebih kuat daripada saat kami datang.
Mungkin memang itu arti kebersamaan yang sesungguhnya.
Bukan hanya berkumpul, tetapi pulang membawa sesuatu.
Dan malam itu, kami semua pulang membawa berkat Tuhan.
Asisi! Bersama, bahagia, beriman!
Untuk mengikuti kegiatan di Lingkungan St. Fransiskus Asisi Maguwo, follow Instagram kami @cerita.asisi.gmba dengan klik link disini.
Perayaan Pesta Nama Lingkungan St. Antonius Padua dilaksanakan pada hari Minggu, 21 Juni 2026, di Wisma USD Pentingsari. Kegiatan dimulai sekitar pukul 10.00 WIB dan dihadiri kurang lebih 60 umat, mulai dari anak-anak, orang muda, hingga bapak, ibu, dan lansia. Acara ini juga dihadiri oleh Ketua Wilayah Sang Timur beserta beberapa Ketua lingkungan di Wilayah Sang Timur.
Perayaan ini diselenggarakan tidak hanya untuk memperingati Santo Antonius Padua sebagai pelindung lingkungan, tetapi juga untuk mengenang serta menghayati nilai-nilai spiritualitas yang beliau teladankan, seperti kerendahan hati, kepedulian terhadap sesama, semangat pelayanan, dan kesetiaan kepada Kristus. Melalui perayaan ini, umat diajak untuk semakin menghidupi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan mengusung suasana yang hangat, akrab, dan penuh sukacita, rangkaian acara dikemas secara menarik sehingga dapat melibatkan seluruh peserta dari berbagai kelompok usia. Kegiatan yang dilaksanakan meliputi doa teatrikal, fragmen tentang Santo Antonius Padua, pemutaran kisah hidup Santo Antonius, diskusi bersama, berbagai permainan (games), makan bersama, serta ditutup dengan kegiatan flashmob yang semakin menambah semarak kebersamaan.
Melalui perayaan ini diharapkan terjalin persaudaraan yang semakin erat antarumat, serta tumbuh semangat untuk semakin aktif berpartisipasi dalam kehidupan menggereja, baik di tingkat lingkungan, wilayah, maupun Paroki Administratif.
Jumat-Sabtu, 19-20 Juni 2026 lalu, kami, para bendahara dan karyawan administrasi keuangan dari berbagai paroki di Kevikepan Jogja Timur mengikuti Pelatihan Bendahara dan Karyawan Administrasi Keuangan yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang di PPSM (Pusat Pastoral Sanjaya Muntilan).
Pesertanya cukup banyak. Ada perwakilan dari 19 paroki, 2 paroki administratif, dan 2 stasi dari Kevikepan Jogja Timur. Dari Paroki Administratif Maguwo sendiri, keempat bendahara ikut hadir. Kesempatan yang baik karena jarang rasanya bisa belajar bersama dalam formasi yang lengkap seperti ini.
Materi yang diberikan cukup padat. Ada delapan materi yang harus diselesaikan dalam dua hari. Mulai dari pemahaman tugas masing-masing bendahara, Akuntansi Paroki dan KAP (Keuangan Akuntansi Paroki), tata cara pencatatan keuangan, aset dan inventarisasi aset, perpajakan, sampai penyusunan RAB (Rancana Anggaran & Beban), RAPAT (Rencana Anggaran & Pengadaan Aset Tetap), dan proposal.
Jujur saja, beberapa materi membuat kepala sedikit berasap. Tetapi untungnya para narasumber Ekonomat Keuskupan Agung Semarang menyampaikan dengan sabar dan cukup membumi. Banyak pertanyaan yang muncul, banyak diskusi terjadi. kadang serius, kadang diselingi tawa. Dari situlah terasa bahwa hampir semua peserta memiliki pergumulan yang mirip dalam pelayanan sehari-hari.
Yang biasanya disukai dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, tetapi juga kesempatan bertemu dengan orang-orang yang menjalani pelayanan yang sama. Ada rasa bahwa kami tidak berjalan sendirian. Banyak hal yang ternyata bisa dipelajari dari pengalaman paroki lain.
Hari pertama bahkan berakhir hampir pukul 10 malam. Saat sesi terakhir malam itu selesai, hampir semua peserta langsung tersenyum lega.
Yang menyenangkan dari pelatihan seperti ini bukan hanya materinya, kami juga menikmati obrolan-obrolan kecil saat jeda kopi, saat makan, atau ketika saling bertanya bagaimana praktik administrasi di paroki masing-masing. Ternyata banyak tantangan yang mirip-mirip. Ada yang bergumul dengan inventaris aset, ada yang masih belajar memahami KAP, ada juga yang berbagi cara agar administrasi bisa lebih rapi tanpa membuat pelayanan menjadi kewalahan.
PPSM sendiri selalu punya suasana yang khas. Tenang. Tidak banyak kebisingan. Di dekat kapel terdengar suara air mengalir yang membuat suasana semakin damai.
Kapelnya tidak besar, tetapi heningnya terasa. Kadang kita datang membawa banyak pikiran, banyak pekerjaan yang menunggu, banyak angka yang harus dibereskan. Tetapi di tempat itu rasanya Tuhan hanya meminta kita duduk sebentar dan beristirahat.
Sabtu pagi, 20 Juni 2026, kami mengikuti misa yang dipimpin Romo Ekonomat. Bacaan Injil diambil dari Matius 6:24-34 tentang jangan khawatir akan hidupmu.
Tentu saja itu terasa sangat “pas” dengan pelatihan kami akhir minggu kemarin. Bahkan Romo menyampaikan di homilinya, bacaan hari itu seperti Tuhan berbicara langsung kepada para Bendahara dan karyawan administrasi Paroki.
Dua hari kami berbicara tentang anggaran, laporan keuangan, aset, inventaris, dan berbagai hal yang berkaitan dengan pengelolaan keuangan. Lalu Injil pagi itu mengingatkan bahwa hidup bukan pertama-tama soal semua itu.
Bukan berarti keuangan tidak penting. Justru karena penting maka harus dikelola dengan baik. Tetapi di atas semua angka dan laporan itu, tetap ada Tuhan yang memelihara Gereja-Nya.
Pelatihan ditutup dengan peneguhan dari Romo Ekonomat. Dari banyak hal yang disampaikan, ada satu kalimat yang masih teringat sampai perjalanan pulang.
“If you lose your wealth, you have lost nothing; if you lose your health, you have lost something; but if you lose your character, you have lost everything.”
Sebagai bendahara, kalimat itu terasa sangat dekat. Karena pada akhirnya yang paling dijaga bukan hanya uang atau laporan keuangan, melainkan kepercayaan.
Pelatihan selesai pukul 13.00 dan ditutup dengan makan siang bersama. Setelah itu kami kembali ke paroki masing-masing dengan catatan yang lebih penuh daripada saat datang.
Semoga apa yang dipelajari selama dua hari ini tidak berhenti di buku catatan atau file presentasi saja, tetapi sungguh membantu pelayanan kami sehari-hari.
Karena menjadi bendahara paroki bukan sekadar mengurus angka.
Di balik setiap angka, ada kepercayaan umat yang harus dijaga.
Umat Lingkungan St. Antonius bersama keluarga mengadakan Doa Memule 7 hari berpulangnya Bapak Soeramto pada hari Rabu, 24 Juni 2026 pukul 19.00 WIB di kediaman keluarga Bapak Soeramto. Ibadat dipimpin oleh Bapak Yohanes Murdiyana selaku prodiakon dan dihadiri oleh kurang lebih 20 orang umat serta anggota keluarga. Melalui ibadat ini, umat bersama-sama mendoakan agar Bapak Soeramto memperoleh kedamaian abadi di sisi Tuhan serta memohon kekuatan dan penghiburan bagi keluarga yang ditinggalkan. Kegiatan ini juga menjadi wujud kebersamaan dan kepedulian umat dalam mendampingi keluarga yang sedang berduka.
HiHello 👋, welcome to Gereja Maria Bunda Allah - Paroki Administratif Maguwo